Pemancing Udang Galah

 :: Hamberan Syahbana (Kalimantan Selatan – INDONESIA)

Gambar

Jukung kecilku meluncur lamban meninggalkan rumah reyot peninggalan orang tuaku. Almarhum orang tuaku adalah orang termiskin di bantaran sungai ini makanya rumah kami dibangun puluhan meter ke tengah sungai ini. Di malam hari sangat terasa hidup terasing di tengah sungai. Untunglah kini di belakang rumah kami telah tumbuh beberapa rumah, sehingga rumah reyotku ini tidak sendiri lagi.

Yang menjadi masalah, rumah ini sekarang kayu-kayunya sudah lapuk semua. Mau pecah rasanya kepalaku memikirkannya. Mau bagaimana lagi? Papan kasau, gelagar dan semua bahan bangunan rumah sulit didapat, tidak seperti dulu.

Ketika aku masih anak-anak, aku masih ingat ayahku sering membawa potongan kayu papan kasau dan gelagar buangan limbah pabrik kayu lapis. Limbah kayu itu dibuang begitu saja ke sungai, siapa saja boleh mengambilnya. Dikumpul-kumpulkan akhirnya bisa buat membangun rumah reyotku ini. Sekarang yang begitu itu tidak ada lagi. semua kayu bahan bangunan harus dibeli. Uang dari mana?

Penghasilanku sebagai pemancing udang hanya cukup untuk biaya keperluan sehari-hari. Padahal bagaimanapun caranya rumah ini harus direnovasi tahun ini. Kepalaku semakin pusing memikirkannya. Sayangnya tabunganku masih jauh dari harapan. Kalau begini aku harus kerja ekstra, aku harus menambah jam kerja. Waktu kerjaku harus lebih lama lagi, kalau perlu sampai malam.

“Dik, hari ini Abang pulang agak lambat,” kataku kepada istriku. “Kita harus mendapat udang galah yang lebih banyak buat perbaikan rumah kita.”

“Ya, Bang. Hati-hati ya Bang,” kata istriku seraya mencium tanganku kemudian menyerahkan bungkusan makanan dan minuman sebagai bekalku hari ini.

Sungai Martapura di waktu pagi mulai sibuk dengan lalu lintas sungai. Kutoleh sekali lagi rumah reyotku, ternyata sudah jauh dan akhirnya hilang dari pandanganku. Kukayuh jukungku mencari lokasi pemancingan udang yang kuinginkan.

Waktu dulu, tidak jauh dari rumah aku sudah menemukan lokasi yang banyak udangnya. Sekarang, Aku sudah terbiasa menyendiri, jadi aku harus mencari lokasi berapa kilometer ke hulu untuk menemukan tempat yang ideal buat memancing.

***

Awalnya memancing udang bagiku hanyalah sebuah pelarian yang menyakitkan. Karena sekolah bagiku hanyalah sebuah mimpi. Ayahku tidak suka, ia memang tidak pernah sekolah, untung masih bisa baca huruf arab. Makanya kerjanya pun hanya sebagai penarik becak air, yang biasa disebut Beca Banyu. Itupun hanya beca sewaan

Sesuai keinginan ayah, sekolahku hanya sampai kelas empat SD. Setiap hari aku hanya melongo dari jendela menyaksikan anak-anak seusiaku berangkat sekolah. Selanjutnya hari-hariku berjalan dengan sepi, membuat aku jadi pendiam, penyendiri,

Ayah mencoba menghiburku dengan menyusuri sungai Martapura dan memasuki Sungai Kelayan, Pekapuran, Teluk Tiram, Sungai Miai, Sungai Antasan. Sepertinya ia ingin menurunkan pekerjaannnya sebagai penarik beca banyu. Tetapi aku tidak suka, aku lebih suka kelayapan dari kolong rumah ke kolong rumah.

Sekali-sekali kelayapan sampai jauh. Semua itu kulakukan sebagai tanda protes. Aku jadi penyendiri, aku mulai menikmati kesendirianku. Aku bisa berburu burung, atau bergelantungan di pohon, atau memancing.

Untungnya ayahku punya jukung kecil, yang biasa dipakai memancing udang. Dulu ayahku juga suka memancing udang galah. Kini aku sudah jadi pemancing udang galah yang handal. Rupanya Tuhan telah memberiku ilmu memancing sebagai bekal hiduku kelak.

Hasil pancinganku kubawa pulang, ibuku sangat senang. Dan yang membuat aku senang adalah banyak ibu-ibu yang membeli udang galah pancinganku, sejak itu aku berpikir bahwa udang galah bisa menghasilkan uang.

***

Tiba-tiba saja ayahku meninggal karena sakit kepala. Apakah sakit kepala itu bisa mematikan ya? Padahal usiaku saat itu baru limabelas tahun, sedangkan ibuku kerjanya hanya bisa mengurus rumah. Sedihnya, ayahku itu tidak meninggalkan warisan apa-apa kecuali rumah reyot dan jukung pahundangan ini. Dan yang paling menyedihkan, tak lama kemudian ibuku juga meninggal. Habislah sudah tempatku bergantung.

Aku betul-betul sebatang kara. Meskipun masih punya keluarga tetapi hidup mereka tidak beda jauh dengan kami. Apakah aku harus menarik beca banyu ? Tidak mungkin, karena aku tidak bisa membaur, lagi pula aku sangat menikmati kehidupan menyendiri sambil memancing udang galah.

Dengan jukung peninggalan ayahku ini aku menemukan kovensasi yang lebih mengasikan. Aku bebas menyisir tepian hingga ke tengah sungai. Aku tidak takut kehujanan atau kepanasan, karena ada payung dan jas hujan di jukung ini. Aku juga bisa tiduran di bawah pohon rambai sambil menunggu pancing udangku.

Aku sangat menikmati hidup sebagai orang sungai. Kerjaku hanya memancing udang, dari pagi sampai sore, bahkan hingga malam. Udang yang kuperoleh langsung kumasukkan ke kurungan dari bambu yang selalu terendam di sisi luar jukungku. Makanya udang pancinganku selalu segar dan harganya pun mahal.

***

       Dulu aku memang sangat menikmati kesendirianku ini, tidak perlu membaur dengan orang lain. Tetapi sesuai dengan tuntutan jiwa, tiba-tiba saja aku merasa muak dengan kesendirian itu. Aku bagaikan layang-layang putus di awang-awang yang merindukan langit. Dan aku memang membutuhkan seseorang yang bisa membuatku tenang, bisa menemaniku, bisa diajak bicara dan bisa berbagi rasa.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, kini setiap harinya aku pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya, karena ada anak dan istri yang menungguku di rumah reyot itu. Walaupun aku adalah seorang lelaki yang tidak menarik, kecil, kurus ceking kekurangan gizi, ternyata Tuhan itu Maha Adil, aku tetap diberikan jodoh yang setia. Terima kasih Ya Allah.

Seiring dengan mahalnya harga berbagai keperluan, aku harus kerja super ekstra. Untuk menambah penghasilanku utamanya untuk perbaikan rumah reyotku, aku juga menangkap ikan dengan rengge, dan jam kerjaku pun jadi bertambah. Malam hari aku merengge dan siangnya memancing udang.

Tapi hari ini ada yang aneh dan beda dari biasanya, benar-benar menyebalkan. Lihatlah matahari sudah condong ke barat, tetapi tidak ada satu pun udang galah yang kudapat. Bukan karena pancingnya yang sial, tetapi semua udang-udang itu lepas lagi dari pancingku. Sial! Ada apa ini?

Tiba-tiba saja kepalaku sakit lagi, bahkan leher dan tengkukku pun ikut sakit. Aku jadi teringat ayahku, karena inilah yang sering dikeluhkan ayahku menjelang kematiannya. Apakah aku juga mau meninggal? Cepat kumakan obat sakit kepala yang diselipkan istriku di dalam kantong plastik bekalku.

Setelah agak enakan sedikit, kucoba mencari meluncur pélan mengikuti kata hatiku. Tepat di lekukan tikungan sungai aku berhenti. Feelingku benar, ternyata tempat ini sangat menggembirakan. Lihat, aku telah mendapat udang, besar-besar lagi. Yang besar begini bisa laku sampai sepuluh ribu per ekornya. Lumayan, kalau dapat begini terus, bisa memenuhi biaya pendidikan anakku. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah.

Kulihat kedua buah kurungan udangku kini sudah penuh, bahkan di bawah lantai jukung pun juga penuh dengan udang galah yang besar-besar. Sungguh luar biasa rezeki hari ini. Alhamdulillah, Alhamdulillah.

Sial! Sakit kepalaku kambuh lagi, tengkuk dan leherku semakin kejang. Baru aku ingat, aku belum makan sejak pagi tadi. Kubuka bungkusan nasi ternyata sudah basi. Mau makan apa? Makan di warung? Tidak bisa, di sini jauh dari pemukiman. Sebaiknya aku menunggu rombong, siapa tahu ada yang lewat.

Sambil menunggu rombong, kupasang lagi pancingku. Tak terduga dapat lagi. Banyak udang-udang itu kelayapan dilantai, belum pernah terjadi seperti ini.

Aneh, hari semakin terang padahal tadinya sore? Mestinya sudah malam. Benar-benar aneh, aku juga tidak lapar lagi. Yang lebih aneh lagi, tiba-tiba jukungku jalan sendiri malah dikawal klotok-klotok lain menuju ke rumahku.

Kulihat dari jauh banyak orang di rumahku. Mau apa mereka? Beberapa orang mengangkat tubuh seseorang yang terbaring kaku. Aneh, istri dan anakku tidak gembira, padahal kelotokku ini penuh udang galah. Mereka malah menangis. Sayup-sayup kudengar kata mereka, aku sudah tiga hari tidak pulang-pulang. Ah masa?

  •  Hamberan Syahbana. Pensiunan guru ini suka menulis puisi, cerpen dan essai. Ada beberapa buku yang sudah ditulisnya. Di antaranya Menikmati 108 Puisi Penyair Indonesia jilid 1 dan jiklid 2 dan Kau yang Kuidamkan (kumpulan cerpen nostalgia cinta). Lelaki kelahiran 14 Juli 1948  dan Alumnus Diploma III Jurusan Bahasa Inggris ini saat ini tinggal di Jl Rawasari Ujung Banjarmasin (Kalimantan Selatan-Indonesia).
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s