Arsip untuk Mei 12, 2012

Tajuddin Noor Ganie, M.Pd. (TNG) dilahirkan di kota Banjarmasin, 1 Juli 1958.

Menempuh pendidikan dasarnya di SDN Mawar Kencana Banjarbaru (lulus tahun 1971), kemudian melanjutkan ke SMEP Negeri Martapura (lulus tahun 1974), dan SMEAN Martapura (lulus tahun 1977).

Ketika berusia 39 tahun, TNG secara tiba-tiba tertarik melanjutkan pendidikannya ke PBSID STKIP PGRI Banjarmasin (tahun 2002 diwisuda dengan predikat sebagai wisudawan terbaik). Skripsinya berjudul Profil Sastrawan Kalsel 1930-1999 telah diterbitkan dalam bentuk buku dengan oplah terbatas (2002).

Tanpa sempat jeda barang sejenak, tahun 2003 TNG langsung melanjutkan pendidikannya ke Program Pascasarjana (S2) PBSID FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin (lulus dengan predikat sangat memuaskan). Tesisnya berjudul Karakteristik Paribasa : Kajian Bentuk, Fungsi, Makna, dan Nilai telah diterbitkan dalam bentuk buku dengan oplah terbatas (2006).

Semua bahan kajian yang dikumpulkannya untuk keperluan menulis tesis ini pada tahun 2006 diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Kamus Peribahasa Banjar (dengan jumlah entri/lema 1.538 buah, tahun 2007 sudah dicetak ulang), pada tahun 2011 diterbitkan Kamus Peribahasa Banjar dengan jumlah entri/lema sebanyak 9.058 buah).

Sejak tahun 1979, bekerja di lingkungan Departemen Tenaga Kerja. Transmigrasi, dan Koperasi (Depnakertranskop). Pernah bertugas di Kantor Binaguna Tenaga Kerja Kotamadya Banjarmasin (1978-1985), Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja Propinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru (1986), Kantor Kursus Latihan Kerja di Pelaihari (1986-1988), Kantor Kepaniteraan P4 Daerah Propinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin (1988-2006), dan sejak tanggal 1 Juni 2006 dipindah-tugaskan ke Balai Hyperkes dan Keselamatan Kerja di Banjarmasin.

Sejak tahun 2002, TNG menjadi dosen tamu untuk mata kuliah kajian prosa fiksi, kritik sastra, pendekatan struktural sastra, penelitian sastra dan pengajarannya, penulisan kreatif sastra, prosa fiksi dan drama, puisi, sastra Banjar, dan sosiologi sastra di PBSID STKIP PGRI Banjarmasin.

Kegiatan lain yang juga ditekuninya secara serius adalah sebagai Pengelola Harian Rumah Pustaka Karya Sastra dan Rumah Pustaka Folklor Banjar di Pusat Pengkajian Masalah Sastra (PUSKAJIMASTRA) Kalsel.

Melalui lembaga penelitian dan dokumentasi yang dipimpinnya ini TNG memberikan bantuan bahan referensi yang diperlukan kepada masyarakat umum dan para mahasiwa yang sedang menulis skripsi mengenai masalah-masalah sastra Indonesia, sastra Banjar, dan Folklor Banjar.

Mulai merintis karier sebagai penulis karya sastra sejak tahun 1980-an. Publikasi karya sastranya, meliputi puisi, cerpen dan esei sastra. Buletin/jurnal/ koran/majalah yang pernah memuat karya tulisnyanya antara lain: Buletin Antara Spektrum LKBN Antara, SKH Berita Buana, SKH Suara Karya, SKH Pelita, SKH Terbit, SKH Merdeka, SKM Swadesi, SKM Simponi, Majalah Senang, Majalah Idola, Majalah Topik. Majalah Misteri, SKH Media Indonesia, Majalah Warnasari, Majalah Intisari, Jurnal Kebudayaan (jurnal imiah Depdikbud), Majalah Mata Baca (semuanya terbitan Jakarta), SKH Jawa Pos, SKH Surya, Majalah Liberty (semuanya terbitan Surabaya), SKM Minggu Pagi (Yogyakarta), Majalah Bahana (Brunei Darussalam), SKH Banjarmasin Post, SKH Dinamika Berita, SKH Kalimantan Post, SKH Radar Banjarmasin, SKH Mata Banua, dan SKM Orbit Post (semuanya terbitan Banjarmasin).
Sejumlah tulisan TNG yang pernah dimuat di berbagai koran/majalah edisi online dapat dibaca kembali melalui website mesin pencari data : Google/Tajuddin Noor Ganie atau Yaaho/Tajuddin Noor Ganie. Email : tajuddinnoorganie@Yahoo. com

Antologi puisinya yang sudah diterbitkan adalah Bulu Tangan (HPMB, Banjarmasin, 1982),

Sedangkan antologi puisi bersama yang ikut memuat puisi-puisinya antara lain : Antologi Puisi ASEAN (Denpasar, 1982), Puisi Indonesia (Jakarta, 1987), Selagi Ombak Mengejar Pantai 6 (Selangor, 1989), Festival Puisi XII (Surabaya, 1990), Potret Pariwisata Indonesia Dalam Puisi (Jakarta, 1990), Festival Puisi XIII (Surabaya, 1992), Festival Puisi Kalimantan (Banjarmasin, 1992), Refleksi Setengah Abad Indonesia (Surakarta, 1995).

Selain itu, TNG juga telah menjadi editor untuk sejumlah penerbitan antologi puisi bersama terbitan Banjarmasin, antara lain : Dahaga-B.Post 1981 (1982), Banjarmasin Kota Kita (1984), Elite Penyair Kalsel 1979-1985 (1986), dan Festival Puisi Kalimantan (1992),

Buku sastra hasil karya TNG yang lainnya yang juga sudah diterbitkan dalam bentuk buku antara lain adalah : Penyair Kalsel Terkemuka Selepas Tahun 1980 (1992), Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalimantan Selatan (1995), Apa dan Siapa Sastrawan Kalsel (1985), Ensiklopedi Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalimantan Selatan (Edisi 1995) (naskah aslinya disimpan di Perpustakaan KITLV Leiden, dan telah pula dimuat secara bersambung di SKM Media Masyarakat Banjarmasin, 1995-1996), Sketsa Sastrawan Kalimantan Selatan (bersama Jarkasi, Pusat Bahasa Banjarmasin, 2001), Profil Sastrawan Kalimantan Selatan 1930-1999 (berasal dari naskah Skripsi S1, PBSID STKIP PGRI Banjarmasin, 2002), Karakteristik Bentuk, Makna, Fungsi dan Nilai Peribahasa Banjar (berasal dari tesis S2, PBSID FKIP Unlam Banjarmasin, 2005), dan Kamus Peribahasa Banjar (Rumah Pustaka Folklor Banjar, 2006)

Buku kumpulan cerpennya berjudul Nyanyian Alam Pedalaman (bersama dengan Hadian Noor) telah diterbitkan oleh Pustaka Pelajar Yogyakarta pada tahun 1999.

Buku ini merupakan buku kumpulan cerpen hasil karya sastrawan Kalsel yang pertama kali diterbitkan di luar daerah Kalsel.

Novelnya berjudul Tegaknya Masjid Kami telah dimuat secara bersambung di SKH Radar Banjarmasin (2005).

Pada tahun 2005, menjadi anggota tim penulis Riwayat Hidup Walikota Banjarmasin H. Midfai Yabani berjudul Perjalanan Seorang Wali Kelas Menjadi Walikota

Sejumlah cerpennya juga sudah dijadikan sebagai objek penelitian untuk penulisan skripsi oleh sejumlah mahasiswa PBSID STKIP PGRI Banjarmasin, antara lain : Profil Tokoh Antagonis dalam Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie (Fetty Dahliani, 2001), Profil Tokoh Protagonis dalam Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie (Ni Ketut Suwandi, 2001), Analisis Tema dan Penokohan Dalam Kumpulan Cerpen Karya Tajuddin Noor Ganie (Noorhidayat, 2003), Cerita Rakyat Etnis Banjar Sebagai Sumber Ilham Penulisan Kreatif Sastra : Analisis Hubungan Intertektualitas Penulisan Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie (Dra. Hj. Endang Sulistyowati, M.Pd, 2005), dan Gambaran Manusia Banjar dalam Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie di Majalah Idola Jakarta (Miftahul Jannah, 2009), Citraan dalam Antologi Puisi Bulu Tangan Karangan Tajuddin Noor Ganie (Mukhlis, 2010), dan Profil Tokoh Pendulang Intan dalam Cerpen-cerpen Karangan Para Cerpenis Kalsel (Raya Saidyah, 2010).

Forum sastra dan budaya yang pernah diikutinya antara lain : Forum Penyair Muda Delapan Kota Kalsel, (Banjarmasin, 1982), Apresiasi Puncak Penyair ASEAN (Denpasar, 1983), Siklus Lima Penyair Kalsel, (Banjarmasin, 1983). Festival Puisi XII (Surabaya, (1990), Festival Puisi XIII (Surabaya, 1992), Festival Puisi Kalimantan (Banjarmasin, 1992), Hari Sastera X (Shah Alam, Selangor, Malaysia, 1993), Festival Puisi XIV (Surabaya, 1994), Refleksi Setengah Abad Indonesia (Surakarta, 1995), Temu Penyair Nasional (Tasikmalaya, 1999), dan Dialog Borneo VII (Banjarmasin, 2003)

Berkaitan prestasi, reputasi dan dedikasinya sebagai sastrawan TNG telah menerima sejumlah penghargaan, antara lain : Penulis Esai Sastra dalam Rangka Bulan Bahasa dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Jakarta, 1985), Pemuda Pelopor Bidang Seni Budaya dari Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Ir. H. Akbar Tanjung, 1991), Hadiah Seni Bidang Sastra dari Gubernur Kalsel (Drs. H. Gusti Hasan Aman, 1998), Penulis Naskah Fiksi Keagamaan dari Menteri Agama (Prof. Dr. Said Agil Husin al Munawar, (2002).

Biografi kesastrawanan TNG ikut dimuat dalam sejumlah buku referensi antara lain : Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (Pamusuk Eneste, Penerbit Djambatan Jakarta, 1990:186), Leksikon Kesusastraan (Suhendra Yusuf MA, Bandung, 1995:97), Sesuatu Indonesia (Afrizal Malna, Penerbit Yayasan Pustaka Adikarya, Jakarta, 2000), Leksikon Susastra Indonesia (Korrie Layun Rampan, Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, 2000), Buku Pintar Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2002), Ensiklopedi Sastra Indonesia (Hasanuddin WS dkk, Penerbit Titian Ilmu Bandung, 2007), Melayu Online, dan Wikipedia Indonesia (ensiklopedi dunia maya berkaitan dengan statusnya sebagai seorang budayawan Banjar).

Alamat Rumah :
Jalan Mayjen Soetoyo S,
Gang Sepakat RT 13 Nomor 30,
Banjarmasin, 70119
Telepon Rumah (0511) 4424304
Telepon Selular : 08195188521
Email : tajuddinnoorganie@yahoo. co.id
Facebook : tajuddinnoorganie

DAFTAR BUKU
TAJUDDIN NOOR GANIE

1. Antologi Biografi Sastrawan Kalsel
2. Asal-usul Orang Banjar
3. Aspek-aspek Etnografi Laskar Pelangi
4. Jatidiri Puisi Indonesia
5. Kajian Puisi
6. Kamus Mimpi Orang Banjar
7. Kamus Peribahasa Banjar
8. Karakteristik Bentuk, Fungsi, Makna dan Nilai Peribahasa Banjar
9. Legenda Awi Tadung dan Ular Buntung
10. Mengenal Benda-benda Bertuah Magis dalam Religi Orang Banjar di Kalimantan Selatan
11. Penyair Kalsel 1930-1942 : Apa, Siapa, dan Bagaimana Puisi Mereka
12. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Madihin
13. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Mantra
14. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Pantun
15. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Peribahasa
16. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Syair
17. Sasirangan, Kain Khas Tanah Banjar
18. Sastra Banjar Genre Lama Bercorak Puisi
19. Sejarah Nasional Cerpen Indonesia 1920-2009
20. Sejarah Nasional Drama Indonesia 1920-2009
21. Sejarah Nasional Kesusastraan Indonesia 1920-2009
22. Sejarah Nasional Puisi Indonesia 1920-2009
23. Sejarah Nasional Roman/Novel Indonesia 1920-2009
24. Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel 1930-2009
25. Tegaknya Masjid Kami (Novel)
26. Tengah Malam di Kuala Lumpur
27. Teori dan Praktek Menulis Cerpen
28. Teori dan Praktik Menulis Puisi
29. Teori dan Praktik Penelitian Sastra
30. Teori Sastra
31. Tragedi Intan Trisakti

 

Micky Hidayat

 

Micky Hidayat lahir di Banjarmasin, 4 Mei 1959. Minatnya terhadap kesusastraan terpupuk sejak kecil dan mulai serius dilakoninya awal tahun 1980-an. Di samping seni sastra, ia sesungguhnya cukup  tertarik menggeluti bidang ilmu sosial dan politik.  Pada tahun 1985 Micky Hidayat mencoba mencicipi kuliah di Uniska Syech Muhammad Arsyad Al Banjary Banjarmasin, Fakultas FISIP. Studinya di perguruan tinggi tersebut tinggal menggarap skripsi, tapi tak diselesaikannya.

Di rubrik Dahaga BPost sajak-sajaknya sering muncul, bahkan pernah hampir setiap hari. Diakui pula oleh Micky Hidayat, bahwa rubrik ini turut andil dalam membesarkan kepenyairannya, khususnya di daerah Kalsel. Bahkan produktifnya menulis dan mempublikasikan sajak, pada 1981 ia meraih predikat sebagai ‘Man of the Year’ versi Biro Informasi Sastra (BIS), karena sepanjang tahun  itu Micky Hidayat mampu menulis sebanyak 118 sajak.

Sejak kecil Micky Hidayat memang beruntung karena dibesarkan di lingkungan keluarga, terutama ditunjang pula oleh status ayahnya yang seorang sastrawan. Tampaknya karya sastra telah membuka jalan baginya untuk menjelajah dunia tanpa batas.

Di samping sajak, Micky Hidayat juga menulis cerpen, esai  dan  kritik sastra,  teater, reportase seni, artikel masalah sosial, politik, kepemudaan, pendidikan, dan kebudayaan. Sejumlah sajaknya juga telah diudarakan oleh beberapa stasiun radio di Banjarmasin.

Kemudian sajak dan esainya juga dimuat di media massa nasional, seperti Berita Buana,  Pelita, Terbit, Merdeka, Suara Karya, Prioritas, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Pos Film, Swadesi, Simfoni, Republika, majalah Panji Masyarakat, Topik, Hai, Anita Cemerlang, dan majalah sastra Horison, serta media massa daerah lainnya, seperti Jawa Pos (Surabaya), Kedaulatan Rakyat dan Berita Nasional (Yogyakarta), Suara Merdeka (Semarang), Pikiran Rakyat (Bandung), Analisa (Medan), Lampung Post  dan Bali Post.

Micky Hidayat juga sering memenangkan lomba penulisan puisi dan esai sastra. Dia  juga aktif bergiat di organisasi kesenian. Tahun 1981 bersama teman-teman penyair seangkatannya membentuk Himpunan Penyair Muda Banjarmasin (HPMB). Tahun 1984 dia mendirikan Sanggar Mandiri. Pada tahun 1990-an, mendeklarasikan berdirinya Forum Diskusi Sastra Poetica dan Forum 24, yang bermarkas di Taman Budaya Kalsel. Ia juga menjadi anggota Komisaris Bidang Sastra DKD Kalsel (periode 1994-1997).

Tahun 2000 Micky Hidayat dan kawan-kawan mendeklarasikan berdirinya Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Banjarmasin, dan ia dipercayakan menjabat sebagai Ketua KSI hingga kini. Karir kepenyairan Micky yang sudah mencapai seperempat abad lebih.

Sebagai sastrawan, Micky Hidayat juga aktif  mengikuti  kegiatan sastra seperti forum-forum seminar, sarasehan, pertemuan sastra, dan  pembacaan sajak yang diadakan di berbagai daerah di tanah air.  Antara lain Apresiasi Puncak Penyair ASEAN I (Denpasar, Bali, 1983), Baca Puisi di Pusat Kebudayaan Indonesia-Belanda Karta Pustaka (Yogyakarta, 1983), Pertemuan
Sastrawan Jakarta – Peringatan 50 Tahun Perjalanan Polemik Kebudayaan (Taman Ismail Marzuki Jakarta,1986).

Pada tahun 1997, nama Micky Hidayat tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI), karena prestasi spektakulernya menciptakan rekor membaca sajak terlama di Indonesia selama 5,5 jam nonstop. Atas reputasi, prestasi, konsistensi, dan dedikasinya di bidang sastra pula, pada tahun 1998 ia memperoleh penghargaan berupa hadiah Seni dari Gubernur Kalimantan Selatan.

Bukan Main Resahnya Mimin

:: NALA ARUNG

Seminggu setelah melahirkan anaknya yang pertama. Keluarlah kalimat itu.
“Aku nggak mau melahirkan lagi!. Sakit banget tau!”. Setengah berteriak Mimin menegaskan keinginannya. Umar hanya tersenyum saat itu. Ia tahu. Pasti istrinya masih trauma pasca kelahiran pertama. Wajarlah itu. Siapa perempuan yang tak merasa kesakitan ketika melahirkan?. Umar yakin suatu waktu nanti istrinya pasti akan merindukan lagi detik-detik menegangkan dari proses sebuah kelahiran. Meski sakit luar biasa, bukankah disitu letak penegasan keperempuanan?.
Tetapi ternyata tidak. Detik-detik itu nampaknya tak akan terjadi lagi. Tadi malam Mimin mengulang lagi kalimatnya dulu itu. Ia bilang tidak mau hamil lagi karena nanti ia harus melahirkan lagi dan menerima rasa sakit yang sama lagi. Benar-benar gawat. Padahal ini sudah tahun ke tujuh sejak kalimat itu diucapkannya pertama kali.

“Kamu cuma merasakan enaknya, aku yang merasakan sakitnya!” bantah Mimin waktu Umar mencoba meyakinkannya.
“Masak sih sampai sekarang kamu masih trauma?“
“Bukan trauma tapi jera. Tobat!”
“Lho, semua perempuan kan merasakan sakit yang sama?”
“Ih, kok tega sih sama istri? Tiap perempuan kan beda daya tahannya?”
“Dulu kita kan udah sepakat pengen punya anak tiga”
“Ya itu dulu waktu masih pacaran! Sekarang nggak! Nggak mau!”
“Lho, trus gimana?”
“Gimana apanya?”
“Gimana caranya supaya nggak sakit?”
“Ya nggak usah melahirkan!”
“Ha? Busyet, aku kan pengen punya anak lagi”.
Umar melongo. Bibirnya tanpa sengaja membentuk lingkaran seperti huruf O. keningnya berkerut. Alisnya merapat, hampir menyatu. Mimin tak peduli. Ia ngeloyor pergi. Duduk di depan tv.

Umar jadi ingin tahu, sesakit apa rasanya melahirkan itu sampai-sampai istrinya berkeras tidak mau melahirkan lagi. Esoknya ia pergi ke rumah Ustadz Marzuki. Ini pilihan yang baik menurutnya. Ustadz Marzuki pandai agama, tentu akan lebih objektif menyikapi persoalannya ini. Selain itu, ia tentu akan lebih jujur memberi jawaban. Bukankah seorang Ustadz tak boleh berbohong?. Apalagi ia sudah punya delapan anak dari ketiga istrinya.
“Mas Umar, melahirkan itu sama dengan mempertaruhkan nyawa bagi seorang perempuan. Jadi ya wajarlah kalau diantara mereka ada yang punya ketakutan berlebihan seperti istri Mas Umar itu” begitu kata Ustadz Marzuki.
“Harus lebih sabar menghadapi istrinya ya Mas. Harus pelan-pelan menanamkan kesadaran untuk perkara ini” lanjut Ustadz Marzuki. Wah, nasehat Ustadz Marzuki belum merupakan sebuah solusi bagi Umar. Terlalu umum. Standart banget. Sahabatnya, si Rusli mungkin punya pendapat yang lebih tegas.
“Gampar aja Mar! perempuan yang menolak kewajiban itu boleh digampar” kata Rusli berapi-api.
“Wah, mana tega aku Rus”
“Nah itulah kamu. Banyakan nggak teganya sih. Kalau aku, uh udah selesai tuh!”
“Ha? Kamu apain? Bunuh?”
“Pecat jadi istri!”
“Dicerai maksudnya?”
“Ya kalau dia mau begitu”
“Kalau nggak mau?”
“Ya cari lagi”
“Cari apa?”
“Bini”
“Kawin lagi?”
“Iyalah”
“Emang berani?”
“Insya Allah”
Umar berpikir keras. Apa iya harus sampai segitu ya?.

Dan Tuhan ternyata lain pula maunya. Tiga bulan setengah setelah pembicaraan dengan Rusli, Mimin hamil. Bukan main senangnya Umar. Bukan main resahnya Mimin. Sudah terbayang rasa sakitnya nanti kalau tiba waktunya persalinan. Marah sekali ia pada Umar. Marah pula ia pada dirinya sendiri. Kenapa bisa sampai hamil lagi.
Cerita punya cerita. Sudah sembilan bulan usia kandungan Mimin. Beberapa hari lagi tentulah si jabang bayi akan lahir. Umar telah menyiapkan segala sesuatunya. Ia sudah membeli beberapa perlengkapan bayi. Sementara itu Mimin masih saja didera ketakutan yang sangat. Tidak sanggup ia mengalami kembali rasa sakit seperti dulu waktu melahirkan anaknya yang pertama. Sampai sekarangpun ia masih marah dengan Umar. Marah saja. Ia juga tak tahu alasan apa yang membuatnya harus terus marah dengan suaminya. Ia hanya ingin marah saja. Tanpa alasan. Pokoknya marah saja. Apa salahnya orang marah tanpa alasan? Dan Umar berusaha tetap sabar menghadapinya meskipun ia juga bingung harus bagaimana. Harus melakukan apa. Kalau saja bisa ingin sekali rasa sakit melahirkan itu ditanggungnya. Asal anaknya bisa lahir dengan selamat. Asal istrinya tidak mengeluh ketakutan oleh rasa sakit. Umar pun telah menghubungi seorang Bidan sejak jauh hari agar semua proses kelahiran anaknya nanti lancar.
“Dan kalau bisa, bagaimana caranya biar istri saya tidak merasa sakit Bu Bidan” ujar Umar dengan nada sangat berharap.
“Itu tidak mungkin Dik Umar. Belum ada satu carapun didunia ini yang bisa menghilangkan rasa sakit ketika melahirkan, kecuali kalau Dik Umar menyuruh istrinya operasi” begitulah kata Bidan yang murah senyum itu.
“Wah mana mungkin itu Bu Bidan. Biaya dari mana?”
“Yah cuma begitu caranya supaya istri Dik Umar tidak kesakitan”. Bu Bidan itu senyum lagi. Mungkin sudah jadi kebiasaannya tersenyum pada pasien. Kalau tidak, mana mungkin ia bisa tersenyum sebaik itu. Sesuatu yang baik memang harus dibiasakan.

Kandungan Mimin tinggal menunggu hari. Mimin semakin tegang dan khawatir. Tentu saja Umar lebih tegang dan khawatir. Ia khawatir dengan keselamatan bayinya. Ia juga khawatir dengan kekhawatiran istrinya. Sampai sesuatu terjadi. Satu malam sebelum Mimin seharusnya melahirkan. Sesosok setan datang hendak mengambil anak dalam kandungannya.
“Aku bisa menghapus rasa sakitmu” begitulah kata si setan pada Mimin.
“Kamu siapa?” tanya Mimin mulai ketakutan.
“Aku setan penolongmu” kata sosok itu. Meski setengah tak percaya Mimin tetap saja makin ketakutan. Gila, mana ada setan suka menolong. Kalau suka menolong namanya pasti bukan setan. Entah apa. Yang jelas pasti makhluk baik-baik. Lagipula sosok ini terlalu bagus untuk disebut setan. Badannya tidak terlalu tinggi. Kulitnya putih bersih dengan balutan jas hitam dan kaos putih didalamnya. Sepatunya juga terlihat sangat mengkilap, seperti sepatu orang kantoran. Meski bentuk bibir dan hidungnya agak unik, tapi wajahnya jauh lebih tampan dari setan yang biasa ia lihat di film Indonesia. Mimin jadi ingat seorang penyanyi pop kelas dunia yang baru saja meninggal.

Tiba-tiba sosok itu tertawa keras. Mimin kaget bukan main. Jantungnya berdetak lebih cepat kini. Sosok itu seperti bisa membaca pikirannya. Tubuhnya perlahan-lahan naik ke udara, seperti terbang. Kemudian sambil terus tertawa sosoknya perlahan berubah wujud menjadi seorang perempuan muda berpakaian warna-warni. Mirip penyanyi reggae. Lingkaran matanya hitam sekali. Sorotnya serasa hendak melumat mata Mimin. Sosok itu kini makin mendekat kearah Mimin.
“Kita bikin perjanjian saja. Aku akan bantu menghilangkan rasa sakitmu saat melahirkan. Tapi aku minta imbalan” lanjut sosok itu lagi. Ha, imbalan? Kenapa setan malah ngomongin imbalan? Kayak bisnis saja. Mimin makin keras berpikir ditengah ketakutannya. Ia melirik ke segala arah. Mencari-cari Umar suaminya. Tentu saja Umar tak ada. Malam itu Umar sedang kerumah Ustadz Marzuki untuk meminta air doa agar persalinan istrinya lancar. Hanya Mimin sendirian yang ada dirumah.
“Setelah kutolong kau melahirkan tanpa rasa sakit, aku minta anakmu untuk kubawa” kata sosok itu lagi. Kali ini ia sudah sangat dekat dihadapan Mimin. Tanpa sadar, Mimin memegangi perutnya. Naluri keibuannya bergerak memberikan perlindungan. Dengan tenaga yang tersisa ia bergerak mundur dan mencari-cari jalan agar bisa lari dari sosok itu. Apapun yang terjadi ia harus lari. Tidak peduli seberat apapun beban di perutnya saat ini. Sosok itu rupanya tahu apa yang hendak dilakukan Mimin. Ia bergerak makin cepat mendekati Mimin. Tangannya mulai terayun untuk meraih tubuh Mimin. Mimin yang sudah sangat panik kini menangis sambil terus berusaha mendekati pintu rumahnya. Begitu dapat sedikit celah, segera ia berlari kencang menuju pintu. Entahlah. Mungkin karena ketakutan dan semangat mempertahankan diri yang begitu kuat ia bisa menggapai pintu rumahnya dengan cepat. Sosok setan itu juga terus mengejarnya dengan cepat. Wajahnya memerah dan nampak sangat marah.
“Tolong! Tolong!…” Mimin berteriak sambil terus berlari. Ia sudah berhasil membuka pintu lantas langsung berlari sekuat tenaganya keluar rumah. Ia harus minta tolong pada seseorang diluar sana. Sosok setan itu masih saja mengejarnya. Bahkan kini dengan gerakan yang lebih cepat.
“Bu Bidan….tolong akuuu…tolooooooonngg….” ***

Tenggarong, 20 Juli 2009.

Diterbitkan Harian KoranKaltim Edisi Minggu 26 Juli 2009

Saya Muslim Yang Paling Menderita, Kamu Juga.

:: NALA ARUNG

Saya seorang muslim. Entah itu karena KTP atau karena warisan kesejarahan saya, yang jelas saya seorang muslim. Dan mohon dimaklumi kalau saya merasa bangga menjadi seorang muslim. Orang tua saya tentu juga merasa bangga karena saya mengaku muslim meskipun pernah ada suatu masa dimana mereka sudah hampir putus asa mengingatkan kemusliman saya.Secara sadar, selaku seorang muslim saya pernah mengalami juga situasi yang menuntun saya menjadi demikian peka dengan isu-isu menjelang bulan puasa. Wajarnya, ketika sedang peka, biasanya saya mencari pembenaran atas apa yang tengah melintas di benang kepekaan saya. Misalnya saja begini. Ramadhan tahun lalu, maki saya tumpah sesaat sebelum berbuka puasa gara-gara listrik dipadamkan beberapa menit menjelang bedug maghrib. Sebagai manusia “Endonesia” tentu saja saya keberatan. Ini sudah masuk kategori perbuatan tidak menyenangkan kan? Nah sebagai muslim yang tengah berpuasa, saya lebih keberatan lagi. Saya marah. Saya dongkol. Ini termasuk pelecehan kegiatan ibadah saya dong. Siapa yang nyaman berbuka puasa tidak dalam keadaan terang bercahaya?. Itu tadi. Tumpahlah makian saya. Negara hanya bisa menjamin hal yang besar-besar saja. Bisa menjamin harga beras dan gula stabil tetapi tak bisa menjamin saya berbuka puasa dalam gelimang cahaya listrik. Saya jadi merasa sebagai muslim yang paling menderita.

Tapi itu dulu. Sekarang saya sudah sadar itu kurang baik, setelah banyak yang menasehati saya dengan macam-macam cara. Saya pikir, sekali-sekali asyik juga berbuka puasa dalam remang-remang cahaya. Keluarga saya jadi kelihatan lebih cantik dan indah dari biasanya. Sungguh romantis. Duri ikan nancap di jaripun jadi nggak terasa sakit lagi.

Saya menulis begini karena barusan saya melihat berita. Sekelompok warga datang beramai-ramai ke sebuah tempat. Bukan untuk berwisata atau berziarah jelang puasa, tapi untuk mengamuk menghancurkan dan membakar rumah-rumah warga yang bermerek lokalisasi. Selain bermuka marah ada juga beberapa yang saya lihat memasang tampang suka ria. “Kunjungan silaturahmi” mereka ini atas nama “menjelang puasa”.

Saya tentu tak bisa menyalahkan. Barangkali begitu juga dengan polisi yang tidak melakukan apa-apa di tempat kejadian. Tapi sumpah, saya sungguh keberatan. Diantara sekian PSK disana pasti ada juga yang muslim. Entah muslim karena KTPnya atau karena warisan kesejarahannya, seperti saya juga. Saya sih bukan bermaksud apa-apa. Hanya saja, kalau rumahnya dibakar begitu, besok mereka mau berbuka puasa dimana? Wah nggak beres juga itu orang-orang. Saya jadi nggak lagi merasa sebagai yang paling menderita kan jadinya?.

Menjelang bulan puasa begini biasanya memang kita jadi lebih peka. Atau bisa juga kita memilih untuk menjadi lebih peka. Saya juga memilih menjadi lebih peka. Lebih peka pada badan saya saja. Saya takut sakit. Nanti malah nggak bisa menikmati puasa. Tapi saya malas kalau disuruh memilih menyakiti. Nanti orang nggak bisa puasa karena saya. Kasihan ulama dong. Mulut sudah berbusa menghimbau supaya kita puasa malah nggak diikutin. Kalau nanti mereka ngambek dan berhenti jadi ulama bisa lain lagi ceritanya. Ah, semoga mereka nggak memilih membentuk band baru. Udah terlalu banyak band dengan lagu yang nyaris sama soalnya.

Tadi di masjid, Sang Khatib membacakan ayat andalan bulan ramadhan.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”
Bah, ternyata cuma wajib bagi yang beriman ya? ternyata beriman dulu, barulah berwajib. Yakin dulu, barulah berbuat. Begitu ya? Lalu yang belum beriman, bagaimana? jadi nggak wajib dong ya? Ah, enak sekali mereka. Iya. Tapi tadi seorang teman saya yang bukan muslim dan tidak mau mengaku-aku muslim menyampaikan ucapan selamat berpuasa kepada saya. Lha, ini bagaimana? Berarti dia yakin pada yang namanya puasa. Dia beriman.

Tentu dia beriman. Beriman pada keyakinannya akan persaudaraan. Saya saja belum sampai kesana ilmunya. Saya bicara soal lapar dan haus. Dia sudah bicara soal persaudaraan.

Saya sempat menulis SMS begini pada beberapa teman. menjelang ramadhan, gimana kalau kita bakar lokalisasi?.
Lalu ada yang menjawab begini. janganlah, kita bakar saja syetan-syetan yang melokalisasi hatimu
Saya tersenyum sesaat membaca jawabannya. Teman-teman saya memang mirip ustadz. Serius, saya cuma tersenyum sesaat. Karena pas baca SMS itu sambil senyum sendiri, Istri saya lewat dan langsung bertanya : hayo, baca sms siapa sambil senyum-senyum??? hahahaha….***

 

KUMPULAN CERPEN BALADA SARIPIN DAN KD

 

 

Kumpulan Cerpen

BALADA SARIPIN & KD
Karya Nala Arung

cover-saripin.jpg

Buku kumpulan cerpen yang menarik telah muncul dari seorang sastrawan Kaltim, Nala Arung. Ini buku kumpulan cerpennya yang pertama, judulnya Balada Saripin & KD, diterbitkan Penerbit Rumah Garut Jakarta. 11 cerpen yang terhimpun dalam buku ini memperlihatkan kekuatan Nala Arung sebagai seorang seorang penulis cerpen yang piawai mengolah kisah sederhana menjadi menarik dan karikatural. Itulah sebabnya, kisah-kisah yang diceritakannya pun mengalir lancar. Bahasanya yang plastis membuat cerita bisa dinikmati dengan tenang sekaligus memberikan sugesti kedalaman kisah yang diceritakannya. Seperti cerpen yang menjadi judul antologi ini, “Balada Saripin & KD”, yang mengisahkan keluguan Saripin yang “memimpikan” KD, sang Diva kondang yang dilihatnya di televisi. Kontras antara dunia udik dan gemerlap modernisme, muncul dalam simbolisasi hubungan Saripin dan KD. Semua kisah itu muncul dalam struktur yang lugu (yang mencerminkan dunia simbolik Saripin), dan penggambaran yang karikatural (yang merefleksikan situasi sosial masyarakat kita hari ini yang hidup dalam kultur idola, dimana KD adalah bagian dari kultur itu). Kisah-kisah semacam itu, yang menghadirkan benturan dua nilai (yang tradisi dan kosmopolit) menjadi warna yang cukup dominan dalam  buku ini.Cerpen “Seorang Istri yang Setia” juga memperlihatkan pergulatan dua nilai itu, yang  muncul dalam pergulatan batin seorang istri ketika ia tergoda untuk melakukan perselingkuhan. Ketika televisi begitu gencar memborbardir kita dengan kisah-kisah perselingkuhan kacangan dan penuh impian, cerpen ini bisa memotret kegundahan hati seorang wanita dengan subtil. Cerpen-cerpen lain, seperti “Pidato Dul, Sang Bupati”, “Tuhan Tidak Sedang Marah Ketika Menciptakan Kita, Nur”, “Cerita Kemarin Pagi”, “Ellia”, “Sepatu”, memperlihatkan keluasan wawasan Nala Arung sebagai sastrawan dalam mengolah tema-tema yang beragam. Seperti ditegaskan oleh Wicaksono Adi, kritikus seni yang memberi pengantar buku ini. Nala Arung bergerak dalam spektrum tema yang cukup luas, mulai tema politik sampai kisah orang kecil dengan pengalaman yang agak ajaib seperti soal onani dan pemujaan terhadap Krisdayanti itu. Tentu kisah-kisah ini banyak terjadi di Indonesia…Itulah kekuatan cerpen ini “

Buku ini jelas punya arti penting bagi perkembangan sastra di Kaltim. Setidaknya, buku Nala Arung memperlihatkan potensi yang dimiliki sastrawan Kaltim, sekaligus potensi estetik yang dimiliki kawasan ini. Ini memang buku cerpen pertamanya, tetapi sebagai penulis Nala Arung sebetulnya juga banyak menulis puisi dan naskah drama, tentu ini berkaitan erat dengan latar belakangnya sebagai seorang aktor teater. Beberapa puisinya antara lain bisa dilihat dalam Buku Antologi Puisi Penyair Tenggarong “Seteguk Mahakam”. “Balada Saripin & KD” ini sendiri boleh dibilang gebrakan kuat yang turut menandai geliat sastra di tanah Kalimantan Timur.

(Release By Penerbit Rumah Garut Jakarta).

Kawan-Kawan,

Berminat memiliki Buku Kumpulan Cerpen “Balada Saripin dan KD”? selain bisa melakukan pembelian melalui toko buku dan Distributor (nalar.co.id) anda juga bisa melakukan pembelian  langsung dengan penulisnya.

Caranya, kirim nama serta alamat lengkap anda melalui email ke  rumahgarut at gmail.com. Jangan lupa sertakan nomor handphone dan jumlah buku yang anda pesan. Kami akan segera mengkomfirmasi anda untuk melakukan transaksi pembelian. Kami telah menyiapkan harga khusus untuk anda, yaitu Rp. 25.000,- untuk setiap satu buah buku.*

 

Surat Yang Ditulis Pada Suatu Malam Yang Basah Karena Air Sungai Meluap Mengepung Kota

nala-arung1.JPG

Kawan,

Seperti seekor anjing yang tak tahu berterima kasih, aku ingin menyampaikan ucapan terima kasihku pada kalian semua yang telah menyediakan begitu banyak waktu, energi dan pikiran untuk mengolah buku ini menjadi sesuatu.

Pantas saja kita berkawan, karena seterusnya kita sadari bahwa kita sedang melaksanakan kebutuhan yang telah diciptakan dengan sangat indah oleh Tuhan, fitrah kemanusiaan. Bahwa kita begitu sadar, keberagaman dan perbedaan diciptakan agar individu bisa terus saling mengenal, itu sudahlah pasti. Sudahlah jelas dimana lembar halamannya. Tetapi bahwa kemudian aku dan kalian mengalami sebuah proses persenyawaan kerja karena kesadaran akan pemaknaan arti rasa syukur pada potensi kreatif dalam diri, itulah hikmah.

Dan hikmah memang akan selalu muncul dari mana saja, bahkan dari keringat yang ada di lekukan ketiak kita atau sepotong hari mendorong-dorong kesibukan kita. Seperti juga surat ini, yang kutulis pada suatu malam yang basah karena air sungai meluap mengepung kota.

Sepucuk surat adalah sepucuk cinta. Malam yang basah karena air sungai meluap mengepung kota adalah syukurku.

Terima kasih untuk segala perbedaan nilai.

 

 

 

Sang Tersangka

Cerpen Ibnu HS

Desa Gempar yang biasanya tenang tiba-tiba dikejutkan dengan peristiwa terbakarnya rumah Pak Lurah pada suatu pagi. Kebakaran yang terjadi tiba-tiba. Masih untung cepat segera diketahui sehingga masih bisa ditanggulangi dan kebakaran tidak meluas ke mana-mana.

Polisi yang datang memeriksa di tempat kejadian menemukan sejumlah benda mencurigakan; pecahan kaca dari sebuah botol minuman dan sebuah sumbu yang telah hangus pada ujungnya. Maka segera ditarik sebuah kesimpulan bahwa rumah Pak Lurah sengaja dibakar oleh seseorang dengan menggunakan bom molotov!

Persoalannya sekarang, siapa yang bertanggung jawab atas terbakarnya rumah Pak Lurah tersebut. Segera saja berita terbakarnya rumah Pak Lurah dan siapa tersangka pelakunya menjadi perbincangan orang-orang desa. Sejak hari itu tidak ada dua orang warga desa yang bertemu jika tidak menjadikannya sebagai bahan obrolan.

Persoalan yang kemudian lebih mengemuka adalah siapa sosok yang paling bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Di mata masyarakat desa, ini adalah pertanyaan yang akan sulit untuk diungkapkan. Boleh jadi lawan politiknya waktu pemilihan lurah dulu, atau orang lain yang memang tidak suka dengan Pak Lurah secara pribadi.

Kalau sudah menyangkut kategori yang ke dua itu, menjadi makin sulit untuk ditebak. Sebab bicara tentang siapa yang tidak suka dengan Pak Lurah maka begitu banyak orang di desa itu yang tidak senang dengan Pak Lurah. Di mata warga desa selama ini Pak Lurah adalah orang yang sombong dan arogan.

Tapi tiga hari setelah peristiwa tersebut, teka-teki tentang siapa pelaku yang dianggap bertanggung jawab atas terbakarnya rumah Pak Lurah tampaknya mulai terkuak. Polisi yang bekerja keras menyelidiki peristiwa itu selama tiga hari menangkap salah seorang warga desa sebagai tersangka tunggal. Orang itu adalah To’ Brahim, lelaki tua yang selama ini bekerja sebagai guru mengaji anak-anak desa.

Peristiwa itu mengejutkan banyak orang. Sebagian kalangan menilai polisi tentu telah bekerja keras dan menemukan sejumlah petunjuk yang mengarah kepada To’ Brahim sebagai tersangka utama.

Bagi mereka yang tidak percaya dengan tudingan bahwa To’ Brahim adalah tersangka pembakaran rumah Pak Lurah adalah karena selama ini mereka mengenal orang tua itu sebagai orang yang lembut, sabar dalam mengajari anak-anak, dan rajin membantu warga yang butuh pertolongan. Jika ada saluran air yang tersumbat selama ini maka tanpa disuruh To’ Brahim akan langsung turun tangan membersihkannya.

Mereka yang setuju dengan dugaan bahwa tersangkanya adalah To’ Brahim adalah orang-orang yang selama ini dikenal dekat dengan Pak Lurah. Kata mereka To’ Brahim punya motif yang jelas untuk membakar rumah Pak Lurah.

“Orang tua itu marah dengan Pak Lurah karena Pak Lurah tidak menyuruh anak-anaknya belajar mengaji padanya,” seru salah satu pendukung setia Pak Lurah yang berapi-api bicara pada orang banyak seperti seorang pejabat yang menggelar konperensi pers di pasar desa pagi itu.

Sebagian orang yang mendengar omongan itu mencibirkan bibir. Wajar saja Pak Lurah tidak menyuruh anak-anaknya mengaji pada To’ Brahim. Pak Lurah kan tidak punya anak kecil lagi?

Bagaimanapun – percaya atau tidak – polisi telah menangkap To’ Brahim sebagai tersangka. Pagi itu lelaki yang hidup sendirian sejak meninggalnya sang istri dijemput polisi untuk dimintai keterangan meski sedang menggigil demam.

Penangkapan To’ Brahim membuat Bujang, seorang pemuda warga desa marah. Penyebabnya adalah karena sesungguhnya pelempar bom molotov ke rumah Pak Lurah itu adalah dirinya. Bukan To’ Brahim!

Sepele sebenarnya. Adalah ia yang dikenal sebagai lelaki luntang-lantung itu suatu hari sedang berkumpul di pinggir jalan dengan teman-temannya. Saat itu ia tertawa terbahak-bahak mendengar cerita temannya dan berjalan sempoyongan di tengah jalan. Waktu itulah ia tidak sengaja menabrak Pak Lurah.

“Matamu buta ya?” semprot Pak Lurah dengan mata yang melotot ke arah si pemuda.

Meskipun merasa jengkel saat itu ia membiarkan saja Pak Lurah memarahinya. Tapi sikap diamnya membuat ia diejek oleh teman-temannya sebagai pengecut. Ejekan teman-temannya membuat semangatnya terlecut. Ia harus membuktikan pada orang-orang itu bahwa ia tidak takut dengan Pak Lurah.

Maka subuh buta itu, waktu hari belum terang tanah ia melemparkan bom molotov yang telah disiapkannya ke rumah Pak Lurah dan menghebohkan orang banyak. Tapi tertangkapnya To’ Brahim sebagai tersangka utama menimbulkan kejengkelannya. Ia yang melakukan kenapa orang tua itu yang dapat nama karenanya?

Dalam kejengkelannya ia keluar menemui orang-orang. Setiap ada orang yang menceritakan tentang peristiwa itu pasti ia mendekat dan mengaku sebagai pelaku pembakaran rumah Pak Lurah.

“Polisi telah salah tangkap. Mereka tidak tahu kalau akulah yang melemparkan bom molotof itu!” serunya lantang di depan orang ramai.

Pengakuannya itu membuat orang menjadi ribut. Belum selesai satu polemik, muncul satu polemik lagi. Sebagian meragukan pengakuannya, sebagian lain percaya.

Keresahan yang timbul dimasyarakat atas pengakuan Bujang membuat polisi kembali gerah hati. Wibawa polisi menurun karenanya. Petang hari itu ia dipanggil untuk menjelaskan semuanya.

Di depan polisi ia kembali mengulangi pengakuannya. Bahwa polisi salah menangkap orang. Bahwa sesungguhnya yang mencoba membakar rumah Pak Lurah itu adalah dirinya. Bukan To’ Brahim.

Pengakuannya itu membuat pimpinan polisi menjadi berang. Ini berbahaya. Pengakuan itu membahayakan wibawa polisi. Orang bisa tidak mempercayai polisi lagi karenanya.

Di depan Bujang ia mencoba meyakinkan pemuda itu bahwa bukan ia yang menjadi tersangka.

“To’ Brahim itu punya motif. Selama ini menurut Pak Lurah orang itu adalah pengganggu ketentramannya. Jadi tidak menutup kemungkinan kalau suatu hari ia akan membakar rumah Pak Lurah,” tukasnya sambil mendekatkan wajahnya pada Bujang.

Jadi polisi tetap pada kesimpulannya semula. To’ Brahim adalah tersangka utama percobaan pembakaran rumah Pak Lurah. Kalau ada yang mengakui bahwa ia adalah pelakunya, maka itu jelas sebuah kebohongan. Tujuannya adalah merusak citra polisi dan Pak Lurah di mata masyarakat.

Saat itu juga ia dimasukkan ke dalam sel. Bukan atas tuduhan mencoba membakar rumah Pak Lurah, melainkan sebagai penyebar kebohongan publik. Ini mengecewakannya karena tujuannya membuktikan pada banyak orang bahwa ia tidak takut pada Pak Lurah tidak tercapai.

Di dalam sel ia bertemu dengan orang yang dituduh polisi dan diyakini Pak Lurah sebagai musuh besarnya. Tersangka utama percobaan pembakaran rumah Pak Lurah.

Melihat sosok dengan mata seteduh telaga itu tiba-tiba saja hatinya tergetar. Ia yang selama ini tidak pernah menyesali perbuatannya tiba-tiba merasa sangat bersalah. Perbuatan yang dilakukannya untuk mencari ketenaran itu telah memakan korban yang tidak bersalah.

Di depan lelaki tua itu ia menceritakan kejadian yang sebenarnya. Laki-laki tua itu tidak marah padanya. Dengan bijak ia menasehati pemuda itu untuk tidak memperturutkan hawa nafsu.

Tengah malam itu ia terbangun ketika ia mendengar suara orang menangis. Dilihatnya lelaki tua itu bersimpuh di atas sajadah. Tubuhnya menggigil oleh tangis.

“Kenapa To’ Brahim menangis. Dato’ takut?,” ucapnya perlahan sambil mendekati orang tua itu.

Lelaki tua itu menggelengkan kepalanya.

“Dato’ bukannya takut atau sedang sakit. Dato’ sedang sedih. Sebentar lagi subuh tiba dan Dato’ tak bisa lagi mengumandangkan azan subuh dari surau desa. Sesuatu yang telah begitu lama Dato’ lakukan. Sesuatu yang sangat membahagiakan. Kebahagiaan karena bisa membangunkan orang untuk mengingat Sang Pencipta,” tuturnya sedih.

Kebiasaan inilah yang tidak disenangi oleh Pak Lurah. Ini dirasakannya sebagai gangguan, sebagai teror karena corong mikrofon surau yang cuma satu tepat menghadap rumah Pak Lurah. Mengusik ketenangan mimpi lelapnya.

“Saya kan berhak untuk tidur lelap setelah seharian penuh mengabdikan diri bagi rakyat. Eh, To’ Brahim begitu lancang memamerkan suara buruk tiap subuh langsung ke kamar tidur saya!”

Begitu pernah Pak Lurah memanggilnya. Tapi To’ Brahim mana perduli. Baginya mengumandangkan azan subuh adalah tugas suci. Tentu saja itu membuat Pak Lurah menjadi jengkel dan menempatkan orang tua itu sebagai musuh nomor satu.

Dan kini karena perbuatan yang tidak dilakukannya sama sekali ia harus meringkuk di balik terali besi. Kehilangan kebahagiaannya membangunkan orang-orang untuk mengingat Sang Pencipta.

Polisi kemudian memindahkan To’ Brahim ke Kabupaten untuk mengikuti proses persidangan. Pak Lurah bisa bernafas lega karena sejak itu tidak akan ada lagi suara buruk yang menggangu tidur lelapnya. Polisi pun melepaskan Bujang dengan janji tidak lagi mengaku-ngaku sebagai tersangka.

Sejak pertemuannya dengan To’ Brahim di tahanan polisi itu orang banyak melihat perubahan pada diri Bujang. Pembawaannya menjadi lebih tenang. Ia mulai melaksanakan sholat. Mulai mengajak para pemuda desa untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang positif.

Dan lebih mengagetkan lagi ketika subuh itu ia mengumandangkan azan di surau desa. Menyentakkan Pak Lurah dari tidur lelapnya dan menjadi berang karenanya.

“Dasar teroris …!” pekik Pak Lurah dari dalam kamarnya.

Kota Kuntilanak, 22 Desember 2002.