Brongkos

Cerpen Aant S. Kawisar 

(Kalimantan Barat – INDONESIA)

ADA yang tak habis dipikir oleh Nurlela, yakni rasa sedap brongkos Mbah Put. Seperti puisi, kesedapan brongkos Mbah Put tak hanya sampai di lidah, tapi sanggup menggetarkan sekujur tubuh, yang pada sebagian orang ditandai dengan keringat bercucuran ketika menyantapnya. Karena itu dalam buku yang sedang ditulisnya, Nurlela menyediakan satu bab khusus membahas rasa sedap brongkos Mbah Put. Meskipun rasa sedap itu tak pernah berhasil disalinnya melalui resep yang telah berkali-kali ia praktekkan secara cermat.

“Apakah aku harus mengenakan sanggul, kain, dan kebaya ketika memasaknya, seperti Mbah Put?” Dengan senyum kecut penasaran Nurlela mendorong mangkuk ke tengah meja makan. Sesaat ia sempat menangkap perubahan ekspresi yang hanya sepersekian detik membersit di wajah suaminya, namun cukup jelas mengabarkan kegagalannya. Kemudian setelah berkali-kali mengulangi mencicipi kuah dari ujung sendok, setengah berkelakar namun gemas ia berkata: “Mungkin pancinya yang salah, atau kompornya?”

Wijaya, suaminya, hanya tersenyum.

Sepanjang siang tadi sebenarnya Nurlela telah menyadari kegagalannya. Dari kuah brongkos yang dibuatnya, ia tidak menemukan rasa sedap sebagaimana yang dirasakannya pada brongkos Mbah Put, yang merupakan perpaduan antara kelezatan semur, rawon dan gulai. Padahal ia yakin, semua bahan berikut ukuran dan takarannya sudah sesuai seperti yang diajarkan Mbah Put, tidak kurang tidak lebih. Begitupun cara memasaknya, yakni dengan menumis terlebih dahulu ramuan bumbu yang telah dihaluskan bersamaan dengan potongan daging, yang lalu dituangkankannya di air mendidih; baru kemudian ia memasukkan kacang tolo, kulit melinjo dan tahu. Setelah daging itu lunak, barulah ia memasukkan santan dan beberapa butir cabai rawit. Begitu menurut catatannya, juga seperti yang dilihatnya secara langsung pada apa yang dilakukan Mbah Put. Begitu pula bahan-bahan bumbu yang dihaluskannya: enam siung bawang merah, tiga buah keluak yang diambil dagingnya dan direndam di air panas, dua siung bawang putih, tiga buah cabai merah yang telah dibuang bijinya, empat butir kemiri, seujung jari potongan terasi, satu senti kencur, satu sendok teh garam, dan satu sendok makan ketumbar yang telah disangrai. Termasuk lengkuas, serai, tiga lembar daun jeruk purut, kecap manis dan santan.

“Lalu apanya yang kurang?” Nurlela kembali mendorong mangkuk ke tengah meja makan. Dan suaminya kembali hanya tersenyum. Lelaki asli Jogja itu, yang sejak kecil telah akrab dengan citarasa brongkos, mengakui bahwa brongkos Mbah Put memang sangat istimewa. Entah apa rahasianya. Apakah karena guna-guna seperti yang… ah, Nurlela segera menggelengkan kepalanya, menepis pikiran jahat itu dari benaknya. Tidak mungkin! Lalu ia kembali menarik mangkuk dari tengah meja dan kembali mencicipi kuah brongkos buatannya dari ujung sendok, berulang-ulang, dengan alis berkerut penasaran.

MBAH Put adalah warga dusun Sukosari, sebuah dusun penghasil tembakau di kaki gunung Merapi. Daerah tinggalnya berdampingan dengan kompleks perumahan di mana Nurlela tinggal. Di beranda rumahnya yang cukup luas berlantai tegel Mbah Put menggelar meja dagangannya, dan hanya buka pada pagi hingga menjelang siang hari.

“Mbah sudah berjualan brongkos di meja ini sejak perumahan di mana nak Nurlela tinggal masih berupa kebun tebu dan tembakau. Sudah puluhan tahun mbah jualan. Tapi baru nak Nurlela yang minta diajarin membuat brongkos,” demikian kata wanita tua itu ketika pertama kali Nurlela menyatakan hendak belajar, kira-kira setahun yang lalu, ketika baru seminggu ia dan suaminya menempati rumah baru mereka di kompleks perumahan itu.

“Apa wanita yang giat berorganisasi akan meninggalkan dapur dan tak bisa memasak? Tak tentu benar itu! Bagi mbah, membuat brongkos yang enak sama seperti mengelola organisasi. Ini soal memberikan peran yang pas bagi para anggotanya yang wataknya bermacam-macam. Seperti meracik dan meramu beragam bumbu,” demikian kata Mbah Put pada suatu hari, ketika mengetahui bahwa Nurlela adalah seorang penulis dan aktivis sebuah LSM.

Kata-kata itu membuat Nurlela terperangah, dan serta merta bisa menyimpulkan bahwa Mbah Put sebenarnya bukanlah sekedar wanita tua bungkuk penjual brongkos semata. Akan tetapi ada sisi lain yang selama ini tidak diketahui oleh banyak ibu-ibu di kompleksnya. Bisa jadi hal itu yang menjadi rahasia di balik kesedapan rasa brongkosnya, demikian terlintas dalam pikiran Nurlela. Dan yang lebih mengejutkan Nurlela ketika itu, adalah pengakuan yang keluar dari mulut Mbah Put, bahwa pada masa mudanya dulu, Mbah Put pun seorang aktivis.

“Tapi organisasi yang mbah ikuti, menjadi seperti masakan yang basi karena tangan kotor sebuah rezim yang merebut kekuasaan dengan bedil dan fitnah. Dan mbah sudah terbiasa dengan fitnah. Bahkan fitnah yang sangat besar yang harus ditanggung oleh sekian generasi. Jadi kalau brongkos mbah pernah difitnah memakai guna-guna, bagi mbah itu kecil….”

“Mbah mengetahui tentang fitnah guna-guna itu?” tanya Nurlela, untuk kesekian kalinya terperangah. Di antara para ibu-ibu di kompleknya, soal guna-guna itu sering menjadi bahan gunjingan.

Mbah Put hanya tertawa.

Sejak saat itu Mbah Put mulai sedikit-sedikit menceritakan masa mudanya. Terutama seputar suka-dukanya menghidupi dan membesarkan ketujuh anaknya, yang saat ini telah memberinya puluhan cucu dan buyut, yang kesemuanya memanggilnya Mbah Put, berasal dari kata “mbah puteri”, yang kemudian diikuti oleh seluruh penduduk. Dari ketujuh anaknya, hanya seorang yang masih menetap di Jogja. Selebihnya menyebar di berbagai kota—Jakarta, Bandung, Balikpapan, juga di Irian, dan Kendari.

“Sebenarnya mbah asli Bantul,” katanya suatu ketika, sambil memasukkan kuah brongkos ke dalam rantang yang disodorkan Nurlela. “Mbah sempat bekerja sebagai pegawai sekretariat di sebuah perguruan tinggi. Di situ mbah bertemu almarhum suami mbah yang menjadi dosen di situ.”

Dengan sangat hati-hati kemudian Nurlela bertanya tentang suaminya. Nalurinya sebagai wanita menangkap gurat duka mendalam yang tiba-tiba membayang di wajah Mbah Put. Barangkali berkaitan dengan suaminya. Dan ternyata nalurinya benar. Setelah sekian detik menatapnya, seperti mempertimbangkan sesuatu, akhirnya dengan nada suara seakan berbisik, wanita tua itu berkata: “Sebulan setelah peristiwa 65 yang menggemparkan itu, suami mbah tiba-tiba ditangkap dan tak pernah kembali. Mbah sendiri juga sempat beberapa bulan ditahan di markas CPM, tapi kemudian dilepas karena belas kasihan salah seorang komandan di situ kepada anak-anak mbah yang ketika itu masih kecil-kecil. Yang tertua baru berumur dua belas tahun. Bersama ketujuh anak mbah, mbah pindah ke desa Sukosari Sleman ini pada tahun 70-an. Karena di desa asal mbah, mbah terlanjur dicap sebagai perempuan binal yang kejam dan pembunuh, seperti yang digambarkan dalam film yang dulu setiap tahun diputar di televisi itu.”

Meski sangat samar, terlihat oleh Nurlela tawa getir membayang di bibir Mbah Put. Kemudian seperti bergumam ia melanjutkan, “Apa yang salah dengan memperjuangkan kaum buruh dan tani? Suami mbah dan mbah sendiri adalah anak buruh tani. Bukankah untuk itu kami disekolahkan oleh orangtua kami? Dan lagi, mbah ini mendukung perjuangan suami….”

Karena diliputi antara rasa haru dan takjub pada kata-kata yang keluar dari mulut Mbah Put, secara spontan ketika itu Nurlela berkata: “Saya ingin menulis buku tentang Mbah Put….”

“Apanya yang mau ditulis. Tentang brongkos?” Mbah Put tak meneruskan kata-katanya, tapi mendadak memandang Nurlela dengan tatapan tajam menyelidik. Tatapan yang membuat Nurlela sempat gemetar. Namun Mbah Put segera menyadarinya, karena itu setengah berbisik ia melanjutkan, “…memang harus ada yang menuliskannya. Tapi apakah sudah waktunya?”

PAGI-PAGI sekali Nurlela telah mendatangi meja dagangan Mbah Put. Seperti hari-hari sebelumnya, Mbah Put menyambutnya dengan senyumnya yang khas, dengan kedua mata menyipit dan agak sedikit menegakkan tubuhnya yang bungkuk, seolah memamerkan kebayanya yang setiap hari selalu tampak baru. Juga sanggul bulat kecil yang menempel di atas kepalanya, yang tampak kontras dengan rambut aslinya yang telah putih merata.

“Kemarin saya masih gagal, Mbah,” kata Nurlela sambil menyerahkan tiga buah rantang kepada wanita tua itu. “Saya harus melihat sekali lagi Mbah Put membuat brongkos….”

Mbah Put terkekeh.

“Kebetulan hari ini mbah masaknya agak banyak, karena kemarin Pak Wartoyo pesan minta dibuatkan satu panci untuk arisan di rumahnya besok malam.”

Setelah berjanji akan datang menjelang siang, Nurlela bergegas meninggalkan Mbah Put: tiga rantang brongkos yang kini di tangannya telah ditunggu suaminya untuk dibawa ke kantor, pesanan Pak Suhadi, atasan suaminya yang keranjingan pada Brongkos Mbah Put sejak pertama kali mencicipinya.

Segera setelah menyelesaikan beberapa paragraf sambungan tulisannya yang masih menggantung, Nurlela mendatangi Mbah Put. Karena sudah terbiasa, ia langsung menemuinya di dapur. Wanita tua itu sedang menghadap sebuah tampah besar berisi butiran-butiran bawang merah dan bawang putih yang telah dikupas kulitnya. Juga beberapa batang serai, bongkahan lengkuas, dan bahan-bahan bumbu lainnya.

“Duduk sini…,” Mbah Put menyodorkan dingklik kepadanya.

Nurlela duduk di bangku dingklik itu, mengambil pisau, dan membantu Mbah Put mengupas bawang. Sesaat pikirannya masih tertuju pada bawang merah itu, tapi sesaat kemudian pikirannya melayang pada paragaraf terakhir tulisannya yang barusan ia tinggal di laptopnya: Aungan sirine malam itu menggemparkan seluruh desa, bagai tiupan sangkakala, membuka pintu neraka bagi keluargaku. Neraka bedil dan fitnah yang teramat jahanam. Di tengah kepungan moncong-moncong senjata dan sepatu-sepatu lars yang berdentam di lantai, bahkan di seluruh negeri, sanggupkah aku menyelamatkan anak-anakku dari kekuasaan yang haus darah itu?

“Sanggup. Mbah Put sanggup. Mbah sudah membuktikannya!” Tanpa terasa kata-kata itu meluncur dari mulut Nurlela, dengan mata menatap lurus-lurus ke wajah wanita tua itu, yang seketika membuat wanita tua itu menyipitkan kedua matanya, membalas tatapan Nurlela dengan heran.

“Oh….” Nurlela mengelus dadanya, menyadari luapan rasanya. “Maaf, Mbah. Saya hanya teringat pada cerita Mbah Put tentang aungan sirine yang menggemparkan seluruh desa itu, dan bagaimana kemudian Mbah Put membesarkan dan menyekolahkan ketujuh anak-anak Mbah Put hanya dengan berjualan brongkos.”

Kini Mbah Put ikut mengelus dadanya. “Mbah kira ada apa…,” katanya sambil mengulum senyum, lalu dengan suara lirih melanjutkan, “Ya, karena itu mbah berutang budi pada brongkos. Alhamdulillah, karena brongkos ini pula mbah sudah menunaikan ibadah haji. Karena itu sekarang ini mbah ingin membalas budi.”

“Maksud embah?” Nurlela memandang Mbah Put dengan tatapan serius.

Mbah Put memasukkan bahan-bahan bumbu ke dalam sebuah cobek, kemudian sambil mengulek bumbu-bumbu itu ia berkata: “Brongkos telah menjadi doa bagi mbah. Dulu, setiap kali mengulek bumbu-bumbu ini, mbah selalu berdoa semoga brongkos mbah laku. Karena mbah tidak punya cara lain untuk menghidupi dan membiayai sekolah anak-anak mbah. Bahkan mbah seperti bisa melihat doa itu menyatu dengan bumbu-bumbu di dalam cobek ini. Sekarang…,” Mbah Put menoleh ke arah Nurlela yang dengan mulut setengah menganga memandangnya. “Ada apa, Nak?” Mbah Put kembali menyipitkan matanya, mencoba menangkap apa yang tersirat di balik wajah Nurlela yang tampak melongo.

“Teruskan, Mbah. Saya ingin tahu apa yang ada di hati Mbah sekarang ketika mengulek bumbu-bumbu itu?” tanya Nurlela seperti memohon. Sesaat ia sempat bergidik, tak kuasa membayangkan beban yang begitu berat yang harus ditanggung Mbah Put muda, seorang janda dengan tujuh anak yang masih kecil-kecil, di tengah “kutukan” masyarakat satu negeri yang mengekang seluruh hak dan ruang geraknya sebagai warga negara. Karena itu samar-samar terlihat setitik bening di sudut mata Nurlela.

“Sekarang mbah berdoa semoga mbah selalu diberi kesehatan agar mbah bisa terus membuat brongkos. Mbah sering kasihan kepada orang-orang yang telah menyukai brongkos mbah. Mereka tampak kecewa sekali apabila brongkos mbah habis atau sehari saja mbah tidak berjualan. Mbah tak ingin mereka kecewa. Karena mereka menyukai brongkos mbah, mbah bisa menghidupi dan membiayai anak-anak mbah. Karena itu mbah harus membalas budi. Kesenangan mereka pada brongkos mbah, itu yang membuat mbah merasa hidup mbah masih berarti.”

Sementara Mbah Put kembali pada bumbu-bumbu di dalam cobeknya, untuk sekian detik Nurlela menahan napas, memandangi wanita tua itu dengan wajah kian melongo. Tak sanggup berkata, walau hanya sekadar mengatakan “oh”. Terbayang di matanya empat sampai lima mobil bagus yang diparkir di halaman rumah Mbah Put, sekurang-kurangnya setahun sekali ketika lebaran. Mobil-mobil milik anak-anak Mbah Put yang berdatangan dari luar kota. Jadi, sebenarnya Mbah Put memang tak perlu lagi berjualan.

Ya, tak perlu! Ah, kini Nurlela menarik napas panjang. Ia sangat terpukau pada pernyataan Mbah Put barusan. Baginya pernyataan itu persis sebuah puisi yang tak hanya merupakan rangkaian kata-kata yang indah, tapi begitu sarat dengan makna. Karena itu, ketika kemudian Mbah Put mengajaknya ke depan kompor untuk melihat bagaimana cara menumis bumbu yang telah halus, dalam hati ia berkata: “Saya sudah tahu rahasia di balik kesedapan brongkos Mbah Put. Ya, saya sudah tahu. Dan saya mungkin tidak akan pernah bisa membuatnya.”

Namun, karena rasa hormatnya, ia beranjak juga dari duduknya, mendekati Mbah Put dan melihat wanita tua itu memasukkan bumbu yang telah halus ke dalam wajan di atas kompor yang menyala. Lamat-lamat ia mulai mencium keharuman menyebar dari dalam wajan itu. Keharuman sebuah puisi yang sarat dengan makna. (*)

* (Koran Tempo, 20 Maret 2011)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s