Agni Kasmaranwati

AGNI KASMARANWATI.  Lahir di Samarinda, 5 mei 1969. Mengenyam pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Mulawarman. Wanita yang kini bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Dinas Pendidikan Kota Samarinda   ini suka menulis puisi dan cerpen sejak SLTP. Puisi pertamanya saat kelas 1 SMP dimuat di majalah Kuncung dan Bobo. Selanjutnya cerpennya dimuat di berbagai Koran harian lokal dan nasional di Indonesia. Cerpennya juga terhimpun dalam Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia (ed. Korrie Layun Rampan).

Pisau di Bawah Bantal

Cerpen : Agni Kasmaranwati
            BULAN memanggilnya Om.  Bulan tidak tahu nama lengkapnya. Ibu pun memanggilnya hanya Mas Syahdul  saja. Dilihat dari penampilannya yang rapi, bisa diperkirakan dia orang berduit. Mobilnya keluaran terbaru, yang harganya di atas tiga ratusan juta rupiah. Handphonenya di atas harga lima jutaan rupiah. Sepatunya juga jutaan rupiah lebih. Di jari tengah tangan kanan dan kirinya ada cincin, yang harganya juga tentu saja mahal. Jam tangannya jutaan rupiah.  Kata teman-teman ibu, dia itu anggota DPRD.  Bulan percaya itu. Karena, saat Pemilu lalu, Bulan melihat wajahnya terpampang di baliho-baliho di pinggir jalan.  Bulan juga percaya lelaki buncit itu berduit, karena satu hari sebelum pencoblosan surat suara saat Pemilu lalu, tim sukses si Om membagikan uang seratusan ribu rupiah ke masyarakat, termasuk ke teman-teman ibu.
            Setelah terpilih, Si Om rajin menemui ibu. Dia berjam-jam berduaan dengan ibu di dalam kamar. Bila si Om datang (sekitar 3 kali dalam seminggu) dia selalu memberi Bulan selembar uang lima puluhan ribu rupiah. Lumayan, buat uang sangu sekolah.
            Ibu Bulan tukang pijat. Usia beliau sekitar 24-an tahun. Mereka pendatang dari Malang. Di awal tahun 2006 ibu merantau ke Samarinda. Diajak teman satu kampung. Katanya, di Kalimantan Timur banyak kerjaan. Banyak perusahaan tambang batu bara. Katanya lagi, gaji di daerah kaya devisa terbesar di Indonesia itu lebih besar dibandingkan di Jawa. Ibu tergiur, bersama dengan sekitar 10-an orang wanita di kampung, mereka lantas naik kapal menuju Samarinda. Bulan belum diajak. Selain Bulan masih kecil, mungkin saat itu dia akan menghadapi ujian kelulusan Sekolah Dasar. Bulan ditinggal bersama nenek.
             ‘’Nanti bila ibu sudah ada tempat tinggal yang jelas, kamu akan ibu jemput,’’ ibu membujuk.
            Pagi hari, ketika Bulan bangun tidur, ibu sudah tidak ada lagi. Bulan menangis. Hingga bengkak matanya. Nenek berusaha menghibur. “Sekalipun kamu perempuan tidak boleh cengeng,’’ kata nenek, yang hidup sendiri setelah kepergian kakek tahun 2001 lalu.
            Bulan juga perlu menceritakan; ibu hidup sendirian, setelah  bapak tewas mengenaskan ditembak polisi di depan rumah. Saat itu usia Bulan 2 tahun lebih.  Bulan kurang begitu ingat wajah bapak. Yang Bulan ingat, bapak selalu pulang tengah malam. Cerita tetangga, dan dari mulut teman sepermainan yang Bulan dengar, kata mereka bapak seorang penjahat. Ada juga yang bilang, bapak seorang teroris. Yang Bulan tahu, seperti juga ibu, bapak orang baik. Beliau kerap membelikan mainan.  Bila bapak ada di rumah, kami sering bermain bersama. Setiap hari selama setahun, Bulan terus bertanya kepada ibu, “ Bapak kemana?”.  Setiap pagi, ketika bangun tidur Bulan mencari-cari bapak. Biasanya bapak mengantar ke sekolah. “Bapak kerja,’’ selalu itu jawaban ibu dengan disertai mata yang berkaca-kaca.
            Setelah ibu pergi ke Samarinda, Bulan tinggal bersama nenek. Keluarga lain, semenjak wafatnya bapak tak pernah ada yang berkunjung ke rumah nenek. Kata nenek, ibu anak satu-satunya. Sedangkan bapak, menurut nenek berasal dari Sumatera, yang keluarganya pun nenek kurang mengerti di mana tinggalnya.
            Setelah 2 tahun bekerja di Samarinda, ibu kembali ke Malang. Selama 2 tahun Bulan hanya mendengar suara ibu melalui telepon. Suara ibu yang setiap bulan menanyakan kabar dan memberitahu uang sudah dikirim. Bulan gembira sekali ketika ibu datang. Bulan memeluk haru ibu, dengan rasa rindu meluap-luap.
             Ibu ingin mengajak tinggal bersama di Samarinda. Menurut ibu, dia sudah memiliki rumah. Rumah sederhana yang dikumpulkan dari hasil kerja. Bulan diminta untuk pindah sekolah ke Samarinda.  Sebenarnya Bulan tidak ingin berpisah dengan nenek, yang hidup sendirian. Tapi ibu tetap bersikeras mengajak  ke Samarinda. Nenek tidak mau ikut, ingin tetap di Jawa saja.
            Di awal tahun 2008, Bulan dan ibu sudah berada di Samarinda. Setelah beberapa hari di Samarinda, baru bulan mengetahui, bila ibu bekerja di sebuah panti pijat. Setelah beberapa minggu, baru Bulan mengetahui kalau panti pijat di tempat ibu bekerja bukan sekedar panti pijat biasa. Ada plusnya. Plusnya itu berarti ada pelayanan tambahan selain memijat badan. Untuk pijat per jam Rp 40.000. Kalau ditambah plus tergantung negosiasi dengan pelanggan. Tarifnya bisa sampai Rp 200 ribuan.
            “Begitulah pekerjaan ibumu,’’ kata Mbak Yati, tetangga Bulan. Nadanya mengejek.
            Sekalipun orang kampung bilang, ibu lonte, tukang pijat yang bisa dipakai, tapi Bulan tetap menganggap ibunyalah orang yang paling baik sedunia. Ibu yang mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ibu yang membayar biaya sekolah. Ibu yang membetulkan selimut saat Bulan tertidur lelap.
            “ Tapi ibumu tetaplah seorang pelacur, perempuan rendah, lonte!’’ kata Mona, anaknya Mbak Yati. Bila yang bilang Mbak Yati, ibunya Mona, Bulan hanya diam saja, namun ketika Mona yang bilang, tangan Bulan secara spontan menampar wajah Mona. Selanjutnya, keduanya terus berkelahi. Saling cakar, saling tendang dan saling menarik rambut masing. Bila tak dipisah ibu  Bulan dan Mona tak akan berhenti berkelahi. Sejak saat itu, keduanya bermusuhan, menyimpan dendam dan sakit hati.
            Bulan tahu, Mbak Yati memiliki selingkuhan seorang oknum jaksa. Namun dia diam saja. Buat apa mengurusi urusan orang. Bulan juga tahu, suami Mbak Yati yang bekerja di pemerintahan terkait kasus korupsi. Sebelum di tahan, Bulan juga mendengar ayah Mona itu sering ke pub dan cafe. Dari teman sekolahnya di SMP pula, Bulan mengetahui bila ayah Mona, yang biasa dipanggilnya Om Fadli, menyukai remaja dan sering mengajak perempuan usia belasan tahun kencan di hotel. Yang Bulan belum tahu adalah selain sering mengajak kencan para remaja, ayah Mona ternyata juga menyukai ibunya!
            Bisa jadi, karena suaminya sering terlihat memandang pantat ibu Bulan yang besar itulah, yang membuat Mbak Yati cemburu dan marah dengan Bulan. Ada kejadian sebenarnya yang juga tak enak diceritakan. Pernah suatu hari, saat Bulan sekolah, saat Mona sekolah, dan saat Mbak Yati pergi ke salon, Om Fadli menyelinap ke sebelah rumah. Saat itu Ibu Bulan belum kerja dan baru selesai mandi. Om Fadli masuk rumah melalui pintu depan yang tak terkunci. Ibu Bulan kaget. Sekalipun, dia bekerja sebagai tukang pijat, namun dia masih memiliki harga diri. Memang, pelanggan kerap berlama-lama di dalam kamar, merayu untuk mengajak hubungan suami istri, namun Ibu Bulan selalu menolak. Om Fadli memaksa mengajak hubungan badan, namun Ibu Bulan menolak. Tak mempan merayu dan memaksa, Om Fadli lantas mengancam.
            “Bila kamu tak mau melayani, aku nanti akan memperkosa anakmu saja!’’ katanya. Di dalam kamar Ibu Bulan terus dikejar. Handuk yang dikenakan terlepas. Karena tubuh Om Fadli lebih besar, Ibu Bulan akhirnya tak berdaya. Di pagi jahanam, Om Fadli berhasil melampiaskan nafsunya.
            “Kamu boleh memperkosa aku, tapi awas bila kamu memperkosa anakku,’’ kata Ibu Bulan.  Sebelum Om Fadli pergi dia sempat melempar empat lembar uang lima puluhan ribu rupiah. Uang Om Fadli itu lantas ibu bakar.
            Itu kejadian yang pertama. Kejadian yang kedua, di rumah Bulan yang berukuran 5 X 10 meter itu pula, Om Syahdul berhasil menikmati tubuh ibu Bulan. Berbeda, dengan Om Fadli, Om Syahdul melakukan hubungan badan dengan Ibu Bulan tanpa paksaan. Tanpa paksaan karena pertama, Ibu Bulan tak menolak setelah dijanjikan akan dinikahi. Kedua. Ibu Bulan bersedia, karena tak enak sama Om Syahdul yang telah menambahi uang untuk beli rumah kayu yang ditempatinya sekarang.  Wakil rakyat itu sekali-sekali saja datang ke rumah Ibu Bulan. Dia lebih sering ke Panti Pijat tempat ibu Bulan bekerja. Selain di Panti Pijat, Om Syahdul yang dari Fraksi Ngalor Ngidul itu  juga sering mengajak ibu Bulan ke hotel. Ibu Bulan bersedia, karena janjinya usai bulan haji akan dinikahi.
            Sejak kejadian pertama yang dilakukannya terhadap ibu Bulan, Om Fadli jadi ketagihan. Namun sejak kejadian itu pula, ibu Bulan selalu mengunci pintu depan rumahnya. Selain mengunci pintu,  kebiasaan baru ibu Bulan adalah menyimpan pisau dapur di bawah bantal tidurnya. Kali ini dia tak ingin harga dirinya diremehkan suami tetangganya itu. Yang lebih penting lagi, dia juga ingin menjaga kehormatan anaknya. “Bila kamu tak mau melayani, aku nanti akan memperkosa anakmu saja!’’ suara Om Fadli masih melekat di benaknya.
            Pisau di bawah bantal itu berukuran panjang 27 cm dan  bergagang kayu. Cukup tajam, dan bila ditancapkan di dada tentu saja akan membuat orang yang menerima tusukan itu akan sekarat seperti ikan yang menggelepar-gelepar. Apalagi bila ditusukan berkali-kali. Darah akan muncrat dan akibatnya ranjang akan banjir darah. Ibu sayang sekali dengan Bulan. Ibu baru menyadari, sekalipun Bulan baru kelas 3 SMP namun tubuhnya berkata lain. Bulan remaja yang cantik. Tubuhnya tinggi padat berisi. Pantatnya juga tak kalah besar dengan pantat ibunya. Kulitnya bersih berwarna kuning langsat. Mungkin itulah yang membuat Om Fadli, seorang pejabat pemerintahan yang korup itu sampai mengeluarkan perkataan: “Bila kamu tak mau melayani, aku nanti akan memperkosa anakmu saja!’’. Perkataan itu pulalah yang membuat Ibu Bulan waspada, sampai-sampai dan menyembunyikan pisau di bawah bantal.
            Pisau sudah disembunyikan di bawah bantal. Tapi suara siapa yang mengetuk pintu depan? Bulan yang sedang belajar sambil nonton televisi di dekat pintu utama itu membuka pintu. “ Ibumu ada?’’ suara Om Syahdul.
            “Ada. Silahkan masuk Om,” Bulan mempersilahkan masuk.
            Dasar Syahdul, mata  anggota Fraksi Ngalor Ngidul dan Ketua Komisi IV  itu liar menatap pantat Bulan, yang bergegas masuk memanggil ibunya yang sedang berada di dalam kamar.
            Tak berapa lama, ibu Bulan muncul. “ Tumben malam-malam ….,” ibu Bulan tersenyum.
            Om Syahdul juga tersenyum. “ Rindu dipijat …,’’ kata wakil rakyat itu.
            Ibu Bulan lantas mengajak lelaki tinggi besar itu ke dalam kamar. Sebenarnya dia tak  enak hati mengajak lelaki ke kamar, karena ada Bulan. Ah, mudahan Bulan mengerti profesi ibunya sebagai tukang pijat. “Tapi sebentar saja ya,’’ suara ibu Bulan.
            Waktu terus merangkak naik. Jarum jam menunjukkan waktu sudah tengah malam. Bulan sudah terlelap di kamar sebelah. Ibu Bulan juga sudah terlelap, setelah menyerah atas keinginan Om Fadli yang mendesak menginap hanya semalam dan pagi-pagi sekali berjanji akan pulang.
            Om Fadli terjaga lalu beranjak dari ranjang. Dia ingin ke kakus. Dari kakus, dia membuka sedikit pintu kamar Bulan. Mata kontak ke hati yang berdesir-desir lalu mengetuk-ngetuk nafsu birahi.  Kaki Om Syahdul melangkah mendekati Bulan, perawan yang tidur tertelentang.  Namanya tidur, tentu saja daster Bulan tak rapi. Celana dalamnya yang berwarna pink terlihat mata Om Syahdul. Om Syahdul sudah membuka semua pakaiannya, lantas segera menindih tubuh Bulan. Bulan kaget. Tangan kanan Om Syahdul menutup mulutnya. Bulan tak bisa berteriak. Om Syahdul terus menindih.  Bulan meronta-ronta. Tangan kiri Om Syahdul liar membuka celana dalam Bulan.  Bulan meronta-ronta. Om Syahdul makin bernafsu. Bulan akhirnya pingsan.  Selanjutnya, Om Syahdul  kaget, sebuah pisau menancap di punggung dan tembus ke dadanya.  Darah keluar, membasahi sprei yang berwarna putih. Om Syahdul tewas. Ibu Bulan mematung di sisi ranjang. Seperti  orang yang hilang kesadaran, dengan raut wajah tak emosi, ibu Bulan kembali melangkah ke luar kamar. Menutup pintu, lantas menuju dapur. Dia membuka pintu depan, udara pagi menerobos masuk. Dia lantas kembali ke dalam kamar dengan tangan kanan menggenggam pisau. Pisau disimpan di balik bantal, lalu dia merebahkan diri tertelentang menatap plafon.
            Dia sengaja berharap, Om Fadli akan menerobos masuk ke rumahnya melalui pintu depan yang dibiarkan terbuka. Berita koran besok pagi pasti akan ramai. Koran pagi  akan memberitakan, seorang oknum anggota DPRD dan seorang oknum pejabat pemerintahan tewas dengan pisau tertancap di punggungnya di rumah seorang tukang pijat.
            Pagi itu,  setelah istrinya ke salon dan anaknya ke sekolah,  Om Fadli, oknum pejabat pemerintahan itu memang berencana akan mendobrak pintu belakang rumah ibu Bulan. Tapi bila pintu depan terbuka, dia lebih baik masuk lewat pintu depan. Bila demikian, maka ibu Bulan pun sudah siap menunggu dengan pisau di bawah bantal. ***
Samarinda, Nopember 2011
AGNI KASMARANWATI adalah nama asli wanita kelahiran  Samarinda ini.  Alumnus  Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Mulawarman ini selain bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Pemkot Samarinda ini juga suka membaca novel, terutama novel Agatha Cristie. Selain suka membaca juga suka menulis puisi dan cerpen sejak SLTP. Puisi pertamanya saat kelas 1 SMP berjudul Bulan Untuk Ibu  dimuat di majalah Kuncung.

Manusia yang Melahirkan Anjing

Cerpen : Agni Kasmaranwati

AKU datang ke kampung itu menjelang senja. Lolong dan gonggong  anjing terdengar di mana-mana. Di jalan-jalan kutemukan lebih banyak anjing daripada manusia. Aku tersesat di sebuah kampung yang asing bagiku. Hanya kampung ini yang aku temui setelah berhari-hari berjalan. Aku tadi bertanya kepada salah seorang lelaki, di mana rumah kepala kampung. Lelaki itu menunjukkan jalan ke arah timur.  Matanya masih memperhatikanku, ketika aku melangkah ke  arah jalan yang ditunjuknya. Malam kini mulai merambat. iblis-iblis malam mulai keluar dan berkeliaran.

Kampung yang terpencil. Tak ada lampu-lampu jalan. Jalanan gelap. Hanya bulan yang membantu. Di depan sebuah rumah panggung aku mengetuk pintu. Suara anjing di balik kolong rumah memekakkan telingaku. Warga kampung kelihatannya sangat akrab dengan anjing. Seorang lelaki tua membuka pintu.

‘’Pasti adik tersesat?’’ kata lelaki tua itu. Dia membuka pintu lebar-lebar. Di dalam kulihat, ada seorang wanita tua. Lelaki tua itu tinggi kurus. Uban tak hanya nampak di rambutnya yang tipis, tapi juga di jenggotnya yang mirip ekor anjing. Sama dengan lelaki penunjuk arah yang kutemui di persimpangan menjelang senja, mata lelaki tua itu juga merah seperti sumber api.

“Iya pak. Saya ingin menumpang tidur,’’ jawabku.

Aku menjelaskan kepadanya. Aku pencinta hutan, sungai dan gunung, yang tersesat. Dia mempersilahkan masuk. Mandi? Aku tak ingin mandi. Dia mempersilahkan aku makan. Aku bersedia makan karena aku memang lapar. Aku dua hari tersesat. Selama dua hari aku hanya makan buah-buahan hutan dan air dari sungai. Setelah dua hari aku melewati hutan, menyeberangi sungai dan menaiki gunung aku mendengar gonggongan, atau mungkin lolongan anjing di bawah gunung. Aku yakin, bila ada anjing pasti ada kampung. Aku makan dengan lahap. Karena setelah 2 hari baru kini aku merasakan nasi dan daging bakar.

Lelaki tua dan istrinya itu menatapku. Dia menceritakan, orang asing yang datang malam hari ke kampung dan mengetuk rumahnya pasti lah tersesat. Karena, tak mungkin ada orang yang mau ke kampung mereka yang sepi untuk suatu tujuan tertentu. Tak ada apa-apa di kampung mereka.

“Beberapa hari yang lalu juga ada dua pecinta alam yang tersesat. Tapi kini mereka sudah pulang. Entah apakah mereka sudah sampai di rumah atau belum,’’ ujar kepala kampung itu.

Seakan mengerti dengan keherananku. Lelaki tua itu mengatakan, di kampung ini memang lebih banyak anjing dari manusia.  Jumlahnya tak terhitung. Berkeliaran ke mana-mana mencari makan. Siang hari anjing-anjing itu lebih banyak tidur. Menjelang senja hingga tengah malam mereka mulai bermunculan dan mencari makan. Mereka menyerbu kuburan. Mengais-ngais tanah untuk mencari makanan. Warga pun khawatir. Karena anjing semakin banyak, sementara makanan yang ada mulai habis.

Anjing-anjing itu percuma dibunuh. Karena jumlahnya yang sangat banyak. Jutaan anjing. Sementara jumlah penduduk kampung hanya sekitar 100 ribuan jiwa saja. Semakin dibunuh, populasinya bukannya semakin berkurang tetapi malah terus bertambah.

Malamnya aku tak bisa tidur. Sekalipun telinga aku tutup dengan kain, tetapi suara-suara anjing yang berkelahi berebut makanan di kuburan masih terdengar.  Aku bangun pagi. Berjalan-jalan sendirian mengamati kampung. Ketika aku keluar rumah kepala kampung, anjing-anjing sedang tidur di depan pintu. Jumlahnya puluhan—atau mungkin sekitar 70-an ekor.  Di bandingkan anjing-anjing di rumah warga, anjing-anjing di rumah kepala kampung adalah yang paling sedikit jumlahnya.  Mungkin jumlahnya tak lebih dari sekitar 600 ekor. Kulihat di samping rumah, di belakang rumah dan di bawah kolong rumah juga ada. Warnanya lebih banyak hitam. Mungkin anjing-anjing itu kekenyangan atau kelelahan setelah berebut makan di kuburan semalam. Malam dan siang kampung ini sama saja. Menyeramkan. Anjing-anjing ada di mana-mana. Tak hanya di rumah kepala kampung di seluruh rumah warga lainnya pun aku lihat anjing. Di sekeliling rumah penuh anjing. Ada yang tidur. Ada yang mendongakkan kepala ketika melihatku berjalan. Ada yang mengikutiku. Jumlahnya ratusan ekor.

Aku berbalik menuju ke rumah kepala kampung, yang ketika aku keluar tadi nampaknya masih tidur. Dia tak mempunyai anak. Hanya tinggal berdua dengan istrinya. Aku tak ingin berjalan terlalu jauh. Apa juga yang aku lihat di kampung  anjing ini. Hanya rumah-rumah yang banyak dipenuhi anjing. Lebih baik aku di rumah kepala kampung saja dan segera minta antar menuju jalan arah pulang ke rumahku.

Tiba di rumah kepala kampung aku lihat dia dan istri tidak ada. Berarti mereka sudah bangun. Aku lihat mereka berada di pondok di tengah sawah. Sawah mereka terletak tak berapa jauh di belakang rumah.

Di pondok sawah, lelaki tua dengan didampingi istrinya yang lebih banyak diam itu bercerita tentang kampungnya banyak anjing?

‘’Anjing-anjing itu keluar dari mulut kami,’’ katanya, dengan matanya yang merah seperti ada bara api.

Selanjutnya lelaki tua itu menceritakan, bagaimana upaya dia menekan angka kelahiran anjing yang kian hari kian terus bertambah. Dia mengimbau, agar warga  di kampung mereka berbicara seperlunya saja.  Sayangnya, upaya itu kurang berhasil. Anjing-anjing  terus lahir dari mulut mereka. Tanpa disadari jumlahnya semakin banyak. Semakin hari, kelahiran anjing dari mulut menjadi hal yang biasa. Malah kalau berbicara tak mengeluarkan anjing dianggap hal yang aneh. Seperti meniup balon permen karet, begitulah kira-kira anjing-anjing itu keluar dari mulut. Setelah jatuh ke tanah, anjing itu lari menjauh sambil menggonggong.

Aku hampir muntah ketika di bagian cerita dia menyebutkan; salah satu upaya lain untuk menekan laju pertumbuhan anjing adalah dengan menjadikan lauk makan mereka.

“Kami menanam padi dan lauknya dari daging anjing,’’ suara kepala kampung itu. Di sebelah istrinya tersenyum.

Persoalan lauk bagi warga bisa teratasi. Tapi bagaimana dengan anjing yang juga memerlukan makan. Kepala kampung itu menyebutkan, seakan balas dendam anjing-anjing itu mencari makan ke kuburan. Mereka mengali-gali tanah kuburan nenek-kakek moyang mereka. Apalagi bila ada warga yang baru meninggal dunia dan dikuburkan, malamnya para anjing itu berpesta pora. Penduduk kampung tak punya cara lain untuk menguburkan warga yang mati. Mereka tak mau mayat dibakar. Mereka ingin, orang yang meninggal dunia dikembalikan ke tanah.

“Lama kelamaan warga kampung kami cemas. Karena jumlah anjing semakin banyak sementara makanan untuk anjing tidak mencukupi. Suatu ketika ada sekelompok warga tersesat ke kampung kami,’’  suara kepala kampung lagi.

Para warga yang tersesat itu, lanjut kepala kampung,  dari kampung lain. Kedatangan mereka bagi warga kampung kami semula dianggap sebagai pahlawan. Karena para warga kampung lain itu tidak melahirkan anjing. Tetapi mengeluarkan ular dari mulut mereka. Bila mereka berbicara, ular terhempas ke tanah, keluar dari mulut. Sama seperti anjing yang dilahirkan dari mulut warga kami, ular tersebut juga langsung menjauh. Menurut mereka, bila masih kecil, gigitan ular yang dilahirkan dari mulut mereka belum mematikan. Setelah besar ular-ular itu memiliki racun yang membunuh. Para warga tersebut melarikan diri, karena populasi ular di kampung mereka sudah sangat besar. Banyak warga yang mati digigit ular. Hampir setiap hari ratusan ular dilahirkan dari mulut warga.

“Kedatangan warga tersebut tentu saja mengkhawatirkan kami. Keselamatan kami terancam. Sekalipun mereka berjanji akan menuntaskan masalah dengan mengurangi populasi anjing, tapi ular-ular tersebut juga akan mengurangi populasi warga kampung kami. Warga tak setuju. Karena mereka tak ingin hidup dengan ular. Warga yang melahirkan ular tersebut akhirnya kami usir keluar dari kampung,’’ kata kepala kampung.

Aku lantas berpikir; hari ini juga aku harus meninggalkan kampung anjing ini. Aku bertanya kepada kepala kampung jalan menuju arah pulang. Mumpung matahari belum berada di atas kepala.

Kepala kampung menyarankan besok pagi saja. Tapi aku tetap ingin segera pulang. Aku tak bisa tidur dengan suara-suara anjing yang berebut makanan di tanah kuburan. Aku tak ingin menunggu besok.

Kepala kampung menunjukkan arah jalan pulang. Melewati hutan, menyeberangi sungai dan menaiki gunung. “Bila pulang besok pagi akan aku antar sampai perbatasan,’’ suaranya.

Tapi aku menolak. Aku ingin segera meninggalkan kampung. Anjing-anjing mendongakkan kepala ketika aku melintasi mereka. Mata-mata anjing itu merah dan lidah-lidah mereka terjulur, tapi bukan seperti lidah anjing, melainkan lidah ular. Sebelum pergi, kepala kampung berpesan, usahakan jangan lari bila takut dengan anjing. Tapi seakan anjing-anjing itu mengerti tujuanku yang ingin pergi meninggalkan kampung. Anjing-anjing itu mengikutiku. Aku berusaha tidak lari. Terus berjalan menuju hutan, lantas menyeberangi sungai dan menaiki gunung seperti yang disebutkan kepala kampung.

Anjing-anjing yang mengikutiku mengonggong. Gonggongan itu membuat anjing-anjing lain, yang berada di dalam rumah, di kolong dan sekeliling rumah serta di tempat-tempat lain bermunculan. Mereka mendongakkan kepala, menoleh ke arahku, lantas berlarian mengikutiku. Aku lihat jumlah anjing-anjing itu semakin banyak. Aku perkirakan jumlahnya tak lagi ratusan. Tapi sudah jutaan. Aku ingin segera tiba di hutan, lantas menyeberangi sungai dan menaiki gunung, untuk menghindari anjing-anjing itu.

Anjing-anjing itu semakin banyak. Aku sudah tak tahan lagi. Pesan kepala kampung agar aku jangan lari kuabaikan. Aku berlari. Anjing-anjing juga berlari. Perbatasan kampung masih jauh. Semakin aku berlari, anjing-anjing itu semakin cepat mengejarku. Jaraknya kian dekat, jumlahnya jutaan ekor. Aku harus berlari cepat agar bisa melewati hutan, menyeberangi sungai dan menaiki gunung agar  tiba di rumah. Sayangnya,  hutan, sungai dan gunung yang kutuju belum kelihatan. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s