Tuhan Mengirimkan Lelaki di Tengah Hujan

Oleh: Hanna Fransisca*

GambarGambar

Beberapa waktu belakangan ini, saya seringkali dihinggapi penyakit mudah naik darah. Kesabaran saya bisa tiba-tiba terbang oleh emosi yang meledak, –tanpa bisa ditahan. Ada banyak hal kecil yang sesungguhnya tak patut dijadikan alasan untuk marah, akan tetapi entah kenapa, emosi selalu kembali datang secara tiba-tiba.

Malam itu sopir kantor terlambat datang, padahal jadwal rapat sudah ditentukan. Terlalu lama menunggu, maka emosi pun menyelinap tanpa bisa ditahan. Akhirnya saya putuskan untuk meloncatkan diri di atas motor tukang ojek, dengan pertimbangan praktis: untuk menghindari jebakan macet, dibanding dengan memilih taksi.

Tapi hasilnya tentu saja sudah bisa ditebak: debu-debu jalanan membuat saya semakin kesal. Belum lagi tingkah tukang ojek yang ternyata sangat liar, melebihi perhitungan kepraktisan ketika saya memutuskan memilih ojek. Ia bertingkah bak seorang pembalap. Menyalip sana, menyelip sini, memotong jalur, memainkan gas dengan seenak hati, hingga katup jantung saya rasanya ingin meledak. Ingin rasanya saya berteriak, meloncat turun dan memarahinya: “Kamu cari mati ya? Mau membunuhku ya? Dasar bodoh!”

Niat buruk belum terlaksana, hujan tiba-tiba datang. Sungguh hujan yang sangat tidak tepat waktu. Meski pada saat-saat normal saya teramat menyukai hujan, tapi malam itu saya benar-benar tidak membutuhkan hujan. Sungguh-sungguh hujan yang menjengkelkan. Saya tentu tidak ingin basah kuyup di tempat rapat. Alangkah malu dan terhinanya jika sampai hal itu terjadi. Maka saya memutuskan menyuruh tukang ojek untuk segera mencari tempat berteduh. Apa hendak dikata, maksud hati ingin cepat, tapi justru semakin terlambat. Saya harus segera mencari pengganti ojek dengan taksi. Tapi di mana pula saya bisa mendapatkan taksi? Di tengah hujan deras begini…. Dalam hati, saya mulai menyesali keputusan yang dipilih beberapa saat lalu. Andai saya lebih sabar menunggu supir kantor, tentu saat ini saya tengah duduk nyaman di dalam mobil. Sekeras apa pun hujan datang, tentu saya tidak akan mengalami kepanikan yang tidak penting.

Kami segera merapat ke halte bus untuk berteduh. Jelas tak ada taksi menunggu di halte bus. Dan jelas, di tengah hujan deras diperlukan kerja keras untuk menghentikan taksi yang tengah lewat. Sementara waktu semakin merambat. Sementara orang-orang padat berkerumun di halte bus, berdesakan menghindari deras air yang mengguyur.

Orang-orang berlarian sambil melindungi rambut mereka dengan tas di kepala mencari tempat berteduh. Suara-suara knalpot motor, klasok mobil, teriakan kernet bus, membuat kepala saya pening. Untunglah saya bisa memperoleh tempat duduk di bangku besi yang dingin. Saat itulah mata saya terpana oleh seorang lelaki tua yang sedang menyeret-nyeret pantatnya.

Tangan kanan lelaki tua itu dijadikan tumpuan kekuatan. Ia begitu sabar menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit. Saya melihat ia meraba-raba trotoar. Bisa dibayangkan betapa pedih telapak tangan itu saat menyentuh pasir-pasir dan kerikil kecil. Bisa dibayangkan betapa nyeri paha, pantat, dan kaki yang diseret di tanah, atau di bekas-bekas retakan beton, atau di pinggir tonjolan batu-batu yang menempel pada aspal. Ia mulai meraba-raba lagi. Saya tidak bisa melihat dengan seksama apa yang ingin ia raba kini, sebab dirinya mulai tertutup timbunan manusia lain yang sibuk mencari tempat berteduh.

Sejenak lupa dengan ojek dan taksi, tiba-tiba timbul rasa iba di hati. Tapi entah bagaimana setan bekerja, rasa iba yang telah muncul dengan keras kemudian ditepis. Saya kembali tidak peduli. Secara refleks mata kemudian berpaling, dan tidak memperhatikan lelaki itu lagi.

Untuk menghibur diri, karena toh pada akhirnya memang harus pasrah menerima keadaan, maka saya mengeluarkan ponsel. Mengakses jaringan internet dan menulis status FB, “SEDANG BERTEDUH DI HALTE BUS”. Rasa kesal, dan juga sekaligus kegeraman pada keterlambatan yang mungkin tak akan termaafkan, telah memunculkan penyakit eksistensi yang berbau narsis. Entah gejala apa, sejak popularitas dunia maya diwakili oleh dinding facebook, hampir setiap orang selalu membayangkan dirinya penting untuk diketahui. Hampir setiap orang selalu membayangkan, bahwa setiap kejadian yang menimpa diri sendiri (bahkan hingga pada taraf yang sangat pribadi), juga penting diketahui oleh orang lain. Barangkali sejenis penyakit “ingin terkenal”, atau “ingin disanjung”, yang tak terlampiaskan dalam pergaulan sehari-hari, dan kemudian terwakili oleh dinding facebook yang sanggup mengabarkannya pada dunia yang lebih luas.

Pada kenyataannya, facebook memang bisa menjadi wakil dalam menumpahkan kejengkelan pribadi, terutama pada saat-saat semacam ini. Tentu, dengan harapan mendapat respon saat menulis status berita semacam ini (yang sesungguhnya tidak terlalu penting untuk orang lain), saya menunggu respon. Banyak yang memberi jempol, sedikit yang memberi tanggapan serius. Tak peduli apakah jempol itu doa berkah atau sebaliknya mensyukuri diri saya yang sedang kehujanan, saya tetap merasa bangga bak seorang seleb. Mata seolah tidak ingin lepas dari layar facebook. Saya pun mulai menghitung berapa jempol yang diberikan teman-teman, dan siapa saja yang menghadirkan jempolnya.

Beberapa saat saya merasa sekeliling saya semakin sesak. Tersadar berada di tempat umum dan tidak aman berponsel ria, akhirnya saya memasukkan kembali benda kecil itu ke dalam tas. Memperhatikan tumpahan hujan yang kian menderas, melihat kembali kiri-kanan siapa tahu ada keberuntungan datang sebuah taksi. Dan entah kenapa, tiba-tiba muncul kembali rasa penasaran pada lelaki tua tadi. Mata saya jelalatan mencari sosok tubuhnya.

Astaga! Ia masih terlunta-lunta untuk bisa berteduh. Rambutnya yang kriting awut-awutan terlihat basah kuyup. Celana panjangnya, bajunya, seluruhnya kuyup. Saat itulah saya bisa melihat lebih jelas, ternyata: kakinya kecil sebelah. Ia mengibas-ngibaskan kedua telapak tangannya untuk membersihkan pasir-pasir yang menempel. Ia meraba-raba tongkat kayunya. Sentuhan tangan itu seolah menyentuh batang hatiku. Ia duduk diam. Tongkat kayu kini di taruh di atas pahanya. Beberapa orang melempar uang logam padanya. Ia bergeming. Seorang wanita gemuk berbaju batik ketat seperti karung yang membungkus nangka, menarik dua bungkus kerupuk di kayu penyangka jualan. Wanita itu membayar pada lelaki tua. Saya terkejut saat lelaki itu memperlihatkan bola matanya yang putih keluar sebelah. Sebelah lagi terpejam. Tuhan! Di samping cacat kaki, dia juga buta.

Tak tahan menahan rasa iba, saya pun berdiri, menyibak kerumunan, dan memberikan selembar uang kertas di telapak tangannya. Di luar dugaan, ia membuat harga diri saya luruh terjatuh.

“Saya bukan peminta-minta,” katanya. Ia mengulurkan kembali uang kertas itu, dan meminta maaf. Ada kemarahan dalam suaranya yang bergetar, “Kalau mau membeli kerupuk saya, silahkan.”

Sekali lagi, belakangan ini saya sedang diserang penyakit mudah marah. Dan perlu diketahui, bahwa marah adalah penyakit menular tercepat di dunia. Dengan serta merta saya mengambil kembali uang kertas dari tangannya. Bisa dibayangkan betapa wajah saya memerah saat itu, lebih-lebih saat diketahui beberapa pasang mata memandang lurus tepat ke arah saya. Baru saja bibir saya terbuka ingin menyahut dengan rasa tersinggung, ibu berpakaian batik tadi mendekat.

“Dia setiap hari berjualan kerupuk di situ, Neng” bibirnya meruncing ke arah trotoar di samping kali besar yang airnya hitam, “Dia tidak mau menerima uang cuma-cuma.” Dalam hati saya ingin menyahut, “ah! dasar sombong!”

“Di jaman sekarang mana ada manusia seperti itu, Neng. Seribu satu,” si ibu berpakaian batik kembali berkata.

Tiba-tiba saya merasa malu sebagai manusia yang dibekali akal sehat dan tubuh tanpa cacat. Sebenarnya ingin saya membeli kerupuk dari lelaki tua itu, sebagai empati saya yang datang tiba-tiba. Tapi niat saya urungkan mengingat kesombongan diri saya sesaat lalu. Hujan mereda. Saya pun meninggalkan tempat itu begitu saja. Bergegas ke tepi jalan, diikuti tukang ojek yang terus bertanya: “Ayo naik lagi, Bu.”

“Saya mau cari taksi!”

***

Tiba di rumah, seusai rapat yang gagal, saya membersihkan tubuh. Menyantap makan malam, dan dihantui pikiran macam-macam. Wajah lelaki tua itu, ucapan ibu yang berpakaian batik, berkelebatan dalam ingatan saya. Lalu hal yang paling aneh, Si Mbok yang membantu saya di rumah, malam itu menyajikan kerupuk. Kerupuk yang sama seperti yang dijual oleh lelaki tua buta yang tidak sengaja kutemui beberapa saat lalu. Selera makan saya tiba-tiba sirna. Kerupuk itu berbayang di mata. Saya teringat bagaimana lelaki tua itu berusaha keras mencari tempat berteduh. Ia yang menyeret-nyeret pantat dan pahanya, tanpa peduli nyerinya kulit yang tergelupas demi perjuangan hidup. Ia yang saban hari tersiram debu, kadang kehujanan. Ia yang mungkin juga dimaki-maki orang, “dasar buta!” Astaga. Saya merasa, sayalah yang sesungguhnya buta. Sepanjang malam, saya dirundung gelisah.

Esok harinya, saya sengaja melewati jalan itu agar bisa bertemu dengan lelaki buta bersama kerupuk dagangannya. Saya ingin memborong seluruh kerupuknya, sebagai tanda sesal dan permintaan maaf. Tapi lelaki tua itu tak ada di sana. Lusanya pun begitu. Bahkan lusanya lagi dan lagi. Lelaki tua itu seperti lenyap ditelan bumi. Jejaknya tidak pernah saya temukan lagi. Ia seolah sirna bersama satu peluang yang telah Tuhan berikan kepada saya. Kesempatan ternyata tidak datang dua kali, bahkan untuk melakukan hal baik sekali pun. Barangkali Tuhan sengaja mengirimkan sebuah pelajaran paling berharga pada malam itu, dan pelajaran itu hanya datang pada satu malam saja. Dan saya dengan tega telah melewatkannya.

Setiap teringat itu, saya selalu merenung. Dan setiap kali saya membuka dinding facebook, serta menemukan jempol-jempol yang bermunculan di sana, saya selalu bertanya: untuk apakah sesungguhnya makna jempol-jempol itu. Bukankah sesungguhnya, lelaki tua buta itulah yang paling berhak mendapatkan jempol atas kualitas dirinya. Tapi bagaimanakah saya harus memberikan jempol itu padanya, sedangkan ia tak pernah lagi saya temukan.[hf]

Jakarta, September 2010.

*Hanna Fransisca (Zhu Yong Xia), lahir 30 Mei 1979, di Singkawang, Kalimantan Barat. Jatuh cinta dengan bacaan sastra dan aktif menulis di dunia maya. Tulisan-tulisan motivasinya bisa dijumpai di andaluarbiasa.com. Menulis puisi dan prosa. Puisi dan cerpennya dimuat di Kompas, Koran Tempo, Suara Merdeka, Malang Pos, dan sejumlah majalah sosial. Kumpulan puisinya terbit pada April 2010 dengan judul Konde Penyair Han (Penerbit KATAKITA). Cerpen-cerpennya diterbitkan dalam antologi Kolecer & Hari Raya Hantu (Juni 2010). Selain aktif di organisasi sosial dan profesi Lions Club Jakarta Kalbar Prima, ia adalah seorang pengusaha yang mengelola bisnis di bidang otomotif. Hingga kini, ia menetap di Jakarta.

 

Gadis Singkawang dan Matahari

Oleh: Hanna Fransisca*

 

 

 

Siang itu teramat terik. Cahaya matahari garang serasa membakar tenggorokan.

Untuk melepas dahaga, saya duduk di warung pinggir jalan sambil menghirup segelas air tebu dingin.

 

Dari jauh saya melihat seorang lelaki tua berpakaian serba orange berdiri di bawah pohon. Berkali-kali ia mengelap keringat di dahinya dengan ujung baju, sambil tetap berdiri, lalu sebentar kemudian meneruskan pekerjaaannya. Berkawan debu, menyapu geraian dedaun kering yang berserak di jalan, sampah-sampah plastik, kertas-kertas, dan botol minuman. Debu-debu tebal terus berterbangan. Debu yang tak bakal nyaman untuk lobang hidung siapa pun. Termasuk, tentu saja untuk lelaki itu.

Lelaki itu, yang tengah asyik menikmati pekerjaannya, tiba-tiba mengingatkan saya pada cerita seorang teman yang beberapa saat lalu berkunjung kembali ke Indonesia. Berikut kisah teman, yang bagi saya sangat sulit untuk dilupakan.

 

Kau tahu, aku tak pernah membayangkan bagaimana hidup sebagai seorang penyapu. Barangkali setiap orang kalau bisa, tidak akan sudi menjadi seorang penyapu jalanan. Sebuah pekerjaan yang kuanggap kotor dan rendahan.

Awalnya aku memilih menikah dengan lelaki Taiwan demi mengangkat martabat keluarga. Demi perbaikan ekonomi yang lebih baik, begitulah yang aku niatkan dengan sungguh-sungguh. Maka aku menjalani hidup sebagaimana mestinya. Tanggung jawab sebagai seorang istri aku laksanakan tanpa banyak mengeluh. Seperti umumnya perempuan Singkawang yang lahir dan dibesarkan di lingkungan keras, tak ada kata mengeluh dari setiap keputusan yang telah ditetapkan. Begitulah, maka kami berketetapan menikah, lalu pergi ke Taiwan dan berharap kebahagiaan.

Awalnya kami berkomunikasi dengan bahasa tubuh, sebab pada saat itu aku belum pandai berbahasa Mandarin. Apa pekerjaan suamiku, aku tak tahu pasti. Bukan karena dia tidak bercerita padaku, melainkan aku tak paham apa yang dia ceritakan saat itu. Setiap hari dia berpakaian rapi, setelan jas dengan dasi. Tak lupa sepatu yang mengilat. Pada keluargaku di Indonesia, aku ceritakan dengan pasti bahwa suamiku orang kantoran. Aku sangat bangga menceriterakannya.

Setelah beberapa bulan di Taiwan, aku mulai bisa berbahasa Mandarin sedikit demi sedikit. Sungguh aku berusaha keras untuk itu. Jika ada kesempatan luang, aku selalu gunakan untuk berjalan-jalan, melihat-lihat suasana di sekitar tempat tinggalku. Tentu tak berani jauh-jauh. Sampai kemudian aku mempunyai seorang sahabat, yang kebetulan juga berasal dari Indonesia dan menikah dengan orang Taiwan setahun sebelum aku menikah. Bersama sahabatku itulah, aku berani menjelajahi jalan-jalan di Taiwan sedikit lebih jauh.

Aku sangat kagum dengan pemandangan jalan kota yang bersih. Temanku selalu memuji, “Kita sering melupakan jasa seorang tukang sapu yang rela membiarkan tubuh mereka kotor demi kebersihan orang banyak.” Saat itu kebetulan ada seorang penyapu jalanan yang sedang asyik menyapu jalan. Wajahnya tertunduk. Ia tampak serius. Tapi aku merasa mengenal postur tubuh itu. Aku perhatikan baik-baik. Wajahnya sedikit mirip wajah suamiku. Aku pikir itu kebetulan saja. Tuhan pasti menciptakan wajah yang sama di dunia.

Beberapa hari terlewatkan begitu saja. Entah kenapa di suatu saat yang lain, aku ingin melewati jalan itu lagi, jalan di mana aku menyaksikan lelaki yang berwajah sama dengan suamiku, sedang menyapu jalanan. Dugaanku benar. Aku menemukan lelaki itu kembali. Aku mencoba mempelajarinya lekuk tubuhnya dari seberang jalan. Terasa tak asing. Lelaki itu mengelap keringat. Ia sesekali menengadahkan kepala menatap langit, menarik napas panjang, dan membuangnya kencang-kencang. Tampak sekali ia kelelahan. Risau lantaran tak begitu percaya terhadap apa yang dilihat, aku buru-buru meninggalkan lelaki itu, dan kembali ke rumah.

Menjelang malam suamiku muncul di depan rumah. Memamerkan senyum ceria seperti biasanya, dan menunjukkan padaku sebungkus bebek panggang yang amat kusuka. Aku sering terharu dengan kebaikan dan perhatiannya padaku. Kupikir aku mulai jatuh cinta padanya setelah beberapa bulan aku menikah dengannya begitu saja.

Memikirkan kejadian siang, aku tidak bisa tidur sepanjang malam. Sementara suamiku sudah mendengkur dengan keras, aku perhatikan kembali wajahnya baik-baik. Wajah yang sama dengan tukang sapu yang dua kali kutemui di jalan yang sama. Ah, tidak mungkin. Suamiku orang kantoran. Aku sulit mendamaikan hati dan pikiran.

Esok paginya, diam-diam aku membuntuti suamiku ke kantornya. Ia melangkah keluar rumah dengan tegap, lengkap dengan jas dan dasi, dan tentu saja sepatu yang mengilat. Hatiku bergemuruh, mengharap dalam doa semoga apa yang kulihat kemarin itu keliru. Suamiku menghentikan bus dan aku merelakan diri untuk menyewa taksi. Benar, suamiku memasuki sebuah gedung perkantoran. Agak plong hatiku saat itu. Aku turun dan duduk di kantin seberang kantor untuk menikmati kelegaan yang baru saja kudapat, sambil menghirup segelas air putih. Tapi tak lama kemudian aku terperanjat. Seorang lelaki berpakaian seragam lengkap dengan topi dan sepatu bot keluar dari kantor itu. Aku yang belum bisa mengeja tulisan huruf-huruf kanji yang tertera di muka kantor itu, hanya mampu melongo.

Tangan lelaki itu menggengam sapu. Astaga, dia suamiku! Sungguh-sungguh suamiku. Aku ingin menjerit saat itu. Sulit rasanya takdir itu kuterima. Tapi sebisa mungkin aku menahan diri. Sekuat tenaga aku menenangkan diri. Setelah lelaki itu menghilang, aku kembali ke rumah dengan ribuan pikiran kacau.

Aku terlanjur membanggakan jas, dasi, dan sepatu suamiku yang selalu mengilat. Aku terlanjur membanggakan diri dalam surat-suratku ke kampung halaman bahwa suamiku bekerja di sebuah kantor besar di jantung Kota Taiwan. Aku yang kini kebingungan bagaimana menceritakan pada orang tuaku bahwa putri yang mereka banggakan, yang konon menikah dengan orang asing kaya, ternyata hanya menikahi seorang tukang sapu jalanan. Aku juga kebingungan apakah aku harus mempertanyakan itu pada suamiku, atau diam saja menunggu sampai dia yang bercerita. Sungguh aku serba tak tahu di saat itu.

“Saat kau memutuskan menikah dengan seseorang, maka terimalah dengan lapang dada kebaikan dan keburukan pasangan hidupmu. Di dapur kau berdua boleh hanya memakan nasi dan garam putih, tapi di luar sana orang-orang tak perlu tahu,” itu pesan nenekku yang kuanggap kolot saat aku akan berangkat. Tapi pepatah itu kini kembali terngiang, dan memaksa untuk direnungkan. Mengingat hal itu, ada sedikit ketenangan yang menyelimuti kegalauanku. Seperti mendapat pencerahan, aku berniat tidak menyinggung perasaan suamiku yang baik. Aku putuskan tidak bertanya.

Aku juga tak mau orang tuaku yang jauh di sana mencemaskan hidupku. Maka, aku putuskan tidak akan bercerita masalah kantor lagi pada mereka. Sejak saat itu aku belajar, belajar tidak terlalu membanggakan sesuatu yang hanya tampak dari luar saja. Dan aku pahami dengan baik, jika suamiku bisa membiarkan tubuhnya ditempeli debu jalanan dan kotoran demi kenyamanan orang banyak, kenapa aku tak bisa menyapu bersih debu di hatiku. Toh, keduanya sama mulia.

 

***

Begitulah saya melewati siang itu dengan sebuah kenangan. Saya menghirup tetes terakhir air tebu di meja. Menatap bangga pada lelaki dengan seragam oranye yang tengah berjuang di tengah kepulan debu. Di tengah badai debu kotor yang tentu saja semua tahu, tak akan nyaman bagi hidung siapa pun termasuk lelaki itu. Ribuan jalan-jalan di kota ini selalu membutuhkan sapu. Ratusan ribu kendaraan yang melintas di atasnya, barangkali tak pernah sempat bertanya kenapa daun-daun, plastik-plastik, serta sampah-sampah makanan yang dibuang dari jendela mobil, selalu lenyap ketika hari berganti. Mengingat hal itu, rasanya saya perlu sesekali untuk menghampirinya, barangkali hanya untuk sekadar mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.[hf]

* Hanna Fransisca adalah ibu dari empat anak yang sehari-hari bekerja di Singkawang Motor, Jl. Sultan Agung Km 27, Pondok Ungu, Bekasi Barat dan Bintang Perkasa Jaya Motor Jl. Mauk/Mohammad Toha No 1, Bugel, Tangerang. Ia gemar membaca, menulis puisi, cerpen, dan esai kehidupan. Hanna dapat dihubungi di pos-el: h4n4_1979[at]yahoo[dot]com.

Numpang Adem

Oleh: Hanna Fransisca*

 

Suara langkah kaki itu sudah akrab di telinga saya. Langkah terseret dengan tekanan telapak yang berat menapak. Perempuan itu muncul di ruang kerja. Rambut pendek dengan ujung menguning pecah-pecah, selalu itu ciri pertama yang paling diingat. Seperti dugaan semula, dan tentu saja dari kebiasaan yang selalu diucapkan, dia akan menyapa saya dengan kalimat yang sama.

“Numpang adem ya, Non.”

Kalimat itu lebih menyerupai mantra bagi saya. Setelah itu dia akan menawarkan dagangannya. Bihun goreng, bakmi goreng, nasi uduk, permen kecil, beberapa macam penganan, dan air mineral. Sudah lama dia tak peduli huruf-huruf kapital berwarna merah yang terpampang besar di pintu masuk: YANG TIDAK BERKEPENTINGAN DILARANG MASUK. Barangkali perempuan itu pura-pura bodoh, atau dia memang buta huruf. Saya hanya mampu menerka-nerka. Mantra numpang adem itu selalu saja berhasil menjadi sihir, membuat hati kami yang berada di ruang kerja itu tunduk dan menaruh empati pada perempuan itu. Maka, kami selalu membiarkannya duduk sebebas-bebasnya. Menikmati sejuknya udara AC. Bahkan, kami membeli dagangannya. Benar-benar ia menikmati numpang adem, alias numpang udara dingin, sekaligus numpang rezeki.

Belakangan perempuan itu tidak hanya numpang adem untuk tubuhnya yang berkeringat. Dia juga numpang adem di tenggorokan. Di meja kerja kami memang selalu tersedia air mineral dalam kemasan gelas untuk para tamu. Beberapa toples permen kecil juga ikut menghias di sana. Perempuan itu awalnya meminta dengan wajah memelas.

“Haus. Di luar panas. Saya minta satu ya aquanya,” dia kerap menyebut air mineral itu aqua, meski mereknya bukan Aqua. Tanpa menunggu jawaban dia mengambil sedotan. Lantas menancapkan sedotan itu ke gelas plastik dan menyedotnya sampai dia merasa lega. Kebiasaan dia yang lain (yang kemudian juga bertambah), yakni sebelum pamit dia akan membuka toples dan mengambil segenggam permen. Setelah itu ia berlalu.

Tingkah perempuan itu, dengan kebiasaannya yang semakin bertambah, tentu saja tidak berarti membuat kami tenang-tenang saja. Dari mulai numpang adem, kemudian numpang haus, dan terakhir numpang permen, membuat beberapa di antara kami mulai serius memerhatikannya. Bahkan, ada yang mulai gerah dan mengatakan, “Siapa sih sebetulnya dia?”

Pada mulanya, seperti telah diceritakan di awal, kami semua memang menaruh simpati dan empati. Setiap gajian atau di saat kami memiliki rezeki lebih, tak jarang di samping membeli (bahkan memborong) jajanan kecil pada perempuan itu, kami kadang kala juga memberi harga lebih padanya. Sekadar tip untuk tempat kami bersyukur. Tapi akhir-akhir ini, beberapa di antara teman saya, ada yang mulai acuh setiap perempuan itu masuk ruangan. Ada yang mulai berkata sedikit keras, menyuruh kami untuk bertindak.

“Besok jangan kasih dia masuk. Orang ini mulai tidak tahu diri. Jangan diberi hati!”

“Iya. Setuju. Kita boleh saja kasihan sama dia. Tapi tak berarti dia boleh seenaknya. Bayangkan, setiap hari dia mengambil segelas minuman. Kemudian permen-permen. Sebulan jika dijumlah, jadi berapa? Dia sendiri menjual minuman. Kenapa harus mengambil di meja kita?”

Begitulah teman-teman saya mulai ribut dan gerah.

***

Esok harinya saya dengar lagi suara langkah kaki yang sama. Suara sandal jepit diseret dengan langkah kecil yang berat. Kali ini diiringi suara batuk. Seperti biasa, dia memulai lagi kalimat yang sama.

“Numpang adem ya, Non?”

Aneh. Tak seorang pun bergerak untuk mengusirnya. Mantra “numpang adem” itu memang hebat, pikir saya. Kami hanya saling memandang dan diam. Lalu, kami sama-sama menatap wajah kusut pucat yang tidak seperti sebelumnya. Dia mulai mengambil minuman. Kali ini tanpa permisi. Barangkali dia sudah merasa menjadi bagian dari kami, sehingga dia merasa punya hak untuk mengambil tanpa permisi. Lagi-lagi kami hanya diam dan saling memandang.

Dia tidak duduk lebih lama seperti hari-hari lalu. Lima menit kemudian, setelah segelas air usai dia teguk, dia mengambil beberapa gelas lain dan menaroh dalam boks asongannya. Dia mengambil juga segenggam permen, dan menaroh di tepi boks asongannya itu. Tangan kanannya kembali ingin menjamah toples, tapi sebuah bentakan keras (yang tentu saja suara bentakan itu juga mengagetkan kami semua), menghentikan tangannya tepat di bibir toples.

“Hei!! Kau pikir kami ini nenekmu yang harus mengasihanimu setiap hari! Sudah bagus kau kami biarkan masuk dan minum seenaknya. Sekarang kau malah menginjak kepala kami. Kau pikir kami yang ada di sini siapa, ha!? Jadi kau mau jual air mineral dan permen-permen yang kau ambil itu!? Enak sekali…,” suara salah seorang teman saya itu melengking seperti halilintar.

Saya lihat wajah perempuan itu pucat. Tapi sebentar kemudian ia dengan cepat bisa menguasai keadaan, dan berkata pelan, “Heran. Orang-orang berkecukupan macam kalian kok bisa sepelit ini.”

Akibat dari jawaban ini tentulah bukan perkara mudah. Teman saya serentak bangkit dari tempat duduknya, dan mencengkram tangan perempuan itu. Ia ingin menyeretnya ke luar. Melihat hal itu, entah kenapa hati saya mendadak tidak tega.

“Sudahlah,” saya coba menenangkan teman saya. Di luar dugaan, saya justru yang kena imbasnya.

“Kau juga punya andil besar dalam hal ini. Membiarkan dia begitu saja. Kita boleh mengasihani orang lain, tapi harus dengan cara yang mendidik. Bukan memanjakan atau malah menjerumuskan!”

Kali ini saya yang tersuruk. Dalam hati membenarkan perkataan teman saya itu.

“Asal tahu ya, Bu. Kita boleh miskin. Boleh susah. Tapi tak berarti harus melalukan tindakan tidak terpuji seperti yang Ibu lakukan. Ibu pikir sendiri sekarang, siapa yang rugi? Besok-besok kami semua tidak akan lagi sudi belanja sama Ibu. Ibu juga tak boleh lagi numpang adem di sini. Kalau Ibu tetap nekat saya akan telepon polisi dengan alasan Ibu menganggu ketertiban dan keamanan di sini,” bentak teman saya seolah belum puas juga. Saya lihat perempuan itu tertunduk dan menangis.

Berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan kemudian ia memang tak pernah lagi datang ke kantor kami. Tapi entah kenapa, bayangan tubuhnya yang ringkih, suara langkahnya yang berat seperti diseret, aroma keringat, serta sapaan “numpang adem” yang bagaikan sihir di telinga kami itu, selalu saja seperti beban yang tak pernah hilang dari ingatan. Diam-diam saya masih merindukan wajah itu muncul tiba-tiba di depan pintu. Karena bagaimanapun, ia telah memberi pelajaran paling berharga dalam hidup. Minimal menjadi cermin bagi saya untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan yang menyangkut masa depan.[hf]

* Hanna Fransisca adalah ibu dari empat anak yang sehari-hari bekerja di Singkawang Motor, Jl. Sultan Agung Km 27, Pondok Ungu, Bekasi Barat dan Bintang Perkasa Jaya Motor Jl. Mauk/Mohammad Toha No 1, Bugel, Tangerang. Ia gemar membaca, menulis puisi, cerpen, dan esai kehidupan. Hanna dapat dihubungi di pos-el: h4n4_1979[at]yahoo[dot]com.

Cahaya Rumah Emm

Oleh: Hanna Fransisca*

 

Emma, begitulah saya menyapanya. Dia yang setiap hari membantu saya menangani pekerjaan rumah sehari-hari: mengepel lantai, membereskan tempat tidur, menyediakan kopi, teh hangat, menanak nasi, mencuci dan menyetrika. Seisi rumah bersih dan rapi berkat tangan mungilnya yang ajaib. Konon, di usianya yang sangat belia (usia enam belas tahun), dia sudah meninggalkan keluarga di kampung. Merantau ke Jakarta, hingga akhirnya sekarang menjadi rekan kerja saya di rumah. Jasa Emma tentu tidak bisa dilupakan. Di luar dirinya yang pekerja keras, banyak hal menarik lainnya yang saya pikir layak diacungi jempol.

Emma sangat disiplin soal waktu. Bangun setiap jam lima pagi dan membereskan apa yang seharusnya dia kerjakan tanpa ditunda-tunda. Dia kerjakan semua pekerjaan dengan senyum ceria. Saya tak pernah mendengar dia mengeluh capek. Saya belum pernah menemukan wajahnya yang tengah cemberut hanya karena lelah bekerja. Sampai di sini, saya kerap merasa malu pada diri saya sendiri. Selama ini saya lebih banyak mengeluh dibanding bekerja. Saya tidak dispilin waktu dan suka menunda pekerjaan.

Pada malam hari, kadang kala Emma memiliki tambahan pekerjaan lain, yakni menunggu kepulangan saya jika saya memiliki kegiatan di luar. Sering kali dengan mata terkantuk-kantuk ia membukakan pintu. Menyambut saya dengan senyum sumirat (bercahaya), lalu bertanya, “Kakak mau minum teh atau kopi?”

Apa yang ditunjukkan Emma, adalah satu hal yang, terus terang, belum mampu saya lakukan. Berbaik hati dan tetap gembira saat diberi pekerjaan tambahan, adalah sebuah sikap yang sulit. Pada umumnya, reaksi awal pada tambahan pekerjaan adalah bayangan kesal. Tak jarang diam-diam mengutuk majikan, dan berkata dalam hati, “Mentang-mentang bos, seenaknya saja…!”

Tapi, Emma begitu santai menjalani hidup. Dengan gaji kecil (kecil menurut ukuran pendapatan saya), ia masih bisa menabung. Menabung separuh dari gajinya untuk dikirim ke kampung. Emma masih memiliki orang tua serta beberapa adik yang sekolah. Begitulah Emma, yang senantiasa bercerita tentang bagaimana ia harus mengirimkan uangnya sebagai tanda bahwa ia berbakti. Tentu, sikap Emma dengan gajinya acap kali sukses membuat saya terperangah sedih di meja kerja. Saya teringat pada orang tua saya yang lebih banyak saya lupakan dengan alasan sibuk bekerja. Saya belum mampu berbakti seperti yang dilakukan Emma. Jangankan mengirim uang rutin untuk orang tua, untuk keperluan sehari-hari saja rasanya tak pernah cukup. Tak jarang saya mengeluh tentang kenapa semakin hari hidup semakin sulit. Tentang kenapa uang belanja selalu tak pernah cukup.

Tapi belajar dari Emma adalah belajar tentang cara bersyukur yang sederhana. Ia selalu membelanjakan uang pada apa yang dibutuhkan, dan bukan pada apa yang diinginkan.

Emma suka bersenandung. Saya sering iri setiap mendengar Emma bernyanyi kecil saat menyetrika pakaian—seolah tiada persoalan hidup dalam dirinya. Saya sangat jarang bisa bernyanyi bahagia seperti Emma. Ketika lebaran tiba, Emma membuat keputusan tegas yang membuat saya kembali terperangah, “Lebaran ini saya tidak pulang, Kak. Tapi saya mau minta izin supaya boleh keluar jalan-jalan. Beberapa jam saja. Tiket pesawat mahal. Jalanan darat macet sana-sini. Ngapain menghabiskan uang dan tenaga? Lebih baik disimpan untuk Bapak dan Mak agar mereka bisa membeli sepetak sawah kecil di kampung. Saya pulang nanti saja kalau harga tiket sudah murah.”

Dia tahu mana hal yang harus didahulukan, mana yang tidak. Sungguh saya kembali merasa kecil di hadapan Emma.[hf]

* Hanna Fransisca adalah ibu dari empat anak yang sehari-hari bekerja di Singkawang Motor, Jl. Sultan Agung Km 27, Pondok Ungu, Bekasi Barat dan Bintang Perkasa Jaya Motor Jl. Mauk/Mohammad Toha No 1, Bugel, Tangerang. Ia gemar membaca, menulis puisi, cerpen, dan esai kehidupan. Hanna dapat dihubungi di pos-el: h4n4_1979[at]yahoo[dot]com, Hp: 0812-8833-1

Rating: 9.4/10 (5 votes cast)
Rating: +6 (from 6 votes)

Cermin Hidup

Oleh: Hanna Fransisca*

 

Ini hanya satu peristiwa kecil, ketika suatu siang saya melepas lelah di kantin sebuah Mal di Jakarta. Menghirup secangkir kopi hangat sambil menyaksikan kesibukan manusia-manusia yang berlalu lalang, melepas kepenatan dan kejenuhan berkeliling, serta membiarkan pikiran bebas berimajinasi. Itulah saat-saat yang begitu mengasyikkan bagi saya. Ketika itulah peristiwa kecil itu tiba-tiba terjadi.

Mata saya menangkap sesuatu dari jauh. Sosok manusia bertubuh putih dengan perut buncit. Dia berjalan dengan sangat pelan, mirip manusia batu yang kaku menyeret langkah. Bibirnya lebar memerah. Rambutnya dicat putih. Ia hanya mengenakan celana dalam dengan tubuh dipoles serba putih. Alamak! Tanpa bermaksud mengatakan ia seksi (sebab ia sama sekali tidak seksi), saya terus memerhatikannya. Badannya subur membesar. Tampak ia memang sengaja meniru gaya sumo.

Nah, yang paling spesial dari sumo tiruan ini adalah ia selalu tersenyum ramah dan menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada siapa saja, dan selalu berusaha membuat suasana lucu. Tak perduli apakah orang-orang yang disapanya kemudian berlalu begitu saja. Beberapa anak ABG tampak memanfaatkan keramahannya dengan mengolok-olok, kemudian berpotret ria dengan ponsel bersama dirinya, dan meninggalkan gelak tawa riang. Lagi-lagi, sosok itu selalu memamerkan senyum lucunya. Melayani segala tingkah laku apa pun—termasuk juga yang kurang ajar seperti memegang atau mengelus kepala misalnya—dengan sabar. Saya yang duduk menyaksikan dari jauh, tentu saja ikut tersenyum.

Sumo itu terus menjalar, seolah berjalan di atas batu yang memelintir telapak kakinya. Berjalan berkeliling, dan terus mengangguk, tersenyum kepada siapa saja. Tiba-tiba, serombongan bocah lelaki kecil berlarian mengejar dirinya. Seorang di antaranya dengan sengaja mendorong tubuh sumo itu, dan, uff! Saya terperanjat. Ah, syukurlah keseimbangan tubuhnya sangat baik hingga ia tidak terjerembab. Sumo itu tersenyum. Saya bernapas lega.

Hal yang kemudian tidak saya duga adalah, kerumunan bocah itu tampak tak puas dengan kegagalannya mendorong. Mereka tak sudi merespon lelucon yang kemudian diperankan sumo itu, untuk mencairkan suasana. Seseorang di antaranya (yang tubuhnya paling besar) kemudian menusukkan jemarinya di pantat sumo. Tentu saja saya terperanjat. Kaget oleh kenekatan anak-anak, yang bagi saya sudah mulai keterlaluan. Tidak hanya saya saja yang kaget, saya lihat sumo itu juga terperanjat. Nah lho, ini dia juga yang tak saya duga, ternyata tampang sumo yang terkejut sungguh sangat lucu. Hampir saja saya tertawa.

Adegan selanjutnya adalah sudah bisa ditebak, sang sumo tiruan kembali melancarkan jurus sabar. Ia mencoba kembali melucu dengan mengangkat tangan kanannya ke atas, dan bocah cilik itu, ya ampun, salah satu di antaranya menarik bulu ketiaknya. Astaga! Orang-orang yang lalu-lalang mulai tertarik dengan insiden aneh itu, dan mulai berkumpul. Mereka tertawa lalu memberi semangat pada bocah-bocah cilik untuk bertindak lebih nekat lagi. Si sumo menurunkan tangannya buru-buru. Saya menunggu peristiwa berikutnya. Saat itu, saya sudah mulai tak enak untuk tertawa.

Sang Sumo masih berusaha memamerkan gigi. Saya bernapas lega dan berpikir, sungguh luar biasa kesabaran sumo itu. Tak lama kemudian ketika Sumo itu menghindar, dan melintas di depan meja saya. Saya bersitatap mata dengannya. Ya Tuhan… mata itu begitu sendu. Menyimpan banyak kisah. Hati saya trenyuh dan tersentak seketika. Betapa berdosa saya yang sudah menertawakan penderitaannya. Dipermainkan anak-anak. Menyerahkan diri untuk ditertawa-tawakan. Penderitaannya justru menjadi hiburan bagi sebagian orang, dan tak luput juga saya.

Sumo itu telah menjauh dari pandangan saya, tetapi ia tidak benar-benar pergi sebab ia menari-nari di benak saya. Saya teringat senyumnya yang menurut saya sangat dipaksakan. Saya ingat bola matanya. Saya membayangkan bagaimana hatinya menahan amarah terhadap bocah-bocah itu. Saya membayangkan bagaimana harga dirinya saat melumuri tubuhnya dengan cat putih, dan melintas di antara orang banyak hanya dengan celana dalam saja. Saya membayangkan bagaimana ia berusaha membersihkan tubuhnya seusai berperan. Bercermin di depan kaca dan menertawakan dirinya.

Sungguh sebuah peran yang tak mudah bagi kebanyakan orang. Di atas luka, ia dipaksa tertawa demi membahagiakan orang lain. Demi mempertahankan hidup. Barangkali hanya dirinya yang tahu seberapa dalam ia menyimpan cerita di balik senyum ramahnya. Sungguh saya telah belajar banyak pada sumo itu.[hf]

* Hanna Fransisca adalah ibu dari empat anak yang sehari-hari bekerja di Singkawang Motor, Jl. Sultan Agung Km 27, Pondok Ungu, Bekasi Barat dan Bintang Perkasa Jaya Motor Jl. Mauk/Mohammad Toha No 1, Bugel, Tangerang. Ia gemar membaca, menulis puisi, cerpen, dan esai kehidupan. Hanna dapat dihubungi di pos-el: h4n4_1979[at]yahoo[dot]com, Hp: 0812-8833-1772, dan telepon: (021) 88963625, (021) 55798650.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s