Sehari di Palangkaraya

:: Mahmud Jauhari Ali

Bus yang kutumpangi akhirnya memasuki terminal Bundaran Burung Tingang Palangkaraya. Kulihat para tukang ojek berlarian menuju arah kami. Mereka seakan sedang beramai-ramai berusaha menangkap mangsa yang.besar

=====“Mau ke mana Mas?” tanya salah seorang dari para tukang ojek itu dengan sopan kepadaku.

=====“Saya mau ke Bukit Keminting, Bang.”, jawabku ramah kepadanya.

=====“Ayo saya antar Mas ke sana!” ajak tukang ojek lainnya yang berdiri persis di sampingku. Seperti itu pula ajakan beberapa tukang ojek yang lainnya kepadaku.

=====“Teman saya sudah janji akan menjemput saya di sini.”, kataku singkat kepada mereka.

Syukurlah temanku segera datang menjemputku. Jika tidak, para tukang ojek itu mungkin terus memburuku dengan berbagai rayuan agar aku memakai jasa mereka.

=====“Narai habar Le?” temanku langsung menanyakan kabarku dengan bahasa Dayak Ngajunya yang khas.

=====“Aku bahalap ih. Ikau narai habar kea?” jawabku untuk memberitahunya bahwa aku sedang baik-baik saja. Aku pun balik bertanya kepadanya tentang kabarnya dengan bahasa yang serupa, tetapi memakai dialek Dayak Ma’anyanku yang khas pula.

=====Saat itu kulihat wajahnya yang dibalut kulit kuning langsat sepertiku memancarkan kebahagian atas kedatanganku. Telah dua tahun kutinggalkan kota cantik Palangkaraya. Selama itu pulalah kami tak bertemu muka secara langsung. Kami biasanya berkomunikasi melalui ponsel dan juga facebook di internet. Sungguh pertemuan kali ini membuat kami sangat bahagia.

=====Kulihat bangunan-bangunan baru bermunculan di kota ini. Mulai dari bangunan tempat ibadah, pusat perbelanjaan, hingga warung-warung kecil di pinggir jalan. Kulihat kembali lapangan Mantingai yang tetap indah di mataku. Dulu kami sering bermain basket di lapangan yang luas itu. Di lapangan itu pula aku ajak dia menyaksikan Mutsabaqah Tilawatil Quran yang pernah diselenggarakan di Palangkaraya beberapa tahun silam. Dia beragama Kristen Protestan dan aku seorang mualaf yang dilahirkan dalam keluarga Katolik yang taat. Walaupun kami berbeda keyakinan dan prinsip hidup, kami tetaplah akrab satu sama lain. Persahabatan kami ibarat makna filosofis dari rumah khas suku Dayak yang kami junjung, yakni rumah betang. Rumah khas kami itu memiliki makna berbeda-beda, tetapi tetap satu jua.

***

=====“Kuman helu!”, ajak isterinya saat kami sedang asyik berbincang di serambi depan rumahnya.

Ajakan makan istrinya itu pun kami balas dengan tindakan nyata menuju ruang makan dan menyantap habis makanan di piring kami masing-masing. Daging ayam bakarnya sungguh lezat dengan nasi hangat yang pas di lidah kami. Makanan ini mengingatkanku kembali pada kenangan-kenanganku pada masa lalu di kota ini.

=====“Ka kueh hindai?” temanku tiba-tiba membangunkan diriku dari kenangan masa lalu dengan pertanyaannya kepadaku.

=====Kujawablah dengan satu jawaban singkat, yakni aku hendak ke tanah kubur calon istriku dulu. Aku memang berniat untuk berziarah di sana sejak dari rumahku kemarin di Tamiang Layang, Barito Timur. Ingin kukenang suaranya yang lembut saat berbicara denganku dan tanteku saat kami bertemu. Meskipun orang tua kami telah merestui hubungan kami, jarang sekali kami bertemu muka dan tak pernah pula kami berdua-duaan. Seandainya dia masih hidup, mungkin kini ia menemaniku sebagai istriku. Tapi sekali lagi tidak, kini ia telah tiada dan aku ingin menghirup aroma tanah kuburnya di kota ini.

=====“Jasadmu yang dulu berdiri tegak di hadapanku kini terbujur kaku di bawah sana. Dik, aku masih teringat dengan ucapanmu dulu tentang senyuman. Aku memang orang yang keras hati dan tak mudah tersenyum. Hari-hariku kuisi dengan keseriusan hingga wajahku tak menunjukkan keramahan di mata orang lain. Tapi kini, aku tak seperti dulu lagi. Hidupku telah kuisi dengan rasa persaudaraan dan keramahan.”, ucapku lirih di hadapan makamnya setelah aku berdoa di sana.

=====Aku tak pernah berbicara dengan bahasa daerahku atau bahasa orang Ngaju kepadanya. Ia adalah pendatang dari pulau Sumatera. Kami selalu berbahasa Indonesia dalam berkomunikasi yang singkat dan teramat singkat.

=====Hari pun berubah mendung dan tak lama kemudian menjadi bulir-bulir yang membasahi tubuhku dan tubuh temanku. Kutinggalkan tanah kubur yang tadi kupandangi dengan hati yang di dalamnya bercampur aduk berbagai perasaan.

***

=====Malamnya aku bercengkrama dengan teman-temanku yang telah lama tak kutemui. Kami terlibat percakapan yang seru dan mengasyikkan di bawah tenda warung dekat jembatan Kahayan yang megah. Sungguh malam ini merupakan malam bahagia bagiku. Ingin rasanya setiap malam kulalui dengan mereka di sini. Namun, besok aku harus segera kembali ke tanah kelahiranku. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di sana. Aku berharap ‘kan kutemui kembali malam seperti ini di malam-malam berikutnya.

=====Keesokan harinya aku dibonceng temanku dengan sepeda motornya. Walaupun sudah banyak perubahan di sana-sini, tetapi udara pagi pun masih terasa sama saat aku berangkat ke kantor dulu di kota ini. Suasananya juga masih sama. Oh, rasanya aku kembali ke masa lalu. Sedih rasanya hari ini harus kutinggalkan kota yang pernah lama kutinggali ini. Sehari semalam tak cukup sebenarnya mengobati kerinduanku pada semua yang pernah kukenal di sini.

Akhirnya, kupandangi wajah temanku dari balik kaca bus yang bergerak maju meninggalkannya dan kota yang cantik ini.

=====“Yakinlah teman, walau kita tak lagi bersama seperti dulu, aku akan selalu berusaha mengingatmu dan mengingat sejuta kenanganku di tanah kelahiranmu ini.”, ucapku dalam hati terdalamku.

***

 

Irama Terbang Tua

:: Mahmud Jauhari Ali

Di antara hiruk-pikuknya kota, dan semakin pekatnya polusi di atmosfer tempat kelahiranku, aku masih seperti dulu. Ya, seperti dulu, setia dengan kesenian lama yang kini dipandang orang sudah usang dan berkarat. Batang usiaku kini telah mencapai kepala enam dan sedihnya, tanpa pewaris atas seni yang kubawakan dari waktu ke waktu. Temanku hanyalah sepasang kayu kering dan kulit hewan yang setia kepadaku. Sesekali kutengok masa lalu yang pernah membawaku ke atas pentas kebahagiaan. Sesekali pula aku diminta untuk mementaskan sebuah kisah yang berisi pula wejangan bagi pendengar dengan iringan suara terbang tuaku. Pernah kudengar sayup-sayup orang berkata, kesenian yang kubawakan telah berlumut, mirip dengan namanya.

Siang itu kupandangi sebuah surat yang dilayangkan oleh instansi ternama untukku. Telah lama sekali aku tak menerima sepucuk surat seperti ini. Memang bukan surat cinta, namun isinya membawaku ke alam cinta pada kesenian tua yang mulai redup di telan angkasa kota. Rasa rinduku untuk duduk sambil menatap sekumpulan orang yang hadir dalam acaraku, kini sedikit terobati di kala kubaca isi surat yang dibungkus plastik terang dan licin.

”Yth. Bapak Saman…. Kami selaku Panitia Festival Budaya Daerah memohon Bapak untuk berkenan mementaskan kesenian lamut dalam rangka memeriahkan HUT ke-63 RI. Atas perhatian dan perkenan Bapak, kami sampaikan terima kasih.”, demikian sepenggal isi surat yang kubaca.

Hatiku yang telah lama mendamba untuk membuat orang-orang tersenyum bahagia, kini terasa tenang. Setenang genangan air hujan di jalan yang berlubang karena dilupakan sang empunya kekuasaan. Ternyata masih ada kesempatan untuk orang tua sepertiku mementaskan kesenian ini.

”Ya Allah, aku benar-benar bersyukur kepada-Mu atas kebahagiaan yang kudapatkan ini. Hatiku kini tentram karena-Mu. Perkenankanlah hamba-Mu ini untuk kembali memetaskan kesenian yang hampir dilupakan orang-orang di hari yang akan datang.”, ucapku lirih dalam doaku.

”Kek, ada yang datang mencari Kakek. Orangnya masih muda dan bertubuh kekar. Nama orang itu Alimuddin.”, cucuku yang hampir remaja tiba-tiba memberitakan hal yang tak kuduga itu, entah siapa.

”Suruh orang itu masuk.”, pintaku kepadanya.

***

Assalamu’ailaikum.”, sapa orang itu dengan manis dan lembut.

Wa’alaikumussalam.”, jawabku singkat kepadanya.

”Maaf Pak. Sebelumnya perkenalkan, nama saya Rifani. Saya seorang wartawan salah satu surat kabar harian di kota ini. Tujuan saya ke mari untuk mewawancarai Bapak berkenaan dengan lamut.”

”Syukurlah masih ada yang berminat untuk mengetahui seputar perkembangan kesenian yang hampir dilupakan orang ini.”, kataku, ”Bapak berharap nak Rifani dengan tulus meliput perkembangan lamut dari hati nurani untuk turut melestarikan kesenian yang hampir musnah ini.”, imbuhku.

Beberapa pertanyaannya dapat kujawab dengan lancar hingga satu pertanyaan darinya yang membuat lidahku kelu untuk berkata. Sebuah pertanyaan menyangkut pewaris kesenian yang dari dulu aku geluti ini, benar-benar membuat hatiku miris semiris-mirisnya. Betapa tidak, hingga kini belum ada generasi muda yang sudi berguru kepadaku untuk dapat mementaskan lamut di hadapan penonoton. Ah, sedihnya hati ini.

Pemuda itu terdiam menatapku yang tak dapat berkata-kata lagi. Diraihnya alat perekam yang dari tadi ia letakkan di meja tamuku.

”Sudahlah Pak. Saya mengerti apa yang ada dalam pikiran Bapak. Sebelumnya saya sudah mendengar tentang hal terakhir yang saya tanyakan tadi. Maaf pak, sekali lagi saya meminta maaf kepada Bapak atas pertanyaan yang membuat Bapak sedih.”, kata pemuda itu kepadaku dengan rasa simpati yang cukup tinggi buatku.

Tidak lama pemuda itu mohon diri meninggalkan rumahku dengan wajah yang seakan turut tenggelam menyaksikan raut wajah tuaku yang sedih. Aku tak dapat mencegahnya untuk itu. Kubiarkan ia melewati pintu dan pagar rumahku.

Satu hari telah lewat dan kurenungi kembali pertanyaan pemuda kemarin sore itu. Sendainya lidahku dapat berkata kala itu, akan kukatakan, ”Kini tinggal aku yang masih aktif dalam kesenian yang kudapat dari ayah kandungku sendiri. Tak ada satu pun pewaris yang meminta warisan lamut dariku.” Oh, sakitnya hati ini jika menyangkut generasi muda yang tiada peduli terhadap kelestarian lamut di tanah kelahiranku. Tapi, aku tidak dapat menyalahkan mereka, terutama bagi mereka yang memilih berkesenian lainnya, kesenian daerah dan modern. Toh, juga kesenian yang sama-sama harus dilestarikan. Hanya yang membuat hatiku jatuh berkeping-keping adalah, mengetahui ada generasi-generasi muda yang lebih memilih menelan obat terlarang dan meminum minuman keras daripada melestarikan kesenian di daerah mereka sendiri. Ya, tempat kelahiran mereka juga telah mereka nodai dengan perbuatan buruk mereka itu.

Aku mainkan kembali terbang tuaku untuk mengiringi suaraku yang hampir habis ditelan zaman. Kunikmati sendiri merdunya irama yang dihasilkan dari kulit kering dan kayu yang berongga besar di teras depan rumahku. Kadang anak-anak dan cucu-cucuku mau mendengarkan permainanku. Walau mereka tak ada yang mau meneruskannya, hatiku sangat bahagia jika mereka mau menonton pertunjukan tuaku itu.

***

”Sudah siap Pak?” tanya salah seorang panitia penyelenggara kepadaku.

”Bapak sudah siap, insya Allah Bapak akan segera tampil.”, jawabku singkat.

Segera kutabuh terbang tuaku dengan sebaik mungkin agar iramanya merdu di telinga para undangan. Semoga saja dengan penampilanku malam ini, banyak orang yang berminat kembal terhadap kesenian yang telah lama kehilangan banyak peminat ini. Setidak-tidaknya pemerintah daerah mau memperjuangkan lamut tetap lestari di tengah budaya modern yang semakin mengglobal. Tepuk tangan yang riuh mengiringi penampilanku.

”Bapak harap tahun depan akan ada lagi acara serupa.”, pesanku kepada pihak panitia penyelenggara peringatan HUT ke-63 RI, ”Insya Allah bapak akan datang jika ada permintaan tahun depan”, tambahku.

Mereka tersenyum dan seraya menganggukkan kepala. Aku benar-benar senang hari ini. Lama tak kutemui suasana hati yang mebahagiakan seperti ini.

***

Sore di bawah rintik hujan seorang datang kepadaku. Ya, wartawan itu. Pemuda tempo hari datang kembali. Kulihat wajahnya yang cerah menerangi redupnya sang surya yang sedang enggan bersinar. Segera kubukakan pintu perhatianku kepadanya.

”Ada yang tertinggal Nak hingga kau datang kembali?” tanyaku menggoda.

”Ya, ada yang tertinggal Pak.”, katanya serius.

”Apa? Silakan kauambil yang tertinggal itu.”

”Ilmu dan akan saya ambil dari jiwa Bapak yang ikhlas.”

Kupandangi wajahnya yang serius dan teramat serius buatku. Kulihat sebuah keinginan yang benar-benar dalam darinya.

”Bapak hanya memiliki ilmu berlamut yang dianggap orang sudah usang. Ini titipan dari-Nya. Jika kau menginginkannya, bapak akan menuliskannnya dengan ikhlas dalam dirimu.”

”Alhamdulillah.” ucapnya singkat namun penuh makna yang dalam.

Akupun mengucapkan puji dan syukur kepada-Nya atas anugerah yang sangat indah ini buatku, seorang pewaris.

Perlahan kuajarkan kepadanya yang kutahu. Tiada keinginan dariku menyembunyikan satu ilmu pun darinya. Bagiku murid bukanlah calon saingan dalam berkesenian lamut. Murid adalah teman dan pewaris yang selalu kunanti kedatangannya. Malang melintang di dunia kesenian di daerahku memang bukanlah hal yang membuat hidupku menjadi kaya uang dan harta. Tapi dengan kesenian, hari-hariku terisi dengan kekayaan hati dalam indahnya berbagi sebongkah cerita dan secuil pengetahuan. Kedatangan murid yang mau bergumul dengan seni yang kubawa dari waktu ke waktu ini sungguh nikmat yang luar biasa. Ya, Andi adalah nikmat dari-Nya untukku.

***

Kini pewarisku sudah mampu mementaskan lamut di hadapan penonton. Usiaku semakin senja dan mendekati malam dengan goresan dosa-dosaku di masa laluku.

”Pak, saya permisi pulang. Hari sudah mulai gelap.”, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara Andi yang sudah berdiri di sampingku.

”Ya, hati-hatilah Nak di jalan. Salam untuk orang tuamu di rumah.”

Tak lama setelah Andi pulang, suara telepon rumahku berdering nyaring. Segera kuangkat dan betapa girangnya hatiku mendengar berita akan diselenggaraknnya festival kesenian nasional. Aku menjadi wakil daerahku untuk mementaskan kesenian lamut secara nasional. Februari mendatang aku dijadwalkan tampil di Jakarta untuk menghibur dan berbagi secuil pengetahun kepada orang-orang di sana.

”Inikah buah dari kesabaranku selama ini ya Allah? Hamba-Mu ini benar-benar senang menerima nikmat-Mu ini. Tak kusesali sedikit pun jerih payahku melestarikan kesenian daerah dengan jalan yang terseok-seok selama ini. Hamba sungguh bersyukur kepada-Mu. Izinkan hamba untuk meneruskan kesenian ini hingga napas terakhir hamba di dunia ini.”, ucapku lirih dalam doaku selesai salat Magrib di musala samping rumahku.

***

 

Dakwahnya Menyentuh Hatiku

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

Seorang lelaki setengah baya berhidung mancung berjalan melintasiku. Kulit jari manisnya dihiasi cincin perak bamata hijau ranum. Bajunya rapi dan terlihat bersih. Lelaki itu berjalan mendekati seorang nenek tua yang hendak manyeberangi jalan raya. Aku terharu malihatnya. Pada masa sekarang masih ada orang yang baik hati mambantu orang lain dalam kesusahan. Lelaki itu kembali melintasiku lagi dan kali ini matanya menatapku sekali.

“Assalamu’alaikum”, lelaki setengah baya itu manyapaku.

“Wa’alaikumussalam”, jawabku dengan agak sedikit bingung.

Aku merasa pernah melihat lelaki itu, tetapi aku tidak ingat persisnya di mana. Ia tersenyum kepadaku kala melintasiku. Aku maneruskan perjalananku ke arah pasar. Aku membeli celana panjang dan baju kaos berwarna merah muda. Saat aku bajalan kembai ke rumahku, aku bertemu kembali dengan lelaki tadi. Saat itu kulihat lelaki itu masuk ke dalam masjid di dekat pasar. Ia terus masuk tanpa menoleh ke rah lain sehingga ia tidak melihatku. Langkahku terus kuayunkan ke arah rumah.

Lelah, penat, gerah, dan lapar sangat terasa sekali olehku setelah aku sampai di rumah. Aku masih teringat dengan lelaki setengah baya tadi. Aku penasaran, siapa gerangan lelaki itu karena aku yakin pernah melihat ia sebelumnya. Sore harinya aku diminta ibuku ke warung membeli telur ayam kampung. Jarak warungnya cukup jauh dari rumah tempat tinggalku. Kupilih lima belas butir telur ayam kampung yang baik pesanan ibuku.

“Berapa Pak harga lima belas butir telur ayam kampung ini?” tanyaku sambil menunjuk telur-telur yang sudah kupilih.

“Enam belas ribu rupiah Nak.”

Sengaja tidak kutanyakan harga per butirnya karena saat itu aku sedang malas manghitung harga sebutir telur dikali lima balas butir.

Aku terkejut, saat aku megetahui uang ibuku ternyata tertinggal di atas lamari hiasku. Setiap kali aku hendak bepergian, aku memang tidak pernah lupa berhias terlebih dahulu. Menurutku penampilan itu termasuk urusan yang penting dalam hidup. Sialnya, dompetku pun tidak kubawa. Pikirku, akan terasa lelah sekali jika aku harus kembali pulang ke rumah mangambil uang itu. Terlintas dalam pikiranku untuk berhutang telur kepada pemilik warung.

“Assalamu’alaikum!”

Aku terkejut mendengar suara salam dari arah balakangku. Suara itu sekaligus memecah pikiranku yang sedang bingung. Kulihat di balakangku. Bertambah terkejutlah aku. Pasalnya, lelaki setengah baya yang bertemu denganku tadi siang sudah ada di hadapanku saat ini.

“Wa’ailaikumussalam!” balasku sekenanya.

“Kamu sedang menunggu jemputan ya?” tanyanya dengan nada bercanda.

Aku heran dengan pertanyaan itu. Pertanyaannya mamberi kesan kalau ia mengetahui tentangku dan tentang pekerjaanku.

“Aku tidak sedang menunggu siapa-siapa.”

“Kamu sedang ada masalah saat ini?”

Lelaki itu rupanya senang bertanya, dalam pikiranku. Ia memang telihat seperti orang terpelajar dari penampilannya.

“Ya, aku sedang ada masalah. Uang ibuku dan dompetku tertinggal di rumah dan saat ini aku sedang bingung untuk membayar lima belas telur ayam kampung yang hendak kubeli.

“Barapa harganya?” ia kembali bertanya kepadaku dan kujawab seadanya.

“Pak, ini uangnya.” Lelaki itu berkata sambil menyerahkan uang kepada pemilik warung.

Aku heran mengapa orang ini senang sekali membatu orang lain. Pohon hidup dengan adanya akar, bergitu pula dengan manusia yang berbuat dengan adanya alasan. Saat kukatakan terima kasih dan bertanya kepadanya mengapa ia senang membantu orang lain, ia hanya mengatakan bahwa kita wajib menolong orang yang sedang mengalami kesusahan semampu kita. Kata-katanya pendek , tetapi penuh arti. Aku saat itu hanya mengangguk-anggukan kepalaku sebagai tanda bahwa aku mengerti dengan perkataannya.

“Kamu tenang saja, uang yang kupakai tadi adalah uang yang halal. Wassalamu’alaikum ”, katanya saat ia hendak pergi meninggalkanku.

Aku tidak berkata apa-apa lagi saat itu kepadanya selain ucapan salam. Kulangkahkan kakiku menuju rumah. Aku masih bertanya-tanya sendiri tentang lelaki itu. Dalam pikiranku, siapa gerangan lelaki itu. Ia mengingatkanku dengan ayaku yang telah lama meninggalkan aku dan ibuku untuk dapat hidup bersama dengan wanita lain. Aku sudah lupa wajah ayahku. Saat ayahku menceraikan ibuku, aku masih berusia lima tahun. Semua foto ayahku pun sudah dimusnahkan ibuku. Aku memakluminya karena wanita mana yang tidak sakit hati ditinggalkan lelaki yang sangat dicintainya. Kulupakan soal lelaki itu dan ayahku, pasalnya aku harus menyiapkan pakaianku untuk kupakai nanti malam.

***

Malam harinya aku kembali melangkahkan kedua kakiku di luar rumah. Banyak orang di jalanan. Ada yang bajalan sepertiku, bersepeda, berkendara, dan banyak juga yang bermobil. Kotaku selalu ramai walau hari sudah malam. Malam itu kupakai celana panjang dan baju kaos berwarna merah muda yang kubeli tadi siang. Aku sering berjalan di malam hari. Saat di tengah perjalanan, hujan lebat menyerangku secara bertubi-tubi. Aku langsung lari ke arah warung bakso yang ada di dekatku untuk berteduh. Malam itu udara sangat dingin. Aroma bakso tercium di hidungku. Perutku menjadi lapar karena menciumnya. Ingin sekali aku makan bakso saat itu, tetapi uangku yang masih bertengger di dompetku sisa sedikit setelah aku membeli celana panjang dan baju kaos yang sedang kupakai ini.

“Assalamu’ailaikum!”

Salam dan suara itu sudah akrab di talingaku. Aku tidak terkejut lagi, melainkan aku bingung mengapa lelaki itu terus mengikutiku.

“wa’alaikumussalam!” balasku.

“Ayo makan! Aku taraktir kamu malam ini makan bakso.”, katanya.

Kami makan bakso bersama malam itu. Aku duduk di sampingnya. Udara malam menjadi teman kami saat itu. Lelaki itu banyak bertanya tentangku, mulai dari namaku, tempat tinggalku, hingga pekerjaanku. Saat lelaki itu bertanya soal pekerjaanku, aku terpaksa mendustainya. Aku katakan kepadanya bahwa aku bekerja bersama ibuku berjualan kain di pasar. Aku berdusta karena aku tidak mau mengatakan pekerjaanku yang sebenarnya kepada lelaki itu. Bakso yang kami makan sudah habis. Hujan pun telah reda. Kini saatnya kami harus berpisah.

Aku merasa lelaki itu sengaja mengikuti aku. Aku juga merasa sebenarnya lelaki itu sebenarnya hendak manyadarkan aku dari parbuatan yang selama ini aku perbuat. Selesai dengan pekerjaanku, aku langsung pulang ke rumah. Terasa lelah sekali tubuhku saat aku kembali di rumah. Kurebahkan tubuhku di atas alas kasur kesayangaku yang empuk. Tak terasa, sudah empat jam aku tidur. Tidurku sangat nyenyak. Saat siang hari, aku sendirian di rumah. Ibuku setiap pagi sampai siang hari berjualan kue pisang di perempatan jalan. Perempuan seusiaku sebenarnya masih duduk di bangku sekolah. Akan tetapi, aku malah di rumah. Aku putus sekolah saat aku duduk di bangku kelas dua Sekolah Lanjutan Menengah Pertama. Tidak ada biaya lagi untukku melanjutkan sekolah. Siang hari pekerjaanku memasak di rumah untuk makan kami sekeluarga. Walau hanya aku dan ibuku, kami adalah keluarga yang bahagia. Biasanya kami makan bersama di samping rumah sambil menikmati hembusan angin yang sejuk dari sela-sela pepohonan milik kami.

***

Tidak terasa hari sudah gelap kembali. Aku pun harus mencari uang seperti biasanya. Malam itu malam yang kesekian kali aku bekerja.

“Rat ada orang.”, pak Udin mamberitahukanku.

“Di dalam ya Pak orangnya?” tanyaku kepada pak Udin.

“Ya, masuk saja di kamar 31.”, jawab beliau.

Kumasuki kamar 31. Malam itu terasa berbeda di batinku. Aku terkejut sekali setelah aku tahu orang yang ada di kamar 31 itu lelaki setengah baya yang sering menemuiku.

“Terkejut ya melihatku ada di sini?” tanya lelaki itu kepadaku.

“Ya, aku akui hatiku terkejut.”, jawabku lirih.

“Jangan salah sangka padaku! Aku ada di sini bermodal nekad. Aku sudah tidak tahan melihatmu yang masih sangat muda harus bekerja di tempat-tampat seperti ini.”

“Jadi sebenarnya Bapak sudah tahu tentangku?”

“Ya, benar sekali katamu. Aku sengaja mengikuti dan mencontohkan perbuatan yang baik di hadapanmu agar kamu sadar kalau sebenarnya berbuat baik itu lebih bermanfaat daripada berbuat sebaliknya.”

“Ya, yang Bapak katakan itu benar dan aku salah.”

“Maaf jika kamu beranggapan bahwa aku terlalu cerewet dalam hal ini! Aku ini hanya ingin menyerumu ke jalan kebaikan agar kamu dapat memperoleh kebahagiaan yang sesungguhnya.”

Air mataku langsung mengucur di atas kedua belah pipiku. Lelaki itu tersenyum melihatku. Dalam pikiranku, andai ia adalah ayahku akan kupeluk erat-erat tubuhnya.

“Masih bisakah tobatku diterima-Nya?”

“Mengapa tidak?”

“Senyumku kembali merekah di kedua bibirku.”

***

Setelah malam itu berlalu aku tidak lagi menginjakkan kakiku di tempat-tempat seperti itu. kujalani hidupku dengan normal bersama ibuku yang sangat aku sayangi. Kubuang jauh-jauh kenangan burukku dari kehidupanku. Kini, aku berjualan kue pisang menggantikan ibuku yang sudah mulai tua. Ibuku kuminta untuk istirahat di rumah. Aku meikmati pekerjaanku sekarang. Sewaktu-waktu aku masih teringat dengan lelaki setengah baya yang pernah mampir di kehidupanku itu. Entah siapa sebenarnya lelaki itu.

***

 

 

 

 

Saat Cemburu Membakar Jiwa

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

Pagi itu Hamid berdiam diri dengan mata tertutup. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Kedua kakinya kadang-kadang digerakkannya untuk menghindari keram. Tangan kanannya memegang tasbih, tetapi tidak ia fungsikan. Bibirnya kerap digerakkannya. Sementara ibunya sedang menyiapkan makanan di ruang makan untuk mengganjal perut mereka.

“Mid! Ayo kita makan bersama!” suara nyaring ibu kandungnya yang bernama Maryani dari ruang makan membuat Hamid tersentak kaget.

“Ya, tunggu sebentar Bu! Hamid akan segera ke sana.” balas Hamid dengan suara yang nyaring pula.

Tidak lama Hamid mendatangi ibunya di ruang makan.

“Duduklah! Apa keputusanmu tentang pembicaraan kita tadi malam?”

Hamid terdiam sejenak. Diminumnya sedikit air teh hangat buatan ibunya. Ia pun segera membuka mulutnya untuk bicara.

“Sebenarnya sejak awal saya berniat menuruti kata-kata ibu. Namun, saya berpikir apakah pernikahan ini tidak terlalu cepat. Bagaimana jika diundur satu tahun lagi atau beberapa bulan kemudian. Saya sendiri belum siap menjadi seorang suami. Kuliah saya juga belum selesai Bu.”

“Ibu ingin sekali segera menimang cucu darimu Nak. Kau tahu sendiri kini ibu hanya memiliki satu anak, yaitu kamu. Seandainya kedua kakakmu masih hidup, tentulah ibu tidak memintamu menikah tahun ini.”, ibunya terdiam sejenak untuk menghela nafas.

”Seandainya kecelakan itu tidak terjadi….”, ibunya tidak sanggup meneruskan kata-kata beliau dan air mata pun segera bergulir di kedua pipi tua beliau.

“Maafkan Hamid Bu! Sungguh, Hamid tidak bermaksud membuat ibu sedih pagi ini.Ya, ya Bu, Hamid akan menuruti kata-kata Ibu. Hamid mau menikah tahun ini.”

”Benarkah kata-katamu itu Nak? Ibu tidak sedang bermimpi ’kan?”, senyum pun segera merekah di bibir ibunya setelah mendengar perkataan Hamid.

***

Siangnya mereka mendatangi sebuah rumah di pinggir sungai yang terletak jauh dari tengah kota. Rumah itu adalah milik pak Musa. Sudah dua tahun silam pak Musa dan almarhum ayah kadung Hamid ingin menikahkan anak mereka. Pak Musa adalah teman akrab ayah kandung Hamid sejak kecil. Dahulu yang ingin mereka nikahkan adalah almarhum Sofyan dengan Latifah. Karena kedua kakak kandung Hamid telah meninggal dunia dan Latifah belum juga menikah, pak Musa dan ibu kandung Hamid ingin menikahkan Hamid dengan Latifah.

“Assalamu’alaikum!” sapa Hamid di depan pintu pak Musa.

Tidak ada jawaban dari siapa pun di dalam rumah itu. Sempat mereka mengira tidak ada orang di rumah pak Musa. Salam kedua pun dilontarkan Hamid. Kali ini ada jawaban dari pak Musa di dalam rumah.

“Wa’alaikumussalam!” sahut pak Musa yang saat itu sedang menenteng gitar buatan beliau.

“Apa kabar Pak?” tanya bu Maryani.

“Wah! Untunglah kalian datang. Kabarku sekeluarga baik. Ayo masuk!”

“Mana Latifah Kak?”

“Latifah sedang ada di rumah temannya. Mungkin sebentar lagi ia akan kembali. Tunggu sebentar ya! Aku ke belakang sebentar.”

Hamid jarang sekali bertemu dengan Latifah. Ia pernah dua kali bertemu dengan Latifah, tetapi Hamid sudah agak lupa dengan wajah calon istrinya itu.

”Syukurlah ada fotonya di dinding.” ucap Hamid dalam hati.

Dipandanginya foto Latifah di ruang tamu rumah pak Hamid dengan wajah yang bahagia.

“Ya Allah, inikah wajah jodohku dari-Mu. Aku terima segala keputusan-Mu. Seandainya ia memang jodoh untukku, jadikanlah ia penyejuk hatiku dan penyemangatku dalam beribadah kepada-Mu.” ucap Hamid lagi dalam hatinya.

“Mid, ayo diminum!” ajakan pak Hamid membuat Hamid kaget.

“Astaghfirullah! Ya Pak, terima kasih.” jawab Hamid sambil berjalan menuju tempat duduknya.

Sekitar setengah jam mereka berbincang-bincang di sana.

***

“Assalamu’alaikum!” sapa seorang gadis muda kepada mereka yang sedang asyik tertawa kecil.

“Wa’alaikumussalam!” jawab mereka.

Jantung Hamid berdetak dengan kencang. Latifah membuatnya salah tingkah. Maklum Hamid jarang bergaul dengan gadis-gadis selama ini di sekitarnya. Saat Latifah menatap wajahnya, Hamid segera menundukkan kepalnya karena malu. Keringat dingin pun keluar membasahi dahi dan lehernya.

“Fah, ini Hamid. Kamu masih ingat ‘kan?” kata bu Maryani.

“Ya Bu, Latifah masih ingat.”, jawab Latifah dengan malu-malu.

“Bagaimana Nak Hamid, anakku cantik ‘kan?”

Sambil tersenyum Hamid pun menganggukkan kepalanya. Tidak dapat ia luncurkan kata-kata dari mulutnya.

“Latifah, kamu setuju ‘kan dengan rencana pernikahan ini?” bu Maryani bertanya kepada calon menantunya untuk mencari kepastian.

Latifah hanya tersenyum sebagai tanda bahwa ia setuju.

Jadwal pernikahan pun segera mereka susun. Jika tidak ada aral melintang, dua minggu lagi Hamid dan Latifah menikah.

***

“Permisi! Permisi!” terdengar suara lantang dari luar rumah pak Musa sehari setelah Hamid dan ibunya datang di sana.

“Kamu lagi! Belum puas juga dengan penjelasan saya tempo hari? Sadarlah bahwa anakku tidak ada perasaan apa-apa padamu!”

“Bapak yang seharusnya sadar bahwa anak Bapak memiliki hak untuk memilih pasangannya sendiri! Bukannya dijodoh-jodohkan. Memangnya Bapak adalah Tuhan yang berhak menentukan jodoh seseorang? Berikan saya kesempatan untuk membuat anak Bapak memilih saya sebagai suaminya!”

“Hai anak muda! Dua minggu lagi anakku akan menikah dengan pria baik yang menyayangi anakku.”

“Baik, jika itu kemauan Bapak. Saya akan membuat Bapak menyesal selamanya. Permisi!”

Pemuda itu segera meninggalkan rumah pak Musa dengan raut wajah yang kusam.

Tiga hari yang lalu pemuda itu juga bertamu di rumah pak Musa. Namanya Karim. Ia pemuda yang jatuh hati kepada Latifah. Pekerjaannya sebagai pengelola tempat hiburan malam. Pak Musa sangat keberatan jika beliau memiliki menantu seorang yang bergelut di bidang hiburan yang tidak disukai oleh sebagian besar masyarakat. Awalnya Karim datang baik-baik untuk melamar Latifah. Namun setelah lamarannya ditolak, ia pun berani melontarkan kata-kata yang tidak pantas kepada pak Musa.

***

Hari pernikahan yang ditunggu akhirnya tiba juga. Hamid memakai pakaian adat pernikahan di daerahnya. Latifah juga memakai pakaian adat dengan ditambah kerudung. Wajah mereka terlihat sangat bahagia.

“Kamu cantik sekali Latifah. Hamid sudah menunggumu.”, kata pak Musa diiringi senyum beliau.

”Latifah gugup Pak. Jantung Latifah dari tadi berdetak dengan kencang.”

”Itu hal yang wajar. Kamu tidak usah mempermasalahkannya. Almarhumah ibumu dahulu juga gugup saat hendak Bapak nikahi.”

Latifah dan Hamid kini duduk bersanding. Akad nikah pun akan segera dilaksanakan.

Tiba-tiba terdengar suara Karim dengan lantang.

”Hentikan acara pernikahan ini! Sampai kapan pun saya tidak akan mau menyetujuinya!”

”Apa hubunganya pernikahan ini dengan persetujuanmu? Memangnya kamu siapa berani mengatakan hal seperti itu? Pergi dari sini sebelum aku memanggil polisi untuk menangkapmu!” kata pak Musa dengan sangat ketus.

”Dooor!” suara letusan pistol Karim membuat orang-orang berhamburan keluar dari rumah pak Musa.

”Hentikan pernikahan ini atau pistol ini akan melukai banyak orang di sini!” Karim kembali mengingatkan orang-orang di rumah pak Musa dengan nada marah.

”Karim! Kamu yang seharusnya menghentikan tindakan tercelamu ini! Sadarlah bahwa kita tidak cocok. Aku pun tidak pernah mencintaimu.” Latifah angkat bicara.

”Dengar itu baik-baik!” kata pak Musa.

”Diam! Diam! Jangan menceramahi saya lagi! Latifah ayo ikut aku!”

”Tidak ada yang boleh membawa Latifah selain diriku. Kamu sebaiknya jangan bertindak seperti kanak-kanak!” Hamid yang sejak tadi diam kini ikut bicara.

Tidak ada suara keluar dari mulut Karim setelah ia mendengar kata-kata Hamid. Mulut Karim terkunci oleh api cemburu yang sangat besar. Tangan kanannya dia arahkan ke tubuh Hamid. Seketika itu pula tubuh Hamid roboh bersimbah darah. Peluru Karim berhasil menembus tubuh Hamid.

”Tidak…!” teriak bu Maryani.

Rupanya Karim belum puas menembuskan satu peluru di tubuh saingannya itu. Latifah yang melihat Hamid ingin menembakkan pelurunya yang kedua kalinya ke tubuh calon suaminya itu langsung menjadikan dirinya perisai. Tidak pelak lagi, Latifah pun roboh.

”Apa yang sudah aku lakukan. Latifah, Latifah, maafkan aku!” ucap Karim dalam hati kecilnya.

Karim pun segera melarikan diri. Tidak ada satu pun warga yang berhasil menangkapnya. Ia berhasil lolos dengan pistol di tangannya. Polisi segera mengadakan pencarian. Setelah beberapa hari buron, akhirnya Karim berhasil dibekuk pihak aparat.

***

”Hai anak muda! Apa kesalahanmu sehingga saat ini kamu ada di sini?” tanya seorang napi tua di ruang tahanan Karim berada.

”Aku telah menembak dua orang.” jawab Karim singkat.

”Keduanya tewas?”

”Mereka tidak tewas, tetapi saat ini masih belum sadarkan diri.”

”Apa alasanmu menembak keduanya? Kamu masih muda dan tidak selayaknya kamu berada di sini. Kamu seharusnya membangun negara ini dan bukannya meringkuk di sini”

”Saya melakukannya karena rasa cemburu yang besar.”

”Ha ha ha ha…ha! Hai anak muda! Kamu jangan biarkan dirimu dikuasai hawa nafsu jelekmu! Cemburu seharusnya kamu buang jauh-jauh! Jika kamu mencintai seorang wanita tentulah kamu memiliki kepercayaan kepadanya. Untuk apa ada cemburu? Kecuali kamu tidak memiliki kepercayaan kepadanya dan itu berarti kamu belum mencintainya dengan sepenuh hati.”

Karim benar-benar tidak bisa membantah kata-kata orang tua di hadapannya. Karim baru sadar bahwa selama ini dia belum mencintai Latifah sepenuh hati. Dia sadar selama ini hanya ketertarikanlah yang melekat di hatinya kepada Latifah.

***

Empat hari sudah berlalu setelah insiden berdarah itu terjadi. Hamid dan Latifah masih dalam kondisi lemah. Mereka belum dapat berdiri. Darah mereka banyak keluar saat terjadi penembakan tempo hari lalu. Syukurlah ada beberapa kantong darah yang cocok dengan golongan darah mereka.

”Kak Hamid! Bagaimana jika kita melangsungkan nikah di rumah sakit saja?” tanya Latifah yang di rawat di samping Hamid.

”Tentu aku setuju dengan usulmu itu Latifah. Nanti insya Allah aku akan sampaikan rencana ini kepada keluarga kita.”

Pak Musa dan ibu Maryani datang menjeguk mereka untuk yang ke sekian kalinya. Kali ini mereka berdua bahagia karena mendengar Hamid menyampaikan rencana pernikahannya dengan Latifah di rumah sakit sesegera mungkin.

”Wah! Itu usul yang bagus sekali Mid, Fah.” seru pak Musa.

”Besok kami usahakan kalian menikah di sini.” sahut bu Maryani.

Mereka melangsungkan pernikahan sangat sederhana di rumah sakit. Mereka duduk berdua di majelis nikah jauh dari kesan mewah. Meskipun demikian, kebahagiaan terpancar dari wajah mereka. Kini mereka telah menjadi pasangan suami istri dan mulai menapaki bahtera rumah tangga.

 

 


 

 

Sepupuku Murjani

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

Aku terdiam sejenak mendengar perkataan Murjani,

“Rasyid, maafkan aku! Aku sadar bahwa aku salah kepadamu. Dahulu, saat aku masih muda dan kaya aku sangat sombong dan tega kepadamu sekeluarga. Kini, aku sudah tua dan miskin. Sebagian besar hartaku telah disita oleh pihak bank karena aku tidak sanggup membayar hutang-hutangku kepada mereka. Istriku dan anak-anakku telah pergi meninggalkanku sendiri.”

Aku masih ingat bagaimana perlakuannya dulu kepadaku sekeluarga. Saat aku masih menjadi anak buahnya di perusahaan warisan orang tuanya dulu, ia sangat tega tidak mengizinkanku pulang untuk sekadar menjenguk istriku yang sedang sakit muntaber.

“Ah! Isrtimu hanya sakit sedikit saja kamu sudah ingin pulang meninggalkan pekerjaanmu hari ini! Aku tahu saat ini kamu hanya menjadikan sakit istrimu sebagai alasan dari kemalasanmu bekerja. Aku tidak akan mengizinkanmu pulang, kecuali istrimu itu sekarat di rumah sakit. ”, katanya pedas waktu dulu kepadaku.

Begitu pula saat kami sekeluarga ingin meminjam uang kepadanya sekadar untuk membeli beras dan lauk-pauk ia berkata,

“Tempatku bukanlah bank yang dapat kalian datangi untuk meminjam uang. Dahulu aku pernah meminjami kalian uang, tetapi sampai detik ini kalian belum melunasi bunganya seratus persen kepadaku. Kini, kalian ingin meminjam uang lagi kepadaku. Tidak! Aku tidak akan memberikan kalian pinjaman uang. Sebaiknya kalian lekas tinggalkan tempatku ini sebelum aku mengusir kalian dengan paksa!”

Dua tahun berikutnya saat istriku melahirkan anak kedua kami, aku terpaksa tidak masuk kerja. Dia saat itu memberiku izin hanya dua hari. Karena keadaan istriku yang masih lemah dan membutuhkanku di sisinya, aku terpaksa tidak dapat masuk kerja sebagaimana mestinya selama dua hari di luar izin yang diberikannya kepadaku. Dia datang ke rumahku ditemani dua tukang pukulnya yang gagah dan berotot besar. Kukira ia ingin melihat anakku yang baru lahir, tetapi dugaanku salah besar. Ia berkata,

“Kamu sudah melanggar aturan di perusahaanku. Kuberi kamu izin dua hari tidak masuk kerja untuk menjaga istrimu, tetapi kamu malah membolos selama dua hari setalah izin menemani isrtrimu habis. Karena itulah, aku datang kemari memberitahukanmu bahwa mulai hari ini kamu tidak perlu lagi datang di perusahaanku.”

***

Kini, dia menatapku dengan pandangan sayu. Rambutnya telah memutih. Kulit mukanya sudah berkeriput. Tubuhnya pun kurus, tidak gemuk seperti dulu.

“Murjani, masih ingatkah kamu saat istriku sakit muntaber dulu? Aku meminta izin kepadamu untuk menemaninya di rumah, tetapi kamu tidak mengizinkanku pulang. Saat itu aku sangat sedih. Padahal sebagai seorang pemimpin termasuk pemimpin perusahaan seperti dirimu, seharusnya kamu peduli terhadap kesejahteraan anak buahmu. Akan tetapi, kamu malah berlaku sebaliknya.”, kataku kepadanya.

“Masih ingatkah kamu saat aku sekeluarga meminjam uang kepadamu sekadar untuk membeli beras dan lauk-pauk? Saat itu kami benar-benar tidak punya uang. Kami kelaparan saat itu. Namun, kamu dengan tega tidak memberikan uang pinjaman kepada kami. Padahal saat itu kami tidak meminta, tetapi hanya meminjam uang kepadamu. Ingatlah bahwa kita haruslah saling menolong di jalan kebaikan. Ingatlah pula bahwa di antara harta kita terdapat hak orang miskin. Aku masih ingat benar saat itu kamu mengatakan bahwa kami belum membayar bunga hutang seratus persen atas pinjaman kami sebelumnya kepadamu. Apa saat itu kamu lupa bahwa bunga dalam setiap hutang-piutang itu hukumnya haram dalam agama kita? Terlebih lagi kamu mematok bunga yang besar kepada orang miskin seperti kami dulu.”, kataku lagi kepadanya.

“Hal yang sampai hari ini masih membayang di dalam kepalaku adalah saat kamu datang di rumahku untuk memberiku kabar bahwa aku tidak perlu lagi datang ke perusahaanmu. Sungguh, kamu tega Murjani memutus hubungan kerja denganku. Padahal kamu tahu bahwa aku menggantungkan hidupku sekeluarga pada pekerjaan di perusahaanmu itu.”, lanjutku.

***

Kulihat matanya berair dan kemudian pipinya basah terkena air mata penyesalannya dan rasa bersalahnya itu.

“Maafkan aku Rasyid. Sungguh kini aku telah menyesal berbuat seperti itu kepadamu sekeluarga. Aku sadar bahwa aku dahulu sombong dan kejam terhadap orang-orang disekitarku, termasuk dirimu sekeluarga. Sekali agi aku meminta maaf darimu, maafkan aku Rasyid!” pintanya kepadaku.

Semula aku tidak ingin memaafkannya karena bagiku kesalahannya sangatlah besar kepadaku. Akan tetapi, tiba-tiba aku teringat bahwa Allah Maha Pengampun. Sungguh tidak pantas aku sebagai makhluk-Nya tidak berjiwa pemaaf. Kutatap wajah Murjani yang sebenarnya tidak lain adalah sepupuku sendiri itu dengan perasaan iba. Wajahnya penuh rasa penyesalan dan rasa bersalah kepadaku. Tidak ada lagi semangat yang terpancar dari wajahnya seperti dulu. Aku segera mengatakan,

“Sudahlah! Kamu tidak perlu meminta maaf lagi kepadaku! Aku sudah memaafkanmu atas segala kesalahamu waktu dulu itu. Kini, kita sama-sama sudah tua dan tidak sekuat dulu. Usahamu pun sudah gulung tikar. Aku turut perihatin atas nasib yang kamu alami sekarang. Akan tetapi, aku juga turut bahagia kamu sudah mendapatkan petunjuk dari Allah untuk segera bertobat dan menginsafi kesalahan-kesalahnmu pada masa lalu.”

Ia kemudian mendekatkan dirinya dan menjabat erat kedua tanganku, serta berkata,

“Alhamdulillah dan terima kasih banyak Rasyid. Aku sangat menghargai pemberian maafmu kepadaku hari ini. Kini hatiku lapang telah mendapatkan maaf darimu.”

Segera ia memelukku dengan erat. Dia menangis dan air matanya membasahi bahuku.

“Ya Allah, begitu besar kekuasaan-Mu telah menyadakan hamba-Mu dari kesombongan, kekejaman, dan perbuatan buruk lainnya yang telah Murjani lakukan pada masa lalu” kataku dalam hati.

***

 

 

Hadi dan Mursidah

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

=====Namaku adalah Misran Yahadi. Aku biasa dipanggil oleh orang-orang yang mengenalku dengan nama Hadi. Usiaku sudah lebih dua puluh enam tahun. Tiga bulan yang lalu aku menikahi seorang wanita bernama Mursidah. Dia seorang wanita yang baik hati. Aku menikahinya bukan hanya karena parasnya yang manis, tetapi juga ia seoarang wanita solehah yang membuat hatiku merasa tentram bersamanya. Pertama kali aku mengenalnya saat aku menghadiri pesta pernikahan temanku di kota lain yang cukup jauh dari kotaku. Saat itu dia mendapat tugas memberikan pelayanan kepada para tamu undangan yang hendak makan di pesta itu. Aku termasuk salah satu tamu yang mendapat pelayanannya.

=====“Hei jangan terlalu mamandangi wanita, nanti kamu jadi tidak bisa tidur!” kata temanku.

=====“Ah siapa yang memandangi wanita?” kilahku padanya.

=====“Dia memang manis, tetapi jika dipandangi terus bisa hilang nanti manisnya!” temanku itu kembali menggodaku.

=====“Terserah kamu sajalah, yang penting aku tertarik padanya.”, kataku pada temanku itu. “Aku berencana mangajaknya nikah.”, tambahku.

=====“Kamu serius dengan kata-katamu itu?” tanyanya.

=====“Tentu aku serius!” jawabku ketus.

=====Sejak pertemuan itu, aku mencoba mencari tahu siapa gadis idamanku tersebut hingga akhirnya kami menikah. Kami saling mencintai dan membutuhkan dalam hidup berumah tangga.

Setelah satu bulan menikah, kami berencana belajar hidup mandiri dengan tinggal berdua di rumah sewaan. Kami tidak ingin terus-menerus tinggal di rumah orang tua. Setelah kami mencari rumah sewaan keliling di kotaku, akhirnya kami menemukan satu rumah sewaan yang masih kosong. Pemilik rumah sewaan itu bernama Haji Marwan. Beliau menetapkan harga sewa rumah yang kami tinggali itu per bulannya 250 ribu rupiah.

=====“Tolong kalian anggap rumah ini sebagai rumah kalian sendiri ya!”, kata Haji Marwan saat menyerahkan kunci rumah yang akan kami tinggali itu.

=====“Insya Allah akan kami anggap seperti keinginan Bapak”, sahutku kepada pak Marwan.

Rumah yang kami diami itu sangat nyaman. Aku dan istriku sangat senang tinggal di rumah tersebut. Kami hidup dengan rukun di sana.

=====Kini aku tinggal bersama orang tuaku. Sudah dua hari aku tidak bersama istriku. Kesendirianku bukan karena kami bertengkar. Dua hari yang lalu tejadi kebakaran besar di area rumah sewaan kami. Saat peristiwa itu terjadi aku sedang berada di kantor. Aku tidak sempat menemani istriku di sana. Sungguh aku menyesal dengan diriku sendiri. Seharusnya aku tidak pergi ke kantor hari itu. Kasihan istriku sendirian menghadapi kobaran api di tempat itu. Setelah aku sampai di tempat kejadian, orang-orang termasuk istriku sudah mengungsi ke berbagai tempat yang aman. Aku datang terlambat karena telepon selularku tertinggal di rumah sewaan dan kutemukan teleponku sudah hangus terbakar bersama barang-barang kami lainnya. Istriku yang belum mengenal daerah di kotaku kemungkinan tidak dapat menuju rumah orang tuaku. Saat ini aku sangat bingung dengan keberadaan istriku.

***

=====Aku adalah istri kak Hadi. Saat ini aku sedang mengalami penurunan mental secara drastis. Aku belum pernah berada sedekat itu dengan kobaran api yang besar saat kejadian dua hari yang lalu. Barang-barang kami habis terbakar. Aku hanya dapat membawa diriku dan pakaian yang sedang kupakai. Saat kebakaran terjadi aku seperti kehilangan akal sehatku. Aku sangat panik dengan keadaan di sana. Saat itu aku sangat bingung harus berbuat apa. Untunglah tetangga-tetanggaku mengajakku mengungsi ke tempat yang aman. Aku yang saat itu sangat takut, hanya bisa menuruti kemamauan mereka hingga sampai di tempat ini. Kini aku tinggal di rumah bibi Rahimah. Beliau sangat baik kepadaku.

=====Bibi Rahimah merupakan adik bibi Salamah yang tinggal bersebelahan dengan rumah sewaan kami dulu. Aku saat ini sangat merindukan suamiku.

=====“Ya Allah, kapan cobaan ini berlalu dan aku dapat hidup bahagia seperti dahulu?” keluhku sebagai hamba yang lemah.

Aku kadang-kadang manangis sendiri di kamar. Dua hari ini aku lebih sering menyendiri karena aku ingin menenangkan diriku dulu. Besok aku berencana mancari suamiku.

=====“Sabar ya Dah!” bibi Rahimah membangunkanku dari lamunanku.

=====“Saat ini saya sedang sedih dan bingung sekali Bi.”, kataku kepada beliau.

=====“Sudahlah, kamu jangan terus larut dalam kesedihan!” pintanya kepadaku. “Bagaimana jika besok kita mencari suamimu?” tanya beliau.

=====“Sungguh Bi? Saya memang ingin mencari suami saya besok.”, kataku dengan bersemangat.

=====“Untuk apa aku membohongimu? Aku sungguh ingin menemanimu besok mencari suamimu.” beliau meyakinkanku.

Hatiku sedikit lega dan pikiranku mulai jernih kembali. Bibi Rahimah berhasil mengembalikan jiwaku yang sebelumnya sangat lemah untuk meneruskan perjalanan hidup ini. Aku jadi tidak sabar untuk menunggu datangnya hari esok.

***

=====Pukul delapan pagi bibi Rahimah dan bibi Salamah menemani Mursidah mencari suaminya.

=====“Dah, kamu masih ingat ‘kan dengan alamat rumah mertuamu?” tanya bibi Salamah kepada Mursidah.

=====“Alamatnya di jalan Hiu Tutul nomor sembilan.”, jawab Mursidah.

=====“Rumah mertuamu itu berjarak sebelas kilometer dari sini.”, kata bibi Rahimah.

=====“Kita naik apa Bi ke sana?” tanya Mursidah kepada bibi Rahimah.

=====“Naik mobil pak Muhibul saja”

Ketiganya berangkat dengan menaiki mobil milik pak Muhibul. Mursidah sangat bahagia karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan suaminya yang sangat dicintainya.

=====Sementara itu, Hadi masih mengadakan pencarian. Bahkan Hadi sudah memasang iklan keluarga di surat kabar harian berisi pencarian orang hilang, yakni istrinya. Hadi sangat terpukul dengan kejadian itu. Karena kejadian itu, ia harus kehilangan istri tercintanya. Sejak dua hari yang lalu Hadi jarang makan dan sering tidur larut malam. Keadaan jiwanya sungguh sangat gelisah.

=====“Hadi, janganlah kamu mondar-mandir seperti itu!” perintah ayahnya. “Duduklah di sini dan kita susun rencana kembali untuk mencari istrimu itu! tambah ayahnya lagi.

=====“Saya sungguh tidak tenang Yah. Sudah ke sana ke mari saya mencarinya, tetapi tidak ada hasilnya.”, kata Hadi.

=====“Sabarlah dulu Nak! Allah sedang mengujimu saat ini.”, ibunya ikut menenangkan Hadi.

Hadi saat itu memang sangat bingung dengan keberadaan istrinya. Hari itu ia putuskan untuk menyebarkan kembali foto istrinya kepada orang-orang untuk dapat menemukan belahan jiwanya itu.

Di tengah perjalanan mobil pak Muhibul yang ditumpangi Mursidah mengalami kerusakan mesin sehingga mereka tertahan di sana beberapa jam lamanya. Baru setelah pukul sebelas siang mereka meneruskan perjalanan kembali. Hati Mursidah kembali berbunga-bunga setelah sempat gelisah karena mesin mobil yang ditumpanginya rusak.

=====“Kita hampir sampai di Jalan Hiu Tutul Dah.”, bibi Rahimah memberitahukan Mursidah.

=====“Iya Bi, aku sudah kenal jalan ini.” sahut Mursidah.

=====“Belok kanan ya Pak!” pinta Mursidah kepada pak Muhibul.

=====“Rumah mertuamu ternyata bagus Dah.”, kata bibi Salamah.

Hati Mursidah sangat bahagia karena ia sudah berada di depan rumah mertuanya. Ia berharap dapat segera bertemu dengan belahan jiwanya. Rumah mertuanya terlihat sepi. Maklum Hadi dan sebagian orang rumah pergi mencari Mursidah. Di rumah saat itu hanya ada ibu mertuanya dan adik Hadi yang sedang memasak di dapur sambil menunggu kabar Mursidah.

=====Mursidah segera mengetuk pintu depan rumah mertuanya. Adik iparnya segera membukakan pintu dan menyambut Mursidah dengan suka cita. Ibu mertuanya dari dalam segera memeluk Mursidah dengan bahagia. Tidak lama kemudian peristiwa yang sangat mengaharukan terjadi. Hadi dan Mursidah saling menatap mata dan keduanya sangat bahagia. Hadi yang sempat berpikir tidak akan bertemu lagi dengan istrinya, kini ia benar-benar menyaksikan kekuasaan Allah yakni dipertemukan-Nya ia kembali dengan istri tercintanya. Saat itu semua yang ada di sana diliputi rasa bahagia dan haru. Senyum-senyum kegembiraan terlihat di bibir mereka.

***

Sajadah
Cerpen Mahmud Jauhari Ali
=====Tanganku masih terasa penat akibat mencuci sejumlah pakaian dan beberapa peralatan salatku dan orang tuaku. Setelah kucuci di sungai, aku pun menjemur cucian yang sudah bersih di belakang rumah kami. Untunglah hari ini cuacanya cerah.
=====“Lin, mana sajadahmu?” pertanyaan kak Rudi membuat jatungku tersentak kaget.
=====“Sajadahku tidak ada?” Kakak jangan bercanda!”
=====“Kalau kamu tidak percaya, lihat saja sendiri di jemuran!”
=====“Astaghfirullah! Kak Rudi benar. Karena tergesa-gesa, aku lupa kalau sajadahku tidak ikut kucuci.”, ucapku dalam hati.
=====“Mungkin sajadahmu larut di sungai.”, kata ibu dari dalam rumah yang melihatku di jendela rumah kami.
Segera kuberlari ke arah sungai tempatku mencuci tadi pagi. Kudapati tiga orang lelaki yang sedang memancing di sana.
=====“Cari apa Dik?” tanya salah seorang dari mereka kepadaku.
=====“Saya sedang cari sajadah saya yang kemungkinan terjatuh di sungai saat saya mencuci di sini.”
=====“Wah! Mungkin sudah jauh terseret arus sungai Dik sajadahmu itu”, kata pemancing lainnya kepadaku.
=====“Ikhlaskan saja Nak sajadahmu itu!” pemancaing lainnya yang terlihat lebih tua daripada yang lain ikut mengeluarkan pendapatnya kepadaku.
Ketelusuri sungai itu hingga aku menyerah dan mengikhlaskan hilangnya sajadahku. Dalam hati aku berucap, “Siapa pun yang menemukan sajadahku, kurelakan ia memilikinya.”
***
=====Hari ini aku terpaksa salat dengan alas kain putih lusuh yang terbentang di lantai dalam musala tempat aku biasa salat. Besok aku berencana membeli sajadah baru di pasar.
=====“Kak Rudi, boleh ‘kan Lina besok meminjam sepeda motor kakak ke pasar untuk beli sajadah?” tanyaku dengan nada sedikit memelas.
=====“Boleh, tetapi siang saja karena besok pagi kak Rudi akan mengantarkan baju-baju ini ke desa sebelah.”, ucap kak Rudi sambil menunjuk ke tumpukan baju kaos yang sudah disusunnya rapi.
=====“Terima kasih banyak Kak”, ucapku dengan hati yang bahagia.
Aku pun mulai merebahkan diriku yang lelah di atas kasurku dan berharap semoga besok hariku lebih baik daripada hari ini.
***
Cuaca siang ini secerah kemarin. Aku melaju cukup kencang dengan sepeda motor kak Rudi menuju pasar. Jarak pasar yang kutuju dengan rumah kami cukup jauh.
=====“Boleh Dik sajadahnya!” seorang penjual manawarkan sajadah dengan bermacam corak kepadaku.
=====“Berapa harga sajadah yang ini Bu?”, tanyaku.
=====“Kalau yang itu harganya lima puluh ribu.”
=====“Dua puluh lima ribu saja ya Bu!”
=====“Harga pasnya tiga puluh ribu Dik”
Aku pun setuju dengan harganya. Sudah pukul setengah tiga sore, aku pun langsung pulang. Kali ini aku tidak melaju seperti saat aku berangkat tadi karena harinya sudah tidak terlalu panas lagi.
***
=====Dalam perjalanan pulang aku melihat ada sajadahku di jemuran orang lain. Aku berhenti dan menghampiri si pemilik rumah.
=====“Assalamu’alaikum!” sapaku nyaring kepada si pemilik rumah.
=====“Wa’alaikumussalam!” sahut seorang perempuan tua dari dalam rumah
=====“Ada apa Nak? Kamu ingin beli minyak tanah milikku ya?”
Hatiku takjub melihat ada perempuan tua masih berusaha mencari nafkah tanpa meminta-minta. Tadi di pasar aku melihat seorang perempuan muda yang masih kuat, tetapi kerjanya hanya meminta-minta.
=====“Maaf Nek! Saya hanya ingin menanyakan apakah sajadah di jemuran itu milik Nenek?” tanyaku untuk membuka pembicaraan kami.
=====“Bukan, sajadah itu kutemukan di bebatuan sungai tempaku mengambil air wudu. Aku berencana akan meminta orang-orang masjid di dekat pasar untuk memberitahukan bahwa telah ditemukan sebuah sajadah tanpa pemilik. Aku tidak ingin mengambil sesuatu yang bukan hakku.”
=====“Nek, sajadah itu semula milik saya. Tanpa sengaja saya telah menjatuhkannya di sungai dan terbawa arus hingga tersangkut di bebatuan tempat Nenek mengambil air wudu. Di bagian belakannya tertulis dua huruf Arab, yakni lam dan mim. Lam merupakan singkatan dari Lina dan mim singkatan Maisyarah. Namaku Lina Maisyarah Nek. Ini Kartu Tanda Penduduk saya, tertera nama dan foto saya di sini.”
=====“Kamu berkata jujur Nak. Ambillah sajadahmu kembali dan tunaikanlah salat tepat pada waktunya di atas sajadah itu!”
=====“Saya sudah mengikhlaskan sajadah itu kepada siapa pun yang menemukaannya. Jadi, sajadah itu sekarang milik Nenek.”
=====Kulihat wajah nenek itu menjadi ceria setelah mendengar kata-kataku. Baru kali ini aku membuat orang lain bahagia dengan memberikan barang yang aku sayangi. Sebelumnya aku hanya memberikan barang-barang yang tidak bernilai bagiku kepada orang lain.
***

Menanti Tamu Lebaran

Cerpen Mahmud Jauhari Ali


“Coba kamu lihat kakekmu dari tadi duduk di ruang tamu! Ajaklah kakekmu Sayang makan kue bersama kita di sini!” perintah bu Hari kepada Erni dengan lembut.

“Baik Nek.”, Erni pun mengiyakan perintah neneknya itu.

Didekatinya seorang lelaki tua yang sedang memandangi pintu pagar rumah mereka.

“Kek! Ayo kita makan kue bersama dengan nenek!” pinta Erni kepada Kakek dengan ramah.

“Ayo! Siapa takut?” tantang kakeknya dengan bercanda dan mereka pun menuju ke arah bu Hari yang sedang makan kue buatan beliau sendiri.

“Sini Kek kita makan kue bersama!” kata bu Hari kepada suami tercintanya itu.

Kakek Erni itu pun makan bersama istri dan cucu beliau. Mereka terlihat sangat akrab di hari kemenangan yang suci tahun ini. Sesekali bu Hari membuat Erni tertawa karena cerita beliau yang lucu. Kakek Erni pun ikut tertawa kecil melihat cucu beliau yang bahagia mendengarkan cerita dari bibir istri beliau yang berparas cantik itu.

***

Kakek Erni biasa disapa dengan pak Bakran oleh masyarakat di sekitar rumah mereka. Nama lengkap beliau cukup panjang, yakni Muhammad Bakran Husaini Shaleh. Beliau dahulu menjabat sebagai camat dan kini beliau sudah pensiun. Sejak pulang dari masjid melaksanakan salat Idul Fitri dan bermaaf-maafan dengan jamaah lainnya di sana, beliau duduk sendiri di ruang tamu rumah beliau.

“Ada apa dengan lebaran tahun ini? Lebaran yang sedang kuhadapi kali ini sungguh membuat hatiku sedih. Mereka belum juga ada yang menyambangi rumahku ini. Sudah terasa panas pantatku menunggu mereka.”, pak Bakran berkata dalam hati beliau dengan raut muka yang sedih.

Dahulu saat beliau masih menjabat sebagai camat, banyak bawahan beliau yang bertamu dan dan meminta maaf di ruang tamu rumah beliau. Seakan hanya bawahan beliau yang mempunyai kesalahan kepada beliau. Entah apa niat mereka itu sebenarnya juga tidak pernah dipikirkan oleh pak Bakran. Pemandangan ini sering terjadi di negara kita. Tidak sedikit bawahan dari pejabat di sebuah instansi yang mendatangi pejabat mereka saat hari lebaran. Namun, jarang sekali atau hampir tidak ada pejabat yang menyambangi rumah bawahannya saat hari kemenangan yang fitri itu tiba.

Beberapa tahun sebelumnya memang secara berturut-turut lebih kurang setengah jam setelah salat Idul Fitri sudah ada bawahan beliau yang datang di rumah beliau. Mereka biasaya datang dengan membawa bingkisan dengan beragam isi. Pak Bakran selalu menerima bingkisan mereka tanpa berprasangka buruk terhadap hal itu. Akan tetapi, hari ini berbeda daripada tahun-tahun sebelumnya. Sudah dua jam beliau menanti kedatangan mantan bawahan-bawahan beliau, tetapi belum ada juga mereka datang menyambangi rumah beliau.

“Pak Udin, pak Dayat, bu Mira, ada di mana kalian saat ini? Aku mengharapkan kehadiran kalian di sini. Apa kalian sudah melupakanku? Aku memang sudah pensiun dan bukan siapa-siapa lagi bagi kalian…. Astagfirullah! Ya Allah ampuni aku yang sudah berprasangka buruk kepada meraka!” ucap pak Bakran dalam hati beliau yang sedang sedih dan kecewa.

“Kek, mengapa melamun?” tanya istri beliau. “Pada hari kemenangan yang bahagia ini sebaiknya kakek jangan melamun!” tambah istri beliau.

Belum lagi pak Bakran bicara, Erni bertanya,

“Kakek tadi melamunkan apa?”

“Ah kakek tidak melamun. Tadi kakek hanya berpikir, mengapa lebaran kali ini belum ada satu pun mantan anak buah kakek datang bertamu di rumah kita….”, jawab pak Bakran kepada istri dan cucu beliau.

“Mungkin mereka sedang sakit perut Kek.”, kata Erni sambil tertawa kecil.

“Kata Erni ada benarnya Kek. Mungkin di antara mereka ada yang sedang sakit. Sebagiannya lagi mungkin ada kesibukan lain.”, bu Hari mencoba menenangkan hati suaminya agar suami tercintanya terhindar dari prasangka buruk.

Pak Bakran sedikit tenang dan beliau pun melanjutkan makan kue bersama istri dan cucu beliau di ruang santai sambil menonton acara televisi.

***

Setelah waktu salat Juhur berlalu satu jam, pak Bakran kedatangan tamu dari tempat yang jauh. Pak Zaki sekeluarga sengaja datang dari tempat yang jauhnya 30 kilometer hanya untuk bermaaf-maafan dengan pak Bakran. Keduanya adalah kakak beradik. Pak Bakran merupakan kakak kandung pak Zaki.

“Assalamu’alaikum!” sapa pak Zaki saat berada di depan pintu rumah pak Bakran.

“Wa’alaikumussalam!” sahut pak Bakran dari dalam rumah. “Ayo semuanya masuk ke sini!” pinta pak Bakran.

“Sudah berapa tamu yang telah datang di rumah ini Kak?” tanya pak Zaki kepada kakak kandungnya.

“Kamu mungkin terkejut jika kuberi tahu jumlah tamu yang sudah datang di sini hari ini.” Kata pak Bakran. “Jumlah tamu lebaran hari ini jauh berbeda dengan jumlah tamu saat hari lebaran tahun-tahun sebelumnya”, tambah pak bakran.

“Tambah banyak ya Kek jumlah tamunya?” tanya cucu pak Zaki yang bernama Rumi.

Pak Bakran menghela nafas sejenak mendengar pertanyaan cucu saudaranya itu.

“Tidak bertambah banyak Sayang, tetapi baru kalian yang datang.”, ucap Pak Bakran dengan nada sedih.

“Sudah kuduga seperti itu. Dugaanku berdasarkan fakta yang sudah terjadi. Sudah menjadi kenyataan pejabat didatangi dan diberi bingkisan oleh para bawahannya saat ia masih memiliki jabatan itu. Akan tetapi, sebaliknya, ia tidak akan dikunjungi apalagi diberi bingkisan oleh seluruh mantan bawahannya saat ia sudah pensiun atau turun jabatan. Kalau pun ada, hanya satu atau dua orang yang masih mau melakukannya secara ikhlas. ”, pak Zaki mengungkapkan unek-uneknya kepada Pak Bakran.

“Sabar ya Kek!” kata bu Hari menenangkan hati suami beliau.

Pak Bakran pun bertambah kecewa dan sedih karena kata-kata adik beliau memang ada benarnya dan baru saja beliau alami keadaan seperti itu. Prasangka buruk beliau pun semakin menjadi kuat terhadap para mantan bawahan beliau.

***

“Inikah balasan dari orang-orang yang dulu pernah mendapatkan kebaikan dariku kepadaku ya Allah? Dahulu aku begitu dihormati dan disanjung oleh setiap bawahanku. Kini, mereka sudah menampakkan wajah asli mereka kepadaku. Biarlah, hari ini aku berprasangka buruk kepada mereka karena hatiku ingin berkata demikian. Aku sadar ini adalah hukumanku dari-Mu karena dahulu saat Kau angkat derajadku, aku malah tidak bersyukur kepada-Mu. Ampuni aku ya Allah karena dahulu aku tidak pernah bersyukur kepada-Mu atas nikmat berupa tamu yang melimpah di rumah pemberian-Mu ini!” ucap pak Bakran dalam doa beliau setelah salat Asar.

Setelah menunaikan salat Asar dan berdoa, beliau duduk sendiri di teras depan sambil memandangi barisan semut yang berduyun-duyun dengan teratur. Sambil duduk, beliau pun berkata dalam hati,

“Aku iri dengan semut-semut yang begitu akrab di hari yang suci ini. Aku manusia, tetapi tidak dapat seakrab itu dengan para mantan bawahanku di hari yang suci ini setelah aku pensiun…. Sungguh aku malu kepada diriku sendiri. Aku mantan pemimpin yang gagal. Pemimpin yang sukses selalu dikenang para bawahannya dan juga rakyat banyak seperti pahlawan kemerdekaan, bukan seperti diriku ini yang telah mereka lupakan.”

“Ah! Ada apa denganku? Seharusnya aku bersyukur sudah diberi Allah swt nikmat kehidupan yang masih kurasakan pada hari ini. Banyak kerabatku yang sudah tidak dapat menikmati indahnya lebaran seperti diriku. Walaupun bawahan-bawahanku tidak datang, aku masih memiliki para tetangga dan keluarga yang menyayangiku. Aku masih ingat begitu baiknya sikap mereka di masjid tadi kepadaku. Astaghfirullah! Astaghfirullah!”, ucap pak Bakran dalam hati.

“Kek! Memang terasa nyaman ternyata duduk di sini. Udaranya sejuk dan bersih dari polusi.”, ucap bu Hari sambil membawakan secangkir kopi hangat untuk pak Bakran.

Mereka terlibat dalam perbincangan yang hangat. Kadang-kadang mereka tertawa dengan hal yang mereka perbincangkan. Waktu pun tidak terasa berlalu oleh mereka hingga petang menjelang di hadapan mereka. Dengan segera mereka pun masuk ke rumah yang sudah lama mereka diami itu.

***

“Assalamu’alaikum! Assalamu’alaikum!” seorang lelaki muda mengucapkan salam dari luar halaman rumah pak Bakran keesokan harinya.

Wa’alaikumussalam! suara pak Bakran dari dalam rumah didengar pemuda itu.

“Selamat Idul Fitri dan mohon maaf lahir dan batin ya Pak!” seru pemuda itu.

“Ternyata kamu Din yang datang. Terima kasih banyak Din atas kedatangan dan ucapan selamat Idul Fitri darimu.”, kata pak Bakran dengan raut muka yang cerah kepada Syamsudin.

“Bagaimana kabar Bapak?”

“Kabar Bapak baik, tetapi saat ini Bapak masih bingung karena dari hari kemarin hanya kamu mantan bawahan Bapak yang datang di rumah ini. Untunglah saat ini ada kamu yang bertamu di rumah Bapak.”

“Benarkah Pak baru saya yang datang menyambangi rumah Bapak ini? Jujur saya kurang percaya dengan kata-kata Bapak tadi.”

“Ini adalah kenyataannya bahwa lebaran tahun ini sangat berbeda dengan lebaran tahun-tahun sebelumnya. Bapak hanya dapat memaklumi keadaan ini karena pensiunan seperti Bapak ini tidak pantas mengharapkan tamu yang banyak.”

“Saya ikut prihatin atas nasib yang sedang Bapak alami saat ini. Semoga kedatangan saya dapat menghibur hati Bapak.”

Pak Bakran memang sedikit terhibur dengan kedantangan Saymsudin di rumah Beliau. Mereka berbincang cukup lama. Sungguh, pak Bakran tidak menyangka kalau tahun ini keadaannya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Beliau hanya berusaha untuk memaklumi keadaan yang sedang beliau alami dan mencoba untuk tetap bahagia di hari yang fitri.

“Ya Allah kali ini aku bersyukur kepada-Mu karena telah Kauberikan tamu untukku. Jika Engkau masih mengizinkanku berharap sesuatu yang lain, aku hanya berharap para pejabat sekarang tidak mengalami nasib yang serupa denganku saat mereka telah pensiun nanti. Aku juga memohon kepada-Mu jadikanlah para pejabat di negara ini dapat menjadi pemimpin-pemimpin sukses yang dapat menyejahterakan bawahan-bawahan mereka dan terutama rakyat di negara ini. Dengan demikian, mereka tetap dikenang oleh para bawahan mereka saat menjalani masa pensiun, bahkan hingga berpulang kepada-Mu!” ucap pak Bakran sambil meneteskan air mata setelah selesai salat Juhur.

Pak Bakran pun bangkit dan berjalan menapaki kehidupan beliau dengan kesabaran dan rasa syukur kepada-Nya bersama para keluarga dan masyarakat di sekitar beliau.

***



Kutemukan Dia

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

=====Aku terlahir dari orang yang tak kukenal. Jangankan nama ibuku, melihat sosoknya pun aku tidak pernah. Aku besar di panti asuhan Bumi Selaras yang didirikan oleh seorang yang baik hati. Atas bantuan beliau juga aku bisa menjadi seorang pengerajin batu permata yang cukup sukses di kotaku. Kini di usiaku yang kedua puluh delapan tahun, aku telah memiliki lima pekerja. Penghasilanku cukup untuk menghidupiku dan dua orang anak asuh di rumahku sendiri. Suatu ketika aku harus ke kota lain untuk urusan bisnis. Aku putuskan untuk naik bus ke kota tujuanku itu. Rencananya satu minggu aku berada di sana. Urusan pekerjaan kuserahkan kepada para pekerjaku yang sudah dapat kuandalkan. Kedua orang anak asuhku yang masing-masing berusia dua belas tahun dan empat belas tahun sudah mampu mengurus diri mereka dan rumah kami. Jadi aku tidak ragu meninggalkan mereka.

=====“Pak, hati-hati di jalan ya!” pesan anak asuhku yang pertama

=====“Insya Allah Bapak akan baik-baik saja.” Jawabku untuk membuatnya tidak cemas.

=====“Ini ada singkong goreng untuk bekal Bapak di jalan” kata anak asuhku yang kedua.

Mereka sangat perhatian kepadaku karena aku pun sangat memperhatikan mereka. Selama di perjalanan banyak kutemui pengemis, pengamen dan penjaja makanan dan minuman. Sesekali aku memberikan uang kepada para pengemis dan pengamen. Aku juga aku sesekali membeli minuman dari penjaja yang ada di dalam bus.

=====“Ternyata masih banyak rakyat yang miskin di negara kita.” Kata ibu tua yang duduk di sampingku.

=====“Ibu betul sekali. Di negara kita masih banyak orang yang miskin dan memerlukan bantuan kita yang mampu.” Balasku kepadanya.

Ibu itu menatapku dalam, seakan beliau ingin mengusap-ngusap rambutku. Mungkin ibu itu memiliki anak seusiaku dan mungkin pula beliau sedang ingat dengan anak belaiu tersebut.

“Aku tidak memiliki anak laki-laki” katanya. “Semua anakku perempuan dan seandainya aku punya anak laki-laki sepertimu, aku tentu akan sangat bahagia”, tambahnya.

“Semuanya sudah menikah Bu? ” tanyaku.

Ibu itu seketika tersenyum padaku. Sepertinya beliau tahu dari kata-kataku kalau sebenarnya aku ingin memiliki seorang istri. Sambil tertawa beliau berkata, “Semua anakku sudah memberiku cucu-cucu yang manis-manis.”

Aku ikut tersenyum sambil sedikit malu kepada ibu itu. Pembicaraan kami terhenti karena aku sudah sampai di kota tujuanku dan kami pun berpisah di sana. Sebelum kami berpisah beliau berpesan kepadaku, “Berhati-hatilah di terminal ini karena di sini banyak pencopet!”

Aku pun berterima kasih kepada beliau atas saran tersebut.

***

=====Kulangkahkan kakiku menuju keluar terminal mencari becak untuk menuju wisma tempat aku menginap satu minggu. Begitu banyak orang yang menawariku jasa transportasi, tetapi semuanya kutolak. Belum lagi aku keluar terminal, tasku sudah ada yang mencoba menyayatnya dengan pisau silet yang tajam. Kuhentikan segera aksinya dan aku kejar pencopet itu hingga aku berhasil menangkapnya. Tidak kusangka ternyata ia seorang perempuan muda. Usianya kira-kira dua puluh tahun.

=====“Lepaskan aku!”, katanya dengan ketakutan.

=====“Mengapa kamu menjadi pencopet?” tanyaku. “Apa kamu tidak takut jika polisi menangkap dan memenjarakanmu?” tanyaku lagi.

=====“Jika aku tidak mencopet Mas, aku tidak dapat makan hari ini.” jawabnya dengan nada memelas.

=====“Separah itukah perekonomianmu hingga kamu rela menjadi seorang pencopet?”, tanyaku padanya.

=====“Aku orang yang miskin dan tak punya pekerjaan tetap”, jawabnya. “Ibuku sedang sakit di rumah kami”, lanjutnya.

=====Aku tidak tega membawanya ke kantor polisi. Hati kecilku merasa iba dengan keadaannya. Aku ajak dia makan di warung dekat terminal itu. Saat itu perutku memang sangat lapar dan kulihat dia juga seperti orang yang kelaparan. Kami berbincang lama di sana. Aku memintanya menunjukkan keadaan ibunya kepadaku untuk membuktikan kebenaran kata-katanya tadi. Benar katanya, ibunya memang benar-benar sakit dan sedang terbaring di atas tikar beratap jembatan. Ya, tepatnya mereka tinggal di kolong jembatan. Hatiku merintih melihat keadaan mereka yang sangat memprihatinkan. Kuberi mereka uang seperlunya untuk berobat di rumah sakit. Aku pun segera meninggalkan mereka menuju wiswa tempatku akan menginap.

=====“Mas, tunggu sebentar!” pinta pencopet itu.

=====“Ada apa?”, tanyaku kepadanya.

=====“Siapa nama Mas dan di mana aku dapat menemui Mas kembali?”

=====“Namaku Rizal dan kamu dapat menemuiku kembali di Wisma Sejati”, kataku kepadanya. “Ingat pesanku tadi! Jangan mencopet lagi!”, tambahku.

***

=====Akhirnya sampai juga aku di wisma yang nyaman untuk kutinggali. Kurebahkan tubuhku di kasur empuk dan wangi. Segera terbayang olehku penderitaan anak dan ibu yang harus tinggal di kolong jembatan itu. Aku di sini rebahan dengan enak sedangkan masih ada orang yang tidur di tempat kumuh dan berbau tidak sedap. Aku bayangkan jika seandainya nasibku seperti mereka. Segera menitik air mataku dan ingin sekali aku membatu mereka. Aku ingat kembali aksi pencopetan yang dilakukan gadis itu kepadaku. Wajahnya masih mebekas di ingatanku. Malam pun semakin larut dan aku harus segera tidur agar besok aku dalam keadaan yang prima dan bisnisku dapat berjalan dengan lancar.

=====Suara alarm telepon selulerku membuatku terbangun dari tidurku yang nyenyak. Aku pun segera berwudu karena azan Subuh telah menggema di angkasa. Untung di wisma itu tersedia musala yang bersih dan penuh perawatan. Kusempatkan jalan-jalan sebentar di sekitar wisma setelah salat Subuh berjamaah di musala itu.

Sudah dua hari aku berada di sana. Seperti biasanya, setiap pagi pintu kamarku diketuk pelayan wisma yang mengantariku makanan dan minuman. Dari dalam kusuruh dia masuk.

=====“Apa kabar Mas?” tanyanya

Aku lansung terkejut mendengar kata-katanya karena aku masih ingat betul suara itu. Benar dugaanku, ia saat ini tepat di hadapanku

=====“Kabarku baik. Bagaimana kabar ibumu Dik?” tanyaku balik.

=====“Ibuku masih hampir sembuh. Aku bawakan Mas makanan khas sini. Tolong Mas terima ya!” pintanya.

=====“Tidak usah repot-repot membawakan makanan ini untukku. Aku ikhlas kok membantumu dan ibumu tempo hari.”

***

=====Hari ini adalah hari terakhirku berada di kota penuh kenangan bagiku, terutama pada gadis muda yang mebuat hatiku terasa lain daripada sebelum bertemu dengannya. Pekerjaanku telah selesai dan saatnya aku kembali ke kotaku. Sebelum berangkat, aku sempatkan diriku menjenguk ibu gadis itu.

=====“Mungkinkah kita akan bertemu lagi?” tanya gadis itu kepadaku.

=====“Jika Allah menghendakinya, kita akan bertemu kembali Dik” jawabku.

=====“Kami akan mengingat kenangan hidup ini”, kata ibunya kepadaku.

Kulihat mereka sangat akrab di sana. Aku berpamitan dengan mereka. Baru kali ini aku sangat iri dengan orang lain. Aku sangat iri dengan gadis itu yang memiliki seorang ibu di sisinya dan menyayanginya. Tidak pernah seumur hidupku aku merasakan kasih sayang seorang ibu. Kutatap sejenak wajah mereka dan aku pun segera meniggalkan mereka di sana. Sesampainya di rumah aku di sambut dengan hanyat oleh kedua anak angkatku. Aku banyak bercerita kepada mereka selama aku di kota lain.

Aku merasakan hal yang tidak pernah kurasakan selama ini, yakni rasa sepi di hatiku. Gadis di kota lain itu selalu ada dalam pirkiranku dan semakin pula membuat hatiku ingin bersamanya. Mungkin naluriku sebagai pria dewasa yang membuatku seperti itu. Kurasakan ada sesuatu yang berbeda dalam hatiku terhadap gadis itu. Entah apakah aku telah jatuh hati kepadanya. Akan tetapi, satu hal yang jelas bahwa aku bahagia saat bertemu kedua kalinya dengannya. Gadis itu membuatku tidak dapat konsentrasi terhadap pekerjaanku. Dengan perasaan yang tak menentu aku kembali ke kota itu. Kutemui dia dan ibunya. Aku tatap dalam matanya dan kuberanikan hatiku untuk mengatakan bahwa aku berniat menikahinya. Kulihat ia sangat gugup saat itu. Mulutnya tidak mampu bicara, tetapi ia menganggukkan kepalanya kepadaku. Anggukannya membuat hatiku sangat bahagia. Tiga hari kemudian kami menikah dan kubawa ia dan ibu mertuaku di rumahku bersama kedua anak angkatku.

***


Demi Pernikahan Adik

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

=====Aku masih teringat dengan kata-kata pak Hamid soal pernikahan adikku. Lelaki berusia setengah abad itu dengan teganya menolak adikku menjadi menantunya hanya karena uang seserahan yang belum dapat kami berikan sesuai permintaannya. Adikku sebenarnya sudah ingin sekali memiliki seorang wanita yang menemaninya dengan setia. Sudah dua tahun adikku berhubungan dengan Mia, anak pak Hamid. Aku sebagai kakaknya tidak ingin keduanya terjerumus ke jurang maksiat. Ketakutanku muncul saat aku melihat mereka bergandengan tangan di samping musala sehabis salat Tarawih satu bulan yang lalu. Hatiku sakit melihat adikku yang kini tidak semangat menjalani hidup gara-gara penolakan pak Hamid tempo hari.
=====Kadang kulihat dia termenung sendiri di serambi rumah kami. Aku tahu bagaimana perasaannya. Dengan permintaan pak Hamid sebesar lima belas juta rupiah, kemungkinannya baru satu tahun lagi adikku dapat menikah. Dia memang sudah bekerja sebagai penjahit, tetapi berapalah pendapatan seorang penjahit yang baru membuka usahanya.
===== “Assalamualaikum…. ”, sapa ustadz Karim dengan suara yang lembut kepadaku
===== “Wa’alaikumussalam”, jawabku.
===== “Bapak sedang ada masalah ya? tanya beliau
=====“Ah Ustad tahu saja kalau saya sedang punya masalah”
===== “Ya, soalnya Bapak kalau setiap kali ada masalah, Bapak sering duduk tafakur di musala ini”
===== “Benar Ustad saya sedang ada masalah. Saya belum memiliki uang untuk membatu adik saya menikah”
=====“Memangnya sudah berapa tabungan Bapak dan adik Bapak itu?
=====“Baru sembilan juta Ustad.”
=====“Cukup sudah uang itu sebenarnya untuk menikah. Bukankah rasulullah sendiri mengadakan pesta pernikahan dengan sederhana? Bahkan rasulullah menyuruh umatnya agar menikah walaupun dengan mas kawin berupa cincin dari besi.”
=====“Kami pun sebenarnya ingin seperti itu, tetapi pihak mempelai wanitanya meminta uang seserahan sebesar lima belas juta”
=====“Masya Allah! Besar sekali?”
Azan Juhur pun berkumandang menghentikan percakapan kami. Kami segera berwudu dan setelahnya kami pun salat berjamaah. Ustad Karim menjadi imamnya. Aku dan tiga orang lainnya mengikuti gerakan beliau dari belakang.
=====Aku segera meninggalkan musala setelah memanjatkan doa kepada Allah agar dimudahkan-Nya menyelesaikan masalah yang sedang kami hadapi.

***

=====Kulihat istriku sedang asyik memberikan makan ayam-ayam kami. Kulihat ia juga ikut memikirkan masalah pernikahan adik kandungku itu.
=====“Assalamu’alaikum…!” sapaku pada istri tercintaku
===== “Wa’alaikumussalam” jawabnya dengan dengan sangat lembut .
=====“Dari mana Yah hari Minggu baru pulang?” tanyanya.
=====“Aku habis dari musala. Pak ustad tadi mengajakku berbincang.”
=====“Soal apa?”
=====“Soal adik kita.” jawabku. “Pak ustad juga menyayangkan pihak mempelai wanita yang meminta uang seserahan dengan jumlah banyak”, tambahku.
=====“Apa nasehat pak ustad kepada Ayah?
=====“Aku diminta beliau membicarakan sekali lagi kepada pak Hamid soal uang seserahan itu karena dalam Islam tidak ada hukumnya meminta uang seserahan kepada pihak mempelai pria, apalagi dengan jumlah yang banyak.” “Beliau juga menambahkan bahwa dalam Islam hanya ada pemberian mahar yang tidak ada ketentuan jumlah dan ukurannya dari mempelai pria kepada mempelai wanita.”
=====Istriku pun mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar kata-kataku itu. Pembicaaan kami terhenti saat adikku Fajriansyah datang dari tempat kerjanya. Kami lihat wajahnya sangat lelah. Ia tersenyum ke arah kami.
=====“Assalamu’alaikum….” sapanya.
=====“Wa’alaikumussalam …”, jawab kami.
=====“Karena sudah berkumpul, ayo kita makan bersama! Pinta istriku kepadaku dan Fajriasnyah.
Dengan lahapnya kami menyatap makanan di meja makan. Perut kami langsung kenyang dan mata kami pun mulai mengantuk.

***

=====Tidak terasa sudah pukul setengah empat sore. Aku beranjak dari tempat tidurku untuk bersiap-siap salat Asar di Musala. Dalam pikiranku masih saja melekat masalah pernikahan adikku. Kuputuskan setelah salat aku akan menemui kembali pak Hamid. Dengan sepeda motor aku melaju ke rumah tempat tinggal gadis pujaan adikku. Di sana kami berbicara cukup lama dan sangat alot karena pak hamid tetap pada pendiriannya. Aku pulang dengan tangan kosong karena aku tidak berhasil meyakinkan pak Hamid soal pernikahan yang Islami.
=====Dalam perjalanan pulang aku mampir di pasar. Aku tadi dipesani istriku untuk membeli gula merah dan kacang hijau. Katanya dia ingin memasak bubur kacang hijau. Saat aku membeli gula merah dan kacang hijau, aku mendengar percakapan para penjual di pasar itu.
=====“Bi, kemarin habis berapa untuk biaya berobat di rumah sakit?”
=====“Kalau ditanya habis berapa, habis-habisan Dik”
=====“Memang Bi, sekarang tidak ada yang murah.”
=====“Kami kemarin habis delapan juta untuk biaya operasi usus buntu anak kami.”
Akibat percakapan para penjual di pasar tadi, aku jadi berpikir kalau aku harus segera membiayai adikku untuk menikah. Jika harus menunggu satu tahun lagi, aku takut adikku menjadi stres berat. Biarlah habis biaya banyak dengan resiko jual sana, jual sini. Mengharapkan kesadaran pak hamid terlalu lama. Pak Hamid juga berpikiran sekarang tidak ada yang murah, apalagi soal anak gadis tentulah mahal. Pemikiran yang salah masih melekat dalam pikiran masyarakat kita saat ini soal pernikahan, pikirku.

***

=====Dengan hati yang ikhlas, aku dan istriku memutuskan menjual sepeda motor kami dan beberapa barang lainnya termasuk perhiasan istriku untuk biaya adik kami. Semula adikku menolak keputusan kami, tetapi akhirnya dia pun menuruti permintaan kami. Kami tidak bisa mengubah adat perkawinan yang sudah lama mengakar di daerah kami soal uang seserahan dalam pesta perkawinan. Kami akui, masih banyak orang di daerah kami yang belum paham betul dengan tata cara pernihakan yang Islami, salah satunya adalah pak Hamid. Pernikahan pun berlangsung dengan meriah. Aku dan istriku sangat bahagia dengan pernikahan itu. Kebahagian kami bukan datang dari meriahnya pesta, melainkan datang dari kebahagian yang sedang dirasakan oleh adik kami tercinta yang terlihat dari senyum dan tawanya.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s