Archive for the ‘kumpulan cerpen borneo dari pengarang-pengarang asal Borneo (Kalimantan/Indonesia, Sabah, Sarawak, Labuan/Malaysia dan Brunei Darussalam)’ Category

Auman Pak Lurah

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

(Radar Banjarmasin, Minggu, 29 Juni 2008)

Dingin pagi menyapa pori-pori. Pergantian musim menjadi nyata. Bulan Juli musim panas menampakkan identiasnya. Pada bulan Agustus, ratig akan kering sempurna, tanaman perdu kekurangan asupan air, dan api panas bumi memicu ladang gambut membumihanguskan semuanya. Musim asap puncaknya.

Pagi itu, entah karena kekacauan cuaca global, apa karena lobang ozon semakin menganga, atau pencairan es di Kutup Utara semakin menjadi, panas adalah penanda paling tegas Bumi Kahatulistiwa. Air sungai tak mengalir, bendungan kering, PLN, sebagaimana tradisinya, tidak mampu meproduksi listrik, byar pret. BBM ikut-ikutan bergabung menebar kesusahan. Nasib negara kaya raya di tangan pemimpin penikmat kekuasaan.

Ulau, termenung. Dinginnya udara yang menjilad tubuhnya tidak terasakan. Siraman AC ruangan pun tak membuat hatinya tenang. Ruang kerja Ulau, lurah Kali Dongok yang dingin ‘dibalut’ galau hatinya. Panas. Kelurahan Kali Dongok, bukannya melaju menggapai idaman, tetapi surut ke zaman purbakala; ketika kekuasaan, primus interpares maujud lebih sempurna. Kekuasaan menentukan segalanya.

“Begini, Pak Fuad”, kata Ulau semanis mungkin. “Saya minta maaf. Saya salah hitung. Saya akui. Saya melakukan kesalahan fatal”.

Fuad, satu-satunya sarjana pegawai kelurahan Kali Dongok, tidak paham kemana arah pembicaraan Ulau. Bahkan, kenapa dia dipanggil ke ruang Pak Lurah yang ber-AC saja susah dimengerti. Pikirannya dilanda galau, hukuman apa lagi yang akan ditimpakan Ulau. Bingungnya menjadi-jadi.

Dulu, ketika Ulau belum menjadi lurah, saat menjadi pengusaha kecil-kecilan, mengelola wantilan, mereka bersama-sama membesarkan usaha tersebut. Suatu kali, entah karena apa, sekembali dari kampung karena ayahnya meninggal, di meja kerjanya mendapatkan sepucuk surat: Pemberhentian sebagai staf pembukuan keuangan. Fuad berusaha menemui Ulau, tetapi tidak pernah kesampaian. Sebagai PNS yang berusaha di luar jam dinas, Ulau beralasan sibuk. Fuad tidak memaksa. Mengobat kekecewaannya dengan kuliah di FISIP mengambil jurusan administrasi pemerintahan.

Fuad tidak sendirian. Sumiyati yang mengurus administarsi, Fatun penjaga gawang produksi dihadiahi surat yang sama. Tanpa keterangan. Dan tentu, tanpa pesangon. Mereka bermaklum. Mana tahu Ulau bermaksud mengembangkan wantilan lebih serius. Terbukti. Wantilan berkembang pesat. Ulau berjaya secara finansial.

Suatu kali, Fuad, Sumiyati, dan Fatun diajak Hetexana membicarakan hal yang sama sekali di luar dugaan mereka; merancang Ulau menjadi lurah Kali Dongok. Ketiga mantan sekutu Ulau tercengang hampir tidak percaya. Hetexana berhasil meyakinan.

Begitulah. Dibawah kendali Hetexana mereka merencanakan pensuksesan Ulau menjadi Pak Lurah. Diakui, sifat kediktatoran Ulan menjadi pengendala. Namun, Hetexana sangat yakin, dan meyakinkan, kelurahan memerlukan lurah tipe Ulau. Punya modal, tegas, cerdas, dan berwawasan ke depan. Sekalipun, ya sekalipun tidak berpendidikan tinggi, plus pelit.

Alasan-alasan faktual Fuad, Sumiyati, dan Fatun, berhasil dipatahkan. Manusia itu berubah, kata ‘makelar’ cerdas tersebut. Saya jamin, Ulau tidak akan mengulang kelakukannya. Kita akan kawal pemajuan kelurahan. Kita tidak memerlukan apa-apa lagi, kita mampu hidup sendiri, tidak gila kekuasaan, tetapi punya ideologi, memajukan Kali Dongok. Ajaibnya, mereka bukan saja menghibahkan waktu dan enerji, bahkan finansial. Perjuangan memang tidak mengenal kegratisan.

Rencana berlaku sebagaimana direncanakan. Ulau terpilih menjadi lurah mengalahkan ‘anak asuhnya’ dengan selisih suara puluhan saja. Sebagai hadiah, Ulau menggelar pesta kemenangan. Makan sop kol bertandem kepiting rebus kesukaannya. Setelah itu semua selesai.

Hetexana mengambil jalan radikal. Berhenti menjadi pegawai kelurahan. Malu. Keyakinan yang meyakinkan terbukti tidak terbukti. Hetexana konsisten. Orang seperti Hetexana susah ditemui di jajaran elite kelurahan. Dia bangga miskin, asal punya prinsip.

Begitu kekuasaan dipagut Ulun, programnya memajukan Kali Dongok dikebut. Teman-temannya dari berbagai kelurahan seantero kecamatan direkrut. Tentu, yang terhebat menurut ‘seleranya’. Ketika Hetexana mengingatkan, dijawab Ulau setengah bengis: “Kebijakan pimpinan adalah hak preogratif. Tidak seorang pun berhak, kecuali saya”. Hetexana tahu posisi, dan karena kecewa, ya itu tadi, mundur. Malunya pada teman-teman hanya dapat dibayar dengan mundur. Titik.

Waktu berlalu. Para punggawa pilihan Ulau ternyata punya hidden agenda. Mereka berkreasi dengan cara sendiri, menancapkan sukses menanamkan kuku-kuku. Ujung-ujungnya, survey menunjukkan, popularitas ‘anak asuhnya’ mengalahkannya. Begitu hasil beberapa lembaga survey. Masa jabatan pertama Ulau tinggal dalam hitungan bulan. Anak asuhnya sibuk dengan agenda masing-masing. Ulau kesunyian di tengah keramaian pasukan bentukannya.

Ada memang yang setia mengikuti apa saja maunya. Apa saja gebrakannya diamini, yang penting ada tips. Barulah Ulau sadar, dalam perjuangan diperlukan mereka yang kritis, kritis dalam arti berorentasi tujuan. Bukan pada keuntungan sesaat atau demi melestarikan kekuasaan, atau mengambil keuntungan saja dari kekuasaan. Titik sasar aktivitas adalah tujuan.

Sudah tiga minggu Ulau mengurung diri di kamar. Cuti besar. Kelurahan dijalankan sekretaris lurah. Pilihan Ulau yang ternyata menjadi pesainynya untuk pemilihan lurah tahun ini. Semua pihak meramalkan, Ulau akan kalah. Sementara, para punggawanya hanya mampu yes men doang. Ulau gundah.

Ulau introsepkesi. Teringat kata-katanya: Kalian pendukung. Jangan kira saya sukses menjadi lurah karena usaha kalian. “Ah, saya keterlaluan”, renungnya. Muncul pikiran jernih, ketika akan menjadi lurah dulu, dia ragu. Dia heran, padahal merasa paling hebat, mengapa mereka yang bukan penjilad susah diajak diskusi. Ulau sadar, lebih senang mendengarkan pujian dari pikiran kritis atau yang berusasha meluruskan pikiran sesuai kondisi obyektif. Mereka tidak suka saya, mereka terlalu kritis, simpulnya. Tapi, dalam kesendirian, dalam penyelasan, makna kekritisan menampakkan kebenaran.

Ulau lupa, mereka bukan pendukung, tetapi yang mengusungnya menjadi lurah. Mereka bekerja tanpa dibayar, dan ketika berhasil dicuekin. Dia sadar … jangan-jangan, tanpa mereka memang tidak ada apa-apanya. Dendaan diri semakin menjadi, tindakan mencuekin para pengusung kesuksesan harus dibayar mahal. “Aku mengambil saja dari mereka sembari menusuk ulu hati mereka. Padahal, mereka tidak meminta apa-apa. Ih, aku ini memang dongok”, ingat diri menusuk-nusuk jantung pikirnya.

“Pak Fuad”, Ulau risau ketika Fuad tidak merespon bicaranya. Malahan melamun.
“Saya minta tolong. Kita harus ‘kembali’ melanjutkan … “.

Fuad tersadar dari lamunannya. Tangannya meraih tas lusuhnya. Dari dalamnya diambilnya tiga amplop berisi surat pengunduran dirinya, Sumiyati, dan Fatun sebagai pegawai kelurahan … Lalu, meninggalkan ruangan Pak Lurah tanpa permisi.

Setengah jam kemudian, pegawai kantor kelurahan Kali Dongok heboh. Ambulan membawa Ulau yang tidak sadarkan diri. Entah nyawanya akan berakhir, tidak seorang pun tahu. Ulau membawa raganya dalam kesadaran baru, dalam pingsan. Kesadaran yang terlambat. Auman terakhir Pak Lurah Ulau: Menyesali diri.

Kehidupan akan tetap bergulir selama manusia ada di muka Bumi ini. Ibarat ikan, beragam bentuk dan rasanya. Setiap ikan mempunyai jalan kehidupan sendiri. Ada yang mati karena usia, ada yang dimakan predator, atau di ujung belati nafsu manusia. Tidak seekor ikan pun dapat menentukan nasibnya.
***
Aku tertawa geli membaca cerpen satire tersebut. Remote control tugop ku pencet. Mati. Ah … aneh juga pengambaran kehidupan manusia masa lalu. Kami yang hidup di abad XXIII tidak mengenal apa itu cerpen.

Banzharbaro, Juli 29th, 2220. (Cerpen dua abad lalu).`

Cinta yang Terjinakkan

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Malam melarut. ‘Hello’ Lionel Richie menyamankan rasa. Hatiku sedang gundah. Perasaan letih. Bulan menyiangi kegelapan. Memanggil-manggil. Kuayun langkah. Menggapai Bulan. ‘Kalau Bulan bisa ngomong’, kan kukurim pesan: “Titip rindu buatnya”.

“Mat malam Uda”.
“Oh”. Aku tergagap. Aku menjadi lelaki paling dungu. Gagap total.
“Da, ikutan duduk, ya”.
“Ya, ya”. Lidahku keluh. Ya, aku memang lelaki dungu. Nora. Perempuan yang kini duduk disampingku. Dia mahasiswaku. Aku menyukainya. Tubuhnya, cara dia berjalan, bicaranya , kepolosannya, kecerdasannya, dan … yang paling kusukai cara dia menatap. Tajam dan lembut.

“Da. Besok aku pulang kampung. Makasih ya, nilaiku bagus. Semester ini IPK 3,65. Dosen-dosen baik-baik deh”.

Kutatap matanya dalam-dalam. Toh takkan terjelas di keremangan. Setengah agak marah kukatakan: “Nilaimu bagus karena memang kamu cerdas. Kamu harus yakin, nilaimu usahamu. Bukan lainnya”, jawabku ketus.

Gembiranya surut. Tiba-tiba aku merasa merasa bersalah. Kuraih tangannya, kugenggam jemarinya. “Pelajaran buatmu. Jangan pernah berpikir melampaui batas kenyataan”. Terasa dingin. Aku serba salah.

Ya, Nora menguncang jantungku. Dia rajin ke kostku. Ada saja yang dia tanyakan. Kalau aku tidur dibangunkannya. Kalau mengetik, ditemaninya. Ibu kost selalu mengatakan: “Tu, pacarmu datang”. Ya, aku memang senang di datang. Kalau perlu nginap sekalian. Tapi, aku tahu, aku bukanlah lelakinya. Lebih parah, seperti kuliah, kalau dia agak lambat memahami apa yang kumaksud, akan kumaki: “Dasar mahasiswa tolol. Makanya rajin membaca”. Ajaibnya, dia mengangapnya bercanda. Dan, aku memang bercanda.

Malam itu, 6 Januari, malam yang pendek. Tiba-tiba suara azan dari menara gema langgar berkhabar, subuh menjelang.
“Moga selamat sampai di kampung. Salam buat Ibu ya”. Nora tidak berkata apa-apa. Matanya masuk jantung hati. Itu saja.
***

 “Mat malam Uda”.
“Oh”. Aku tergagap. Aku menjadi lelaki paling dungu. Gagap total.
“Da, ikutan duduk, ya”.
“Katanya pulang kampung”.
“Ya, begitulah. Pesawatnya penuh. Tanggal 10 baru dapat seat”.

Malam, 9 Januari, seperti 6 Januari lalu, kami bicara sampai pagi. Banyak hal dibincang. Aku lelaki perjaka, dia wanita muda usia. Nyamuk-nyamuk lapar menjadi saksi di sudut kamar, di keremangan malam. Pacaran deh kisahnya. Prestasi terbaik kami berpegangan tangan, melumat jari-jari. Itu saja.
***

Aku berkirim surat. Aku hanya bisa menganggapnya sebagai adik. Tidak lebih tidak kurang. Aku juga mengaku, menyayanginya, tetapi tidak untuk mencintai. Aku mau, tetapi tidak bisa. Aku memutuskan secara sepihak.

“Uda Raja Tega. Kenapa aku tidak diundang ketika Uda, kawin. Keterlaluan”. Aku betul-betul tidak berkutik. Kubiarkan dia berkata apa saja. Hatiku teriris-iris menatap matanya yang berair. Ada kepedihan disitu. Kepedihananya, kepedihanku. Ya, tetapi aku harus mengambil keputusan.

“Aku betul-betul minta maaf”.
“Ya, tetapi kenapa? Uda Raja Tega”.
“Kamu kan tahu, usiaku semakin menua. Aku perlu membangun keluarga”.
“Ya, tetapi kenapa denganku?”.
“Maaf, sungguh. Kakak tidak bisa. Kamu masih childish”.
“Dasar dosen bodoh. Tidak tahu perasaan wanita”. Marahnya tak terbendung.
“Diq, jangan pukulkan palu itu. Aku menyayangimu. Sayang sebagai adik. Itu lebih tinggi dari cinta. Cinta bisa pupus, sayang lebih mulia”.
***

Aku kini lelaki sempurna. Aku punya isteri, dan kini tengah mengandung anak buah cinta kami. Aku mencintai isteriku. Tetapi, tidak bisa melupakan Nora. Dia berhak, sebab datang saat puasaku terlalu panjang. Hati kami bersua, namun aku tidak saja membutuhkan cinta, tetap isteri. Aku tidak memilihnya.

Sebagai ‘penebus dosa’ dan  agar ganjalan tidak mendenda, kami mendatangi ke kampungnya. Minta maaf pada Ibunya.
“Tu, kan dasar dosen bodoh. Kamu cinta pertamuku”. Yang paling kusuka bicara polosnya. Aku ingat adik perempuanku di kampung. Persis Nora. Bagaimana aku mencintai adik bathinku sebagai wanita.
“Aku ngaku. Kamu punya segalanya. Tetapi, aku sungguh menyayangimu. Lebih agung dari cinta”. Ya, jujur saja, rasa lelakiku telah kumatikan. Setidaknya berusaha kumatikan. Namun, ada yang berdenyut di ulu hati. Pain.

“Kak. Kamu Raja Tega. Tiap hari aku mendatangimu. Aku menggigil ketika tanganku kau sentuh. Aku ingin dipeluk, akau harap dicium, aku ingin kau nikahi”.
“Kenapa sekarang kau katakan? Aku kan sudah bilang, aku butuh isteri. Umurku semaki  mendaki. Lagi pula …”.
“lagi pula apa?”.
“Aku tak mau kau mendekatiku karena aku dosenmu”.
“Dasar dosen bodoh. Buat apa aku mendatangimu tiap hari. Buata apa ‘menyerahkan’ diri padamu. Kamu yang tidak paham, tidak tahu wanita. Kenapa aku ‘dicuekin”.

“Kalau sesorang mencintaimu, dia takkan ‘merusak’ kamu. Kalau sesorang mengedepankan nafsunya, dari gegabah mencium, mengambil perawanmu, itu bajingan. Aku bukan bajingan. Aku menyayangimu. Siapa pun takkan kubiarkan merusakmu, lahriah dan bathiniah”. (Ampun, bukankah aku telah melukai hatinya?).
***

“Aduh ada apa sih ribut-ribut”. Rupanya Ibunya dan isteriku sudah berdiri di depan kami.
“Tidak Bu. Ya, kami lagi mengklirkan persoalan yang tertinggal”.

Kuraih tangan Nora. “Aku mohon maaf”. Kutatap dalam-dalam. Aku menjura ke Ibunya. Kuraih tangan isteriku, dan aku ke kamar Nora. Malam ini kami menumpang menginap di kamarnya.

Kasih sayang di atas cinta. Kasih sayang adalah pemberian abadi seperti Allah SWT contohnya. Cinta adalah hubungan timbal balik sesama manusia; disitu ada tuntutan, ada pemberian, take and give.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 18 Agustus 2008.

***Ini cerpen-cerpenan mengenang satu episode pantikkan cinta kehidupan yang terjinakkan sebelum berkembang. Dari kisah nyata seseorang lho.

Universitas Kolam Ikan

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Karya fiktif ini ditulis sebagai ‘tugas akhir tahun’ dari Kang Jupri, http://mathematicse.wordpress.com/  dari Belanda,  kelanjutan surat berantai kerjaan Mas Swali, http://sawali.wordpress.com/. Selamat membaca.

Embun pagi menghantar sejuk ke lobang pori-pori. Hujan di akhir Desember membentang nyaman menjangkau awal Januari. Ikan nila merah berkejaran dengan nila hitam, memadu kasih mengitari lobang sebesar baskom raksasa yang terlihat putih di tepi kolam. Sesekali ikan mas, patin, dan haruan mendekat. Mereka usir dengan moncong mengagah. Puizz … kabur terkikih-kikih.

Aku menatap jernihnya air kolam di pagi itu. Fajar menyingsing membukakan jalan bagi mentari memancarkan berkahnya. Tidak ada asap. Jernih. Bersih. Nafas membiarkan udara masuk-keluar tanpa portal. Ya, Allah begitu nikmatnya, nyaman Bumi Kau ‘serahkan’ pada kami. Aku membatin.

Sebelum shalat Subuh, aku berselancar di internet. Memeriksa naskah-naskah kuno. Mataku tergagap di tugop —semacam komputer dinding. Tanah yang kuinjak, Banzarbharo, dua abad lalu berada di pulau, yang dulu dinamakan Borneo. E … salah ding, Kalimantan. Nama Bornea maunya Inggris. Belanda menyebutnya Kalimantan, dan republik Indonesia mengikutinya.

Tanah yang diberkahi dengan hamparan pohon-pohon paruh-paruh dunia, perutnya bermuatan batu bara, minyak, gas, emas, biji besi, dan berkah alam lainnya, rupanya, pada tahun 2113 diamuk banjir bandang. Hujan yang terus menerus sebulan penuh begabung dengan pasang air laut, menenggelamkan dua pertiga pulau terbesar keempat di Bumi tersebut. Dari sepuluh juta penduduknya yang selamat hanya lima ratus ribu orang, termasuk kakekku.

Kusau pikiran, setelah ditenangkan sholat subuh, dan nyamannya udara pagi, tidak mampu menjauhkan pikiran dari informasi tugop. Ikan-ikan yang kesana-kemari menarikan nyanyian air, hanya membantu menenangkan sesaat. Aku tidak habis pikir, kog begitu dungunya nenek-moyangku.

Pohon-pohon ditebang sampai tidak ada yang tersisa. Bumi dibalik, menguras aneka barang-barang tambang. Tanah Berkah Pertiwi berubah menjadi padang pasir. Korang-kerontang. Bila musim hujan banjir melanda, bila kemarau, asap menghadiahkan sesak nafas, kebakaran dimana-mana. Bagaiman bisa terjadi?

Lucunya, kekayaan hasil kurasan tersebut entah untuk apa. Para penguras tersungkur dililit hutang. Konon, pemerintah menghamburkan uang untuk menyelamatkan mereka. Dana BLBI dikucurkan. Apa itu BLBI? Sungguh membingungkan.
Hasil ekploitasi itu ditanamkan di Singapore, Hongkong, Cayman Island, dan Swis. Dana BLBI yang mereka peroleh semakin menebalkan tabungan pundi-pundi kedurjanaan. Lalu, kabur ke luar negri meninggalkan kesengsaaraan. Tidak ada yang bersalah. Pemberantasan korupsi jadi retorika sempurna. Mereka berdendangria, hidup berpoya-poya. Dan, kemudian ‘membeli’ republik murah-meriah. Ah … (?).
***

Embun pagi menguap. Pikiran berkelana. Bukankah nenek-moyangku bukan orang-orang bodoh? Universitas bertebaran di seantero negeri. Lembaga pengkajian berdiri gagah. Mengimpor beras tak terkira, produk tehnologi apalagi, sampai kondom bekas pun diterima; food gathering. Bangsa saudagar yang kurang paham inventasi, berlagak jago dunia. Ditipu para tetangga, apalagi oleh ‘polisi dunia’. Fuuuui, Bumi kog dikuras habis?

Katanya, illegal loging, illegal minning. Bagimana bisa. Bukankah pohon itu berkilo-kilo meter jauhnya? Ditebang. Diangkut berlama-lama. Melewati sepuluh juta pasang mata. Dinaikkan ke kapal. Diekspor melalui pelabuhan negeri. Tidak terlihat?

Kemana mata penegak hukum? Apakah mereka buta? Kemana suara dibunyikan? Apakah dari SD sampai PT tidak diajarkan, bahwa Bumi harus dipelihara. Atau, yang diajarkan matematika atau teori bahasa yang tidak dikuasi gurunya, orang tua, hingga anak didik bingung? Aha, Pak Kiai berbusa-busa mulutnya, para guru membantu siswa mengkhatamkan UN. Pendidikan curangkah hingga ketika menjadi sarjana tidak bisa berbuat apa-apa? Entahlah.

Bertanya tidak menyelesaikan masalah. Isteriku memanggil untuk sarapan. Anak-anak sudah siap ke sekolah. Lamumku terlalu lama hingga lupa mandi.
***

“Kog, kurang bersemangat nampaknya, EWA”, Prof. Dr. Al Jupri, Rektor Universitas Sadar Alam  menegur setengah bertanya setengah memperingatkan.
“Ya, tidak seperti biasa”, timpal Prof. Dr. Swali, Mpd., Dekan Fakultas Menulis Sastra (bukan teori sastra) setengah heran.
“Hmmm, ada masalah apa”,  ledek Prof. Dr. Yari, MPA, Dekan Fakultas Keamanan Nasional setengah bercanda.
“Ahai, jangan-jangan lagi beramtem ama bini nich”, ujar Prof. Hanna, tidak mau kalah. Para Profesor, pembimbing disertasiku, seolah menghakimi tanpa ampun.

“Ya, Prof”, kataku lemas.  “Dari risetku, para perancang pendidikan dulu itu tidak me-link-and-macth-kan’ antara teori dan praktik. Sehingga, lulusan perguruan tinggi —era itu— tidak piawai berbuat. Kuat di teori saja”.
“Ya ya bagus. Kami sudah paham. Draft disertasimu kami setujui … dengan satu syarat!”
“Apa itu Prof?”

 “Nanti, realisasikan delapan tesis dalam disertasimu. Jangan berteori saja, realisasikan. Apa mau meniru nenek moyang? Jago berteori, teori orang lagi?”
“Ya. Siap Prof
“Desember tahun depan sudah harus klir. Di awal Januari, kamu sudah jadi Doktor”.
“Siap Pak Satpam, e … maaf Prof. Maklum grogi karena terlalu gembira”.
“Ya sudah. Bubar”.
***

Aku disambut teman akrabku, Erwin dan Kurtubi. Teman yang satu ini IT minded. Draft disertasinya tak kunjung diterima. Dia merancang kendaraan tanpa memakai energi, berbasis tekanan udara.  Padahal, tahu saja, para profesor pembimbingnya adalah ‘sisa-sisa Laskar Pajang’ rantai panjang ilmuwan teoritikus setengah matang.

Bagaimana mau bergagas dan menerima gagasan orang lain, wong menulis apa yang diomongkannya saja tidak mampu. Buktinya, cuma mengutak-atik pikiran ahli-ahli dari Nauru, Bushman, dan Eskimo memanfaat powerpoint. Berlagak paling hebat. Erwin terlalu idealis, memaksakan gagasan yang tidak mampu dicerna pembimbing. Dasar keras kepal sih. Ho oh kan saja, nanti setelah selesai baru salip. Habis perkara.

Lain Erwin, lain Kurtubi. Bagaimana Pak Kiai kog sampai tidak arif. Jelas saja ide-idenya dakwahnya ke luar dari mainstraim, mengobrak-obrak tradisi. Bersikukuh, bahwa nalar itu berian Allah SWT yang paling berharga. Tetapi, kog ya ngak menalar, nalar orang —walaupun profesor— bahwa nalar mereka ya tidak bernalar.
Kukuliahi dua sahabat ini. Coba kalau dulu dipilih pembimbing seperti pembimbingku, kan selamat sudah. Aku sedikit berlagak.

“Kamu sih duluan milih profesor yan bagus. Kami tinggal yang ….”

Biasa, canda kami keras-keras renyah. Kami bergegas ke rumahku, ke kolam ikan. Kami akan pesta makan ikan merayakan draf disertasiku yang di OK sembari mencari siasat menundukkan profesor pembimbing Erwin dan Kurtubi tanpa menggadaikan idealisme.
***

Ikan-ikan berenang riang gembira. Makan, bertelur, makan, bertelur, makan, bertelur … Moga-mogaan universitas tempatku menuntut ilmu (emang apa salah ilmu kog dituntut, ya) bukanlah kolam ikan.

Aku tertawa geli membaca cerpen yang konon dibuat untuk keperluan surat berantai. Sebagai mahasiswa pengambil spesialis Kebudayaan Kuno aku sering membaca cerpen-cerpen kuno. Tugop mencatat miliran cerpen. Ah … cerpen yang tidak menarik. Tapi, kog kalian baca juga, ya. Kacien dech lo.

Banzharbaro, Desember, 17th, 2220. Cerpen yang ditulis dua abad lalu.`

Bangsat Kali Dongok

SANDUL merobek kertas pembukus silet yang baru dibeli dari warung di sebelah rumah. Lapisan kulit luar dan bungkus putih dalam — pengaman ketajaman silet— robek seketika. Ujung silet merobek jari telunjuknya. Darah menetes ke lantai.

Sandul menahan perih, tetapi tidak sesakit hatinya yang remuk redam. Dampratan Sani — temannya sesama pegawai kelurahan Kali Dongok— sungguh keterlaluan. Padahal, selama ini selalu membantunya. Sani adalah tipe pegawai yang tidak mau menyakiti teman sekalipun menjadi sansak olok-olokan. Tidak banyak bicara. Workacholic yang tidak peduli hal lain selain bekerja, dan bekerja.

�Dasar bangsat�, teriak Sani. Suasana rapat yang semula ramai perdebatan, tiba-tiba bak kampung tanpa penghuni. Sunyi.

�Kamu mau menang sendiri. Ketika berjuang untuk Pak Kasu-Im, kamu dimana? Kini merasa orang paling berjasa. Kami �berdarah-darah� berjuang�, Sani bicara keras karena sangat marah.

Kelurahan harus diurus transparan. Like and dislike harus dihapus. Kita membangun sistem. Tidak perlu orang pintar bicara —dan penjilat. Kita perlu orang yang mampu berpikir, dan bekerja�.

Sandul terpaku. Badannya bergetar, kemudian kaku. Untung jantungnya masih berdetak. Rapat bubar. Sandul dibawa ke rumah sakit. Kata dokter hanya schok. Sandul diantar ke rumahnya. Dia harus istirahat total sebulan penuh.
***

ISTIRAHAT di rumah, bagi Sandul bukanlah hal menyenangkan. Apalagi, keistirahatan terkarena jiwa terguncang. Sandul tidak pernah mimpi, Sani —orang yang selama ini ho oh saja— menimpakan godam ke ubun-ubun yang langsung merobek jantung hati. Sani yang selama ini dianggap enteng, mengiyakan apa yang dikatakan, mengerjakan apa yang dimauinya.

Kini, setelah �istirahat paksa�, baru bisa memahami, mengapa Sani begitu keras. Sani adalah sarjana cum laude dari universitas Zhimbawe yang kesohor itu. Tidak paham politik-politikan, apalagi, dipolotiki. Kata teman-teman, tidak banyak cincong.

Sani yang cerdas, Sandul yang menikmati. Tidak heran, pekerjaan kelurahan yang menjadi tanggung jawabnya �dilimpahkan� ke Sani. Hasilnya diklaim sebagai pekerjaannya. Tidak cukup sampai disitu, ketika melapor ke Pak Lurah, menjelek-jelekkan sembari menfitnah, Sani tidak bisa bekerja apa-apa. Pak Lurah yang tamatan program diploma, sama dengan Sandul, termangu-mangu. Sekolah itu tidak penting, yang penting �kepintaran�.

Pak Lurah terkesan dengan Sandul. Hampir semua pekerjaan resmi, dan atau, setengah resmi, apalagi yang bermuatan ekonomis dipercayakan kepada Sandul. Sandul �mengaturnya�, dan sebagian besar dilimpahkan ke Sani. Senangnya, Sani tidak pernah menyoal upah yang diberikan. Terima saja.

Semakin tahun, kekuasaan —apalagi kekayaan Sandul— semakin menumpuk. Sandul menjadi orang paling berpengaruh di kelurahan Kali Dongok. Sampai dikatakan, hitam-putih kelurahan ada di tangannya. Bahkan, secara de facto kekuasaannya melebihi kekuasaan Pak Lurah.

Rupanya, kehebatan kelurahan Kali Dongok diperhatikan pemerintah kabupaten. Pak Bupati meminta kesediaan Pak Lurah menjadi camat kecamatan Bulan Pagi. Tentu saja Pak Lurah menerima promosi tersebut dengan suka cita. Ada lagi satu hal yang ingin dihindarinya, cengkeraman Sandul.

Begitulah, ketika Sandul mau ikut boyongan ke kecamatan, ditolak dengan halus.

�Wah, bagaimana ya. Sebagai camat baru saya tidak berani. Pak Bupati belum bicara soal reshulffle. Nanti kalau ada peluang dikabari secepatnya�.

�Menjadi staf ahli bapak tanpa jabatan juga tidak mengapa Pak�, rayu Sandul sambil membayangkan kesempatan lebih terbuka di kecamatan.

�Ya, kalau begitu tunggulah beberapa minggu�.

Sebagai bawahan Pak Lurah lima tahun terakhir, Sandul telah mengkalkulasi peluang-peluang di kecamatan. �Aku tinggal menunggu�, dia membatin. Keyakinannya semakin tebal mengingat kepercayaan, atau lebih tepat, ketergantungan Pak Lurah padanya.

Satu-satunya yang membuat ngeri, bagaimana caranya membawa ikut Sani. Kalau Sani tidak dibawa, ya bisa runyam. Selama ini yang punya gagasan dan mampu mengerjakannya, kan Sani. Tapi, sudahlah. Itu urusan nanti.

Minggu berganti, setahun berjalan sudah. Tidak ada tanda-tanda kepastian dari Pak Lurah, e … Pak Camat. Padahal, hampir tiap minggu bersilaturrahmi ke rumah Pak Camat sembari membawa ikan telang dan buah-buahan sebagai pemanis kunjungan.

�Maaf Pak. Pak Bupati tidak membolehkan adanya mutasi pegawai, apalagi memasukkan pegawai baru. Kata beliau, kinerja kecamatan cukup bagus. Pertahankan yang baik, berkreasilah agar lebih baik, yang kurang baik dijadikan lebih baik�, begitu kata Pak camat minggu lalu.

Lemas. Pupuslah harapannya. Dulu, ketika pergantian lurah kelurahan Kali Dongok, cuek-cuek saja. Lalu, jarang masuk kantor. Sebab, dia yakin akan pindah ke kecamatan. Lagi pula, lurah baru kini �edan� orangnya. Ini pengaruh inner cirle. Segala sesuatu diukur dari kompetensi, dan apa pun dilaksanakan transparan. Kalau begitu, dari segala hal dia akan kalah bersaing. Satu-satunya hal paling positif di diri Sandul, dia tahu kemampuannya di bawa rata-rata

Kata-kata Pak Camat menjadi mimpi buruknya. Tetapi, Sandul bukanlah tipe orang yang cepat menyerah. �Pak camat boleh melecehkan, tapi aku akan �bermain� di kelurahan. Nanti, akan kugeser Pak Camat, biar tahu rasa. Aku harus �menguasai� kecamatan Bulan Pagi�, Sandul membatin.

Artinya, di lingkungan kelurahan Kali Dongok, Sandul akan berusaha memainkan perannya seperti dulu. Lagi pula, pegawainya kan gimana gitu. Dulu, bukankah dia yang mengatur segala pekerjaan dan proyek. Bagaimanapun semua pegawai pernah menerima jasa baiknya.

Jadi, ketika rapat evaluasi tahun pertama masa kepemimpinan Kasu-Im, Sandul datang paling duluan. Semingguan dia mempelajari apa yang dilakukan era kepemimpinan Kasu-Im. Begitulah, sejak awal rapat dibuka, Sandul langsung menohok dengan retorikanya yang terkenal membuai.

�Bolehlah�, katanya setengah memuji kebijakan Kasu-Im, �membangun sistem berlandaskan tranparansi memuaskan banyak orang. Tetapi, coba setahunan ini hampir tidak ada hasil nyata. Semua hal didiskusikan, dikaji, dibuat timbangan prediktif peluang sukses dan gagal, serta hitungan dampaknya. Tetapi, coba mana hasil konkretnya. Kalau hal ini berlangsung berlama-lama, kelurahan kita akan tertinggal�.

Tentu saja apa yang dikatakan Sandul direspon peserta rapat dengan berbagai argumen dan sudut padang berbeda. Rapat menjadi ramai. Sandul berbisik dalam hati. �Nah umpan mulai dipatuk. Tinggal memainkan emosi peserta rapat agar bersimpati, dan … masuk jalur.

�Sebentar�, kata sandul setengah berteriak ketika peserta rapat berebutan hendak bicara. Dulu, ketika dia menjadi tangan kanan Pak Lurah, begitu bicara agak keras, orang-orang akan diam. Tidak ada yang berani membantah.

�Saya ini dari dulu mendedikasikan hidup dan kemampuan untuk memajukan kelurahan kita. Bersama Pak Lurah dan terlebih dengan Pak Kasu-Im yang ketika itu sekretaris kelurahan, kami tidak pernah menghitung apa pun, apalagi untuk kepentingan pribadi selain memajukan kelurahan�.

Ketika menyebut nama Kasu-Im, Sandul berhenti sejenak agar menimbulkan efek bahwa dia telah lama bekerjasana dengan Kasu-Im.

�Apalagi, Pak Kasu-Im. Beliau betul-betul berprinsip hanya membangun kelurahan. Coba, sepuluh tahun menjadi sekretaris kelurahan, beliau tetap hidup sederhana. Waktu itu tidak ada istilah membangun sistem atau tranparasi segala rupa. Kenapa tidak model demikian saja yang kita lanjutkan?�, katanya sembari membentangkan tangan.

Peserta rapat mulai gaduh. Sandul tidak paham, banyak orang mengusung Kasu-Im dengan landasan untuk memperjuangan dua hal pokok, membangun sistem dan tranparansi. Apalagi Sandul mengambarkan seolah-olah �bagian� dari perjuangan Kasu-Im.

Tetapi, yang namanya Sandul tidak pernah paham orang lain. Prinsipnya, bicara sehebat mungkin, seolah-olah yang dibicarakan adalah kebenaran. Ketika orang diam dianggapnya setuju, dan apa yang diutarakan adalah kebenaran.

�Semasa Pak Lurah terdahulu, bermitra dengan Pak Kasu-Im, kami merancang apa yang baik untuk membangun dan menajukan kelurahan. Pegawai lain tinggal melaksanakan. Tidak seperti sekarang, rapat melulu. Kalau begitu, kapan bekerjanya?�

Kata-kata terakhir itu membuat Sani marah besar. Mukanya merah padam. Dialah yang melakukan apa yang diklaim Sandul. Sani tahu persis munafiknya Sandul. Menggerogoki proyek untuk keuntungan pribadi. Sani pernah dibawa ke Jogya melihat dua rumah mewahnya. Sebelum mendapatkan rumah kredit BTN, mendiami satu dari empat rumah Sandul. Itupun dengan sewa mahal. Sandul membarter dengan pekerjaan kelurahan. Sani tidak bisa menolak.

Kali ini kena batunya. Saking emosionalnya, Sani mengeluarkan kata-kata bangsat. Tidak ada yang membela. Semua berkoor …. hu …hu … mencibir dan menunjuk-nunjuk Sandul. Pandangannya gelap, dan heran kenapa ada di rumah sakit.
***
ENAM bulan hidup sebagai pegawai kelurahan biasa sungguh berat. Pendapatannya tidak mampu mendukung life style-nya. Dulu, hampir tiap minggu ke luar daerah dengan alasan kepetingan kantor padahal sekedar untuk mengunjungi gundiknya. Kini, tabungan mulai terkuras. Dia membayangkan kalau kondisi tidak diatasi secepatnya, bisa-bisa hartanya ludes. Apalagi, pihak KPK mulai mengendus proyek-proyek yang tidak beres, proyek mark up atau yang fiktif.

Sandul merenung, menapak tilas tingkah lakunya, mengurai satu per satu sepak terjangnya. Hatinya menjerit. Aku melakukan kecurangan, menzalimi kolega kantor, meraup uang negara untuk kepentingan pribadi. Ternyata harta hasil kecurangan tidak membawa berkah.

Rumahnya di Jogya digadaikan anaknya, yang satunya terbakar. Isterinya justru berselingkuh dengan sopirnya. Anak-anaknya, sekalipun diberikan fasilitas rata-rata, terjerat narkoba. Kini, ketika mencoba untuk berperan di kelurahan, ditolak secara kasar oleh koleganya. Untuk bekerja di kecamatan, ditolak secara terencana oleh Pak Camat. Dia merasa sendirian.

Sandul mulai sholat, sholat yang betul-betul sholat. Dulu, kalau sholat karena hal-hal lain. Malu dilihat orang kalau tidak sholat, atau sholat biar dianggap orang yang tidak meninggalkan agama. Sering setelah sholat malam air matanya meleleh menyadari segala perbuatannya. Dia sangat menyesal.

Konyolnya, sekembali dari Tanah Suci namanya ditambahi �Haji� di depan. Dia berharap dengan prediket tersebut akan mampu merem pandangan orang melakukan kejahatan finansial di kelurahan. Padahal, Nabi Muhammad SAW atau para sahabat tidak pernah memakai nama haji di depan nama Beliau. Haji, digunakan untuk menutupi kecurangan.

Semakin merenung, semakin malu dengan diri sendiri. Dari buku-buku agama yang dibaca —selama istirahat total sebulan— menyadari, Malaikat mencatat segala perbuatannya, tidak ketinggalan satupun. Sandul betul-betul malu kepada Sang Pencipta. Malu, sebenar-benarnya malu.

Pada hari ke 30, memutuskan bertobat nasuha. Tetapi, ketika silet yang dibukanya untuk mencukur kumis, melukai ujung jarinya, rupanya iblis tidak mau melewatkan momen tersebut. Sandul melanjutkan �kecelakaan� tersebut. Silet digoreskan ke urat nadi tangan. Darah bercucuran dan pandangannya gelap.

Keluarganya geger. Sandul dibawa ke rumah sakit. Raungan ambulan dikalahkan derau hujan lebat mengakhiri musim kemarau. Sandul tergolek lemah di ranjang putih ruang ICU rumah sakit Pelepas Jiwa. Hukuman Allah SWT tidak perlu menunggu hari akhir.
***

SEMALAMAN aku tidak tidur mencari informasi di tugob dimana lokasi kelurahan Kali Dongok. Sebagai peneliti kebudayaan kuno, aku melakukan kajian praktek korupsi di Indonesia. Semua beres, tinggal tingkat kelurahan.

Dasar bahlul, aku memaki diri. Bukankah yang kubaca cerpen? Cerpen itu fiksi. Sebagai orang modern yang hidup di tahun 2020 aku menyadari kebodohan. Betapapun kuatnya pikiran manakala dibarengi emosi karena kepentingan, kejernihannya akan sirna.

Banjarbaru, 7 Juni 2007

 

Dia Yang Ditelikung

 

Guntur sahut-menyahut menyebar ngeri berpadu jilatan kilat sambar-menyambar. Langit kelam menuangkan hujan bak dicurahkan. Rumput-rumput terkulai bukan lagi menjadi labuhan tanya, letih tidak bergoyang. Rapat di pendopo kelurahan Kali Dongok menebar aroma yang lain dari biasanya. Teguran alam mulai dimengerti. “Kenapa kita harus mengerahkan segala kemampuan. Apa sebenarnya yang kita takuti?”, tanya Sundal Bulung bingung.

“Ya, raksasa bukan, superman pun tidak. Apalagi pemegang kekuasaan. Tidak ada apa-apanya. Energi kita tersadot menghabisinya?”, Dalsun tidak kalah heran.

Tanya Sundal dan Dalsun menyentak urat sadar Sunlad. “Kita katakan, Dia tidak ada apa-apanya. Sampah, garbage. Hari-hari berkelana mencari modus baru, mengodamkan kekuasaan. Dia … cuek bebek saja”.

“Ya ya ya”, Landus menimpali. “Dia mungkin orang gila. Ada saja gagasannya. Ada saja yang dikerjakan. Kita katakan tahi kucing. Apa gagasan kita? Apa bukti karya selain mengatakan kita hebat?”

Landus Si Penghotbah melajutkan: “Kita katakan korupsi, Dia tidak pernah nanggap proyek. Tidak bermoral, Dia tidak pernah mengambil apa pun dari kita. Justru kita saling sikut berebut proyek.

Berlagak pendekar antikorupsi, tetapi ketika menerima proyek buka praktik. Setidaknya membiarkan ‘pemberi’ proyek melampiaskan kemampuan korupsinya. Kita pancarkan ketidakbecusan, peluangnya kita potong ke akarnya. Kita kampanyekan, Dia The Destroyer of Century” sampai public enemy.

Bukankah kita yang memanfaatkan fasilitas kelurahan. Menggotong kursi, meminjam mesin tik untuk selamanya. Halal-halal saja. Demi pekerjaan kantor. Tahun depan dibeli yang baru, kita bancakan lagi.

Kita canangkan, kitalah orang suci yang setia menghadap Sang Pencipta sembari membawa flasdisk kantor untuk menyimpan data-data perselingkuhan. Bagi Dia tidak boleh, bagi kita sah. Untuk Dia jangan, untuk kita halal. Tafsir pepatah adalah milik penafsir.

“Wahai para mitra sejati”, katanya puitis. “Bukankah kalender ini idenya? Ketika memulai, Dia tidak memakai dana kelurahan. Apalagi menadahkan celengan sumbangan. Kita ambil alih. Bekerja ngos-ngosan. Tidak beres. Salah adalah milik Dia paling pokok”.

Landus menarik nafas panjang: “Gagasannya kita ambil over. Kita telikung dan menelikunginya. Kita tipex sembari menyiarkan kabar keji, menari-nari di atas bangkai gagasnya yang kita bunuh tanpa darah. Kumpulkan orang-orang yang tidak paham sekalipun. Bukankah berarti mengakui kehebatannya? Ide tidak pernah bisa dibunuh, karya nyata apatah lagi”.

“Kita bicara obyektivitas. Sejarah ditulis dengan pena kebencian, fakta dibungkam dalam bungker recycle bin. Kita teriakkan kebenaran ilmiah di tabung aroma pisau dengki. Berdansa mabuk kumandangan mencuri ide. Fatwa kebersamaan dengan mengucilkan orang yang idenya kita tangguk. Iblis saja enggan, kita bangga”, Landus menarik nafas, berhenti sejenak.

“Kenapa pikirannya tidak bisa kita matikan. Kita sibuk mencari modus baru, berdiskusi dan berdebat. Kenapa?”. Landus memandang tajam Majelis Orang-Orang Hebat yang mulai menundukkan kepala.

“Saudara-Saudara. Kita katakan kepada semua penduduk Dia tidak becus beranyam minus. Sampai kapan kita merusak diri? Kenapa tidak ikut saja lomba mendulang fulus? Isteri-isteri kita akan tersenang, sumpah serapah mertua akan lenyap di telan badai tak bertepi, dan … fasilitas kelurahan untuk kemajuan kelurahan. Kapan malu kita bangkit menenteng barang-barang kelurahan seolah-olah milik nenek-moyang kita?”                                                                            ***

Bagi Landus koreksi diri kini mendarah pikiran. Suatu hari secara tidak sengaja bertemu Si Dia sehabis menfitnahnya ke Pak Lurah agar dipecat. Tapi, kisah berbalik ketika bersua dalam bingung diri. Ketika meperbaiki genteng rumah dan jatuh menimpa adik ipar, disumpahi mertua habis-habisan. Landus tergusur dari kompleks Mertua Indah. Bertemulah dengan Si Dia.

Landus bercurhatria. Bagaimana peliknya hubungan dengan isteri, terlebih dengan mertuanya yang garang. Hutang-hutang di koperasi, dan … ketakutan di relung hati setelah menggelapkan uang Majelis. Pikirannya teramat kusut. Kusut, sungguh kusut. Pikirannya melayang ke masa beberapa tahun lalu.

Sebagai tamatan SMU tidak mudah mencari pekerjaan. Kebetulan Landus berkenalan dengan Geisha, keponakan Pak Lurah Kali Dongok. Cinta bukanlah landasan nikah. Harapannya, hidup akan tertolong, bisa menumpang dan dapat pekerjaan di kantor pamannya. Mula-mula skenario berjalan seperti di pikiran, tetapi setelah anak pertama lahir, kenyataan menjadi yang sesungguhnya. Setelah curhat, mendapat pencerahan. Terlebih kiat-kiat jitu menghadapi mertua.

“Sudahlah Pak. Kita harus belajar memahami orang lain. Selesaikan saja masalah masing-masing. Sampeyan cari rumah, saya minta tolong developer. Mari kita bekerja, memperbaiki ekonomi. Bekerja yang nyata-nyata agar potensi berkembang. Dan, bla … bla …”.

Pertemuan tersebut sangat berkesan. Lalu muncul pikiran baru, bukan seperti yang di asah di Majelis. Harus jadi diri sendiri, hidup bukan untuk diperintah orang, digerakkan, dan atau dibanggakan ketika diupah sebungkus Nasi Ramas. Mulailah Landus bekerja demi bekerja, demi kebenaran. Bukan, sekali lagi, bukan karena suruhan.

Sejak itu mulai tersibak, betapa selama ini mengembangkan kebencian, iri dan dengki, pantulan kekerdilan diri. Bisa jadi, ketegaran Si Dia bukan karena hebat, tapi … apa yang dikatakan apa adanya, dan nyata-nyata ada. Bukankah kenyataan adalah kebenaran itu sendiri?

Landus memulai bersunyi diri. Membatasi diri dari Majelis. Komputer bututnya dimanfaatkan untuk menulis. Kalau dulu merasa hebat kalau sudah berdiskusi, atau membohongi orang-orang yang tidak mengerti, kini disayonarakan.

Membeli komputer baru, melunasi cicilan rumah, dan … senyum mertua mulai akrab dibibirnya. Kalau dulu, begitu bangun tidur nafsunya terseret untuk berdiskusi agar terlihat hebat, kini mulai serius membaca buku-buku. Apa yang terpikirkan ditulis, ide-ide mengalir. Rumah kini menjadi taman hati. Hidup sesungguhnya dimulai dari keluarga, Landus menikmati arti berkeluarga  dan kekeluargaan.

Sadar menyapa ramah. Kalau selama ini menjadi parasit di rumah mertua, di kelurahan, dan, ini yang lebih penting, kini mendapatkan ‘rahasia kehidupan’. Kalau dulu, bicara mengebu-ngebu tentang kehebatan dengan karya nol koma nol, kini, setelah berkarya, kepercayaan orang mengalir. Kesadaran dari asal-muasal, dari diri sendiri.

Satu rahasia yang didapatkan dalam berhubungan dengan ‘dunia luar’,   memberikan yang dibutuhkan bukan mengutamakan kebutuhan sendiri. Dulu, kalau diberi kepercayaan, selalu untuk yang pertama sekaligus yang terakhir. Kini, diberi kepercayaan dan diberikan lagi karena hasilnya memang ada. Rupanya karya jauh lebih hebat dari kata-kata. Karya adalah duta promosi sesungguhnya.

Landus memahami, tidak ada yang salah dengan Majelis, setidaknya ketika wacana dijadikan primadona. Hanya saja, kehebatan berhenti pada bicara. Menilai orang lain, memaki karya orang, dan berhenti disitu. Bukankah menipu orang berhasil sebelum orang sadar? Lebih parah menipu diri sendiri.

Fatomorgana adalah pikiran kosong yang tidak maujud. Menututpi kebodohan dengan kebodohan lebih besar,  untuk menutupi dusta diperlukan dusta lebih besar. Kini berposisi apa adanya. Tidak lagi membusungkan dada, menerima diri apa adanya. Setiap ketek pasti bau, yang perlu disiasati, bagaimana tidak merugikan diri, apalagi sampai membunuh orang lain.

Sejarah telah terkurung di masa lampau, namun butir-butir mutiaranya bersinar tiada henti. Musuh manusia sesunguhnya adalah dirinya. Selama ketidakmampuan menghias diri, lalu mencari kesalahan di saku orang lain, selama itu batas kesadaran akan dilumat awan.

Kesadaran Landus akhirnya menjadi trigger bagi anggota Majelis. Bekerja dan bekarya justru menjadi pembunuh dengki sebab energi menjadi terfokus. Majelis Orang-Orang Hebat menoreh makna sesuai artikulasi. Fajar kecerahan menyinari kelurahan Kali Dongok. Petir sambar-menyambar, kilat yang menghantar takut, rumput  yang layu tak mampu bergoyang adalah peringatan Sang Khalik.

Kemajuan dimulai dari kejernihan pikiran dan ketulusan hati. Belenggu pikiran adalah ketika pikiran tidak mampu memahami kebenaran, kebenaran yang direkat atas persepsi. Menipu diri dan menipu komunitas hanyalah lalat yang hinggap di tumpukan sampah. Sanpahlah yang menebar bau busuk dan hanya orang-orang dungu yang tidak paham sampah adalah produk akhir pembuat sampah. Orang cerdas mampu mengolah sampah jadi kompos. Terkutuklah produsen sampah yang mencemari hati sebening kalbu.

Memula namun pasti, kini kebersamaan menjadi kunci kemajuan kelurahan Kali Dongok. Iblis telah mengambil haknya dan genderang kemanusian tertabuh damai di relung hati penduduk. Kemajuan selalu dimulai dari nurani. Majelis Orang-Orang Hebat Kali Dunguk memacu kereka kencana menuju tambatan hakiki. Masa lalu adalah sejarah, masa depan kehidupan sesungguhnya.

                                                               ***

Aku tertawa geli membaca cerpen yang semula sulit dipahami. Akhir-akhir ini, karena mengambil spesialis Kebudayaan Kuno aku sering membaca cerpen-cerpen kuno. Tugop —semacam komputer dinding— mencatat ribuan cerpen. Aku menutup remote control tugob, Maret, 17th, 2220. Cerpen yang ditulis dua abad lalu.

MAHKAMAH TAK BERBIAS

 

Silbi sungguh kaget. Tiba-tiba dia berada di ruangan serba putih. Lantai, dinding, plafon, meja, bangku, dan benda-benda di ruangan tanpa pintu dan jendela tersebut berwarna putih. Darah Silbi terkesiap ketika memandang pakaiannya yang hitam. Kontras dengan ruangan menawan tersebut. Ada satu lagi yang hitam, … sebuah kursi. Terletak diantara meja panjang di depan dan deretan seratusan kursi di belakang.“Duduk”. Silbi tidak sempat kaget sebab kakinya otomatis melangkah. Sebenarnya hendak mencerna apa yang terjadi, tetapi apa daya, kakinya tidak mau kompromi. Dalam persekian detik terduduk. Begitu pantatnya menjejak bantalan kursi, belenggu tangan yang terkait di kursi mencengkeram tangan, begitu juga kakinya. Silbi betul-betul tidak paham apa yang sedang terjadi.Apalagi kedua ‘pengawal’ yang menggiring ke ruang serba putih tersebut mendatangkan takut tak terkira. Jangankan tersenyum, tatapan matanya langsung ke hulu hati membuat ngeri mencapai puncaknya. Silbi sungguh tak tahu berada dimana, dihadirkan oleh siapa, hendak diapakan, atau sedang dalam ‘upacara’ apa. Bingung.

Dalam keheranan, entah datang dari mana, di meja telah duduk empat orang berpakaian serba putih. Padahal ruangan tersebut tanpa pintu dan jendela. Badannya tinggi besar, berjanggut tebal memutih dengan tatapan mata teduh berwibawa. Dan, entah mengapa, Silbi seolah-olah melihat kursi-kursi di belakang telah terisi penuh. Padahal, jangankan menoleh, menggerakkan leher saja tidak bisa. Silbi terpaku duduk dengan pandangan lurus ke empat orang yang duduk di depan. Apakah ini ruang pengadilan?

Silbi mencoba mengumpulkan ingatannya. Rasa-rasanya, kemaren dia sedang bercengkerama dengan isteri dan anak-anaknya. Kebetulan anak tertuanya baru kembali belajar dari luar negeri dan mengatakan segera akan ke luar negeri lagi bekerja. Yang membuat Silbi tidak bisa bernafas anak tertuanya tidak mau menerima bantuan.

“Okelah, kalau kamu tetap bersikeras ke luar negeri. Memang di negara kita gaji belum memuaskan orang sekaliber kamu. Tetapi, kenapa menolak bantuan Bapak? Kamu perlu bekal di negeri orang”, Silbi berkata tenang meyakinkan.
“Saya bisa mencari uang. Terima kasih atas perhatian Bapak”, jawab Dakas, anaknya setengah cuek.

“Bagus itu. Tapi, Bapak tidak mau kamu sengsara di rantau orang. Bagaimana kata dunia kalau anak seorang petinggi terlunta-lunta. Kamu jangan membuat malu Bapak”.
“Saya tidak mau. Berapa gaji Bapak sebulan? Dari mana rumah megah ini? Bagaimana Bapak bisa membeli apartemen di Singapura, Hongkong, dan Hollywood. Dari mana Bapak dapat uang yang didepositokan bermilyar-milyar itu? Cukuplah sudah perbuatan Bapak. Jangan disambungkan ke saya. Saya tidak mau menanggung beban Bapak kelak kemudian hari”.

Jawaban Dakas yang tidak terduga membuat darah Silbi menggelegak. Sekujur badannya bergetar sembari bergerak mau mencengkeram leher Dakas. Bahkan, mau membunuhnya. Anak tidak tahu diuntung. Dari kecil dibesarkan, disekolahkan sampai ke luar negeri, e… begitu pulang mengumbar kata-kata bengis. Dakas, anak Silbi yang cerdas dan berbakti, betul-betul menimbulkan amarah. Kog bisa-bisanya berkata demikian.

Tetapi, dada Silbi terasa sakit. Lalu … badannya terasa ringan, melayang. Terlihat isterinya meraung menahan badan seseorang yang hampir roboh. Anconomis, Jamdun, Kandato, Bangbir, anak-ananya ikut-ikutan menangis sekeras-kerasnya. Dakas juga menghampiri seseorang itu. Lalu, keponakan dan seisi rumah. Tetangga berdatangan. Sekali lagi dipandanginya dalam-dalam. Oh, seseorang itu mirip dengannya. Silbi heran, kenapa mereka menangisi orang yang mirip dirinya? Apakah itu dia? Lalu, Silbi tidak tahu apa-apa lagi. Melayang ke dunia tanpa rasa.
***

“Berapa gaji Saudara sebulan?”, Silbi kaget sembari menatap orang pertama di meja depan yang menanyainya.
“Dua juta enam ratus ribu ditambah tunjangan dua juta lima ratus ribu”. Silbi merasa tidak menjawab tetapi jawaban itu terasa keluar dari dirinya.
“Pengeluaran Saudara sebulan?”, tanya orang kedua.
“Sembilan juta rupiah”, lagi-lagi keluar jawaban otomatis padahal dia sedang berpikir untuk memberi jawaban. Kali ini rinci dari biaya rumah tangga, telepon rumah, HP, sampai biaya perselingkuhan dengan bendaharanya. Pokoknya detail.
“Apakah Saudara punya penghasilan selain itu”, tanya orang ketiga.
“Tidak. Saya tidak punya keahlian lain yang mendatangkan pendapatan”, lagi-lagi jawaban otomatis.

“Dari mana Saudara mendapatkan uang untuk membeli apartemen di Singapura?”, tanya orang ke empat yang nampaknya lebih ganas. Dalam hati Silbi mau mengibuli penanya. Mana tahu tengah bermimpi saja.
“Sogokan dari pengusaha Brutrus ketika menangani proyek rekonstruksi korban gunung berapi”, tiba-tiba suara nyaring menggelegar dari belakang. Kali ini Silbi bisa menoleh. Ternyata yang bicara adalah Brutrus.

“Rumah yang di Hongkong dan Hallywood duitnya dari mana? Tidak masuk akal saudara membeli apartemen di kompleks selebriti dunia tersebut”, tanyanya tidak memberi ampun.
“Proyek pendidikan”, kali ini Jadas, pemborong yang ditunjuknya menjawab tanpa kasihan memapar keculasan Silbi. Bahkan ditambahkannya: “Ada bangunan sekolah yang tidak pernah berdiri”.

Lalu dicecar berbagai pertanyaan, tentang kebijakannya yang tidak memihak publik, tidak menyekolahkan dan memberdayakan staf cerdas, menghambat promosi staf pintar berselimut alasan yang dicari-cari. Jangankan memajukan lembaga, menjadikan WC-WC di kantor agar bersih saja tidak mampu sekalipun WC di ruangannya berbatu pualam.

Dan, … jawaban yang benar selalu diutarakan mereka yang duduk di kursi belakang. Tidak ada yang meleset. Persis sebagaimana terjadi.

“Saudara Silbi”. Kini orang pertama bertanya dengan anggun. “Tugas Saudara membangun kualitas sumber daya manusia, membangun bangsa, begitu kan?”.
“Ya”, kali ini Sibli menjawab tanpa diintervensi. Rupanya kalau dijawab jujur tidak ada intervensi jawaban otomatis.

“Bagus. Tetapi, mengapa Saudara bisa mempunyai harta melimpah sementara lembaga yang Saudara pimpin serba kekurangan. Sekolah-sekolah di dekat rumah Saudara hampir roboh. Padahal tanggung jawab Saudara. Saudara tidak pantas mendapatkan semua itu. Gaji Saudara tidak cukup untuk itu”.
Belum sempat menjawab dilanjutkan: “Saudara merasa telah berbuat demi memajukan bangsa.

Padahal, Saudaralah yang menyebabkan menjadi bangsa pecundang. Pendidikan memerlukan kontribusi, Saudara mencari harta berlimpah dari pendidikan. Saudara menyalahgunakan amanah”.
Tanpa perasaan, semua pertanyaan kini dijawab seadanya. Kalau berdusta nanti ada intervensi jawaban. Dia sadar, ketika mencoba berdusta lagi, ketika ditanya kenapa pergi ke negara Ceko menghadiri pertemuan astronomi internasional padahal bidang keahliannya pemerasan susu kuda.

Tiba-tiba dari belakang datang bantahan dari Prago yang ahli astronomi. Sibli tidak mengirim Prago karena dia tahu Prago lebih pintar. Silbi akhirnya pasrah. Pasti sudah, berdusta percuma.

Muncul pikiranan jernih, mengapa dulu tidak menyekolahkan staf, mengapa mengumpulkan harta menjadi hobi utama, bukankah kalau digunakan untuk membangun sekolah, rumah, mobil, dan depositonya bisa membangun beratus-ratus sekolah? Buat apa memakai parfun Paris kalau got-got di lingkungan berbau busuk. Sebagai pemimpin tidak mengembangkan potensi bawahan tapi menyedot energi mereka untuk diklaim menjadi kemampuannya. Keterlaluan memang.

Dulu, kalau berdusta selalu mulus. Ada memang anak buahnya yang tahu, tapi tidak seorangpun berani ‘bernyanyi’. Kalau ada yang berani buka suara, bertimbun-timbun sanksi telah tersedia. Tidak jarang dia menyuruh para punggawa melakukan pembunuhan karakter kepada siapa saja yang mencoba berpikir dan berbuat lebih maju darinya.

Kini, dengan sistem ‘jawaban otomatis’ dari dirinya, tidak bisa berbuat apa-apa. Sedikit saja berdusta, saksi-saksi hidup segera membantah. Alhamdulillah, untuk pertama kali selama ‘hidupnya’ menjadi orang jujur. Kejujuran yang telah ketinggalan kereta.
Atas segala kejujuran dadakannya, Silbi divonis bermukim di neraka jahanam. Tetapi, ketika palu akan dipukulkan, tiba-tiba seseorang berpostur hitam tinggi bertampang seram maju ke depan.

“Tunggu dulu”, katanya lantang mengumbar marah.
“Saya sangat tidak setuju”, katanya mantap dengan segala ekspressi kebengisan.
Orang ke dua langsung merespon. “Hai Iblis, kenapa kamu tidak menerima Silbi sebagai temanmu? Bukankah tugasmu merayu manusia agar punya teman di neraka sampai kekal?”.
“Tidak bisa. Memang dia binaan saya. Tapi dia kurang ajar”, jawab Iblis dengan garang.
“Apa masalahnya”, timpal orang ketiga.

“Makhluk ini keterlaluan. Jangan-jangan bukan turunan manusia. Dia menerima saranku melakukan kecurangan, memperkaya diri dengan keserakahan, menari-nari di tengah derita anak bangsa.”
“Berarti kamu sukses. Bujuk rayumu berhasil. Selamat”.
“Tidak. Tidak sama sekali. Sebagai guru, sebagai pembina, aku kecewa berat. Bayangkan. Ketika dia ke Tanah Suci, tega-teganya melempari aku ketika melempar Jumrah. Sesama bis kota saja tidak etis saling mendahului. Keiblisannya melebihi kemampuanku. Aku tersinggung berat. Jangan masukkan dia ke neraka. Aku tidak mau disaingi”.*)
****

Wah … wah … Ada-ada saja. Lagi-lagi aku menemukan cerpen yang rada aneh-aneh. Kreativitas penulis Abad XXI boleh juga. Bisa-bisanya membuat cerpen nun jauh ke alam yang lain.
Sebagai mahasiswa di Abad ke XXIII, tepatnya tahun 2220, aku mengagumi nenek moyangku. Kami hidup di era teknologi tinggi dengan gerak kehidupan serba cepat hingga membuat hidup hambar. Nenek moyangku justeru bisa membuat berbagai hal pelipur hati pengasah jiwa sumur kearifan yang mereka namakan sastra. Yang sedang aku baca di tugob —semacam komputer dinding— mereka namakan cerpen atawa cerita pendek.

Hari in aku putuskan, mengambil spesialis Sastra Kuno untuk penelitian disertasi S3 ku.

Banjarbaru, 17 September 2006.

*)Diadopsi secara kreatif dari guyonan Amien Rais saat berceramah di FISIP Unlam, 16 September 2006.

 

Pengadilan Oemar Bakry

Siang itu, suasana ruang sidang pengadilan negeri Seberang Lautan begitu mencekam. Sidang yang dipimpin hakim ketua Ratul SH dengan hakim anggota Rapal SH dan Rupil SH, MH, semula diprediksi berjalan mulus. Pada sidang sebelumnya, Oemar Bakry, S.Pd. sebagai tertuduh, tidak pernah membantah BAP yang diajukan kejaksaan berdasarkan penyidikan kepolisian.Saksi-saksi tidak seorangpun yang meringankan. Penasehat hukum Oemar Bakry tidak pula ‘hidup-hidup’ membela. Nampaknya, sesuai tututan jaksa, Oemar Bakry akan divonis hukuman maksimal 25 tahun penjara. Kasusnya penyelewengan dana pembangunan sekolah unggulan Dunia Baru. Tidak tanggung-tanggung, dari dana pembangunan sebesar Rp.100 milyar, Rp.50 milyar dituduhkan diselewengkan Oemar Bakry.

Atas pertanyaan dewan hakim, Oemar Bakry selalu menjawab: “Tidak tahu”. Kalau pertanyaan lebih didalamkan, dijawab: “Saya tidak tahu menahu, Pak”.
Tentu saja membuat hakim kesal: “Saudara ini bagaimana. Sebagai pihak yang bertanggungjawab atas proyek pembangunan sekolah Dunia Baru, selalu menjawab, tidak tahu. Ingat ! Saudara telah disumpah untuk berkata jujur”.

Walaupun suara hakim meninggi, Oemar Bakry tetap saja menjawab: “Sungguh Pak Hakim. Saya tidak tahu. Saya telah jujur. Yang mengerjakan kontraktor, PT Bumi Bergoyang pimpinan DR (HC) Fulus Money”.
***

Susana berubah ketika hakim mengajukan pertanyaan terakhir kepada pembela, Lantunan SH, MH.
“Saudara pembela, apakah masih ada yang akan saudara utarakan?”, tanya Ratul sembari menyiapkan palu pertanda keputusan segera akan diambil.
“Saya tetap pada pendirian. Pengadilan ini telah cukup bukti untuk membuktikan Oemar Bakry menyelewengankan dana pembanguan sekolah Dunia Baru. Saya tidak bisa membela lagi. Oemar Bakry tidak kooperatif. Silahkan Pak Hakim mengambil …”.

Belum lagi Lantunan selesai melakukan pembelaan terakhir yang tidak membela, tiba-tiba, seorang berbadan tegap berdiri bicara lantang sambil mengebrak meja.
“Tidak masuk akal. Ini bukan pengadilan. Ini komedi pengadilan”.
“Saudara tidak berhak dan tidak diminta bicara. Diam dan duduk di tempat”, bentak Ratul.
“Tidak bisa. Saudara-saudara, pencemar pengadilan”, katanya lebih lantang dengan badan bergetar menahan emosi. Suasana menjadi gaduh. Tiba-tiba suara lembut tetapi tegas memecahkan kegaduhan.

“Saudara Hakim Ketua. Ada baiknya didengar saudara ini” sambil menoleh kepada orang berbadan tegap dan bertato, “Siapa nama saudara?”.
“Hakal”, jawabnya dengan suara yang masih lantang.
“Tapi, Pak, ini di luar prosedur tetap …”.
“Biar saja. Sebagai buah reformasi, tidak ada salahnya kita mereformasi prosedur pengadilan”.
Rupanya, Ratul tidak membantah lagi. Harap maklum, yang bicara adalah Dr. Aliman, S.H. M.H, Ketua Pengadilan Seberang Lautan.
“Silahkan saudara, Hakal”, katanya ogah-ogahan.

“Tidak masuk akal Pak Oemar Bakry melakukan penyelewengan, korupsi. Beliau orang yang sangat sederhana. Saya tahu persis kejujuran Beliau. Beliau pendidik yang berkehidupan sederhana. Jangankan menyelewengkan uang Rp.50 milyar, membeli sepeda motor bekas seharga Rp.3 juta saja tidak mampu. Kemana-mana pakai sepeda pancal kumbang. Begitu sejak saya menjadi murid Beliau, sampai sekarang. Tidak ada yang berubah”.

“Bukan disitu fokusnya”, sergah Ratul dengan amarah memuncak karena merasa digurui dan diintervensi.

“Tapi begitulah kenyataannya. Beliau korban persekongkolan”.
“Maksud saudara”, badan Ratul yang tambun terangkat pertanda kemarahan.
“Seperti Pak Hakim, Sempoyongan, begitu juga penyusun BAP, dan penuntut, dan pembela, kan sama-sama mantan murid Pak Oemar. Kita sama-sama mantan murid beliau”,
“Tidak ada korelasinya”, Ratul memotong.

Tidak mau kalah Hakal balik memotong: “Justeru disitu masalahnya”.
“Saudara ngawur. Bisa-bisa saudara dituntut karena mengacaukan jalannya persidangan”, Ratul mengamcam.
“Bapak Hakim, penyidik dan penuntut, Sempoyongan dan pembela, kan dulunya murid Pak Oemar?”
“Saya memperingatkan saudara”.
“Bapak-Bapak dulu, dua puluh tahun lalu, kan pernah diskor Pak Oemar karena menggelapkan uang OSIS”.

“Cukup”, kata Ratul sembari mengebrak meja.
“Ini pengadilan balas dendam. Saya di-DO, di keluarkan dari sekolah karena dituduh menggelapkan dana OSIS. Hakimnya waktu itu kan paman Pak Hakim. Padahal, saudara-saudara yang bersekongkol. Kini saudara akan menjerumuskan Pak Oemar. Tidak akan pernah saya biarkan.”

Kesabaran Ratul sampai pada puncaknya. Dengan suara bak auman harimau, Ratul memerintahkan security pengadilan: “Saudara Satpam, amankan orang ini”.
Perintah Ratul tidak diindahkan. Pak Satpam diam di tempat.

“Saudara Satpam. Amankan orang ini”, perintahnya dengan suara full bar.
Pak Satpam tidak mempedulikan. Malahan dengan keberanian yang entah dari mana datangnya, lelaki tegap bersenjatakan pentungan itu angkat bicara: “Tidak mungkin guru sejujur Pak Oemar melakukan korupsi. Saya muridnya. Beliau tidak pernah dusta”, katanya tak kalah garang.

Ruang sidang menjadi gaduh. Tetapi, tiba-tiba seorang lelaki yang rambutnya tinggal sedikit, memutih pula, angkat biacara. Dia adalah Dekan Fakultas Hukum Universitas Seberang Lautan. Penuh wibawa dia berujar.

“Saudara-saudara. Saya sengaja datang ke pengadilan ini, karena sejak semula mencurigai kasus ini. Saya tahu persis siapa Pak Oemar Bakry. Dan, tahu juga tack record pelibat persidangan ini. Mereka semua mantan murid saya. Saya yang menanda tangani ijazah mereka”.

Susana yang semula gaduh, menjadi tenang. “Saya telah melakukan penyelidikan diam-diam. Dan, nampaknya mantan murid-murid saya ini mengulang lagi kelakukannya. Dulu, ketika di fakultas, merekalah yang menggelapkan dana Dewan Mahasiswa. Saya mengampuni dengan harapan mereka memperbaiki diri. E … ternyata kelakuan mereka tidak berubah, makin menjadi-jadi.

“Saudara-saudara. Sebagai negara hukum dan karena mereka yang menakhodai perkara ini, biarlah kita terima apa yang mereka putuskan. Saya sudah berbicara dengan Dr. Aliman, S.H. M.H, akan meninjau keabsahan pengadilan ini”. Ucapan Prof. Dr. Tajimun, S.H.MH membuat suasana hening. Semua orang terdiam dengan pikiran masing-masing.

Tapi, tiba-tiba dari arah belakang, membahana suara … huuuuu … huuuuu … Lalu, ada yang membanting kursi. Lalu, ada yang melempar air mineral. Lalu mendekati meja hakim, menghampir penuntut, mendekati penyidik, Sempyongan dan pembela … Lalu, … buk … buk  … bogem mentah dilayangkan.
Ketika polisi datang, penuntut, hakim, Sempoyongan dan pembela sudah babak belur. Untung saja nyawa mereka masih tertolong. Polisi malahan tertawa menyeringai memborgol kawanan ini. Pengadilan berakhir dengan kericuhan.
****

Aku tersenyum geli-geli basah. Tugob —semacam komputer dinding— memberi catatan: Demikian cerpen bertajuk Pengadilan Oemar Bakry dari cerpernis tidak dikenal, ditulis untuk tidak dipublikasikan, 12 Oktober 2070. Tidak ada keterangan, apakah cerpen ini diangkat dari kisah nyata. Yang pasti adalah cerpen.

Tentu, bagi kami ini adalah sesuatu yang aneh, kuno. Kehidupan kami di tahun 2220 tidak mengenal yang namanya pengadilan. Dengan kemajuan tehnologi, tidak seorangpun bisa berdusta apalagi membohongi orang lain. Sistem kehidupan yang kami kembangkan dimana apa saja yang dilakukan seseorang langsung terekam di super memory negara.

Kadang-kadang aku berkahayal, asyik juga hidup di jaman purbakala. Orang ‘bebas’ berkreativitas termasuk berbohong. Ah, dunia mereka adalah hiburan belaka. Aku bangga mengambil spesialis kebudayaan purba. Cerpen itu rupanya mengasyikan, bo.

Banjarbaru, 24 Maret 2005.

Jamal T. Suryanata

Jamal T. Suryanata
Jamal T. Suryanata, sekadar nama-pena Jamaluddin, terlahir pada 1 September 1966 di Kandangan (HSS), Kalimantan Selatan. Setelah lulus dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah di STKIP PGRI Banjarmasin dengan skripsi berjudul ?Sajak-sajak Ajamuddin Tifani dalam Sentuhan Sufistik: Hermeneutika Kerohanian Sebagai Titik Tolak Pengkajian? (1999), terakhir ia menyelesaikan Program Pascasarjana ? untuk program studi yang sama ? di FKIP Unlam Banjarmasin dengan tesis berjudul ?Cerpen Banjar 1980-2000: Tinjauan Struktur, Isi, dan Konteks Sosialnya? (2003). Dalam kapasitasnya sebagai penulis, ia sempat beberapa kali memenangkan berbagai sayembara penulisan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Di antaranya sebagai Juara II Sayembara Cerpen Indonesia DKD Kalsel (1992), Juara I Sayembara Penulisan Buku Bacaan Anak Tingkat Nasional (1993), Juara III Sayembara Cerpen Indonesia DKD Kalsel (1994), Juara II Lomba Cipta Puisi Batu Beramal 2 Se-Indonesia versi Studio Seni Sastra Kota Batu, Malang (1995), Juara I Sayembara Penulisan Fiksi Anak Tingkat Nasional (1997), Juara I Sayembara Penulisan Buku Bacaan Anak Tingkat Nasional (1998), Juara I Sayembara Mengarang Esai tentang Pengajaran Sastra Tingkat Nasional (1998), Juara I Lomba Menulis Modul Lingkungan Hidup Se-Kalsel (2000), dan Juara I Lomba Menulis Cerpen Bahasa Banjar (2007). Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, esai sastra, dan artikel umum lainnya pernah dimuat, antara lain, di Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin, Bali Post, Surya, Kompas, Koran Tempo, Republika, Swadesi, Ceria Remaja, Suara Guru, Al-Zaytun, Matra, Gong, Matabaca, Basis, Horison, Dewan Sastra, Jurnal Puisi Rumahlebah, Jurnal Cerpen Indonesia, dan Jurnal Widyaparwa. Kegiatan sastra-budaya yang pernah diikutinya antara lain Festival Puisi Kalimantan (1992), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Program Penulisan Esai Majelis Sastra Asia Tenggara (1999), Dialog Borneo-Kalimantan VII (2003), Ubud Writer?s & Reader?s Festival (2004), Cakrawala Sastra Indonesia (2005), Kongres Cerpen Indonesia IV (2005), Kongres Cerpen Indonesia V (2007), dan Temu Sastra Indonesia III (2010). Sejumlah karyanya ikut disertakan dalam beberapa antologi bersama seperti Festival Puisi Kalimantan (1992), Tamu Malam (1992), Bosnia dan Flores (1993), Batu Beramal 2 (1995), Kebangkitan Nusantara II (1995), Serayu (1995), Jendela Tanah Air (1995), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Wasi (2000), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2000), Perkawinan Batu (2005), dan Jendela Terbuka (2005). Bukunya yang sudah diterbitkan berjudul Untuk Sebuah Pengabdian (1995), Mengenal Teknologi Penerbangan dan Antariksa (1998), Di Bawah Matahari Terminal (2001), Problematik Pembelajaran Bahasa dan Sastra (2003), Galuh (2005), Penyesalan Sang Pemburu (2005), Bulan di Pucuk Cemara (2006), Debur Ombak Guruh Gelombang (2010), Bintang Kecil di Langit yang Kelam (2010), Guruku Tidak Kencing Berlari (2010), dan Tragika Sang Pecinta: Gayutan Sufistik Sajak-sajak Ajamuddin Tifani (2010).

Agni Kasmaranwati

AGNI KASMARANWATI.  Lahir di Samarinda, 5 mei 1969. Mengenyam pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Mulawarman. Wanita yang kini bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Dinas Pendidikan Kota Samarinda   ini suka menulis puisi dan cerpen sejak SLTP. Puisi pertamanya saat kelas 1 SMP dimuat di majalah Kuncung dan Bobo. Selanjutnya cerpennya dimuat di berbagai Koran harian lokal dan nasional di Indonesia. Cerpennya juga terhimpun dalam Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia (ed. Korrie Layun Rampan).

Pisau di Bawah Bantal

Cerpen : Agni Kasmaranwati
            BULAN memanggilnya Om.  Bulan tidak tahu nama lengkapnya. Ibu pun memanggilnya hanya Mas Syahdul  saja. Dilihat dari penampilannya yang rapi, bisa diperkirakan dia orang berduit. Mobilnya keluaran terbaru, yang harganya di atas tiga ratusan juta rupiah. Handphonenya di atas harga lima jutaan rupiah. Sepatunya juga jutaan rupiah lebih. Di jari tengah tangan kanan dan kirinya ada cincin, yang harganya juga tentu saja mahal. Jam tangannya jutaan rupiah.  Kata teman-teman ibu, dia itu anggota DPRD.  Bulan percaya itu. Karena, saat Pemilu lalu, Bulan melihat wajahnya terpampang di baliho-baliho di pinggir jalan.  Bulan juga percaya lelaki buncit itu berduit, karena satu hari sebelum pencoblosan surat suara saat Pemilu lalu, tim sukses si Om membagikan uang seratusan ribu rupiah ke masyarakat, termasuk ke teman-teman ibu.
            Setelah terpilih, Si Om rajin menemui ibu. Dia berjam-jam berduaan dengan ibu di dalam kamar. Bila si Om datang (sekitar 3 kali dalam seminggu) dia selalu memberi Bulan selembar uang lima puluhan ribu rupiah. Lumayan, buat uang sangu sekolah.
            Ibu Bulan tukang pijat. Usia beliau sekitar 24-an tahun. Mereka pendatang dari Malang. Di awal tahun 2006 ibu merantau ke Samarinda. Diajak teman satu kampung. Katanya, di Kalimantan Timur banyak kerjaan. Banyak perusahaan tambang batu bara. Katanya lagi, gaji di daerah kaya devisa terbesar di Indonesia itu lebih besar dibandingkan di Jawa. Ibu tergiur, bersama dengan sekitar 10-an orang wanita di kampung, mereka lantas naik kapal menuju Samarinda. Bulan belum diajak. Selain Bulan masih kecil, mungkin saat itu dia akan menghadapi ujian kelulusan Sekolah Dasar. Bulan ditinggal bersama nenek.
             ‘’Nanti bila ibu sudah ada tempat tinggal yang jelas, kamu akan ibu jemput,’’ ibu membujuk.
            Pagi hari, ketika Bulan bangun tidur, ibu sudah tidak ada lagi. Bulan menangis. Hingga bengkak matanya. Nenek berusaha menghibur. “Sekalipun kamu perempuan tidak boleh cengeng,’’ kata nenek, yang hidup sendiri setelah kepergian kakek tahun 2001 lalu.
            Bulan juga perlu menceritakan; ibu hidup sendirian, setelah  bapak tewas mengenaskan ditembak polisi di depan rumah. Saat itu usia Bulan 2 tahun lebih.  Bulan kurang begitu ingat wajah bapak. Yang Bulan ingat, bapak selalu pulang tengah malam. Cerita tetangga, dan dari mulut teman sepermainan yang Bulan dengar, kata mereka bapak seorang penjahat. Ada juga yang bilang, bapak seorang teroris. Yang Bulan tahu, seperti juga ibu, bapak orang baik. Beliau kerap membelikan mainan.  Bila bapak ada di rumah, kami sering bermain bersama. Setiap hari selama setahun, Bulan terus bertanya kepada ibu, “ Bapak kemana?”.  Setiap pagi, ketika bangun tidur Bulan mencari-cari bapak. Biasanya bapak mengantar ke sekolah. “Bapak kerja,’’ selalu itu jawaban ibu dengan disertai mata yang berkaca-kaca.
            Setelah ibu pergi ke Samarinda, Bulan tinggal bersama nenek. Keluarga lain, semenjak wafatnya bapak tak pernah ada yang berkunjung ke rumah nenek. Kata nenek, ibu anak satu-satunya. Sedangkan bapak, menurut nenek berasal dari Sumatera, yang keluarganya pun nenek kurang mengerti di mana tinggalnya.
            Setelah 2 tahun bekerja di Samarinda, ibu kembali ke Malang. Selama 2 tahun Bulan hanya mendengar suara ibu melalui telepon. Suara ibu yang setiap bulan menanyakan kabar dan memberitahu uang sudah dikirim. Bulan gembira sekali ketika ibu datang. Bulan memeluk haru ibu, dengan rasa rindu meluap-luap.
             Ibu ingin mengajak tinggal bersama di Samarinda. Menurut ibu, dia sudah memiliki rumah. Rumah sederhana yang dikumpulkan dari hasil kerja. Bulan diminta untuk pindah sekolah ke Samarinda.  Sebenarnya Bulan tidak ingin berpisah dengan nenek, yang hidup sendirian. Tapi ibu tetap bersikeras mengajak  ke Samarinda. Nenek tidak mau ikut, ingin tetap di Jawa saja.
            Di awal tahun 2008, Bulan dan ibu sudah berada di Samarinda. Setelah beberapa hari di Samarinda, baru bulan mengetahui, bila ibu bekerja di sebuah panti pijat. Setelah beberapa minggu, baru Bulan mengetahui kalau panti pijat di tempat ibu bekerja bukan sekedar panti pijat biasa. Ada plusnya. Plusnya itu berarti ada pelayanan tambahan selain memijat badan. Untuk pijat per jam Rp 40.000. Kalau ditambah plus tergantung negosiasi dengan pelanggan. Tarifnya bisa sampai Rp 200 ribuan.
            “Begitulah pekerjaan ibumu,’’ kata Mbak Yati, tetangga Bulan. Nadanya mengejek.
            Sekalipun orang kampung bilang, ibu lonte, tukang pijat yang bisa dipakai, tapi Bulan tetap menganggap ibunyalah orang yang paling baik sedunia. Ibu yang mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ibu yang membayar biaya sekolah. Ibu yang membetulkan selimut saat Bulan tertidur lelap.
            “ Tapi ibumu tetaplah seorang pelacur, perempuan rendah, lonte!’’ kata Mona, anaknya Mbak Yati. Bila yang bilang Mbak Yati, ibunya Mona, Bulan hanya diam saja, namun ketika Mona yang bilang, tangan Bulan secara spontan menampar wajah Mona. Selanjutnya, keduanya terus berkelahi. Saling cakar, saling tendang dan saling menarik rambut masing. Bila tak dipisah ibu  Bulan dan Mona tak akan berhenti berkelahi. Sejak saat itu, keduanya bermusuhan, menyimpan dendam dan sakit hati.
            Bulan tahu, Mbak Yati memiliki selingkuhan seorang oknum jaksa. Namun dia diam saja. Buat apa mengurusi urusan orang. Bulan juga tahu, suami Mbak Yati yang bekerja di pemerintahan terkait kasus korupsi. Sebelum di tahan, Bulan juga mendengar ayah Mona itu sering ke pub dan cafe. Dari teman sekolahnya di SMP pula, Bulan mengetahui bila ayah Mona, yang biasa dipanggilnya Om Fadli, menyukai remaja dan sering mengajak perempuan usia belasan tahun kencan di hotel. Yang Bulan belum tahu adalah selain sering mengajak kencan para remaja, ayah Mona ternyata juga menyukai ibunya!
            Bisa jadi, karena suaminya sering terlihat memandang pantat ibu Bulan yang besar itulah, yang membuat Mbak Yati cemburu dan marah dengan Bulan. Ada kejadian sebenarnya yang juga tak enak diceritakan. Pernah suatu hari, saat Bulan sekolah, saat Mona sekolah, dan saat Mbak Yati pergi ke salon, Om Fadli menyelinap ke sebelah rumah. Saat itu Ibu Bulan belum kerja dan baru selesai mandi. Om Fadli masuk rumah melalui pintu depan yang tak terkunci. Ibu Bulan kaget. Sekalipun, dia bekerja sebagai tukang pijat, namun dia masih memiliki harga diri. Memang, pelanggan kerap berlama-lama di dalam kamar, merayu untuk mengajak hubungan suami istri, namun Ibu Bulan selalu menolak. Om Fadli memaksa mengajak hubungan badan, namun Ibu Bulan menolak. Tak mempan merayu dan memaksa, Om Fadli lantas mengancam.
            “Bila kamu tak mau melayani, aku nanti akan memperkosa anakmu saja!’’ katanya. Di dalam kamar Ibu Bulan terus dikejar. Handuk yang dikenakan terlepas. Karena tubuh Om Fadli lebih besar, Ibu Bulan akhirnya tak berdaya. Di pagi jahanam, Om Fadli berhasil melampiaskan nafsunya.
            “Kamu boleh memperkosa aku, tapi awas bila kamu memperkosa anakku,’’ kata Ibu Bulan.  Sebelum Om Fadli pergi dia sempat melempar empat lembar uang lima puluhan ribu rupiah. Uang Om Fadli itu lantas ibu bakar.
            Itu kejadian yang pertama. Kejadian yang kedua, di rumah Bulan yang berukuran 5 X 10 meter itu pula, Om Syahdul berhasil menikmati tubuh ibu Bulan. Berbeda, dengan Om Fadli, Om Syahdul melakukan hubungan badan dengan Ibu Bulan tanpa paksaan. Tanpa paksaan karena pertama, Ibu Bulan tak menolak setelah dijanjikan akan dinikahi. Kedua. Ibu Bulan bersedia, karena tak enak sama Om Syahdul yang telah menambahi uang untuk beli rumah kayu yang ditempatinya sekarang.  Wakil rakyat itu sekali-sekali saja datang ke rumah Ibu Bulan. Dia lebih sering ke Panti Pijat tempat ibu Bulan bekerja. Selain di Panti Pijat, Om Syahdul yang dari Fraksi Ngalor Ngidul itu  juga sering mengajak ibu Bulan ke hotel. Ibu Bulan bersedia, karena janjinya usai bulan haji akan dinikahi.
            Sejak kejadian pertama yang dilakukannya terhadap ibu Bulan, Om Fadli jadi ketagihan. Namun sejak kejadian itu pula, ibu Bulan selalu mengunci pintu depan rumahnya. Selain mengunci pintu,  kebiasaan baru ibu Bulan adalah menyimpan pisau dapur di bawah bantal tidurnya. Kali ini dia tak ingin harga dirinya diremehkan suami tetangganya itu. Yang lebih penting lagi, dia juga ingin menjaga kehormatan anaknya. “Bila kamu tak mau melayani, aku nanti akan memperkosa anakmu saja!’’ suara Om Fadli masih melekat di benaknya.
            Pisau di bawah bantal itu berukuran panjang 27 cm dan  bergagang kayu. Cukup tajam, dan bila ditancapkan di dada tentu saja akan membuat orang yang menerima tusukan itu akan sekarat seperti ikan yang menggelepar-gelepar. Apalagi bila ditusukan berkali-kali. Darah akan muncrat dan akibatnya ranjang akan banjir darah. Ibu sayang sekali dengan Bulan. Ibu baru menyadari, sekalipun Bulan baru kelas 3 SMP namun tubuhnya berkata lain. Bulan remaja yang cantik. Tubuhnya tinggi padat berisi. Pantatnya juga tak kalah besar dengan pantat ibunya. Kulitnya bersih berwarna kuning langsat. Mungkin itulah yang membuat Om Fadli, seorang pejabat pemerintahan yang korup itu sampai mengeluarkan perkataan: “Bila kamu tak mau melayani, aku nanti akan memperkosa anakmu saja!’’. Perkataan itu pulalah yang membuat Ibu Bulan waspada, sampai-sampai dan menyembunyikan pisau di bawah bantal.
            Pisau sudah disembunyikan di bawah bantal. Tapi suara siapa yang mengetuk pintu depan? Bulan yang sedang belajar sambil nonton televisi di dekat pintu utama itu membuka pintu. “ Ibumu ada?’’ suara Om Syahdul.
            “Ada. Silahkan masuk Om,” Bulan mempersilahkan masuk.
            Dasar Syahdul, mata  anggota Fraksi Ngalor Ngidul dan Ketua Komisi IV  itu liar menatap pantat Bulan, yang bergegas masuk memanggil ibunya yang sedang berada di dalam kamar.
            Tak berapa lama, ibu Bulan muncul. “ Tumben malam-malam ….,” ibu Bulan tersenyum.
            Om Syahdul juga tersenyum. “ Rindu dipijat …,’’ kata wakil rakyat itu.
            Ibu Bulan lantas mengajak lelaki tinggi besar itu ke dalam kamar. Sebenarnya dia tak  enak hati mengajak lelaki ke kamar, karena ada Bulan. Ah, mudahan Bulan mengerti profesi ibunya sebagai tukang pijat. “Tapi sebentar saja ya,’’ suara ibu Bulan.
            Waktu terus merangkak naik. Jarum jam menunjukkan waktu sudah tengah malam. Bulan sudah terlelap di kamar sebelah. Ibu Bulan juga sudah terlelap, setelah menyerah atas keinginan Om Fadli yang mendesak menginap hanya semalam dan pagi-pagi sekali berjanji akan pulang.
            Om Fadli terjaga lalu beranjak dari ranjang. Dia ingin ke kakus. Dari kakus, dia membuka sedikit pintu kamar Bulan. Mata kontak ke hati yang berdesir-desir lalu mengetuk-ngetuk nafsu birahi.  Kaki Om Syahdul melangkah mendekati Bulan, perawan yang tidur tertelentang.  Namanya tidur, tentu saja daster Bulan tak rapi. Celana dalamnya yang berwarna pink terlihat mata Om Syahdul. Om Syahdul sudah membuka semua pakaiannya, lantas segera menindih tubuh Bulan. Bulan kaget. Tangan kanan Om Syahdul menutup mulutnya. Bulan tak bisa berteriak. Om Syahdul terus menindih.  Bulan meronta-ronta. Tangan kiri Om Syahdul liar membuka celana dalam Bulan.  Bulan meronta-ronta. Om Syahdul makin bernafsu. Bulan akhirnya pingsan.  Selanjutnya, Om Syahdul  kaget, sebuah pisau menancap di punggung dan tembus ke dadanya.  Darah keluar, membasahi sprei yang berwarna putih. Om Syahdul tewas. Ibu Bulan mematung di sisi ranjang. Seperti  orang yang hilang kesadaran, dengan raut wajah tak emosi, ibu Bulan kembali melangkah ke luar kamar. Menutup pintu, lantas menuju dapur. Dia membuka pintu depan, udara pagi menerobos masuk. Dia lantas kembali ke dalam kamar dengan tangan kanan menggenggam pisau. Pisau disimpan di balik bantal, lalu dia merebahkan diri tertelentang menatap plafon.
            Dia sengaja berharap, Om Fadli akan menerobos masuk ke rumahnya melalui pintu depan yang dibiarkan terbuka. Berita koran besok pagi pasti akan ramai. Koran pagi  akan memberitakan, seorang oknum anggota DPRD dan seorang oknum pejabat pemerintahan tewas dengan pisau tertancap di punggungnya di rumah seorang tukang pijat.
            Pagi itu,  setelah istrinya ke salon dan anaknya ke sekolah,  Om Fadli, oknum pejabat pemerintahan itu memang berencana akan mendobrak pintu belakang rumah ibu Bulan. Tapi bila pintu depan terbuka, dia lebih baik masuk lewat pintu depan. Bila demikian, maka ibu Bulan pun sudah siap menunggu dengan pisau di bawah bantal. ***
Samarinda, Nopember 2011
AGNI KASMARANWATI adalah nama asli wanita kelahiran  Samarinda ini.  Alumnus  Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Mulawarman ini selain bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Pemkot Samarinda ini juga suka membaca novel, terutama novel Agatha Cristie. Selain suka membaca juga suka menulis puisi dan cerpen sejak SLTP. Puisi pertamanya saat kelas 1 SMP berjudul Bulan Untuk Ibu  dimuat di majalah Kuncung.

Manusia yang Melahirkan Anjing

Cerpen : Agni Kasmaranwati

AKU datang ke kampung itu menjelang senja. Lolong dan gonggong  anjing terdengar di mana-mana. Di jalan-jalan kutemukan lebih banyak anjing daripada manusia. Aku tersesat di sebuah kampung yang asing bagiku. Hanya kampung ini yang aku temui setelah berhari-hari berjalan. Aku tadi bertanya kepada salah seorang lelaki, di mana rumah kepala kampung. Lelaki itu menunjukkan jalan ke arah timur.  Matanya masih memperhatikanku, ketika aku melangkah ke  arah jalan yang ditunjuknya. Malam kini mulai merambat. iblis-iblis malam mulai keluar dan berkeliaran.

Kampung yang terpencil. Tak ada lampu-lampu jalan. Jalanan gelap. Hanya bulan yang membantu. Di depan sebuah rumah panggung aku mengetuk pintu. Suara anjing di balik kolong rumah memekakkan telingaku. Warga kampung kelihatannya sangat akrab dengan anjing. Seorang lelaki tua membuka pintu.

‘’Pasti adik tersesat?’’ kata lelaki tua itu. Dia membuka pintu lebar-lebar. Di dalam kulihat, ada seorang wanita tua. Lelaki tua itu tinggi kurus. Uban tak hanya nampak di rambutnya yang tipis, tapi juga di jenggotnya yang mirip ekor anjing. Sama dengan lelaki penunjuk arah yang kutemui di persimpangan menjelang senja, mata lelaki tua itu juga merah seperti sumber api.

“Iya pak. Saya ingin menumpang tidur,’’ jawabku.

Aku menjelaskan kepadanya. Aku pencinta hutan, sungai dan gunung, yang tersesat. Dia mempersilahkan masuk. Mandi? Aku tak ingin mandi. Dia mempersilahkan aku makan. Aku bersedia makan karena aku memang lapar. Aku dua hari tersesat. Selama dua hari aku hanya makan buah-buahan hutan dan air dari sungai. Setelah dua hari aku melewati hutan, menyeberangi sungai dan menaiki gunung aku mendengar gonggongan, atau mungkin lolongan anjing di bawah gunung. Aku yakin, bila ada anjing pasti ada kampung. Aku makan dengan lahap. Karena setelah 2 hari baru kini aku merasakan nasi dan daging bakar.

Lelaki tua dan istrinya itu menatapku. Dia menceritakan, orang asing yang datang malam hari ke kampung dan mengetuk rumahnya pasti lah tersesat. Karena, tak mungkin ada orang yang mau ke kampung mereka yang sepi untuk suatu tujuan tertentu. Tak ada apa-apa di kampung mereka.

“Beberapa hari yang lalu juga ada dua pecinta alam yang tersesat. Tapi kini mereka sudah pulang. Entah apakah mereka sudah sampai di rumah atau belum,’’ ujar kepala kampung itu.

Seakan mengerti dengan keherananku. Lelaki tua itu mengatakan, di kampung ini memang lebih banyak anjing dari manusia.  Jumlahnya tak terhitung. Berkeliaran ke mana-mana mencari makan. Siang hari anjing-anjing itu lebih banyak tidur. Menjelang senja hingga tengah malam mereka mulai bermunculan dan mencari makan. Mereka menyerbu kuburan. Mengais-ngais tanah untuk mencari makanan. Warga pun khawatir. Karena anjing semakin banyak, sementara makanan yang ada mulai habis.

Anjing-anjing itu percuma dibunuh. Karena jumlahnya yang sangat banyak. Jutaan anjing. Sementara jumlah penduduk kampung hanya sekitar 100 ribuan jiwa saja. Semakin dibunuh, populasinya bukannya semakin berkurang tetapi malah terus bertambah.

Malamnya aku tak bisa tidur. Sekalipun telinga aku tutup dengan kain, tetapi suara-suara anjing yang berkelahi berebut makanan di kuburan masih terdengar.  Aku bangun pagi. Berjalan-jalan sendirian mengamati kampung. Ketika aku keluar rumah kepala kampung, anjing-anjing sedang tidur di depan pintu. Jumlahnya puluhan—atau mungkin sekitar 70-an ekor.  Di bandingkan anjing-anjing di rumah warga, anjing-anjing di rumah kepala kampung adalah yang paling sedikit jumlahnya.  Mungkin jumlahnya tak lebih dari sekitar 600 ekor. Kulihat di samping rumah, di belakang rumah dan di bawah kolong rumah juga ada. Warnanya lebih banyak hitam. Mungkin anjing-anjing itu kekenyangan atau kelelahan setelah berebut makan di kuburan semalam. Malam dan siang kampung ini sama saja. Menyeramkan. Anjing-anjing ada di mana-mana. Tak hanya di rumah kepala kampung di seluruh rumah warga lainnya pun aku lihat anjing. Di sekeliling rumah penuh anjing. Ada yang tidur. Ada yang mendongakkan kepala ketika melihatku berjalan. Ada yang mengikutiku. Jumlahnya ratusan ekor.

Aku berbalik menuju ke rumah kepala kampung, yang ketika aku keluar tadi nampaknya masih tidur. Dia tak mempunyai anak. Hanya tinggal berdua dengan istrinya. Aku tak ingin berjalan terlalu jauh. Apa juga yang aku lihat di kampung  anjing ini. Hanya rumah-rumah yang banyak dipenuhi anjing. Lebih baik aku di rumah kepala kampung saja dan segera minta antar menuju jalan arah pulang ke rumahku.

Tiba di rumah kepala kampung aku lihat dia dan istri tidak ada. Berarti mereka sudah bangun. Aku lihat mereka berada di pondok di tengah sawah. Sawah mereka terletak tak berapa jauh di belakang rumah.

Di pondok sawah, lelaki tua dengan didampingi istrinya yang lebih banyak diam itu bercerita tentang kampungnya banyak anjing?

‘’Anjing-anjing itu keluar dari mulut kami,’’ katanya, dengan matanya yang merah seperti ada bara api.

Selanjutnya lelaki tua itu menceritakan, bagaimana upaya dia menekan angka kelahiran anjing yang kian hari kian terus bertambah. Dia mengimbau, agar warga  di kampung mereka berbicara seperlunya saja.  Sayangnya, upaya itu kurang berhasil. Anjing-anjing  terus lahir dari mulut mereka. Tanpa disadari jumlahnya semakin banyak. Semakin hari, kelahiran anjing dari mulut menjadi hal yang biasa. Malah kalau berbicara tak mengeluarkan anjing dianggap hal yang aneh. Seperti meniup balon permen karet, begitulah kira-kira anjing-anjing itu keluar dari mulut. Setelah jatuh ke tanah, anjing itu lari menjauh sambil menggonggong.

Aku hampir muntah ketika di bagian cerita dia menyebutkan; salah satu upaya lain untuk menekan laju pertumbuhan anjing adalah dengan menjadikan lauk makan mereka.

“Kami menanam padi dan lauknya dari daging anjing,’’ suara kepala kampung itu. Di sebelah istrinya tersenyum.

Persoalan lauk bagi warga bisa teratasi. Tapi bagaimana dengan anjing yang juga memerlukan makan. Kepala kampung itu menyebutkan, seakan balas dendam anjing-anjing itu mencari makan ke kuburan. Mereka mengali-gali tanah kuburan nenek-kakek moyang mereka. Apalagi bila ada warga yang baru meninggal dunia dan dikuburkan, malamnya para anjing itu berpesta pora. Penduduk kampung tak punya cara lain untuk menguburkan warga yang mati. Mereka tak mau mayat dibakar. Mereka ingin, orang yang meninggal dunia dikembalikan ke tanah.

“Lama kelamaan warga kampung kami cemas. Karena jumlah anjing semakin banyak sementara makanan untuk anjing tidak mencukupi. Suatu ketika ada sekelompok warga tersesat ke kampung kami,’’  suara kepala kampung lagi.

Para warga yang tersesat itu, lanjut kepala kampung,  dari kampung lain. Kedatangan mereka bagi warga kampung kami semula dianggap sebagai pahlawan. Karena para warga kampung lain itu tidak melahirkan anjing. Tetapi mengeluarkan ular dari mulut mereka. Bila mereka berbicara, ular terhempas ke tanah, keluar dari mulut. Sama seperti anjing yang dilahirkan dari mulut warga kami, ular tersebut juga langsung menjauh. Menurut mereka, bila masih kecil, gigitan ular yang dilahirkan dari mulut mereka belum mematikan. Setelah besar ular-ular itu memiliki racun yang membunuh. Para warga tersebut melarikan diri, karena populasi ular di kampung mereka sudah sangat besar. Banyak warga yang mati digigit ular. Hampir setiap hari ratusan ular dilahirkan dari mulut warga.

“Kedatangan warga tersebut tentu saja mengkhawatirkan kami. Keselamatan kami terancam. Sekalipun mereka berjanji akan menuntaskan masalah dengan mengurangi populasi anjing, tapi ular-ular tersebut juga akan mengurangi populasi warga kampung kami. Warga tak setuju. Karena mereka tak ingin hidup dengan ular. Warga yang melahirkan ular tersebut akhirnya kami usir keluar dari kampung,’’ kata kepala kampung.

Aku lantas berpikir; hari ini juga aku harus meninggalkan kampung anjing ini. Aku bertanya kepada kepala kampung jalan menuju arah pulang. Mumpung matahari belum berada di atas kepala.

Kepala kampung menyarankan besok pagi saja. Tapi aku tetap ingin segera pulang. Aku tak bisa tidur dengan suara-suara anjing yang berebut makanan di tanah kuburan. Aku tak ingin menunggu besok.

Kepala kampung menunjukkan arah jalan pulang. Melewati hutan, menyeberangi sungai dan menaiki gunung. “Bila pulang besok pagi akan aku antar sampai perbatasan,’’ suaranya.

Tapi aku menolak. Aku ingin segera meninggalkan kampung. Anjing-anjing mendongakkan kepala ketika aku melintasi mereka. Mata-mata anjing itu merah dan lidah-lidah mereka terjulur, tapi bukan seperti lidah anjing, melainkan lidah ular. Sebelum pergi, kepala kampung berpesan, usahakan jangan lari bila takut dengan anjing. Tapi seakan anjing-anjing itu mengerti tujuanku yang ingin pergi meninggalkan kampung. Anjing-anjing itu mengikutiku. Aku berusaha tidak lari. Terus berjalan menuju hutan, lantas menyeberangi sungai dan menaiki gunung seperti yang disebutkan kepala kampung.

Anjing-anjing yang mengikutiku mengonggong. Gonggongan itu membuat anjing-anjing lain, yang berada di dalam rumah, di kolong dan sekeliling rumah serta di tempat-tempat lain bermunculan. Mereka mendongakkan kepala, menoleh ke arahku, lantas berlarian mengikutiku. Aku lihat jumlah anjing-anjing itu semakin banyak. Aku perkirakan jumlahnya tak lagi ratusan. Tapi sudah jutaan. Aku ingin segera tiba di hutan, lantas menyeberangi sungai dan menaiki gunung, untuk menghindari anjing-anjing itu.

Anjing-anjing itu semakin banyak. Aku sudah tak tahan lagi. Pesan kepala kampung agar aku jangan lari kuabaikan. Aku berlari. Anjing-anjing juga berlari. Perbatasan kampung masih jauh. Semakin aku berlari, anjing-anjing itu semakin cepat mengejarku. Jaraknya kian dekat, jumlahnya jutaan ekor. Aku harus berlari cepat agar bisa melewati hutan, menyeberangi sungai dan menaiki gunung agar  tiba di rumah. Sayangnya,  hutan, sungai dan gunung yang kutuju belum kelihatan. ***