Archive for the ‘kumpulan cerpen borneo dari pengarang-pengarang asal Borneo (Kalimantan/Indonesia, Sabah, Sarawak, Labuan/Malaysia dan Brunei Darussalam)’ Category

Tentang R Hamzah

Sebelum menjadi penulis, minat melukis kartun dan komik. Mula menulis sejak tahun 1971. Di peringkat awal, sajak dan cerpen banyak tersiar di Sinar Usia, Balai Muhibbah, Mesra, Jejaka, Hiburan, Harian Ekspres, dan Sabah Times.

Lelaki Pemburu Petir

oleh hajriansyah

Cerita ini bermula dari sebuah catatan dari seorang sarjana yang datang dari kota ke kampung kami. Kami paham, bahwa petir memang demikian indah. Di ujung kampung, di tebing sungai di bawah pohon rambai yang menjuntai indah, kami permaklumkan sebagai kubur Datu Petir; seorang yang bijaksana yang pernah mengajari kami tentang potensi kebaikan pada diri manusia.

Lelaki pemburu petirLelaki itu melangkah pergi ketika hari itu hujan deras mengguyur tanah perkampungan berawa-rawa. Di sebuah tikungan ia membelok, dan ia berdiri di atas jembatan menghadap ke sungai. Sungai kecoklatan warnanya. Hujan menubi-nubi ke lumpur di bawahnya. Lumpur-lumpur bercampur air, mewarnai sungai yang dingin. Sebuah petir berlarian di ujung langit sana. Cahayanya serupa akar menjalar yang membayang dalam lompatan yang sangat cepat. Gdublaar! Duarr! Daarr!

Ia memandang berpicing mata. Ia mencari di mana titik lenyap runcing petir berakhir. Ia menerjunkan dirinya ke sungai. Ia berenang seperti kesetanan—seperti terbang—dan kemudian menyelam. Lama ia menghilang di kedalaman. Tak terlihat bayangan. Setiba-tiba ia membuncah serupa gelombang, seperti meloncat dari air, dan.. duaarr!

Lelaki itu terkulai di atas sungai. Tubuhnya mengambang seperti dahan yang patah dibawa arus. Hujan menindihnya dengan dingin yang terus-menerus memukul, seperti tangan yang tak pernah lelah. Beberapa saat mengambang, tubuhnya kemudian tenggelam. Hujan semakin deras. Petir tak lagi menyambar; hanya air, tumpah, mempercepat arus yang berlari.

* * *

“Tahukah Kau, petir adalah loncatan arus yang berkekuatan puluhan ribu amphere, yang mencari persamaan di benda-benda yang disambarnya?”

Aku memicing mata, membenarkan letak kaca mata, dan tampaklah kebodohanku. Si pencerita itu membuka bukunya di tengah halaman yang setebal asahan pisau itu.

“Loncatan arus itu begitu indah jika engkau memperhatikannya.”

“Tapi mematikan, bukan?” aku bertanya lugu, dengan nada yang hampir seperti menggerutu. Ia tersenyum dan menunjuk ke gambar yang ada di bukunya. Aku menyondongkan badan, mencoba memperhatikan yang ditunjuknya. Namun aku tak paham, apa yang dimaksudnya indah itu. Aku kembali ke posisi semula dengan berkerut kening. Ia tersenyum, hampir tertawa.

“Bayangkan kalau kamu berdiri di lantai dua rumah orangtuamu yang menghadap ke muara sungai itu. Bayangkan saat kau berdiri memandang sungai itu hujan deras, dan kamu duduk di depan pintu terbuka, di depan serambi dengan pegangan pagar kayu di mukamu. Atap seng rumahmu yang berkarat di atas kepalamu menutup pendengaranmu..” ia berhenti sebentar memerhatikan sejauh mana aku paham terhadap kata-katanya. Aku menganggukkan kepala, sebuah isyarat bahwa aku paham, dan ingin diteruskan.

“Pendengaranmu tertutup karena denting air begitu keras menghantam atap seng di atasmu, dan setiba-tiba sebuah suara mengejutkanmu, dalam gelegar yang tak kau perhitungkan sebelumnya, dan engkau setengah terhuyung ke belakang. Lebih mengejutkan dari suara itu, sebuah pemandangan lewat di hadapanmu. Seperti kilatan lampu blitz yang menyinari anak sekolah sewaktu berbaju seragam di Studio Foto Ahim di Pasar Baimbai. Seperti akar menjalar dengan dua-tiga warna. Biru-hijau-ungu..”

“Indah?”

“Ya, indah! Penggabungan dari warna-warna, garis spontan dan menjalar, suara yang menggelegar. Kekagetanmu itu bagian dari yang indah.”

* * *

Dulu aku memang bodoh. Orang-orang menyebutku idiot. Tapi itu dulu, kini aku telah banyak paham kehidupan, cerita-ceritanya, rahasia-rahasia di baliknya.

Setelah aku dianggap hilang delapan tahun yang lalu, di hari hujan lebat dan guntur terdahsyat di kampungku. Bunyi yang tak lazim, yang menandakan sebuah kematian. Tapi orang-orang tak menemukan mayat yang hangus, atau tubuh yang hitam yang tergeletak entah di tanah lapang atau di tepian sawah atau sungai. Hanya aku yang hilang, tapi apalah artinya kehilangan aku, selain kedukaan ibuku saja. Hanya selentingan kabar yang tak begitu berarti: si idiot hilang!

Cerita lelaki dari kota itu begitu memukauku waktu itu. Sepanjang malam aku tak dapat tidur, memikirkan apa yang disebutnya indah itu. Bagaimana mungkin petir yang menakutkan dan mengejutkan itu dikaitkannya dengan kata indah yang tak kumengerti. Kata yang dalam imajiku kemudian adalah sesuatu yang berharga. Lebih berharga dari hidupku yang hanya membuat malu ayah hingga kematiannya, dan membuat ibu selalu menangis jika mendengar orang mengejekku. Ya, belum pernah aku merasa berharga sebelum cerita lelaki itu, yang begitu menghargaiku, sehingga mau bercerita dan bersabar atas responku.

Sepanjang malam itu aku berpikir, apakah yang disebutnya ‘indah’ itu dapat membahagiakan ibu. Dapat membuatku berarti. Berharga! Didengarkan orang lain, diperhatikan, diceritakan, dan menjadi buah bibir yang membanggakan ayah di kuburnya.

Umurku tiga puluh dua saat itu. Tapi fisikku dan pikiranku seperti anak kecil berseragam sekolah dasar. Dan aku hanya tersenyum jika anak-anak dengan seragam itu mempermainkanku. Aku senang meski hanya jadi bahan olokan, setidaknya ada yang menganggap kehadiranku. Orang-orang seumuranku hanya lewat jika berada di sekitarku, mereka tak menganggapku ada. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka, atau mereka malu jika didapati bersinggungan denganku: tidak level!

Andai saja tak pernah datang lelaki kota itu ke kampungku, tentu aku akan mati dalam kesepian dan lalu-lalang hidup orang-orang yang terus tumbuh. Lelaki dari kota itu, adalah sarjana yang kesepian. Setidaknya begitulah katanya padaku di suatu waktu. Ia merasa kesepian, karena dianggapnya orang-orang di kota terlalu berpikir sederhana. Orang-orang sekolah sampai tinggi dan belajar hanya untuk bekerja—tidak lebih dari itu, katanya; mereka tak memiliki obsesi yang dalam terhadap sesuatu.

Dan ia begitu terobsesi pada petir.

Ia—lelaki dari kota—selalu bicara tentang obsesinya pada petir pada semua orang. Dan tak ada yang mendengarkan begitu antusias, seperti aku mendengarkan bicaranya.

“Yang positif turun ke bumi, dan yang negatif naik ke ionosfer.  Petir adalah kumpulan arus yang meloncat dari awan ke awan, saat cumulonimbus menutup langit. Langit gelap, setidaknya begitu tanda dari petir akan datang, dan kita dapat memandangnya sebagai suatu waktu di hari yang indah, dari kejauhan. Sesekali petir mencari persamaannya di bumi, di tanah, di pohon, atau di tubuh manusia yang lena akan hujan.” Ia bercerita dengan buku di tangan. Sesekali juga kuperhatikan, ia membawa kamera yang katanya, “untuk merekam keindahan.” Ya, petir!

Kusentuh kamera itu, dan ia mempersilakan, seraya kemudian menunjukkan hasil-hasil jepretannya. Gambar-gambar petir dalam berbagai nuansa dan warna itu memang memukau, hingga aku tak takut jika melihatnya dalam kenyataan—andai seperti di gambar-gambar itu.

Kata ibu, aku lahir di hari petir sambar-menyambar di udara. Hari itu begitu menakutkan, kata ibu. Bahkan bidan yang sedianya membantu persalinan ibu tak jadi datang. Bidan itu begitu takut, seperti katanya pada ayah yang datang kemudian berbasah-basah dan penuh penyesalan di samping ibu yang mengejan…

Duarr! Dar! Gdublar! Ayah terkejut—ketakutan—dan ibu memekik, dan lahirlah aku tanpa tangisan. Hanya saja rupa kecilku begitu pucat diantara balutan darah, kata ibu.

* * *

Setelah sambaran petir ke sungai itu, bersama dengan hilangnya lelaki yang kami kenal sebagai si idiot, air sungai sehari sesudahnya menjadi begitu tenang, lebih tenang dari hari-hari sebelumnya. Orang-orang memang sempat mencari sebentar, tapi tak terlalu lama hingga mereka menyimpulkan dan menginsafi takdir si idiot bersama petir dan kedalaman sungai. Ibunya terus menangis dan bersedih hingga sakit-sakitan, dan setahun kemudian meninggal. Meninggalkan rumah kayu berlantai dua yang hampir roboh di tebing sungai, di hilir menjelang muara.

Orang-orang tak pernah membicarakannya lagi. Keluarga itu hilang bersama kemalangan mereka dari pergaulan kampung yang sederhana. Tak pernah diceritakan lagi. Hingga kemudian datang seorang bijak ke kampung itu, sepuluh tahun kemudian.
Orang bijak itu datang saat hujan lebat dan petir menggelegar di penjuru kampung. Aku menyaksikan petir yang begitu indah di hari kedatangannya. Sebuah kilatan berwarna keunguan, memanjang dari ujung langit ke muara sungai. Dan lelaki itu datang dari sana, mengayuh jukung sudur dengan tangannya yang kokoh. Jukungnya seperti terbang di udara. Seperti tak menyentuh air sungai.

Orang yang tampak bijaksana itu menambatkan jukungnya di batang, di dermaga pasar. Ia naik ke darat dan menyapa orang-orang yang berkumpul di warung—baik yang berteduh maupun yang sedang menyantap mie kuah yang panas untuk menghangatkan badan, juga yang berbincang untuk menghangatkan suasana—di hari yang basah dan bergemuruh.

Ia memperkenalkan diri sebagai pengembara yang kehujanan dan ingin berteduh di sebuah kampung yang diharapnya dapat menerima untuk tinggal dan menghabiskan sisa perjalanan. Perjalanan hidup yang katanya tak akan sampai dua tahun lagi, baginya. Ia memperkenalkan diri dengan nama Rahman. Nama yang mengingatkan orang-orang tertentu pada si idiot yang telah lama tak diperbincangkan. Si idiot yang lama menghilang.

Orang-orang di warung itu terpana saja. Sikapnya yang santun dan rupanya yang bijaksana tak membuat orang curiga dan berprasangka.

Mereka menyambutnya sebagai kehangatan yang datang pada hari-hari yang dingin di kampung mereka. Dan memang, kemudian, kehadiran orang itu menghangatkan kampung dengan sikap dan pengajarannya yang bijak. Ia tinggal di samping surau di pinggir sungai, yang dibangun sesudah robohnya rumah kayu berlantai dua tujuh tahun yang lalu.

Lelaki berumur kurang lebih empat-puluh tahunan itu tinggal di semacam pondokan yang berhubungan dengan surau, dengan semacam titian, yang dibangunnya bersama beberapa orang kampung yang mengaguminya. Ia mengajari mereka kebijaksanaan hidup, kemampuan membangun hidup di kampung yang sederhana dengan pengetahuan yang tak pernah mereka pelajari sebelumnya. Ia mengajari mereka tanda-tanda alam dan memanfaatkan tanda-tanda itu untuk keseharian mereka di sungai, di sawah, dan bagaimana perilaku hidup yang luhur pada mereka. Terutama ia mengajari mereka tentang petir.

Ya, petir. Kalau dulu aku selalu memperbincangkan tentang keindahan petir ke orang-orang, dan tak ditanggapi, ia mengajari mereka kegunaan petir.

Dulu aku selalu bicara tentang petir, dan hanya seorang idiot yang mendengarkanku dengan begitu antusias. Kini, orang itu mengajari mereka petir dengan mendapat perhatian yang lebih dari orang-orang—sementara aku telah lelah bicara petir. Bahkan, gambar-gambar indah petir di kamarku telah usang, bersama kameraku yang  telah rusak.

Suatu hari seseorang yang sedang sial disambar petir ketika sedang melunta di sungai. Orang-orang membawanya ke lelaki bijaksana di pondokannya di samping surau itu. Lelaki yang tubuhnya menghitam dan masih sepenggalan nafas di tenggorokannya itu diusapnya di dada. Dan sebuah cahaya seperti tertarik ke tangannya, bersama tubuh yang menguning dan bernafas sempurna. Orang-orang menceritakannya dengan rupa yang demikian, seakan, tak percaya. “Ia menarik petir dan mengembalikannya ke langit, dari tubuh Ijuh yang menghitam sebelumnya,” kata seseorang dengan nada membangga—seperti membanggakan gurunya.

Dan orang-orang pun merubungnya. Berusaha memahami sifat petir dan apa yang dapat dimanfaatkan darinya.

“Petir hanyalah loncatan potensi yang tak sempurna. Kita pun memilikinya di dalam diri kita. Apa-apa yang positif tak selalu ada di dalam diri kita, kita pun memiliki hal-hal yang bersifat negatif; yang terpenting adalah menghargai setiap tindakan, meskipun ia menurut kita tak lebih dari sebuah loncatan yang tak berharga. Lebih penting lagi, dapat memanfaatkan potensi-potensi itu untuk menyelesaikan apa-apa yang kita anggap masalah dalam hidup kita.” setidaknya begitulah inti ajarannya, yang kudengar untuk menghapus rasa penasaranku. Dan sungguh, begitu indah kedengarannya.***

27 Juli 2008

Ayah

 oleh hajriansyah

Jika kau datang dari Surabaya seperti biasa, maka aku akan menjemputmu di bandara dengan riang. Kuingat engkau datang dengan koper berwarna cokelat, atau kadang juga yang berwarna hitam—kotak dengan sudut-sudut yang lembut. Koper itu, dengan angka-angka kecil seperti roda yang diputar, utak-atik, untuk membuka kode pembukanya—aku senang memainkannya waktu itu.

Aku dan Hasan akan masuk ke ruang tunggu dan melihatmu, dari kaca, keluar dari pintu pesawat dan menuruni tangga. Lalu kau berjalan, dan ketika kau menatap kami, maka kau akan tersenyum dan kami dengan keriangan khas anak-anak menyambutmu di pintu kedatangan. Setiap dua bulan sekali selalu seperti itu, dulu.

Jika sore engkau pergi ke masjid, yang tanahnya adalah wakaf darimu, dengan berjalan kaki, maka aku mengejarmu di belakang dengan berlari. Engkau berjalan sangat cepat. Ketika sampai waktu maghrib dan sirine dari radio dari masjid raya berbunyi seperti peluit yang panjang, engkau dorong aku untuk mengumandangkan adzan. Aku akan maju ke depan paimaman dan meraih mik dan dengan lantang menyeru orang-orang untuk datang. Datang ke masjidmu yang sederhana.

Demi waktu yang berjalan tetap

Sesungguhnya manusia lalai dan merugi

Kecuali mereka yang beriman dan berbuat baik,

yang saling berbagi kebenaran dan tetap berkesabaran

(Surah Al-Ashr: 1 – 3)

* * *

Adakah yang mesti disesalkan; karena kita semua akan mati. Tak pernah aku menafikan itu, bahkan aku telah bersiap, jauh… saat kau mulai terserang stroke, dan terus-menerus, berulang-ulang—keluar dan masuk rumah sakit. Ya, jauh hari aku telah siap Ayah. Meski kematianmu di hari itu tetap saja membuatku tercengang. Seperti tak benar-benar terjadi. Dan aku memelukmu terakhir kali, seolah aku tak pernah memelukmu sepanjang hidupku. Hanya butir air mata yang bergulir dari ujung kelopakku. Aku memejam, melepasmu, dan ikhlas.

Adakah kematian seindah kematianmu, Ayah. Entahlah. Tapi hari itu begitu cerah, sebelum gerimis mengantarmu ke pekuburan: rumah terakhirmu. Hari itu kami, anak-anakmu—bahkan dari tempat terjauh—berkumpul di sekelilingmu. Membuka kain penutupmu. Memandikanmu bersama-sama di ruang tengah. Wajahmu nampak bersih. Setiap pori-porimu seakan menutup rapat, mengencangkan pipimu, badanmu, yang beberapa hari sebelum ini telah mengisut dalam lipatan-lipatan yang mengkerut dalam ketuaanmu.

Kusiramkan air dari kepalamu, turun sampai ke kakimu. Mengelap setiap bagian tubuhmu, sambil terus mulut kami menyebut nama Tuhanmu; Tuhan kami; Tuhan kita sekalian alam. Kami lepas engkau dengan segala ikhlas, meski air mata kami tetap berlinangan. Dan kami tahan jerit di dada kami, agar kau melayang ke sana dengan tenang—penuh keridhaan. Lalu kami kafani tubuhmu dengan kain putih bersih yang sederhana, sesederhana pakaian-pakaianmu yang lain sebelum ini—yang tak pernah mewah dan berlebihan.

Dan kami bawa tubuh fanamu ke masjidmu. Seperti berlari kerandamu disambut-gotong orang-orang. Begitu cepat sampai ke masjid, seperti biasanya engkau berjalan di sore hari menjelang maghrib dan aku mengejarmu dengan sarung yang kedodoran, di masa kecil; atau seperti saat masih hitam di langit sana, menjelang subuhmu di masjidmu yang telah lama sekali kau tinggalkan, semenjak stroke menyerang tubuhmu.

Siang itu ayah, sebelum zuhur, kau kami antarkan dalam shalat jenazah yang terasa seakan begitu panjang. Terasa doa-doa begitu panjang. Dan kami lepas engkau dengan “Khair! Khair! Khair!” dan semua orang yang hadir mengamini: “Khair… Khair… Khair….” Semoga benar, segala kebaikanmu mengantarmu berlari menuju Tuhanmu, Tuhan sekalian alam.

* * *

Jika kau datang dari Surabaya, dan aku menunggu penuh harap oleh-oleh yang akan kau bawakan untukku, maka aku akan berlari menyambutnya di pintu kedatangan. Kau tersenyum, selalu tersenyum. Lalu di dalam sedanmu aku akan bercerita panjang, sepanjang satu atau satu setengah bulan kau tinggalkan.

Sesampainya di rumah, kau akan meletakkan tas kotakmu di kamar, tentu setelah bertemu ibu dan kau ulurkan tanganmu untuk ia cium; lalu kau keluar menyuruh paman sopir untuk pulang saja dulu setelah ia memarkir mobilmu di garasi; lalu kau keluarkan bungkusan kecilku, atau kotak mainan yang akan menggembirakan aku dan Hasan kecil. Lalu kami berlonjakan, terkadang berebutan, meski masing-masing kami telah adil kau beri satu-satu. Lalu ibu akan mengeluarkan apel, anggur—oleh-oleh rutinmu jika datang dari Surabaya. Lalu kami akan memakannya lahap, seakan tak pernah merasakan manisnya apel dan anggur selama sebulan.

Lalu sorenya, kau akan berjalan ke masjid untuk maghrib berjamaah. Bertemu teman-teman yang tak kau jumpai selama sebulan, sekaligus membicarakan keuangan masjid selama kau tinggalkan. Ya, kau bendahara masjid abadi, sepanjang kau wakafkan tanahmu dan kau sumbangkan sejumlah besar uangmu untuk lebih dari dua pertiga keselurahan bangunan itu, yang hampir di setiap maghrib dan isya-nya mengumandang suara azan kecilku. Akan kau habiskan waktu di antara maghrib dan isya, jika tak sedang ada ceramah, untuk berbincang-bincang: masalah kampung, keseharian para tetangga, dan sekadar menyapa jika saja ada yang membutuhkan bantuanmu.

Setelah isya selesai dan wirid sempurna ditutup doa dan shalawat berkeliling, kita akan pulang bergandengan tangan. Terkadang aku mengajukan permohonanku di saat seperti itu, saat kita berjalan pulang ke rumah dengan tenang: sebuah sepeda, atau bisa saja mainan yang baru saja kulihat siang tadi di pasar bersama ibu. Engkau akan tersenyum, memberitahuku manfaat dan tidak manfaatnya barang-barang yang kuinginkan itu, dan kau tak berjanji—karena kau tahu aku akan terus merengek merongrongmu untuk sesuatu yang telah kau janjikan. Engkau hanya tersenyum, dan jika saatnya tiba, bisa saja permintaanku—nanti—telah mewujud tiba-tiba di hadapanku.

Dan jika subuh datang, kau akan membangunkanku. Mengajakku ke masjid. Dan jika aku bangun dengan keriangan anak kecil, tanpa tangis, menyambut hari datang, maka aku akan ke masjid. Berjalan menjelang subuh di masjid, sementara senandung pujian terhadap Tuhan terus dikumandangkan dalam gema yang dilepas dari corong-corong pengeras suara yang bersahutan; dan sekadar peringatan, “Shalat lebih baik daripada tidur! Shalat lebih baik daripada tidur!”

Lalu kau akan melepasku sekolah, kadang kau antarkan dengan motormu, atau kadang aku bersepeda bersama teman-temanku sesekolah. Lalu kau mungkin akan ke kantormu setelah itu. Pulang pada saat tengah hari, untuk zuhur dan makan siang, dan kemudian berangkat kembali ke kantor—sekitar satu kilometer dari rumah—dengan motormu.

Di malam hari kita berkumpul di ruang tengah. Di depan televisi, terkadang sambil mengacuhkan acara TVRI-nya, berbincang, berceloteh ria, untuk kemudian ditutup jam sepuluh malam tepat—sesudah acara “Dunia dalam Berita”. Dan kami benar-benar harus tidur sesudah itu.

Di mata tetangga kau dikenal sebagai dermawan yang ringan tangan. Kau tak pernah merendahkan orang yang datang butuh pertolongan, utamanya dalam hal keuangan. Sudah tidak diragukan lagi, namamu terkenal sepanjang jalan ke rumah kita. Siapa yang tak tahu namamu jika ada tamu yang tak tahu menuju, dan bertanya—sepanjang komplek kita. Orang akan menunjukkan rumah kita dengan senang.

Jika buah-buahan—jambu, mangga, sawo—di pekarangan kita berbuah semarak dan banyak, kau akan membagikannya ke tetangga-tetangga kita, untuk sekadar merasakan manis yang sama kau rasakan. Ibu akan menaruhnya dalam kantong-kantong plastik yang akan dibagikan, setidaknya buah-buah itu, utamanya mangga manalagi yang manis itu, sesedikitnya cukup untuk dibagikan ke sepuluh rumah di sisi kanan, dan sepuluh rumah di sisi kiri rumah kita, dalam kantong plastik yang berisi dua atau tiga buah. Ya, pekarangan rumah kita serupa kebun tak habis-habisnya.

Jika sore, sesudah ashar, di kebun kecil itu aku biasanya mengajak teman-teman bermain sekalian memunguti daun-daun kering. Seperti katamu, sampah daun kering harus dirapikan di sudut pekarangan, dan biarkan ia membusuk atau dibakar jika aku tak keberatan. Dan pekarangan kita selalu bersih; dan tanah berkerikil kecil itu terus menyokong tetumbuhan yang subur.

Jika datang ramadhan menjelang idul fitri, maka rumah kita akan penuh dengan orang-orang, bahkan yang datang dari jauh—yang bukan tetangga kita. Kau mengeluarkan yang sepenuhnya mengalir dari tanganmu, berupa zakat yang kau percaya akan mensucikan kembali hartamu. Dan jika datang idul fitri, sesudah shalat ied, maka rumah kita akan penuh lagi dengan orang-orang. Tetangga, kerabat dekat, kerabat jauh, keluarga mudamu semuanya berdatangan bersilaturrahmi, bersalaman, mencium tangan, mengucapkan doa dan kebaikan; agar hidup terus berjalan dengan iramanya yang seimbang.

Rumahmu benar-benar sorga bagi setiap orang yang datang dan yang di dalamnya; dan tangis kecil kekanakan, bentakan sengit kecil mengingatkan, adalah bebunyian ritmis yang musikal, yang indah jika kukenangkan saat ini—saat engkau telah tiada.

* * *

Jika kau datang dari Surabaya, dari mengurus usahamu di sana dan isteri tuamu—mama tuhaku—selama satu atau satu setengah bulan, maka kami akan menyambutmu dengan keriangan. Entah jika tak dapat menjemputmu ke bandara, karena mungkin saja kau datang saat aku sedang bersekolah, kedatanganmu tetap sebuah kebahagian bagi kami, isteri muda—mamaku—dan anak-anak kecilmu ini. Kehadiranmu adalah kehangatan, apalagi jika kau datang membawa saudara tuaku, kehangatan itu tetaplah kehangatan yang kami bagi bersama. Kau tak pernah membedakan kami semua. Kaulah ayah kami semua, yang darimu tetumbuhan subur berkembang. Berwarna-warni dan semarak.*

 

 

 

Di Panggung Seniman Tua

oleh hajriansyah

di-panggung-seniman-tua2Seorang seniman tua duduk di kursi sana. Di sebuah panggung. Matanya berlinangan. Ia memendam kebanggaan di basah kedua matanya. Panggung begitu mewah baginya malam ini. Sudah lama tak seperti ini, pikirnya, sejak pertama kali menaiki panggung semasih mudanya.

Malam itu banyak sekali pejabat yang datang, membawa puja-puji penuh keharuan. Orang datang begitu banyak, dan gedung kesenian itu bergemuruh. Bergemuruh sampai terang segala pendengarannya. Lampu-lampu bersinaran terang sekali, menyorot kedua matanya yang basah dan sembab.

Duduk di barisan kursi depan penonton, gubernur dan wakil gubernur bersama jajarannya, juga walikota dan beberapa pejabat lainnya. Di baris kedua ada orang-orang kaya, pengusaha, dan orang-orang terhormat lainnya. Di belakang mereka semua masyarakat dari berbagai kalangan; mahasiswa, pelajar, orang kampung, orang pinggiran dan seniman. Mereka begitu antusias semuanya, padahal tempat itu—hari itu—hanyalah tempat sederhana dengan fasilitas sederhana, terutama untuk para petinggi dan orang-orang kaya, yang memungkinkan mereka berkumpul jadi satu dalam irama yang kadang syahdu dan banyak kali penuh keriangan.

Tak ada yang seindah tempat itu, selama ini bagi seniman itu selama hidupnya. Ia membayangkan surga yang paling indah datang padanya di hari pertunjukan itu sebelumnya, dan kini ia telah bersaksi atas surga yang dijejakinya.

Seniman tua itu, sebut saja Abah Juli namanya, telah banyak kali memimpikan ada penghargaan yang sepadan dengan kerja para seniman, sampai pernah ia menangis sesenggukan sendiri di pojok gedung yang bernama Balairung Sari, suatu hari sehabis gladi kotor sebuah pertunjukan untuk lawatan keluar negeri. Ia akan mewakili daerah dan negerinya waktu itu bersama grup panting pimpinannya ke Malaysia, tapi sebagai duta negara yang akan mengharumkan nama daerah, mereka tak lebih dari penggembira dengan honor kecil yang akan menaikkan pamor si pejabat gila hormat yang hari itu datang sebentar dengan berkacak pinggang dan kemudian lewat tanpa menyapanya—hanya senyumnya saja ketika mereka bertemu pandang. Dan ia geram betul melihat Ipin yang seperti anjing bagi majikannya, dengan senyum berliur menjijikkan, menunjuk-nunjuk pemusik, alat musik dan lain-lain yang bertebaran acak di atas pangggung. Padahal tahu apa si Ipin pertunjukan itu, akulah—Abah Juli—konseptor dan penata keseluruhan persiapan keberangkatan duta wisata ini, umpatnya dalam hati. Ipin cuma datang beberapa kali, padahal ia ditugaskan sebagai penyedia seluruh keperluan keberangkatan ini, hanya pendamping saja, tapi lagaknya seperti ia saja komandan regu pasukan ini. Seperti ia saja jenderal yang paling berjasa. Puih!

Apakah kesenian ini? Serupa kembang-kembang yang menghiasi ruang resepsi perkawinan yang akan kering dan ditinggalkan tamu-tamu undangan. Adakah ia bermakna bagi kehidupan. Benarkah ia bermakna bagi kehidupan? Aku jadi teringat pada Plato, pada Kant, pada orang-orang yang memikirkan sejauh mana kesenian berguna bagi kehidupan. Tapi seperti itulah, ternyata kemudian, bagiku, kesenian hanyalah kembang yang indah dipandang. Dan kembang itu layu dan ditinggalkan sesudah pesta dan segala keramaiannya berakhir.

Abah Juli merintih kesepian di suatu malam, di antara hingar bunyi nyenyanyian dari suara-suara seadanya pejabat yang satu persatu didaulat naik ke panggung. Pipinya dilinangi air mata. Sesekali ia menggoyangkan tangannya mengikut irama. Kadang matanya memandang penuh ekspresi pada orang yang menyanyikan lagunya, yang memandang tersenyum kepadanya. Kadang penuh kekosongan—begitu kontras dengan ruang sederhana yang semakin lama semakin pengap dan riuh.

Mereka bertepuk tangan dengan semangat. Mereka tertawa saat insiden wakil gubernur yang lupa beberapa bait di tengah nyanyinya—yang katanya, apresiasi yang tulus untuk seniman besar di sampingnya yang mengharumkan banua—dan suaranya yang pada nada tertentu menjadi sumbang. Mereka terharu saat Abah Juli menangis mengisahkan ihwal lagu ciptaannya yang dinyanyikan Sekda dengan penghayatan. Dan mereka kembali bersorak saat gubernur menjanjikan umrah bersamanya pada Abah Juli. Mereka, penonton yang bersemarak itu, menjadi cahaya yang serupa neon-neon berdaya terang luar biasa bagi perjalanan sunyi selama ini, di malam yang seindah purnama di masa dulu di pekarangan orang-orang kampung yang kesepian. Ya, malam itu serupa pesta panen raya di malam purnama.

Seorang wanita yang menyanyikan lagu—ia adalah seorang murid yang sekarang menjadi penyanyi terkenal di daerah—membawakan kesedihannya yang pernah datang saat terkenang orang-orang yang telah hilang. Ia kemudian terkenang ayahnya, seorang pejuang kemerdekaan di masa revolusi dulu, yang pernah menasihatinya tentang harapan dan kemandirian. Jangan pernah berharap dalam keadaan kau sedang bekerja, karena yang demikian akan mematahkan semangatmu saat muncul bayangan hasil kerjamu tak dihargai orang. Dan hari ini, ia menangis karena kata-kata itu hadir lagi padanya dalam kebalikan yang meyakinkannya, bahwa ia telah berbuat dan orang-orang menghargainya. Setidaknya di malam ini, saat suara gemuruh dari tepuk tangan dan sorakan yang menyebut namanya dalam kebesaran—yang seakan-akan menggema dari kubur ayahnya di kampung yang tak diketahuinya.

Ia menangis lagi, saat terkenang akan wajah ibunya dari sebuah lagu yang mengisahkan ihwal berkasih sayang ibu dan anak. Ibu, baginya adalah permata hidup yang tak ternilai. Darinya ia merasakan kehangatan dekapan saat dingin kehidupan mengancam lewat mata orang-orang yang dengki di masa jayanya, di waktu muda. Kehangatan itu yang menginspirasinya sedemikian rupa sehingga terkadang ia diam dan berusaha memahami, mengapa orang-orang yang duduk di kursi tertinggi pemerintahan yang mengemban amanat masyarakat begitu tak peduli pada kesenian. Kesenian serupa Mamanda, yang selalu menceritakan mereka—para petinggi dan pemimpin sebuah negeri—dalam kebijaksanaan sikap, yang menghormati kehendak masyarakat pimpinannya, yang selalu bercanda bersama inang dan pelayannya, yang menginstruksikan keberpihakan pada solusi atas masalah-masalah yang melanda negerinya. “Ibu-lah penginspirasi para pemimpin dalam kehangatan sikapnya pada anak-anak negerinya,” katanya suatu kali dalam sebuah seminar kebudayaan, di suatu waktu. Dan sempat pula ia catat itu dalam salah satu larik lagunya—dalam bahasa daerahnya.

Begitu pula anak-anak, mereka adalah manik-manik yang menghiasi diri kita dengan keriapan cahaya yang dipantulkannya. Bagi orang tua mereka adalah penerus cita-cita, atau setidaknya kebanggaan yang menghidupi masa depan dengan tabiat-tabiat yang ditanamkan orang-tua di waktu mereka bertumbuh di rumah semasa kecil. Orang tua merawat anak di masa mereka kecil dan belum mampu menghidupi diri sendiri, dan anak-anak merawat dan menyayangi orang-tuanya di hari senja mereka, saat seluruh kemampuan manusia menurun; pandangan yang merabun, badan yang mengisut, dan rambut yang menguban beserta pikiran—di baliknya yang memikun. Cerita tentang kasih sayang orang-tua dan anak adalah cerita yang abadi, begitu pula dalam lagu-lagunya.

Di akhir pertunjukan Abah Juli dihadang para wartawan. Tubuh tuanya yang letih dipaksanya untuk melayani pertanyaan-pertanyaan para kuli tinta itu. Ia terpaksa harus mengulang lagi cerita-ceritanya, pernyataan-pernyataannya tentang kesenian, tentang lagu-lagunya, dan harapan-harapannya.

Kurungan para wartawan itu semakin rapat. Mereka semakin ingin tahu dan mendekat. Tubuh tua yang sudah tak kokoh lagi itu, yang ditopang tongkat, menjadi limbung. Tiba-tiba sebuah mic dari sebuah stasiun televisi swasta daerah, yang dicorongkan padanya terlalu dekat membentur jidatnya, dan Abah Juli pun ambruk di tengah dekapan para wartawan yang terdekat dengannya.

Suasana menjadi ramai. Orang-orang yang tadinya berdesakan ingin keluar gedung beberapa berbalik arah, dan semua mata dari yang masih ada di dalam gedung memandang ke panggung. Si wartawan yang mic-nya menghantam si seniman menjadi pusat perhatian, beberapa orang menggerundelkan cemoohan padanya. Dan sebelum terjadi apa-apa, beberapa anggota kepolisian yang turut hadir berbaju-jaket preman—untuk mengamankan gubernur dan wakilnya—mengamankannya ke pos keamanan yang ada di depan gedung.

Wartawan itu tampak merasa bersalah betul. Ia tak sengaja. Ia hanya ingin bertanya lebih lanjut dan lebih dekat, bagaimana peran pemerintah selama ini terhadap semarak kehidupan berkesenian. Apalagi ia—wartawan itu—tahu bahwa Abah Juli pernah menjadi wakil rakyat, bahkan wakil ketua dewan di daerah; tentu ia punya pengaruh dengan posisinya itu, dulu dan kini. Rekannya yang mengarahkan kamera telah mengambil mic di tangannya, sebelum ia diamankan tadi. Ya, jangan sampai mic, nantinya, dijadikan saksi dan disita.

Sementara Abah Juli sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat. Rumah Sakit Islam. Gubernur dan wakil yang sedianya akan pulang turut mengiringi di satu mobil yang mengantar Abah Juli. Mereka sempat menunggu sebentar di rumah sakit, dan sempat menginstruksikan kamar dan fasilitas paling bagus untuk perawatan yang akan ditanggung pemerintah—atau kalau tak ada anggaran dengan uang mereka. Dan setelah beberapa saat si seniman tak juga sadar mereka pun pulang, sesudah menginstruksikan untuk dikabari jika ada perkembangan lebih lanjut.

Di sebuah ruang yang hampa Abah Juli sendirian. Ia tak tahu di mana ia berada, padahal sebarusan tadi ramai orang-orang mengelilinginya. Mana pak gubernur, mana wakil gubernur, mana sekda, mana Lihan—pengusaha terkenal di kotanya yang menghadiahinya sebuah rumah untuk amal bakti keseniannya, dan mana teman-teman senimannya yang lain? Dan ruangan apa ini yang sedemikian kosong?

Tiba-tiba datang ayah dan ibunya dari arah yang tak diketahuinya.

“Bukankah Ayah telah mati? Ibu?” Kedua orang-tua dihadapannya tersenyum. Tanpa membuka mulut mereka, terdengar suara.

“Kami masih hidup di dalam lagu-lagumu.”

“Lagu ulun? Bagaimana bisa?”

“Malaikat membawa kami dari rumah di awan-awan yang jauh, dan selama ini kami hidup di dalam lagu-lagumu. Ada banyak orang, tempat, dan sungai di dalam lagu-lagumu; ada sebuah ruang yang menampung semua itu. Sebuah dimensi yang berkebalikan dari ruangmu. Dan selama ini kami memandangmu dari sini, kepadamu..”

“Ulun tidak mengerti!”

Tiba-tiba asap. Dan pandangannya terhalang. “Ayah!? Ibu!?”

Degup jantung berdetak.Humbayang lewat; kesadaran seperti angin yang lewat.

Di tempat lain, si wartawan yang sudah pulang ke kantornya langsung dimarahi bosnya. Sengaja si bos ke kantor malam itu setelah mendapat kabar dari rekan-rekannya, yang memberitahu karyawan televisinya menjatuhkan seniman besar daerah di hadapan gubernur dan orang-orang penting lainnya. Si bos begitu kaget sehingga harus marah-marah untuk menutupi rasa malunya nanti pada pemuka daerah.

Wartawan itu langsung dipecat malam itu juga. Padahal belum sebulan ia bekerja, dan semangat pencariannya terhadap berita dan informasi apa saja menyangkut banua, masih panas-panasnya.

Wartawan itu datang ke ruang hampa di sebuah dimensi yang lain. Ia ingin meminta maaf, sekaligus mengadukan perihal dipecatnya ia dari tempat kerjanya ke Abah Juli. Abah Juli terhenyak. Ia membenarkan bahwa si wartawan tak sengaja, tubuhnya saja yang telah letih—sehingga sebuah sodokan pelan saja dari sebuah mic yang tumpul membuatnya pingsan. Padahal dulu ia—Abah Juli—adalah seorang letnan kolonel pada kesatuannya, yang begitu sangar dan suka menempeleng jika ada orang yang tidak berdisiplin dan mengganggu orang lain.

“Nanti kusampaikan keluhanmu ke gubernur, kau jelas tidak bersalah.”

“Padahal saya hanya ingin bertanya ke Abah, waktu itu..”

“Tanya apa?” Abah Juli penasaran.

“Boleh saya bertanya di sini?”

“Ya, silakan!” Ia duduk mengambang di udara. Di tempat itu tak ada kursi—atau setidaknya lantai. Si wartawan merogoh saku kemejanya, ia masih ingat menyimpan alat perekamnya di sana.

“Abah dulu orang berpangkat, bukan?”

“Ya, kenapa?”

“Bisa sedikit ceritakan tentang masa jaya itu?” Si wartawan ingin mengulang sedikit sebelum masuk ke pertanyaan pentingnya.

“Aku dulu tertarik menjadi bagian dari militer negeri ini karena ayahku seorang pejuang. Dan alhamdulillah karierku cukup baik. Sebagai orang yang terbiasa berdisiplin dalam kemiliteran, aku kecewa dengan diriku yang tak berdisiplin dalam masalah keuangan. Yah, mungkin karena aku juga seorang seniman, meski terbiasa dengan ketegasan, hatiku cukup lembut dengan masalah perasaan sehingga aku tak pernah berhitung dengan uang, jika kulihat kesusahan teman-teman—apalagi yang seniman. Ya, aku sempat juga duduk di kursi dewan sebagai wakil ketua di daerah, tapi memang aku tak berbuat banyak masa itu. Hanya beberapa kenangan dari sana yang sempat jadi inspirasi beberapa lagu ciptaanku. Orang memang sering lupa kalau sedang berada di atas; ketika sadar ia sudah berada di bawah lagi, dan apa yang bisa dilakukan jika sudah tak berarti.” Abah Juli memejam mata. Penyesalan itu jatuh sebagai air mata. “ Lalu, apalagi pertanyaanmu? Setelah ini aku ingin sendiri dulu sebentar.”

Si wartawan terpana, pertanyaannya sudah hampir terjawab baginya.

“Oya, sejauh mana peran pemerintah, menurut Pian, selama ini?”

“Bagi kesenian, maksudmu?”

“Iya..”

“Pemerintah itu memerintah kerjanya. Jika strategi yang dirumuskannya tepat, tentu banyak keinginan masyarakatnya yang terakomodir. Kau tahu sendiri kan mana yang mendesak menurut pemerintah. Kesenian itu hanya bunga-bunga di tepi taman… o, Ayah! Ibu!”

“Ada apa, Bah?”

Sepasang merpati terbang di atas mereka. Sebuah kuburan di tebing sungai; dan ada buaya, tiga ekor buaya sedang menganga di bawah sana.

Dug! Detak jantung berdegup. Ada bayang-bayang lewat. Mata Abah Juli terbuka-tutup; terbuka setengah dan tertutup lagi. Orang-orang menanti dengan tak sabaran. Sang isteri yang begitu cemas menunggu dari tadi malam tak nyaman hati. Dia menundukkan badan setengah ke samping ranjang, tepat di ujung telinga yang bergerak-gerak menangkap suara, ia bisikkan kata-kata, “Bah, orang-orang sudah berkumpul. Bangunlah!”

Mata si seniman terbuka. Gubernur mendekat dan menyentuh tangannya; senyumnya nampak lebar, Abah Juli memandangnya dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya. Wagub turut mendekat, begitu juga si pemilik stasiun televisi swasta, ia—wagub—memperkenalkannya pada Abah Juli yang sudah mulai pulih kesadarannya. “Ini Pak Hendra, pemilik stasiun tivi yang anak-buahnya membuat Abah jadi seperti ini.” Abah Juli tersenyum. Pak Hendra turut tersenyum—senang.

Dokter maju ke depan, dan rombongan mundur ke belakang. Ia memeriksa denyut nadinya, matanya, meraba dadanya dengan alat pemeriksa. “Kondisi beliau baik, hanya letih saja. Biar beliau istirahat sehari-dua ini di sini.” Katanya.

Rombongan keluar. Tinggal sang isteri dan anak perempuannya. Anak lelakinya mengantar rombongan pulang. Pak Hendra sempat meminta maaf atas sebab kejadian itu, dan menitipkan segepok amplop kepada putra Abah Juli—sebagai tali asih, sekaligus bentuk penyesalan yang sangat. Sepasang merpati terbang di atas mereka.

* * *

Seorang seniman tua naik ke atas panggung tertatih-tatih. Diperiksanya sudut demi sudut panggung. Ia ingin memastikan betul-betul pertunjukannya nanti malam benar-benar bersih dari was-was yang mungkin saja mengganggu pertunjukan. Mimpi tadi malam begitu menakutkan.

 

Juli 2008

 

 

Engkau Tak Peduli Lagi

oleh hajriansyah

 

Engkau ingin insaf dari kebodohan selama ini. Dan engkau mengungkapkannya padaku dengan mata yang nampak menertawakan diri sendiri.

Aku bertanya padamu, “Insaf bagaimana? Insaf dari apa? Memang sekarang belum insaf, ya?”

Kau hanya tersenyum. Aku sedikit bingung, tapi kubiarkan saja.

“Kamu baik.” Katamu padaku. Dan tentu saja aku makin ingin bertanya.

“Baik bagaimana?”

“Ya, baiklah!”

Entahlah!

Sebenarnya aku sudah pernah menyaksikan—atau mendengarkan—yang seperti ini, tapi engkau, yang sekarang berada di depanku ini, lebih ceria dan punya hidup, meski aku sendiri tak begitu mengerti apa itu hidup, tapi aku merasa kau punya hidup—dan itulah yang membuatku ingin hidup bersamamu, jika kau mau.

Seperti dua hari itu, kau menemaniku untuk keperluanku yang tak ada hubungannya dengan keperluanmu. Ya, agak klise memang jika kita bayangkan orang yang kasmaran. Ah, aku memang kasmaran. Kau rela istirahat dari kerjamu sementara waktu. Kulihat wajahmu yang sesekali kesal, sesekali tersenyum, sesekali menawariku pilihan-pilihan, dan yang nyata membantuku meski sekejap saja dalam dua hari yang indah itu.

Ah, keindahan itu datang lagi dengan wajah yang nampak sia-sia padaku. Aku ingin menafikannya, tapi aku benar-benar tak dapat menolak kebaikan orang, apalagi yang sepertimu. Yang seceria kamu.

Kita berjalan-jalan di tengah hiruk-pikuk orang-orang di lorong tua yang penuh belanjaan itu. Di sisi kita—kanan-kiri—begitu banyak barang yang dapat dijadikan oleh-oleh untuk orang-orang di kotaku. Kau bertahan sebentar jika melihat barang yang menurutmu bagus untuk dijadikan oleh-oleh, dan menawarnya untuk kubeli. Ya..ya, memang aku yang mengeluarkan uang kemudian, tapi itu tak mengurangi kebaikanmu padaku—di mataku. Dan terus saja kau begitu, dengan senyum dan keriangan yang tampak naif di mataku.

Keriangan, sesuatu yang seringkali menggodaku. Menarikku untuk mendekat dan bersahabat. Setiap mengenali sebuah keriangan pada wajah orang lain, aku teringat masa kanak-kanak yang indah. Saat jiwa seseorang berada di puncak kegairahannya, meski sesaat, dan semua permasalahan hidup yang ruwet menjadi cair di saat itu. Tak peduli hidup begitu susahnya, jika memandang keriangan pada wajah manusia aku menjadi terharu; ada juga hidup yang seindah itu, pikirku.

 

* * *

“Aku ingin hidupku menjadi lebih baik!” katamu padaku, membuyarkan lamunanku pada anak-istri di rumah.

“Lebih baik bagaimana? Apa sekarang kurang baik?”

“Ya jelas nggaklah,” balasmu.

“Kalau tidak baik, mengapa kau jalani, dan mengapa engkau begitu riang?”

“Memangnya tidak boleh riang, meski hidup yang kita jalani salah.”

“Tidak. Aku hanya heran saja, kok bisa orang tidak senang dengan yang dijalaninya sekaligus ia masih bisa riang dan ceria.”

“Entahlah!” jawabmu.

Di ranjang putih yang bersih di kamar itu kita saling bercerita, sambil sesekali memandang ke cermin. Saling memandang. Aku bergumul selimut, menahan dinginnya ruang ber-ac. Kau duduk, merapikan rambut dan dandananmu, sambil sesekali mengerling dengan senyum-keriangan, sesekali membalikkan badan dan berceloteh riang.

“Temanku menawariku usaha..”

“Usaha apa?” kupotong dengan tak sabar.

“Usaha yang halal-lah!”

“Iya, usaha apa? Aku kan tak bertanya halal-haramnya, lagian aku bukan ketua MUI, kan.” Kataku setengah bercanda-setengah serius.

“He..he.. Ii-yaa! Usaha konveksi..”

Sesayupan petikan syair lagu ‘Sandaran Hati’ dari Letto, mengalun dari hape-mu. Lagu yang umum dan popular di kalangan remaja saat ini.

“Sebentar, temanku telpon..” kau menahan telponmu, berbicara padaku, kemudian melangkah ke pojok pintu. “Ya, ya, mbak.. aku sedang ada tamu, nanti tak telpon lagi. Ya, ya..”

Tit! Bunyi hape dimatikan.

“Temanku, Mbak Yuni, yang nawarin usaha itu, lo. Kebetulan! Padahal aku baru cerita ke kamu.”

Kepalamu bergoyang-goyang seperti diterbangkan angin segar yang mengalir dari kotak elektronik di atas kaca jendela itu. Lucu!

 

* * *

Ya, memang lucu. Padahal sepertinya baru saja aku berkomitmen, aku tak akan berselingkuh. Aku teramat menyayangi isteriku. Ia begitu baik, begitu setia menemaniku. Dan rasanya seperti baru saja aku berjanji di dalam hatiku, takkan mengkhianati isteriku. Sesekali jajan tak apalah, tapi itu bumbu saja, takkan menyeretku ke percintaan yang lebih serius. Seperti dengan isteriku.

Sampai kau datang padaku—atau aku yang datang padamu—di suatu hari di sebuah kamar yang jauh dari isteriku. Kau lucu!

Betapa tak mudah menemukan seseorang yang seirama dengan diri sendiri. Menjalin komunikasi yang mudah dan indah. Diselingi percumbuan yang indah. Di sebuah kamar yang indah. Yang kita betah. Berlama-lama berdiam di sebuah kamar bukan kebiasaanku, dan kau membuatnya jadi mudah bagiku. Jadi betah.

Lalu kita terus menjalin komunikasi. Terus terbawa angin ke tempat yang jauh. Menelpon, ditelpon. Sms berbalas sms. Semuanya indah, meski aku tak menafikan isteriku yang mula-mula abai lalu curiga. Kukatakan pada isteriku, aku mencintaimu, semuanya tak akan mengubah kata itu meski aku mulai mencintai orang lain selain dirimu. Isteriku cemburu.

Isteriku menelponmu. Ia wanita yang tegar. Ia menelpon dengan tabah dan bertanya padamu, apakah kau mencintai suamiku? Kau bingung menjawabnya, dan memutuskan untuk tak lagi menghubungiku.

Lalu aku menelponmu lagi, mencoba meyakinkanmu akan janjiku. Tapi kau tak ingin lagi berharap. Tapi kita tetap menjalin kata, bukan? Aku mencoba berharap. Kita pun berhubungan lagi. Saling meng-sms-i. Sampai kau tagih hutangku. Sejumlah uang.

Ya, aku pernah berjanji mengirimimu uang, untuk bayar sesuatu keperluanmu. Tapi aku tak ingin kau mendustaiku, bukan sejumlah uang itu yang memberatkanku, sms-ku padamu. Kau marah dengan sms itu, seperti ada yang salah mengerti dengan pesan itu. Kau marah, aku tak mengerti, itu membuatku tersinggung. Aku tak lagi menghubungimu, engkau tak lagi menghubungiku. Sebulan pun berlalu. Waktu pun berlalu.

 

* * *

 

Aku lelah. Teramat lelah jika memikirkanmu. Aku ingin kita kembali bahagia; kau, aku dan isteriku. Aku tak dapat menahan perasaanku. Sudah kuusahakan, tapi tetap saja aku ingin menghubungimu. Aku tak bisa menunggu. Kau pun begitu. Terus bagaimana, ke mana arah kita berjalan.

Hubungan ini memang tak dapat berjalan dengan baik, meski aku menginginkannya. Kita begitu rapuh di awal. Aku banyak bertanya, kau tak suka. Kau, bagiku, sering berdusta. Dan kita melangkah terus ke kegelapan tak tentu arah.

Akhirnya kaupun memutuskan. Aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku hanya ingin menunggu dan kini itu tak berarti lagi. Aku pun melangkah. Kuharap kau pun begitu. Sampai sms-mu mengejutkanku. Ternyata memang tak ada jalan bagi kita. Aku turut bahagia. Semoga engkau bahagia.

 

* * *

 

Kepalamu bergoyang. Lucu sekali.

Kita duduk seharian di kamar. Berbincang. Terkadang rebahan; kupeluk tubuhmu, kau peluk aku. Terkadang kita bercumbu, menghabiskan waktu.

Hape-mu berbunyi. Sebuah sms masuk, cepat kau buka. Aku melirik, cepat kau tutup.

“Kenapa?”

Gak papa, temanku.”

“Apa katanya?”

“Bukan sesuatu yang penting.”

“Kenapa cepat kau hapus.”

“Hapus apa?”

“Tadi, sebelum kau tutup.”

“Ah, Abang..” katamu manja. Aku hanya diam, cemberut. Kau tersenyum, mencoba menggoda. Aku hanya diam. Kau pun buka kata.

“Itu tadi temanku. Kata-katanya kasar, makanya kuhapus.”

“Kasar bagaimana? Kenapa?”

“Dia nagih hutang. Pakai nyebut bawok lagi.”

“Hutang apa?”

“Hutang kecil saja.”

“Berapa? Kau tidak bisa bayar? Tidak punya uang? Uangmu mana?”

“Banyak sekali tanya-nya..” engkau tersenyum. Kepalamu begoyang, lucu sekali. Aku tersenyum, tak jadi merajuk.

“Ya..siapa tahu bisa bantu.”

“Uangku ada di tabungan, aku gak mau ambil. Soalnya temanku kan pinjam uang ke aku, katanya mau bayar kemarin, tapi gak bayar-bayar. Padahal uang itu yang rencananya kubayarkan hutang, eh bukan, kredit tanah maksudku, yang ditagih tadi. Aku kesal sama temanku, janji bayar tidak ditepati..”

 

* * *

 

Ya, aku punya janji padamu. Ada hutang yang tak terbayar. Aku menjanjikan pernikahan padamu. Dan kini, bunyi sms-mu: kau akan menikah. Tapi tidak denganku. Aku turut bahagia. Tapi aku menyesal tak dapat memenuhi janjiku padamu. Aku punya hutang padamu.

Engkau sepertinya tak peduli lagi dengan janjiku. Hidupmu terus seperti itu, katamu, terus dibohongi lelaki. Padahal kamu cuma ingin bahagia. Ingin bersandar pada sesuatu. Dinikahi, alangkah bahagianya, katamu, melacur membuat jiwaku kering, dan pernikahan alangkah indahnya. Tapi ini sudah kesekian kalinya. Engkau tak peduli lagi.

Lalu siapa yang akan menikah denganmu. Jalan pernikahan ternyata tak mudah bagi kita. Dan kini, kau tak mau lagi membalas sms-ku, tak mau lagi mengangkat telponku. Engkau tak peduli lagi.***

 

Juni-Agustus 2008

 

 

 

Ada Buaya di Keluasan Sana!

 oleh hajriansyah

Tulis saja! Tulis saja, katanya, sehingga aku kelimpungan juga mengadapi tuntutan yang semena-mena ini. Aku ingin berhenti sebentar saja, sekiranya aku dapat mengirup udara, menenangkan batinku atas hujatan pikiran yang terus berlari. Aku ingin sebentar saja mengungsi ke ruang yang lebih luas. Tapi waktu terus berlari, dan ruang memang sempit, kata pikiranku lagi. Lalu bagaimana aku dapat menulis, jika semuanya menjadi klise, terus diulang-ulang, sehingga aku tak lagi dapat menemukan kata yang tepat untuk diriku; untuk tempat yang lebih tinggi, yang lebih luas bagi diriku.

Lalu aku pergi ke teluk sunyi, entah di mana dan apa namanya. Di sana, di pinggir sungai yang luas aku memandang sunyi. Suasana yang damai. Di sampingku sebuah pohon besar. Akar-akar juntainya melambai menyentuh sungai. Aku berdiri memandang entah ke mana, akupun tak tahu. Di seberangku sebuah pulau. Keluasannya tampak hijau. Di atasnya payung awan tebal. Tampak damai di sana. Silir angin menyentuh tengkukku. Aku merinding. Aku dan kesunyian, dan di kepalaku tumbuh bayang-bayang. Ada buaya sebesar kuda, ia merangkak dari tebing menuju sungai. Sejenak ia berhenti, tampaknya ia menyadari keberadaanku, lalu berpaling ke arahku. Matanya ganas menatapku, seakan aku mangsa bagi rasa laparnya yang menahun. Tiba-tiba ia berlari ke arahku. Aku yang gugup tak dapat mengendalikan tubuhku, setiba-tiba saja aku meloncat ke sungai. Ah, tololnya aku!

Aku berenang kesetanan dikejar buaya, si raja sungai. Aku tak bisa berpikir lagi, kukerahkan segenap tenaga untuk berenang lebih cepat dari buaya itu, dan tujuku adalah pulau di seberang sana. Aku megap-megap di tengah sungai, tapi aku tak boleh berhenti, pikirku, dan terus saja kudayung tubuhku agar cepat sampai, agar lebih dari buaya yang seperti mesin tempur perenang yang handal. Oh, oh, tolong, aku menyeru ke langit yang kosong, selamatkan aku dan aku bersumpah akan mengunjungi kubur ayahku, akan bersedekah ke seribu anak yatim, akan berpuasa sebulan penuh, akan mengunjungi orang-orang yang telah lama tak kukunjungi, dan menyantuni mereka jika perlu. Oh, tolong aku Tuhan! Aku bersumpah!

Tiba-tiba aku terbangun dari mimpiku. Keringat dingin membasahi tubuhku, sekujur badanku. Di sampingku istriku tengah menyusui anakku yang paling kecil, yang berusia dua bulan, dengan terkantuk-kantuk. Ah, kasihannya ia. Bagaimana aku meringankan bebannya, setidaknya membuat ia dapat tidur nyenyak sebulan saja. Tiba-tiba ia tersadar, “Ayah sudah makan?” tanyanya. Ah, begitu perhatiannya ia, sementara aku sibuk menulis saja, padahal tulisanku tak dapat membahagiakan ia lebih dari ia membahagiakan aku. Tapi tak apa, aku bersumpah jika aku menjadi penulis terkenal, dan royaltiku dapat kubelikan sebentuk gelang emas dengan mata berlian di tengahnya, akan kubelikan untuknya. Aku bersumpah!

“Kau tidur sajalah, aku masih kenyang. Jika lapar nanti kuambil sendiri makanku.”

“Tapi jangan lupa makan, ya! Nanti sakit lagi seperti kemarin. Nanti tak bisa kerja. Nanti tak bisa beli susu untuk anak kita.”

“Ya, ya..” aku tersenyum saja, dan itu dapat membuatnya tidur, setidaknya sampai anakku bangun lagi menuntut susunya.

 

Tulis lagi! Tulis lagi! Kembali pikiran itu datang membawa pening yang tak sudah-sudah. Aku keluar membuka pintu rumahku. Kuhisap sebatang rokok dan memandang langit. Dari sungai mengalir angin segar. Di beranda belakang rumahku, menghadap sungai, di antara jamban-jamban yang terapung diombang-ambingkan air yang pasang, aku menangkap seekor biawak yang meloncat dari tebing bawah rumahan dengan mataku. Kupikir ia berenang mencari ikan. Di langit bintang hanya sedikit. Tak gelap, tak juga terang benar. Terpikir di kepalaku untuk membuat kopi, aku akan menikmati malam ini di beranda belakang rumah, dan menghayati sungai yang menuju muara. Aku berpaling ke dapur, mencari bungkus kopi dan gelas gula. Di sudut atang kutemui keduanya. Takaranku, dua bagian gula dan satu bagian serbuk kopi. Ah, nikmatnya!

Kuletakkan segelas kopi di bangku kayu panjang yang kududuki, tepat di sebelahku, dan kujumpat batang rokok yang masih menyala yang kutinggalkan sebentar tadi. Kuhisap dalam dan kuhempaskan asap dengan pelan. Dengan pelan, dan kuangkat gelas kopi untuk setegukan yang menghangatkan badan. Ah, nikmatnya!

Di seberang sungai, di antara bayang-bayang rumah, ada orang berlari. Mengejutkan aku. Dan suara-suara di belakangnya. “Maling! Maling!” Beberapa orang berlari mengejar sosok sebarusan. Aku bingung, bagaimana membantu mereka, aku tak mungkin terjun ke sungai yang dingin malam-malam begini. Ah, aku teriak saja.

“Hoi, malingnya mencebur ke sungai. Di sungai!” Orang-orang terperanjat melihat ke arahku, dan seseorang yang membawa senter mengarahkan sorotnya ke sungai.

Si maling yang tak kalah terkejutnya, menyadari keberadaanku. Ia mengalihkan tujunya ke arahku. Matanya nanar menatapku, ganas menghujam ke mataku. Aku salah tingkah, lekas kubuang puntung rokokku, dan berlari ke arah pintu, ke dalam rumahku. Cepat aku bersembunyi ke balik selimut istriku. Ia terbangun, “ada apa, Yah? Mengapa ketakutan begitu?” Aku gemetar, menutup mataku. “Ada maling. Ia menuju ke arahku, ke rumah kita.”

“Maling bagaimana, dan di mana. Dari tadi ayah tertidur melingkur dan mendengkur, setiba-tiba saja mengigau seperti itu.”

“Apa! Aku mimpi, ya?” aku bangun dan menatap ke luar, ke pintu kamarku.

“Tahajud sana! Dari tadi ayah mengigau terus. Kemarin juga, kemarin lusanya juga. Paling tidak, wudhulah!”

 

Aku bangun dari ranjangku. Aku menuju kamar mandi. Sejenak mengeluarkan yang kutahan sejak tadi—air kencingku, ah, segarnya. Aku tidak langsung kembali ke ranjangku, tapi berbelok ke ruang tamu. Aku duduk di bangku panjang, melonjorkan kakiku. Aku memejam mata, tidak untuk tidur, hanya untuk mengalihkan bayang-bayang di kepalaku, untuk menemu ruang yang lebih gelap untuk tidak melihat apa-apa.

Di kejauhan kudengar kokok ayam. Aku mencari jam di dinding rumahku, dan kunyalakan lampu. Ah, sudah pukul tiga lewat rupanya. Dan kuingat cerita Daus tadi siang di kantorku, katanya ia tak dapat tidur nyenyak beberapa malam ini. Ia selalu terbangun tengah malam, dan setelahnya tak dapat tidur lagi sampai pagi menjelang. Kemudian ia harus pergi kerja dengan kantuk di kepala, dan untuk itu agar tak terlihat bodoh di kelas kuliahnya, ia harus menghabiskan sebotol kratingdaeng plus kopi sesudahnya. “Ah, tidak berbahayakah itu,” tanyaku. “Aku sudah terbiasa dengan resep begitu,” tuturnya, dan kubalas, “itu berbahaya bagiku.” Ia hanya terkekeh saja kemudian.

“Ya, susah jika kita tak dapat tidur nyenyak di malam hari. Semuanya menjadi kacau. Siang menjadi kacau. Waktu menjadi sangat terbatas. Bagaiamana tidak, kantuk mengganggu konsentrasi kita..” kataku panjang kepada Daus.

“Iya, tapi ya memang waktu sangat terbatas. Bayangkan keinginan kita yang banyak..” katanya padaku. Daus tahu betul keinginanku begitu banyak, kurang lebih-sama seperti dia, yang terus punya ide—dan hampir tak kesampaian terus. “Dan siang rasanya sangat pendek, lalu malam. Bayangkan itu, sementara pikiran kita terus menerawang, jika menemu celah atau jalan langsung saja berlari, bagaimana waktu tak terasa pendek kemudian” katanya tak kalah panjang. “Apalagi aku ngajar, harus kerja untuk menghidupi keluarga. Meski seminggu cuma tiga hari untuk lima kali pertemuan, itu cukup menyita waktuku, kurasa. Tapi, bagaimana lagi, ya..”

“He, he, waktu memang pendek, ya” tambahku lagi.

“Ya. He, he, atau kita aja yang terlalu ngoyo, ya” katanya lagi.

“Tapi beberapa malam ini aku selalu mimpi, Us! Mimpinya aneh, dan membuatku susah tidur lagi kalau sampai terbangun. Aku selalu seperti digiring untuk menemu ruang yang lebih luas untuk diriku..”

“Ruang luas bagaimana,” ia memotongku.

“Ya, ruang luas. Bentuknya bisa apa saja, bisa padang ilalang dengan cakrawala langit yang lebar, lebar sekali. Bisa juga sebuah bangunan, atau tepatnya gudang yang tak bersekat, yang benar-benar luas. Atau bisa juga sebuah bukit dengan hamparan sungai di tebingnya, sungai yang lebar dan panjang, panjang sekali. Dan selalu di tengah keluasan itu aku terganggu, atau tepatnya diganggu kemudian dengan bayang-bayang yang menakutkan, entah itu lewat bentuk seekor buaya yang kemudian mengejarku, atau seseorang yang mengancam, dalam bentuk apa saja—yang menggangguku di tengah kelapangan hatiku. Bagaimana menurutmu, Us?”

Daus bicara panjang lebar kemudian, dan kata-katanya sama sekali tak memberiku pemahaman, atau setidaknya penghiburan, atau solusi. Tapi aku mendengarkan saja, sampai kami lelah sendiri berbincang-bincang. Sampai malam ini kemudian, akupun tak dapat tidur nyenyak lagi. Entahlah, sepertinya setiap orang punya mimpi-mimpi yang selalu membangunkannya di tengah tidur yang nyaman.***

 

10 Nopember 2008

 

 

suatu hari menari

Januari 13, 2009 oleh hajriansyah

Cerpen : Hajriansyah

orkes-pantingMELIHAT gadis-gadis itu menari, memandang kecantikan paras muda mereka yang besinaran membuatku seperti menari dalam imaji yang keputihan. Suara musik yang menyayat-nyayat dan suara penyanyinya yang terseok-seok ditingkahi keriangan yang meriah.

Yulalin..yulan-yulalin.

Mereka menari sembari tertawa.
Goyangan badan mereka, alunan tangan gemulai, dan gerakan kaki ritmis seperti membawa angin yang menepuk-nepuk pundakku.
Dari cermin depan wajahku kupandang mereka lewat belakang pundakku. Ruangan yang penuh cermin ini mencembungkan gerak mereka. Udara yang berputar di atas mereka memenuhi ruangan, bahkan asap rokokku turut berputar-putar. Terbayang dalam imajiku putaran para darvisi pengikut Rumi; memuncak..terus memuncak.

Degedang, degeduk
Degedang, degeduk
Duk..duk..duk…
Duk..duk..duk..duk.

(suara musik terus memuncak)

****

Aku seperti terbawa irama magis yang memenuhi diriku. Di dalam, tubuhku berputar-putar, terus berputar membawaku ke sudut-sudut ruang permenungan diri: Lagu ini, irama yang menggumpal ini, sampai di mana aku hanyut dibawanya?

Tiba-tiba sebuah tepukan membangunkan kesadaranku.
“Ngapain?”
“Ah, tidak!”
“Sepertinya asyik sendiri, lagi ngapain?” Tanya Edi yang tiba-tiba saja ada di belakangku.
“Oh, ini. Rumi sedang mengajariku menari.”
“Menari apa, ikutan dong?”
“Ayo! Pejamkan mata, dan biarkan irama yang mengalun di udara, yang diputar-putarkan angin di atas sana menarik tubuh kita. Tubuh imaji yang ada di dalam kesadaran kita. Ayo menari! Ayo menari! Angkat tangan dan kaki kita, biarkan perasaan kita dibawanya terbang, terbang melintasi tubuh wadag kita. Ayo menari, ayo!”
“Apanya yang menari, apanya yang terbang? Ah, kau ini!”

Tubuhku terus memuncak. Aku tak tahu sedang berada di mana. Ruangan ini begini luas, begini putih. Di depanku sesosok putih sedang menari—berputar-putar. Tangan kanannya menunjuk ke atas, tangan kirinya menusuk ke bawah; ia menari seolah udara, debu, perasaanku, dan semua yang di sekitarnya memutar bersamanya. Seolah ia magnet yang menarik segalanya, menjadi satu dengan dirinya. Dialah matahari. Dialah pusat semesta, dan aku adalah debu yang menempel di tubuhnya.
Aku hanyut seperti segerombolan ilung dibawa arus sungai. Aku tak dapat menyela, aku sepenuhnya dikuasainya, dan terus menuju muara.
Aku terombang-ambing di keluasan laut yang sepenuhnya putih. “Entah laut apa ini? Mengapa didominasi putih? Mengapa tidak biru?”
Sesayupan angin kudengar gemeritik hujan. Tik..tik..tik.., dan kemudian menderas. Aroma hujan mengental, tetapi di ruang tempatku berada ini tidak basah, padahal tidak ada atap di sini. Ruang ini tidak seperti ruang pada sebuah rumah, ia begitu luas, dan aku tidak melihat dinding pembatasnya.
“Tapi, dari mana bunyi hujan itu berasal?” Sejauh mata memandang tak ada dinding, pun tak ada air menetes, apalagi menitik deras. Tak ada basah di sini.

****

Aku tersadar sebentar, gara-garanya kudengar suara Sakura, anakku, di belakangku.
“Hoy, Yah. Ayah!”
“Hey ngapain di sini, mana mama?”
“Tuh!” Ia menunjuk ke belakangku, di sebelah kanan. Kulihat isteriku tersenyum, ia sedang berbincang dengan Edi, tangannya melambai—seperti mengajakku pulang. Tapi pulang ke mana, bukankah dari tadi aku di sini saja.
Aku tersenyum sebentar padanya, selanjutnya mataku kembali gelap sebentar, dan kemudian cahaya terang itu datang lagi. Lagi-lagi putih, seputih kapas.

“Apa yang kau cari di sini, anak muda?”
“Aku tidak sedang mencari apa-apa, aku terbawa ke sini, entah oleh apa, dan tubuhku menari tanpa kuingini, mengikut gerakmu.”
“Hmm..” Ia tersenyum dalam sebijak-bijak raut muka. “Kalau begitu, ayo menari!” ajaknya lagi—kali ini dengan seijinnya.

Kami menari dalam satu irama, seperti pohon dengan rantingnya, seperti ranting dengan daunnya, bergerak ke arah angin menghembusi kami. Tubuhku, pikiranku, perasaanku, sampai ke ujung jari-jariku bergerak—berputar. Pelan, kemudian cepat, cepat, dan terus memutar seperti gasing yang terlontarkan begitu saja.

Seandainya pohon bisa berlari ataupun
terbang
ia tak akan merasakan pedihnya gerigi
gergaji maupun ayunan kapak
Jika matahari tak dapat melintasi langit
dunia tak akan pernah melihat warna pagi

Jika air tidak menguap dari laut
tetumbuhan tak akan tumbuh besar diairi
sungai maupun rinai hujan
Hanya saat setitik air menguap
meninggalkan lautan—dan kembali—
ia kan dapat menemukan kerang dan
menjadi mutiara

***

Hatiku telah terisi oleh jutaan ketakjuban
Memandanginya
membuatku kehilangan akal hingga aku
benar-benar gila

***

Kita tidak berjalan di muka, kita ada di
baris belakang
Kita tidak melayang di atas, kita tenggelam
di bawah …

Seperti kuas di tangan pelukis
kita tak tahu di mana kita berada kini1

****

Makan waktu kurang lebih dua jam, ketika kuhitung kemudian, sampai akhirnya kami berhenti berputar.
“Ini sudah cukup untuk orang baru, sepertimu.”
“Biasanya sampai berapa lama, wahai Mula?”
“Kalau kau sudah terbiasa, dan sudah menjadi kebutuhanmu, ini bisa dilakukan sampai kau benar-benar ingin berhenti. Sampai kau hanya mengingininya berhenti, dan itu bisa satu jam, atau berjam-jam—bahkan bisa berhari-hari.”
“Bisa sedemikian?”
“Mengapa tidak. Kalau kau mengingini sesuatu, bukankah akan kau kejar sampai engkau mendapatkannya, tak peduli berapa lama waktu yang kau habiskan untuk itu, bukan? Coba kau lihat dua orang remaja yang duduk di bangku taman itu!”
Tiba-tiba terhampar sebuah pemandangan di hadapan kami. Sebuah taman, dengan lampu berdekor di sana-sini, ada juga pohon-pohon di sudut-sudutnya, dan sebuah pohon besar sebagai pusat, di tengah taman. Ada bangku-bangku taman yang sederhana, kuhitung ada empat bangku taman di area yang tidak begitu luas itu—kurang lebih 750 meter persegi; rumput-rumput halus yang terawat baik hasil karya seorang tukang kebun (taman) yang tekun dan telaten, tampaknya. Di tengah taman, di bangku di bawah pohon besar, duduk sepasang muda-mudi dalam kerindangan dan hembus angin yang melankolis.
“Tahukah kau, bahwa si lelaki sudah menunggu. Menunggu begitu lama sampai si gadis mengiyakan cintanya. Tahukah kau berapa lama ia menunggu?”
“Engkau lebih tahu, Mula.”
“Ha..haha.., mengapa tidak kau tebak saja, agar pembicaraan kita lebih hidup?”
“Aku takut salah.”
“Tak ada yang sepenuhnya salah dalam hidup ini, anakku. Setiap hal yang coba kau pertaruhkan dalam hidup ini akan semakin mendekatkanmu pada kebenaran, dan setiap pernyataan yang salah dapat diralat kemudian. Cobalah!”
“Mungkin, si lelaki telah menunggu selama empat tahun?” Aku mencoba.
“Bagus! Tapi, mengapa empat tahun, mengapa tidak dua, enam, atau sepuluh tahun?”
“Ah, itu hanya dugaan saja. Aku menunggu sampai kekasihku menjadi istriku selama empat tahun—ya, aku menduga berdasarkan pengalaman pribadi. Apa itu salah?”
“Ha..haha.., sekali lagi tak ada yang salah. Lihatlah!” Sekali lagi ia menunjuk ke depan, dan terhampar sebuah romansa. Seorang lelaki terpikat pada seorang gadis yang manis. Ia memendam cintanya di dalam hati, kemudian perlahan dan pasti, ia mendekat dan terus mendekat kepadanya, sampai mereka terbiasa berjalan bersama. Ada romantika di sana, kadang terjadi pertengkaran, kemudian pertautan yang semakin dalam; berselisih paham, bertukar kebahagiaan. Ya, kurang lebih empat tahun yang berselang sampai si gadis memahami cinta si lelaki—dan si lelaki begitu mirip denganku, juga si perempuan yang mirip istriku. Seperti kami di masa muda.
“Alangkah gaibnya!”
Seketika aku berucap demikian, tiba-tiba gelap. Dan sesayupan angin, kudengar suara babun, kenong, dan gung berirama perlahan merasuk ke ruang kesadaranku. Pandanganku pun perlahan pulih kembali. Di depan cermin, kupandang lewat bahuku gadis-gadis muda menari riang. Ruangan yang didominasi putih dan dikelilingi cermin di seputarnya mengesankan keluasan, meski sebenarnya tidak demikian kenyataannya; pada kenyataannya ruang ini hanya seluas 70 meter persegi—tidak begitu luas benar.
Tiba-tiba anakku memelukku dari belakang. “Sakura senang di sini, Yah ai.”
“Oala..! Aku tadi ke mana?” sahutku, seperti berbicara kepada diri sendiri.
“Ada apa, Yah?” Istriku menghampiriku. Wajahnya tampak lebih cantik dari biasanya, dan gerakannya pun demikian anggun.
“Tak apa-apa, ayo pulang!”
Hari senja, dan gadis-gadis di dalam ruangan itu sudah mengakhiri latihan menarinya, dan masing-masing bergegas pulang. Tampak langit mendung, senja ini begitu muram.
“Sepertinya akan hujan sebentar lagi.. Ayo!”

****

Malam.
Hujan begitu lebat mengguyur kota. Atap-atap metal zinc yang merata di hampir seluruh kota memperjelas bunyi hujan yang deras. Sungai-sungai meluap ke jalan sebatas mata kaki, dan sebagian orang yang masih tertinggal di jalan bergegas ingin pulang.
Di sebuah mimpi, di sebuah rumah di pinggir kota seorang lelaki hanyut di putaran arus deras yang menariknya. Ia menari, berputar begitu masyuknya. Ia menari sendiri dan hujan yang deras, setiap tetes airnya, memutarinya.

Banjarmasin, 12 Maret 2008

1. Rumi; Jalan Menuju Cinta

 

Seseorang Pergi Jauh

Cerpen : Hajriansyah

Seseorang pergi jauh, melampaui kecemasannya akan waktu. Ia yang selama ini lebih dikenal sebagai Udin yang pegawai rendahan biasa pada sebuah perusahaan ekspor-impor di Kalimantan, telah mengakhiri masa-masa kebimbangannya akan bagaimana masa depannya kelak.

Udin memang sudah berkeluarga, dan ia telah memiliki dua orang permata hatinya; seorang putri yang manis seumur sebelas tahun, dan seorang putra yang sedang lincah-lincahnya—berumur lima tahun. Dan keluarganya baik-baik saja sejauh ini, tak ada masalah yang berarti yang membuatnya harus makan hati. Istrinya seorang wanita yang setia dan penurut; anak-anaknya pun begitu, tak pernah benar-benar membantahnya. Rumah mereka sederhana, namun sangat layak untuk ditempati. Di rumah itu ada televisi 21 inc, sebuah kulkas satu pintu keluaran setahun yang lalu, dapur selengkapnya dengan sebuah kompor gas dan magic jar produksi Taiwan, dan lain-lain, yang tidak menampakkan satu kekurangan pun meski dibayar secara kredit dan dikumpulkan satu-satu.

Hampir tak ada satu kekurangan pun yang berarti. Semuanya telah tercukupi, meski seadanya—sesederhananya. Pekerjaan Udin juga tak ada yang bernilai minus, di mata bosnya ia standar saja. Gajinya meski selalu dipotong, untuk menutup barang-barang kreditan rumah tangganya, selalu dibayar tepat waktu setiap bulannya, dan itu masih cukup untuk keperluan harian keluarganya. Selengkapnya tak ada yang kurang pada diri Udin.

 

Akhir-akhir ini Udin sering bermimpi buruk. Semulanya ia mimpi bertemu dirinya yang lain, seseorang yang secara fisik memang dirinya, tapi berpikir terbalik darinya yang selalu berpikir secara sederhana—praktisnya saja. Sosok dirinya dalam mimpi ini, berbicara dalam bahasa, lewat kata-kata, yang tak begitu dimengertinya. Sekilas Udin paham perkataan dirinya yang bertolak belakang dalam mimpi, tapi ia tak paham benar apa dan ke mana arah pembicaraan—setiap kata-katanya—ditujukan.

 

“Hei aku, aku berpikir hidup ini tak lebih dari sepenggal mimpi, kita berdiri dan kemudian mati. Menjadi tua adalah keniscayaan; menjadi miskin adalah keniscayaan; menjadi kaya adalah keniscayaan; menjadi lebih terhormat adalah keniscayaan; dan menjadi segalanya adalah hak setiap manusia.”

“Ya.”

“Memimpikan dapat berjalan lurus adalah pikiran yang lurus. Berjalan sepenggal-sepenggal adalah kekurang pahaman kita akan keinginan, dan berjalan berbelok-belok adalah ciri kesesatan.”

“Ya.”

“Setiap langkah kakimu adalah langkah kakiku jua. Aku akan tersiksa jika Kau tak mengerti jalan hidupmu. Aku menjadi tak berarti jika diriku yang hidup di alam fana tak punya tuju yang mendekatkan kita—tuju kepadaku.”

“Maksudmu?”

“Kau adalah aku, dan aku ialah juga engkau. Aku bisa berlari, tapi aku tak bisa menunggumu terus-menerus.”

“Maksudmu?”

“Aku, kulihat dirimu hidup dalam kegalauan yang tak kau sadari. Aku yang tersiksa selama ini, dan kuharap engkau mau bertukar rasa hidup denganku.”

“Maksudmu lagi?”

“Gelisahlah, agar aku tenang!”

“Apa yang harus kupikirkan, apa yang musti membuatku gelisah; bagaimana cara agar gelisah, dan untuk apa aku gelisah?”

“Agar aku tenang.”

 

Seharian Udin bingung dengan mimpinya, apalagi mimpi itu kemudian datang terus setiap malam, di setiap tidurnya. Udin, bahkan, pernah berusaha menahan sedemikian rupa keinginannya untuk tidur, agar ia tak memimpikan mimpi yang sama seperti malam sebelumnya, tapi tetap ia tak dapat menahan rasa lelah yang menggelayutkan kantuk di matanya. Dalam ketertiduran yang sesaat itu pun mimpi itu datang dalam wujud yang sama.

Udin akhirnya memilih untuk menuntaskan kebingungan, rasa lelah beserta kantuk, dan ia memilih untuk cemas.

Suatu malam yang sepi, saat istri dan anak-anaknya tertidur lelap di malam yang tak berbintang, Udin melangkahkan kakinya keluar rumah. Ia tak pasti akan ke mana, ia hanya berharap dapat gelisah. Dan akan dimulainya kegelisahan itu dengan berjalan, keluar dari kemapanan rumahnya yang sederhana.

Di sebuah persimpangan depan gang rumahnya, ia berpapasan dengan peronda jaga malam; pak Agus.

Ia menyapanya dengan ramah. “Malam pak Agus, aman pak ya?”

“Malam pak; dan aman. Mau ke mana, pak, malam-malam begini?

“Mau jalan-jalan saja, putar-putar di sini saja. Saya tak bisa tidur, pak.”

“Oya, silakan kalau begitu.”

 

Fajar menjelang di langit gelap, segoresan ungu membentang sepanjang cakrawala yang jauh. Seseorang yang berjalan dengan kecemasan yang tak jelas masih berjalan dengan sisa kantuk yang ditahan di kepala. Ia berhenti di sebuah dermaga sungai yang masih sepi; inginnya Udin merebahkan badannya, meski sesaat di dermaga itu. Sebelumnya dipandangnya sungai dan jejeran klotok yang diparkir di sisi dermaga kayu, kemudian ia melirik ke sebuah lapak yang kosong di sudut kiri. Ia menuju ke situ. Lapak itu cukup bersih untuk ditiduri. Rasa lelah menidurkannya.

 

“Hei aku, bagaimana rasanya berjalan tak tahu arah, akan membawamu ke tempat-tempat yang tak pernah ada di benakmu. Hal yang demikian akan mengajarimu tentang kehidupan yang luas—yang beragam. Engkau akan menjadi bijakasana, percayalah. Berbahagialah! Dan biar kecemasan mengantarmu kepada ketinggian..”

“Ketinggian apa? Ketinggian yang bagaimana?”

“Ketinggian; tempatmu memandang lebih sempurna apa saja, segala yang dapat kau pandang. Lebih sempurna.”

“Untuk apa?”

“Untuk membahagiakanmu, suatu saat nanti.”

“Oya?”

“Ya!”

 

Udin tersentak. Seseorang menepuk pundaknya di sebelah kiri.

“Hei, bangun! Siapa kamu? Kenapa tidur di sini?”

“Oh, maaf..saya kelelahan, numpang tidur di sini

“Siapa kamu?”

“Saya Udin..saya akan pergi dari sini. Terima kasih untuk tempatnya.”

 

Hari telah terang rupanya. Mentari sudah menyinari sungai sedemikian rupa, sehingga jejak-jejak perahu dan klotok yang bersliweran tampak keperakan di antara keruh coklat sungai Barito. Di timur, Pulau Kembang seperti raksasa hijau yang tiduran di atas sungai; mengelilinginya, kapal-kapal baja dari luar Kalimantan beserta tongkang-tongkang pengangkut batu bara, menuju Laut Jawa.

Udin membersihkan muka di sungai. Menyegarkan.

Udin berjalan lagi, kali ini menuju warung—salah satu lapak dari jejeran lapak yang tadi ia tiduri. Sebelumnya ia merogoh isi sakunya, tangannya menggamit dua lembar uang ribuan dan satu lembar lima ribuan. Sepertinya hanya ini yang ada, dompetku lupa kubawa, pikirnya. Tapi tak apa, cukuplah ini.

Uang tujuh ribu yang ada itu ternyata pas-pasan untuk mengganjal perutnya pagi itu, selebihnya ia akan menyandarkan hidup pada belas kasihan orang lain.

 

****

 

Waktu telah berlalu sembilan tahun.

Penampilan si lelaki dengan kegelisahan yang mendorongnya untuk berjalan telah benar-benar seperti orang gila. Orang-orang yang memandangnya telah memastikan di kepala mereka, ia gila.

Tampang laki-laki itu benar-benar kusut masai. Mukanya sudah hampir tak jelas rupanya—lebih menandakan kegilaan. Rambutnya seperti gimbalan yang tak dikerjakan dengan benar, seakan dikerjakan setengah hati. Dan pakaiannya compang-camping— sobek di sana-sini. Air mukanya dingin, sedingin cuaca yang tak bersahabat, sekaligus memelas. Begitu mengasihankan.

Sejauh waktu yang berjalan, di setiap malam dan tidur yang sebentar si lelaki kusut masai selalu memimpikan dua dirinya yang saling berbincang. Awal-awalnya lebih seperti monolog dengan seorang pendengar setia, yang hanya bisa berkata ‘ya’ atau ‘iyakah’ dan ‘bagaimana’, atau kata-kata serupa itu. Kemudian, makin berganti bulan dan tahun, mulai terjalin dialog. Perbincangan; mereka mulai berbincang dan bertukar kata dan kalimat. Kegelisahan lelaki itu mulai mencair, ia mulai mengerti arah ke mana tuju hidup sebenarnya. Ia mulai memahami hidupnya; kehidupan. Ia melihat hidup seperti lemparan bola ping-pong, bergerak ke sana-sini dipermainkan orang. Kemudian ia melihat hidup seperti jarum jam, bergerak menuju waktu tertentu. Kemudian lagi, ia memandang hidup sebagai prestise yang harus dipertahankan, karena begitu tidak mudahnya mendapatkan penghargaan orang lain. Ia melihat orang-orang berjalan lebih tak jelas tujuannya, ketimbang dirinya; mereka mengejar sesuatu yang sama tak berartinya dengan bajunya—dirinya—yang telah berantakan.

Rupa-rupa silih berganti di hadapannya. Semuanya bagai awan yang dihembuskan angin; bagai air yang mengalir selalu mencari celah sesempit apapun bagi dirinya. Semuanya tak kalah menariknya ketimbang elang yang bermanuver sedemikian rupa untuk pada akhirnya menerkam mangsanya. Juga tak kalah indahnya ketimbang semut yang beriringan menggendong sisa-sisa makanan. Juga tak kalah indahnya seperti serat-serat benang yang menjalin warna orange pada tepi kain jeans yang lentur pada betis seorang ibu muda.

Semua tentang hidup telah menjadi sedemikian jelas bagi si lelaki kusut masai itu. Ia memahami kehidupan sedetailnya, dan cukuplah itu menjadi perbincangan yang hidup antara dirinya dan dirinya yang lain. Kadang saat malam, ia terlihat berbicara sendiri; di emper toko, di pinggiran bak sampah, atau di tepi jalan bersandar pada tiang traffic-light yang kuning.

 

“Aku-ku, kini kulihat hidup lebih berwarna, jalan-jalan lebih indah, rumah-rumah lebih beragam pada ornamennya, dan hidupku begitu naifnya sejauh ini—sejauh puluhan tahun yang monoton sebelum ini. Ingatanku jadi lebih segar, tentang hari-hari yang berlalu sepanjang hidupku. Kakekku, ayahku, ibuku, istriku dan anak-anakku yang telah hilang dari sisiku—seakan mereka hadir di dalam ingatanku yang sempit ini.”

“Ya, sejauh ini, aku pun jadi lebih tenang, tak lagi mencemaskanmu. Yang kau pandang dan yang kau rasakan menghidupiku—benar-benar menghidupiku. Semua yang pernah tenggelam dalam ingatanku menjadi hidup yang sebenarnya; yang kupahami dan yang kupikirkan telah kujalani bersamamu. Aku hidup, bersamamu.”

“Ya, akupun begitu. Merasakan hidup benar-benar hidup. Meminum air secukup rasa hausku, mengganjal perut secukup rasa kenyangku, memahami hidup sejauh perjalanan yang kujalani sendiri. Semua telah mencukupiku, memuaskanku. Rasanya tiba saatnya untuk pulang ke keluargaku, menjalani sisa hidupku bersama mereka, sukur-sukur dapat membahagiakan—menggantikan segala kekosongan yang kuberikan pada mereka.”

“Apakah masih perlu, lagi, yang demikian?”

“Ya, aku ingin berbagi bersama mereka, tanpa mengosongkan apa yang sudah ada padaku.”

“Baiklah, akupun ingin berkumpul bersama ‘keluarga’ku.”

 

 

Di depan gang rumahnya yang dulu Udin kebingungan. Sembilan tahun rupanya banyak mengubah suasana dan tempat; dan jalan yang dulunya sempit kini telah begitu lebar, sungai kecil yang dulu sampai di belakang rumahnya kini telah menjadi got selebar satu meter saja.

Dalam perjalanannya yang sembilan tahun berlalu si lelaki, Udin, berjalan sangat jauh. Ia tak hanya menyeberangi sungai-sungai saja, ia bahkan telah menyeberangi lautan, bahkan beberapa lautan, dengan menumpang secara gelandangan pada kapal-kapal barang antar pulau di nusantara. Sehingga sampai saat ia harus kembali, banyak hal telah berubah pada tempat yang pernah ditinggalkannya.

 

Malam itu, saat sepi, ia memberanikan diri mengetuk pintu yang telah ditutupnya sembilan tahun lalu tanpa pamit. Diketuknya perlahan dengan sedikit ragu, kemudian agak keras sedikit—karena ketukan pertama tak menimbulkan efek apa-apa—dan lebih keras selanjutnya, sampai terdengar suara langkah kaki di dalam.

Pintu berderit terbuka, maklum rumah itu agak tua, dan tangan seseorang, kemudian wajah seseorang nampak di belakang pintu. Seorang laki-laki setengah baya. Wajahnya agak terperanjat. Udin pun terpaku, wajah itu adalah wajahnya, hanya saja lebih bersih dan terawat. Di belakangnya ada wanita setengah baya, kecantikannya tak banyak berubah seperti sembilan tahun yang lalu, hanya lebih tua. Ia pun terperanjat. Di ujung ruangan, baru keluar dari kamar, dua orang remaja—laki dan perempuan—bingung menatap wajah kusut di depan pintu, mirip ayah mereka.

“Siapa kamu?”

Oh..siapa aku???

 

26 Maret 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Biodata Penulis

 

Hajriansyah lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 10 Oktober 1979. Pernah kuliah di Modern School of Design (MSD) Yogyakarta jurusan Seni Lukis dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan Seni Murni (PS. Seni lukis). Buku kumpulan puisinya yang telah terbit: Jejak-jejak Angin dan Jejak Air.

 

 

Ziarah

Sandy Firly

(Kalimantan Tengah – INDONESIA)

oke-ziarah21
PADA sisa seperempat malam itu ia terbangun. Ditengoknya istrinya yang tertidur membelakanginya. Suara ngorok istrinya seperti peluit kapal di malam tanpa angin dan gelombang. Disibaknya selimut, diraihnya jaket yang tergantung di dinding pintu kamar, dan sebuah senter di atas meja. Dia bertekad tetap ke luar rumah menuju pekuburan di belakang surau, sekitar 500 meter dari rumahnya ke arah barat. “Aku mesti ke kubur, ke kubur.” Hatinya begitu gelisah. Di luar bulan terang, langit luas membentang, awan-awan tipis menepi. “Pekuburan itu pasti terang cahaya bulan. Aku mesti ke kubur, ke kubur.”

***

Cerita ini bermula dari sebuah nazar. Salim telah bernazar, bila ia bersama tiga anak buahnya berhasil mendapatkan intan di pendulangan Cempaka, maka ia akan berziarah ke makam Wali Songo di Jawa. Tak hanya sendiri, ia akan mengajak anak istri dan tiga anak buahnya. Ini adalah kaul pertamanya untuk pekerjaan mendulang.

Peruntungan Salim memang sedang sepi. Setahun belakangan ini hasil mendulangnya hanya mampu untuk makan sehari-hari dan membayar utang sembako bekal mendulang di warung. “Cobalah Pak Salim bernazar, insya Allah. Nazar apa saja, tentu yang baik-baik. Pak Salim pasti tahulah itu,” begitu saran Pak Majid, ustaz di pesantren dekat rumahnya di Desa Antaraku, ketika ia menceritakan perihal usaha mendulangnya yang kian tak menghasilkan.

Salim merasa hanya mendulanglah pekerjaan yang mampu dilakukannya, seperti juga dulu almarhum bapaknya. Lagi pula ia telah mendulang sejak muda. Dari hasil mendulang juga ia akhirnya bisa mengawini Saidah, istrinya, yang kemudian melahirkan Diyang, Murni, dan Nanang. Dua anak perempuannya telah dibawa laki mereka masing-masing. Mereka kawin dalam usia muda, Diyang 18 tahun, Murni 16 tahun. Diyang kini di Samarinda, suaminya bekerja sebagai penjual buah. Sedangkan Murni di Pangkalanbun ikut suaminya yang bekerja di perkebunan kelapa sawit. Jadi tersisa si bungsu Nanang yang masih bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah—di kampung biasa disebut Sekolah Arab.

Bagi orang Banjar yang berdiam di Martapura, berziarah ke makam para wali menjadi semacam cita-cita rohani, seperti halnya berhaji meski tingkatannya tidaklah setinggi itu. Namun dimafhumi, berziarah ke makam para wali sudah mentradisi. Salim juga tahu, tiap tahun ustaz-ustaz di pesantren di desanya mengadakan ziarah ke makam Wali Songo, dan selalu saja ada warga di sekitarnya yang ikut berziarah bersama. Mereka berangkat rombongan, kadang sampai 20 orang. Dan setiap pulang dari ziarah Wali Songo, seolah-olah mereka seperti pulang dari berhaji.

Salim memang sudah sering mendengar, kalau nazar adalah salah satu kunci untuk membuka pintu rezeki. Dan ia yakin, dengan nazar berziarah ke makam wali-wali di tanah Jawa, maka Tuhan akan memudahkan ia dan anak buahnya bekerja dan bahkan menunjuki mereka lubang galian mana yang harus dikerjakan untuk mendapatkan intan. “Para wali adalah kekasih Tuhan, sudah tentu berziarah ke sana sangat baik. Tuhan pasti senang,” begitu bisik hati Salim. Kendati ia sebenarnya merasa tidak enak dengan Tuhan karena bernazar seperti itu. Sebab ia sudah lama meninggalkan salat lima waktu, jarang beramal sedekah, dan entah berapa tahun tak lagi berzakat.

Namun Salim juga merasa tak punya pilihan bagus untuk merayu Tuhan selain nazar ke makam Wali Songo. Sementara untuk nazar berhaji, ia merasa belum siap secara mental – tentu saja selain ongkosnya yang mahal. “Di tanah suci, apa-apa yang dilakukan orang selama hidupnya, terutama yang tidak baik, akan ditampakkan oleh Tuhan dan bahkan dibalas langsung. Ada jamaah yang tersesat berjam-jam, ada yang ditarik-tarik askar Arab, atau bibirnya tak bisa lepas ketika mengecup hajar aswad.” Tambahan cerita itu pula yang membuat Salim merasa tak siap berhaji. Ia takut salat yang ditinggalkan dan zakat yang dilupakan akan berubah menjadi askar Arab, sering diceritakan bertubuh tinggi besar dengar wajah hitam sangar, yang akan mengejar-ngejarnya di tanah suci. Sebab itulah ia cukup bernazar ziarah ke makam Wali Songo saja.

Sudah tentu Salim tidak menceritakan perihal nazarnya ini kepada anak buahnya maupun anak istrinya. Memang begitulah. Sebuah nazar tak seharusnya diceritakan kepada orang lain. Cukup kita sendiri yang mengetahui. Cukup hati kita. Sebab nazar adalah sebuah permintaan terdalam, dari lubuk hati. Harus murni, tulus. Karena bila sebuah nazar diceritakan, itu bisa mengurangi keikhlasan. Takut dianggap ria, takut dianggap gagah-gagahan, dan yang paling dikhawatirkan adalah takut tidak bisa melaksanakan nazar tersebut bila memang hajat telah dipenuhi oleh Tuhan.

Salim pernah mendengar sebuah cerita tentang nazar ini. Di kampung seberang sungai desanya ada seorang pendulang yang rumahnya terbakar dan menghanguskan seluruh harta di dalamnya. Kejadian itu hanya berselang satu bulan setelah si pendulang berhasil mendapatkan intan cukup besar. Dari cerita yang beredar, si pendulang pernah bernazar akan menyantuni 100 anak yatim bila ia mendapat intan. Rupanya Tuhan memperkenankan nazarnya. Si pendulang diberi rezeki dengan mendapatkan sebiji intan berkualitas bagus dan laku dijual seharga Rp 1 miliar. Setelah uang itu dibagi-bagi terlebih dulu dengan beberapa rekan kerjanya, si pendulang tetap mendapatkan bagian yang cukup besar. Uang hasil penjualan intan itu pun lalu dibelikannya perabotan seperti televisi, vcd, kulkas, kipas angin, sofa, lemari kaca, baju-baju baru untuk anak istrinya, serta dua buah sepeda motor (konon menurut cerita lagi, si pendulang itu sebenarnya ingin membeli mobil, namun karena tak bisa menyetir dan tak ada garasi di rumahnya maka dibelilah sepeda motor. Sebelumnya cuma beli satu, tapi karena rumahnya dirasa masih bisa menampung satu sepeda motor lagi, maka dibelinya lagi sebuah). Sementara ia sibuk dengan barang-barang barunya itu, nazarnya menyantuni 100 anak yatim pun terlupakan.

Begitulah, satu bulan berselang, rumahnya terbakar dan menghanguskan barang-barang yang baru dibelinya. Meski penyebab kebakaran diduga akibat korsleting listrik, namun orang-orang tetap saja mengaitkan musibah itu dengan nazarnya menyantuni 100 anak yatim yang tidak ditunaikannya.

“Nazar itu baik. Namun jangan sekali-sekali berani bernazar bila kamu tidak sanggup memenuhinya.” Itulah pesan Pak Majid yang terus diingat Salim. Sepulang dari rumah Pak Majid, pesan itu berdenyut-denyut di kepalanya. Itu sehari sebelum ia dan tiga anak buahnya berangkat ke Cempaka untuk mendulang. Malam itu juga ia meluruskan nazarnya berziarah ke makam Wali Songo bila berhasil mendapatkan intan. Sepanjang perjalanan pulang ia terus mengucapkan nazarnya dalam hati seperti doa. Berulang-ulang. Berulang-ulang hingga ia tiba di depan pintu rumahnya. Sebelum memasuki rumah, sekali lagi dia niatkan nazarnya, sambil pula ia meyakinkan Tuhan bahwa ia pasti akan melunasi nazarnya bila Tuhan berkenan memberinya rezeki di pendulangan.

***

Pada hari ketiga di pendulangan, Salim mendengar jeritan Zakir, anak buahnya, dari dalam lubang pendulangan seperti orang kerasukan. “Galuh! Galuh!” teriak anak muda itu. Sudah dipahami dalam adab pendulangan, bila seseorang menyebut nama Galuh di pendulangan, itu bukanlah sedang memanggil nama seorang anak gadis, terlebih lagi merayunya. Galuh itu sebutan untuk intan yang didapat. Sebab menurut hikayat, bila menyebut nama intan dengan nama sebenarnya, maka intan tersebut bisa lenyap secara gaib. Masih dipercaya pula, bahwa intan adalah penjelmaan putri dari alam tak kasat mata.

Salim sempat terpukau melihat benda yang diperlihatkan Zakir di antara jempol dan telunjuknya. Benda seukuran pentol bakso itu tampak hitam mengkilap. “Ya, ini memang Galuh. Galuh,” ucap Salim setelah benda bulat seukuran pentol bakso itu ditelitinya dengan cermat. Pengalamannya bertahun-tahun tak mungkin luput. “Ini memang Galuh, Zakir,”  ulang Salim dengan mata berbinar-binar kepada Zakir yang senyumnya terus mengembang, juga kepada dua anak buahnya yang lain, Rasid dan Umar, secara bergantian. “Akhirnya saya jadi kawin juga,” sambut Zakir, yang rupanya telah terbayang uang yang akan didapatnya dari penjualan intan itu nantinya. Sedangkan Salim teringat dengan nazarnya berziarah ke makam Wali Songo.

Seketika saja kabar penemuan intan sebesar pentol bakso oleh kelompok Salim tersiar ke seantero masyarakat Banjar. Layaknya setiap intan yang ditemukan adalah penjelmaan seorang putri, maka intan sebesar pentol bakso itu pun diberi nama “Putri Malu”.

Bergantian rombongan pejabat ibukota setempat mengunjungi Desa Antaraku, yang jalannya seperti kubangan kerbau dan hanya bisa dilewati sebuah mobil satu arah. Begitu pula beberapa pengusaha intan, baik dalam kota maupun luar daerah, rela menempuh perjalanan hampir tiga jam untuk melihat dengan mata kepala sendiri intan yang disiarkan sebesar pentol bakso itu. Di antara pengusaha tersebut ada juga yang telah menyiapkan uang kontan untuk tawar menawar, namun ternyata harga yang dipasang Salim untuk si “Putri Malu” membuat para pengusaha benar-benar malu merogoh kocek mereka.

Seiring itu, sontak nama Desa Antaraku yang sebelumnya terisolir, menjadi terkenal. Imbasnya, jalan menuju desa pelan-pelan mulai dilakukan peninggian oleh pemerintah dengan menguruk pasir dan batu kerikil. Begitu pula Sekolah Arab, tempat Nanang putra Salim belajar, membuka mata pejabat yang berkunjung untuk melakukan perbaikan; menambal atap yang bocor dan menambah meja kursi untuk murid.

Dua minggu sejak ditemukan, belum ada juga yang berani meminang “Putri Malu” dengan mahar yang pantas. Salim pun mulai diserang gelisah. Ia terus teringat dengan nazarnya berziarah ke makam Wali Songo. Ia khawatir ada apa-apa bila nazarnya itu tidak segera dilaksanakan.

Pada hari keduapuluh, akhirnya datang H. Lihanuddin, pengusaha asal kota intan Martapura yang mau meminang “Putri Malu” dengan nilai mahar tertinggi, Rp 3 miliar. Setelah berunding dengan ketiga anak buahnya, Zakir, Rasid dan Umar serta melibatkan Pak Majid sebagai tokoh Desa Antaraku, Salim pun memutuskan menerima pinangan H. Lihanuddin.
Usai pembayaran intan, Salim memberitahukan tentang nazarnya kepada anak istrinya, ketiga anak buahnya, termasuk juga kepada Pak Majid yang dulu menyarankannya untuk bernazar. “Karena saya belum pernah naik pesawat, maka saya memohon kepada Pak Majid yang sudah berpengalaman untuk menjadi kepala rombongan kita untuk berziarah ke makam Wali Songo, seperti yang telah saya nazarkan. Semua ongkos, saya yang tanggung,” ucap Salim sambil tersenyum. Semua yang hadir tampak senang.

“Alhamdulillah, saya akan siapkan secepatnya rencana ziarah kita,” sahut Pak Majid, “Tapi, Pak Salim tampaknya buru-buru sekali ingin menunaikan nazarnya. Takut kualat ya,” canda Pak Majid yang langsung disambut gelak tawa. Salim hanya tersenyum masam sambil mengelus rambut di kepala depannya yang mulai menipis.

***

Perjalanan ziarah ke makam Wali Songo berjalan lancar. Salim juga membawa banyak oleh-oleh untuk para tetangganya. Namun, meski telah menunaikan nazarnya, Salim merasa ada yang menggelisahkan hatinya. Tiga hari sudah ia terbangun tiba-tiba di tengah malam. Seperti ada suara yang memanggil-manggil dalam tidurnya, tak tahu suara siapa.
“Apakah mungkin karena nazarnya terlambat dilaksanakan?” tanya istrinya ketika Salim menceritakan perihal mimpi dan kegelisahan hatinya saat sarapan pagi.

“Rasanya tidak juga. Bukankah kita cepat saja menjual intan itu dan langsung berangkat ziarah.” Atau, jangan-jangan karena saya tidak menziarahi makam wali-wali di kota Martapura ini? pikir Salim. “Iya, saya tahu, Bu,” ucap Salim cepat, “Usai sarapan kita langsung pergi ziarah ke Kalampayan dan Sekumpul.”

Istri Salim hanya menatap bingung dengan keputusan tiba-tiba itu.
“Oya, jangan lupa, nanti kita mampir dulu di pasar Martapura, beli kembang rampai.”

“Lho, bukankah di Kalampayan dan Sekumpul ada banyak penjual kembang rampai buat peziarah?”

“Oh iya, lupa. Entah kapan terakhir aku tak ziarah ke sana,” sahut Salim agak kikuk. Sebab ia sadar, seumur hidupnya belum pernah ziarah ke Kalampayan dan Sekumpul.

Jadilah hari itu, sehari penuh Salim, istri dan anaknya berziarah ke Kalampayan dan Sekumpul. Ketika kembali ke rumah, hari telah menjelang maghrib. Selesai mandi, Salim langsung tidur. Ia merasakan lelah yang sangat.

***

Seperti malam-malam sebelumnya, pada sisa seperempat malam itu ia kembali terbangun. Namun kali ini ia benar-benar dapat mengingat mimpi itu. Ia juga mengenal benar suara yang memanggil-manggil dalam tidurnya, suara yang selama ini menggelisahkan hatinya. “Aku mesti ke kubur, ke kubur.”

Di luar bulan terang, langit luas membentang, awan-awan tipis menepi. Sepanjang perjalanan menuju pekuburan di belakang surau, sekitar 500 meter dari rumahnya ke arah barat, Salim melihat di kedua bola matanya yang basah hanya ada sosok ayah ibunya yang terus berucap, “Aku rindu, kau tak menjengukku.Aku rindu, kau tak menjengukku.”

Salim tersungkur. Tangannya terbentang memeluk dua kubur yang terang bermandikan cahaya bulan malam itu.***

Martapura, 2008

: ilustrasi oleh sandi firly

Kematian yang Terlalu Pagi

:: Sandy Firly

(ini cerpen saya yang terdapat dalam kumpulan cerpen Perempuan yang Memburu Hujan, juga terdapat dalam Jurnal Cerpen Indonesia edisi 07)

BERSAMA harum kamboja, tiba-tiba saja cahaya berebutan menerobos kamar dari jendela. Udara berpusing, teraduk-aduk, kertas-kertas berterbangan, buku-buku berbukaan bersicepat membolak-balik lembar halamannya sendiri di tengah lesatan bilah-bilah cahaya yang menyakitkan mata. Kamar pun banjir cahaya, menggigilkanku dalam sergapan ketakutan sekaligus ketakjuban. Gigilku dalam kecemasan melebihi kecemasanku atas kata-kata.
Seperti sepasang sayap yang saling bersedekap, perlahan cahaya menjadi lebih tenang. Gelombang udara pun membantun pelan. Dalam gentar yang teramat, kuberanikan membuka perih mata menangkap sesosok. Cahaya! Cahaya! Ahai! Tuankah malaikat itu? Tuankah?

Tuankah yang datang sepagi ini memenuhi undanganku yang kukirimkan lewat pertanyaan kalut dalam leretan waktu? O, tak siap aku menyambut kedatangan Tuan, meski pertanyaan-pertanyaanku tentang kematian kekasihku sepagi itu pada Tuan masih memburu dan terus memburu. Seperti Tuan yang memburunya dalam dingin pagi di jalan depan rumahnya, menyergap dan membawa ruhnya dari batang tubuh kecil itu yang kemudian bak ranting patah terempas di aspal yang basah. Lalu darah. O, Samira!

“Sebuah pikap sayuran menabraknya!” Teriak orang-orang di pagi itu seperti melupakan kuasa Tuan! Padahal kaulah sosok sesungguhnya di balik kematian kekasihku pagi itu. Heh, tapi aku tidak! Aku takkan tertipu oleh pikap sayuran yang melaju dan menyambar tubuh kekasihku Samira sebagai akibat kematiannya. Tak akan. Kaulah Tuan. Kaulah tuju dari segala tuju atas sebuah sebab kematian. Kaulah! Dan kepada kaulah, Tuan, aku bebal untuk terus memburukan tanya atas kematian kekasihku Samira. Sebab kami telah menyaurkan hati. Semalam. Baru semalam dalam sebuah pinangan.

Assalamu’alaikum

O, suara yang bercahaya! Suara yang teduh tanpa prasangka. Kau, kau Tuan? Malaikat kematian bersayap cahaya? Tapi mengapa suara dan tubuh cahaya Tuan seindah perempuan? Kelembutan yang mematikan. Bagaimana keindahan ini suntuk dengan yang bernama kematian? Bukankah kematian seperti memiliki kelamin pejantan? Sebuah kerja yang memerlukan renggutan kuat tangan lelaki pada jantung-jantung yang hidup. Menyemburatkan warna merah darah, meski dalam kematian yang sunyi bahkan seputih kapur. Atau bahkan kematian seayunan daun dalam embusan angin yang kering. Ternyata kau, Tuan, pemegang titah kematian itu.

Terperenyaklah semua mitos dalam pikiran manusia yang menyimpan nama kematian adalah sekepal tangan kasar lelaki. Lihatlah maha cahaya indah ini, yang meski itu pun tetap kupanggil dengan sebutan Tuan. Sebab dialah Tuan bagi penjemput kematian-kematian kita. Dan Tuan maha cahaya yang memenuhi ruang kamarku, yang berkuasa atas nama kematian, adalah sebuah tuju bagi pertanyaanku yang bertubi-tubi bagi kematian kekasihku sepagi waktu lalu itu.

Gentar. Tubuhku masih menggigil dalam gelombang cahayanya. Akankah dia merenggut ruhku juga dan mempertemukanku dengan kekasihku, juga sepagi ini? Ataukah memberi jawab bagi pertanyaan-pertanyaanku yang telah mendarah dalam hati; tentang kematian kekasihku yang terlalu pagi?

Rupanya kau tak pernah belajar tentang kematian. Tahukah kau, baru saja aku meraup lebih dua ribu nyawa ketika sehelai rambutmu meriap.
Dua ribu nyawa! Sepagi ini? Sedang ia tak sedetik pun beranjak dari kamar ini, tapi telah mengitari semesta? Inikah yang disebut kecepatan maha cahaya dalam dimensi ruang dan waktu yang tak berukur? Aku terduduk lemas bertumpu pada dua lutut. Tubuhku masih terguncang dalam gigil. Cahayanya menembusi seluruh pori-poriku, menelanjangi jasadku yang kini hanya serupa irisan-irisan daging. Aku tak lagi berbentuk.

Tapi aku masih menyimpan pengkhianatan atas kematian kekasihku, yang dalam genangan waktu selalu dilulur tanya. Meski aku sadar, kematian memang tak pantas untuk dipertanyakan. Hanya tersebab aku berlebih mencintai kekasihku itulah tanya terus memburu. Pada apa-apa telah kucoba cari jawab. Kata-kata sudah habis rangkai dalam kertas-kertas ceritaku. Aku telah terkepung tanya; sebuah kematian kekasih yang terlalu pagi.

Akankah pada maha cahaya ini tanyaku akan berbilas? Sebab rahasia kematian kekasihku ada padanya. O, Tuan, kelembutan yang mematikan. Cahaya yang tenang layaknya sayap yang disedekapkan, dan berubah bilah-bilah pisau siap melukai kala sayap cahaya direntangkan. O, Tuan, berilah aku jawaban.

Tidak kau hitungkah, berapa kehidupan di dekatmu yang terenggut sudah? Pun, kekasihmu dalam kematian yang dingin sepagi waktu lalu itu. Tidakkah kau berpikir?

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.1

O, maha cahaya! Tahulah Tuan telah banyak kematian yang mengepung ingatanku. Juga cinta, bukan? Tak diragukan lagi. Seberapa aku memuja kekasihku, serupa perempuan-perempuan memuja ketampanan paras Yusuf. Kekasihku adalah perempuan biasa, tapi cinta tak perlu penjelasan. Tahulah Tuan itu. Benar, aku bukanlah Adam yang hanya bisa memilih seorang perempuan. Hanya saja hatiku, Tuan. Tahulah pasti Tuan, betapa rapuhnya hati anak manusia. Cinta, inilah yang menjadi kisah-kisah dalam perjalanan abad-abad. Menjadi artifak. Tahulah Tuan itu. Begitulah aku mencintainya, Tuan – akh, pengakuan yang tak diragukan dalam pengetahuan Tuan.

Ketakberdayaanku, pun tahulah Tuan. Dan maafkanlah, karena aku menyimpan pengkhianatan atas kematian kekasihku. Mungkin sampai nanti, sampai satu-satu penanda kehidupan luruh dan menyadarkanku. Tahulah Tuan, bila aku juga sudah mencoba belajar pada guru kehidupan bernama kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kematian. Dalam senyum yang ringan, dalam mata yang tenang, sudah pula aku berbenam. Namun berkali-kali juga aku remuk, untuk kemudian bangkit lagi menyusun batu-batu pijak. Pada laut yang gemilang, aku pun pernah tenggelamkan diri mencari seserpih mutiara hikmah atas kematian. Lalu gunung dan hutan-hutan telah pula menjadi ladang penjelajahan diri yang tak habis-habis. Tapi selalu saja, setelahnya kubawa pulang lagi tubuh kembaraku yang tercabik menjadi lelatu. Dan tahulah Tuan, itulah yang berulang-ulang. Berulang-ulang. Maka tahulah lagi Tuan, bila aku kembali mengetuk-ngetuk pintu jawab bagi sebuah kematian kekasihku. Sebab aku masih tak berterima, Tuan. Jangan tanya soal alasan, tahulah Tuan apa yang menjadi sebab.

Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.2

O, Tuan sang maha cahaya! Aku tak pernah berusaha lari dari kematian. Pun, kekasihku tak bisa berlari dari kematian yang menjemputnya sepagi waktu itu. Yang kutahu, itulah kematian yang terlalu pagi. Siapa yang bisa meramal, pada pagi tiga puluh hari lalu itu adalah pagi terakhir kekasihku yang pada malam hari sebelumnya aku masih bersamanya, berdua di kursi beranda rumahnya. Dan pada malam itu, sungguh aku telah menyerahkan separuh hidup dan pengharapanku atas hidupnya, aku meminangnya.

“Samira, aku ingin menggenapkan hidup sebelum mati. Maukah kau kujadikan istri?” Sebuah kata sakral kuucapkan, yang dengannya telah pula siap kurelakan sebagian hidupku untuk dimilikinya, dan siap kuterima pula sebagian hidupnya. Sebuah kata yang sering kurapalkan pada malam-malam yang sunyi dan suntuk, dan dengan keberanian yang berlipat-lipat untuk bisa terucap. “Perjalanan kita sudah panjang, Samira, sudah hampir setahun, sudah waktunyalah kita untuk saling menyaurkan cincin.”

“Menikah untuk menggenapkan hidup sebelum mati?”

“Ya. Pernikahan itu seperti menggenapkan hidup sebelum mati, Samira. Kita sudah mengalami masa kelahiran, anak-anak, remaja, dewasa, dan tentu pernikahanlah selanjutnya. Dan aku memilihmu untuk menjadi tautan hidupku, melahirkan dan membesarkan anak-anakku yang juga tentu anakmu. Kelak.”

Samira terpagut diam—sebuah bicara dalam bentuk yang berbeda kukira. Namun aku bisa membaca kata-kata dari wajahnya, juga rona dalam mata dan senyumnya yang memberi isyarat. Seperti bayang, aku melihat anggukan kepalanya meski tak dalam. Pelan. “Terima kasih, Bang. Nanti Samira bicarakan sama keluarga.”

Ah.., tunailah sudah sebuah pengharapan. Kugenggam tangannya, kukecup, dan kuucapkan terima kasih. Selanjutnya kami pun sama-sama merangkai dan membayangkan sebuah kehidupan rumah tangga yang bahagia – lazimnya impian setiap manusia dewasa.

Namun tak sesiapa pun tahu, bagaimana maut mengincar dan datang menjemput, begitu pun lonceng kematian tak ada yang bisa menerka kapan berdentang. Diam-diam, rupanya sang maut telah menghitung waktu bagi kematian kekasihku malam itu. Ya,  kau Tuan, malaikatulmaut itu. Kenapa sepagi itu Tuan datang menjemputnya? Kenapa, Tuan? Tuan pasti masih sempat melihat senyum manisnya di pagi itu sisa kebahagiaan yang kami ciptakan semalam, juga matanya yang terbuka pertama kali dari tidurnya. Atau, jangan-jangan Tuan sudah mengintai nyawanya sesaat sebelum dia terbangun – atu malah sejak malam kami duduk berdua di kursi beranda rumahnya? Tuan berdiri di sudut kamarnya, mungkin di dekat jendela kaca kamarnya yang masih tertutup gorden. Dan sebelum dia membuka mata, Tuan tatap wajah mungilnya yang tanpa dosa itu, namun Tuan cepat-cepat memalingkan wajah karena tak ingin tergoda oleh perasaan iba –meski aku sangsikan ini, karena aku tahu Tuan tak pernah pilih nyawa bila ajal seseorang itu harus Tuan jemput sesuai janjinya, tak peduli dia bayi merah atau orang tua yang lemah. Lalu Tuan alihkan pandangan ke luar jendela kaca kamarnya, memandang pagi yang masih bening embun. Mungkin waktu itu Tuan dengan perasaan muram, atau jangan-jangan riang?

O, Tuan! Sungguh jeli kematian atas kekasihku diatur pagi itu. Sebuah kematian yang tak terduga, namun itulah bukti nyata bahwa kematian bisa datang tiba-tiba. Meski sesaat sebelumnya masih sempat dihadirkan kegembiraan, kekasihku Samira penuh canda di meja makan keluarga, yang mengundang keheranan dan tanya ayah bunda dan seorang adiknya. Kita memang sering terlupa akan isyarat, bahwa di antara suka cita bisa saja terselip kabar duka.

Tawa pagi kekasihku yang sempat pecah di tengah ruang makan, tinggal gema tertahan ketika sesaat dia berangkat menuju jalan di depan rumah entah untuk keperluan apa –barangkali ini hanyalah cara kematian menjemputnya tanpa harus dijelaskan apa yang menjadi sebab dia menyeberang jalan, yang lalu Tuan memburunya, dan dengan sekali sergapan telah Tuan bawa nyawanya dari jasadnya yang terkulai layu di aspal yang dingin bersimbah darah. Apa itu tadi yang menyambar tubuhnya? Sebuah pikap sayuran? Tapi sungguh tak terlalu penting apapun yang menjadi sebab kematiannya, hanya ceracau hatiku mempertanyakan mengapa dia mati sepagi itu, tepat saat semalam kami memintal janji untuk sama-sama menggenapkan hidup sebelum mati, menyaurkan hati. O, Tuan, mengapa Tuan?

Sungguh, Tuan, kematian kekasih di pagi itu seperti bukan waktu yang tepat, terlebih di tengah kegembiraan kami. Meski benar kematian tak mengenal waktu dan tempat; di dalam sebuah pesawat yang celaka karena kalut dihantam cuaca, di atas kapal yang karam dipulun gelombang, di dalam kereta yang relnya terlepas, tertimbun longsoran tanah, diamuk gempa, atau kematian yang sunyi di hadapan regu tembak atau pada seutas tali yang dikalungkan pada batang leher. Begitulah, tiap kematian memiliki misterinya sendiri. Dan bila kebahagiaan sering memiliki wajah yang sama, tak halnya kesedihan. Bisakah kita samakan kesedihan mereka yang sama-sama kehilangan keluarganya yang tewas dalam kecelakaan pesawat atau kapal yang karam? Samakah sakitnya kehilangan si kecil buah hati tercinta dengan orangtua yang teregut dari hidup selamanya? Atau antara kekasih dan saudara yang sama-sama lenyap senyap tak berbekas? Bagaimanakah kita bisa meraba lukanya, sedihnya, pahit getirnya? Air mata mungkin sama-sama menggabak, tapi adakah kata yang bisa mengungkap sebuah kedukaan dengan kadar yang sama? Kegembiraan seringkali usai sekali reguk dalam satu perayaan semalam, tapi kesedihan bisa serupa duri di dalam hati, bernanah, berdarah, dan akan terus terbawa bahkan hingga mati. Begitulah aku, Tuan.

Dan maafkanlah bila aku bebal memaksakan tanya tentang kematian kekasih di pagi itu, yang barangkali tak penting benar dalam keluasan semesta. Sebab menantang cahaya Tuan saja aku tak bisa. Sungguh hina dan tak sopannya aku menanyakan tugas Tuan. Ketahuilah, sesungguhnya tak ada keraguan padaku atas kerja Tuan menjalankan titah dan perjanjian dari Yang Maha Agung, bahwa nyawa kekasihku harus Tuan renggut. Hanya aku saja, Tuan, yang kemudian selalu mengingatnya sebagai sebuah kematian yang terlalu pagi. Ya, terlalu pagi. Pagi Minggu yang di ruang kamarku masih hangat aroma kopi. Sepotong roti, asap rokok pertama, dan sebuah koran dengan cerita pendekku di dalamnya. Sedemikianlah kabar yang meruntuhkan ketenteraman pagi itu datang. Sebuah kematian kekasih. Tidakkah kematian yang terlalu pagi, saat dentang jam kehidupan baru dimulai, hanyalah sebuah kabar yang terlalu mengada-ada? Jendela yang baru kubuka pun masih tampak dingin basah embun. Udara di luar sewarna susu. Bagaimana bisa kemurnian pagi seperti itu diusik oleh sebuah kematian? Pagi yang tidak tepat untuk sebuah kematian. Tidak sesiapa pun! Terlebih untuk seseorang bernama kekasih!

“Aku ingin menggenapkan hidup sebelum mati. Kata itulah yang berulangkali diucapkannya seperti membaca puisi kepada kami pagi itu di meja makan. Samira mengucapkannya sambil tertawa, makanya kami kira bercanda. Ah.., ternyata itu pertanda,” lirih suara ibunya mengabarkan.

Dan kabar itu tak bisa ditolak. Kematian tak bisa ditawar. Maka pagi yang murni itu pun menjadi sewarna api.

Demikianlah awal tumbuhnya pengkhianatanku kepada sebuah kematian. Demi waktu, lalu kuundang jawab bagi kematian kekasih yang terlalu pagi. Hanya tanyalah yang terus kugugatkan kepada yang merenggut napas kekasihku, yang padanya ikut pula tercerabut hidupku. Aku tak pernah lelah menunggu jawab. Meski mungkin tetap takkan ada jawab yang dapat membuatku lebih lapang menerima kematian sang kekasih yang terlalu pagi. Sebab aku bersikeras, kematian yang terlalu pagi hanyalah kabar yang mengada-ada. Bukankah merenggut nyawa pagi-pagi adalah kerja yang tergesa-gesa bagi keberartian sebuah kehilangan?

Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.3

O, Tuan! Sungguh aku tak mendustakan kebenaran ayat itu. Hati inilah, Tuan. O, betapa rapuhnya. Kenapa tidak Tuan biarkanlah kami mengecap kesenangan walau sebentar saja. Sebentar saja. Cukup menggenapkan hidup sebelum mati, menjadikan kami sepasang suami istri. Kenapa Tuan, tidak ditunda kematian atasnya?

Wahai keturunan Adam, aku pun sebenarnya sedih diberi tugas mencabut roh makhluk-makhluk bernyawa karena di antaranya itu termasuk manusia yang terdiri dari kekasih-kekasih Allah, para rasul, para nabi, para wali dan orang-orang solihin. Betapa aku tidak disenangi oleh keturunan Adam, mungkin aku akan dicemooh karena ditugaskan mencabut roh manusia yang menyebabkan orang berdukacita kehilangan sanak keluarga dan orang-orang yang tersayang di kalangan mereka.

Namun Allah berjanji akan menjadikan berbagai sebab kepada kematian yang akan dilalui oleh keturunan Adam. Sehingga keturunan Adam itu akan memikirkan dan mengaitkan kematian itu dengan sebab-sebab yang dialami oleh mereka. Apabila berlaku kematian, mereka akan berkata bahwa si anu itu mati karena mengidap sakit, ataupun karena mendapat kemalangan, mereka akan terlupa mengaitkan aku dengan kematian itu.

Pada hakikatnya ajal itu adalah ketetapan Allah, yang telah termaktub sejak azali. Semuanya telah nyata di dalam takdir Allah, bahwa kematian pasti tiba pada saat yang ditetapkan. Aku hanyalah tentara-tentara Allah yang menjalankan tugas seperti yang telah diamanahkan.4

Tapi rupanya kau tetap mengaitkan kematian kekasihmu itu kepadaku. Sungguh aku merasa sedih dan malu, dan karenanya aku akan terus menemuimu. Namun setidaknya kau harus ingat:
Tiap-tiap umat mempunyai ajal, maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) mencepatkannya.5
Wassalam

UDARA di ruang kamar mendadak berkibar-kibar. Sang maha cahaya merentangkan sayapnya. Bilah-bilah cahayanya berlesatan dan menusuk. Aku terpuruk, tersungkur di lantai dengan kertas-kertas yang berterbangan dan buku-buku yang berbukaan. Lalu, sekali lagi aku mencium harum kamboja seperti ketika maha cahaya datang. Aroma kematian saat datang dan saat pulang. O, pergikah, Tuan? Tuan? Bilah-bilah cahaya tersedot ke luar jendela. Perlahan suasana dalam kamar menjadi tenang. Hening. Tinggal aku yang dalam keterpurukan menggapai-gapai ke arah jendela yang terbuka. Selalu saja dia pergi seperti pagi-pagi yang lalu, dan pasti datang lagi pada pagi-pagi yang akan. Namun yang aneh, setiap dia datang, aku merasa itu adalah kedatangannya yang pertama.

Seketika kudengar pintu kamar dibuka dengan tegesa-gesa.

“Duh…, kenapa? Dia datang lagi, ya?” suara ibu di pintu selalu saja bernada cemas dan sedih.

“Ya, dia datang lagi, bu. Datang lagi.”

Ibu menghambur memeluk tubuhku di lantai. Aku merasa payah sekali. Lalu dibimbingnya aku menuju ranjang. Usai merebahkanku dan memberi selimut, ibu mulai merapikan kamarku, terutama kertas-kertas yang berhamburan dan buku-buku.

“Kamu harusnya mulai belajar, tiap usai menulis dan membaca, kertas-kertas catatan dan buku-bukunya musti dirapiin lagi. Masa ibu terus yang merapikan. Jadi penulis itu tak mesti awut-awutan.”

Ah.. ibu. Selalu saja kalimat itu yang diucapkan setiap membereskan catatan-catatan dan buku-bukuku.

“Cerpen apa lagi yang kamu tulis? Harus ibu bacakan lagi?” ucap ibu sambil memeriksa lembar-lembar kertas catatanku.

Aku cukup tersenyum kecil, tahulah sudah ibu.

“Baiklah, ibu akan bacakan. Tapi, sebelumnya kamu harus makan bubur yang sudah ibu siapkan dan juga obatnya ya?”

Dan aku tak perlu menjawab dengan kata atau isyarat apapun. Sebab seperti biasa ibu akan selalu menempelkan pipinya di pipiku. Kemudian aku pun merasakan ada air yang membulir dari ujung mata ibu membasahi pipiku. Hangat. Selalu, seperti pagi-pagi yang lewat, semejak kematian kekasihku yang terlalu pagi waktu itu.***

Banjarbaru, 2006-2007

Keterangan:
1. (QS. 29 : 57)
2. (QS. 62:8)
3. (QS. 33:16)
4. (Sebab-sebab kematian bagi memenuhi janji Allah kepada malaikat maut, sebagaimana diriwayatkan oleh Saidina Abbas r.a dalam sebuah hadis Nabi. Terdapat dalam Kitab Syarh Tadzkrtul Qurthubi, halaman 24)
5. (Surah Al-A’raf: ayat 34)

Lelaki dan Pelacur

:: Sandy Firly

(Ini cerpen lama, yang saya tulis tahun 1998. Yeah, sekadar iseng, saya coba tampilkan di sini. Barangkali ada yang baca… )

BEGITULAH. Abidin seolah-olah baru tersadar. Dan mendapatkan dirinya sudah berada di sebuah lokalisasi, dalam kamar bersama seorang pelacur. Ketika pelacur itu hendak melucuti pakaiannya sendiri, kontan Abidin tersentak. Kaget.

“Tunggu…tunggu. Apa-apaan ini,” katanya bingung.

“Lho, bukankah mas berada di sini untuk ini?” jawab pelacur itu tak kalah bingung.

Sialan, maki Abidin dalam hati. Dia menyalahkan diri sendiri.
“Begini mbak, sebenarnya keberadaan saya di sini tanpa saya sadari. Saya tidak mengerti, kenapa tahu-tahu saya sudah berada di tempat ini,”
katanya mencoba menjelaskan keberadaan dirinya.
“Ha..ha…ha mas jangan bersandiwara. Emangnya mas dibawa hantu, lantas diletakkan di kamar ini?”

“Sunguh, saya benar-benar tak menyadarinya.” Abidin tetap mencoba meyakinkan pelacur di depannya.

“Baiklah, jika mas benar-benar tak menyadarinya. Tapi mas mau kan?” Pelacur itu lantas mulai membuka kancing bajunya sembari melirik genit.

“Hai…hai, saya bukan tipe lelaki begituan,” cegahnya setengah berteriak.

“Mas, gimana sih?” pelacur itu mulai gusar. “Kalau memang nggak mau, ya cepat ke luar sana. Buang-buang waktu saya saja.”

Bagaimana pelacur itu tidak marah, sudah hampir seminggu dia tidak mendapat tamu. Sedang ada lelaki di depannya malah main-main.

“Sungguh mbak, saya benar-benar tidak mengerti mengapa bisa sampai berada di sini.” Abidin mencoba meyakinkan perempuan itu. “Tapi karena saya sudah terlanjur membuang-buang waktu mbak, dan saya juga sudah kepalang basah masuk ke kamar mbak, bagaimana bila mbak menemani saya bicara saja? Dan saya tetap akan membayar.”

Sebenarnya janji Abidin untuk membayar hanyalah akal-akalan saja. Bagaimana mau bayar, di kantongnya cuma ada dua lembar ribuan yang hanya cukup untuk ongkos pulang.

Didorong rasa ingin tahu dan untuk menumpahkan kekesalan yang menyesak, juga karena pengaruh minuman keras masih menguasai dirinya, dia terpaksa berbohong.

“Ha… ha… ha… mas ini lucu. Mana ada orang ke tempat seperti ini hanya untuk bicara saja. Ha… ha… ha…” tawa pelacur itu sinis.

“Jika mbak tidak mau diajak bicara, jadi pendengar saja juga boleh. Saya juga tetap akan bayar.”

Pelacur itu kembali tertawa, hingga dadanya terguncang-guncang. Guncangan ini terlihat jelas dari celah baju, yang dua kancingnya atasnya terlepas.

Meski kelelakian Abidin sempat tersentuh juga, namun ia berusaha meredamnya. Sejak pertama dia menyadari, begitu berada di tempat mesum itu, hatinya sudah bersikukuh agar tak terpikat pelacur di depannya. Walaupun dalam hati kecilnya, Abidin mengakui pelacur yang bertubuh montok ini, cukup menggairahkan.

“Mas sudah beristri atau belum?” selidik pelacur itu, setelah tawanya reda.

“Su…sudah,” jawab Abidin ragu.

“Nah, kalau begitu mengapa tidak mengajak istri mas saja bicara?”

“Justru itu….”

“Justru apanya?”

“Justru masalah istri saya itulah, yang ingin saya bicarakan sama mbak.”

“Lho mengapa mesti dengan saya? Mengapa tidak dengan yang lainnya saja?” tanya pelacur itu tambah tak mengerti.

“Bukankah dari semula tadi sudah saya katakan, saya terlanjur masuk ke kamar mbak dan membuang-buang waktu mbak? Jadi, untuk menebusnya saya minta mbak mendengarkan cerita saya. Dan jangan khawatir, saya pasti bayar.”

“Memangnya ada apa dengan istri mas?”

“Jadi mbak setuju?”

“Sudahlah. Sekarang mas cerita saja,” jawab pelacur itu sambil meletakkan rokok putih di bibirnya yang merah menyala. Cepat-cepat Abidin merogoh korek api dan menyalakan untuk si pelacur. Kemudian Abidin menyalakan rokoknya sendiri.

Ia mulai bercerita. Pertama dia menceritakan bagaimana sampai berada di kamar si pelacur. Setelah menenggak habis minuman sebotol minuman keras di kedai pinggir jalan bersama-sama temannya, Abidin mulai kehilangan kesadaran.  Dia tidak dapat mengontrol dirinya lagi. Langkah kakinya menghempaskan kesadarannya di tempat di mana sekarang dia berada.
“Sebenarnya saya bukan laki-laki pemabuk,” tegas Abidin.

“Lalu kenapa kamu tenggak minuman itu?”

Abidin terdiam. Pelacur menunggu. Dia juga terdiam duduk di kursi meja rias sambil menikmati rokok putihnya. Dalam hati si pelacur memuji ketampanan laki-laki di hadapannya.

Merasa tidak enak diperhatikan, Abidin meneruskan ceritanya. Bahwa dia bertengkar dengan istrinya. Hampir sebulan ini, rumah tangga Abidin memang sering diwarnai pertengkaran. Dan pertengkaran malam ini merupakan klimaks dari ketidaktahanan Abidin mendengar omelan istrinya.
Semenjak terkena PHK dari tempatnya bekerja, pertengkaran-pertengkaran kecil mulai sering terjadi dengan istrinya. Pokok persoalan sebenarnya berawal dari masalah perut.

Setelah uang pesangon menipis dan pekerjaan belum juga didapat, istrinya mulai sering ngomel, karena pemenuhan keperluan dapur menjadi tersendat-sendat. Ditambah lagi persoalan dua anaknya. Si Junai yang duduk di bangku kelas tiga SD, sudah dua bulan SPP-nya tertunggak. Si Jufri yang berumur 2 tahun, hampir dua minggu ini sering menangis terus karena susunya tak terbeli lagi.

“Saya bingung. Benar-benar bingung,” sungut Abidin sambil mengucek-ucek rambutnya. Lelaki ini salah satu korban keadaan, batin pelacur itu.

Tiba-tiba wanita ini tertawa keras. Abidin tersentak kaget.
“Ha.. ha.. ha.., kamu salah alamat. Salah alamat,” kata pelacur itu masih dalam sisa tawanya.

“Aaa…aaapanya yang salah alamat?” tanya Abidin bingung.

“Kau salah. Kau salah menumpahkan keluh kesahnya padaku. Kupikir, hidupku lebih susah dari kamu. Kamu hanya terlalu lemah. Sebagai seorang lelaki, apalagi seorang bapak, kepala rumah tangga, kamu harus mampu mempertahankan kehidupan keluargamu. Sekarang keadaan memang lagi susah. Tapi jangan sampai keadaan itu, menghancurkan kehidupan rumah tanggamu. Kita jangan begitu saja menyerah dengan keadaan. Kita harus mampu menyiasati kehidupan, jika tetap ingin bertahan hidup.”

Perlahan pelacur itu bangkit dari tempat duduknya dan membuka pintu.
“Sekarang kau pulanglah kepada istri dan anak-anakmu. Jangan sampai mereka tambah menderita lagi karena kau tidak ada di antara mereka. Simpan saja uang yang kau janjikan kepadaku.” Pelacur itu mempersilakan tamu lelakinya keluar.

Abidin cepat bangkit dari duduknya. Dalam benaknya hanya ada satu keinginan, memeluk istri dan anak-anaknya.***

Senja Kuning Sungai Martapura

:: Sandy Firly

 Bamula angin manyapu banyu/ maniup di batang banyu/ maantar alang tarabang/ handak bulik ka sarangnya 

(Bermula angin menyapu air

meniup di batang air

mengantar elang terbang

hendak pulang ke sarangnya)

  

Senja kuning luruh. Kuning, sewarna kuning kunyit. Seperti biasa kau duduk di situ, di batang banyu rumah lantingmu1, dengan rambut panjang tergerai masai, kaki tercelup sungai. Matamu berkabut air mata, meriak, sebelum akhirnya satu-satu bulir bening itu jatuh melincir di pipimu. Hening dalam senja kuning.

Air sungai yang surut memperlihatkan kaki-kaki kurus rumah kayu. Satu dua kelotok2 bergerak pelan, suara mesinnya yang memekakkan telinga beradu dengan lantunan ayat-ayat suci yang menyeruak dari corong-corong pengeras suara masjid dan surau. Melengkapi parade senja kuning itu, jukung-jukung3 dikayuh menyisir, melewati orang-orang mandi di batang atau mengambil wudhu untuk sembahyang. Jukung-jukung itu biasanya baru kembali dari Pasar Terapung di muara Sungai Barito, tempat bertemunya sungai-sungai kecil yang membelah kota Banjarmasin, pun Sungai Martapura yang berada di jantung kota bergelar Kota Seribu Sungai ini – akh.., gelar yang terlalu berlebihan, karena banyak sungai kecil yang tidak lagi mengalir karena tersumpal sampah, ilung4, atau bangunan yang didirikan sesuka-sukanya hingga menutup sungai yang lantas tercekik, lalu mati.

Tapi kau adalah perempuan tersendiri yang selalu duduk di batang rumah lantingmu di pinggiran sungai itu bila senja tiba. Sungai yang sekian waktu telah menjadi tambatan matamu, mungkin juga hatimu. Entah berapa senja telah kau lewati dan menelan bayang-bayangmu di sudut rumah lantingmu itu, satu dari sedikit rumah lanting yang masih tersisa, sebab hanya rumah lanting itulah warisan turun temurun keluargamu yang memang tidak punya tanah daratan. Di rumah lanting itu jualah kau dilahirkan, dan kemudian juga melahirkan. Rumah lanting yang di musim penghujan tak pernah takut kebanjiran, meskipun Sungai Martapura meluap dan menggenangi jalan-jalan kota seperti yang sering terjadi tahun-tahun belakangan ini akibat pembabatan hutan yang membabi buta dan eksploitasi habis-habisan tambang batubara.

Kau tahu, sungai itu tak terlalu banyak berubah sejak puluhan tahun, kecuali airnya kian terlihat keruh saat naik pasang, dan sebuah siring taman yang baru selesai dibangun persis di seberang Masjid Sabilal Muhtadin itu. Tapi apa yang bisa dipandang dan dinikmati dari siring taman itu? Di seberang sungai sana tak ada bangunan yang menawan hati, kecuali rumah-rumah penduduk yang sekian tahun tak berhasil digusur untuk pembangunan Banjarmasin Park yang kini terhenti, juga rumah lantingmu yang terayun-ayun dialun riak gelombang bila kelotok-kelotok lewat.

Seperti saat ini, di batang rumah lantingmu itulah selalu kau tunggui senja, duduk dengan kaki tercelup di sungai yang tenang. Elang-elang yang melayang-layang di atas sungai itukah yang menjaga rindumu? Arus sungai yang tenang namun menyimpan banyak kenangan itukah yang menyeret lamunanmu? jukung-jukung dan kelotok yang membawa harapan itukah yang membasuh mimpimu? Ataukah anak-anak yang bermain di air itu yang menyempurnakan keindahan senjamu? Tak ada yang bisa membacanya dalam tatapan matamu yang kosong dan selalu berkabut air mata, juga dalam wajahmu yang bisu dan membatu. Namun semua orang tahu, kau masih menunggu anakmu yang terbenam di sungai itu di suatu senja kuning berapa bulan lalu.

“Dia pasti pulang, aku menunggunya,” begitu ucapmu selalu setiap suamimu menyuruhmu masuk ke dalam rumah lanting ketika senja telah menghilang. Meski suamimu tak pernah berhasil membujukmu, namun ia selalu saja mengulang ucapannya itu setiap senja, seperti sebuah alarm yang selalu berbunyi tepat pada waktunya.

“Galuh.., Galuh…, kenapa tidak pulang-pulang juga, Nak?” dengan bibir bergetar kau berucap pelan, masih kepada sungai itu. Sungai yang telah menelan Galuh, anakmu, dan seakan-akan menyimpannya di liang terdalam saat senja kuning dalam bayang-bayang malam. Usianya belumlah genap dua tahun, usia seorang anak manusia yang masih hangat dalam kerinduan dan kemanisan masa kecil. Mungkin kehilangan yang sedini itulah yang tak terelakan di hatimu. Sungai yang merenggutnya di kala senja kuning itupun lalu kau tunggui, berharap kelak suatu senja akan mengantarkannya pulang, ke pinggiran batang rumah lantingmu. Jasadnya. Ya, kau hanya berharap melihat jasadnya, yang meski sudah membusuk remuk, mungkin cukuplah untuk memberikan kerelaan itu, kerelaan sebuah kehilangan yang abadi.

Saat senja kuning hampir lindap inipun, kau masih duduk di sudut rumah lantingmu memandang air sungai, menunggu Galuh pulang di bawah bayang-bayang senja kuning yang segera hilang.

***

Kau masih ingat senja penghabisan Galuh-mu, saat senja kuning sewarna kunyit.

Bocah itu seperti biasa kau ajak duduk di samping rumah lantingmu sambil menikmati kehidupan sungai yang masih berdenyut saat menjelang malam. Elang-elang yang melayang adalah pemandangan yang paling Galuh suka. Burung perkasa bersayap lebar itu melayang tanpa mengepakkan sayap, menggiring angin, lalu menukik ke sungai, dan kembali mengangkasa dengan sesuatu di cakarnya, ikan kecil atau entah apa.

Lalu lintas di atas jembatan yang membentang di atas sungai itu juga sesekali menarik perhatian Galuh, jembatan yang selalu padat oleh kendaraan di siang hari, dan penuh pengail ikan saat malam. Kelotok dan jukung yang keluar dari bawah jembatan itu juga menjadi sesuatu yang menggugah perhatian Galuh. Entah, mungkin Galuh mengira kelotok dan jukung itu keluar dari sebuah tempat yang asing dan tak terduga karena bagian bawah jembatan itu memang semakin gelap bila senja kian melindap, seolah-olah kelelawar yang keluar dari gua.

Di batang banyu itu kau selalu bermain dengan Galuh-mu. Kakinya sesekali kau celupkan ke air sungai, yang membuatnya tertawa senang. Anak-anak kecil yang berenang di sungai juga kadang menghampiri Galuh, menyelam lalu menyembulkan kepala di dekat kakinya. Begitulah tawa Galuh selalu pecah di setiap senja. Sampai kemudian keindahan senja itu berubah menjadi huru-hara dalam hatimu; Galuh tercebur, tenggelam. Hilang.

Bagaimana Galuh tiba-tiba menghilang dari pandanganmu, adalah sebuah pita ingatan yang selalu berputar ulang setiap waktu; seperti ada tangan dari sungai yang secepat kilat merenggut Galuh yang sedang duduk di sampingmu, sesaat ketika kau mengalihkan pandangan darinya menengok ke arah pintu rumah mendengarkan panggilan sang suami untuk mengajak Galuh agar lekas masuk ke dalam rumah lanting karena senja kuning.

“Mamaa.., jangan lama-lama di luar. Lekas bawa Galuh masuk. Ingat, senja kuning tidak baik,” teriak suamimu dari dalam rumah.

“Iya, sebentar lagi..,” sahutmu sambil menoleh ke pintu rumah. Ya, begitu saja. Namun entah bagaimana, ketika kau kembali mengalihkan pandanganmu ke tempat duduk Galuh di sampingmu, ia sudah tak ada di situ. Lalu kau sesaat sempat melihat tangan mungil itu tenggelam di sungai sejarak pengayuh dari tempat dudukmu. Seperti ada tangan dari dalam sungai yang secepat kilat merenggutnya. Kau pun berteriak histeris sambil menyeburkan diri ke sungai di tempat terakhir tangan mungil itu terlihat. Menyelam. Lebih dalam. Lebih dalam. Namun Galuh seperti terbenam.

“Galuuuh… Galuuuh..,” teriakmu berulang-ulang setiap menyembul ke permukaan.

Suamimu sudah pula berada di sungai sejak teriakan pertamamu memanggil Galuh. Ia menyelam di bawah batang rumah lanting kalian, di bawah rumah-rumah pinggiran sungai, di bawah kelotok dan jukung yang ditambat, tapi Galuh seperti terbenam di liang terdalam sungai yang disepuh cahaya senja kuning, senja yang oleh sebagian orang dipercaya membawa malapetaka.

“Galuuuh… Bapaak, Galuuuh…,” teriakmu kepada suamimu yang terus timbul tenggelam di sungai yang dalam..

Orang-orang mulai berkerumun di batang rumah lantingmu. Sebagian dari lelaki segera menceburkan diri ke sungai. Jala-jala dilemparkan berharap berhasil memerangkap Galuh seperti ikan. Setengah jam berlalu, Galuh-mu tak juga ditemukan. Tim SAR pun didatangkan untuk ikut melakukan pencarian dengan perahu karet, menyisir tiang-tiang bawah rumah atau sampah-sampah yang menumpuk terhalang di bawah jembatan. Hingga senja menghilang, dan azan magrib telah lama berlalu, tubuh kecil Galuh tidak juga terlihat mengambang, ia seperti benar-benar ditelan sungai yang menyimpannya di liang terdalam. Menjelang salat isya, pencarian dihentikan.

“Besok pagi kita akan cari lagi. Insya Allah, kita akan temukan,” janji salah satu Tim SAR. Kau tak sanggup lagi bersuara, meski hanya sekadar mengucapkan terima kasih karena telah membantu mencari Galuh.

Ketika malam semakin sempurna, pelan orang-orang beranjak meninggalkan batang rumah lantingmu, hingga akhirnya tinggal kau dan suamimu yang masih duduk kuyup dengan mata sembab di batang itu. Kalian masih mengawasi sungai dengan sebuah lampu senter dan pendar cahaya bulan bulat penuh, juga lampu-lampu taman di seberang sungai sana. Setiap ada benda yang mengapung, dengan cepat kalian menyorotkan senter berharap itu adalah Galuh. Namun kekecewaanlah yang selalu dirasa karena benda-benda mengapung itu hanyalah sampah-sampah, potongan-potongan kayu, ada pula bangkai anjing dan kucing.

Terkadang kau dengarkan suamimu menggerunum5  dalam kekesalannya, menyalahkanmu karena tak segera membawa Galuh masuk ke rumah saat senja kuning itu. Dan rasa bersalah yang memuncak di dalam dada membuatmu tak sanggup bicara. Apa yang hendak dikata? Kata maaf pun sepertinya tak berarti.

Sepenuh rasa sesal, kau tahu Galuh tak seharusnya tenggelam andai kau mendengarkan peringatan suamimu untuk segera membawanya masuk rumah saat senja kuning itu. Tapi, apakah benar senja kuning bisa membawa malapetaka? Ada kekuatan apakah pada senja yang menyepuh warna kuning kunyit itu sehingga bisa menebarkan hawa kematian lewat penyakit atau kemalangan? Sungguh, sebagai seorang yang memiliki iman di dada, kau tak bisa mempercayainya.

Namun tentang cerita senja kuning itu, kau tidak bisa membantahnya, hingga kini masih sering dipetuahkan sebagian orangtua meski mereka sendiri tidak tahu bagaimana mitos senja kuning itu dipercaya. “Jangan mencela, ini sudah sejak kai nini dahulu,” begitulah jawab mereka bila ada yang menanyakan mengapa senja kuning dipercaya bisa membawa penyakit dan kemalangan seperti mata yang menjadi rabun, panas dingin6 berkepanjangan, serta malapetaka yang bisa datang tak terduga, dan tiba-tiba.

Bila senja kuning luruh, pengayuh mesti disimpan dan jukung-jukung  ditambatkan, yang hendak turun mandi ke batang harus diurungkan karena buaya-buaya sedang mencari mangsa– yang ketika dahulu sungai-sungai masih dipenuhi rawa-rawa. “Pengantin baru, sebelum tiga hari, jangan sekali-sekali mencoba mandi di sungai saat senja kuning. Sambaran, sambaran buaya-buaya. Ingat itu!” Anak-anak yang masih berada di tanah harus segera masuk ke rumah, sebab hantu-hantu mengintai di keremangan senja kuning dan akan menyembunyikan anak yang masih bermain di tanah.

  Sanja kuning luruh/ tatanaman layu, apa wahananya/ sanja kuning luruh

tatanaman layu, sasuka duka

(Senja kuning luruh

tanam-tanaman layu, apa wahananya

senja kuning luruh

tanam-tanaman layu, sesuka duka)

Begitulah senja kuning dalam cerita-cerita, hingga abadi dalam lagu Sanja Kuning7 untuk menjadi pengingat agar anak cucu tetap terpelihara dari segala hawa buruk yang disebarkan senja kuning. Dan bila azan magrib dikumandangkan, maka tutuplah rapat-rapat pintu rumah, atau lekaslah masuk ke dalam surau-surau, sebab saat itu dipercayai juga orang-orang gaib yang tidak mempunyai tumit sedang mencari manusia untuk diangkat menjadi saudara di alamnya. Maka, tutuplah rapat-rapat pintu rumah, jangan duduk di muara pintu. Tutup rapat-rapat, bila mungkin tak seberkas cahaya senja kuning pun menerobos ke dalam rumah.

“Galuuuh.. Galuuuh…” Seperti bisikan, antara sadar dan terjaga dengan mata berkabut, hanya nama anakmu itulah yang bisa kau sebut berulang-ulang. Berulang-ulang. “Galuuuh.. Galuuuh…” Seperti rintihan, lirih, mengiris sepanjang malam di antara kau dan suamimu yang duduk berjaga di pinggiran sungai, hingga suara azan subuh membangkitkan kalian untuk masuk ke dalam rumah, salat berdua dan memanjatkan doa panjang, panjang, bercampur air mata meminta agar Galuh ditemukan untuk kalian kuburkan.

***

            Pagi itu, usai memasak nasi dan kalian makan berdua dalam diam dan tetesan air mata, kalian kembali menunggu di batang rumah lanting berharap menemukan Galuh. Agak terang, beberapa lelaki kembali turun ke batang, juga Tim SAR dengan perahu karet. Seperti senja sebelumnya, pencarian Galuh dilanjutkan pagi itu.

Satu-persatu orang mulai ramai berkumpul di batang mengamati proses pencarian dan ingin tahu akhir dari pencarian anakmu. Di antaranya ada yang membawa koran yang memuat berita tentang tenggelamnya Galuh. Dan ketika anak muda yang membawa koran itu berdiri di dekatmu, hatimu berdesir membaca judul berita itu: SUNGAI MARTAPURA KEMBALI MEMINTA TUMBAL, dicetak tebal-tebal dengan hurup besar. Itulah judul dari berita tentang tenggelamnya anakmu, Galuh, semalam. Benarkah anakku menjadi tumbal? Begitulah pertanyaan di dalam benakmu. Mengapa orang-orang koran itu yakin Galuh menjadi tumbal sungai? Tumbal untuk apa? Apakah di Sungai Martapura ada penunggunya, sesuatu yang perlu sesembahan untuk dijadikan tumbal? Apakah juga ada hubungannya dengan senja kuning yang diyakini membawa malapetaka?

Kau sama sekali tak meyakini itu, sama tak berterimanya kau bila Galuh dianggap menjadi tumbal sungai di senja kuning raya itu. Kata tumbal begitu menyakitkan perasaanmu, sebab itu bukanlah sebuah kematian yang wajar. Apa haknya orang-orang koran itu menyebut Galuh menjadi tumbal? Meski memang kau tahu Galuh begitu cepat tenggelam, seperti ada tangan dari dalam sungai yang tiba-tiba merenggutnya dan membenamkannya ke liang terdalam.

Kau pun tahu, sudah banyak orang yang mati tenggelam di sungai itu. Apakah mereka juga menjadi tumbal? Koranlah yang sering mengatakan itu. Tidak pernah ada masyarakat yang membicarakan kata tumbal setiap ada orang yang mati lamas8. Koran itu hanya membuat sensasi, menghubung-hubungkan sebuah kematian dengan hal yang mistis. Tidakkah orang-orang koran itu tahu, betapa menyakitkannya kata tumbal itu bagi keluarga si korban. Dan kau merasakan itu, seperti luka yang digarami.

Dengan setengah geram, tiba-tiba kau rebut koran dari tangan lelaki muda itu. Kau remas-remas sepenuh marah, lalu kau lemparkan ke sungai. “Tidakkah kalian punya hati sehingga tega menyebut anakku Galuh sebagai tumbal!” hardikmu lantang mengagetkan orang-orang. Seketika suasana menjadi tegang, orang-orang melongo memandang tingkah polahmu yang mengeluarkan sumpah serapah ke arah koran yang tadi kau lemparkan dan kini mulai tenggelam terseret air. Kau terus menceracau, menjambak rambutmu yang tergerai masai, meludah, mencakar-cakar tubuhmu. “Aku tak rela…! Aku tak rela Galuh dikatakan tumbal! Tak rela..! Tak relaa..!” 

Orang-orang tersentak. Kaget. Kau terus menjambak, meludah, mencakar, bergerak liar. Orang-orang menyingkir. Kau terus teriak, “Tak rela..! Tak rela…! Galuh bukan tumbal! Galuuuh…”

Suamimu yang saat itu berada di air, lekas naik ke batang. “Maa…, istighfar… istighfar…,” buru-buru ia datang menenangkan. Kau yang berusaha dipeluknya, berontak dan mencakar. Beberapa tetangga dekatmu datang membantu suamimu untuk menahan tubuhmu yang kalap. Dengan susah payah, akhirnya kau berhasil juga dibawa masuk ke rumah lantingmu, masih dalam teriak ceracau dan cakar-cakar, “Galuuuh… Galuuuh… Gila! Mereka gila! Galuh bukan tumbal…! Galuuuh…”

Sementara pencarian Galuh tak kunjung jua berhasil. Galuh seperti telah terbenam di liang sungai terdalam, dan tak akan pernah kembali ke permukaan.

***

Azan magrib telah memenuhi angkasa. Senja kuning memudar, dan dingin angin sungai seperti mempercepat malam. Tapi kau masih saja duduk di situ, di pinggiran sungai dengan rambut panjang tergerai masai, kaki tercelup air sungai. Dan kabut bening di matamu terus meriak, sebelum akhirnya satu-satu membulir jatuh melincir di pipimu.

 “Maa, lekas masuk, sudah magrib. Galuh tidak akan pulang. Relakan saja,” suara suamimu dari pintu rumah lanting kalian. Sebentar menunggu, namun kembali masuk ke dalam rumah ketika kau tak jua beranjak dari dudukmu di batang itu.

Setelah sekian senja kau lewati, kau mulai sadar kalau Galuh mungkin tidak akan pernah pulang. Dan kau tahu, satu-satunya cara agar bisa bertemu dengan Galuh-mu, kau harus membenamkan diri ke dalam sungai itu seperti halnya Galuh yang terbenam. Kau harus menjemputnya meski mungkin di liang terdalam sungai untuk kemudian membawanya pulang. Atau mungkin kau akan betah bersama Galuh di tempat barunya, di mana di sana kalian juga bisa menikmati senja raya di sungai itu, memandang elang-elang melayang, kelotok dan jukung hilir mudik, anak-anak bermain air, dan ketika cahaya senja menghilang kalian berdua pun berkumpul di suatu tempat yang lebih nyaman dari rumah lantingmu. Bukankah ketidakpulangan Galuh ke rumah lanting kalian, itu bisa berarti karena tempat baru Galuh lebih nyaman?

Lalu kau pun ingin pergi ke sana, menjemputnya atau ikut berbenam bersamanya di liang terdalam Sungai Martapura, tepat saat senja kuning kian hening.

 Galuh, lakasi naik/ sanja kuning sanja luruh di muara/ bakayuh jukung-jukung hancap bulik/ sudah dikiau abahnya 

(Galuh, lekas naik

senja kuning senja luruh

di muara

berkayuh sampan-sampan cepat pulang

sudah dipanggil bapaknya)***

  

: Cerpen ini terdapat di dalam buku “Perempuan yang Memburu Hujan” kumpulan cerpen saya bersama Harie Insani Putra. (Buku cerpen ini akan di-launching, Sabtu (8/3) pkl 09.00 di FKIP Unlam, Banjarmasin). Bagi Anda yang tinggal di Banjarmasin dan sekitarnya dipersilakan berhadir. Yang tinggal di kota jauh, juga silakan bila mau datang, hehee…

  

Keterangan:

1)        Rumah lanting = Rumah kayu khas yang dibangun di atas gelondongan kayu di pinggir sungai (banyak terdapat di wilayah Kalimantan).

2)        Kelotok = Kapal kecil bermesin.

3)        Jukung = Sampan.

4)        Ilung = Enceng gondok.

5)        Menggerunum = Menggerundel, menggerutu.

6)        Panas dingin = Sakit demam.

7)        Sanja Kuning = Senja Kuning, judul lagu berbahasa Banjar karya Anang Ardiansyah.

8.        Mati lamas = Mati tenggelam di air (sungai).

 

———-

sumber http://sfirly.wordpress.com

RIATRY LESTARI

 

RIATRY Lestari. Tapi dia lebih suka mencantumkan Try lestari Soemariyono pada setiap karyanya dalam menulis, baik itu puisi, cerpen atau essai. Memulai menulis sejak SD, namun publikasi pertama karyanya berupa cerpen ditampilkan dalam majalah dinding ketika ia duduk di bangku SMP. Kecintaannya pada dunia menulis membawa karya-karyanya muncul di majalah dan harian baik lokal maupun nasional.

Cerpennya yang berjudul Dalam lingkar  kebimbangan dan keajaiban masuk dalam kumpulan cerpen Forum Lingkar Pena. Tulisannya yang berjudul Lemang Sang  Penyelamat Hidup, meraih juara tiga dalam Lomba Penulisan Pemberdayaan Penduduk Miskin yang diselenggarakan Lembaga Pers Dr. Soetomo Jakarta.

Profilnya pernah muncul di majalah Pantau terbitan ibukota. Perempuan yang lahir tanggal 7 April ini rajin menulis naskah radio untuk sandiwara dan menulis naskah untuk feature udara, menyorot kehidupan sosial dan orang yang terpinggirkan. Tahun 2006 lalu, ia mengikuti Confrence Women Playwrights Internasional di Jakarta. Mantan wartawati Tabloid Koran Kita ini, baru saja meluncurkan kumpulan essai bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam FLP Samarinda, berupa TTM, in the name of friendship.

TRY telah dipanggil_NYA di awal tahun 2010, Try korban tabrak lari saat pulang dari bekerja sebagai penyiar radio RRI Kota Samarinda, di malam dingin sehabis hujan.*

RUMAH KUNING

Oleh : Try Lestari Soemariyono

 (Kalimantan Timur – INDONESIA)

Gambar

Tidak ada yang istimewa sesungguhnya dari bangunan itu. Semuanya serba sederhana. Satu yang paling menonjol, hanya warna catnya yang menantang, kuning terang. Selebihnya, semua biasa.

Seperti warna kuning, yang konon adalah warna cemburu, penghuninya selalu berganti-ganti setiap tiga atau empat bulan sekali. Hidup sendiri, menunggu seseorang dengan kecemburuan yang mendalam. Silih berganti.

Rumah kuning itu adalah rumah kontrakan dari Bu Kadar, tetanggaku yang berpredikat janda. Entah kenapa, mereka yang ngontrak, selalu isteri kedua yang dinikahi siri. Posisi rumah itu tepat berhadapan dengan rumahku. Cukup strategis untuk menyiumpan isteri kedua atau ketiga, karena lingkungan kami jauh dari keramaian.

“ Kita memiliki tetangga baru lagi, Rat,” Mas Deny membisikiku suatu sore saat aku baru tiba dari kantor. Aku keheranan, sebab suamiku itu tak pernah peduli selama ini siapa tetangga kami. Tetangga kamipun jarang memperkenalkan diri. Pintu rumah itu selalu tertutup rapat, kapanpun. Seperti tak ada kehidupan. Kecuali jika ada suara mobil yang menderu, pintu itu terbuka sesaat, untuk kemudian tertutup lagi.

“ Kami masih ingat Adisti,kan?”

Aku mengangguk

“Dialah penghuni rumah kuning itu”

Jantungku langsung berdegup. Adisti? Aku ingat nama itu. Sahabatku semasa kuliah, mantan pacar Mas Deny suamiku.

“Tadi pagi ia pindah”

“ Ia ke sini?”

“Ya” Mas Deny mengangguk

Kuhirup jus tomat. Serasa dingin mengaliri kerongkonganku. Tetapi…, hei, dadaku terasa mulai memanas. Cemburu? God! Rasanya tidak. Lalu?

“ Rat, dia agak kurusan.” Mas Deny berucap pelan. Aku menangkap nada simpati kutatap mata suamiku. Biasa saja.

“ Istri simpanan juga? Aku berusaha tak terpengaruh pada perasaanku

“ Aku tak tahu.” Mas Deny mengangkat bahu.” Mandi dulu, kamu kelihatan lelah.”

Tanpa komentar, aku menuruti saran mas Deny. Seharian ini aku memang lelah. Banyak yang harus kukerjakan, demi kemajuan perusahaan.

Seusai mandi, aku memang lebih segar, tetapi tidak dengan pikiranku. Kuoles lipstik pink ke bibir mungilku. Kubiarkan rambut cokelatku tergerai Sret… Sret …, parfum menyentuh bagian telingaku dan pergelangan tanganku. Aku tak ingin kelihatan lusuh, apabila tetangga baruku adalah adisti!

*   *   *

Ting … tong

Bel rumahku menjerit. Bik Maimun membukakan pintu, dan seorang wanita bergaun kuning, berdiri di depan pintu. Adisti.

“ Malam, Rat” Adisti menyapaku. Senyumnya mengambang manis. “ Apa kabar?”

“Baik,” aku menjawab.

Kami berpelukan sesaat. Tujuh tahun tak bertemu, sesungguhnya aku begitu kangen pada sahabatku ini. Ia memang kelihatan lebih kurus, tetapi makin cantik.

“Ayo rezki tak boleh ditolak. Aku dan Mas Deny kebetulan mau makan malam, kamu harus makan bersama kami,” kugandeng tangannya menuju ruang makan. Ia sedikit ragu, tetapi akhirnya mengikuti langkahku.

Sesaat ia melihat sungkan ketika menjumpai mas Deny di ruang makan, tetapi menjadi hangat ketika menjabat tangan Alia, putri tunggalku. Lima belas menit kemudian, sifatnya normal, seperti tujuh tahun yang lalu, penuh canda dan riang. Sifat inilah yang bisa membujuk kependiamanku menjadi lumer, dan bisa bersosialisasi dengan siapapun. Pengaruh Adisti begitu kuat terhadapku. Ia sosok wanita yang smart, dalam sikap maupun pikiran. Aku memang megaguminya. Ia populer di kampus dengan segudang prestasi akademik dan wajah orientalnya yang menyenangkan

“ Ratna sayang, aku akan menikah bulan depan,” Adisti , membisikiku suatu senja ketika aku akan sholat magrib di kamar kostku. Senyumnya mengembang menagkap raut keheranan diwajahku. Menikah? Diusia muda dan kuliah belum kelar?

“Sholatlah dulu. Engkau pasti berprasangka aku kebobolan, kan? Adisti tertawa. “ Aku masih perawan, Non.”

Ketika lengking cacing tak lagi bergema, sebagai tanda bahwa senja telah terlewati, kusodorkan segelas teh hangat pada Adisti.

“ Siapa lelaki beruntung itu, Adis?” aku bertanya tak sabar.

“Ia lelaki sederhana yang pernah kuliah di ISI Jogjakarta. Aku baru mengenalnya dua minggu.”

“ Dua minggu? Kamu tak bercerita padaku?” aku ,e,belalak. “ Secepat itu mau menikah?”

“ Dia baik, Rat. Ia mencintaiku lulus, dan aku mencintainya amat sangat. Aku mengenalnya ketika nonton pameran lukisan di taman Budaya, kamu masih ingat?”

“Seniman gondrong itu?” aku makin terbelalak.

“ Ingatanmu sangat bagus. Yap, deny Asmara.”

Aku terdiam. God, cinta seperti apa itu?

“Itu namanya cinta kilat, Dis. Perkawinan itu tidak hanya untuk satu dan dua bulan saja, tetapi seumur hidup. Bagaimana dengan mama? Papa? Keluarga lainnya? Dua minggu Dis, terlalu singkat dan sinting untuk mengambil satu keputusan yang penting.” Aku menatapnya galak.

“Aku tak peduli. Aku mencintainya.Titik.”

Dua minggu kemudian, tak ada janur melengkung dan tenda biru di rumah Adisti.Yang ada justru karangan bunga sebagai tanda bela sungkawa atas kematian Tante Ine, Ibunda Adisti. Serangan jantung telah menghentikan nafas wanita baik itu. Permohonan restu untuk pernikahan, tak pernah ada.

Dan Adisti menghilang. Sebulan kemudian aku mendapat phone darinya. Ia di Belanda. Opanya memang ada di sana. Dan setelah itu kami tak pernah lagi berhubungan. Ketika aku telah menyandang gelar sarjana ekonomi dan akan menikah dengan Mas Deny, aku minta izin dan restu pada Adisti melalui Mbak Mery kakak satu-satunya dari sahabat tersayangku itu.

“ Kamu pagar makan tanaman, Rat. Aku benci padamu.” Adisti menelpon menjelang pernikahanku. Tangisnya mengalun pilu. Mas Deny membisu. Akupun demikian.

Maafkan aku, Dis.

Dan hari ini kami kembali bertemu setelah hampir tujuh tahun berpisah.

*      *     *

Sisa kemarahan tak ada lagi pada Adisti

Bibir merahnya banyak menyunggingkan senyum, tetapi juga menyimpan misteri dari kepergiannya selama ini. Hari ini aku ingin semuanya menjadi jelas. Dari bibir Adisti sendiri, bukan dari Mas Deny suamiku. Tentang Tante Ine yang meninggal tiba-tiba, Om Hendry yang murung, Mbak Mery yang gelisah, pernikahan yang tak pernah ada, dan Adisti yang kabur keluar negeri. Oh!

Percayakan engkau pada takdir, Ratna?” Adisti menatapku dalam.

“Tentu saja” Aku menjawab menggenggam tangannya.

Kebisuan meyergap kami. Helaan nafas terdengar, ditingkahi denting jam pukul dua belas malam. Mas Deny sejak pukul sebelas tadi sudah masuk kamar, mengeloni Alia yang agak cerewet malam ini. Aku dan Adisti masih melepas kangen, menumpahkannya dalam bingkai waktu tujuh tahun perpisahan kami.

“Dulu aku marah pada papa. Marah pada keadaan, marah pada Tuhan.., dan  takdir yang ditentukannya. Takdir yang disuratkan padaku, begitu berat. Aku tidak boleh menikah dengan orang yang kucinta, yang kusayang, yang begitu mengerti aku.” Adisti memulai membuka kisah yang belum  aku ketahui.

“Keterus terangan papa, menyebabkan mama meninggal secara tiba-tiba, juga membuatku marah. Kejujuran yang memang harus diakui papa, menyebabakan takdir yang digoreskan, harus kujalani. Aku mesti berpisah dari Mas deny, pria yang kucinta yang semestinya menjalani hidup denganku. Engkau tahu, Rat? Tak pernah ada restu dari papa. Mas deny adalah anak kandung papa, dari wanita lain. Pengakuan yang mengejutkan  mama, mbak Mery dan aku. Mama yang merasa dikhianati, dan aku yang sedarah dengan Mas Deny…” Adisti mulai terbata.

“Tidak ada satupun wanita yang rela ketika suaminya mencintai wanita lain dan menghadirkan seorang anak dari percintaannya yang lain pula. Demikian juga dengan mama. Jantung mama tak kuat menerima itu semua, apabila papa diakui mama sebagai suami yang paling setia.” Mata Adisti membasah.

“Aku marah pada papa. Pada Tante Minarsih, ibu Mas Deny. Mengapa mengambil cinta dari kami. Ia tak berhak…” Adisti terisak. Aku diam, merengkuh bahunya. Kubiarkan ia sesenggukan. Barangkali dengan demikin, ia bisa sedikit lebih lega.

“ Tetapi takdir harus kujalani lagi, rat. Kalau akau dulu menghardik Tante Minasih dengan perkataan keji, merebut suami orang tanpa perasaan, sekarang aku  tahu.., bahwa ketika cinta menyapa dan mengisi relung hati seseorang, tiada satupun bisa menolak. Rat, aku menikah dengan Mas Erlangga, yang telah memiliki istri yang baik dan anak yang baik pula.., aku menjadi isttri kedua seperti halnya Tante Minasih. Di luar logikaku. Ia pria biasa yang tidak kaya. Jabatannya biasa juga. Tetapi aku mencintainya, dan ia mencintaiku..”

Aku tetap diam. Mencoba berkompromi dengan perasaanku. Begitu dahsyatkah sebuah cinta? Mempermainkan kehidupan seseorang dengan dalaih takdir? Betapa mahaberkuasanya cinta, memporakporandakan rasa tanpa logika. Mengubah seorang Adisti yang benci akan perkawinan dibawah tangan, justru menjalaninya. Ah!

*      *       *

Rumah kuning itu ditakdirkan untuk menampung penghuninya yang menjadi istri kedua atau simpanan. Menyimpulkan warna kecemburuan. Menyimpan banyak kisah yang direkam oleh dindingnya yang kuning. Pagarnya yang kuning. Atapnya yang kuning. Merangkumnya dalam satu permainan, bahwa penghuninya adalah wanita-wanita yang siap cintanya dibagi.

Tiga bulan kemudian, aku kembali kedatangan tetangga baru. Adisti telah pindah dan mengikuti suaminya ke Brunai.

Ketika pagi menjelang dan aku bersiap menuju kantor bersama Mas Deny, kulihat Pak Sinaga, bosku di kantor memasuki mobilnya dianatar wanita muda sexy berkulit putih. Dan aku tahu, itu adalah wanita simpanannya yang dinikahinya empat minggu yang lalu.

Rumah kuning itu kembali menjadi saksi bisu. Percintaan, kegelisahan dan kecemburuan, menyatu dalam satu kisah, tersimpan dalam pintu yang selalu tertutup rapat, berwarna kuning.*

JINGGA

OLEH : TRY LESTARY SOEMARIYONO

Sembilan bulan yang lalu Va, masih berkeliaran di jalan selepas senja. Senyum tipisnya sanggup menghentikan langkah lelaki manapun . Mengajaknya berbincang, pergi dan kemudian bercinta. Semakin malam, kawasan tepian yang menyajikan jagung bakar manis, kopi susu kental dan tebaran wajah ranum tak menyurutkan gairah cinta semalam. Va yang suka berpakaian hitam, akan tenggelam dalam tawa tanpa makna dengan teman-temannya.

Tapi malam itu Va akan menjadi milik Jati. Tak akan lagi ada transaksi menghasilkan rupiah. Va menjadi istri syah Jati, pengusaha berduit asal Surabaya.

“Bapak tidak menyesal mengawini saya?” Va bertanya ragu.

“Saya akan menyesal jika tidak kawin denganmu,” Jati tertawa. Va kelihatan bingung. Hampir lima bulan Va bersama Jati, tetapi lelaki separuh baya itu tak pernah menyentuhnya. Paling ahnya memeluk, mencium keningnya. Selepas itu,  Jati akan membawanya memutari kota Samarinda, mendengarkan musik di Pub Alamanda Hotel mesra, dan memulangkan Va ke rumah kontrakan sederhana jika batas malam berganti pagi.

“Kamu manis, siapa namamu?”itu kalimat pertama dari Jati, ketika pertama kali bertemu Va di Tepian. Saat itu Jati menikmati jagung bakar bersama Hendra, kawan bisnisnya di Samarinda. Jati memang pecinta jagung bakar, dan daerah tepian di Samarinda adalah tempat yang paling nyaman untuk menikmati jagung bakar sambil menatap mahakam dalam riak gelombang kecil yang di naungi bulan.

“Saya Va.” Va seperti biasa, tersenyum.

“Singkat sekali? Punya arti tersendiri?” Jati mencoba berakrab dengan wanita dua puluh satu tahun itu.

“Ah, Wiliam shakespiere mengatakan apa arti sebuah nama. Saya tidak suka menyebut nama lengkap, karena setiap orang yang mendengarnya akan mengulang, dan merasa heran. Panggil saja, Va.” Va enggan menyebutkan nama lengkapnya.

Dan kemudian daya tarik Va seperti tidak terbendung. Jati meminta nomor phone selulernya, dan memberi nomor pribadinya. Komunikasi terus bergulir, sampai pada akhirnya Jati menawarkan sesuatu yang tak pernah di duga Va.

“Menikahlah denganku, Va. Tinggalkan Samarinda, hidup denganku di Surabaya.” Jati menatap Va dengan pandangan berharap. Va ternganga. Sesaat kemudiania tersenyum menggoda.

“Istri keberapa nih? Tiga, atau empat?”

“Kamu tahu, istirku sudah meninggal tiga belas taun yang lalu.” Jati menatap wajah Va lembut. “Kamu akan menikah dengan duda keren.” Tawa halus Jati terdengar lagi.

Va tertawa keras.

“Jangan menggodaku seperti itu, ganteng.” Va mengelus wajah Jati. “Aku tak tahu siapa ayahku. Kata ibu sih, orang Thailan yang tak pernah menikahi ibuku. Ibu meninggal dalam sakit tanpa obat.dua tahun aku menjadi istri simpanan pejabat yang telah mati akrena serangan jantung, setahun aku menjadi istri kontrakan dari lelaki Korea, bertahun-tahun aku bisnis cinta sejak berusia tujuh belas tahun. Adakah lelaki yang sudi menjadikanku istri sahnya, dari hukum agama dan Negara? Menikahi seorang mesti tahu dulu bibit, bebet, bobot.” Va masih terpingkal, menutup kerawanan hatinya.

“tak ada rumah megah yang dijanjikan dan jutaan uang di Bank. Janji mereka isapan jempol, mereka hanya ingin tubuhku, curhat ketika ada masalah dengan istri..! Ah, enakan hidup tanpa ikatan.” Va tertawa namun terdengar sumbang.

“Va manis, aku lelaki tak pandai berkata. Jika lamaranku tidak kau tolak, maka takdirmu akan berubah. Kamu tidak ingin hidup terus begini, kan?’ jati menyentuh jemari Va. Ada getaran halus mengalir.

“Bapak, saya tidur dengan banyak lelaki.” Va membiarkan jemarinya di dalam genggaman Jati.

“Aku tidak peduli. Ketika kau sudah menjadi istriku, kamu adalah milikku, tanpa satu lelakipun bias menyentuhmu lagi.”

Va menatap Jati takjub, antara percaya dan tidak.

“Bulan depan kita menikah, lupakan kehidupan dulu, jalani masa depanmu, Va sayang. Surabaya akan menjadi kotamu. Hm?”

Sembilan bulan yang lalu Va masih duduk di tepian mencari mangsa, menawarkan cinta sesaat dan menggenggam rupiah. Kulitnya yang putih selalu terbalut dalam baju warna hitam, seperti hatinya yang sesungguhnya gelisah. Jati dating menawarkan cinta abadi, menyuntingnya. Sekarang ia telah menjadi nyonya Jati, bukan lagi Va. Setiap orang yang bertemu dengannya akan menyapa; Nyonya Jati Perwira. Menebar senyum, dan mengangguk hormat.

“Ini hadiah untukmu, Jingga cintaku,” Jati mengecup bibir Va pagi ini. Sebuah restauran elegan bernuansa jingga akan dibuka siang ini, menawarkan makanan khas Kalimantan. Atas nama Va, seperti juga butik yang telah dibuka dua minggu lalu.

“Kamu suka, Jingga?” Jati memeluknya.

“Bapak, aku va. Aku bukan Jingga.” Va membiarkan tubuh mungilnya dipeluk Jati. Ini untuk kesekian kali Va mengingkari. Ia Va, bukan Jingga!

“Jingga sayang, Jingga cintaku…” Jati semakin erat memeluknya, menciumnya. Va melihat kedua mata Jati menebar saying.Mengaca. Ah…! Lelaki ini telah mengubahnya menjadi Jingga, istrinya yang telah mati bersama bayinya saat melahirkan. Jingga yang amat dicintainya. Jingga yang selalu berpakaianwarna jingga sesuai namanya. Jingga yang teramat mirip dengan Va, bagai pinang di belah dua…!

Tiga hari setelah pernikahan, Jati memberikan beberapa cd berisikan rekaman kegiatan sehari-hari Jingga yang selalu di handicam Jati. Membuang baju-baju hitam Va, menggantinya denganwarna jingga, warna yang dibenci Va. Jati mengubah Va seperti Jingga. Seluruhnya. Inikah sebab, mengapa Jati begitu menginginkannya? Menghidupkan kembali diri Jingga melalui Va?

“Jingga sayang, aku telah memenuhi keinginanmu untuk membuka restaurant dan butik. Engkau bahagia?”

Va tidak menyahut. Sesungguhnya ia ingin menjadi Va, bukan harus berperan seperti Jingga. Jingga yang lembut dan bertutur halus, Jingga yang punya kebiasaan menidur kan Jati dengan nyanyian cinta, Jingga yang mendapatkan siksaan saat akan bercinta karena Jati mempunyai kelainan.

Ah!

“Engkau bahagia Jingga?” Jati mengecup kening Va. Kening yang masih memar karena pukulan Jati semalam. Selalu begitu. Punggung yang kebiruan, pinggang memar, atau pipi yang memerah. Va sudah kehabisan air mata.

Betapa ia lelah dalam menjalani hidup. Tersenyum memberikan cinta palsu pada setiap lelaki yang membawanya pergi untuk mendapatkan rupiah, membiarkan hatinya tersayat ketika tetangga kiri kanan rumah kontrakannya mencibir dan meludah saat ia pulang selepas subuh. Dan kini, ketika semua orang menganggukan kepala sebagai tanda hormat akan statusnya sebagai istri Jati, memanjakannya dalam harta yang berlimpah, kebahagiaan tak seutuhnya berpihak pada Va.

“Jingga sayang, kamu sakit?” suara Jati menepis lamunan Va.

Va menggeleng. Memberikan senyumnya pada Jati.

“Kita berangkat sekarang?” Jingga menawarkan. Jati mengangguk. Mengusap pipi Va perlahan. Va sedikit meringis, pipi yang memerah karena Jati menamparnya semalam.

“Pagi ini kamu sangat cantik.” Jati menggandeng tangan Va menuju mobilnya.

*          *          *

Mall Tunjungan sore hari.

“Gina…!”

Va menghentikan langkah. Suara itu amat dikenalnya. Suara Emi, teman seperjuangannya dulu dalam mempertahankan hidup dengan menawarkan cinta semalam.

“Gina…, hai.., kamu Gina?”

“Emi..,” Va memeluk Emi. “Apa kabar?”

“Baik. Baik sekali. Kamu menghilang, dulu katanyasudah menjadi nyonya kaya di sini, Surabaya.” Emi tertawa. “Duh, kamu memang kelihatan lain, tapi.. agak kurusan. Sengaja diet?”

Va ikut tertawa. “Kamu sendirian?” mata Va mencari-cari seseorang, tidak menanggapi pertanyaan Emi.

“Sejak kapan aku punya uang untuk membayar hotel dan terbang?’ Emi cekikikan. “Biasa, cukong kayu pengen membuang sedikit duitnya, memanjakanku shooping dan menjenguk kota orang. Tuh, dia lagi ambil duit di ATM.” Emi menunjuk dengan mata seorang lelaki botak berperut buncit.

“Nasib kamu bagus banget Gin. Banyakn uang, dikawini secara syah, dihormati.., kawan-kawan setiap hari membicarakan kamu. Mereka bilang, karena namamu yang aneh, kamu beruntung.” Emi terus berkomentar. “Hm, mana suami kamu?”

“Jingga… “ Jati telah berdiri di samping Va. “Lama sekali, aku menunggu kamu di bawah.”

“Jingga?” Emi keheranan. Ditatapnya Jati dengan tanda Tanya. “Bukannya kamu Gina? Vagina..?” Emi menggantungkan kalimatnya.

Va mengangguk.

Aku mempunyai panggilan kesayangan. Jingga. Nama yang cantik, bukan?” Va menggandeng suaminya. “Main kerumahku ya Em. Kamu masih lama di sini,kan?” Va memberikan kartu namanya. Senyumnya masih mengembang.

“Ah Gin, esok aku sudah balik. Istri cukong sialan itu menyusul. Aku mah gak mau rebut. Yang jelas, uangnya sudah pindah ke rekeningku.” Emi berbisik. “KAmu tahukan, Mala anakku mesti bayar uang sekolah. Cukup aku aja deh yang gini, Mala mesti jadi sarjana.” Emi mengedipkan matanya. “Doakan aku ketemu jodoh yang baik ya, aku sudah capek hidup begini.”

Va mengangguk. Dipeluknya Emi sekali lagi sebagai salam perpisahan. Kemudian tangannya menggenggam tanga Jati, menuntun menuju tempay parker. Sesaat ditatapnya lelaki paruh baya itu. Digelengkannya kepala lemah. Ia tak sanggup melarikan diri, tapi jugatak sanggup hidup bersama. Jati menyakitinya, tetapi juga membuatnya bahagia. *

INGKAR

Oleh : Try Lestari Soemariyono

TIDAK  berlebihan rasanya jika aku telah jatuh cinta padanya.Ia cerdas, sedikit jail tapi santun, dan lumayan ganteng. Gaya bicaranya santai, penuh humor yang kadang sanggup metbuatku tertawa lepas. Hal yang aku suka dan selalu ingin mendengarkan suaranya adalah jika ia melafalkan huruf ‘r’. Cukup aneh bagiku, sebab jarang ada pria yang tak sampai menyebut huruf ke delapanbelas dari abzad yang ada.

Tiga minggu perkenalan itu, memang terlalu singkat untuk menyukainya. Tetapi bukanlah satu kesalahan bila akhirnya aku jatuh cinta pada sikapnya. Pada kalimat-kalimatnya yang spontan. Pada tatapan matanya. Pada ide-ide gilanya. Ah! Yang menjadi salah, adalah aku mencintai lelaki yang sudah memiliki kekasih.

Dalam kamus percintaanku dengan berbagai pria, dialah pria yang paling sederhana dari segi nama dan penampilan, terkesan awut-awutan, cuek, berkantong tipis. Namun semua itu bukan satu penghalang sesungguhnya. Satu hal yang semestinya kusadari, perbedaan usiaku begitu jauh.

“Aku buatkan mie rebus, ya, Wi?”

“Hm, bolehlah.” Aku mengangguk, menyetujui tawaran Budiman, lelaki itu. Ia menyapaku dengan panggilan khusus; Uwi, padahal namaku Ruri Riswari. Mungkin menyiasati agar lafal ‘r’ yang diucapkannya tidak terdengar. Aku menyukai nama baruku, pemberian Budiman.

“Pedas?”

“Sedang saja.”

Ia menghilang ke dapur, meninggalkanku di ruang tamu mungil rumah kontrakannya. Tak berapa lama ia kembali membawa dua mangkuk kecil mie rebus buatannya.

“Ini special buatmu..” ia tertawa. “Kamu pasti ketagihan makan mie buatanku, dan selalu kangen…”

“Ge-er ah!” aku mencibir. Ia masih tertawa. Dan aku menyukai tawanya.

“Asin?” ia bertanya saat aku mulai menikmati mie rebusku.

“Hm…, sedikit.”

“Kalau asin…, itu tandanya aku sudah kebelet kawin…!” Budiman menyodorkan kecap manis. Matanya menatapku jenaka. Aku tertawa.

“Memangnya kamu sudah ada calon?”

Ia terbatuk. Agaknya disengaja.

“Begitulah. Aku mencintainya. Amat sangat.”

Ah!

Artinya aku harus patah hati dengan jawabannya barusan. Budiman telah mengakui, bahwa dirinya telah ada yang memiliki. Gadis Jawa pasti telah menantinya, mengikatnya dalam cinta setia.

*   *   *

Tuwit…tuwit…tuwit…

Ruri sayang, bercintalah denganku. Aku mempunyai gaya baru yang pasti asyik. Mhhh…, gimana?

Sms Profesor Diaz, ahli sejarah. Pria beristri bule yang mempunyai keisengan luar biasa tanpa batas. Gaya bahasanya kalau meng-sms, selalu berbau porno. Aku tak pernah menanggapi. Usianya baru tigapuluh lima tahun, cukup muda untuk menyandang gelar professor. Suka dugem, energik, berduit, good looking. Perempuan manapun pasti suka berada didekatnya. Jauh dari gambaran profesor-profesor dulu yang selalu berkaca mata tebal, botak dan kutu buku. Beberapa kali ia merayuku untuk bisa berkencan, dan berkali-kali pula kutolak. Dasar profesor sableng, semakin aku menolak, semakin bersemangat ia ingin menikahiku.

Kalaulah seorang budiman yang wartawan itu yang mengajak menikah, hm, aku tak akan menolaknya. Tapi…, ah! Ia telah memiliki seorang kekasih, dan siap melamarnya! Aku tak berhak mengganggu kebahagiaan insane yang berbahagia, dan aku tak berhak menawarkan cinta terlebih dahulu.

“Cinta itu perlu diperjuangkan, Rur. Pengecut sekali jika kamu mundur sebelum mencoba.” Nike, sahabatku sejak di SMU mentertawakanku ketika kukatakan aku telah patah hati pada seorang Budiman.

“Usianya lebih muda tujuh tahun dariku.” Aku berucap malas. “Ia telah memiliki kekasih dan akan menikah.”

“Lalu?”

“Aib sekali menjalin cinta dengan lelaki yang usianya di bawahku, dan ternista jika aku menyakiti perempuan lain dengan merebut kekasihnya.”

Nike terbahak. “Dan membiarkan perasaanmu sendiri sakit? Oh God! Sahabatku sekarang sudah menjadi lilin, rela hancur demi menerangi orang!” Aku membiarkan Nike terbahak.

“Seberapa besar cinta kamu padanya?” Nike menyimpan senyumnya.

“Seluas laut dan cakrawala.”

“Gila! Kamu benar-benar jatuh cinta, Rur?” Mata bulat Nike membelalak.

Aku mengangguk, ada kesalahan dikalbuku. Kontradiksi. Ingkar atau sakit selamanya? Ah, mengapa sampai separah ini? Bukannya cinta dapat menguap suatu saat? Tetapi, aku perempuan yang tak gampang jatuh cinta! Jika selama ini aku memilih masih sendiri diusia tigapuluh tahun, ada alas an yang tak dapat aku jelaskan pada semua orang. Hanya mama yang paham dan tahu persis mengapa aku takut jatuh cinta dan menikah. Papa yang tega menghianati mama, menelantarkan kami dengan bahagia bersama istri mudanya. Ah, aku tak bisa lupa, mama yang sering dipukul, di bentak, dilecehkan, hingga akhirnya masuk rumah sakit ketika papa memutuskan kawin dengan wanita lain.

Aku trauma, dan menganggap semua laki-laki berhak menyakiti wanita, ketika telah menjadi istrinya.

Aku tak ingin menikah. Toh tak ada undang-undang yang melarang perempuan untuk tidak menikah. Toh aku berhak untuk mengatur hidup dan diriku sendiri. Toh tanpa lelaki aku bisa hidup senang dengan penghasilan besar, bisa bersedekah, memberi rezki pada orang-orang yang memerlukan, menggaji karyawan di cafeku, memimpin rapat diruang ber-ac di sebuah penginapan sederhana milikku, menyekolahkan anak asuhku…, apa yang kurang? Rasanya memang tidak memerlukan lelaki!

Tetapi, Budiman datang dengan mengetuk hatiku, bahwa cinta itu memang ada, dan aku bergetar karenanya. Ketika senja dating, ada senyumnya yang membayang, dan ketika pagi menjelang ada tawanya yang renyah, membawaku untuk menyunggingkan senyum tanpa sadar. Aku selalu kangen dengan kalimatnya yang spontan, kangen dengan lafal ‘r’ nya yang cadel, kangen dengan mie rebusnya…

“Cinta adalah berkah, Ruri. Merebut cinta dari seseorang memang kejam. Tetapi membiarkan cinta dengan mengingkarinya dan membuatmu menderita juga kejam. Keputusan ada dihatimu.” Nike menghela nafas serius.

“Dengar Ruri, cinta tak pernah di batasi kasta. Apalagi usia. Menawarkan cinta lebih dahulu, bukanlah suatu dosa. Jangan menyiksa diri hanya karena trauma masa lalu.” Nike menyambung.

Ketika senja menyapu cakrawala, aku tercenung disejadah. Ada wajah papa dan Budiman bergantian. Aku menggigil. Tamparan papa yang keras membuat mama tersungkur, jeritan mama, bentakan papa, mama yang rubuh tiba-tiba…,Ah! Lalu muncul wajah Budiman yang menyejukkan, yang sanggup membuatku tertawa lepas, mampu membuatku tertawa lepas, mampu membuatku merasa perlu dilindungi, dihargai…, mendekapku dalam kehangatan lelaki yang tak pernah kurasakan…!

Dan malam bergulir dalam hitungan bulan.

Budiman yang kukenal saat menghadiri lounching suatu produk di Mesra Hotel Internasional, semakin menjeratku dalam pesonanya. Kesederhanaannya justru membuatku selalu ingin bersamanya. Dan malam ini ia berjanji akan membuatkanku mie rebus lagi, seraya memperkenalkan seorang wanita yang ada dihatinya. Jujur, aku terluka. Sakit. Barangkali sudah ditakdirkan, lelaki acap kali menyakiti hati wanita.

Pukul delapan malam. Tiga puluh menit sudah Budiman terlambat. Aku mulai gelisah. Barangkali ia telah lupa, sebab wanita yang dicintainya ada bersamanya. Kalimantan dan Jawa mampu membuat keduanya lupa akan janji, terlena dalam kerinduan yang lama terpendam. Setahun, bukan waktu yang singkat untuk meniti cinta yang dipisahkan laut. Betapa aku cemburu! Tetapi…, aku tak berhak. Budiman bukan kekasihku. Bukan. Tak pernah ada pernyataan. Terlalu berlebihan jika aku banyak berharap!

Bel menjerit. Jantungku berdebar. Seorang wanita cantik setengah baya berdiri di depan pintu bersama Budiman. Wanita itu tersenyum. Ramah. God! Selera Budiman boleh juga. Tetapi…, heh, apakah Budiman penyuka perempuan dewasa? Inikah wanita beruntung itu?

“Boleh kami masuk?” Budiman menyadarkanku.

“Oh, ya, tentu saja. Masuklah, ayo Mbak..” aku tersenyum membujuk hatiku agar tidak cemburu. Mencoba Familiar.

“Hei, jangan panggil calon mertuamu Mbak, dong. Nanti kualat…” Budiman tertawa lepas. “Ibiu ingin berkenalan denganmu, sebelum melamar. Engkau cinta padaku,kan?”

Aku ternganga. Surprise apalagi, ini Bud?

“Ibu, ini Uwi yang sering aku ceritakan. Cantik?”

Wanita separuh baya itu tersenyum menyalamiku, memelukku dalam hangat seorang ibu.

“Budiman selalu bercerita tentang kamu. Semuanya. Bersediakah engkau menikah dengan anakku, Uwi?” perempuan itu menatapku dengan kasih.

“Ibu, bukannya Budi sudah memiliki kekasih…?” aku terbata dalam keterkejutan luar biasa.

“Hanya ada dua wanita yang aku kasihi, Uwi. Ibuku dan engkau.” Budiman berucap lembut. Aku ternganga dengan mata mengaca. Sesaat kemudian aku ingin menjerit sekuat tenaga, bahwa aku memang memerlukan seorang pria untuk meniti waktu, menjalani hari-hati tanpa kegelisahan. Aku tak perduli dengan janjiku. Aku telah mengingkarinya. Ya aku telah ingkar. Tapi, apakah itu salah?*

Sehari di Palangkaraya

:: Mahmud Jauhari Ali

Bus yang kutumpangi akhirnya memasuki terminal Bundaran Burung Tingang Palangkaraya. Kulihat para tukang ojek berlarian menuju arah kami. Mereka seakan sedang beramai-ramai berusaha menangkap mangsa yang.besar

=====“Mau ke mana Mas?” tanya salah seorang dari para tukang ojek itu dengan sopan kepadaku.

=====“Saya mau ke Bukit Keminting, Bang.”, jawabku ramah kepadanya.

=====“Ayo saya antar Mas ke sana!” ajak tukang ojek lainnya yang berdiri persis di sampingku. Seperti itu pula ajakan beberapa tukang ojek yang lainnya kepadaku.

=====“Teman saya sudah janji akan menjemput saya di sini.”, kataku singkat kepada mereka.

Syukurlah temanku segera datang menjemputku. Jika tidak, para tukang ojek itu mungkin terus memburuku dengan berbagai rayuan agar aku memakai jasa mereka.

=====“Narai habar Le?” temanku langsung menanyakan kabarku dengan bahasa Dayak Ngajunya yang khas.

=====“Aku bahalap ih. Ikau narai habar kea?” jawabku untuk memberitahunya bahwa aku sedang baik-baik saja. Aku pun balik bertanya kepadanya tentang kabarnya dengan bahasa yang serupa, tetapi memakai dialek Dayak Ma’anyanku yang khas pula.

=====Saat itu kulihat wajahnya yang dibalut kulit kuning langsat sepertiku memancarkan kebahagian atas kedatanganku. Telah dua tahun kutinggalkan kota cantik Palangkaraya. Selama itu pulalah kami tak bertemu muka secara langsung. Kami biasanya berkomunikasi melalui ponsel dan juga facebook di internet. Sungguh pertemuan kali ini membuat kami sangat bahagia.

=====Kulihat bangunan-bangunan baru bermunculan di kota ini. Mulai dari bangunan tempat ibadah, pusat perbelanjaan, hingga warung-warung kecil di pinggir jalan. Kulihat kembali lapangan Mantingai yang tetap indah di mataku. Dulu kami sering bermain basket di lapangan yang luas itu. Di lapangan itu pula aku ajak dia menyaksikan Mutsabaqah Tilawatil Quran yang pernah diselenggarakan di Palangkaraya beberapa tahun silam. Dia beragama Kristen Protestan dan aku seorang mualaf yang dilahirkan dalam keluarga Katolik yang taat. Walaupun kami berbeda keyakinan dan prinsip hidup, kami tetaplah akrab satu sama lain. Persahabatan kami ibarat makna filosofis dari rumah khas suku Dayak yang kami junjung, yakni rumah betang. Rumah khas kami itu memiliki makna berbeda-beda, tetapi tetap satu jua.

***

=====“Kuman helu!”, ajak isterinya saat kami sedang asyik berbincang di serambi depan rumahnya.

Ajakan makan istrinya itu pun kami balas dengan tindakan nyata menuju ruang makan dan menyantap habis makanan di piring kami masing-masing. Daging ayam bakarnya sungguh lezat dengan nasi hangat yang pas di lidah kami. Makanan ini mengingatkanku kembali pada kenangan-kenanganku pada masa lalu di kota ini.

=====“Ka kueh hindai?” temanku tiba-tiba membangunkan diriku dari kenangan masa lalu dengan pertanyaannya kepadaku.

=====Kujawablah dengan satu jawaban singkat, yakni aku hendak ke tanah kubur calon istriku dulu. Aku memang berniat untuk berziarah di sana sejak dari rumahku kemarin di Tamiang Layang, Barito Timur. Ingin kukenang suaranya yang lembut saat berbicara denganku dan tanteku saat kami bertemu. Meskipun orang tua kami telah merestui hubungan kami, jarang sekali kami bertemu muka dan tak pernah pula kami berdua-duaan. Seandainya dia masih hidup, mungkin kini ia menemaniku sebagai istriku. Tapi sekali lagi tidak, kini ia telah tiada dan aku ingin menghirup aroma tanah kuburnya di kota ini.

=====“Jasadmu yang dulu berdiri tegak di hadapanku kini terbujur kaku di bawah sana. Dik, aku masih teringat dengan ucapanmu dulu tentang senyuman. Aku memang orang yang keras hati dan tak mudah tersenyum. Hari-hariku kuisi dengan keseriusan hingga wajahku tak menunjukkan keramahan di mata orang lain. Tapi kini, aku tak seperti dulu lagi. Hidupku telah kuisi dengan rasa persaudaraan dan keramahan.”, ucapku lirih di hadapan makamnya setelah aku berdoa di sana.

=====Aku tak pernah berbicara dengan bahasa daerahku atau bahasa orang Ngaju kepadanya. Ia adalah pendatang dari pulau Sumatera. Kami selalu berbahasa Indonesia dalam berkomunikasi yang singkat dan teramat singkat.

=====Hari pun berubah mendung dan tak lama kemudian menjadi bulir-bulir yang membasahi tubuhku dan tubuh temanku. Kutinggalkan tanah kubur yang tadi kupandangi dengan hati yang di dalamnya bercampur aduk berbagai perasaan.

***

=====Malamnya aku bercengkrama dengan teman-temanku yang telah lama tak kutemui. Kami terlibat percakapan yang seru dan mengasyikkan di bawah tenda warung dekat jembatan Kahayan yang megah. Sungguh malam ini merupakan malam bahagia bagiku. Ingin rasanya setiap malam kulalui dengan mereka di sini. Namun, besok aku harus segera kembali ke tanah kelahiranku. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di sana. Aku berharap ‘kan kutemui kembali malam seperti ini di malam-malam berikutnya.

=====Keesokan harinya aku dibonceng temanku dengan sepeda motornya. Walaupun sudah banyak perubahan di sana-sini, tetapi udara pagi pun masih terasa sama saat aku berangkat ke kantor dulu di kota ini. Suasananya juga masih sama. Oh, rasanya aku kembali ke masa lalu. Sedih rasanya hari ini harus kutinggalkan kota yang pernah lama kutinggali ini. Sehari semalam tak cukup sebenarnya mengobati kerinduanku pada semua yang pernah kukenal di sini.

Akhirnya, kupandangi wajah temanku dari balik kaca bus yang bergerak maju meninggalkannya dan kota yang cantik ini.

=====“Yakinlah teman, walau kita tak lagi bersama seperti dulu, aku akan selalu berusaha mengingatmu dan mengingat sejuta kenanganku di tanah kelahiranmu ini.”, ucapku dalam hati terdalamku.

***

 

Irama Terbang Tua

:: Mahmud Jauhari Ali

Di antara hiruk-pikuknya kota, dan semakin pekatnya polusi di atmosfer tempat kelahiranku, aku masih seperti dulu. Ya, seperti dulu, setia dengan kesenian lama yang kini dipandang orang sudah usang dan berkarat. Batang usiaku kini telah mencapai kepala enam dan sedihnya, tanpa pewaris atas seni yang kubawakan dari waktu ke waktu. Temanku hanyalah sepasang kayu kering dan kulit hewan yang setia kepadaku. Sesekali kutengok masa lalu yang pernah membawaku ke atas pentas kebahagiaan. Sesekali pula aku diminta untuk mementaskan sebuah kisah yang berisi pula wejangan bagi pendengar dengan iringan suara terbang tuaku. Pernah kudengar sayup-sayup orang berkata, kesenian yang kubawakan telah berlumut, mirip dengan namanya.

Siang itu kupandangi sebuah surat yang dilayangkan oleh instansi ternama untukku. Telah lama sekali aku tak menerima sepucuk surat seperti ini. Memang bukan surat cinta, namun isinya membawaku ke alam cinta pada kesenian tua yang mulai redup di telan angkasa kota. Rasa rinduku untuk duduk sambil menatap sekumpulan orang yang hadir dalam acaraku, kini sedikit terobati di kala kubaca isi surat yang dibungkus plastik terang dan licin.

”Yth. Bapak Saman…. Kami selaku Panitia Festival Budaya Daerah memohon Bapak untuk berkenan mementaskan kesenian lamut dalam rangka memeriahkan HUT ke-63 RI. Atas perhatian dan perkenan Bapak, kami sampaikan terima kasih.”, demikian sepenggal isi surat yang kubaca.

Hatiku yang telah lama mendamba untuk membuat orang-orang tersenyum bahagia, kini terasa tenang. Setenang genangan air hujan di jalan yang berlubang karena dilupakan sang empunya kekuasaan. Ternyata masih ada kesempatan untuk orang tua sepertiku mementaskan kesenian ini.

”Ya Allah, aku benar-benar bersyukur kepada-Mu atas kebahagiaan yang kudapatkan ini. Hatiku kini tentram karena-Mu. Perkenankanlah hamba-Mu ini untuk kembali memetaskan kesenian yang hampir dilupakan orang-orang di hari yang akan datang.”, ucapku lirih dalam doaku.

”Kek, ada yang datang mencari Kakek. Orangnya masih muda dan bertubuh kekar. Nama orang itu Alimuddin.”, cucuku yang hampir remaja tiba-tiba memberitakan hal yang tak kuduga itu, entah siapa.

”Suruh orang itu masuk.”, pintaku kepadanya.

***

Assalamu’ailaikum.”, sapa orang itu dengan manis dan lembut.

Wa’alaikumussalam.”, jawabku singkat kepadanya.

”Maaf Pak. Sebelumnya perkenalkan, nama saya Rifani. Saya seorang wartawan salah satu surat kabar harian di kota ini. Tujuan saya ke mari untuk mewawancarai Bapak berkenaan dengan lamut.”

”Syukurlah masih ada yang berminat untuk mengetahui seputar perkembangan kesenian yang hampir dilupakan orang ini.”, kataku, ”Bapak berharap nak Rifani dengan tulus meliput perkembangan lamut dari hati nurani untuk turut melestarikan kesenian yang hampir musnah ini.”, imbuhku.

Beberapa pertanyaannya dapat kujawab dengan lancar hingga satu pertanyaan darinya yang membuat lidahku kelu untuk berkata. Sebuah pertanyaan menyangkut pewaris kesenian yang dari dulu aku geluti ini, benar-benar membuat hatiku miris semiris-mirisnya. Betapa tidak, hingga kini belum ada generasi muda yang sudi berguru kepadaku untuk dapat mementaskan lamut di hadapan penonoton. Ah, sedihnya hati ini.

Pemuda itu terdiam menatapku yang tak dapat berkata-kata lagi. Diraihnya alat perekam yang dari tadi ia letakkan di meja tamuku.

”Sudahlah Pak. Saya mengerti apa yang ada dalam pikiran Bapak. Sebelumnya saya sudah mendengar tentang hal terakhir yang saya tanyakan tadi. Maaf pak, sekali lagi saya meminta maaf kepada Bapak atas pertanyaan yang membuat Bapak sedih.”, kata pemuda itu kepadaku dengan rasa simpati yang cukup tinggi buatku.

Tidak lama pemuda itu mohon diri meninggalkan rumahku dengan wajah yang seakan turut tenggelam menyaksikan raut wajah tuaku yang sedih. Aku tak dapat mencegahnya untuk itu. Kubiarkan ia melewati pintu dan pagar rumahku.

Satu hari telah lewat dan kurenungi kembali pertanyaan pemuda kemarin sore itu. Sendainya lidahku dapat berkata kala itu, akan kukatakan, ”Kini tinggal aku yang masih aktif dalam kesenian yang kudapat dari ayah kandungku sendiri. Tak ada satu pun pewaris yang meminta warisan lamut dariku.” Oh, sakitnya hati ini jika menyangkut generasi muda yang tiada peduli terhadap kelestarian lamut di tanah kelahiranku. Tapi, aku tidak dapat menyalahkan mereka, terutama bagi mereka yang memilih berkesenian lainnya, kesenian daerah dan modern. Toh, juga kesenian yang sama-sama harus dilestarikan. Hanya yang membuat hatiku jatuh berkeping-keping adalah, mengetahui ada generasi-generasi muda yang lebih memilih menelan obat terlarang dan meminum minuman keras daripada melestarikan kesenian di daerah mereka sendiri. Ya, tempat kelahiran mereka juga telah mereka nodai dengan perbuatan buruk mereka itu.

Aku mainkan kembali terbang tuaku untuk mengiringi suaraku yang hampir habis ditelan zaman. Kunikmati sendiri merdunya irama yang dihasilkan dari kulit kering dan kayu yang berongga besar di teras depan rumahku. Kadang anak-anak dan cucu-cucuku mau mendengarkan permainanku. Walau mereka tak ada yang mau meneruskannya, hatiku sangat bahagia jika mereka mau menonton pertunjukan tuaku itu.

***

”Sudah siap Pak?” tanya salah seorang panitia penyelenggara kepadaku.

”Bapak sudah siap, insya Allah Bapak akan segera tampil.”, jawabku singkat.

Segera kutabuh terbang tuaku dengan sebaik mungkin agar iramanya merdu di telinga para undangan. Semoga saja dengan penampilanku malam ini, banyak orang yang berminat kembal terhadap kesenian yang telah lama kehilangan banyak peminat ini. Setidak-tidaknya pemerintah daerah mau memperjuangkan lamut tetap lestari di tengah budaya modern yang semakin mengglobal. Tepuk tangan yang riuh mengiringi penampilanku.

”Bapak harap tahun depan akan ada lagi acara serupa.”, pesanku kepada pihak panitia penyelenggara peringatan HUT ke-63 RI, ”Insya Allah bapak akan datang jika ada permintaan tahun depan”, tambahku.

Mereka tersenyum dan seraya menganggukkan kepala. Aku benar-benar senang hari ini. Lama tak kutemui suasana hati yang mebahagiakan seperti ini.

***

Sore di bawah rintik hujan seorang datang kepadaku. Ya, wartawan itu. Pemuda tempo hari datang kembali. Kulihat wajahnya yang cerah menerangi redupnya sang surya yang sedang enggan bersinar. Segera kubukakan pintu perhatianku kepadanya.

”Ada yang tertinggal Nak hingga kau datang kembali?” tanyaku menggoda.

”Ya, ada yang tertinggal Pak.”, katanya serius.

”Apa? Silakan kauambil yang tertinggal itu.”

”Ilmu dan akan saya ambil dari jiwa Bapak yang ikhlas.”

Kupandangi wajahnya yang serius dan teramat serius buatku. Kulihat sebuah keinginan yang benar-benar dalam darinya.

”Bapak hanya memiliki ilmu berlamut yang dianggap orang sudah usang. Ini titipan dari-Nya. Jika kau menginginkannya, bapak akan menuliskannnya dengan ikhlas dalam dirimu.”

”Alhamdulillah.” ucapnya singkat namun penuh makna yang dalam.

Akupun mengucapkan puji dan syukur kepada-Nya atas anugerah yang sangat indah ini buatku, seorang pewaris.

Perlahan kuajarkan kepadanya yang kutahu. Tiada keinginan dariku menyembunyikan satu ilmu pun darinya. Bagiku murid bukanlah calon saingan dalam berkesenian lamut. Murid adalah teman dan pewaris yang selalu kunanti kedatangannya. Malang melintang di dunia kesenian di daerahku memang bukanlah hal yang membuat hidupku menjadi kaya uang dan harta. Tapi dengan kesenian, hari-hariku terisi dengan kekayaan hati dalam indahnya berbagi sebongkah cerita dan secuil pengetahuan. Kedatangan murid yang mau bergumul dengan seni yang kubawa dari waktu ke waktu ini sungguh nikmat yang luar biasa. Ya, Andi adalah nikmat dari-Nya untukku.

***

Kini pewarisku sudah mampu mementaskan lamut di hadapan penonton. Usiaku semakin senja dan mendekati malam dengan goresan dosa-dosaku di masa laluku.

”Pak, saya permisi pulang. Hari sudah mulai gelap.”, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara Andi yang sudah berdiri di sampingku.

”Ya, hati-hatilah Nak di jalan. Salam untuk orang tuamu di rumah.”

Tak lama setelah Andi pulang, suara telepon rumahku berdering nyaring. Segera kuangkat dan betapa girangnya hatiku mendengar berita akan diselenggaraknnya festival kesenian nasional. Aku menjadi wakil daerahku untuk mementaskan kesenian lamut secara nasional. Februari mendatang aku dijadwalkan tampil di Jakarta untuk menghibur dan berbagi secuil pengetahun kepada orang-orang di sana.

”Inikah buah dari kesabaranku selama ini ya Allah? Hamba-Mu ini benar-benar senang menerima nikmat-Mu ini. Tak kusesali sedikit pun jerih payahku melestarikan kesenian daerah dengan jalan yang terseok-seok selama ini. Hamba sungguh bersyukur kepada-Mu. Izinkan hamba untuk meneruskan kesenian ini hingga napas terakhir hamba di dunia ini.”, ucapku lirih dalam doaku selesai salat Magrib di musala samping rumahku.

***

 

Dakwahnya Menyentuh Hatiku

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

Seorang lelaki setengah baya berhidung mancung berjalan melintasiku. Kulit jari manisnya dihiasi cincin perak bamata hijau ranum. Bajunya rapi dan terlihat bersih. Lelaki itu berjalan mendekati seorang nenek tua yang hendak manyeberangi jalan raya. Aku terharu malihatnya. Pada masa sekarang masih ada orang yang baik hati mambantu orang lain dalam kesusahan. Lelaki itu kembali melintasiku lagi dan kali ini matanya menatapku sekali.

“Assalamu’alaikum”, lelaki setengah baya itu manyapaku.

“Wa’alaikumussalam”, jawabku dengan agak sedikit bingung.

Aku merasa pernah melihat lelaki itu, tetapi aku tidak ingat persisnya di mana. Ia tersenyum kepadaku kala melintasiku. Aku maneruskan perjalananku ke arah pasar. Aku membeli celana panjang dan baju kaos berwarna merah muda. Saat aku bajalan kembai ke rumahku, aku bertemu kembali dengan lelaki tadi. Saat itu kulihat lelaki itu masuk ke dalam masjid di dekat pasar. Ia terus masuk tanpa menoleh ke rah lain sehingga ia tidak melihatku. Langkahku terus kuayunkan ke arah rumah.

Lelah, penat, gerah, dan lapar sangat terasa sekali olehku setelah aku sampai di rumah. Aku masih teringat dengan lelaki setengah baya tadi. Aku penasaran, siapa gerangan lelaki itu karena aku yakin pernah melihat ia sebelumnya. Sore harinya aku diminta ibuku ke warung membeli telur ayam kampung. Jarak warungnya cukup jauh dari rumah tempat tinggalku. Kupilih lima belas butir telur ayam kampung yang baik pesanan ibuku.

“Berapa Pak harga lima belas butir telur ayam kampung ini?” tanyaku sambil menunjuk telur-telur yang sudah kupilih.

“Enam belas ribu rupiah Nak.”

Sengaja tidak kutanyakan harga per butirnya karena saat itu aku sedang malas manghitung harga sebutir telur dikali lima balas butir.

Aku terkejut, saat aku megetahui uang ibuku ternyata tertinggal di atas lamari hiasku. Setiap kali aku hendak bepergian, aku memang tidak pernah lupa berhias terlebih dahulu. Menurutku penampilan itu termasuk urusan yang penting dalam hidup. Sialnya, dompetku pun tidak kubawa. Pikirku, akan terasa lelah sekali jika aku harus kembali pulang ke rumah mangambil uang itu. Terlintas dalam pikiranku untuk berhutang telur kepada pemilik warung.

“Assalamu’alaikum!”

Aku terkejut mendengar suara salam dari arah balakangku. Suara itu sekaligus memecah pikiranku yang sedang bingung. Kulihat di balakangku. Bertambah terkejutlah aku. Pasalnya, lelaki setengah baya yang bertemu denganku tadi siang sudah ada di hadapanku saat ini.

“Wa’ailaikumussalam!” balasku sekenanya.

“Kamu sedang menunggu jemputan ya?” tanyanya dengan nada bercanda.

Aku heran dengan pertanyaan itu. Pertanyaannya mamberi kesan kalau ia mengetahui tentangku dan tentang pekerjaanku.

“Aku tidak sedang menunggu siapa-siapa.”

“Kamu sedang ada masalah saat ini?”

Lelaki itu rupanya senang bertanya, dalam pikiranku. Ia memang telihat seperti orang terpelajar dari penampilannya.

“Ya, aku sedang ada masalah. Uang ibuku dan dompetku tertinggal di rumah dan saat ini aku sedang bingung untuk membayar lima belas telur ayam kampung yang hendak kubeli.

“Barapa harganya?” ia kembali bertanya kepadaku dan kujawab seadanya.

“Pak, ini uangnya.” Lelaki itu berkata sambil menyerahkan uang kepada pemilik warung.

Aku heran mengapa orang ini senang sekali membatu orang lain. Pohon hidup dengan adanya akar, bergitu pula dengan manusia yang berbuat dengan adanya alasan. Saat kukatakan terima kasih dan bertanya kepadanya mengapa ia senang membantu orang lain, ia hanya mengatakan bahwa kita wajib menolong orang yang sedang mengalami kesusahan semampu kita. Kata-katanya pendek , tetapi penuh arti. Aku saat itu hanya mengangguk-anggukan kepalaku sebagai tanda bahwa aku mengerti dengan perkataannya.

“Kamu tenang saja, uang yang kupakai tadi adalah uang yang halal. Wassalamu’alaikum ”, katanya saat ia hendak pergi meninggalkanku.

Aku tidak berkata apa-apa lagi saat itu kepadanya selain ucapan salam. Kulangkahkan kakiku menuju rumah. Aku masih bertanya-tanya sendiri tentang lelaki itu. Dalam pikiranku, siapa gerangan lelaki itu. Ia mengingatkanku dengan ayaku yang telah lama meninggalkan aku dan ibuku untuk dapat hidup bersama dengan wanita lain. Aku sudah lupa wajah ayahku. Saat ayahku menceraikan ibuku, aku masih berusia lima tahun. Semua foto ayahku pun sudah dimusnahkan ibuku. Aku memakluminya karena wanita mana yang tidak sakit hati ditinggalkan lelaki yang sangat dicintainya. Kulupakan soal lelaki itu dan ayahku, pasalnya aku harus menyiapkan pakaianku untuk kupakai nanti malam.

***

Malam harinya aku kembali melangkahkan kedua kakiku di luar rumah. Banyak orang di jalanan. Ada yang bajalan sepertiku, bersepeda, berkendara, dan banyak juga yang bermobil. Kotaku selalu ramai walau hari sudah malam. Malam itu kupakai celana panjang dan baju kaos berwarna merah muda yang kubeli tadi siang. Aku sering berjalan di malam hari. Saat di tengah perjalanan, hujan lebat menyerangku secara bertubi-tubi. Aku langsung lari ke arah warung bakso yang ada di dekatku untuk berteduh. Malam itu udara sangat dingin. Aroma bakso tercium di hidungku. Perutku menjadi lapar karena menciumnya. Ingin sekali aku makan bakso saat itu, tetapi uangku yang masih bertengger di dompetku sisa sedikit setelah aku membeli celana panjang dan baju kaos yang sedang kupakai ini.

“Assalamu’ailaikum!”

Salam dan suara itu sudah akrab di talingaku. Aku tidak terkejut lagi, melainkan aku bingung mengapa lelaki itu terus mengikutiku.

“wa’alaikumussalam!” balasku.

“Ayo makan! Aku taraktir kamu malam ini makan bakso.”, katanya.

Kami makan bakso bersama malam itu. Aku duduk di sampingnya. Udara malam menjadi teman kami saat itu. Lelaki itu banyak bertanya tentangku, mulai dari namaku, tempat tinggalku, hingga pekerjaanku. Saat lelaki itu bertanya soal pekerjaanku, aku terpaksa mendustainya. Aku katakan kepadanya bahwa aku bekerja bersama ibuku berjualan kain di pasar. Aku berdusta karena aku tidak mau mengatakan pekerjaanku yang sebenarnya kepada lelaki itu. Bakso yang kami makan sudah habis. Hujan pun telah reda. Kini saatnya kami harus berpisah.

Aku merasa lelaki itu sengaja mengikuti aku. Aku juga merasa sebenarnya lelaki itu sebenarnya hendak manyadarkan aku dari parbuatan yang selama ini aku perbuat. Selesai dengan pekerjaanku, aku langsung pulang ke rumah. Terasa lelah sekali tubuhku saat aku kembali di rumah. Kurebahkan tubuhku di atas alas kasur kesayangaku yang empuk. Tak terasa, sudah empat jam aku tidur. Tidurku sangat nyenyak. Saat siang hari, aku sendirian di rumah. Ibuku setiap pagi sampai siang hari berjualan kue pisang di perempatan jalan. Perempuan seusiaku sebenarnya masih duduk di bangku sekolah. Akan tetapi, aku malah di rumah. Aku putus sekolah saat aku duduk di bangku kelas dua Sekolah Lanjutan Menengah Pertama. Tidak ada biaya lagi untukku melanjutkan sekolah. Siang hari pekerjaanku memasak di rumah untuk makan kami sekeluarga. Walau hanya aku dan ibuku, kami adalah keluarga yang bahagia. Biasanya kami makan bersama di samping rumah sambil menikmati hembusan angin yang sejuk dari sela-sela pepohonan milik kami.

***

Tidak terasa hari sudah gelap kembali. Aku pun harus mencari uang seperti biasanya. Malam itu malam yang kesekian kali aku bekerja.

“Rat ada orang.”, pak Udin mamberitahukanku.

“Di dalam ya Pak orangnya?” tanyaku kepada pak Udin.

“Ya, masuk saja di kamar 31.”, jawab beliau.

Kumasuki kamar 31. Malam itu terasa berbeda di batinku. Aku terkejut sekali setelah aku tahu orang yang ada di kamar 31 itu lelaki setengah baya yang sering menemuiku.

“Terkejut ya melihatku ada di sini?” tanya lelaki itu kepadaku.

“Ya, aku akui hatiku terkejut.”, jawabku lirih.

“Jangan salah sangka padaku! Aku ada di sini bermodal nekad. Aku sudah tidak tahan melihatmu yang masih sangat muda harus bekerja di tempat-tampat seperti ini.”

“Jadi sebenarnya Bapak sudah tahu tentangku?”

“Ya, benar sekali katamu. Aku sengaja mengikuti dan mencontohkan perbuatan yang baik di hadapanmu agar kamu sadar kalau sebenarnya berbuat baik itu lebih bermanfaat daripada berbuat sebaliknya.”

“Ya, yang Bapak katakan itu benar dan aku salah.”

“Maaf jika kamu beranggapan bahwa aku terlalu cerewet dalam hal ini! Aku ini hanya ingin menyerumu ke jalan kebaikan agar kamu dapat memperoleh kebahagiaan yang sesungguhnya.”

Air mataku langsung mengucur di atas kedua belah pipiku. Lelaki itu tersenyum melihatku. Dalam pikiranku, andai ia adalah ayahku akan kupeluk erat-erat tubuhnya.

“Masih bisakah tobatku diterima-Nya?”

“Mengapa tidak?”

“Senyumku kembali merekah di kedua bibirku.”

***

Setelah malam itu berlalu aku tidak lagi menginjakkan kakiku di tempat-tempat seperti itu. kujalani hidupku dengan normal bersama ibuku yang sangat aku sayangi. Kubuang jauh-jauh kenangan burukku dari kehidupanku. Kini, aku berjualan kue pisang menggantikan ibuku yang sudah mulai tua. Ibuku kuminta untuk istirahat di rumah. Aku meikmati pekerjaanku sekarang. Sewaktu-waktu aku masih teringat dengan lelaki setengah baya yang pernah mampir di kehidupanku itu. Entah siapa sebenarnya lelaki itu.

***

 

 

 

 

Saat Cemburu Membakar Jiwa

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

Pagi itu Hamid berdiam diri dengan mata tertutup. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Kedua kakinya kadang-kadang digerakkannya untuk menghindari keram. Tangan kanannya memegang tasbih, tetapi tidak ia fungsikan. Bibirnya kerap digerakkannya. Sementara ibunya sedang menyiapkan makanan di ruang makan untuk mengganjal perut mereka.

“Mid! Ayo kita makan bersama!” suara nyaring ibu kandungnya yang bernama Maryani dari ruang makan membuat Hamid tersentak kaget.

“Ya, tunggu sebentar Bu! Hamid akan segera ke sana.” balas Hamid dengan suara yang nyaring pula.

Tidak lama Hamid mendatangi ibunya di ruang makan.

“Duduklah! Apa keputusanmu tentang pembicaraan kita tadi malam?”

Hamid terdiam sejenak. Diminumnya sedikit air teh hangat buatan ibunya. Ia pun segera membuka mulutnya untuk bicara.

“Sebenarnya sejak awal saya berniat menuruti kata-kata ibu. Namun, saya berpikir apakah pernikahan ini tidak terlalu cepat. Bagaimana jika diundur satu tahun lagi atau beberapa bulan kemudian. Saya sendiri belum siap menjadi seorang suami. Kuliah saya juga belum selesai Bu.”

“Ibu ingin sekali segera menimang cucu darimu Nak. Kau tahu sendiri kini ibu hanya memiliki satu anak, yaitu kamu. Seandainya kedua kakakmu masih hidup, tentulah ibu tidak memintamu menikah tahun ini.”, ibunya terdiam sejenak untuk menghela nafas.

”Seandainya kecelakan itu tidak terjadi….”, ibunya tidak sanggup meneruskan kata-kata beliau dan air mata pun segera bergulir di kedua pipi tua beliau.

“Maafkan Hamid Bu! Sungguh, Hamid tidak bermaksud membuat ibu sedih pagi ini.Ya, ya Bu, Hamid akan menuruti kata-kata Ibu. Hamid mau menikah tahun ini.”

”Benarkah kata-katamu itu Nak? Ibu tidak sedang bermimpi ’kan?”, senyum pun segera merekah di bibir ibunya setelah mendengar perkataan Hamid.

***

Siangnya mereka mendatangi sebuah rumah di pinggir sungai yang terletak jauh dari tengah kota. Rumah itu adalah milik pak Musa. Sudah dua tahun silam pak Musa dan almarhum ayah kadung Hamid ingin menikahkan anak mereka. Pak Musa adalah teman akrab ayah kandung Hamid sejak kecil. Dahulu yang ingin mereka nikahkan adalah almarhum Sofyan dengan Latifah. Karena kedua kakak kandung Hamid telah meninggal dunia dan Latifah belum juga menikah, pak Musa dan ibu kandung Hamid ingin menikahkan Hamid dengan Latifah.

“Assalamu’alaikum!” sapa Hamid di depan pintu pak Musa.

Tidak ada jawaban dari siapa pun di dalam rumah itu. Sempat mereka mengira tidak ada orang di rumah pak Musa. Salam kedua pun dilontarkan Hamid. Kali ini ada jawaban dari pak Musa di dalam rumah.

“Wa’alaikumussalam!” sahut pak Musa yang saat itu sedang menenteng gitar buatan beliau.

“Apa kabar Pak?” tanya bu Maryani.

“Wah! Untunglah kalian datang. Kabarku sekeluarga baik. Ayo masuk!”

“Mana Latifah Kak?”

“Latifah sedang ada di rumah temannya. Mungkin sebentar lagi ia akan kembali. Tunggu sebentar ya! Aku ke belakang sebentar.”

Hamid jarang sekali bertemu dengan Latifah. Ia pernah dua kali bertemu dengan Latifah, tetapi Hamid sudah agak lupa dengan wajah calon istrinya itu.

”Syukurlah ada fotonya di dinding.” ucap Hamid dalam hati.

Dipandanginya foto Latifah di ruang tamu rumah pak Hamid dengan wajah yang bahagia.

“Ya Allah, inikah wajah jodohku dari-Mu. Aku terima segala keputusan-Mu. Seandainya ia memang jodoh untukku, jadikanlah ia penyejuk hatiku dan penyemangatku dalam beribadah kepada-Mu.” ucap Hamid lagi dalam hatinya.

“Mid, ayo diminum!” ajakan pak Hamid membuat Hamid kaget.

“Astaghfirullah! Ya Pak, terima kasih.” jawab Hamid sambil berjalan menuju tempat duduknya.

Sekitar setengah jam mereka berbincang-bincang di sana.

***

“Assalamu’alaikum!” sapa seorang gadis muda kepada mereka yang sedang asyik tertawa kecil.

“Wa’alaikumussalam!” jawab mereka.

Jantung Hamid berdetak dengan kencang. Latifah membuatnya salah tingkah. Maklum Hamid jarang bergaul dengan gadis-gadis selama ini di sekitarnya. Saat Latifah menatap wajahnya, Hamid segera menundukkan kepalnya karena malu. Keringat dingin pun keluar membasahi dahi dan lehernya.

“Fah, ini Hamid. Kamu masih ingat ‘kan?” kata bu Maryani.

“Ya Bu, Latifah masih ingat.”, jawab Latifah dengan malu-malu.

“Bagaimana Nak Hamid, anakku cantik ‘kan?”

Sambil tersenyum Hamid pun menganggukkan kepalanya. Tidak dapat ia luncurkan kata-kata dari mulutnya.

“Latifah, kamu setuju ‘kan dengan rencana pernikahan ini?” bu Maryani bertanya kepada calon menantunya untuk mencari kepastian.

Latifah hanya tersenyum sebagai tanda bahwa ia setuju.

Jadwal pernikahan pun segera mereka susun. Jika tidak ada aral melintang, dua minggu lagi Hamid dan Latifah menikah.

***

“Permisi! Permisi!” terdengar suara lantang dari luar rumah pak Musa sehari setelah Hamid dan ibunya datang di sana.

“Kamu lagi! Belum puas juga dengan penjelasan saya tempo hari? Sadarlah bahwa anakku tidak ada perasaan apa-apa padamu!”

“Bapak yang seharusnya sadar bahwa anak Bapak memiliki hak untuk memilih pasangannya sendiri! Bukannya dijodoh-jodohkan. Memangnya Bapak adalah Tuhan yang berhak menentukan jodoh seseorang? Berikan saya kesempatan untuk membuat anak Bapak memilih saya sebagai suaminya!”

“Hai anak muda! Dua minggu lagi anakku akan menikah dengan pria baik yang menyayangi anakku.”

“Baik, jika itu kemauan Bapak. Saya akan membuat Bapak menyesal selamanya. Permisi!”

Pemuda itu segera meninggalkan rumah pak Musa dengan raut wajah yang kusam.

Tiga hari yang lalu pemuda itu juga bertamu di rumah pak Musa. Namanya Karim. Ia pemuda yang jatuh hati kepada Latifah. Pekerjaannya sebagai pengelola tempat hiburan malam. Pak Musa sangat keberatan jika beliau memiliki menantu seorang yang bergelut di bidang hiburan yang tidak disukai oleh sebagian besar masyarakat. Awalnya Karim datang baik-baik untuk melamar Latifah. Namun setelah lamarannya ditolak, ia pun berani melontarkan kata-kata yang tidak pantas kepada pak Musa.

***

Hari pernikahan yang ditunggu akhirnya tiba juga. Hamid memakai pakaian adat pernikahan di daerahnya. Latifah juga memakai pakaian adat dengan ditambah kerudung. Wajah mereka terlihat sangat bahagia.

“Kamu cantik sekali Latifah. Hamid sudah menunggumu.”, kata pak Musa diiringi senyum beliau.

”Latifah gugup Pak. Jantung Latifah dari tadi berdetak dengan kencang.”

”Itu hal yang wajar. Kamu tidak usah mempermasalahkannya. Almarhumah ibumu dahulu juga gugup saat hendak Bapak nikahi.”

Latifah dan Hamid kini duduk bersanding. Akad nikah pun akan segera dilaksanakan.

Tiba-tiba terdengar suara Karim dengan lantang.

”Hentikan acara pernikahan ini! Sampai kapan pun saya tidak akan mau menyetujuinya!”

”Apa hubunganya pernikahan ini dengan persetujuanmu? Memangnya kamu siapa berani mengatakan hal seperti itu? Pergi dari sini sebelum aku memanggil polisi untuk menangkapmu!” kata pak Musa dengan sangat ketus.

”Dooor!” suara letusan pistol Karim membuat orang-orang berhamburan keluar dari rumah pak Musa.

”Hentikan pernikahan ini atau pistol ini akan melukai banyak orang di sini!” Karim kembali mengingatkan orang-orang di rumah pak Musa dengan nada marah.

”Karim! Kamu yang seharusnya menghentikan tindakan tercelamu ini! Sadarlah bahwa kita tidak cocok. Aku pun tidak pernah mencintaimu.” Latifah angkat bicara.

”Dengar itu baik-baik!” kata pak Musa.

”Diam! Diam! Jangan menceramahi saya lagi! Latifah ayo ikut aku!”

”Tidak ada yang boleh membawa Latifah selain diriku. Kamu sebaiknya jangan bertindak seperti kanak-kanak!” Hamid yang sejak tadi diam kini ikut bicara.

Tidak ada suara keluar dari mulut Karim setelah ia mendengar kata-kata Hamid. Mulut Karim terkunci oleh api cemburu yang sangat besar. Tangan kanannya dia arahkan ke tubuh Hamid. Seketika itu pula tubuh Hamid roboh bersimbah darah. Peluru Karim berhasil menembus tubuh Hamid.

”Tidak…!” teriak bu Maryani.

Rupanya Karim belum puas menembuskan satu peluru di tubuh saingannya itu. Latifah yang melihat Hamid ingin menembakkan pelurunya yang kedua kalinya ke tubuh calon suaminya itu langsung menjadikan dirinya perisai. Tidak pelak lagi, Latifah pun roboh.

”Apa yang sudah aku lakukan. Latifah, Latifah, maafkan aku!” ucap Karim dalam hati kecilnya.

Karim pun segera melarikan diri. Tidak ada satu pun warga yang berhasil menangkapnya. Ia berhasil lolos dengan pistol di tangannya. Polisi segera mengadakan pencarian. Setelah beberapa hari buron, akhirnya Karim berhasil dibekuk pihak aparat.

***

”Hai anak muda! Apa kesalahanmu sehingga saat ini kamu ada di sini?” tanya seorang napi tua di ruang tahanan Karim berada.

”Aku telah menembak dua orang.” jawab Karim singkat.

”Keduanya tewas?”

”Mereka tidak tewas, tetapi saat ini masih belum sadarkan diri.”

”Apa alasanmu menembak keduanya? Kamu masih muda dan tidak selayaknya kamu berada di sini. Kamu seharusnya membangun negara ini dan bukannya meringkuk di sini”

”Saya melakukannya karena rasa cemburu yang besar.”

”Ha ha ha ha…ha! Hai anak muda! Kamu jangan biarkan dirimu dikuasai hawa nafsu jelekmu! Cemburu seharusnya kamu buang jauh-jauh! Jika kamu mencintai seorang wanita tentulah kamu memiliki kepercayaan kepadanya. Untuk apa ada cemburu? Kecuali kamu tidak memiliki kepercayaan kepadanya dan itu berarti kamu belum mencintainya dengan sepenuh hati.”

Karim benar-benar tidak bisa membantah kata-kata orang tua di hadapannya. Karim baru sadar bahwa selama ini dia belum mencintai Latifah sepenuh hati. Dia sadar selama ini hanya ketertarikanlah yang melekat di hatinya kepada Latifah.

***

Empat hari sudah berlalu setelah insiden berdarah itu terjadi. Hamid dan Latifah masih dalam kondisi lemah. Mereka belum dapat berdiri. Darah mereka banyak keluar saat terjadi penembakan tempo hari lalu. Syukurlah ada beberapa kantong darah yang cocok dengan golongan darah mereka.

”Kak Hamid! Bagaimana jika kita melangsungkan nikah di rumah sakit saja?” tanya Latifah yang di rawat di samping Hamid.

”Tentu aku setuju dengan usulmu itu Latifah. Nanti insya Allah aku akan sampaikan rencana ini kepada keluarga kita.”

Pak Musa dan ibu Maryani datang menjeguk mereka untuk yang ke sekian kalinya. Kali ini mereka berdua bahagia karena mendengar Hamid menyampaikan rencana pernikahannya dengan Latifah di rumah sakit sesegera mungkin.

”Wah! Itu usul yang bagus sekali Mid, Fah.” seru pak Musa.

”Besok kami usahakan kalian menikah di sini.” sahut bu Maryani.

Mereka melangsungkan pernikahan sangat sederhana di rumah sakit. Mereka duduk berdua di majelis nikah jauh dari kesan mewah. Meskipun demikian, kebahagiaan terpancar dari wajah mereka. Kini mereka telah menjadi pasangan suami istri dan mulai menapaki bahtera rumah tangga.

 

 


 

 

Sepupuku Murjani

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

Aku terdiam sejenak mendengar perkataan Murjani,

“Rasyid, maafkan aku! Aku sadar bahwa aku salah kepadamu. Dahulu, saat aku masih muda dan kaya aku sangat sombong dan tega kepadamu sekeluarga. Kini, aku sudah tua dan miskin. Sebagian besar hartaku telah disita oleh pihak bank karena aku tidak sanggup membayar hutang-hutangku kepada mereka. Istriku dan anak-anakku telah pergi meninggalkanku sendiri.”

Aku masih ingat bagaimana perlakuannya dulu kepadaku sekeluarga. Saat aku masih menjadi anak buahnya di perusahaan warisan orang tuanya dulu, ia sangat tega tidak mengizinkanku pulang untuk sekadar menjenguk istriku yang sedang sakit muntaber.

“Ah! Isrtimu hanya sakit sedikit saja kamu sudah ingin pulang meninggalkan pekerjaanmu hari ini! Aku tahu saat ini kamu hanya menjadikan sakit istrimu sebagai alasan dari kemalasanmu bekerja. Aku tidak akan mengizinkanmu pulang, kecuali istrimu itu sekarat di rumah sakit. ”, katanya pedas waktu dulu kepadaku.

Begitu pula saat kami sekeluarga ingin meminjam uang kepadanya sekadar untuk membeli beras dan lauk-pauk ia berkata,

“Tempatku bukanlah bank yang dapat kalian datangi untuk meminjam uang. Dahulu aku pernah meminjami kalian uang, tetapi sampai detik ini kalian belum melunasi bunganya seratus persen kepadaku. Kini, kalian ingin meminjam uang lagi kepadaku. Tidak! Aku tidak akan memberikan kalian pinjaman uang. Sebaiknya kalian lekas tinggalkan tempatku ini sebelum aku mengusir kalian dengan paksa!”

Dua tahun berikutnya saat istriku melahirkan anak kedua kami, aku terpaksa tidak masuk kerja. Dia saat itu memberiku izin hanya dua hari. Karena keadaan istriku yang masih lemah dan membutuhkanku di sisinya, aku terpaksa tidak dapat masuk kerja sebagaimana mestinya selama dua hari di luar izin yang diberikannya kepadaku. Dia datang ke rumahku ditemani dua tukang pukulnya yang gagah dan berotot besar. Kukira ia ingin melihat anakku yang baru lahir, tetapi dugaanku salah besar. Ia berkata,

“Kamu sudah melanggar aturan di perusahaanku. Kuberi kamu izin dua hari tidak masuk kerja untuk menjaga istrimu, tetapi kamu malah membolos selama dua hari setalah izin menemani isrtrimu habis. Karena itulah, aku datang kemari memberitahukanmu bahwa mulai hari ini kamu tidak perlu lagi datang di perusahaanku.”

***

Kini, dia menatapku dengan pandangan sayu. Rambutnya telah memutih. Kulit mukanya sudah berkeriput. Tubuhnya pun kurus, tidak gemuk seperti dulu.

“Murjani, masih ingatkah kamu saat istriku sakit muntaber dulu? Aku meminta izin kepadamu untuk menemaninya di rumah, tetapi kamu tidak mengizinkanku pulang. Saat itu aku sangat sedih. Padahal sebagai seorang pemimpin termasuk pemimpin perusahaan seperti dirimu, seharusnya kamu peduli terhadap kesejahteraan anak buahmu. Akan tetapi, kamu malah berlaku sebaliknya.”, kataku kepadanya.

“Masih ingatkah kamu saat aku sekeluarga meminjam uang kepadamu sekadar untuk membeli beras dan lauk-pauk? Saat itu kami benar-benar tidak punya uang. Kami kelaparan saat itu. Namun, kamu dengan tega tidak memberikan uang pinjaman kepada kami. Padahal saat itu kami tidak meminta, tetapi hanya meminjam uang kepadamu. Ingatlah bahwa kita haruslah saling menolong di jalan kebaikan. Ingatlah pula bahwa di antara harta kita terdapat hak orang miskin. Aku masih ingat benar saat itu kamu mengatakan bahwa kami belum membayar bunga hutang seratus persen atas pinjaman kami sebelumnya kepadamu. Apa saat itu kamu lupa bahwa bunga dalam setiap hutang-piutang itu hukumnya haram dalam agama kita? Terlebih lagi kamu mematok bunga yang besar kepada orang miskin seperti kami dulu.”, kataku lagi kepadanya.

“Hal yang sampai hari ini masih membayang di dalam kepalaku adalah saat kamu datang di rumahku untuk memberiku kabar bahwa aku tidak perlu lagi datang ke perusahaanmu. Sungguh, kamu tega Murjani memutus hubungan kerja denganku. Padahal kamu tahu bahwa aku menggantungkan hidupku sekeluarga pada pekerjaan di perusahaanmu itu.”, lanjutku.

***

Kulihat matanya berair dan kemudian pipinya basah terkena air mata penyesalannya dan rasa bersalahnya itu.

“Maafkan aku Rasyid. Sungguh kini aku telah menyesal berbuat seperti itu kepadamu sekeluarga. Aku sadar bahwa aku dahulu sombong dan kejam terhadap orang-orang disekitarku, termasuk dirimu sekeluarga. Sekali agi aku meminta maaf darimu, maafkan aku Rasyid!” pintanya kepadaku.

Semula aku tidak ingin memaafkannya karena bagiku kesalahannya sangatlah besar kepadaku. Akan tetapi, tiba-tiba aku teringat bahwa Allah Maha Pengampun. Sungguh tidak pantas aku sebagai makhluk-Nya tidak berjiwa pemaaf. Kutatap wajah Murjani yang sebenarnya tidak lain adalah sepupuku sendiri itu dengan perasaan iba. Wajahnya penuh rasa penyesalan dan rasa bersalah kepadaku. Tidak ada lagi semangat yang terpancar dari wajahnya seperti dulu. Aku segera mengatakan,

“Sudahlah! Kamu tidak perlu meminta maaf lagi kepadaku! Aku sudah memaafkanmu atas segala kesalahamu waktu dulu itu. Kini, kita sama-sama sudah tua dan tidak sekuat dulu. Usahamu pun sudah gulung tikar. Aku turut perihatin atas nasib yang kamu alami sekarang. Akan tetapi, aku juga turut bahagia kamu sudah mendapatkan petunjuk dari Allah untuk segera bertobat dan menginsafi kesalahan-kesalahnmu pada masa lalu.”

Ia kemudian mendekatkan dirinya dan menjabat erat kedua tanganku, serta berkata,

“Alhamdulillah dan terima kasih banyak Rasyid. Aku sangat menghargai pemberian maafmu kepadaku hari ini. Kini hatiku lapang telah mendapatkan maaf darimu.”

Segera ia memelukku dengan erat. Dia menangis dan air matanya membasahi bahuku.

“Ya Allah, begitu besar kekuasaan-Mu telah menyadakan hamba-Mu dari kesombongan, kekejaman, dan perbuatan buruk lainnya yang telah Murjani lakukan pada masa lalu” kataku dalam hati.

***

 

 

Hadi dan Mursidah

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

=====Namaku adalah Misran Yahadi. Aku biasa dipanggil oleh orang-orang yang mengenalku dengan nama Hadi. Usiaku sudah lebih dua puluh enam tahun. Tiga bulan yang lalu aku menikahi seorang wanita bernama Mursidah. Dia seorang wanita yang baik hati. Aku menikahinya bukan hanya karena parasnya yang manis, tetapi juga ia seoarang wanita solehah yang membuat hatiku merasa tentram bersamanya. Pertama kali aku mengenalnya saat aku menghadiri pesta pernikahan temanku di kota lain yang cukup jauh dari kotaku. Saat itu dia mendapat tugas memberikan pelayanan kepada para tamu undangan yang hendak makan di pesta itu. Aku termasuk salah satu tamu yang mendapat pelayanannya.

=====“Hei jangan terlalu mamandangi wanita, nanti kamu jadi tidak bisa tidur!” kata temanku.

=====“Ah siapa yang memandangi wanita?” kilahku padanya.

=====“Dia memang manis, tetapi jika dipandangi terus bisa hilang nanti manisnya!” temanku itu kembali menggodaku.

=====“Terserah kamu sajalah, yang penting aku tertarik padanya.”, kataku pada temanku itu. “Aku berencana mangajaknya nikah.”, tambahku.

=====“Kamu serius dengan kata-katamu itu?” tanyanya.

=====“Tentu aku serius!” jawabku ketus.

=====Sejak pertemuan itu, aku mencoba mencari tahu siapa gadis idamanku tersebut hingga akhirnya kami menikah. Kami saling mencintai dan membutuhkan dalam hidup berumah tangga.

Setelah satu bulan menikah, kami berencana belajar hidup mandiri dengan tinggal berdua di rumah sewaan. Kami tidak ingin terus-menerus tinggal di rumah orang tua. Setelah kami mencari rumah sewaan keliling di kotaku, akhirnya kami menemukan satu rumah sewaan yang masih kosong. Pemilik rumah sewaan itu bernama Haji Marwan. Beliau menetapkan harga sewa rumah yang kami tinggali itu per bulannya 250 ribu rupiah.

=====“Tolong kalian anggap rumah ini sebagai rumah kalian sendiri ya!”, kata Haji Marwan saat menyerahkan kunci rumah yang akan kami tinggali itu.

=====“Insya Allah akan kami anggap seperti keinginan Bapak”, sahutku kepada pak Marwan.

Rumah yang kami diami itu sangat nyaman. Aku dan istriku sangat senang tinggal di rumah tersebut. Kami hidup dengan rukun di sana.

=====Kini aku tinggal bersama orang tuaku. Sudah dua hari aku tidak bersama istriku. Kesendirianku bukan karena kami bertengkar. Dua hari yang lalu tejadi kebakaran besar di area rumah sewaan kami. Saat peristiwa itu terjadi aku sedang berada di kantor. Aku tidak sempat menemani istriku di sana. Sungguh aku menyesal dengan diriku sendiri. Seharusnya aku tidak pergi ke kantor hari itu. Kasihan istriku sendirian menghadapi kobaran api di tempat itu. Setelah aku sampai di tempat kejadian, orang-orang termasuk istriku sudah mengungsi ke berbagai tempat yang aman. Aku datang terlambat karena telepon selularku tertinggal di rumah sewaan dan kutemukan teleponku sudah hangus terbakar bersama barang-barang kami lainnya. Istriku yang belum mengenal daerah di kotaku kemungkinan tidak dapat menuju rumah orang tuaku. Saat ini aku sangat bingung dengan keberadaan istriku.

***

=====Aku adalah istri kak Hadi. Saat ini aku sedang mengalami penurunan mental secara drastis. Aku belum pernah berada sedekat itu dengan kobaran api yang besar saat kejadian dua hari yang lalu. Barang-barang kami habis terbakar. Aku hanya dapat membawa diriku dan pakaian yang sedang kupakai. Saat kebakaran terjadi aku seperti kehilangan akal sehatku. Aku sangat panik dengan keadaan di sana. Saat itu aku sangat bingung harus berbuat apa. Untunglah tetangga-tetanggaku mengajakku mengungsi ke tempat yang aman. Aku yang saat itu sangat takut, hanya bisa menuruti kemamauan mereka hingga sampai di tempat ini. Kini aku tinggal di rumah bibi Rahimah. Beliau sangat baik kepadaku.

=====Bibi Rahimah merupakan adik bibi Salamah yang tinggal bersebelahan dengan rumah sewaan kami dulu. Aku saat ini sangat merindukan suamiku.

=====“Ya Allah, kapan cobaan ini berlalu dan aku dapat hidup bahagia seperti dahulu?” keluhku sebagai hamba yang lemah.

Aku kadang-kadang manangis sendiri di kamar. Dua hari ini aku lebih sering menyendiri karena aku ingin menenangkan diriku dulu. Besok aku berencana mancari suamiku.

=====“Sabar ya Dah!” bibi Rahimah membangunkanku dari lamunanku.

=====“Saat ini saya sedang sedih dan bingung sekali Bi.”, kataku kepada beliau.

=====“Sudahlah, kamu jangan terus larut dalam kesedihan!” pintanya kepadaku. “Bagaimana jika besok kita mencari suamimu?” tanya beliau.

=====“Sungguh Bi? Saya memang ingin mencari suami saya besok.”, kataku dengan bersemangat.

=====“Untuk apa aku membohongimu? Aku sungguh ingin menemanimu besok mencari suamimu.” beliau meyakinkanku.

Hatiku sedikit lega dan pikiranku mulai jernih kembali. Bibi Rahimah berhasil mengembalikan jiwaku yang sebelumnya sangat lemah untuk meneruskan perjalanan hidup ini. Aku jadi tidak sabar untuk menunggu datangnya hari esok.

***

=====Pukul delapan pagi bibi Rahimah dan bibi Salamah menemani Mursidah mencari suaminya.

=====“Dah, kamu masih ingat ‘kan dengan alamat rumah mertuamu?” tanya bibi Salamah kepada Mursidah.

=====“Alamatnya di jalan Hiu Tutul nomor sembilan.”, jawab Mursidah.

=====“Rumah mertuamu itu berjarak sebelas kilometer dari sini.”, kata bibi Rahimah.

=====“Kita naik apa Bi ke sana?” tanya Mursidah kepada bibi Rahimah.

=====“Naik mobil pak Muhibul saja”

Ketiganya berangkat dengan menaiki mobil milik pak Muhibul. Mursidah sangat bahagia karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan suaminya yang sangat dicintainya.

=====Sementara itu, Hadi masih mengadakan pencarian. Bahkan Hadi sudah memasang iklan keluarga di surat kabar harian berisi pencarian orang hilang, yakni istrinya. Hadi sangat terpukul dengan kejadian itu. Karena kejadian itu, ia harus kehilangan istri tercintanya. Sejak dua hari yang lalu Hadi jarang makan dan sering tidur larut malam. Keadaan jiwanya sungguh sangat gelisah.

=====“Hadi, janganlah kamu mondar-mandir seperti itu!” perintah ayahnya. “Duduklah di sini dan kita susun rencana kembali untuk mencari istrimu itu! tambah ayahnya lagi.

=====“Saya sungguh tidak tenang Yah. Sudah ke sana ke mari saya mencarinya, tetapi tidak ada hasilnya.”, kata Hadi.

=====“Sabarlah dulu Nak! Allah sedang mengujimu saat ini.”, ibunya ikut menenangkan Hadi.

Hadi saat itu memang sangat bingung dengan keberadaan istrinya. Hari itu ia putuskan untuk menyebarkan kembali foto istrinya kepada orang-orang untuk dapat menemukan belahan jiwanya itu.

Di tengah perjalanan mobil pak Muhibul yang ditumpangi Mursidah mengalami kerusakan mesin sehingga mereka tertahan di sana beberapa jam lamanya. Baru setelah pukul sebelas siang mereka meneruskan perjalanan kembali. Hati Mursidah kembali berbunga-bunga setelah sempat gelisah karena mesin mobil yang ditumpanginya rusak.

=====“Kita hampir sampai di Jalan Hiu Tutul Dah.”, bibi Rahimah memberitahukan Mursidah.

=====“Iya Bi, aku sudah kenal jalan ini.” sahut Mursidah.

=====“Belok kanan ya Pak!” pinta Mursidah kepada pak Muhibul.

=====“Rumah mertuamu ternyata bagus Dah.”, kata bibi Salamah.

Hati Mursidah sangat bahagia karena ia sudah berada di depan rumah mertuanya. Ia berharap dapat segera bertemu dengan belahan jiwanya. Rumah mertuanya terlihat sepi. Maklum Hadi dan sebagian orang rumah pergi mencari Mursidah. Di rumah saat itu hanya ada ibu mertuanya dan adik Hadi yang sedang memasak di dapur sambil menunggu kabar Mursidah.

=====Mursidah segera mengetuk pintu depan rumah mertuanya. Adik iparnya segera membukakan pintu dan menyambut Mursidah dengan suka cita. Ibu mertuanya dari dalam segera memeluk Mursidah dengan bahagia. Tidak lama kemudian peristiwa yang sangat mengaharukan terjadi. Hadi dan Mursidah saling menatap mata dan keduanya sangat bahagia. Hadi yang sempat berpikir tidak akan bertemu lagi dengan istrinya, kini ia benar-benar menyaksikan kekuasaan Allah yakni dipertemukan-Nya ia kembali dengan istri tercintanya. Saat itu semua yang ada di sana diliputi rasa bahagia dan haru. Senyum-senyum kegembiraan terlihat di bibir mereka.

***

Sajadah
Cerpen Mahmud Jauhari Ali
=====Tanganku masih terasa penat akibat mencuci sejumlah pakaian dan beberapa peralatan salatku dan orang tuaku. Setelah kucuci di sungai, aku pun menjemur cucian yang sudah bersih di belakang rumah kami. Untunglah hari ini cuacanya cerah.
=====“Lin, mana sajadahmu?” pertanyaan kak Rudi membuat jatungku tersentak kaget.
=====“Sajadahku tidak ada?” Kakak jangan bercanda!”
=====“Kalau kamu tidak percaya, lihat saja sendiri di jemuran!”
=====“Astaghfirullah! Kak Rudi benar. Karena tergesa-gesa, aku lupa kalau sajadahku tidak ikut kucuci.”, ucapku dalam hati.
=====“Mungkin sajadahmu larut di sungai.”, kata ibu dari dalam rumah yang melihatku di jendela rumah kami.
Segera kuberlari ke arah sungai tempatku mencuci tadi pagi. Kudapati tiga orang lelaki yang sedang memancing di sana.
=====“Cari apa Dik?” tanya salah seorang dari mereka kepadaku.
=====“Saya sedang cari sajadah saya yang kemungkinan terjatuh di sungai saat saya mencuci di sini.”
=====“Wah! Mungkin sudah jauh terseret arus sungai Dik sajadahmu itu”, kata pemancing lainnya kepadaku.
=====“Ikhlaskan saja Nak sajadahmu itu!” pemancaing lainnya yang terlihat lebih tua daripada yang lain ikut mengeluarkan pendapatnya kepadaku.
Ketelusuri sungai itu hingga aku menyerah dan mengikhlaskan hilangnya sajadahku. Dalam hati aku berucap, “Siapa pun yang menemukan sajadahku, kurelakan ia memilikinya.”
***
=====Hari ini aku terpaksa salat dengan alas kain putih lusuh yang terbentang di lantai dalam musala tempat aku biasa salat. Besok aku berencana membeli sajadah baru di pasar.
=====“Kak Rudi, boleh ‘kan Lina besok meminjam sepeda motor kakak ke pasar untuk beli sajadah?” tanyaku dengan nada sedikit memelas.
=====“Boleh, tetapi siang saja karena besok pagi kak Rudi akan mengantarkan baju-baju ini ke desa sebelah.”, ucap kak Rudi sambil menunjuk ke tumpukan baju kaos yang sudah disusunnya rapi.
=====“Terima kasih banyak Kak”, ucapku dengan hati yang bahagia.
Aku pun mulai merebahkan diriku yang lelah di atas kasurku dan berharap semoga besok hariku lebih baik daripada hari ini.
***
Cuaca siang ini secerah kemarin. Aku melaju cukup kencang dengan sepeda motor kak Rudi menuju pasar. Jarak pasar yang kutuju dengan rumah kami cukup jauh.
=====“Boleh Dik sajadahnya!” seorang penjual manawarkan sajadah dengan bermacam corak kepadaku.
=====“Berapa harga sajadah yang ini Bu?”, tanyaku.
=====“Kalau yang itu harganya lima puluh ribu.”
=====“Dua puluh lima ribu saja ya Bu!”
=====“Harga pasnya tiga puluh ribu Dik”
Aku pun setuju dengan harganya. Sudah pukul setengah tiga sore, aku pun langsung pulang. Kali ini aku tidak melaju seperti saat aku berangkat tadi karena harinya sudah tidak terlalu panas lagi.
***
=====Dalam perjalanan pulang aku melihat ada sajadahku di jemuran orang lain. Aku berhenti dan menghampiri si pemilik rumah.
=====“Assalamu’alaikum!” sapaku nyaring kepada si pemilik rumah.
=====“Wa’alaikumussalam!” sahut seorang perempuan tua dari dalam rumah
=====“Ada apa Nak? Kamu ingin beli minyak tanah milikku ya?”
Hatiku takjub melihat ada perempuan tua masih berusaha mencari nafkah tanpa meminta-minta. Tadi di pasar aku melihat seorang perempuan muda yang masih kuat, tetapi kerjanya hanya meminta-minta.
=====“Maaf Nek! Saya hanya ingin menanyakan apakah sajadah di jemuran itu milik Nenek?” tanyaku untuk membuka pembicaraan kami.
=====“Bukan, sajadah itu kutemukan di bebatuan sungai tempaku mengambil air wudu. Aku berencana akan meminta orang-orang masjid di dekat pasar untuk memberitahukan bahwa telah ditemukan sebuah sajadah tanpa pemilik. Aku tidak ingin mengambil sesuatu yang bukan hakku.”
=====“Nek, sajadah itu semula milik saya. Tanpa sengaja saya telah menjatuhkannya di sungai dan terbawa arus hingga tersangkut di bebatuan tempat Nenek mengambil air wudu. Di bagian belakannya tertulis dua huruf Arab, yakni lam dan mim. Lam merupakan singkatan dari Lina dan mim singkatan Maisyarah. Namaku Lina Maisyarah Nek. Ini Kartu Tanda Penduduk saya, tertera nama dan foto saya di sini.”
=====“Kamu berkata jujur Nak. Ambillah sajadahmu kembali dan tunaikanlah salat tepat pada waktunya di atas sajadah itu!”
=====“Saya sudah mengikhlaskan sajadah itu kepada siapa pun yang menemukaannya. Jadi, sajadah itu sekarang milik Nenek.”
=====Kulihat wajah nenek itu menjadi ceria setelah mendengar kata-kataku. Baru kali ini aku membuat orang lain bahagia dengan memberikan barang yang aku sayangi. Sebelumnya aku hanya memberikan barang-barang yang tidak bernilai bagiku kepada orang lain.
***

Menanti Tamu Lebaran

Cerpen Mahmud Jauhari Ali


“Coba kamu lihat kakekmu dari tadi duduk di ruang tamu! Ajaklah kakekmu Sayang makan kue bersama kita di sini!” perintah bu Hari kepada Erni dengan lembut.

“Baik Nek.”, Erni pun mengiyakan perintah neneknya itu.

Didekatinya seorang lelaki tua yang sedang memandangi pintu pagar rumah mereka.

“Kek! Ayo kita makan kue bersama dengan nenek!” pinta Erni kepada Kakek dengan ramah.

“Ayo! Siapa takut?” tantang kakeknya dengan bercanda dan mereka pun menuju ke arah bu Hari yang sedang makan kue buatan beliau sendiri.

“Sini Kek kita makan kue bersama!” kata bu Hari kepada suami tercintanya itu.

Kakek Erni itu pun makan bersama istri dan cucu beliau. Mereka terlihat sangat akrab di hari kemenangan yang suci tahun ini. Sesekali bu Hari membuat Erni tertawa karena cerita beliau yang lucu. Kakek Erni pun ikut tertawa kecil melihat cucu beliau yang bahagia mendengarkan cerita dari bibir istri beliau yang berparas cantik itu.

***

Kakek Erni biasa disapa dengan pak Bakran oleh masyarakat di sekitar rumah mereka. Nama lengkap beliau cukup panjang, yakni Muhammad Bakran Husaini Shaleh. Beliau dahulu menjabat sebagai camat dan kini beliau sudah pensiun. Sejak pulang dari masjid melaksanakan salat Idul Fitri dan bermaaf-maafan dengan jamaah lainnya di sana, beliau duduk sendiri di ruang tamu rumah beliau.

“Ada apa dengan lebaran tahun ini? Lebaran yang sedang kuhadapi kali ini sungguh membuat hatiku sedih. Mereka belum juga ada yang menyambangi rumahku ini. Sudah terasa panas pantatku menunggu mereka.”, pak Bakran berkata dalam hati beliau dengan raut muka yang sedih.

Dahulu saat beliau masih menjabat sebagai camat, banyak bawahan beliau yang bertamu dan dan meminta maaf di ruang tamu rumah beliau. Seakan hanya bawahan beliau yang mempunyai kesalahan kepada beliau. Entah apa niat mereka itu sebenarnya juga tidak pernah dipikirkan oleh pak Bakran. Pemandangan ini sering terjadi di negara kita. Tidak sedikit bawahan dari pejabat di sebuah instansi yang mendatangi pejabat mereka saat hari lebaran. Namun, jarang sekali atau hampir tidak ada pejabat yang menyambangi rumah bawahannya saat hari kemenangan yang fitri itu tiba.

Beberapa tahun sebelumnya memang secara berturut-turut lebih kurang setengah jam setelah salat Idul Fitri sudah ada bawahan beliau yang datang di rumah beliau. Mereka biasaya datang dengan membawa bingkisan dengan beragam isi. Pak Bakran selalu menerima bingkisan mereka tanpa berprasangka buruk terhadap hal itu. Akan tetapi, hari ini berbeda daripada tahun-tahun sebelumnya. Sudah dua jam beliau menanti kedatangan mantan bawahan-bawahan beliau, tetapi belum ada juga mereka datang menyambangi rumah beliau.

“Pak Udin, pak Dayat, bu Mira, ada di mana kalian saat ini? Aku mengharapkan kehadiran kalian di sini. Apa kalian sudah melupakanku? Aku memang sudah pensiun dan bukan siapa-siapa lagi bagi kalian…. Astagfirullah! Ya Allah ampuni aku yang sudah berprasangka buruk kepada meraka!” ucap pak Bakran dalam hati beliau yang sedang sedih dan kecewa.

“Kek, mengapa melamun?” tanya istri beliau. “Pada hari kemenangan yang bahagia ini sebaiknya kakek jangan melamun!” tambah istri beliau.

Belum lagi pak Bakran bicara, Erni bertanya,

“Kakek tadi melamunkan apa?”

“Ah kakek tidak melamun. Tadi kakek hanya berpikir, mengapa lebaran kali ini belum ada satu pun mantan anak buah kakek datang bertamu di rumah kita….”, jawab pak Bakran kepada istri dan cucu beliau.

“Mungkin mereka sedang sakit perut Kek.”, kata Erni sambil tertawa kecil.

“Kata Erni ada benarnya Kek. Mungkin di antara mereka ada yang sedang sakit. Sebagiannya lagi mungkin ada kesibukan lain.”, bu Hari mencoba menenangkan hati suaminya agar suami tercintanya terhindar dari prasangka buruk.

Pak Bakran sedikit tenang dan beliau pun melanjutkan makan kue bersama istri dan cucu beliau di ruang santai sambil menonton acara televisi.

***

Setelah waktu salat Juhur berlalu satu jam, pak Bakran kedatangan tamu dari tempat yang jauh. Pak Zaki sekeluarga sengaja datang dari tempat yang jauhnya 30 kilometer hanya untuk bermaaf-maafan dengan pak Bakran. Keduanya adalah kakak beradik. Pak Bakran merupakan kakak kandung pak Zaki.

“Assalamu’alaikum!” sapa pak Zaki saat berada di depan pintu rumah pak Bakran.

“Wa’alaikumussalam!” sahut pak Bakran dari dalam rumah. “Ayo semuanya masuk ke sini!” pinta pak Bakran.

“Sudah berapa tamu yang telah datang di rumah ini Kak?” tanya pak Zaki kepada kakak kandungnya.

“Kamu mungkin terkejut jika kuberi tahu jumlah tamu yang sudah datang di sini hari ini.” Kata pak Bakran. “Jumlah tamu lebaran hari ini jauh berbeda dengan jumlah tamu saat hari lebaran tahun-tahun sebelumnya”, tambah pak bakran.

“Tambah banyak ya Kek jumlah tamunya?” tanya cucu pak Zaki yang bernama Rumi.

Pak Bakran menghela nafas sejenak mendengar pertanyaan cucu saudaranya itu.

“Tidak bertambah banyak Sayang, tetapi baru kalian yang datang.”, ucap Pak Bakran dengan nada sedih.

“Sudah kuduga seperti itu. Dugaanku berdasarkan fakta yang sudah terjadi. Sudah menjadi kenyataan pejabat didatangi dan diberi bingkisan oleh para bawahannya saat ia masih memiliki jabatan itu. Akan tetapi, sebaliknya, ia tidak akan dikunjungi apalagi diberi bingkisan oleh seluruh mantan bawahannya saat ia sudah pensiun atau turun jabatan. Kalau pun ada, hanya satu atau dua orang yang masih mau melakukannya secara ikhlas. ”, pak Zaki mengungkapkan unek-uneknya kepada Pak Bakran.

“Sabar ya Kek!” kata bu Hari menenangkan hati suami beliau.

Pak Bakran pun bertambah kecewa dan sedih karena kata-kata adik beliau memang ada benarnya dan baru saja beliau alami keadaan seperti itu. Prasangka buruk beliau pun semakin menjadi kuat terhadap para mantan bawahan beliau.

***

“Inikah balasan dari orang-orang yang dulu pernah mendapatkan kebaikan dariku kepadaku ya Allah? Dahulu aku begitu dihormati dan disanjung oleh setiap bawahanku. Kini, mereka sudah menampakkan wajah asli mereka kepadaku. Biarlah, hari ini aku berprasangka buruk kepada mereka karena hatiku ingin berkata demikian. Aku sadar ini adalah hukumanku dari-Mu karena dahulu saat Kau angkat derajadku, aku malah tidak bersyukur kepada-Mu. Ampuni aku ya Allah karena dahulu aku tidak pernah bersyukur kepada-Mu atas nikmat berupa tamu yang melimpah di rumah pemberian-Mu ini!” ucap pak Bakran dalam doa beliau setelah salat Asar.

Setelah menunaikan salat Asar dan berdoa, beliau duduk sendiri di teras depan sambil memandangi barisan semut yang berduyun-duyun dengan teratur. Sambil duduk, beliau pun berkata dalam hati,

“Aku iri dengan semut-semut yang begitu akrab di hari yang suci ini. Aku manusia, tetapi tidak dapat seakrab itu dengan para mantan bawahanku di hari yang suci ini setelah aku pensiun…. Sungguh aku malu kepada diriku sendiri. Aku mantan pemimpin yang gagal. Pemimpin yang sukses selalu dikenang para bawahannya dan juga rakyat banyak seperti pahlawan kemerdekaan, bukan seperti diriku ini yang telah mereka lupakan.”

“Ah! Ada apa denganku? Seharusnya aku bersyukur sudah diberi Allah swt nikmat kehidupan yang masih kurasakan pada hari ini. Banyak kerabatku yang sudah tidak dapat menikmati indahnya lebaran seperti diriku. Walaupun bawahan-bawahanku tidak datang, aku masih memiliki para tetangga dan keluarga yang menyayangiku. Aku masih ingat begitu baiknya sikap mereka di masjid tadi kepadaku. Astaghfirullah! Astaghfirullah!”, ucap pak Bakran dalam hati.

“Kek! Memang terasa nyaman ternyata duduk di sini. Udaranya sejuk dan bersih dari polusi.”, ucap bu Hari sambil membawakan secangkir kopi hangat untuk pak Bakran.

Mereka terlibat dalam perbincangan yang hangat. Kadang-kadang mereka tertawa dengan hal yang mereka perbincangkan. Waktu pun tidak terasa berlalu oleh mereka hingga petang menjelang di hadapan mereka. Dengan segera mereka pun masuk ke rumah yang sudah lama mereka diami itu.

***

“Assalamu’alaikum! Assalamu’alaikum!” seorang lelaki muda mengucapkan salam dari luar halaman rumah pak Bakran keesokan harinya.

Wa’alaikumussalam! suara pak Bakran dari dalam rumah didengar pemuda itu.

“Selamat Idul Fitri dan mohon maaf lahir dan batin ya Pak!” seru pemuda itu.

“Ternyata kamu Din yang datang. Terima kasih banyak Din atas kedatangan dan ucapan selamat Idul Fitri darimu.”, kata pak Bakran dengan raut muka yang cerah kepada Syamsudin.

“Bagaimana kabar Bapak?”

“Kabar Bapak baik, tetapi saat ini Bapak masih bingung karena dari hari kemarin hanya kamu mantan bawahan Bapak yang datang di rumah ini. Untunglah saat ini ada kamu yang bertamu di rumah Bapak.”

“Benarkah Pak baru saya yang datang menyambangi rumah Bapak ini? Jujur saya kurang percaya dengan kata-kata Bapak tadi.”

“Ini adalah kenyataannya bahwa lebaran tahun ini sangat berbeda dengan lebaran tahun-tahun sebelumnya. Bapak hanya dapat memaklumi keadaan ini karena pensiunan seperti Bapak ini tidak pantas mengharapkan tamu yang banyak.”

“Saya ikut prihatin atas nasib yang sedang Bapak alami saat ini. Semoga kedatangan saya dapat menghibur hati Bapak.”

Pak Bakran memang sedikit terhibur dengan kedantangan Saymsudin di rumah Beliau. Mereka berbincang cukup lama. Sungguh, pak Bakran tidak menyangka kalau tahun ini keadaannya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Beliau hanya berusaha untuk memaklumi keadaan yang sedang beliau alami dan mencoba untuk tetap bahagia di hari yang fitri.

“Ya Allah kali ini aku bersyukur kepada-Mu karena telah Kauberikan tamu untukku. Jika Engkau masih mengizinkanku berharap sesuatu yang lain, aku hanya berharap para pejabat sekarang tidak mengalami nasib yang serupa denganku saat mereka telah pensiun nanti. Aku juga memohon kepada-Mu jadikanlah para pejabat di negara ini dapat menjadi pemimpin-pemimpin sukses yang dapat menyejahterakan bawahan-bawahan mereka dan terutama rakyat di negara ini. Dengan demikian, mereka tetap dikenang oleh para bawahan mereka saat menjalani masa pensiun, bahkan hingga berpulang kepada-Mu!” ucap pak Bakran sambil meneteskan air mata setelah selesai salat Juhur.

Pak Bakran pun bangkit dan berjalan menapaki kehidupan beliau dengan kesabaran dan rasa syukur kepada-Nya bersama para keluarga dan masyarakat di sekitar beliau.

***



Kutemukan Dia

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

=====Aku terlahir dari orang yang tak kukenal. Jangankan nama ibuku, melihat sosoknya pun aku tidak pernah. Aku besar di panti asuhan Bumi Selaras yang didirikan oleh seorang yang baik hati. Atas bantuan beliau juga aku bisa menjadi seorang pengerajin batu permata yang cukup sukses di kotaku. Kini di usiaku yang kedua puluh delapan tahun, aku telah memiliki lima pekerja. Penghasilanku cukup untuk menghidupiku dan dua orang anak asuh di rumahku sendiri. Suatu ketika aku harus ke kota lain untuk urusan bisnis. Aku putuskan untuk naik bus ke kota tujuanku itu. Rencananya satu minggu aku berada di sana. Urusan pekerjaan kuserahkan kepada para pekerjaku yang sudah dapat kuandalkan. Kedua orang anak asuhku yang masing-masing berusia dua belas tahun dan empat belas tahun sudah mampu mengurus diri mereka dan rumah kami. Jadi aku tidak ragu meninggalkan mereka.

=====“Pak, hati-hati di jalan ya!” pesan anak asuhku yang pertama

=====“Insya Allah Bapak akan baik-baik saja.” Jawabku untuk membuatnya tidak cemas.

=====“Ini ada singkong goreng untuk bekal Bapak di jalan” kata anak asuhku yang kedua.

Mereka sangat perhatian kepadaku karena aku pun sangat memperhatikan mereka. Selama di perjalanan banyak kutemui pengemis, pengamen dan penjaja makanan dan minuman. Sesekali aku memberikan uang kepada para pengemis dan pengamen. Aku juga aku sesekali membeli minuman dari penjaja yang ada di dalam bus.

=====“Ternyata masih banyak rakyat yang miskin di negara kita.” Kata ibu tua yang duduk di sampingku.

=====“Ibu betul sekali. Di negara kita masih banyak orang yang miskin dan memerlukan bantuan kita yang mampu.” Balasku kepadanya.

Ibu itu menatapku dalam, seakan beliau ingin mengusap-ngusap rambutku. Mungkin ibu itu memiliki anak seusiaku dan mungkin pula beliau sedang ingat dengan anak belaiu tersebut.

“Aku tidak memiliki anak laki-laki” katanya. “Semua anakku perempuan dan seandainya aku punya anak laki-laki sepertimu, aku tentu akan sangat bahagia”, tambahnya.

“Semuanya sudah menikah Bu? ” tanyaku.

Ibu itu seketika tersenyum padaku. Sepertinya beliau tahu dari kata-kataku kalau sebenarnya aku ingin memiliki seorang istri. Sambil tertawa beliau berkata, “Semua anakku sudah memberiku cucu-cucu yang manis-manis.”

Aku ikut tersenyum sambil sedikit malu kepada ibu itu. Pembicaraan kami terhenti karena aku sudah sampai di kota tujuanku dan kami pun berpisah di sana. Sebelum kami berpisah beliau berpesan kepadaku, “Berhati-hatilah di terminal ini karena di sini banyak pencopet!”

Aku pun berterima kasih kepada beliau atas saran tersebut.

***

=====Kulangkahkan kakiku menuju keluar terminal mencari becak untuk menuju wisma tempat aku menginap satu minggu. Begitu banyak orang yang menawariku jasa transportasi, tetapi semuanya kutolak. Belum lagi aku keluar terminal, tasku sudah ada yang mencoba menyayatnya dengan pisau silet yang tajam. Kuhentikan segera aksinya dan aku kejar pencopet itu hingga aku berhasil menangkapnya. Tidak kusangka ternyata ia seorang perempuan muda. Usianya kira-kira dua puluh tahun.

=====“Lepaskan aku!”, katanya dengan ketakutan.

=====“Mengapa kamu menjadi pencopet?” tanyaku. “Apa kamu tidak takut jika polisi menangkap dan memenjarakanmu?” tanyaku lagi.

=====“Jika aku tidak mencopet Mas, aku tidak dapat makan hari ini.” jawabnya dengan nada memelas.

=====“Separah itukah perekonomianmu hingga kamu rela menjadi seorang pencopet?”, tanyaku padanya.

=====“Aku orang yang miskin dan tak punya pekerjaan tetap”, jawabnya. “Ibuku sedang sakit di rumah kami”, lanjutnya.

=====Aku tidak tega membawanya ke kantor polisi. Hati kecilku merasa iba dengan keadaannya. Aku ajak dia makan di warung dekat terminal itu. Saat itu perutku memang sangat lapar dan kulihat dia juga seperti orang yang kelaparan. Kami berbincang lama di sana. Aku memintanya menunjukkan keadaan ibunya kepadaku untuk membuktikan kebenaran kata-katanya tadi. Benar katanya, ibunya memang benar-benar sakit dan sedang terbaring di atas tikar beratap jembatan. Ya, tepatnya mereka tinggal di kolong jembatan. Hatiku merintih melihat keadaan mereka yang sangat memprihatinkan. Kuberi mereka uang seperlunya untuk berobat di rumah sakit. Aku pun segera meninggalkan mereka menuju wiswa tempatku akan menginap.

=====“Mas, tunggu sebentar!” pinta pencopet itu.

=====“Ada apa?”, tanyaku kepadanya.

=====“Siapa nama Mas dan di mana aku dapat menemui Mas kembali?”

=====“Namaku Rizal dan kamu dapat menemuiku kembali di Wisma Sejati”, kataku kepadanya. “Ingat pesanku tadi! Jangan mencopet lagi!”, tambahku.

***

=====Akhirnya sampai juga aku di wisma yang nyaman untuk kutinggali. Kurebahkan tubuhku di kasur empuk dan wangi. Segera terbayang olehku penderitaan anak dan ibu yang harus tinggal di kolong jembatan itu. Aku di sini rebahan dengan enak sedangkan masih ada orang yang tidur di tempat kumuh dan berbau tidak sedap. Aku bayangkan jika seandainya nasibku seperti mereka. Segera menitik air mataku dan ingin sekali aku membatu mereka. Aku ingat kembali aksi pencopetan yang dilakukan gadis itu kepadaku. Wajahnya masih mebekas di ingatanku. Malam pun semakin larut dan aku harus segera tidur agar besok aku dalam keadaan yang prima dan bisnisku dapat berjalan dengan lancar.

=====Suara alarm telepon selulerku membuatku terbangun dari tidurku yang nyenyak. Aku pun segera berwudu karena azan Subuh telah menggema di angkasa. Untung di wisma itu tersedia musala yang bersih dan penuh perawatan. Kusempatkan jalan-jalan sebentar di sekitar wisma setelah salat Subuh berjamaah di musala itu.

Sudah dua hari aku berada di sana. Seperti biasanya, setiap pagi pintu kamarku diketuk pelayan wisma yang mengantariku makanan dan minuman. Dari dalam kusuruh dia masuk.

=====“Apa kabar Mas?” tanyanya

Aku lansung terkejut mendengar kata-katanya karena aku masih ingat betul suara itu. Benar dugaanku, ia saat ini tepat di hadapanku

=====“Kabarku baik. Bagaimana kabar ibumu Dik?” tanyaku balik.

=====“Ibuku masih hampir sembuh. Aku bawakan Mas makanan khas sini. Tolong Mas terima ya!” pintanya.

=====“Tidak usah repot-repot membawakan makanan ini untukku. Aku ikhlas kok membantumu dan ibumu tempo hari.”

***

=====Hari ini adalah hari terakhirku berada di kota penuh kenangan bagiku, terutama pada gadis muda yang mebuat hatiku terasa lain daripada sebelum bertemu dengannya. Pekerjaanku telah selesai dan saatnya aku kembali ke kotaku. Sebelum berangkat, aku sempatkan diriku menjenguk ibu gadis itu.

=====“Mungkinkah kita akan bertemu lagi?” tanya gadis itu kepadaku.

=====“Jika Allah menghendakinya, kita akan bertemu kembali Dik” jawabku.

=====“Kami akan mengingat kenangan hidup ini”, kata ibunya kepadaku.

Kulihat mereka sangat akrab di sana. Aku berpamitan dengan mereka. Baru kali ini aku sangat iri dengan orang lain. Aku sangat iri dengan gadis itu yang memiliki seorang ibu di sisinya dan menyayanginya. Tidak pernah seumur hidupku aku merasakan kasih sayang seorang ibu. Kutatap sejenak wajah mereka dan aku pun segera meniggalkan mereka di sana. Sesampainya di rumah aku di sambut dengan hanyat oleh kedua anak angkatku. Aku banyak bercerita kepada mereka selama aku di kota lain.

Aku merasakan hal yang tidak pernah kurasakan selama ini, yakni rasa sepi di hatiku. Gadis di kota lain itu selalu ada dalam pirkiranku dan semakin pula membuat hatiku ingin bersamanya. Mungkin naluriku sebagai pria dewasa yang membuatku seperti itu. Kurasakan ada sesuatu yang berbeda dalam hatiku terhadap gadis itu. Entah apakah aku telah jatuh hati kepadanya. Akan tetapi, satu hal yang jelas bahwa aku bahagia saat bertemu kedua kalinya dengannya. Gadis itu membuatku tidak dapat konsentrasi terhadap pekerjaanku. Dengan perasaan yang tak menentu aku kembali ke kota itu. Kutemui dia dan ibunya. Aku tatap dalam matanya dan kuberanikan hatiku untuk mengatakan bahwa aku berniat menikahinya. Kulihat ia sangat gugup saat itu. Mulutnya tidak mampu bicara, tetapi ia menganggukkan kepalanya kepadaku. Anggukannya membuat hatiku sangat bahagia. Tiga hari kemudian kami menikah dan kubawa ia dan ibu mertuaku di rumahku bersama kedua anak angkatku.

***


Demi Pernikahan Adik

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

=====Aku masih teringat dengan kata-kata pak Hamid soal pernikahan adikku. Lelaki berusia setengah abad itu dengan teganya menolak adikku menjadi menantunya hanya karena uang seserahan yang belum dapat kami berikan sesuai permintaannya. Adikku sebenarnya sudah ingin sekali memiliki seorang wanita yang menemaninya dengan setia. Sudah dua tahun adikku berhubungan dengan Mia, anak pak Hamid. Aku sebagai kakaknya tidak ingin keduanya terjerumus ke jurang maksiat. Ketakutanku muncul saat aku melihat mereka bergandengan tangan di samping musala sehabis salat Tarawih satu bulan yang lalu. Hatiku sakit melihat adikku yang kini tidak semangat menjalani hidup gara-gara penolakan pak Hamid tempo hari.
=====Kadang kulihat dia termenung sendiri di serambi rumah kami. Aku tahu bagaimana perasaannya. Dengan permintaan pak Hamid sebesar lima belas juta rupiah, kemungkinannya baru satu tahun lagi adikku dapat menikah. Dia memang sudah bekerja sebagai penjahit, tetapi berapalah pendapatan seorang penjahit yang baru membuka usahanya.
===== “Assalamualaikum…. ”, sapa ustadz Karim dengan suara yang lembut kepadaku
===== “Wa’alaikumussalam”, jawabku.
===== “Bapak sedang ada masalah ya? tanya beliau
=====“Ah Ustad tahu saja kalau saya sedang punya masalah”
===== “Ya, soalnya Bapak kalau setiap kali ada masalah, Bapak sering duduk tafakur di musala ini”
===== “Benar Ustad saya sedang ada masalah. Saya belum memiliki uang untuk membatu adik saya menikah”
=====“Memangnya sudah berapa tabungan Bapak dan adik Bapak itu?
=====“Baru sembilan juta Ustad.”
=====“Cukup sudah uang itu sebenarnya untuk menikah. Bukankah rasulullah sendiri mengadakan pesta pernikahan dengan sederhana? Bahkan rasulullah menyuruh umatnya agar menikah walaupun dengan mas kawin berupa cincin dari besi.”
=====“Kami pun sebenarnya ingin seperti itu, tetapi pihak mempelai wanitanya meminta uang seserahan sebesar lima belas juta”
=====“Masya Allah! Besar sekali?”
Azan Juhur pun berkumandang menghentikan percakapan kami. Kami segera berwudu dan setelahnya kami pun salat berjamaah. Ustad Karim menjadi imamnya. Aku dan tiga orang lainnya mengikuti gerakan beliau dari belakang.
=====Aku segera meninggalkan musala setelah memanjatkan doa kepada Allah agar dimudahkan-Nya menyelesaikan masalah yang sedang kami hadapi.

***

=====Kulihat istriku sedang asyik memberikan makan ayam-ayam kami. Kulihat ia juga ikut memikirkan masalah pernikahan adik kandungku itu.
=====“Assalamu’alaikum…!” sapaku pada istri tercintaku
===== “Wa’alaikumussalam” jawabnya dengan dengan sangat lembut .
=====“Dari mana Yah hari Minggu baru pulang?” tanyanya.
=====“Aku habis dari musala. Pak ustad tadi mengajakku berbincang.”
=====“Soal apa?”
=====“Soal adik kita.” jawabku. “Pak ustad juga menyayangkan pihak mempelai wanita yang meminta uang seserahan dengan jumlah banyak”, tambahku.
=====“Apa nasehat pak ustad kepada Ayah?
=====“Aku diminta beliau membicarakan sekali lagi kepada pak Hamid soal uang seserahan itu karena dalam Islam tidak ada hukumnya meminta uang seserahan kepada pihak mempelai pria, apalagi dengan jumlah yang banyak.” “Beliau juga menambahkan bahwa dalam Islam hanya ada pemberian mahar yang tidak ada ketentuan jumlah dan ukurannya dari mempelai pria kepada mempelai wanita.”
=====Istriku pun mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar kata-kataku itu. Pembicaaan kami terhenti saat adikku Fajriansyah datang dari tempat kerjanya. Kami lihat wajahnya sangat lelah. Ia tersenyum ke arah kami.
=====“Assalamu’alaikum….” sapanya.
=====“Wa’alaikumussalam …”, jawab kami.
=====“Karena sudah berkumpul, ayo kita makan bersama! Pinta istriku kepadaku dan Fajriasnyah.
Dengan lahapnya kami menyatap makanan di meja makan. Perut kami langsung kenyang dan mata kami pun mulai mengantuk.

***

=====Tidak terasa sudah pukul setengah empat sore. Aku beranjak dari tempat tidurku untuk bersiap-siap salat Asar di Musala. Dalam pikiranku masih saja melekat masalah pernikahan adikku. Kuputuskan setelah salat aku akan menemui kembali pak Hamid. Dengan sepeda motor aku melaju ke rumah tempat tinggal gadis pujaan adikku. Di sana kami berbicara cukup lama dan sangat alot karena pak hamid tetap pada pendiriannya. Aku pulang dengan tangan kosong karena aku tidak berhasil meyakinkan pak Hamid soal pernikahan yang Islami.
=====Dalam perjalanan pulang aku mampir di pasar. Aku tadi dipesani istriku untuk membeli gula merah dan kacang hijau. Katanya dia ingin memasak bubur kacang hijau. Saat aku membeli gula merah dan kacang hijau, aku mendengar percakapan para penjual di pasar itu.
=====“Bi, kemarin habis berapa untuk biaya berobat di rumah sakit?”
=====“Kalau ditanya habis berapa, habis-habisan Dik”
=====“Memang Bi, sekarang tidak ada yang murah.”
=====“Kami kemarin habis delapan juta untuk biaya operasi usus buntu anak kami.”
Akibat percakapan para penjual di pasar tadi, aku jadi berpikir kalau aku harus segera membiayai adikku untuk menikah. Jika harus menunggu satu tahun lagi, aku takut adikku menjadi stres berat. Biarlah habis biaya banyak dengan resiko jual sana, jual sini. Mengharapkan kesadaran pak hamid terlalu lama. Pak Hamid juga berpikiran sekarang tidak ada yang murah, apalagi soal anak gadis tentulah mahal. Pemikiran yang salah masih melekat dalam pikiran masyarakat kita saat ini soal pernikahan, pikirku.

***

=====Dengan hati yang ikhlas, aku dan istriku memutuskan menjual sepeda motor kami dan beberapa barang lainnya termasuk perhiasan istriku untuk biaya adik kami. Semula adikku menolak keputusan kami, tetapi akhirnya dia pun menuruti permintaan kami. Kami tidak bisa mengubah adat perkawinan yang sudah lama mengakar di daerah kami soal uang seserahan dalam pesta perkawinan. Kami akui, masih banyak orang di daerah kami yang belum paham betul dengan tata cara pernihakan yang Islami, salah satunya adalah pak Hamid. Pernikahan pun berlangsung dengan meriah. Aku dan istriku sangat bahagia dengan pernikahan itu. Kebahagian kami bukan datang dari meriahnya pesta, melainkan datang dari kebahagian yang sedang dirasakan oleh adik kami tercinta yang terlihat dari senyum dan tawanya.

***