Posts Tagged ‘cerpenis kaltim’

RIATRY LESTARI

 

RIATRY Lestari. Tapi dia lebih suka mencantumkan Try lestari Soemariyono pada setiap karyanya dalam menulis, baik itu puisi, cerpen atau essai. Memulai menulis sejak SD, namun publikasi pertama karyanya berupa cerpen ditampilkan dalam majalah dinding ketika ia duduk di bangku SMP. Kecintaannya pada dunia menulis membawa karya-karyanya muncul di majalah dan harian baik lokal maupun nasional.

Cerpennya yang berjudul Dalam lingkar  kebimbangan dan keajaiban masuk dalam kumpulan cerpen Forum Lingkar Pena. Tulisannya yang berjudul Lemang Sang  Penyelamat Hidup, meraih juara tiga dalam Lomba Penulisan Pemberdayaan Penduduk Miskin yang diselenggarakan Lembaga Pers Dr. Soetomo Jakarta.

Profilnya pernah muncul di majalah Pantau terbitan ibukota. Perempuan yang lahir tanggal 7 April ini rajin menulis naskah radio untuk sandiwara dan menulis naskah untuk feature udara, menyorot kehidupan sosial dan orang yang terpinggirkan. Tahun 2006 lalu, ia mengikuti Confrence Women Playwrights Internasional di Jakarta. Mantan wartawati Tabloid Koran Kita ini, baru saja meluncurkan kumpulan essai bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam FLP Samarinda, berupa TTM, in the name of friendship.

TRY telah dipanggil_NYA di awal tahun 2010, Try korban tabrak lari saat pulang dari bekerja sebagai penyiar radio RRI Kota Samarinda, di malam dingin sehabis hujan.*

RUMAH KUNING

Oleh : Try Lestari Soemariyono

 (Kalimantan Timur – INDONESIA)

Gambar

Tidak ada yang istimewa sesungguhnya dari bangunan itu. Semuanya serba sederhana. Satu yang paling menonjol, hanya warna catnya yang menantang, kuning terang. Selebihnya, semua biasa.

Seperti warna kuning, yang konon adalah warna cemburu, penghuninya selalu berganti-ganti setiap tiga atau empat bulan sekali. Hidup sendiri, menunggu seseorang dengan kecemburuan yang mendalam. Silih berganti.

Rumah kuning itu adalah rumah kontrakan dari Bu Kadar, tetanggaku yang berpredikat janda. Entah kenapa, mereka yang ngontrak, selalu isteri kedua yang dinikahi siri. Posisi rumah itu tepat berhadapan dengan rumahku. Cukup strategis untuk menyiumpan isteri kedua atau ketiga, karena lingkungan kami jauh dari keramaian.

“ Kita memiliki tetangga baru lagi, Rat,” Mas Deny membisikiku suatu sore saat aku baru tiba dari kantor. Aku keheranan, sebab suamiku itu tak pernah peduli selama ini siapa tetangga kami. Tetangga kamipun jarang memperkenalkan diri. Pintu rumah itu selalu tertutup rapat, kapanpun. Seperti tak ada kehidupan. Kecuali jika ada suara mobil yang menderu, pintu itu terbuka sesaat, untuk kemudian tertutup lagi.

“ Kami masih ingat Adisti,kan?”

Aku mengangguk

“Dialah penghuni rumah kuning itu”

Jantungku langsung berdegup. Adisti? Aku ingat nama itu. Sahabatku semasa kuliah, mantan pacar Mas Deny suamiku.

“Tadi pagi ia pindah”

“ Ia ke sini?”

“Ya” Mas Deny mengangguk

Kuhirup jus tomat. Serasa dingin mengaliri kerongkonganku. Tetapi…, hei, dadaku terasa mulai memanas. Cemburu? God! Rasanya tidak. Lalu?

“ Rat, dia agak kurusan.” Mas Deny berucap pelan. Aku menangkap nada simpati kutatap mata suamiku. Biasa saja.

“ Istri simpanan juga? Aku berusaha tak terpengaruh pada perasaanku

“ Aku tak tahu.” Mas Deny mengangkat bahu.” Mandi dulu, kamu kelihatan lelah.”

Tanpa komentar, aku menuruti saran mas Deny. Seharian ini aku memang lelah. Banyak yang harus kukerjakan, demi kemajuan perusahaan.

Seusai mandi, aku memang lebih segar, tetapi tidak dengan pikiranku. Kuoles lipstik pink ke bibir mungilku. Kubiarkan rambut cokelatku tergerai Sret… Sret …, parfum menyentuh bagian telingaku dan pergelangan tanganku. Aku tak ingin kelihatan lusuh, apabila tetangga baruku adalah adisti!

*   *   *

Ting … tong

Bel rumahku menjerit. Bik Maimun membukakan pintu, dan seorang wanita bergaun kuning, berdiri di depan pintu. Adisti.

“ Malam, Rat” Adisti menyapaku. Senyumnya mengambang manis. “ Apa kabar?”

“Baik,” aku menjawab.

Kami berpelukan sesaat. Tujuh tahun tak bertemu, sesungguhnya aku begitu kangen pada sahabatku ini. Ia memang kelihatan lebih kurus, tetapi makin cantik.

“Ayo rezki tak boleh ditolak. Aku dan Mas Deny kebetulan mau makan malam, kamu harus makan bersama kami,” kugandeng tangannya menuju ruang makan. Ia sedikit ragu, tetapi akhirnya mengikuti langkahku.

Sesaat ia melihat sungkan ketika menjumpai mas Deny di ruang makan, tetapi menjadi hangat ketika menjabat tangan Alia, putri tunggalku. Lima belas menit kemudian, sifatnya normal, seperti tujuh tahun yang lalu, penuh canda dan riang. Sifat inilah yang bisa membujuk kependiamanku menjadi lumer, dan bisa bersosialisasi dengan siapapun. Pengaruh Adisti begitu kuat terhadapku. Ia sosok wanita yang smart, dalam sikap maupun pikiran. Aku memang megaguminya. Ia populer di kampus dengan segudang prestasi akademik dan wajah orientalnya yang menyenangkan

“ Ratna sayang, aku akan menikah bulan depan,” Adisti , membisikiku suatu senja ketika aku akan sholat magrib di kamar kostku. Senyumnya mengembang menagkap raut keheranan diwajahku. Menikah? Diusia muda dan kuliah belum kelar?

“Sholatlah dulu. Engkau pasti berprasangka aku kebobolan, kan? Adisti tertawa. “ Aku masih perawan, Non.”

Ketika lengking cacing tak lagi bergema, sebagai tanda bahwa senja telah terlewati, kusodorkan segelas teh hangat pada Adisti.

“ Siapa lelaki beruntung itu, Adis?” aku bertanya tak sabar.

“Ia lelaki sederhana yang pernah kuliah di ISI Jogjakarta. Aku baru mengenalnya dua minggu.”

“ Dua minggu? Kamu tak bercerita padaku?” aku ,e,belalak. “ Secepat itu mau menikah?”

“ Dia baik, Rat. Ia mencintaiku lulus, dan aku mencintainya amat sangat. Aku mengenalnya ketika nonton pameran lukisan di taman Budaya, kamu masih ingat?”

“Seniman gondrong itu?” aku makin terbelalak.

“ Ingatanmu sangat bagus. Yap, deny Asmara.”

Aku terdiam. God, cinta seperti apa itu?

“Itu namanya cinta kilat, Dis. Perkawinan itu tidak hanya untuk satu dan dua bulan saja, tetapi seumur hidup. Bagaimana dengan mama? Papa? Keluarga lainnya? Dua minggu Dis, terlalu singkat dan sinting untuk mengambil satu keputusan yang penting.” Aku menatapnya galak.

“Aku tak peduli. Aku mencintainya.Titik.”

Dua minggu kemudian, tak ada janur melengkung dan tenda biru di rumah Adisti.Yang ada justru karangan bunga sebagai tanda bela sungkawa atas kematian Tante Ine, Ibunda Adisti. Serangan jantung telah menghentikan nafas wanita baik itu. Permohonan restu untuk pernikahan, tak pernah ada.

Dan Adisti menghilang. Sebulan kemudian aku mendapat phone darinya. Ia di Belanda. Opanya memang ada di sana. Dan setelah itu kami tak pernah lagi berhubungan. Ketika aku telah menyandang gelar sarjana ekonomi dan akan menikah dengan Mas Deny, aku minta izin dan restu pada Adisti melalui Mbak Mery kakak satu-satunya dari sahabat tersayangku itu.

“ Kamu pagar makan tanaman, Rat. Aku benci padamu.” Adisti menelpon menjelang pernikahanku. Tangisnya mengalun pilu. Mas Deny membisu. Akupun demikian.

Maafkan aku, Dis.

Dan hari ini kami kembali bertemu setelah hampir tujuh tahun berpisah.

*      *     *

Sisa kemarahan tak ada lagi pada Adisti

Bibir merahnya banyak menyunggingkan senyum, tetapi juga menyimpan misteri dari kepergiannya selama ini. Hari ini aku ingin semuanya menjadi jelas. Dari bibir Adisti sendiri, bukan dari Mas Deny suamiku. Tentang Tante Ine yang meninggal tiba-tiba, Om Hendry yang murung, Mbak Mery yang gelisah, pernikahan yang tak pernah ada, dan Adisti yang kabur keluar negeri. Oh!

Percayakan engkau pada takdir, Ratna?” Adisti menatapku dalam.

“Tentu saja” Aku menjawab menggenggam tangannya.

Kebisuan meyergap kami. Helaan nafas terdengar, ditingkahi denting jam pukul dua belas malam. Mas Deny sejak pukul sebelas tadi sudah masuk kamar, mengeloni Alia yang agak cerewet malam ini. Aku dan Adisti masih melepas kangen, menumpahkannya dalam bingkai waktu tujuh tahun perpisahan kami.

“Dulu aku marah pada papa. Marah pada keadaan, marah pada Tuhan.., dan  takdir yang ditentukannya. Takdir yang disuratkan padaku, begitu berat. Aku tidak boleh menikah dengan orang yang kucinta, yang kusayang, yang begitu mengerti aku.” Adisti memulai membuka kisah yang belum  aku ketahui.

“Keterus terangan papa, menyebabkan mama meninggal secara tiba-tiba, juga membuatku marah. Kejujuran yang memang harus diakui papa, menyebabakan takdir yang digoreskan, harus kujalani. Aku mesti berpisah dari Mas deny, pria yang kucinta yang semestinya menjalani hidup denganku. Engkau tahu, Rat? Tak pernah ada restu dari papa. Mas deny adalah anak kandung papa, dari wanita lain. Pengakuan yang mengejutkan  mama, mbak Mery dan aku. Mama yang merasa dikhianati, dan aku yang sedarah dengan Mas Deny…” Adisti mulai terbata.

“Tidak ada satupun wanita yang rela ketika suaminya mencintai wanita lain dan menghadirkan seorang anak dari percintaannya yang lain pula. Demikian juga dengan mama. Jantung mama tak kuat menerima itu semua, apabila papa diakui mama sebagai suami yang paling setia.” Mata Adisti membasah.

“Aku marah pada papa. Pada Tante Minarsih, ibu Mas Deny. Mengapa mengambil cinta dari kami. Ia tak berhak…” Adisti terisak. Aku diam, merengkuh bahunya. Kubiarkan ia sesenggukan. Barangkali dengan demikin, ia bisa sedikit lebih lega.

“ Tetapi takdir harus kujalani lagi, rat. Kalau akau dulu menghardik Tante Minasih dengan perkataan keji, merebut suami orang tanpa perasaan, sekarang aku  tahu.., bahwa ketika cinta menyapa dan mengisi relung hati seseorang, tiada satupun bisa menolak. Rat, aku menikah dengan Mas Erlangga, yang telah memiliki istri yang baik dan anak yang baik pula.., aku menjadi isttri kedua seperti halnya Tante Minasih. Di luar logikaku. Ia pria biasa yang tidak kaya. Jabatannya biasa juga. Tetapi aku mencintainya, dan ia mencintaiku..”

Aku tetap diam. Mencoba berkompromi dengan perasaanku. Begitu dahsyatkah sebuah cinta? Mempermainkan kehidupan seseorang dengan dalaih takdir? Betapa mahaberkuasanya cinta, memporakporandakan rasa tanpa logika. Mengubah seorang Adisti yang benci akan perkawinan dibawah tangan, justru menjalaninya. Ah!

*      *       *

Rumah kuning itu ditakdirkan untuk menampung penghuninya yang menjadi istri kedua atau simpanan. Menyimpulkan warna kecemburuan. Menyimpan banyak kisah yang direkam oleh dindingnya yang kuning. Pagarnya yang kuning. Atapnya yang kuning. Merangkumnya dalam satu permainan, bahwa penghuninya adalah wanita-wanita yang siap cintanya dibagi.

Tiga bulan kemudian, aku kembali kedatangan tetangga baru. Adisti telah pindah dan mengikuti suaminya ke Brunai.

Ketika pagi menjelang dan aku bersiap menuju kantor bersama Mas Deny, kulihat Pak Sinaga, bosku di kantor memasuki mobilnya dianatar wanita muda sexy berkulit putih. Dan aku tahu, itu adalah wanita simpanannya yang dinikahinya empat minggu yang lalu.

Rumah kuning itu kembali menjadi saksi bisu. Percintaan, kegelisahan dan kecemburuan, menyatu dalam satu kisah, tersimpan dalam pintu yang selalu tertutup rapat, berwarna kuning.*

JINGGA

OLEH : TRY LESTARY SOEMARIYONO

Sembilan bulan yang lalu Va, masih berkeliaran di jalan selepas senja. Senyum tipisnya sanggup menghentikan langkah lelaki manapun . Mengajaknya berbincang, pergi dan kemudian bercinta. Semakin malam, kawasan tepian yang menyajikan jagung bakar manis, kopi susu kental dan tebaran wajah ranum tak menyurutkan gairah cinta semalam. Va yang suka berpakaian hitam, akan tenggelam dalam tawa tanpa makna dengan teman-temannya.

Tapi malam itu Va akan menjadi milik Jati. Tak akan lagi ada transaksi menghasilkan rupiah. Va menjadi istri syah Jati, pengusaha berduit asal Surabaya.

“Bapak tidak menyesal mengawini saya?” Va bertanya ragu.

“Saya akan menyesal jika tidak kawin denganmu,” Jati tertawa. Va kelihatan bingung. Hampir lima bulan Va bersama Jati, tetapi lelaki separuh baya itu tak pernah menyentuhnya. Paling ahnya memeluk, mencium keningnya. Selepas itu,  Jati akan membawanya memutari kota Samarinda, mendengarkan musik di Pub Alamanda Hotel mesra, dan memulangkan Va ke rumah kontrakan sederhana jika batas malam berganti pagi.

“Kamu manis, siapa namamu?”itu kalimat pertama dari Jati, ketika pertama kali bertemu Va di Tepian. Saat itu Jati menikmati jagung bakar bersama Hendra, kawan bisnisnya di Samarinda. Jati memang pecinta jagung bakar, dan daerah tepian di Samarinda adalah tempat yang paling nyaman untuk menikmati jagung bakar sambil menatap mahakam dalam riak gelombang kecil yang di naungi bulan.

“Saya Va.” Va seperti biasa, tersenyum.

“Singkat sekali? Punya arti tersendiri?” Jati mencoba berakrab dengan wanita dua puluh satu tahun itu.

“Ah, Wiliam shakespiere mengatakan apa arti sebuah nama. Saya tidak suka menyebut nama lengkap, karena setiap orang yang mendengarnya akan mengulang, dan merasa heran. Panggil saja, Va.” Va enggan menyebutkan nama lengkapnya.

Dan kemudian daya tarik Va seperti tidak terbendung. Jati meminta nomor phone selulernya, dan memberi nomor pribadinya. Komunikasi terus bergulir, sampai pada akhirnya Jati menawarkan sesuatu yang tak pernah di duga Va.

“Menikahlah denganku, Va. Tinggalkan Samarinda, hidup denganku di Surabaya.” Jati menatap Va dengan pandangan berharap. Va ternganga. Sesaat kemudiania tersenyum menggoda.

“Istri keberapa nih? Tiga, atau empat?”

“Kamu tahu, istirku sudah meninggal tiga belas taun yang lalu.” Jati menatap wajah Va lembut. “Kamu akan menikah dengan duda keren.” Tawa halus Jati terdengar lagi.

Va tertawa keras.

“Jangan menggodaku seperti itu, ganteng.” Va mengelus wajah Jati. “Aku tak tahu siapa ayahku. Kata ibu sih, orang Thailan yang tak pernah menikahi ibuku. Ibu meninggal dalam sakit tanpa obat.dua tahun aku menjadi istri simpanan pejabat yang telah mati akrena serangan jantung, setahun aku menjadi istri kontrakan dari lelaki Korea, bertahun-tahun aku bisnis cinta sejak berusia tujuh belas tahun. Adakah lelaki yang sudi menjadikanku istri sahnya, dari hukum agama dan Negara? Menikahi seorang mesti tahu dulu bibit, bebet, bobot.” Va masih terpingkal, menutup kerawanan hatinya.

“tak ada rumah megah yang dijanjikan dan jutaan uang di Bank. Janji mereka isapan jempol, mereka hanya ingin tubuhku, curhat ketika ada masalah dengan istri..! Ah, enakan hidup tanpa ikatan.” Va tertawa namun terdengar sumbang.

“Va manis, aku lelaki tak pandai berkata. Jika lamaranku tidak kau tolak, maka takdirmu akan berubah. Kamu tidak ingin hidup terus begini, kan?’ jati menyentuh jemari Va. Ada getaran halus mengalir.

“Bapak, saya tidur dengan banyak lelaki.” Va membiarkan jemarinya di dalam genggaman Jati.

“Aku tidak peduli. Ketika kau sudah menjadi istriku, kamu adalah milikku, tanpa satu lelakipun bias menyentuhmu lagi.”

Va menatap Jati takjub, antara percaya dan tidak.

“Bulan depan kita menikah, lupakan kehidupan dulu, jalani masa depanmu, Va sayang. Surabaya akan menjadi kotamu. Hm?”

Sembilan bulan yang lalu Va masih duduk di tepian mencari mangsa, menawarkan cinta sesaat dan menggenggam rupiah. Kulitnya yang putih selalu terbalut dalam baju warna hitam, seperti hatinya yang sesungguhnya gelisah. Jati dating menawarkan cinta abadi, menyuntingnya. Sekarang ia telah menjadi nyonya Jati, bukan lagi Va. Setiap orang yang bertemu dengannya akan menyapa; Nyonya Jati Perwira. Menebar senyum, dan mengangguk hormat.

“Ini hadiah untukmu, Jingga cintaku,” Jati mengecup bibir Va pagi ini. Sebuah restauran elegan bernuansa jingga akan dibuka siang ini, menawarkan makanan khas Kalimantan. Atas nama Va, seperti juga butik yang telah dibuka dua minggu lalu.

“Kamu suka, Jingga?” Jati memeluknya.

“Bapak, aku va. Aku bukan Jingga.” Va membiarkan tubuh mungilnya dipeluk Jati. Ini untuk kesekian kali Va mengingkari. Ia Va, bukan Jingga!

“Jingga sayang, Jingga cintaku…” Jati semakin erat memeluknya, menciumnya. Va melihat kedua mata Jati menebar saying.Mengaca. Ah…! Lelaki ini telah mengubahnya menjadi Jingga, istrinya yang telah mati bersama bayinya saat melahirkan. Jingga yang amat dicintainya. Jingga yang selalu berpakaianwarna jingga sesuai namanya. Jingga yang teramat mirip dengan Va, bagai pinang di belah dua…!

Tiga hari setelah pernikahan, Jati memberikan beberapa cd berisikan rekaman kegiatan sehari-hari Jingga yang selalu di handicam Jati. Membuang baju-baju hitam Va, menggantinya denganwarna jingga, warna yang dibenci Va. Jati mengubah Va seperti Jingga. Seluruhnya. Inikah sebab, mengapa Jati begitu menginginkannya? Menghidupkan kembali diri Jingga melalui Va?

“Jingga sayang, aku telah memenuhi keinginanmu untuk membuka restaurant dan butik. Engkau bahagia?”

Va tidak menyahut. Sesungguhnya ia ingin menjadi Va, bukan harus berperan seperti Jingga. Jingga yang lembut dan bertutur halus, Jingga yang punya kebiasaan menidur kan Jati dengan nyanyian cinta, Jingga yang mendapatkan siksaan saat akan bercinta karena Jati mempunyai kelainan.

Ah!

“Engkau bahagia Jingga?” Jati mengecup kening Va. Kening yang masih memar karena pukulan Jati semalam. Selalu begitu. Punggung yang kebiruan, pinggang memar, atau pipi yang memerah. Va sudah kehabisan air mata.

Betapa ia lelah dalam menjalani hidup. Tersenyum memberikan cinta palsu pada setiap lelaki yang membawanya pergi untuk mendapatkan rupiah, membiarkan hatinya tersayat ketika tetangga kiri kanan rumah kontrakannya mencibir dan meludah saat ia pulang selepas subuh. Dan kini, ketika semua orang menganggukan kepala sebagai tanda hormat akan statusnya sebagai istri Jati, memanjakannya dalam harta yang berlimpah, kebahagiaan tak seutuhnya berpihak pada Va.

“Jingga sayang, kamu sakit?” suara Jati menepis lamunan Va.

Va menggeleng. Memberikan senyumnya pada Jati.

“Kita berangkat sekarang?” Jingga menawarkan. Jati mengangguk. Mengusap pipi Va perlahan. Va sedikit meringis, pipi yang memerah karena Jati menamparnya semalam.

“Pagi ini kamu sangat cantik.” Jati menggandeng tangan Va menuju mobilnya.

*          *          *

Mall Tunjungan sore hari.

“Gina…!”

Va menghentikan langkah. Suara itu amat dikenalnya. Suara Emi, teman seperjuangannya dulu dalam mempertahankan hidup dengan menawarkan cinta semalam.

“Gina…, hai.., kamu Gina?”

“Emi..,” Va memeluk Emi. “Apa kabar?”

“Baik. Baik sekali. Kamu menghilang, dulu katanyasudah menjadi nyonya kaya di sini, Surabaya.” Emi tertawa. “Duh, kamu memang kelihatan lain, tapi.. agak kurusan. Sengaja diet?”

Va ikut tertawa. “Kamu sendirian?” mata Va mencari-cari seseorang, tidak menanggapi pertanyaan Emi.

“Sejak kapan aku punya uang untuk membayar hotel dan terbang?’ Emi cekikikan. “Biasa, cukong kayu pengen membuang sedikit duitnya, memanjakanku shooping dan menjenguk kota orang. Tuh, dia lagi ambil duit di ATM.” Emi menunjuk dengan mata seorang lelaki botak berperut buncit.

“Nasib kamu bagus banget Gin. Banyakn uang, dikawini secara syah, dihormati.., kawan-kawan setiap hari membicarakan kamu. Mereka bilang, karena namamu yang aneh, kamu beruntung.” Emi terus berkomentar. “Hm, mana suami kamu?”

“Jingga… “ Jati telah berdiri di samping Va. “Lama sekali, aku menunggu kamu di bawah.”

“Jingga?” Emi keheranan. Ditatapnya Jati dengan tanda Tanya. “Bukannya kamu Gina? Vagina..?” Emi menggantungkan kalimatnya.

Va mengangguk.

Aku mempunyai panggilan kesayangan. Jingga. Nama yang cantik, bukan?” Va menggandeng suaminya. “Main kerumahku ya Em. Kamu masih lama di sini,kan?” Va memberikan kartu namanya. Senyumnya masih mengembang.

“Ah Gin, esok aku sudah balik. Istri cukong sialan itu menyusul. Aku mah gak mau rebut. Yang jelas, uangnya sudah pindah ke rekeningku.” Emi berbisik. “KAmu tahukan, Mala anakku mesti bayar uang sekolah. Cukup aku aja deh yang gini, Mala mesti jadi sarjana.” Emi mengedipkan matanya. “Doakan aku ketemu jodoh yang baik ya, aku sudah capek hidup begini.”

Va mengangguk. Dipeluknya Emi sekali lagi sebagai salam perpisahan. Kemudian tangannya menggenggam tanga Jati, menuntun menuju tempay parker. Sesaat ditatapnya lelaki paruh baya itu. Digelengkannya kepala lemah. Ia tak sanggup melarikan diri, tapi jugatak sanggup hidup bersama. Jati menyakitinya, tetapi juga membuatnya bahagia. *

INGKAR

Oleh : Try Lestari Soemariyono

TIDAK  berlebihan rasanya jika aku telah jatuh cinta padanya.Ia cerdas, sedikit jail tapi santun, dan lumayan ganteng. Gaya bicaranya santai, penuh humor yang kadang sanggup metbuatku tertawa lepas. Hal yang aku suka dan selalu ingin mendengarkan suaranya adalah jika ia melafalkan huruf ‘r’. Cukup aneh bagiku, sebab jarang ada pria yang tak sampai menyebut huruf ke delapanbelas dari abzad yang ada.

Tiga minggu perkenalan itu, memang terlalu singkat untuk menyukainya. Tetapi bukanlah satu kesalahan bila akhirnya aku jatuh cinta pada sikapnya. Pada kalimat-kalimatnya yang spontan. Pada tatapan matanya. Pada ide-ide gilanya. Ah! Yang menjadi salah, adalah aku mencintai lelaki yang sudah memiliki kekasih.

Dalam kamus percintaanku dengan berbagai pria, dialah pria yang paling sederhana dari segi nama dan penampilan, terkesan awut-awutan, cuek, berkantong tipis. Namun semua itu bukan satu penghalang sesungguhnya. Satu hal yang semestinya kusadari, perbedaan usiaku begitu jauh.

“Aku buatkan mie rebus, ya, Wi?”

“Hm, bolehlah.” Aku mengangguk, menyetujui tawaran Budiman, lelaki itu. Ia menyapaku dengan panggilan khusus; Uwi, padahal namaku Ruri Riswari. Mungkin menyiasati agar lafal ‘r’ yang diucapkannya tidak terdengar. Aku menyukai nama baruku, pemberian Budiman.

“Pedas?”

“Sedang saja.”

Ia menghilang ke dapur, meninggalkanku di ruang tamu mungil rumah kontrakannya. Tak berapa lama ia kembali membawa dua mangkuk kecil mie rebus buatannya.

“Ini special buatmu..” ia tertawa. “Kamu pasti ketagihan makan mie buatanku, dan selalu kangen…”

“Ge-er ah!” aku mencibir. Ia masih tertawa. Dan aku menyukai tawanya.

“Asin?” ia bertanya saat aku mulai menikmati mie rebusku.

“Hm…, sedikit.”

“Kalau asin…, itu tandanya aku sudah kebelet kawin…!” Budiman menyodorkan kecap manis. Matanya menatapku jenaka. Aku tertawa.

“Memangnya kamu sudah ada calon?”

Ia terbatuk. Agaknya disengaja.

“Begitulah. Aku mencintainya. Amat sangat.”

Ah!

Artinya aku harus patah hati dengan jawabannya barusan. Budiman telah mengakui, bahwa dirinya telah ada yang memiliki. Gadis Jawa pasti telah menantinya, mengikatnya dalam cinta setia.

*   *   *

Tuwit…tuwit…tuwit…

Ruri sayang, bercintalah denganku. Aku mempunyai gaya baru yang pasti asyik. Mhhh…, gimana?

Sms Profesor Diaz, ahli sejarah. Pria beristri bule yang mempunyai keisengan luar biasa tanpa batas. Gaya bahasanya kalau meng-sms, selalu berbau porno. Aku tak pernah menanggapi. Usianya baru tigapuluh lima tahun, cukup muda untuk menyandang gelar professor. Suka dugem, energik, berduit, good looking. Perempuan manapun pasti suka berada didekatnya. Jauh dari gambaran profesor-profesor dulu yang selalu berkaca mata tebal, botak dan kutu buku. Beberapa kali ia merayuku untuk bisa berkencan, dan berkali-kali pula kutolak. Dasar profesor sableng, semakin aku menolak, semakin bersemangat ia ingin menikahiku.

Kalaulah seorang budiman yang wartawan itu yang mengajak menikah, hm, aku tak akan menolaknya. Tapi…, ah! Ia telah memiliki seorang kekasih, dan siap melamarnya! Aku tak berhak mengganggu kebahagiaan insane yang berbahagia, dan aku tak berhak menawarkan cinta terlebih dahulu.

“Cinta itu perlu diperjuangkan, Rur. Pengecut sekali jika kamu mundur sebelum mencoba.” Nike, sahabatku sejak di SMU mentertawakanku ketika kukatakan aku telah patah hati pada seorang Budiman.

“Usianya lebih muda tujuh tahun dariku.” Aku berucap malas. “Ia telah memiliki kekasih dan akan menikah.”

“Lalu?”

“Aib sekali menjalin cinta dengan lelaki yang usianya di bawahku, dan ternista jika aku menyakiti perempuan lain dengan merebut kekasihnya.”

Nike terbahak. “Dan membiarkan perasaanmu sendiri sakit? Oh God! Sahabatku sekarang sudah menjadi lilin, rela hancur demi menerangi orang!” Aku membiarkan Nike terbahak.

“Seberapa besar cinta kamu padanya?” Nike menyimpan senyumnya.

“Seluas laut dan cakrawala.”

“Gila! Kamu benar-benar jatuh cinta, Rur?” Mata bulat Nike membelalak.

Aku mengangguk, ada kesalahan dikalbuku. Kontradiksi. Ingkar atau sakit selamanya? Ah, mengapa sampai separah ini? Bukannya cinta dapat menguap suatu saat? Tetapi, aku perempuan yang tak gampang jatuh cinta! Jika selama ini aku memilih masih sendiri diusia tigapuluh tahun, ada alas an yang tak dapat aku jelaskan pada semua orang. Hanya mama yang paham dan tahu persis mengapa aku takut jatuh cinta dan menikah. Papa yang tega menghianati mama, menelantarkan kami dengan bahagia bersama istri mudanya. Ah, aku tak bisa lupa, mama yang sering dipukul, di bentak, dilecehkan, hingga akhirnya masuk rumah sakit ketika papa memutuskan kawin dengan wanita lain.

Aku trauma, dan menganggap semua laki-laki berhak menyakiti wanita, ketika telah menjadi istrinya.

Aku tak ingin menikah. Toh tak ada undang-undang yang melarang perempuan untuk tidak menikah. Toh aku berhak untuk mengatur hidup dan diriku sendiri. Toh tanpa lelaki aku bisa hidup senang dengan penghasilan besar, bisa bersedekah, memberi rezki pada orang-orang yang memerlukan, menggaji karyawan di cafeku, memimpin rapat diruang ber-ac di sebuah penginapan sederhana milikku, menyekolahkan anak asuhku…, apa yang kurang? Rasanya memang tidak memerlukan lelaki!

Tetapi, Budiman datang dengan mengetuk hatiku, bahwa cinta itu memang ada, dan aku bergetar karenanya. Ketika senja dating, ada senyumnya yang membayang, dan ketika pagi menjelang ada tawanya yang renyah, membawaku untuk menyunggingkan senyum tanpa sadar. Aku selalu kangen dengan kalimatnya yang spontan, kangen dengan lafal ‘r’ nya yang cadel, kangen dengan mie rebusnya…

“Cinta adalah berkah, Ruri. Merebut cinta dari seseorang memang kejam. Tetapi membiarkan cinta dengan mengingkarinya dan membuatmu menderita juga kejam. Keputusan ada dihatimu.” Nike menghela nafas serius.

“Dengar Ruri, cinta tak pernah di batasi kasta. Apalagi usia. Menawarkan cinta lebih dahulu, bukanlah suatu dosa. Jangan menyiksa diri hanya karena trauma masa lalu.” Nike menyambung.

Ketika senja menyapu cakrawala, aku tercenung disejadah. Ada wajah papa dan Budiman bergantian. Aku menggigil. Tamparan papa yang keras membuat mama tersungkur, jeritan mama, bentakan papa, mama yang rubuh tiba-tiba…,Ah! Lalu muncul wajah Budiman yang menyejukkan, yang sanggup membuatku tertawa lepas, mampu membuatku tertawa lepas, mampu membuatku merasa perlu dilindungi, dihargai…, mendekapku dalam kehangatan lelaki yang tak pernah kurasakan…!

Dan malam bergulir dalam hitungan bulan.

Budiman yang kukenal saat menghadiri lounching suatu produk di Mesra Hotel Internasional, semakin menjeratku dalam pesonanya. Kesederhanaannya justru membuatku selalu ingin bersamanya. Dan malam ini ia berjanji akan membuatkanku mie rebus lagi, seraya memperkenalkan seorang wanita yang ada dihatinya. Jujur, aku terluka. Sakit. Barangkali sudah ditakdirkan, lelaki acap kali menyakiti hati wanita.

Pukul delapan malam. Tiga puluh menit sudah Budiman terlambat. Aku mulai gelisah. Barangkali ia telah lupa, sebab wanita yang dicintainya ada bersamanya. Kalimantan dan Jawa mampu membuat keduanya lupa akan janji, terlena dalam kerinduan yang lama terpendam. Setahun, bukan waktu yang singkat untuk meniti cinta yang dipisahkan laut. Betapa aku cemburu! Tetapi…, aku tak berhak. Budiman bukan kekasihku. Bukan. Tak pernah ada pernyataan. Terlalu berlebihan jika aku banyak berharap!

Bel menjerit. Jantungku berdebar. Seorang wanita cantik setengah baya berdiri di depan pintu bersama Budiman. Wanita itu tersenyum. Ramah. God! Selera Budiman boleh juga. Tetapi…, heh, apakah Budiman penyuka perempuan dewasa? Inikah wanita beruntung itu?

“Boleh kami masuk?” Budiman menyadarkanku.

“Oh, ya, tentu saja. Masuklah, ayo Mbak..” aku tersenyum membujuk hatiku agar tidak cemburu. Mencoba Familiar.

“Hei, jangan panggil calon mertuamu Mbak, dong. Nanti kualat…” Budiman tertawa lepas. “Ibiu ingin berkenalan denganmu, sebelum melamar. Engkau cinta padaku,kan?”

Aku ternganga. Surprise apalagi, ini Bud?

“Ibu, ini Uwi yang sering aku ceritakan. Cantik?”

Wanita separuh baya itu tersenyum menyalamiku, memelukku dalam hangat seorang ibu.

“Budiman selalu bercerita tentang kamu. Semuanya. Bersediakah engkau menikah dengan anakku, Uwi?” perempuan itu menatapku dengan kasih.

“Ibu, bukannya Budi sudah memiliki kekasih…?” aku terbata dalam keterkejutan luar biasa.

“Hanya ada dua wanita yang aku kasihi, Uwi. Ibuku dan engkau.” Budiman berucap lembut. Aku ternganga dengan mata mengaca. Sesaat kemudian aku ingin menjerit sekuat tenaga, bahwa aku memang memerlukan seorang pria untuk meniti waktu, menjalani hari-hati tanpa kegelisahan. Aku tak perduli dengan janjiku. Aku telah mengingkarinya. Ya aku telah ingkar. Tapi, apakah itu salah?*

Kony Fahran

Tamasya Batin

 :: KONY FAHRAN

(INDONESIA – Kalimantan Timur)

Gambar

SEHARI, sepekan, sebulan berlalu bukannya menambah usia, tetapi terus berkurang. Pengurangan itu siapa pun tak mampu melawan. Waktu kian hari kian terbungkuk.

Begitu juga dengan Gandrik. Sejak usia berkepala empat, Gandrik yang memiliki sapaan Juragan kerap bermenung diri. Seperti  malam itu dia termenung di bawah pohon jambu halaman rumah. Di tangannya menimang-nimang sebilah pisau tajam. Bentuk pisau itu menyerupai pisau pemotong daging yang kerap dipakai para penjual daging di pasar rakyat. Tubuh pisau mengkilap.

Di perjalanan malam, arloji melingkar di pergelangan tangan Gadrik menunjukkan pukul 23.00. Sepi di sekeliling. Sepi yang membawa keberbenungan Gandrik kian dalam. Di sekeliling hanya suara hewan malam terdengar. Jengkrek bersenandung dengan bahasanya. Belalang meningkahi. Seolah bersahutan dalam zikir. Angin turut membewa kelana Gandrik. Kelena dalam rangkaian tamasya jiwa seorang Gandrik sang juragan besar.

Angin malam berhembus pelan. Dingin.

Pisau ditimang-timang Gandrik, kini erat dalam genggaman tangan kanan. Lelaki itu mendengus setelah menghela napas berkali-kali. Meludah ke sembarang arah.

Setelah sekian lama bermenung,  ibu jari tangan kiri ia tempel di batang pohon jambu. Ibu jari itu ia sayat dengan pisau. Seketika ibu jari putus. Darah mengucur. Gandrik tanpa meringis sedikit pun membalut luka dengan sobekan kain yang sedari tadi ia siapkan.

***

SETELAH itu. Gandrik masih saja suka bermenung diri di tempat sama. Di bawah pohon tergeletak setumpuk paku dan sebuah palu. Kedua benda itu dingin membisu.

Di usia berkepala empat lelaki itu seperti diburu penyesalan teramat dalam atas kezaliman diri yang merenggut pencerahan dan semata hanya ditutupi oleh jerami-jerami nista. Dinding-dinding penyesalan itu,  menampakkan banyak tulisan sesal. Bahkan uraian sesal itu seolah memenuhi seluruh dinding dalam pikiran Gandrik.

“Jemari tangan ini…,” keluh Gandrik. “Sudah terlalu banyak, bahkan sangat banyak meraup keburukan dunia,” usai berkata dengan nada menghujat seperti itu, Gandrik kembali menempelkan telapak tangan kiri dan membacokkan pisau yang sama sekuatnya ke telapak tangan.  Seketika telapak tangan  putus.  Tentu saja darah mengucur.

Dinding-dinding penyesalan itu melebar menyisakan ruang yang belum bertuliskan sesal. Ketika pikiran Gandrik menyerbu sisi ruang di dinding yang kosong. Dalam sekejap, sisi kosong itu terisi tulisan ribuan sesal yang baru. Kepingan-kepingannya seperti emping belinjo berjamur. Sesal itu berjamur, berkarat menempel di mana-mana. Gandrik bergidik. Tamasya jiwa itu hendak menyudahi tamasyanya. Namun tangan menahan.

“Tangan ini terlalu banyak memikul dosa,” hujat Gandrik kemudian.

Sisa tangan yang sudah tidak bertelapak itu ia tempelkan di batang pohon jambu. beberepa detik tangan dibiarkan menempel di situ. Selanjutnya tangan  dia tebas lagi hingga sebatas siku. Sekali tebas, lengan putus. Menggelinding ke bawah pohon jambu berdaun rindang yang tinggi pohonnya melebihi atap rumah. Pohon jambu air itu di tanam Gandrik di sisi halaman kanan rumahnya ketika dia berusia 20 tahun. Setiap tahun berbuah.

Dinding penyesalan kembali melebar. Ada lagi sisi ruang kosong. Kekosongan itu membuka diri. Penuh dan memampangkan terbuka. Sunyi di sekeliling. Tamasya jiwa lelaki itu melangkah. Kaki Gandrik terasa berat. Dia sepertinya dihadapkan pada kelelahan.

“Kaki…!”

“Kaki ini terlalu sering melangkah dalam kekeliruan. Beban dosanya terlalu berat hingga tak kuat menyangga berat tubuh,” lelaki itu menghujat kepada kedua kaki.

“Kaki yang gemar menginjak lembah-lembah dosa!”

Ada semacam bisikan di tengah perjalanan tamasya batin Gandrik. Bisikan itu memberi perintah agar lelaki itu  melunjurkan kedua kaki. Setelah melucuti celana panjang. Kemauan bisikan itu dia turuti. Setelahnya. Kedua kaki itu pun ia tebas. Masing-masing kaki putus jadi tiga bagian. tebasan pertama sebatas mata kaki, tebasan kedua sebatas dengkol dan ketiga sebatas pangkal paha. Tamasya jiwa itu berdarah-darah.

Kini pria dengan usia kepala empat itu tidak berkaki dan tidak bertangan kiri.

Lelaki berdarah-darah itu melucuti semua pakaian. Telanjang sepenuhnya. Sukmanya pun ia telanjangi dalam pelototan purnama dan belai angin. Suara jengkrek dan belalang saling tingkah. Di kejauhan, lolong anjing memanjang seolah memandu tamasya seperitual Gandrik.

Di sekeliling sunyi. Malam terus merambat. Purnama tepat di ubun-ubun. Dalam terang bulan, pandangan lelaki itu hinggap pada kemaluan yang sudah tertelanjangi.

“Kemaluan tak tahu diri tak tahu malu,” hujat lelaki itu.

“Birahi sangat gampang menundukkan kemaluan.”

“Kemaluan  selalu menurutkan hawa nafsu!”

“Jinah tak terkendali!”

“Dosa berlipat-lipat telah melumuri kemaluan!”

“Tebas…!”

Gandrik secara spotanitas kenempelkan batang kemaluan di atas batu. Kemudian tanpa ragu menebas benda yang terdiri dari tulang rawan  berdaging yang bisa mengendur dan bisa mengencang. Kejantanan Gandrik itu pun putus. Dia melempar benda putus itu ke sembarang arah. Kebetulan jatuhnya di hadapan anjing yang berkeliaran malam. Tapi aneh, setelah membaui sesaat, anjing itu tidak menerkam batang kemaluan yang berdarah dengan taring giginya. Malah anjing lari terbirit-birit tanpa suara. Anjing hilang ditelan malam.

Tamasya jiwa itu terasa meliar. Lebih liar dari anjing liar.

Sunyi di sekeliling kian menebal. Bahkan di tengah malam itu angin seolah enggan berhembus. Purnama beringsut ke balik awan. Suara jengkrek dan belalang di balik rimbun perdu mengendur. Tingkah suaranya bagai rintihan.

Dinding-dinding penyesalan melebar menyisakan sudut kosong. Entah kekuatan apa  yang membuat sudut kosong itu menghadirkan warna dalam gelap. Warna itu didominasi merah darah. Tapi jelas, lelaki berdarah itu mampu mengeja aksara yang tercantum di sela-sela warna tersebut. Aksara itu menghadirkan kata: lidah.

Lidah yang sedari tadi menghadirkan terjemahan-terjemahan sesal tak berkesudahan.

“Ya, lidah.”

“Kenapa dengan lidah? Ada apa pada lidah? Adakah lidah pernah berhenti mengucap penilaian-penilaian di sepanjang perjalanan tamasya jiwa saat ini? Lidah…”

“Lapalan lidah selalu mengarah pada keburukan.”

“Uraian-uraian fitnah banyak dilapalkan lidah. Lidah  sangat akrab dengan dosa. Dosa pengucapannya menempel tak terhapus.”

“Julurkan lidah!”

Gandrik menjulurkan lidah semampunya. Dengan cekatan, lidah terjulur itu ia pakukan pada batang pohon jambu. Setelah terpaku kuat, ia menarik lidah dengan memundurkan kepala.  Lidah terpaku sedikit memanjang. Setelah itu ia sayat lidah dengan mata pisau. Hanya butuh waktu beberepa detik, lidah yang sering berucap itu putus. Darah segar langsung muncrat dari mulut Gandrik yang kerap kali dilewati minuman memabukkan dan makanan-makanan yang sumbernya dari ketakpedulian soal haram.

Setelah lidah putus. Sedikit pun lelaki itu tidak merintih atau mengaduh.

Malam itu, dalam tamasya jiwa Gandrik membawa tubuh terguling. Tubuh yang sedikit agak tambun itu terjerembab ke tanah. Diam dan bisu.

Dalam posisis telentang, Gandrik memandang bulan yang kembali menyembul dari balik awan. Setelah puas memandangi purnama penuh, lelaki itu memejamkan mata sesaat. Tamasya jiwa itu pun menggandeng batin. Batin pula menghadirkan terjemahan ke mata.

“Mata,” desis lelaki itu.

“Ada apa dengan mata?”

“Kedua biji mata amat sering menyaksikan hamburan-hamburan aurat…”

Belum lagi selesai kalimat itu. Gandrik mengambil paku menusukkan paku ke bola mata dan secepatnya memalu paku-paku itu hingga melesat ke dalam kedua biji mata.

Darah sudah begitu banyak keluar dari tubuh Gandrik. Luka-luka di tubuh itu seolah menjadi rambu penunjuk jalan tamasya jiwa dan batin.

Purnama di langit meredup tertutup awan hitam. Gandrik merasa dirinya sudah menumpas habis napsu-napsu yang ada di tubuh.

Dalam kebutaannya itu, dia teringat dengan kening yang jarang sekali menunduk. Lebih-lebih sujud. Ingat itu, Gandrik menancapkan mata pisau tepat di kening. Hampir setengah mata pisau amblas menembus sampai ke temperung kepala.

Lelaki itu bangkit dari sujud terakhirnya disepertigamalam. Ia usapkan kedua telapak tangan ke wajah. Pikiran yang mengembara dalam tamasya jiwa dan batin tadi ia kembalikan se-utuhnya. Sesempurna-purnanya menyusupkan irama satir bagi segenap sendi-sendi yang ada di tubuh.

Ada suara tangis di kamar sebelah. Suara tangis putra terkecilnya. Ada suara istrinya yang mencoba membujuk si kecil. Kesadaran Gandrik kembali penuh setelah jiwanya terbawa ke alam tamasya batin dalam gandengan yang maha putih berbalutkan pencerahan.

Jiwa pun menyelusup dalam alam sadar. Gandrik kembali ke dunia fakta.**

Samarinda-Banjarmasin Ok,2010.

======================================

KONY FAHRAN, kelahiran Banjarmasin – Kalsel kini bermukim di Kaltim mulai gemar menulis sejak 1984. Tulisan cerber, cerpen dan puisi di tahun 80-an hingga 90-an kerap dimuat di Suara Pembaruan, Sinar Pagi, Majalah Gadis, Majalah Putri Indonesia,Panjimas dan lainnya. Kini  aktif memperkuat B Magazine, sebuah majalah berita mingguan terbit di Kaltim, berkantor pusat di Jalan Kadrie Oening No 71 RT 32 Air Putih – Samarinda. HP dapat dihubungi, 081350554796.

=======================================

Gambar

Aminah Sjoekoer di Kapal Nederland

:: akhmad zailani
(INDONESIA)
AKU membisu di buritan kapal.  Mataku yang biru memandang letih ke muara Mahakam. Kapal  melewati bekas lokasi peristiwa perampasan kapal Belgia “De Charles” saat panglima perang Awang Long bersama pasukan kerajaan Koetai mengejar sisa pasukan Inggris di bawah pimpinan James Erkine Murray tahun 1844 lalu.
Kapal bergerak pelan, menuju laut lepas. Makin menjauh meninggalkan muara Mahakam. Dengus mesin kapal nederland itu seperti musik pesta dansa bangsawan semalam. Borneo-Amsterdam memang bukanlah jarak yang dekat. Setelah meninggalkan Borneo, kapal yang juga membawa lada, karet, rotan, tengkawang ini akan mampir ke sejumlah pelabuhan, termasuk pelabuhan Sunda Kelapa di Batavia. Tiba di Batavia, aku akan istirahat beberapa hari di Hotel der Nederlanden di Rijswijk  tempat aku menginap sebelum ke 0ast Borneo.
Sebenarnya, aku belum ingin meninggalkan kampung di pinggiran Mahakam yang termasuk dalam wilayah Kerajaan Koetai. Masyarakat menyebutnya kampung Samarinda. Masih banyak yang perlu ingin aku ketahui. Terutama tentang seorang gadis indo-nederland.
Kedatanganku yang pertama 5 tahun yang lalu. Di tahun 1923 bertepatan dengan pendirian Holands Inlandche School (HIS), sekolah swasta yang pertama di Samarinda. Hanya sempat menetap 1 bulan 4 hari, aku balik lagi ke Batavia.
Di awal tahun 1928, aku ke Samarinda untuk yang kedua kalinya. Residen J. De Haan, yang baru saja menggantikan C.J Van Kempen sebagai residen di Banjarmasin yang mengajakku. Aku masih bertahan di Samarinda ketika residen De Han kembali ke Banjarmasin, wilayah di selatan Borneo yang direncanakan bakal menjadi ibukota provinsi Borneo.
Aku sudah lebih dari 2 bulan di Samarinda. Alasan utamaku bertahan karena ada seorang wanita keturanan Indo Nederland yang menarik perhatianku. Sayangnya, koran Zandvoor tempatku bekerja sebagai pembantu wartawan meminta kembali ke Nederland. Apalagi kalau bukan untuk membantu liputan olimpiade musim panas ke 9 di Amsterdam-Nederland tahun 1928 ini. Padahal di tahun  ini juga,  insting wartawanku sudah mencium adanya rencana penting tentang pertemuan besar para pemuda dari berbagai wilayah Hindia Belanda di Batavia.
Oast Borneo sudah hilang dari pandanganku. Aku masih berdiri di buritan kapal. Burung-burung terbang rendah. Melayang rendah sekali. Mencium air laut lalu terbang tinggi. Menjauh.
“Kenapa kau diam?” tanyaku kepada wanita Indo-Nederland itu tanpa memandang wajahnya. Aku mengalihkan mata ke awan yang bergerak pelan membentuk dirinya. Aku menatap ikan-ikan berenang seperti menyeret gelombang. Angin berhembus pelan, tetapi terasa sekali menyapa dan memeluk tubuhku.
“Bicaralah,”  suaraku lagi. “Bicaralah tentang cita-citamu. Aku ingin sekali mendengar suaramu yang lembut”.
Ia diam.
Suara decak air bersama dengus kapal kian terasa.
“Ah, mungkin kau lagi malas berbicara,” kataku lagi.
Tapi ia tetap diam. Membisu. Ia terkadang keterlaluan, dengan membiarkan aku berbicara sendirian.
Aku memandang ke langit biru. Awan-awan tampak bergerak pelan. Aku melihat di awan-awan  yang putih dan bergumpal-gumpal  itu tergambar wajahnya yang bersih.
Kubayangkan ia tersenyum padaku, dengan bibirnya yang tipis. Rambutnya yang panjang kekuning-kuningan berkibar-kibar sehabis berkeramas dengan fajar yang indah.
 ‘’Bicaralah, walaupun sepatah dua patah kata,’’ aku memelas.
Ya, ampun. Kenapa jadi begini? Tuhan buatlah suasana yang lain.
Ia terus membisu.
Sedangkan angin laut Sulawesi terus saja menampar wajahku, berusaha menyadarkan.
Aku hanya bisa menghela napas putus asa. Ah, tidak! Aku tidak putus asa. Aku hanya mendesah. Aku akan terus berusaha mengajaknya berbicara tentang apa saja. Aku lalu menatap wajahnya. Ada keinginan yang mendesak untuk berbincang dengannya.
***
“Panggil saja aku Aminah Sjoekoer,’’ katanya suatu hari kepadaku. Bagi warga boemi poetera pinggiran Sungai Mahakam, wanita Indo-Nederland ini lebih dikenal dengan nama Atje Voorstad. Voorstad dalam bahasa Indonesia berarti pinggiran. Aku menduga tambahan  voorstad di belakang nama Atje itu  sudah berbicara; sekalipun dia wanita keturunan Nederland, namun dia mau bergaul dengan masyarakat pribumi.
Aku mengenalnya pertama kali saat acara peresmian HIS swasta yang kemudian diambil alih pemerintah Hindia Belanda untuk menjadi sekolah negeri. Aku rasa bukan karena sama-sama keturunan Nederland kami cepat akrab. Atje atau Aminah orangnya memang ramah. Dia bersedia bergaul dengan siapa.
Sejujurnya, aku ingin sekali mengajak dia ke Nederland. “Apakah kamu tak punya keinginan untuk kembali ke Nederland?” tanyaku, setelah bincang-bincang agak lama saat perkenalan pertama.
 “Aku lebih suka di sini, di Samarinda. Aku ingin mewujudkan cita-citaku. Aku di sini ingin membangun sekolah khusus wanita,” jawabnya.
Keinginan yang bagus. Dan pasti banyak halangan. Karena mendirikan sekolah untuk pribumi saja sulit, apalagi sekolah khusus untuk wanita pribumi. Selain rumit berurusan dengan pemerintah Hindia Belanda, juga dengan masyarakat boemipoetera yang masih menempatkan kaum wanita sebagai bagian masyarakat kelas dua, yang menganggap wanita belum perlu mendapatkan pendidikan yang layak. Percuma wanita bersekolah, toh nanti kembali ke dapur juga, begitu umumnya anggapan warga pribumi. Tapi tidak bagi Aminah.  Baru sekali bertemu aku sudah bisa menyimpulkan, wanita bertubuh tinggi ramping berkulit putih ini memiliki tekad yang kuat.
‘’Aku akan berusaha dengan segala cara agar wanita pribumi bisa mengikuti pendidikan sejajar dengan laki-laki. Aku akan mendirikan sekolah untuk kaum wanita,’’ katanya di lain hari saat kami berjalan-jalan kaki di chineescheveer straat.
Aku mendukungnya. Sekalipun dalam sebuah pembicaraan, residen J. De Haan sempat meremahkannya. “Waarom zou die persoon het opzetten van een speciale school voor autochtone vrouwen. Wat een verspilling van tijd en geld … (Buat apa itu orang mendirikan sekolah khusus untuk perempuan pribumi. Buang-buang waktu dan uang)’’ residen J. De Haan tersenyum sinis kepadaku.
Semangat mendirikan sekolah kembali aku lihat, ketika dia mengajakku berjalan-jalan di kampung Bandjar, sekitar China voorstraat, Sultan weg, Herengracht straat dan smokke straat.  Kami menemui beberapa tokoh pendidikan pribumi Samarinda, yang ternyata juga sangat mendukung dirinya. Mereka di antaranya Masdar dan M Yacob, di antara tokoh yang ikut memperjuangkan berdirinya HIS partikelir pertama di Samarinda. Juga ada Kasirun yang menjadi guru negeri di HIS. Aminah memperkenalkanku. “Ini Meneer Ivan Van Mannen Zijn Niet Echt seorang jurnalis dari Nederland,’’ katanya menyebut lengkap namaku.
Cukup lama juga kami berbincang dengan tokoh-tokoh cendikiawan pribumi. Pemikiran-pemikiran mereka cukup cemerlang.
“Sebagai orang asli pribumi kami malu sekaligus bangga dengan anda. Perhatian anda terhadap pendidikan masyarakat pribumi memotivasi kami untuk lebih bekerja keras lagi,’’ kata Kasirun.
Di kampung Bandjar itu pula lah kami berkenalan dengan Arbayah, gadis berusia 14 tahun, yang memiliki keinginan kuat untuk bersekolah. Ayahnya bernama Abdullah, pekerja biasa di NV Handel Maatshappi Borneo Samarinda (HBS).
“Abah tidak setuju kalau saya bersekolah. Ujar Abah apa untungnya. Nanti setelah kawin mengurusi dapur juga,’’ kata Arbayah.
“ Bersekolah itu pintar. Lelaki dan perempuan sama saja haknya untuk menjadi pintar,’’ kata Aminah.
 Selain bertemu Arbayah, kami juga bertemu dengan beberapa anak, dan orang tua mereka. Bagiku, pertemuan yang berkesan hanya saat bersama Arbayah. Badan gadis berkulit putih ini bonsor. Sama seperti anak-anak lainnya. Dia cukup cantik, tapi sayangnya dia buta huruf.
“Aku ingin sekali bisa membaca dan menulis,’’ kata Arbayah.
Arbayah sering mengunjungi rumah Aminah. Aku juga menjadi akrab dengannya. Perbedaan usia  bukan penghalang bagi kami. Semakin kenal dengan Aminah, aku jadi semakin suka bergaul dengan orang boemi poetera atau pribumi. Terutama Arbayah, gadis bongsor berkulit putih.  Dia pernah menyampaikan kepadaku, teman-teman gadis seusia dia sudah banyak yang menikah.
‘’Ini sapu tangan kenang-kenangan untuk meneer,’’ kata Arbayah ketika kebetulan aku bertemu kembali dengannya di depan penginapan Nam Yang, tempatku menginap di Chinavoor Straat.
“ Terima kasih,’’ kataku. Arbayah tersenyum, kepalnya kembalinya menunduk. Dia membalikan badannya, dan pergi.
“Arbayah …,’’ suaraku memanggilnya ketika sudah sekitar tujuh langkah dia pergi.
Arbayah berbalik.
Aku mendekatinya. “ Ini pen dari ku”. Spontan kuambil pen dari kantongku.
Arbayah tersenyum. “ Terima kasih meneer,’’ Arbayah lantas pergi.
Tak ada pembicaraan lama ketika itu. Aku memperhatikan, ketika gadis muda itu menghilang di tikungan jalan. Sapu tangan berwarna pink, yang bersulam bunga dari benang merah itu kumasukkan ke dalam saku di samping kiri kemeja putihku.
Meneer Ivan Van Mannen Zijn Niet Echt…,’’ kudengar suara Tan Ko Tjai di belakang. “Gadis pribumi yang cantik … cocok untuk meneer yang masih muda,’’ pedagang rotan itu ketawa. Matanya yang sipit hampir tertutup.
Aku hanya tersenyum. Tak bisa berkata.
 “ Hari ini apa kegiatan meneer?’’ tanya Tan Ko Tjai.
“ Aku nanti mau ketemu Atje voorstad dan beberapa orang pergerakan”.
“Wah aktivis pendidikan  perempuan indo Nederland itu, meneer’’.
‘’Iya, perempuan cantik yang ingin mendirikan sekolah untuk wanita pribumi”.
Tak sampai 30 menit aku berbicara dengan Tan Ko Tjai, tentang Aminah, tentang orang-orang pers, tentang akan berdirinya sejumlah organisasi pergerakan di Samarinda. Tan Ko Tjai cukup terbuka dan berani. Tan Ko Tjai kenalan lamaku. Aku mengenalnya saat di Batavia.
“Ok, meneer saya mau ke Paal Arang dulu. Ada urusan di sana,’’ Tan Ko Tjai permisi, dan kami berjabatan tangan. “Jangan terlalu banyak dipikirkan, meneer … dan hati-hati meneer,’’ candanya lagi sambil bergegas berjalan.
Hari masih pagi. Aku berjanji bertemu Aminah di gedung Sjarikat Islam.  Saat aku tiba, dia sedang berbicara dengan seorang lelaki.
“Ini wartawan yang saya bicarakan tadi … “ dia berdiri seraya menjabat tanganku.
 Begitupula lelaki itu. Di tangan kirinya aku lihat sepertinya koran lokal, bertulis “Persatoen”. “Sayuti Lubis,” dia menyebut namanya.
“Jangan khawatir …,’’ Aminah tersenyum ke arah Sayuti Lubis. Giginya yang putih bersih nampak terlihat.
Selain berbicara tentang rencana pendirian sekolah khusus kaum wanita, sesekali kami juga berbincang tentang koran dan seputarnya. Enak juga mengobrol dengan lelaki asal Tapanuli ini. Bicaranya bersemangat. Wawasannya luas. Tak peduli dia, sekalipun kami saling kenal. Mungkin, dia percaya sama aku, sama percayanya dengan Aminah, yang telah dikenalnya sejak lama.
Menjelang sore, aku mengantar Aminah pulang. Disepanjang jalan dia bercerita, bukan hanya tentang abahnya Arbayah saja yang masih tak enggan anaknya bersekolah, tapi juga orang tua dari Hadijah, Sabariah, Sumi, Zaenab dan anak-anak kampung lainnya. Dari cerita Aminah aku masih bisa menangkap optimis, cita-citanya untuk mensejajarkan kaum wanita agar memperoleh pendidikan yang sama dengan laki-laki akan bisa diwujudkan.
Aku juga menceritakan tentang pesan Residen J. De Haan yang disampaikan kurirnya untuk tak bergaul terlalu akrab dengan orang pribumi, termasuk dengan dirinya. Peringatan De Haan itu tentu saja kubiarkan. Bergaul dengan siapa saja itu adalah urusanku. Sekalipun beresiko.
***
MATAHARI hampir tengelam di laut. Cahayanya mulai pudar.
Kulihat awan putih berpedar-pedar dalam senja. Bermain-main bersama angin. Berkejar-kejaran.
Kapal terus melaju. Dengusnya masih terdengar, bersama riak gelombang. Aku sendirian. Tidak ada Aminah Sjoekoer atau Atje Voorstad. Sekalipun angin menyapaku, menegurku untuk memunculkan bayang Aminah Sjoekoer di benakku, sekalipun laut melambai-lambai membuka pikiranku tentang Atje Voorstad, aku masih tetap sendirian.
Yang tersisa di kantongku hanyalah sapu tangan berwarna putih, yang di ujungnya ada gambar pen bersulam benang warna kuning emas. Ya, pen kuning emas bukan sapu tangan berwarna pink, yang bersulam bunga dari benang merah. Sapu tangan bergambar bunga merah milik Arbayah sengaja aku tinggal di ranjang kamar sebelum aku meninggalkan penginapan Nam Yang. Sapu tangan itu kutinggal  setelah aku mengetahui Arbayah dinikahkan minggu depan. Di  ranjang itu pula aku meninggalkan noda merah dari kesucian Arbayah.  Sekalipun sapu tangan bunga dan noda berwarna merah  aku tinggalkan, namun aku tak bisa melupakan Arbayah, sepanjang hidupku terutama perbuatan terlarang yang kami lakukan pertama kali di kamar penginapan Nam Yang.
  Sekalipun Arbayah tak diperbolehkan sekolah dan dinikahkan abahnya, pada akhirnya, cita-cita Aminah Sjoekoer telah terwujud. Neisjes School, sekolah untuk kaum wanita akan berdiri di Samarinda. Aku mendengarnya sebelum berangkat naik kapal.
“Maaf aku belum bisa ikut ke Nederland. Mendirikan sekolah bukan berarti tugasku sudah selesai. Tugas selanjutnya akan lebih berat …,’’ suaranya ketika mengantarku di pelabuhan.
Aku hanya tersenyum. Menjabat tangan kanannya. Ketika kapal nederland yang kutumpangi menjauh meninggalkan Samarinda, dia melambai-lambaikan tangan kanannya. Jujur, aku belum begitu mengenalnya. Aku hanya memiliki sapu tangannya yang berwarna putih bergambar pen dari benang kuning emas. Apakah kalian sangat mengenalnya?
Kapal pun terus melaju. Membelah gelombang. Dengusnya masih terasa. Awan-awan yang bergumpal-gumpal membentuk dirinya sudah tak ada lagi.  Kukira  sebentar lagi malam yang membawa mimpi akan datang. ***
Catatan
–          Awang Long =panglima angkatan perang sepangan Kerajaan Koetai, yang bergelar Panglima Ario Senopati. Senopati yang bersama pasukannya berhasil mengalahkan pasukan Murray.  Awang Long tewas ketika pertempuran hebat melawan  armada perang lengkap Belanda di bawah pimpinan Letnan Laut T’Hoof.
–          James Erkine Murray =  Ingin seperti James Brooke yang berhasil mendirikan kerajan di Brunai. Februari 1844 JE Murray membawa 2 kapal perang, yakni “Young Queen” yang dikemudikan Kapitan  Hart dan Kapal Perusak “Anna” dengan Nahkoda Lewis. Memasuki  wilayah Kutai, dengan mengatakan ingin menjadi raja.  Murray meminta izin Sultan Salehuddin untuk membuka kantor  perwakilan dagang di Tenggarong dan meminta monopoli perdagangan. Sultan meminta buka di Samarinda saja. Murray mengancam. Sultan melawan. Akhirnya terjadi peperangan.  Murray akhirnya tewas.
–          Rijswijk = kawasan Jalan veteran Jakarta. Di kawasan ini dulu ada Hotel der Nederlanden, kini menjadi gedung Bina Graha Jakarta.
–          J. De Haan = residen Belanda di Banjarmasin menggantikan Van Kempen,  menjabat mulai tahun 1924-1929
–          C.J Van Kempen = residen Belanda di Banjarmasin tahun 1924.
–          Meneer = tuan
–          Abah =bahasa Banjar, artinya ayah
–          Chineescheveer straat = jalan di pusat kota di pinggir Sungai Mahakam. Dari Karang Mumus hingga Sungai Karang Asam Besar.  Perkampungan China di Jalan Pelabuhan dan di sekitar Kampung Karang Mumus.
–          Kampung Bandjar = berada di  wilayah utara Wilhelmina Laan, yang membujur dari selatan ke utara atau sepanjang Karang Mumus Straat dan Bandjar Straat.
–          Kasirun =seorang guru di HIS milik Hindia Belanda, yang kemudian memilih menjadi kepala sekolah Neutrale School,  karena memiiki kebebasan menanamkan jiwa kebangsaan kepada anak didiknya.
–          NV Handel Maatshappi Borneo Samarinda (HBS) = perusahaan perdagangan  ekspor-impor yang didirikan pedagang-pedagang suku Banjar. Perkampungannya dinamakan kampung HBS, yang letaknya di sekitar BRI sekarang. Persekutuan dagang ini selain menyaingi pengusaha-pengusaha dagang Belanda dan China, tokoh-tokohnya juga bergerak di bidang pergerakan kemerdekaan dan da’wah Islam.
–          Penginapan Nam Yang = terletak di perkampungan China, sekarang di sekitar Jalan Pelabuhan. Di dekat penginapan Nam Yang ada pula penginapan Swan Yang.
–          Paal Arang = Seperti kata Samarinda, berasal dari bahasa Banjar Samarendah kemudian menjadi  Samarindah (logat Banjar), Paal Arang berarti batas arang (orang Banjar suka menyebut batas dengan Paal), hingga menjadi nama Palaran salah satu kecamatan di Samarinda.
–          Surat Kabar “Persatoean” =  surat kabar yang pertama kali terbit di Samarinda. Directeur (pemimpin umum) dan hoof redacteur (pemimpin redaksi)  Sayuti Lubis dari Tapanuli, yang juga aktivis Sjarikat Islam Cabang Samarinda.  Beberapa kali  “Persatoean” mau di Bredel  Hindia Belanda.   Akhirnya dibredel juga, karena dua tulisan dinilai menghasut  dan menghina pemerintah Hindia Belanda. 22 Desember 1928, di depan lanraad (pengadilan) Sayuti Lubis dijatuhi  hukuman penjara dua tahun empat bulan. Sayuti banding, hukumannya diperingan lima bulan dan menjalani hukuman di penjara Cipinang.