Posts Tagged ‘pengarang kaltim’

                                   

AKHMAD ZAILANI

* AKHMAD ZAILANI. Kelahiran Samarinda (Kaltim), 24 Pebruari 1972. Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Samarinda ini pernah bekerja di sejumlah koran harian lokal di antaranya koran harian Suara Kaltim, harian Poskota Kaltim, harian Kaltim Times dan Harian Matahari Kaltim (dua harian terakhir sudah almarhum) sebagai redaktur dan redaktur pelaksana.
Sejak kuliah bekerja sebagai koresponden wartawan majalah FAKTA. Setelah itu, sempat membikin Koran sendiri hingga beberapa edisi, namun tidak bertahan lama. Karena koran, tabloid dan majalah tersebut dibuat hanya untuk kepentingan suksesi calon walikota-Wakil Walikota dan Calon Gubernur. Di antara koran/tabloid yang pernah dibuatnya yaitu tabloid Rakyat Kaltim Merdeka (saat H Awang Farouk mencalonkan diri sebagai Gubernur Kaltim 2004-2008 dan kini H Awang Farouk menjabat  Gubernur Kaltim sekarang 2009-2014)) , Koran Rakyat, tabloid Qalam, tabloid Suara Hati, tabloid Qolbu,  tabloid pemerintahan Habar Samarinda Baru, majalah METRO, dan beberapa tabloid sosialisasi lainnya, salah satunya INFO (tabloid sosialisasi Dispenda Kota Samarinda). Selain tabloid juga membuat buku. Di antaranya, Wajah Parlemen Samarinda, Melawan Banjir di Kota Air, Bintang di Tengah Ladang (booklet), H Achmad Amins Membenahi Samarinda. Bersama wartawan  daerah dan koresponden media nasional, tulisannya dimuat di buku berjudul Gubernur Datang? Bawa Uang Nggak?
Sejumlah cerpennya juga dimuat di Koran Harian Utusan Borneo, Sabah Malaysia.. Puisinya terhimpun dalam antologi puisi SINAR SIDDIQ yang diterbitkan sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara 2012 di Membakut Sabah pada 8-11 Februari 2012.
Lelaki yang mulai menulis sejak SD ini pernah menjuarai lomba di bidang kepenulisannya. Di antaranya (tahun 1990-an) Juara 1 Lomba Menulis Resensi Buku yang diselenggarakan Perpustakaan Kaltim, Juara 1 Lomba Penulisan Cerpen Daerah Kalimantan Timur yang diselenggarakan Dharma Wanita Kaltim, Juara 2 karya tulis populer yang diselenggarakan VICO Balikpapan, Juara II karya tulis BKKBN Kabupaten Kutai dan Juara II Lomba Penulisan Puisi Lingkungan Hidup yang diselenggarakan AMPI  Kaltim. Selain buku tersebut di atas, cerpen Akhmad Zailani juga terhimpun dalam antologi cerpen jurnalis Kaltim, PARA LELAKI dan Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia (editor Korrie Layun Rampan).
Pengalaman organisasi        :

 – Koordinator Divisi Komunikasi Publik DPC Partai Demokrat Kota Samarinda periode 2011 – 2015

–          Salah satu inisiator pembentukan DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Kaltim – (tahun 1999)

–          Badan Komunikasi Pemuda Masjid Indonesia (1993)

–          Asosisiasi Kontraktor Seluruh Indonesia (AKSI) Kaltim – (2000 – 2002).

– Gabungan

–          Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) –  mengikuti Work Shop AJI di Jakarta (1999-2001)

–          Direktur Lembaga Informasi Kerakyatan (LINK) – (2001-sekarang)

–          Ketua Umum FORKKOT (Forum Kepedulian Kota) Kalimantan Timur (2009-sekarang)

–          Wakil Ketua Bidang Komunikasi dan Informasi Ormas Nasional Demokrat (Nasdem) Samarinda – (2011 – 2015)

–          Wakil Ketua DPD Partai Amanat Nasional Indonesia Kota Samarinda (2011 – 2015)

–          Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) – (2010-2012)

– menulis sejak kelas VI SD. Menulis puisi dan cerita anak-anak di majalah Kuncung dan Bobo.

– Saat SMP kelas 3 hingga kuliah,  beberapa cerpennya pernah dimuat di   majalah Kawanku, majalah HAI, Aneka dan Anita Cemerlang, Koran manutung

Kaltim Post dan Koran Suara Kaltim (alm).

–  Tahun 1996-1997 bekerja sebagai koresponden Majalah FAKTA Surabaya.

– Tahun 1997-2001 – wartawan Suara Kaltim.

– Tahun 2000-2001 – wartawan tabloid-harian Harian Kutai Baru

-Tahun 2001-2005 – redaktur Koran harian Poskota Kaltim

-Tahun 2003 – redaktur pelaksana Koran harian Kaltim Times

– Tahun 2004- redaktur pelaksana Koran harian Matahari Kaltim

-Tahun 2001-2007 – pemimpin umum/pemimpin redaksi tabloid Pemkot

Samarinda “ Habar Samarinda”.

– Tahun 2005-2006 – pemimpin umum/pemimpin redaksi majalah Metro.

– Tahun 2005 – pemimpin umum/pemimpin redaksi tabloid Qolbu

– Tahun 2006- pemimpin umum/pemimpin redaksi majalah Qalam

– tahun 2006-2007 – pemimpin umum/pemimpin redaksi majalah Suara Rakyat.

– antara tahun 2004 – 2008 menjadi pemimpin umum/pemimpin redaksi tabloid Suara Hati, tabloid Rakyat (kaltim) Merdeka, tabloid Info (media sosialisasi Dispenda Samarinda).

– media center Amins-Jaang periode 2000-2005 dan media center Amins-Jaang 2005-2010, direktur  media center Jaang-Nusyirwan periode 2010-2015.

– konsultan media pasangan Calon Bupati Kabupaten Nunukan  H Gusti Aseng-Asmah Gani 2000-2005 Pilkada Nunukan, konsultan media Cabub Naswin Datu Norbeck 2000-2005 Pilkada Berau. Hj Asmah Gani sekarang terpilih sebagai Wakil Bupati Nunukan periode 2011-2015 bersama Bupati M Basri.

                Menulis puisi, cerpen dan cerita bersambung. Di antara cerita bersambung dimuat di Koran Harian Suara Kaltim, yaitu  Ah (1999),  Opera Pak Karto (1999) dan cerita silat politik : Dinasti Su Hat Su (cerita tentang keadaan politik tahun 1998). Salah satu tulisannya, Mengungkap Bisnis Sampingan TNI-Polri, termasuk tulisan terbaik menurut penilaian National Democratic Institute (NDI) – tahun 1999.

Di Bawah ini beberapa cerpennya yang dibuat sekitar tahun 1990-an.

BULAN LUKA

 :: Akhmad Zailani
(INDONESIA)
BAR itu masih ramai. Falling in love-nya Kenny G masih mengalun lembut. Musik yang komunikatif, dengan irama yang lancar mengalir dari belaian suara saksofon yang menghibur rasa. Itu cukup membuat pengunjung bar itu hanyut terbawa irama, di antara siraman dry ice tipis lampu bar yang menyebar ke segenap ruangan.
“Turun mas?”
Aku menggeleng
Bau-bau alkohol menikam hidung. Asap-asap rokok mengabut mata. Bau parfum wanita itu pun mulai mengusik hidungku. Wanita yang mengenakan rok span super mini yang ketat, dengan baju berbelahan dada sangat rendah berwarna pink.  Dua bukit putih menyembul keluar. Tanpa kutang.
 “Kok diam, mas,” suara wanita yang sedang menemaniku minum
Aku menatapnya.
Mata-mata merah.
Menor.
Alkohol
Ah.
Wanita menor itu lalu mengambil sebatang rokok. Diletakkannya rokok di antara kedua bibirnya yang merah basah. Karena gincu dan alkohol. Tangannya lalu memunggut korek merk Zippo.
Ting cress … wanita bermata merah karena alkohol  itu menghembuskannya perlahan. Asap rokok kembali mengabut. Meraba-raba pupil mata.
Mata-mata merah.
Menor.
Alkohol.
Ah.
“Minum lagi, mas?” tawar wanita itu genit.
Kali ini aku mengangguk.
Wanita itu tersenyum. Lalu memanggil pelayan bar.
Sesaat. Dua saat. Dua botol bir hitam lagi.
Ah.
Aku melirik arloji. Malam masih panjang. Aku menarik napas. Betapa, ah, betapa aku merasa asing dengan diriku sendiri. Apakah telah terjadi perubahan pada diriku? Dan perubahan itu pulalah yang lalu mendatangkan keasingan? Ah, aku tidak mengerti. Kembali aku menghela napas. Panjang.
Lagu berganti
Silhoutte-nya Kenny G!
“Apa sih yang dipikirkan, mas? Kok tidak seperti biasanya mas jadi pendiam begini”.
Aku masih diam.
“Mas datang ke sini’kan untuk bersenang-senang …,” kembali wanita menor itu mengoceh. “Ayolah, mas …,” wanita itu kembali menenggak bir hitam lagi.
Aku membuang puntung rokok di asbak. Menuang bir hitam ke gelas. Lalu menenggaknya dan alkohol mulai  menggigiti tubuh.
Merah.
Aku mengambil rokok.
Ting cress …
Asap kembali mengepul.
Bau alkohol menyergap hidung.
Juga bau parfum wanita itu.
Kesenangan? Bukankah itu yang selama ini aku cari? Suara hatiku sendiri berkata. “Akuteringat istriku …,’’ ujarku pelan.
Wanita itu tertawa.
“Kenapa?” tanyaku heran.
“Mas lucu,’’  wanita itu kembali tertawa. “Pada saat sekarang dan di tempat ini mendadak mas teringat dengan istri mas?”
“Aku sudah terlalu banyak membohongi istriku”.
“Mas merasa bersalah dan menyesal?”
Aku mengangguk.
“Minum mas …”.
Bau alkohol kembali memeluk hidung.
“Aku tidak tahu. Entah istriku sedang ngapain sekarang di rumah. Aku telah berkali-kali membohonginya. Ada rapat di kantor, ada pertemuan di luar kota, ada lembur dan berbagai alasan lainnya,” aku mengacak rambutku.  Aku memandang wanita itu, yang duduk dengan kaki berjuntai dalam pose yang sangatmerangsang. Tapi saat ini yang ada dibenakku adalah istriku. Istriku yang sederhana. Istriku yang penurut. Istriku ..
“Sudahlah mas …,” wanita itu menggenggam tanganku. Alkohol mulai membakar tubuh kami. Aku mengisap dalam-dalam asap rokokku dan menghembuskannya perlahan.
“Tak usah terlalu dipikirkan mas …,” ujar wanita itu menghibur. Adalah memang tugas dia menghibur tamu. Dia telah melakukannya dengan baik. Di manapun juga. Ya, di manapun juga bila aku sedang membutuhkan kehangatan, yang ditukar dengan rupiah.
“Aku telah menghianati istriku!”.
Ada suara penyesalan yang keluar dari mulutku.
Dan asap-asap rokok mengabut mata.
Ah.
Awalnya adalah pertengkaran.
Lalu bar.
Alkohol.
Dan wanita.
Dan aku mendesah.
Adalah kebimbangan saat ini yang menyergapku. Mengikat dan membelenggu pikiranku.
Cerai?
Ah, tidak! Aku masih mencintai  istriku. Tapi, tapi apa yang kulakukan saat ini? Apa yang telah kuperbuat? Apa bisa dikatakan aku masih mencintai istriku, sementara aku sendiri asyik bermesraan dengan wanita lain?
Aku telah mandul! Mandul sebagai seorang suami sejati. Suami yang benar-benar suami. Aku telah menghianati istriku. Aku … aku adalah suami yang berhianat!.
“Turun mas,” wanita itu menarik tanganku, mengajakku berdansa.
Aku mengikut.
Ada dekapan.
Ada mesra yang berpagut.
Musik mengalun lembut.
Aku mengikut.
Tanpa terasa musik hampir habis.
“Capek mas,” wanita itu mengajakku berhenti.
Kami kembali duduk.
Wanita itu menengguk bir hitam yang masih tersisa.
Dan aku kembali menyalakan rokok.
Asapnya mengepul.
Mengabuti pikiranku.
“Kau harus menikah lagi?” tergiang lagi suara ibuku.
“Tapi bagaimana dengan istriku?”
“Cerai!”.
“Atau jadikan dia istri pertama!”
Ah.
Aku kembali mengisap dalam-dalam asap rokokku. Atau jadikan dia istri pertama,” suara ibuku berdengung-dengung lagi di pikiranku.
“Tapi …”.
“Kamu anak tunggal. Kamulah penerus keturunan kita!”.
Ah.
Aku seperti seekor serigala tua ompong yang terkurung dalam kerangkeng besi dan seekor kelinci kecil mempermainkan aku dari luar kurungan!
Anak. Itulah yang mengusik kami, setelah sekian tahun menikah dan umur semakin senja. Kami merindukan anak.
Tanpa anak, malam jadi tak berbintang.
Meja makan hampa.
Dan ranjang terasa dingin.
Pernah istriku mengusulkan agar kami mengadopsi anak. Tapi ibuku melarang, darah daging yang jadi alasan.
Ah, aku adalah serigala ompong yang penurut!
Tidak!
“Aku ingin pulang. Aku rindu istriku …,” kataku.
“Mas …”.
Aku membayar minuman.
Juga wanita itu.
Lalu pergi.
“Aku rindu istriku …” suara hatiku.
Maka mobil kian kupercepat. Gas pun semakin kuinjak.
Mobil makin melaju.
Menembus malam.
Mencumbu aspal hitam jalanan.
“Kamu anak tunggal! Kamulah penerus keturuan kita!” suara ibuku kembali menghantui.
“Tidak! Aku rindu istriku …”.
“Atau jadikan dia istri pertama!”.
Mata-mata merah.
Menor.
Alkohol.
Ah.
“Bagaimana dengan istriku”
“Cerai!”
“Atau jadikan dia istri pertama!”
“Atau jadikan dia istri pertama!”
“Atau jadikan dia istri pertama!”
Suara-suara ibuku terus menghantui.
Mobil kian kupercepat.
Tak ada suara lagi.
Sunyi.
Sunyi.
Sunyi..
Pada suatu jalan lurus lain, berlawanan arah, tanpa kusadari sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi. Akhirnya di persimpangan jalan tabrakan tak dapat dihindarkan lagi.
Seketika aku mendadak menjadi ringan.
Melayang.
Di bawah, di dalam mobil yang hancur nampak jasadku berlumuran darah.  Tak bergerak
Aku melayang.
Sementara di rumah, aku melihat istriku resah menanti kedatanganku. Dia melangkah lalu membuka pintu. Ah, malam semakin renta. Dia kembali menutup pintu.  Aku melihat penampilannya kini berubah. Dia mengenakan rok span super mini yang ketat dengan baju berbelahan dada sangat rendah,  berwarna pink. Dan dua bukit putih menyembul keluar. Tanpa kutang. *
Samarinda, Minggu 20 Juni 1993.

Aminah Sjoekoer di Kapal Nederland

:: akhmad zailani
(INDONESIA)
AKU membisu di buritan kapal.  Mataku yang biru memandang letih ke muara Mahakam. Kapal  melewati bekas lokasi peristiwa perampasan kapal Belgia “De Charles” saat panglima perang Awang Long bersama pasukan kerajaan Koetai mengejar sisa pasukan Inggris di bawah pimpinan James Erkine Murray tahun 1844 lalu.
Kapal bergerak pelan, menuju laut lepas. Makin menjauh meninggalkan muara Mahakam. Dengus mesin kapal nederland itu seperti musik pesta dansa bangsawan semalam. Borneo-Amsterdam memang bukanlah jarak yang dekat. Setelah meninggalkan Borneo, kapal yang juga membawa lada, karet, rotan, tengkawang ini akan mampir ke sejumlah pelabuhan, termasuk pelabuhan Sunda Kelapa di Batavia. Tiba di Batavia, aku akan istirahat beberapa hari di Hotel der Nederlanden di Rijswijk  tempat aku menginap sebelum ke 0ast Borneo.
Sebenarnya, aku belum ingin meninggalkan kampung di pinggiran Mahakam yang termasuk dalam wilayah Kerajaan Koetai. Masyarakat menyebutnya kampung Samarinda. Masih banyak yang perlu ingin aku ketahui. Terutama tentang seorang gadis indo-nederland.
Kedatanganku yang pertama 5 tahun yang lalu. Di tahun 1923 bertepatan dengan pendirian Holands Inlandche School (HIS), sekolah swasta yang pertama di Samarinda. Hanya sempat menetap 1 bulan 4 hari, aku balik lagi ke Batavia.
Di awal tahun 1928, aku ke Samarinda untuk yang kedua kalinya. Residen J. De Haan, yang baru saja menggantikan C.J Van Kempen sebagai residen di Banjarmasin yang mengajakku. Aku masih bertahan di Samarinda ketika residen De Han kembali ke Banjarmasin, wilayah di selatan Borneo yang direncanakan bakal menjadi ibukota provinsi Borneo.
Aku sudah lebih dari 2 bulan di Samarinda. Alasan utamaku bertahan karena ada seorang wanita keturanan Indo Nederland yang menarik perhatianku. Sayangnya, koran Zandvoor tempatku bekerja sebagai pembantu wartawan meminta kembali ke Nederland. Apalagi kalau bukan untuk membantu liputan olimpiade musim panas ke 9 di Amsterdam-Nederland tahun 1928 ini. Padahal di tahun  ini juga,  insting wartawanku sudah mencium adanya rencana penting tentang pertemuan besar para pemuda dari berbagai wilayah Hindia Belanda di Batavia.
Oast Borneo sudah hilang dari pandanganku. Aku masih berdiri di buritan kapal. Burung-burung terbang rendah. Melayang rendah sekali. Mencium air laut lalu terbang tinggi. Menjauh.
“Kenapa kau diam?” tanyaku kepada wanita Indo-Nederland itu tanpa memandang wajahnya. Aku mengalihkan mata ke awan yang bergerak pelan membentuk dirinya. Aku menatap ikan-ikan berenang seperti menyeret gelombang. Angin berhembus pelan, tetapi terasa sekali menyapa dan memeluk tubuhku.
“Bicaralah,”  suaraku lagi. “Bicaralah tentang cita-citamu. Aku ingin sekali mendengar suaramu yang lembut”.
Ia diam.
Suara decak air bersama dengus kapal kian terasa.
“Ah, mungkin kau lagi malas berbicara,” kataku lagi.
Tapi ia tetap diam. Membisu. Ia terkadang keterlaluan, dengan membiarkan aku berbicara sendirian.
Aku memandang ke langit biru. Awan-awan tampak bergerak pelan. Aku melihat di awan-awan  yang putih dan bergumpal-gumpal  itu tergambar wajahnya yang bersih.
Kubayangkan ia tersenyum padaku, dengan bibirnya yang tipis. Rambutnya yang panjang kekuning-kuningan berkibar-kibar sehabis berkeramas dengan fajar yang indah.
 ‘’Bicaralah, walaupun sepatah dua patah kata,’’ aku memelas.
Ya, ampun. Kenapa jadi begini? Tuhan buatlah suasana yang lain.
Ia terus membisu.
Sedangkan angin laut Sulawesi terus saja menampar wajahku, berusaha menyadarkan.
Aku hanya bisa menghela napas putus asa. Ah, tidak! Aku tidak putus asa. Aku hanya mendesah. Aku akan terus berusaha mengajaknya berbicara tentang apa saja. Aku lalu menatap wajahnya. Ada keinginan yang mendesak untuk berbincang dengannya.
***
“Panggil saja aku Aminah Sjoekoer,’’ katanya suatu hari kepadaku. Bagi warga boemi poetera pinggiran Sungai Mahakam, wanita Indo-Nederland ini lebih dikenal dengan nama Atje Voorstad. Voorstad dalam bahasa Indonesia berarti pinggiran. Aku menduga tambahan  voorstad di belakang nama Atje itu  sudah berbicara; sekalipun dia wanita keturunan Nederland, namun dia mau bergaul dengan masyarakat pribumi.
Aku mengenalnya pertama kali saat acara peresmian HIS swasta yang kemudian diambil alih pemerintah Hindia Belanda untuk menjadi sekolah negeri. Aku rasa bukan karena sama-sama keturunan Nederland kami cepat akrab. Atje atau Aminah orangnya memang ramah. Dia bersedia bergaul dengan siapa.
Sejujurnya, aku ingin sekali mengajak dia ke Nederland. “Apakah kamu tak punya keinginan untuk kembali ke Nederland?” tanyaku, setelah bincang-bincang agak lama saat perkenalan pertama.
 “Aku lebih suka di sini, di Samarinda. Aku ingin mewujudkan cita-citaku. Aku di sini ingin membangun sekolah khusus wanita,” jawabnya.
Keinginan yang bagus. Dan pasti banyak halangan. Karena mendirikan sekolah untuk pribumi saja sulit, apalagi sekolah khusus untuk wanita pribumi. Selain rumit berurusan dengan pemerintah Hindia Belanda, juga dengan masyarakat boemipoetera yang masih menempatkan kaum wanita sebagai bagian masyarakat kelas dua, yang menganggap wanita belum perlu mendapatkan pendidikan yang layak. Percuma wanita bersekolah, toh nanti kembali ke dapur juga, begitu umumnya anggapan warga pribumi. Tapi tidak bagi Aminah.  Baru sekali bertemu aku sudah bisa menyimpulkan, wanita bertubuh tinggi ramping berkulit putih ini memiliki tekad yang kuat.
‘’Aku akan berusaha dengan segala cara agar wanita pribumi bisa mengikuti pendidikan sejajar dengan laki-laki. Aku akan mendirikan sekolah untuk kaum wanita,’’ katanya di lain hari saat kami berjalan-jalan kaki di chineescheveer straat.
Aku mendukungnya. Sekalipun dalam sebuah pembicaraan, residen J. De Haan sempat meremahkannya. “Waarom zou die persoon het opzetten van een speciale school voor autochtone vrouwen. Wat een verspilling van tijd en geld … (Buat apa itu orang mendirikan sekolah khusus untuk perempuan pribumi. Buang-buang waktu dan uang)’’ residen J. De Haan tersenyum sinis kepadaku.
Semangat mendirikan sekolah kembali aku lihat, ketika dia mengajakku berjalan-jalan di kampung Bandjar, sekitar China voorstraat, Sultan weg, Herengracht straat dan smokke straat.  Kami menemui beberapa tokoh pendidikan pribumi Samarinda, yang ternyata juga sangat mendukung dirinya. Mereka di antaranya Masdar dan M Yacob, di antara tokoh yang ikut memperjuangkan berdirinya HIS partikelir pertama di Samarinda. Juga ada Kasirun yang menjadi guru negeri di HIS. Aminah memperkenalkanku. “Ini Meneer Ivan Van Mannen Zijn Niet Echt seorang jurnalis dari Nederland,’’ katanya menyebut lengkap namaku.
Cukup lama juga kami berbincang dengan tokoh-tokoh cendikiawan pribumi. Pemikiran-pemikiran mereka cukup cemerlang.
“Sebagai orang asli pribumi kami malu sekaligus bangga dengan anda. Perhatian anda terhadap pendidikan masyarakat pribumi memotivasi kami untuk lebih bekerja keras lagi,’’ kata Kasirun.
Di kampung Bandjar itu pula lah kami berkenalan dengan Arbayah, gadis berusia 14 tahun, yang memiliki keinginan kuat untuk bersekolah. Ayahnya bernama Abdullah, pekerja biasa di NV Handel Maatshappi Borneo Samarinda (HBS).
“Abah tidak setuju kalau saya bersekolah. Ujar Abah apa untungnya. Nanti setelah kawin mengurusi dapur juga,’’ kata Arbayah.
“ Bersekolah itu pintar. Lelaki dan perempuan sama saja haknya untuk menjadi pintar,’’ kata Aminah.
 Selain bertemu Arbayah, kami juga bertemu dengan beberapa anak, dan orang tua mereka. Bagiku, pertemuan yang berkesan hanya saat bersama Arbayah. Badan gadis berkulit putih ini bonsor. Sama seperti anak-anak lainnya. Dia cukup cantik, tapi sayangnya dia buta huruf.
“Aku ingin sekali bisa membaca dan menulis,’’ kata Arbayah.
Arbayah sering mengunjungi rumah Aminah. Aku juga menjadi akrab dengannya. Perbedaan usia  bukan penghalang bagi kami. Semakin kenal dengan Aminah, aku jadi semakin suka bergaul dengan orang boemi poetera atau pribumi. Terutama Arbayah, gadis bongsor berkulit putih.  Dia pernah menyampaikan kepadaku, teman-teman gadis seusia dia sudah banyak yang menikah.
‘’Ini sapu tangan kenang-kenangan untuk meneer,’’ kata Arbayah ketika kebetulan aku bertemu kembali dengannya di depan penginapan Nam Yang, tempatku menginap di Chinavoor Straat.
“ Terima kasih,’’ kataku. Arbayah tersenyum, kepalnya kembalinya menunduk. Dia membalikan badannya, dan pergi.
“Arbayah …,’’ suaraku memanggilnya ketika sudah sekitar tujuh langkah dia pergi.
Arbayah berbalik.
Aku mendekatinya. “ Ini pen dari ku”. Spontan kuambil pen dari kantongku.
Arbayah tersenyum. “ Terima kasih meneer,’’ Arbayah lantas pergi.
Tak ada pembicaraan lama ketika itu. Aku memperhatikan, ketika gadis muda itu menghilang di tikungan jalan. Sapu tangan berwarna pink, yang bersulam bunga dari benang merah itu kumasukkan ke dalam saku di samping kiri kemeja putihku.
Meneer Ivan Van Mannen Zijn Niet Echt…,’’ kudengar suara Tan Ko Tjai di belakang. “Gadis pribumi yang cantik … cocok untuk meneer yang masih muda,’’ pedagang rotan itu ketawa. Matanya yang sipit hampir tertutup.
Aku hanya tersenyum. Tak bisa berkata.
 “ Hari ini apa kegiatan meneer?’’ tanya Tan Ko Tjai.
“ Aku nanti mau ketemu Atje voorstad dan beberapa orang pergerakan”.
“Wah aktivis pendidikan  perempuan indo Nederland itu, meneer’’.
‘’Iya, perempuan cantik yang ingin mendirikan sekolah untuk wanita pribumi”.
Tak sampai 30 menit aku berbicara dengan Tan Ko Tjai, tentang Aminah, tentang orang-orang pers, tentang akan berdirinya sejumlah organisasi pergerakan di Samarinda. Tan Ko Tjai cukup terbuka dan berani. Tan Ko Tjai kenalan lamaku. Aku mengenalnya saat di Batavia.
“Ok, meneer saya mau ke Paal Arang dulu. Ada urusan di sana,’’ Tan Ko Tjai permisi, dan kami berjabatan tangan. “Jangan terlalu banyak dipikirkan, meneer … dan hati-hati meneer,’’ candanya lagi sambil bergegas berjalan.
Hari masih pagi. Aku berjanji bertemu Aminah di gedung Sjarikat Islam.  Saat aku tiba, dia sedang berbicara dengan seorang lelaki.
“Ini wartawan yang saya bicarakan tadi … “ dia berdiri seraya menjabat tanganku.
 Begitupula lelaki itu. Di tangan kirinya aku lihat sepertinya koran lokal, bertulis “Persatoen”. “Sayuti Lubis,” dia menyebut namanya.
“Jangan khawatir …,’’ Aminah tersenyum ke arah Sayuti Lubis. Giginya yang putih bersih nampak terlihat.
Selain berbicara tentang rencana pendirian sekolah khusus kaum wanita, sesekali kami juga berbincang tentang koran dan seputarnya. Enak juga mengobrol dengan lelaki asal Tapanuli ini. Bicaranya bersemangat. Wawasannya luas. Tak peduli dia, sekalipun kami saling kenal. Mungkin, dia percaya sama aku, sama percayanya dengan Aminah, yang telah dikenalnya sejak lama.
Menjelang sore, aku mengantar Aminah pulang. Disepanjang jalan dia bercerita, bukan hanya tentang abahnya Arbayah saja yang masih tak enggan anaknya bersekolah, tapi juga orang tua dari Hadijah, Sabariah, Sumi, Zaenab dan anak-anak kampung lainnya. Dari cerita Aminah aku masih bisa menangkap optimis, cita-citanya untuk mensejajarkan kaum wanita agar memperoleh pendidikan yang sama dengan laki-laki akan bisa diwujudkan.
Aku juga menceritakan tentang pesan Residen J. De Haan yang disampaikan kurirnya untuk tak bergaul terlalu akrab dengan orang pribumi, termasuk dengan dirinya. Peringatan De Haan itu tentu saja kubiarkan. Bergaul dengan siapa saja itu adalah urusanku. Sekalipun beresiko.
***
MATAHARI hampir tengelam di laut. Cahayanya mulai pudar.
Kulihat awan putih berpedar-pedar dalam senja. Bermain-main bersama angin. Berkejar-kejaran.
Kapal terus melaju. Dengusnya masih terdengar, bersama riak gelombang. Aku sendirian. Tidak ada Aminah Sjoekoer atau Atje Voorstad. Sekalipun angin menyapaku, menegurku untuk memunculkan bayang Aminah Sjoekoer di benakku, sekalipun laut melambai-lambai membuka pikiranku tentang Atje Voorstad, aku masih tetap sendirian.
Yang tersisa di kantongku hanyalah sapu tangan berwarna putih, yang di ujungnya ada gambar pen bersulam benang warna kuning emas. Ya, pen kuning emas bukan sapu tangan berwarna pink, yang bersulam bunga dari benang merah. Sapu tangan bergambar bunga merah milik Arbayah sengaja aku tinggal di ranjang kamar sebelum aku meninggalkan penginapan Nam Yang. Sapu tangan itu kutinggal  setelah aku mengetahui Arbayah dinikahkan minggu depan. Di  ranjang itu pula aku meninggalkan noda merah dari kesucian Arbayah.  Sekalipun sapu tangan bunga dan noda berwarna merah  aku tinggalkan, namun aku tak bisa melupakan Arbayah, sepanjang hidupku terutama perbuatan terlarang yang kami lakukan pertama kali di kamar penginapan Nam Yang.
  Sekalipun Arbayah tak diperbolehkan sekolah dan dinikahkan abahnya, pada akhirnya, cita-cita Aminah Sjoekoer telah terwujud. Neisjes School, sekolah untuk kaum wanita akan berdiri di Samarinda. Aku mendengarnya sebelum berangkat naik kapal.
“Maaf aku belum bisa ikut ke Nederland. Mendirikan sekolah bukan berarti tugasku sudah selesai. Tugas selanjutnya akan lebih berat …,’’ suaranya ketika mengantarku di pelabuhan.
Aku hanya tersenyum. Menjabat tangan kanannya. Ketika kapal nederland yang kutumpangi menjauh meninggalkan Samarinda, dia melambai-lambaikan tangan kanannya. Jujur, aku belum begitu mengenalnya. Aku hanya memiliki sapu tangannya yang berwarna putih bergambar pen dari benang kuning emas. Apakah kalian sangat mengenalnya?
Kapal pun terus melaju. Membelah gelombang. Dengusnya masih terasa. Awan-awan yang bergumpal-gumpal membentuk dirinya sudah tak ada lagi.  Kukira  sebentar lagi malam yang membawa mimpi akan datang. ***
Catatan
–          Awang Long =panglima angkatan perang sepangan Kerajaan Koetai, yang bergelar Panglima Ario Senopati. Senopati yang bersama pasukannya berhasil mengalahkan pasukan Murray.  Awang Long tewas ketika pertempuran hebat melawan  armada perang lengkap Belanda di bawah pimpinan Letnan Laut T’Hoof.
–          James Erkine Murray =  Ingin seperti James Brooke yang berhasil mendirikan kerajan di Brunai. Februari 1844 JE Murray membawa 2 kapal perang, yakni “Young Queen” yang dikemudikan Kapitan  Hart dan Kapal Perusak “Anna” dengan Nahkoda Lewis. Memasuki  wilayah Kutai, dengan mengatakan ingin menjadi raja.  Murray meminta izin Sultan Salehuddin untuk membuka kantor  perwakilan dagang di Tenggarong dan meminta monopoli perdagangan. Sultan meminta buka di Samarinda saja. Murray mengancam. Sultan melawan. Akhirnya terjadi peperangan.  Murray akhirnya tewas.
–          Rijswijk = kawasan Jalan veteran Jakarta. Di kawasan ini dulu ada Hotel der Nederlanden, kini menjadi gedung Bina Graha Jakarta.
–          J. De Haan = residen Belanda di Banjarmasin menggantikan Van Kempen,  menjabat mulai tahun 1924-1929
–          C.J Van Kempen = residen Belanda di Banjarmasin tahun 1924.
–          Meneer = tuan
–          Abah =bahasa Banjar, artinya ayah
–          Chineescheveer straat = jalan di pusat kota di pinggir Sungai Mahakam. Dari Karang Mumus hingga Sungai Karang Asam Besar.  Perkampungan China di Jalan Pelabuhan dan di sekitar Kampung Karang Mumus.
–          Kampung Bandjar = berada di  wilayah utara Wilhelmina Laan, yang membujur dari selatan ke utara atau sepanjang Karang Mumus Straat dan Bandjar Straat.
–          Kasirun =seorang guru di HIS milik Hindia Belanda, yang kemudian memilih menjadi kepala sekolah Neutrale School,  karena memiiki kebebasan menanamkan jiwa kebangsaan kepada anak didiknya.
–          NV Handel Maatshappi Borneo Samarinda (HBS) = perusahaan perdagangan  ekspor-impor yang didirikan pedagang-pedagang suku Banjar. Perkampungannya dinamakan kampung HBS, yang letaknya di sekitar BRI sekarang. Persekutuan dagang ini selain menyaingi pengusaha-pengusaha dagang Belanda dan China, tokoh-tokohnya juga bergerak di bidang pergerakan kemerdekaan dan da’wah Islam.
–          Penginapan Nam Yang = terletak di perkampungan China, sekarang di sekitar Jalan Pelabuhan. Di dekat penginapan Nam Yang ada pula penginapan Swan Yang.
–          Paal Arang = Seperti kata Samarinda, berasal dari bahasa Banjar Samarendah kemudian menjadi  Samarindah (logat Banjar), Paal Arang berarti batas arang (orang Banjar suka menyebut batas dengan Paal), hingga menjadi nama Palaran salah satu kecamatan di Samarinda.
–          Surat Kabar “Persatoean” =  surat kabar yang pertama kali terbit di Samarinda. Directeur (pemimpin umum) dan hoof redacteur (pemimpin redaksi)  Sayuti Lubis dari Tapanuli, yang juga aktivis Sjarikat Islam Cabang Samarinda.  Beberapa kali  “Persatoean” mau di Bredel  Hindia Belanda.   Akhirnya dibredel juga, karena dua tulisan dinilai menghasut  dan menghina pemerintah Hindia Belanda. 22 Desember 1928, di depan lanraad (pengadilan) Sayuti Lubis dijatuhi  hukuman penjara dua tahun empat bulan. Sayuti banding, hukumannya diperingan lima bulan dan menjalani hukuman di penjara Cipinang.
—————
Biodata :
H. AKHMAD ZAILANI. Lahir dan menetap di Samarinda. Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Samarinda.  Menulis sejak Sekolah Dasar (SD). Lebih banyak bergelut di jurnalis.  Pernah menjadi wartawan majalah Fakta Surabaya, wartawan SKH Suara Kaltim, redaktur SKH Poskota Kaltim, redaktur pelaksana SKH Kaltim Times, SKH Matahari Kaltim, Pimpinan Redaksi (Pimpred) Majalah Metro, Pimred tabloid Qalam, tabloid Qolbu  dan beberapa tabloid lainnya, di antara tabloid  Samarinda Baru, tabloid Suara Hati, tabloid Suara Rakyat dan lainnya,  juga suka menulis puisi, cerpen dan cerita bersambung. Di antara tulisan bersambungnya, yaitu Runtuhnya Dinasti Su Hat Su (cerita silat politik, parodi peristiwa lengsernya Presiden RI HM Soeharto).
Sempat juara di beberapa lomba menulis yang diikuti. Di antaranya, Juara 1 Lomba Penulisan Cerpen Daerah, yang diadakan Dharma Wanita Kaltim (1995,) Juara 1 Lomba Menulis Resensi Buku  menyongsong 50 tahun Indonesia Merdeka-HUT Perpustakaan Nasional RI Ke XV, yang diadakan Badan Perpustakaan Kaltim (1995), Juara II Lomba Menulis Puisi Hari Lingkungan Hidup se Kaltim, yang diadakan AMPI Kaltim (1994), Terbaik 2 dalam lomba tulisan populer (VICO, 1995), Juara ke 2 dalam Karya Tulis tentang KB (BKKBN Kutai, 1996) dan termasuk terbaik di beberapa perlombaan menulis lainnya.
 Tulisannya membongkar bisnis sampingan TNI-Polri di era orde baru termasuk tulisan terbaik penilaian  dari National Democratic Institute (NDI), sebuah organisasi nirlaba internasional, non-partisan yang bekerja untuk mendukung dan memperkuat institusi demokrasi di seluruh dunia melalui warga negara, keterbukaan partisipasi dan akuntabilitas dalam pemerintahan. ***

DENDAM BULAN

Oleh : akhmad zailani
AKU tidak tahu pasti darimana tepatnya dia berasal. Di mana pula orang tua atau keluarganya berada. Katanya, dia berasal dari pedalaman di hulu Sungai Mahakam.
Umurnya lebih dari selusin. Di datang ke kampung kami dan bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Durzasana. Walaupun umurnya masih sedikit, tidaklah demikian halnya dengan tubuhnya. Tubuhnya mengatakan dia berumur sekitar tujuh belasan atau delapan belasan tahun.
Parasnya cantik. Tubuhnya montok. Kulitnya putih. Wajahnya lumayan. Kemunculannya di kampung kami cukup menarik perhatian, khususnya kaum lelaki, baik yang masih muda maupun yang sudah tua tapi masih berjiwa muda alias senang daun muda. Namun pada sisi lain, kedatangannya juga membuat iri dan cemas gadis-gadis dan ibu-ibu yang masih mencintai suaminya.
Dia menjadi perhatian bukan berarti di kampung kami kekurangan atau tidak ada lagi gadis yang begitu menarik. Hanya bukankah barang baru selalu lebih menarik perhatian daripada barang yang sudah lama? Lelaki  yang menyukai kesenangan pasti menoleh dua kali bila berpapasan dengan dia di jalan. Kesenangan duniawi maksudnya, tanpa terkecuali termasuk aku.
Kini sudah hampr dua tahun dia bekerja di rumah Durzasana. Durzasana yang usianya separuh abadi tu merupakan orang terpandang dan terkaya di kampung kami, meski dia duda ditinggal mati istrinya tanpa seorang anak. Bagi Durzasana dia sudah dianggap seperti anak sendiri dan merupakan obat pengusir sepi.
Dia disekolahkan seperti juga layaknya anak-anak lain yang sebaya dengannya. Durzasana, yang juga seorang rentenir itu tampaknya memanjakannya.
Bila telah selesai pekerjaannya memasak, mencuci dan membersihkan rumah, dia seperti layaknya gadis-gadis yang sebaya dengannya turut pula bermain-main bersama gadis-gadis kampung lainnya. Sifat kekanak-kanakkan  yang polos masih melekat pada dirinya.
Dia duduk di kelas 2 SMP di kampung kami dan mungkin hanya sampai bangku SMP. Karena di kampung kami sekolah yang tertinggi hanya sampai SMP.
Pemuda-pemuda iseng di kampung kami—yang nongkrong di ujung jalan—sering menggodanya. Bila hanya sekedar di suit-suit dia hanya tersenyum. Mungkin belum mengerti. Mengingat sifat kekanak-kanakkannya itu. Terkadang ada pula tangan usily ang mencoleknya bila dia pergi atau pulang dari mencuci pakaian di sungai, yang hanya berlilitkan sarung yang membungkus tubuhnya. Air liur lelaki kampung kami akan keluar tanpa terasa bila melihatnya mandi. Namun begitu wajahnya yang polos kekanak-kanakkan itu tidak menyadarinya. Mungkin karena usianya yang terlalu muda belum mengerti tentang arti colekan lelaki.
Jujur saja, dia memang tidak terlalu cerdas. Karena aku sebagai gurunya mengetahuinya. Itu sudah aku katakana pada Pak Durzasana. Pak Durzasana memintaku untuk memberikan les kepadanya. Aku mengiyakan. Sudah enam kali pertemuan,  aku datang ke rumah Pak Durzasana. Seminggu dua kali aku memberikan les kepada Bulan. Dari pertemuan itu bisa aku simpulkan, Bulan termasuk tipe  pendiam.  Selain itu aku tidak tahu banyak tentang diriya. Aku malas untuk menanyakan hal tersebut. Mungkin dipertemuan berikutnya, kalau sempat. Yang aku ketahui nama ialah Bulan.
***
MALAM  itu di kampung kami diadakan pemutaran film layar tancap. Seperti biasanya, dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Di tiap kampung diadakan acara agustusan. Untuk memeriahan acara tersebut digelar bermacam-macam keramaian, seperti perlombaan-perlombaan, di antaranya lomba balap karung, naik pinang dan kegiatan olah raga antar kampung seperti bola volley, bulu tangkis dan sepak bola.
Layar tancap salah satu pertunjukan yang digemari di kampung kami. Karena tidak ada gedung bioskop. Maka pada saat layar tancap digelar, berbondong-bondonglah warga kampung, yang haus hiburan datang menyaksikan ‘layar kain’ itu di lapangan.
Termasuk pula Bulan. Dengan tergesa-gesa dia berjaan sendirian bersama pekatnya malam. Di kampung kami tidak ada lampu jalan. Jarak antara rumah yang satu dengan yang lainnya saling berjauhan. Suara-suara binatang malam ramai berdendang, berusaha menyaingi kesunyian malam.
“Lho kok sendirian. Mana teman-temannya?” tanya seorang lelaki berumur tiga puluhan tahun, yang memotong gerak langkahnya.
Bulan kaget. Matanya yang polos menatap ke arah laki-laki yang dikenalnya itu. “Mereka sudah pergi duluan, Pak? “ jawab Bulan.
”Mau nonton layar tancap ya?” kembali laki-laki itu bertanya.
Bulan mengangguk.
“Ah, paling juga belum main,’’ ujar laki-laki itu lagi.
“Judulnya apa, Pak?” kini Bulan yang bertanya.
“Katanya sih Jeram Cinta”.
“Mau nonton juga, pak?”
“iya,’’ laki-laki itu kembali memandang Bulan. Tapi kini matanya agak lain. “ Kita sama-sama saja pergi ke sana”.
Bulan mengikut saja ketika laki-laki itu mengatakan, ‘’ kita memotong jalan saja, biar cepat’’. Bulan tidak tahu sebenarnya di otak laki-laki itu sudah tersusun rencana jahat.
Dan Bulan yang polos, yang masih kekanak-kanakan dan belum mengerti maksud laki-laki itu, hanya diam saja ketika tubuhnya dipeluk. “Biar lebih hangat,’’ alasan laki-laki itu.
“Pak, takut …”.
“ Ah, tidak apa-apa. Sebentar lagi,’’ bujuk laki-laki itu.
Bulan baru mengerti ketika laki-laki itu menghentikan langkahnya lalu mulai menciuminya. ‘’Lepaskan saya, pak … suara Bulan ketakutan.
Selanjutnya lelaki itu merebahkan Bulan di semak-semak.  Dengan nafas yang terengah-engah dia melampiaskan nafsunya. Setan telah merasukinya.
Bulan meronta. “Pak, sakit …’’. Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Bulan, karena selanjutnya mulutnya telah disumpal dengan celana dalam oleh laki-laki itu.
Kemudian adalah suara-suara binatang malam yang merobek kegelapan dan kesunyian malam. Apalah artinya tenaga seorang wanita. Dan Bulan pun hanya bisa menangis dan pasrah.
Bulan yang polos, yang masih kekanak-kanakan adalah salah satu dari sekian banyak korban pelanfiasan nafsu setan lelaki bejat. Lelaki yang tak peduli apakah gadis itu masih di bawah umur. Bulan telah dirusak masa depannya.
Setiap ada keramaian, Bulan ada. Setiap itu pula ada saja lelaki yang menggodanya. Apabila lelaki bejat yang tak bermoral dan berhati iblis itu sudah melampiaskan nafsu yang sudah didapatnya, lalu segera meninggalkannya begitu saja, dengan tak lupa meninggalkan ancaman.
***
BEBERAPA  bulan kemudian, warga kampung kami gempar.
Bulan hamil!
Bulan bunting!
Tidak ada seorang laki-laki pun yang mengakui ayah dari anak-anak yang dikandungnya. Ketika ditanyakan kepadanya, “siapa yang telah melakunya?”. Bulan hanya bisa menangis. Pak Durzasana yang telah dianggap sebagai orang tua pun telah mengusirnya.
Bulan yang malang dikutuk habis-habisan oleh warga kampung kami. Hidupnya terlunta-lunta, berjalan tanpa arah tujuan.
Bila malam tiba, Bulan tidur di sembarang tempat, berselimutkan dinginnya malam. Rambutnya yang panjang, kini kusut dan acak-acakan. Kulitnya telah hitam dibakar terik matahari. Berdaki. Tak ada lagi yang tertarik dengannya, dengan penampilan seperti itu. Bulan telah berubah. Kian hari perutnya kian membesar. Bulan bagaikan model perempuan yang tidak pantas ditampilkan karena dianggap merusak pemandangan lelaki.
Saat dia lewat di gang-gang, anak-anak ramai mengolok-ngolok dirinya.
Bulan Buntung makanya beling
Bulan bunting orangnya sinting
Bulan bunting nasibnya miring.
Anak-anak ribut bernyanyi-nyanyi di belakangnya. Barisan pun semakin panjang. Bulan tertunduk sedih. Hatinya menangis. Hidup Bulan tanpak gelap. Dia bagaikan berjalan di lorong yang pekat. Matahari tak tampak. Bulan merasa tak berarti lagi.Tak bisa lagi dia membayangkan masa depannya, bahkan untuk bermimpi pun tidak.
Bulan terlunta-lunta. Senja pun tidak berpihak kepadanya. Dingin menyayat-nyayat.
Di bawah rintik hujan, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi telah menghantam tubuhnya yang sedang hamil tua. Denga kecepatan tinggi pula sopir melarikan mobilnya. Bulan telan mati bersama anak yang dikandungnya. Rintik-rintik hujan membasahi tubuhnya yang bersimbah darah. Hujan bercampur darah Bulan dan anak yang dikandungnya.
Masyarakat yang bermoral beramai-ramai menggotong tubuhnya. Memandikannya. Menyembahyangkannya. Menguburkannya. Bulan telah dikubur lengkap dengan penderitaannya. Dua nyawa, Bulan dan anaknya dalam satu kubur. Tak ada seorang pun yang menangisi dan mengenangnya. Doa dilambungkan seadanya.
***
SEHARI setelah penguburan Bulan, warga kampung kami kembali geger. Pak Durzasana kesurupan. Dia mengamuk dengan membentur-benturkan kepalanya, tertawa-tawa, terkadang menangs dan berteriak-teriak memanggil-manggil nama Bulan. Untung waktu itu Pak Durzasana masih sempat ditolong tetangganya. Tapi hanya pada saat itu nyawanya selamat.
Beberapa hari kemudian, Pak Durzasana ditemukan mati. Mengerikan. Kepalanya hancur, karena terus dbentur-benturkan ke tembok. Mengerikannya; sebelum tewas dia menggigit kemaluannya sendiri. Kasihan.
Lalu beberapa hari kemudian, seorang penjaga sekolah menemukan seorang laki-laki mati dengan menggantung diri di dalam kelas.  Diketahui laki-laki itu menggantung diri setelah semua murid dan telah pulang dari sekolah. Ada desas desus di antara murid; laki-laki itu dulu pernah memperkosa seorang perempuan yang juga murid sekolah itu. Pada watu itu jam pelajaran terakhir. Murid perempuan itu dipanggil menghadap setelah jam pelajaran selesai. Saat murid perempuan itu menemui guru, murid-murid yang lainnya pulang. Ada beberapa murud yang sempat melihat, ketika murid perempuan itu masuk, pintu langsung ditutup cukup lama. Seanjutnya tidak ada yang tahu pasti, apa yang sedag terjadi di dalam ruangan Bimbingan dan Penyuluhan (BP) itu. Entah, desas-desus itu kurang jelas. Sama dengan desas-desus murid perempuan itu diancam tidak naik kelas dengan alasan rahasia yang tidak jelas. Yang pasti, laki-laki itu telah tewas dan tak bisa ditanya lagi kebenaran desas-desus tersebut. Murid perempuan iu bernama Bulan!
Hari berikutnya, menyusul peristiwa lain. Seorang pemuda tewas seketika karena menabrak pohon. Orang yang berada di dekat kejadian ngeri melihat peristiwa tersebut. Kepalanya pecah, otaknya terhambur. Orang-orang yang sempat melihat kejadian itu mengatakan bahwa pemuda tersebut mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan yang tinggi. Peristiwa kecelakaan itu dianggap biasa, kalau tidak salah seorang teman si pemuda yang tewas itu menceritakan sehari sebelum peristiwa kecelakan tersebut, temannya yang tewas itu mengatakan dia selalu bermimpi buruk. Dia selalu didatangi seorang perempuan muda dengan perut yang menggelembung seakan mau meletus. Perempuan muda itu menatapnya dengan mata merah menyala bagaikan bara api. Mata yang menyimpan dendam dan sangat mengerikan!.
Dua hari kemudian teman pemuda yang menceritakan kejadian tersebut ditemukan saudaranya menggelepar-gelepar sehabis minum racun serangga dalam kamarnya. Untung jiwanya masih diselamatkan. Namun ingatan pemuda itu menjadi hilang. Dia berubah menjadi pendiam. Bila ada yang mengajaknya berbicara atau menanyakan sesuatu, dia hanya tersenyum saja dan menatap dengan tatapan matanya yang kosong. Terkadang dia berteriak-teriak sendirian di malam hari dengan menyebut-nyebut nama; Bulan, Bulan. Laki-laki itu memang masih muda tapi hilangnya ingatan telah memusnahkan harapan dan masa depannya yang masih jauh terbentang di depannya.
Kini orang-orang warga kampung kami tahu, bahwa roh Bulan masih penasaran. Gentayangan. Dia ingin mencari laki-laki yang memiliki andil atas kehamilannya. Lelaki yang pernah menikmati Bulan, menghancurkan hidup Bulan. Bulan terus bergentayanga.
Aku peringatkan kepada yang pernah berhubungan dengan Bulan, terutama lelaki yang pernah merasakan kemontokan Bulan, bersiap-siaplah untuk menyambut kedatangannya dengan dendam dan pembalasan kematian. Termasuk aku!
Ya, aku. Karena akulah lelaki  yang ditemuinya sewaktu hendak nonton layar tancap. Akulah laki-laki yang pertama kali merampas kehormatannya! Aku lah yang telah dirasuki iblis itu dan aku menyesal.
***
KETIKA  peristiwa Bulan mulai dilupakan orang. Warga kampung kami kembali digemparkan oleh peristiwa perkosaan yang dilakukan terhadap bocah kecil yang masih duduk di sekolah dasar. Astaghfirullah. Dan malam pun kembali menarehkan luka. Menggiris-ngiris kegelapan malam.***

(Pernah dimuat di Koran harian Manuntung, kini Kaltim Post, 26 Juni 1994)

 

Surat Kepada Yth. Tikus

:: akhmad Zailani


SEBELUMNYA saya mohon maaf kepada bangsa tikus, baik tikus comberan maupun tikus yang hidup dimana pun, di kantor dewan, di kantor Pemerintah Propinsi (pemprop), di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Pemerintah Kota (Pemkot) serta di departemen dan instansi pemerintahan lainnya, di kantor kejaksaan, di kantor KPK, di kantor kepolisian  ataupun di plafon rumah kita. Saya minta maaf, karena saya menyamakan mereka dengan manusia yang mengkorupsi uang negara.

Kepada bangsa tikus di manapun berada,

Entah kalian harus marah atau bangga, karena derajat kalian sama dengan koruptor, yang jelas kalian harus dibasmi. Bila tikus penggeret batang padi di sawah dibunuh-bila perlu dibakar-entah apakah manusia tikus  atau tikus manusis (tikus yang berbentuk manusia) perlu dihukum yang sama, sama-sama diburu, dibunuh lantas dibakar. Tapi rasanya kurang tikusiawi. Kasihan. Mungkin, kalian para tikus boleh iri, tapi begitulah. Manusia tikus ini sulit sekali dijerat, karena memang rata-rata mereka lihai, pandai berkelit.

Perlu kalian juga ketahui, manusia tikus ini berada di mana-mana. Ada yang tugasnya (semestinya) menangkap manusia tikus, eh gak ketangkap-tangkap. Kenapa? Ini sulit, karena si penangkap atau si penjerat manusia tikus itu, terdapat juga manusia tikus. Aneh kan. Mana bisa manusia tikus memangkap manusia tikus juga, konco sendiri.

Saya tadi menyebutkan, manusia tikus yang akan ditangkap lihai dan pandai berkelit. Begini; ketika mereka ketahuan, mereka lalu “menyisihkan bagian makanan yang dicuri” untuk diberikankepada  si manusia tikus penangkap. Akhirnya, karena telah mendapat bagian makanan hasil curian, manusia tikus yang mestinya menggurung manusia tikus malah “kekenyangan” dan diam saja. Diam saja bisa pura-pura bersikap garang, tapi garang tak bertindak. Sebatas di mulut saja, tapi gak bergerak.

Begitulah.

Kepada bangsa tikus, saya juga perlu menyampaikan, masyarakat manusia juga gak bisa bertindak apa-apa. Mungkin hanya bisa menunggu saja; berharap manusia tikus itu mati sendiri, karena kekenyangan. Tapi itu tidak mungkin. Paling-paling manusia tikus yang terjerat itu manusia tikus comberan, sementara bos-bos tikus yang banyak memakan  uang negara  bebas berkeliaran.

Kepada bangsa tikus, saya mohon maaf tanpa konfirmasi karena menyamakan kalian dengan koruptor, penggerogot uang negara. Mungkin kalian tersinggung, karena merasa tidak banyak merugikan manusia. Namun terlepas soal membawa-bawa “nama tikus”, pada dasarnya tikus adalah musuh manusia, karena merugikan. Terlepas dari siklus simbiose ular makan tikus, tikus makan kodok, kodok makan nyamuk dan seterusnya. Ini menyangkut tentang hak dan bukan hak.

Akhirnya, mungkin kita perlu bersama-sama menyatakan perang terhadap  manusia tikus, yang merugikan masyarakat tikus dan manusia itu sendiri. Untuk hal ini, tiada maaf bagi manusia tikus, yang meniru-niru tikus.

Surat tersebut tak sempat dikirimkan, karena keburu digigiti tikus hingga hancur. ***

Ibu Terus  Menunggu  dan Tidak Ingin Dia Menyentuh Ikan Bakar  Itu

:: Akhmad Zailani (Indonesia)

“MAMAAAT…”, berbarengan dengan suara lembut itu, pintu kamar lelaki kurus itu kini telah terbuka. Seraut wajah wanita setengah baya nongol dari balik pintu. Ada bekas-bekas kecantikan pada wajah wanita itu! Dia adalah ibu dari lelaki kurus itu.“Makan dulu, Mat…, “. Wanita yang masih cantik itu mengajak makan sang anak.

“Iya bu…, “Mamat bangkit. Dia mengambil kruk-nya yang asik bersandar di tepi ranjang. Diletakkannya kedua kruk itu di bawah kedua ketiaknya. Dengan kedua kruk itulah dia berjalan melangkah keluar dari kamar. Kaki kirinya yang ‘tumbuh’ kecil, berkibar-kibar akibat ayunan langkahnya. “Masak apa bu, “Tanya si anak.

“Sayur bening dengan Ikan Mas Bakar kesukaanmu, “jawab ibu. “Asik ….,” si anak tersenyum. Ibu juga ikut tersenyum. Ada perasaan bahagia bila melihat anak satu-satunya itu ikut tersenyum. Dia ikut merasakannya. Juga bila sang anak bersedih, ingin pula dia ikut berbagi kesedihan dengan sang anak. Atau seumpama kesedihan itu bisa dipindahkan, inginlah dia agar kesedihan itu dipindahkan saja kepada dirinya. Itulah ibu.

Ibu dan anak itu makan. Tak ada meja makan di rumah itu. Duduk lesehan di lantai itu sudah cukup. Ibu menatap anaknya yang makan dengan lahapnya. “Ayo tambah lagi Mat”.

“Iya, bu,” mulut Mamat penuh dengan nasi.

Kembali sang ibu tersenyum. Dan pelan-pelan kembali ia menyuapkan nasi lagi ke mulutnya. Pelan sang ibu mengunyah-ngunyah nasi yang ada di mulutnya. Mamat menambahkan lagi dua sendok nasi ke dalam piringnya. Ibu dan anak itu asik makan. Yang ada hanya dua ekor Ikan Mas Bakar (ukurannya kecil), tempe dan sayur bening serta sambal di cobek. Itu sudah cukup menurut Mamat. Ikan Mas Bakar itulah kesukaanya sejak kecil.

Ibu itu memperhatikan kembali wajah anaknya, di sela-sela ‘kegiatannya’ menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Ingatannya kembali terbayang pada suaminya. Persis benar raut wajah sang anak dengan wajah sang bapak. Juga cara makannya yang lahap, dengan ikan bakar kesukaan mereka. Persis benar…, gumam sang ibu. Bila sang bapak pulang dari menyopir taksi untuk makan siang, yang ditanyakannya pasti apakah ada ikan bakar di pasar. Kalau makan Sang bapak ‘gila’ ikan bakar. Setiap makan siang, selalu ada ikan bakarnya (kecuali di pasar tidak ada orang yang menjual ikan). Selalu dia begitu. Tak bosan-bosannya dia makan ikan bakar. Si ibu pernah menanyakan seandainya kalau makan siang ini tak ada ikan bakarnya dan cuma ada ayam goreng misalnya, bapak tetap akan makan? “

Setengah bercanda Si bapak menjawab ikan bakar bagi saya, bu, sama dengan ‘kebutuhan’ saya terhadap ibu. Kalau tak ada ikan bakar yah…bukankah masih ada ibu, “jawab bapak. Selanjutnya cubitan manislah yang ‘menjawab’ canda bapak itu. Bapak tak suka daging ayam atau sapi.

Ah, itu dulu… selagi masih ada bapak bersama mereka. Bapak sudah ‘pergi’ beberapa tahun yang lalu (sekitar enam tahunan). Taksi yang di kendarai bapak bertabrakan dengan truk di persimpangan jalan. Tak ada pesan-pesan penting yang di tinggalkan bapak. Bapak hanya berkata : “ Bu, tolong nanti siang bakarkan bapak ikan mas”. Itu saja pesannya. Dan siangnya, saat bau ikan mas bakar menunggu bapak yang datang malah kabar duka : Bapak tabrakan dan meninggal. Oh, bapak. Bapak sudah pergi meninggalkan mereka berdua. Bapak sudah pergi…ibu mengusir bayangan bapak di sela-sela makan siangnya.

“Kenapa melamun, bu?” tanya Mamat. Piring di tangannya kini telah kosong. Isinya sudah ‘licin mengkilat’. Dibasuhnya tangannya. “ingat bapak lagi ya?”

“Oh, ndak…,”ibu bergegas ‘menyelesaikan’ nasi yang tersisa di piringnya. Tak berapa lama nasi di piring ibu juga tandas. Alhamdullillah…

“Bu, saya nanti mau ke rumah Marno. Hari ini kan hari Minggu. Sudah lama saya ndak ke rumahnya. Saya nginap di saya ya bu? Besok siang baru saya pulang.”.

“Besok pagi kan kamu sekolah, Mat?”. “Sekali ini saya bolos dulu bu. Sehari ini saja, bu .. Saya kangen dengan suasana di kampung Marno. Besok siang saya pulang bu,”.

Ibu memang terlalu memanjakan anak satu-satunya itu. Dan selalu tak bisa menolak keinginan Mamat. “Hati-hati ya Mat,”Si ibu menatap sang anak.

“Sip, bu,”jawab Mamat seraya mencium kening sang ibu. Dia kembali mengambil kruk di sampingnya lantas bergegas masuk kembali ke dalam kamarnya. Dia sudah kangen tampaknya dengan Marno sahabatnya sewaktu SD. Dia sudah berteman dengan Marno sejak itu. Hingga kini sampai SMA dan Mamat berhenti sekolah karena biaya SPP tak dapat dijangkau lagi oleh kehidupannya yang miskin. Ayah Marno hanyalah petani. Dan itu pun hanya menggarapkan tanah milik orang , lalu hasilnya di bagi dua dengan pemilik tanah. Tanah Bapak Marno sudah dijualnya dan kini jadi lapangan golf. Tanah itu terpaksa dijual untuk biaya pengobatan ibu Marno yang terkena tumor.

Ibu memberesi piring-piring makan dan perkakas makanan lainnya yang tak seberapa lengkap itu. Bergegas dia. Karena setelah itu kembali dia menjaga warungnya. Ibu punya warung hasil dari tabungan bapak selama menyopir taksi. Pelan-pelan ibu lantas menabung dari usaha warungnya. Rezeki dari warung itulah-setelah meninggalnya bapak-untuk menghidupi mereka berdua. Usaha warung itulah yang membuat mereka masih bisa bernapas himgga sekarang.                 Mamat memberesi alat-alat melukisnya. Tube-tube cat minyak yang berserakan di lantai dimasukkannya ke dalam plastik, lantas dimasukkannya lagi ke dalam ranselnya. Kuas-kuas dari berbagai ukuran diikatnya dengan karet, lantas dimasukkannya pula ke dalam ransel. Kain kanvas tak lupa pula dibawanya. Dia ingin melukis di kampung Marno.Pemandangan di sana tak habis-habisnya untuk dipindahkan di kanvas. Sesaat Mamat ingin melupakan kegundahan hatinya. Dia ingin melupakan ‘masalah kecil’ kemarin di sekolah. Tentang Ryan yang merupakan anak orang kaya,  bersama-sama dengan teman-temannya mempermainkannya. Menyembunyikan kruknya, mengolok-ngolok dan menyinggung-nyinggung tentang kemiskinannya atau menjodoh-jodohkannya dengan Sinta atau hal-hal lainnya lagi yang begitu merendahkannya. Sesaat Mamat ingin melupakan itu semua.

Dimasukkannya pula beberapa potong pakaiannya, lantas diselempangkannya menyilang di tubuhnya. Sip. Tinggal berangkat. Sudah lama dia memang tidak ke rumah Marno. Setahun yang lalu, pada saat Idul Fitri, itu pun yang terakhir kali. Mamat lalu melangkah ke luar kamar. Dia menemui ibunya. “Bu…, panggilnya.

Ibu yang asik mencuci piring menghentikan kesibukannya. “Sebentar Mat…tangan ibu kotor,” ibu melanjutkan pekerjaannya.

Mamat memperhatikan ibu yang mencuci piring. Ibu yang sering berlomba duluan bangun dengan suara kokok ayam. Dan, walaupun ibu ketinggalan bangun dengan suara kokok ayam, namun masih duluan bangun dibandingkan dengan matahari, tapi ibu masih bilang begini :”ah, ibu terlambat bangun …” . Ibu yang di pagi buta sudah memasakkan nasi buat sarapan pagi untuknya sebelum berangkat sekolah.

Mamat masih berdiri…. Ibu melap tangannya dengan serbet. Pekerjaannya yang hanya mencuci beberapa piring dan gelas serta membereskan peralatan makan lainnya sudah selesai.

“Bu, Mamat pergi dulu… “Mamat mencium wanita lima puluh tahunan itu. Mencium tangannya… “Hati-hati ya Mat. Cepat pulang…”. Mamat mengangguk. “Bu,besok siang siapkan ikan mas bakar ya?”. Ibu mengangguk. Mamat lalu menyeret langkahnya ke luar rumah. Dan ibu mengiringi kepergian anaknya dengan matanya yang lelah. “Hati-hati ya Mat..”. Lagi-lagi Mamat mengangguk lantas kembali menyeret langkahnya.

Sang ibu masih berdiri di situ sampai Mamat menghilang dari pandangannya. Dia begitu sayang dengan anaknya. Hanya rasa itulah yang tertinggal. Rasa sayang ibu Mamat begitu murni. Tak dapatlah dibanding dengan apapun. Tak bisa dinilai dengan apapun. Emas yang begitu murni sekalipun tak akan bernilai bila di bandingkan dengan peraasaan sayang seorang ibunya Mamat. Tak bisa ditukarkan dengan berton-ton berlian sekali pun! Ibu sangat menyayangi Mamat. Ibu tahu, bila Mamat tidak ada maka sunyilah hatinya. Dan setelah Mamat kembali pulang hatinya kembali gembira. Ibu tidak ingin lama berpisah dengan Mamat. Menunggu Mamat dari pulang sekolah pun bagi ibu bagaikan sudah menunggu bertahun-tahun. Hanya Mamat-lah yang tersisa bagi ibu, setelah kepergian bapak. Dan bagi ibu hanya dialah tempat kasih sayang buat si Mamat. Ibu ingin membahagiakan Mamat. Ibu ingin Mamat berhasil jadi ‘orang’. Dan menyekolahkan Mamat setinggi-tingginya, itulah keinginannya. Ibu berharap, nantinya Mamat bisa berbahagia. Kini setelah Mamat pergi ke rumah Marno di kampung Lempake, sunyilah hati ibu. Mamat persis betul wajah bapak. Kenangan dulu terbongkar kembali. Kenangan saat bapak masih ada. Kenangan ibu bersama bapak waktu pacaran dulu. Perkawinan ibu dan bapak yang tidak disetujui oleh orang tua ibu karena orang tua ibu tidak setuju kalau putrinya kawin dengan seorang yang pekerjaannya tidak tetap. Karena orang tua ibu tidak setuju kalau putrinya kawin dengan orang yang senangnya bikin puisi dan cerpen. “Seniman edan,” kata orang tua ibu. Orang tua ibu tidak setuju putrinya hidup menderita. Tapi akhirnya ibu tetap nekat kawin sama bapak. Walaupun hidup ibu dan bapak pas-pasan tapi ibu berbahagia. Akibat menikah dengan bapaklah, akhirnya ibu tidak diakui anak lagi oleh orang tua ibu. Itu dulu… selagi masih ada bapak. Saat ini pun ibu masih berbahagia karena ada Mamat. Walaupun bapak sudah ‘pergi’, hubungan ibu dengan orang tuanya pun masih seperti dulu. Pernah suatu hari, ibu dan Mamat ke rumah orang tua ibu, tapi sesampainya di sana ibu dan Mamat tidak dihiraukan. Orang tua ibu tidak berbicara sepatah kata pun. Ibu pulang dengan kekecewaan.

Bila tidak ada kerjaan memasak (pekerjaan memasak dan lain sebagainya) dan ibu sedang duduk menunggu warung, seringlah ibu melamun-lamun sendiri. Kenangan bapak sewaktu masih hiduplah yang paling banyak hadir dalam lamunan ibu. Perkenalan ibu dengan bapak. Masa-masa pacaran ibu dengan bapak. Dan sampai lahirnya Mamat. Bagi ibu bapak adalah hal terindah yang pernah ada dalam hidup ibu. Juga setelah Mamat lahir. Bagi ibu kedua laki-laki itulah yang membuatnya bahagia. Setelah bapak pergi, Mamatlah kini ’sisa kegembiraan’ ibu.

Oh, hari ini Mamat pulang, hati ibu sedikit gembira. Sudah sehari semalam ibu tidak melihat Mamat. Selagi Mamat ke rumah Marno, ibu benar-benar disiksa sunyi. Ibu kangen dengan Mamat. Makanya sebentar-sebentar ibu memperhatikan jalan di depan rumah, apakah Mamat sudah pulang. Tapi ibu kecewa, karena sudah siang begini tapi Mamat belum muncul juga. Padahal ikan bakar sudah tidak sabaran menunggu Mamat. Kali ini ibu menyiapkan ikan Nila yang besar-besar untuk sang anak. Ibu ingin melihat Mamat makan dengan lahapnya seperti bapak.

Oh, tapi Mamat belum pulang-pulang juga. Ada suara. Ah,tapi itu bukan suara Mamat. Mamat kalau pulang memang suka berteriak-teriak memanggil ibu. Itu bukan suara Mamat. Masa Mamat memanggil ibunya dengan Bu Mamat. Itu suara Ibu Tatang, tetangga ujung. Pasti dia mau beli sesuatu. “Ada lombok bu,”. Benar. Itu Ibu Tatang. “Ada. Mau beli berapa bu?” Lima ratus saja.” Lombok lantas  ditukar dengan uang. Dan Mamat belum pulang juga. Ke mana si Mamat? Padahal ikan bakarnya sudah menunggu.

Ibu gelisah. Hari sudah sore. Sebentar lagi malam. Tapi Mamat belum juga pulang.

Ah, ibu tidak tahu, kalau Mamat tidak akan pernah bisa pulang lagi. Taksi yang ditumpanginya saat pulang telah bertabrakkan dengan sebuah truk di persimpangan yang sama pada saat taksi yang dikemudikan bapaknya bertabrakkan dengan truk enam tahun yang lalu. Ibu belum tahu kalau ikan bakar yang telah disiapkannya untuk Mamat tidak akan pernah dihabiskan anaknya.

Ibu terus menunggu Mamat dan tidak ingin pula dia menyentuh ikan bakar itu. Itu ikan bakar untuk anak kesayangannya. Dan ibu terus menunggu… ****

Hati dalam Toples

::  Akhmad Zailani

(Indonesia)

Gambar


KATA orang menunggu adalah suatu pekerjaan yang membosankan, terkadang memang begitu. Tapi kali ini, bagiku menunggu tidaklah begitu membosankan. Aku sedang menunggu bis di Terminal Sungai Kunjang. Dan aku menunggu ditemani oleh pacarku. Hal itulah yang tidak membosankan bagiku. Biarlah  bis berangkatnya lebih lama. Agak siang sedikit juga tak apa. Aku tak tergesa-gesa. Waktu masih panjang. Aku masih ingin bercakap-cakap.

Sebagai seorang mahasiswa aku harus mengadakan penelitian untuk menulis sebuah skripsi, yang merupakan salah satu syarat untuk mencapai gelar kesarjanaan. Sesuai dengan judul penelitianku yang telah disetujui oleh pembimbingku, yaitu Pengaruh Pemberian Artemia Flake dengan Frekuensi dan Persentase yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Benur Udang Windu (Panaeus Monodon Faricius), maka aku harus ke Balai Benih Udang Manggar di Balikpapan.

Sebelumnya aku survey duluan ke sana. Aku juga sudah mempersiapkan alat-alat dan bahan yang diperlukan untuk penelitian tersebut. Timbangan dengan ketelitian yang cermat juga telah aku temukan tempatnya ; di sebuah lab rumah sakit Balikpapan. Aku merasa lega. Di laboratorium itu aku bisa menimbang udang dan dosis pakan yang diinginkan. Dan di rumah sakit itu juga aku bisa bertemu dengan seorang dokter yang walaupun sudah bersuami tapi masih bersemangat. Dengan bodynya yang tinggi langsing dan kaki indah yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Ah, aku jadi ngelantur terlalu jauh. Maaf.

Aku melempar pandanganku ke bis yang hampir penuh. Ah, tampaknya banyak juga orang yang akan berpergian ke Balikpapan. Aku kembali menatap pacarku : “ hati-hati selama aku ngak ada”.

”Kamu juga, jangan lupa telpon,” balasnya.

Aku meraih ranselku, lalu melangkah masuk ke dalam bis. Duduk di ujung, dekat jendela yang terbuka tentu merupakan tempat yang nyaman. Ransel aku letakkan. Seorang penjual karcis menyodorkan karcis kepadaku. Karcisnya aku tukar dengan uang. Bis mulai bergerak dan dari balik jendela kaca; pacarku melambaikan tangan. Bis bergerak melewati Jembatan Mahakam. Dengusnya kian terasa, aku diam. Melamun dengan pandangan keluar bis. Kursi di sampingku kosong. Sedangkan kursi di deretan kiri duduk sepasang suami istri. Mereka hanya sesekali bercerita. Selebihnya sang suami membaca koran terbitan hari ini. Pagi tadi aku pun sempat membaca Manuntung tentang beberapa peristiwa yang cukup menarik. Penggunaan obat-obat daftar G di kalangan remaja. Pembunuhan atau pemerkosaan juga mewarnai tiap hari halaman surat kabar. Atau tentang hal-hal yang kesimpulannya ketidakpuasan terhadap hal-hal yang mendasar. Tentang penggusuran dan lain sebagainya. Itulah cerita. Dan seandainya tak ada berita yang menarik atau dibuat agar menarik apa bisa laku surat kabar, yang begitu membutuhkan berita. Itulah hidup. Ada warna-warninya. Ada hitam putihnya. Ada buruk baiknya. Kalau tidak begitu bukankah tidak menarik?

Bis berhenti di Sungai Keledang. Seorang wanita yang aku taksir sekitar dua puluh tahunan naik dan masuk ke dalam bis. Cukup menarik dan manis. Rok span yang pendek seolah-olah memperlihatkan kaki-kakinya yang putih mulus. Sekali lagi aku menaksir, tingginya sekitar seratus enam puluh lima cm. Lumayan tinggi bukan? Untuk wanita pada umumnya. Dia meletakkan kopernya. Kernet bis membantu (dengan senang hati tentunya) mengangkatkan karung goni miliknya. Tampaknya tidak begitu berat. “ Yang itu biar diletakkan dibelakang aja,”ujarnya. Kernet itu pun meletakkan karung goni dekat kursi deretan kursi di belakang. Tak sempat bertanya-tanya pula kernet itu apa isinya. Yang dilakukan hanyalah; sehabis meletakkan karung goni itu lantas dia kembali duduk di kursi deretan paling belakang. Kembali dia tidur-tiduran ayam lagi. Dan lewat kaca spion sang sopir melihat keadaannya sudah beres, bis pun digerakkanya lagi. Wanita yang berspan pendek itu pun tanpa berbasa-basi telah meletakkan pantatnya di kursi tepat di sampingku. Sempat-sempatnya pula mata coklatku meliriknya. Memang manis, gumam hatiku. Beberapa saat sunyi menggangguku.

Aku ingin bercakap-cakap dengannya. Tapi rasa maluku menghambat. Sunyi tanpa bicara, padahal duduk bersebelahan adalah suatu hal yang canggung bagiku tanpa basa-basi. Aku kembali meliriknya. Sedikit saja. Pas kebetulan juga dia melirik ke arahku. Dia tersenyum, otomatis aku pun jadi ikut tersenyum. Cihui, hatiku jadi berdebar-debar. Lantas hening kembali. Aku kembali dengan aktivitasku, membuang pandangan keluar jendela. Melamun-lamun sebentar dengan khayalan yang terbang ke awan. Di luar jendela pohon-pohon berlarian. Dan dengus bis masih terdengar. Kalau pun suara bis tidak terdengar, sudah pasti bis itu mesinnya tidak berbunyi dong hehehe.

Wanita manis (kulit putih mulus ada bulu-bulu halus di tangannya) yang duduk di bangku sampingku meraih minuman  kotak yang di belinya dari pedagang asongan. Ditusukkannya sedotannya ke  atas kotak yang ada tandanya, lantas bibirnya yang tipis ( bak jeruk nipis) mulai menyedot teh dalam kotak.” Mau?”dia menawariku. Ada satu teh kotak lagi. Sebenarnya inginlah aku memilih teh kotak yang diisapnya. Sebenarnya ‘bekas’ sedotannya itulah yang aku inginkan. Tidak untuk teh kotaknya. Aku belum haus. Tapi akhirnya aku raih juga teh kotak yang masih ‘perawan’ itu dengan ‘terpaksa’. Lumayan gratis. Dan bila gratis pasti ‘enak’. “Pulang kampung?”dia bertanya padaku.

“Ah, nggak. Aku mau penelitian di Manggar. Kalau kamu?”aku balik bertanya. “Aku ingin pulang. Lama sudah disini (Samarinda, maksudnya), ” wanita manis itu tersenyum.”Aku kangen sama Balikpapan…”. Penumpang yang duduk pada kursi di depan kami menolehkan kepalanya. Sebentar, lantas meluruskan kembali kepalanya.

Bis masih berlari. Sebentar-sebentar menanjak. Sebentar-sebentar menurun. Dan sebentar-sebentar menikung. Kami, aku dan wanita itu  terus mengobrol. Enak juga mengobrol dengannya. Baru kenal sudah begitu terbuka bicaranya. Kami bicara tentang apa saja. Sesekali mataku memperhatikannya. Indah memang.

“Lama penelitiannya?”suaranya bertanya.

“Lama juga. Memang kenapa nih? Boleh main ke rumah nanti? Itu juga kalo nggak ada yang marah…”., aku mulai nakal.

“Boleh”, dia kembali tersenyum. “Kamu juga apakah nggak ada yang marah?”.

Aku hanya tersenyum.

“Pertanyaan yang tak diinginkan. Tidak enak juga bila berbohong. Bisa saja aku menjawabnya begini :”Ah, siapa yang marah. Orang jelek kayak aku ini mana ada yang mau.”.

“Kamu kuliah dimana sih?” tanya wanita itu.

“Di Unmul Fakultas Pertanian. Kalau kamu?”.

“Aku kuli…ah,”dia tertawa. “Eh, kita belum tahu nama kita masing-masing. Namaku Selvi. Boleh jabat tangan kan?”dia mengulurkan tangan kanannya. Agresif juga nih cewek. Kalah aku. Lembut juga tangannya. “Boleh lama nih megangnya,” candaku. Mengimbangi keagresifannya? “Boleh Selvi tersenyum lagi. “Sampai Balikpapan juga boleh. O, ya nama kamu belum disebutin…” tapi dia menarik tangannya..”Namaku Rahmat”.

“Rahmat…hmm lumayanlah. Rahmat… sebenarnya aku sudah menikah,”dia menatapku. Tapi aku tertawa. “Benar Rahmat. Aku udah menikah, walaupun belum punya anak”.

“Lantas suamimu mana? kenapa nggak ikut?”. “Ikut…,”Selvi tertawa. “Kami sudah berpisah…”. Lantas dia berbicara panjang lebar tentang dirinya dan kehidupan rumah tangganya. “Aku sudah membunuhnya…aku sudah membunuhnya…,”suaranya pelan. “Aku sudah membunuhnya Rahmat, karena dia membawa perempuan ke rumah kami. Saat itu aku pulang ke Balikpapan, Rahmat. Seminggu aku berada di Balikpapan. Ketika aku pulang ke Samarinda tidak memberitahu suamiku. Saat aku tiba di rumah suasananya sunyi. Mungkin suamiku belum pulang, pikirku. Tapi ketika pintu aku buka ternyata tidak di kunci. Aku lantas masuk. Saat aku mau masuk kamar, telingaku mendengar suara suamiku dan suara seorang perempuan. Mereka tertawa-tawa. Darahku langsung saja mendidih. Rupanya selama aku ke Balikpapan, suamiku asik push-up hahaha, “sejenak selvi tertawa sinis. “Aku tidak jadi masuk kamar dan malam itu juga aku langsung ke rumah keluargaku di Kampung Jawa. Mereka nampaknya nggak tahu aku telah melihat perbuatan mereka “. Selvi kembali diam sejenak. Di sedotnya sisa minuman kotaknya. Kuperhatikan dia, ada rasa kasihanku padanya. Dia butuh teman. Yang ingin kulakukan adalah menampung segala tumpahan emosinya. Sebagai pendengar yang baik itulah yang kulakukan.

“Dua hari kemudian baru aku pulang. Perempuan itu tak ada. Suamiku menyambutku wajar saja. Dia menyangka aku tidak mengetahui perbuatannya,”Selvi kembali melanjutkan ceritanya.  “Ah, kami memang kawin muda. Dan aku sangat mencintai suamiku. Aku ingin dia tetap milikku. Aku tak ingin ada perempuan lain yang merampasnya. Aku mencintainya. Pada suatu malam, saat suamiku tidur nyenyak, aku menancapkan sebuah pisau ke dadanya lalu aku potong-potong tubuhnya. Sadis memang. Tapi karena aku begitu mencintainya. Dia hanyalah milikku! Tidak untuk perempuan lain.”.

Oh. Kamu…kamu membunuhnya karena kamu mencintainya?”.

“Iya. Di dalam karung goni itulah mayatnya,” suara Selvi terdengar seperti berbisik lantas dia tersenyum sinis. Oh, ingin rasanya aku pingsan saja. “Aku ingin membuang mayat itu di pertengahan kilometer Samarinda-Balikpapan … dan menyimpan hatinya yang telah diawetkan di dalam toples,” katanya.

***

BIS masih kosong. Aku sedang menunggu bis di Terminal Batu Ampar-Balikpapan. Aku sudah selesai dengan penelitianku tentang larva udang windu. Cukup melelahkan juga. Berpanas-panas matahari di pantai selama tiga bulan tentulah cukup menghitamkan kulitku. Aku kini lega dan ingin cepat pulang. Bis masih belum penuh. Aku belum mau masuk ke dalamnya. Terlalu pagi memang aku datang. Biarlah. Aku ingin melamun-lamun di sana sambil menatap kesibukan-kesibukan di Terminal Bis Batu Ampar. Aku berpikir-pikir dan mengingat-ingat tak ada lagi sesuatu apa pun yang tertinggal. Sesuatu apapun. Juga mengenai Selvi!

Sejak perkenalanku dengannya di bis dulu sampai akhir penelitianku, Selvi selalu dekat denganku. Dia menemaniku selama penelitian di Manggar. Kami selalu bersama-sama. Sewaktu aku harus menimbang larva udang windu, yang kecilnya seperti rambut itu pun (yang jaraknya berkilo-kilo dari lokasi penelitian) dia mau saja ikut bersamaku. Dia butuh teman. Dia ternyata menyukaiku. Selvi mencintaiku! Itulah yang akhirnya aku takuti!

Bis hampir penuh. Dan mau berangkat. Mesinnya sudah terdengar. Aku melangkah. Ranselku yang dulu tetap menemaniku. Cuma ada tambahan. Ada sebuah toples yang aku bawa dari Balikpapan! Ya, sebuah karung goni lagi telah aku tinggal di pertengahan kilometer Balikpapan-Samarinda.  Aku rasa kamu sudah tau isinya…

Ya, hati milik Selvi telah aku awetkan dalam toples.

Bis sudah bergerak menuju ke Samarinda. Aku melamun-lamun sendir.i  Angin menerpa-nerpa wajahku. Aku ingin segera tiba di Samarinda. Aku berencana bila tiba nanti, hal pertama yang aku lakukan adalah : Aku ingin membeli satu buah toples lagi. Itu aku lakukan karena aku mencintai Selvi dan …..  pacarku. ***

  • Cerpen ini pernah dimuat di Koran Harian Kaltim Post berjudul Pembunuh (Aku Membunuhnya Karena Aku Mencintainya)

Gambar

LUKISAN BERDARAH

 (* pernah dimuat di koran harian Kaltim Post dan terhimpun dalam buku antologi cerpen :Para Lelaki, 
dengan judul Maryam Melap Darah yang Memercik di Lukisan Bapak)

:: AKHMAD ZAILANI

(Indonesia)

KUAS itu masih menari-nari di atas kanvas. Bergerak membentuk garis lurus berwarna hitam, putih, merah dan warna-warna lainnya. Atau sekali melenggak lenggok dengan warna-warni yang lain. Bergoyang ke kiri atau ke kanan. Dan terkadang ke atas atau ke bawah. Kanvas yang dasarnya putih itu kini berwarna-warni.

Tangan mungil itu masih asik menyapukan cat minyaknya di kanvas, seperti juga hidup, kita  sendirilah yang akan memberi warna. Bila kita ingin hidup kita indah berikanlah warna-warna yang manis dalam hidup. Hidup adalah kanvas. Sedangkan kelahiran dan kematian adalah bingkainya. Warnailah hidup kita dengan langkah-langkah yang baik, dengan perbuatan-perbuatan amal, niscaya hidup kita akan terasa indah.

Sang pemilik jari lentik itu tak bersuara sedikit pun. Hanya tangannya yang lincah, bersuara di atas kanvas. Kali ini dia melukis  tak memerlukan model seperti hari-hari sebelumnya. Begitulah anak itu. Bila pikirannya sedang gundah, lukisannya jadi beraliran abstrak. Coretan-coretan kuas dengan warna-warna yang sedang disapukannya di atas kanvas, seakan mewakili perasaan hatinya yang sedang gelisah. Hanya suara kuas-kuas itu yang terdengar halus. Kuas yang asik bercumbu dengan kanvas. Sedangkan yang lain, benda-benda di dalam kamar gadis itu diam dalam bahasanya sendiri. Di dinding kamar itu berderet lukisan-lukisan yang beraliran realisme. Gadis tujuh belasan tahun itu terkadang tahan berjam-jam menggoreskan kuasnya. Hingga lupa makan. Baginya melukis itu sudah mampu mengenyangkannya dan menghilangkan rasa laparnya. Bagi dia melukis itu sudah seperti makan saja.

Ada beberapa hasil lukisan gadis itu yang tergantung di dinding kamarnya. Dan lukisannya yang terasa hidup (bagi dia dan ibunya) adalah lukisan bapak yang tergantung di dinding kamar ibu. Seakan-akan bapak masih tinggal di dalam rumah kecil yang terbuat dari kayu itu. Gadis dengan rambut panjang itu melukis sejak dia masih berusia lima tahun : dengan mencoret-coret dinding rumahnya sendiri. Bila ada dinding dengan cat yang masih baru (sehabis di cat bapak), itulah kanvas yang paling bagus baginya. Dinding dengan cat yang masih baru itulah yang membuat liurnya meleleh dan tangan mungilnya gatal untuk menggerakkan kuas dengan coretan-coretannya. Gadis kecil itu takkan puas bila dinding rumahnya masih tak ada ‘hasil karya besar-nya’. Itulah masa kanak-kanaknya yang bakat melukisnya tumbuh sejak kecil.

Dari hasil melukis dan sang ibu menjual gado-gado itulah dua anak-beranak itu mampu bertahan hidup. Bapak sudahmeninggal saat gadis itu masih berusia delapan tahun (waktu itu dia sedang berada di rumah paman di kota. Ibu yang menitipkan dia di sana untuk disekolahkan). Bapak di temukan tewas terapung di sungai dekat desa itu. Tubuh bapak ditemukan penduduk. Bapak telah tewas. Di tubuh bapak ditemukan bekas-bekas penganiayaan. Bapak dibunuh. Dan hingga saat ini belum diketahui siapa yang telah membunuh bapak. Hanya lewat mimpi-mimpilah anak dan ibu itu sering dikunjungi bapak. Hanya lewat mimpi pulalah anak dan ibu itu tahu siapa yang membunuh bapak.

Gadis itu masih mencoret-coretkan kuasnya di kanvas. Dan coretan-coretan itu masih (terasa) nampak belum berbentuk. Mungkin sang pelukis memang enggan menonjolkan bentuk realis. Karena perasaan memang tak dapat dilukiskan rupanya. Gimana bentuk wajahnya, tak bisa persis sama dengan wajah-wajah nyata lainnya. Perasaan hati atau emosi hanya bisa dilukiskan menuruti sang tuannya yang menggoreskan kuas di atas kanvas. Karena masing-masing pelukis berbeda dalam melukiskan rasa marah, rasa sedih atau perasaan lainnya. Begitu pula bila sang pelukis menumpahkan rasa itu kembali ke kanvas yang lain. Pasti berbeda.

Dan gadis semampai itu terkadang menggerakkan tangannya dengan cepat atau terkadang dengan gerakan lambat, diusapnya kanvas itu pada tempat yang itu-itu juga. Dia melukis dengan pikiran yang mengembara. Hanya perasaan emosinya sajalah yang turut membantu gerakan tangannya untuk menyapukan kuas di kanvas. Hanya perasaannyalah yang menyuruh tangan kanannya untuk mengambil warna-warna dari tube-tube  yang berserakan di lantai kamarnya. Sedangkan tangan kirinya yang buntung (tumbuh sampai siku) hanya diam saja menyaksikan saudaranya (tangan kanannya yang tumbuh sempurna) bekerja.

Kanvas yang berukuran 60cm x 80cm itu kini telah berwarna-warna. Penuh warna yang dimaui sang pelukis : warna merah tampaknya lebih menyolok. Kanvas yang rencana sang pelukis akan ‘diisi’ dengan : lukisan burung-burung yang terbang bebas di awan atau tentang suasana pedesaan di mana anak itu tinggal, kini kembali di coret-coret lagi (biar aja, pikirnya. Nanti bisa pesan lagi sama paman bila memerlukan kanvas dan cat minyak lagi di kota). Tak henti-hentinya tangan itu bergerak mengikuti perasaan tuannya. Tak henti-hentinya gadis itu menumpahkan perasaannya. Dia tak peduli (seakan) apa gambar di kanvas itu. Dia hanya ingin menyalurkan emosinya lewat kuas bersama cat minyak di atas kanvasnya.

Akhirnya tangan mungil itu berhenti juga. Diletakkannya kuasnya di lantai. Dan dipandanginya ‘lukisan’ itu lekat-lekat. Agak puas dia sekarang. Tok tok tok! Telinganya sempat pula mendengar suara ketukan pada pintu kamarnya. “ Maryaaaam…,” suara ibu dari luar kamarnya. “Makan dulu…,”. Bila sudah ada peringatan semacam itu, baru Maryam mengalihkan perhatiannya dari lukisan.  Bila sudah begitu, baru Maryam keluar dari kamarnya. Ibu selalu saja mengingatkan Maryam. Ibu khawatir anak satu-satunya itu nanti malah sakit. Ibu tahu Maryam tak bisa di pisahkan  dengan hal yang ada sangkut pautnya dengan lukisan. Bila sudah melukis, dia terlalu asik dan lupa waktu. Salah satu lukisan Maryam yang ibu suka adalah lukisan bapak yang tergantung di dinding kamar ibu. Lukisan itu (terlebih-lebih ibu) benar-benar terasa hidup. Ibu menyayangi bapak, hingga sampai sekarang ibu belum mau untuk menikah lagi. Bagi ibu hanya bapaklah suami ibu. Hanya satu suami, bagi ibu.

Padahal ibu tahu, banyaklah sudah yang ingin melamar ibu. Ibu selalu menolak. Tak ada lelaki yang bisa menggantikan bapak, ujar ibu. Tak terkecuali Datu Hirang, seorang kaya raya di desa itu. Sudah beberapa kali Datu Hirang memberikan ibu bermacam-macam hadiah. Tapi ibu tetap tidak mau. Datu Hirang adalah seorang rentenir. Dia dulu sahabat bapak. Bersama bapak, Datu Hirang awalnya dulu berusaha. Bersama bapak  Datu Hirang menemukan gua sarang burung walet. Bersama bapak, Datu Hirang mencari kayu Gaharu di hutan. Dulu, sebelum bapak menikah dengan ibu, Datu Hirang pernah datang melamar ibu.Ibu menolak. Ibu mencintai bapak dan menikah dengan bapak.

Dulu, pernah Datu Hirang mencoba memperkosa ibu, tapi sempat diketahui bapak dan Datu Hirang babak belur di hajar bapak, padahal bapak dan ibu sudah menikah waktu itu. Datu Hirang jadi sakit hati. Datu Hirang– yang kulitnya hitam– sejak itu mulai memikirkan untuk balas dendam. Dan di pinggir sungai dekat desa itu, bapak dihabisi oleh anak buah Datu Hirang.  Bapak dibunuh lalu mayatnya di buang ke sungai itu. Dan sampai sekarang Datu Hirang masih saja merayu ibu. Walaupun Datu Hirang tahu ibu tidak mau menikah dengan dia, selalu saja dia memberi hadiah untuk ibu, gelang, kalung, dan sebagainya. Karena Datu Hirang mungkin berpikir suatu saat hati ibu akan luluh juga dan mau menikah dengannya. Tapi ibu tetap menolak. Barang-barang pemberian Datu Hirang selalu ibu kembalikan. Ibu tetap setia sama bapak. Dan lukisan bapak yang tergantung di dinding kamar ibu (menurut ibu) sudah mampu mengusir rasa sepi ibu. Lukisan bapak yang tergantung di dinding kamar ibu sudah mampu memberikan kehangatan bagi ibu. Tak ada orang yang mengira dan menduga, bahwa ibu yang masih cantik itu tidak mau menikah lagi.

Tak ada orang yang mengira dan menduga, bahwa bila malam tiba hingga sebelum fajar ibu bisa bercumbu dengan bapak. Bapak hadir memberi kehangatan buat ibu. Tak ada yang menyangka dan percaya bahwa lukisan yang tergantung di dinding kamar ibu benar-benar hidup! Bapak yang selalu tersenyum (hasil lukisan sang anak) selalu datang di malam yang dingin dan berembun. “Bu, ini lukisan bapak. Pakaian di lukisan ini Maryam warnai dengan darah Maryam. Warna merah di cat minyak punya Maryam telah habis, bu, jadi jari telunjuk Maryam, Maryam lukai dengan silet…,” ujar Maryam ketika menyerahkan lukisan bapak untuk di gantung di kamar ibu.

“Oh, Maryam, kenapa mesti warna merah dari darahmu. Telunjukmu tidak apa-apa kan?” ibu cemas waktu itu. “Tidak apa-apa, bu. Sudah Maryam plester…,” Maryam tersenyum. Ibu mengagumi lukisan Maryam. Lukisan bapak benar-benar hidup. Lukisan itu cukup besar (berukuran 110 m x 210 m),  lukisan bapak yang mengenakan baju merah darah (yang benar-benar darah) yang selalu tersenyum. Pernah ibu bertanya kepada Maryam : “Maryam kenapa baju bapak kamu warnai merah, kenapa tidak putih atau warna yang lainnya?” Dan Maryam hanya menjawab : “Saya menyukai warna merah, bu.” Itu saja. Ah, Maryam memang suka dengan warna merah. Bila diperhatikan, cat minyak yang paling cepat habis adalah warna merah cat minyak miliknya. Warna merah yang selalu diidentikan dengan marah atau dendam yang membara mungkin selalu mewakili perasaan Maryam.

“Maryam, cat minyak masih ada?” tanya ibu. “Hampir habis bu. Cat minyak warna merah habis lagi. Ndak enak rasanya bila Maryam melukis ndak ada warna merahnya…,” jawab Maryam. “Titip sama Karto nanti. Tunggu saja. Nanti siang biasanya dia makan gado-gado di sini”. Karto adalah supir taksi. Bila siang tiba, dia makan (atau beli) gado-gado di warung ibu. Maryam selalu titip cat minyak sama dia. Karto tinggal di desa itu juga. Trayek taksinya dari desa ke kota atau kota ke desa. Biasanya yang memanfaatkan taksinya adalah para petani yang setiap pagi mengangkut hasil bertani atau berkebun untuk di jual di kota.

Taksi itu (atau tepatnya angkutan kota atau lebih tepatnya lagi gerobak besi) adalah milik Datu Hirang juga. Sudah disebutkan sebelumnya, bahwa Datu Hirang merupakan orang terkaya di desa itu. Dia memonopoli segala bidang usaha. Dia konglomerat desa itu. Kikirnya bukan main. Hanya kepada ibu dia tidak kikir karena ada maunya. Di bidang kawin pun dia jagonya. Istrinya ada sembilan. Dan dia ingin menggenapkan menjadi sepuluh tapi tidak kesampaian. Ibu masih setia sama bapak. Hidup Karto pun sulit. Dia banyak berutang dengan Datu hirang. Kerja menyupir taksi sia-sia belaka. Hanya cukup untuk makan hari itu juga bersama istri dan tiga anaknya. Tak sanggup pulalah dia melunasi utangnya. Sawahnya sudah diambil oleh Datu Hirang, tapi utangnya tetap masih ada dan terus kian membengkak. Itu hanya satu contoh.

Sebenarnya, sebagian penduduk di desa itu terjerat utang oleh Datu Hirang. Sawah miliknya sudah bukan lagi miliknya. Menggarap sawah (bekas sawahnya) dan hanya mendapat sebagian kecil saja hasilnya sebagai upah. Maryam menunggu Karto. Sebentar lagi pasti dia datang untuk makan siang di warung ibu. “Bu, kalau Kang Karto datang, tolong ya bu…Maryam ngantuk”. “Istirahatlah Maryam…”. Maryam melangkah masuk kamar dan ibu tetap melayani beberapa pembeli gado-gadonya.

Pukul tiga lewat lima belas siang, Karto belum datang-datang juga. Mungkin Karto makan di lain, pikir ibu. Warung ibu sudah sunyi. Dari jauh tampak tiga orang sedang menuju ke warung ibu. Ah, tapi sayang, itu bukan Karto. Itu…itu Datu Hirang bersama dengan dua  orang kaki kanan kirinya, Gewok dan Barjah. Ah, mau apa mereka. “Halo Marni,” Datu Hirang menyapa ibu. Gewok dan Barjah tertawa. “Diam!” bentak Datu Hirang kepada kedua anak buahnya itu. “Maaf…warungnya mau tutup,” ibu memberesi isi warungnya. Hari memang sudah hampir sore. Dan ibu (seperti biasanya) mau menutup warung, tapi ’setan hitam’ itu datang.

Datu Hirang atau oleh orang-orang di desa (tentu saja beraninya cuma di belakang) memberi julukan Si Tambi itu mulai mendekati ibu.Tapi ibu segera masuk ke dalam rumah. “Kamu tunggu di sini!” Si Tambi memerintah anak buahnya. Lalu dia bergegas masuk pula mengejar ibu. Pintu di kuncinya dari dalam. “ Marniii…aku ingin bicara,” Si Tambi berdiri di depan kamar ibu. Suaranya halus merayu. Kamar ibu terkunci dari dalam. “Pergi kamu! Kalau tidak aku akan berteriak!” suara ibu dari dalam kamar. Tapi sebelum ibu melaksanakan ancamannya, pintu kamar yang terbuat dari kayu itu telah didobrak Si Tambi. Ibu hanya sebentar sempat menjerit (itu pun lebih tepat terkejut). Mulutnya kini telah disekap oleh tangan Datu Hirang. Ibu lalu diseret di ranjang. Ibu meronta-ronta, tapi Datu Hirang malah semakin erat mendekap ibu. Pakaian ibu dibuka secara paksa oleh Datu Hirang.

Kedua manusia yang berlainan jenis itu sedang berusaha, : yang satu berusaha memaksakan keinginannya dan yang satu berusaha  menolak keinginan lawannya. Kedua manusia itu tidak tahu (tidak sempat melihat) bahwa lukisan bapak yang tergantung di dinding itu, wajah bapak yang biasanya tersenyum kini berubah marah. Matanya merah. Lukisan bapak di dinding kamar ibu bergoyang-goyang. Tak sempatlah dua manusia yang berlawanan itu memperhatikan lukisan bapak yang berada di dinding tepat di atas kepala keduanya.

Ibu sedang lelah meronta. Sedang Si Tambi semakin bernafsu saja. Ibu ditindihnya di bawah. Pada saat itulah Si Tambi tidak menyangka, bahwa lukisan bapak bergoyang-goyang dan akhirnya menimpa kepala Datu Hirang. Datu Hirang hanya sempat mengeluarkan suara :“ Aduh!” lantas nafasnya pun tidak terdengar lagi. Kepalanya darah.

Ibu menjerit-jerit. Orang-orang berdatangan. Tapi siang itu Datu Hirang telah mati. “kok bisa mati tertimpa lukisan”,“Kepalanya bocor”, “Dia mau memperkosa”,. “Mampus”. Hanya suara-suara orang yang bersyukur terdengar. Hanya dua orang kaki kanan Datu Hirang, yaitu : Gewok dan Barjah saja yang membawa tubuh Datu Hirang pulang. Walaupun selanjutnya mereka  berdua bingung, mau dibawa ke rumah istri yang ke berapa tubuh Datu Hirang tersebut. Mereka berdua berbeda pendapat di tengah jalan, lantas akhirnya mereka tinggalkan begitu saja tubuh Datu Hirang di jalan. Gewok dan Barjah berlari-lari pulang ke rumah. Sedangkan orang-orang sibuk menolong ibu. Walaupun ibu cuma pingsan. Di hati penduduk desa itu kini ada suatu kelegaan, bak terbebas dari suatu belenggu. Maryam melap darah yang memercik ke lukisan bapak, lantas meletakkan kembali pada tempatnya semula. Dia tersenyum menatap lukisan bapak yang tergantung di dinding. Dan bapak pun kembali tersenyum. ***

Wanita pejuang itu masih di situ;

Mengingat Anaknya Di Depan Jendela Yang Menganga

:: Akhmad Zailani

ANGIN malam masih mengalun lembut bersama-sama suara-suara malam. Keheningan menyambar di segenap lingkungan. Sunyi menusuk-nusuk, makin menambah sunyilah perasaan wanita tua itu. Dia membuka jendela. Dibiarkannya angin malam berebutan masuk. Dia ingin bercanda dan bercumbu sepuas-puasnya bersama malam. Langit di luar kontras sekali dengan ruangan kamarnya yang serba putih.

Wanita tua itu membuang pandangannya ke langit. Nampak mata tua yang lelah dan kosong. Suasana malam makin membuat larut lamunan wanita tua itu. Lamunan wanita usia tujuh puluh limaan lebih itu larut bersama angin, melintas bersama bintang-bintang malam, bersama langit yang hitam.

“Bintang Margono…,” suara batin wanita tua yang rambutnya lebih banyak warna putih dibandingkan warna hitam yang menghiasi kepalanya itu kembali berkata-kata sendiri. “Aku merindukanmu saat ini, anakku. Kamu pasti merindukan ibu bukan? Aku ingin memelukmu, bintang.”

“Kamu memang anak ibu yang gagah. Kamu masih ingat ketika ikut berbaris di belakang peleton-peleton infantri. Kamu dengan senapan kayumu, dan tanpa baju. Kamu juga pernah melempar genteng rumah Mayor Verdomme, bersama dengan anak-anak sepermainanmu. Kamu menganggap batu-batu itu adalah granat. Kamu nakal Bintang dan ibu bangga itu.”

“Saya baru saja menggempur markas Belanda, bu,“ katamu waktu itu. Padahal kamu habis melempari rumah Mayor Verdomme, yang artinya dalam bahasa Indonesia ‘terkutuklah kau’.

Kamu memang bandel, bintang. Dan itulah yang ibu suka. Kamu juga masih ingat dengan rengekkanmu yang selalu ingin ikut ayahmu berjuang. Kamu masih ingat itu, Bintang. “Aku ingin ikut pula mengusir penjajah, yah…,” katamu. Bintang…Bintang usiamu kan saat itu belumlah tujuh tahun!

Kamu memang gagah seperti ayahmu, Bintang. Ayahmu Sersan Margono Jaya Poetra adalah pejuang patriot sejati yang gugur di medan pertempuran. Ah, kenangan itu selalu bermain-main dibenak ibu, Bahri. Kita yang selalu mengungsi dari desa ke desa atau terkadang ke tengah hutan. Kita yang selalu makan apa adanya yang bisa  dimakan buat mengganjal perut untuk hidup demi perjuangan. Ibu rindu dengan kenangan itu Bintang. Ibu rindu dengan pekik-pekik suara merdeka. Dan ibu rindu pada suaramu, Bintang. Suara kecil yang meneriakkan dengan lantang pekik merdeka. Ah, kenangan-kenangan itu begitu manis. Begitu indah untuk dikenang kembali. Kenangan ibu ketika pertama kali bertemu dengan ayahmu pun tak akan pernah bisa ibu lupakan. Kenangan itu telah terbingkai pada hati ibu, Bintang.  Pada pikiran dan ingatan ibu.

Kamu tahu, Bintang? Perkenalan ibu dengan ayahmu di dapur umum. Ibu bertugas memasak dan menyediakan makanan untuk para pejuang. Dan salah satu pejuang itu adalah ayahmu. Ah, mata ayahmu bagaikan elang, Bintang. Dia selalu memperhatikan ibu. Ibu jadi salah tingkah dibuatnya. Ayahmu memang pejuang yang gagah berani, tak takut mati. Tapi dia takut pada perempuan, Bintang. Dia sangat pemalu, tapi ibu sangat memakluminya.

Ah, kurasa kamu tak perlu tahu, Bintang. Kalau ayahmu menyatakan cinta lewat seorang temannya, sebagai penghubung.  Ayahmu bukanlah seorang pengecut. Dia adalah seorang pejuang sejati yang gugur di medan pertempuran. Dan setelah itu ibu  juga menyambut cinta ayahmu. Beberapa bulan kemudian ayahmu melamar ibu, Bintang. Perkawinan kami  dalam suasana perjuangan. Sangat sederhana sekali. Perkawinan ibu dan ayahmu di antara desingan dan dentuman peluru dan bom. Dan dalam suasana itulah kamu lahir, Bintang. Suara-suara peluru dan bom-bom yang dijatuhkan dari pesawat tempur seakan turut menyambut kehadiranmu, anakku. Suara-suara merdeka bersamaan dengan jeritan tangismu. Jeritan tangismu nyaring, Bintang. Mengalahkan suara-suara peluru, suara-suara granat, suara-suara bom. Ayahmu senang sekali. Anak laki-lakinya telah lahir. Ah, kenangan itu terlalu manis dan tak sangup ibu melupakan itu semua.

Bintang… anak laki-laki ibu yang gagah, kamu merindukan ibumu saat ini, bukan? Kamu menyayangi ibumu, bukan?. Pertempuran-pertempuran melawan penjajah terus berlangsung di mana-mana. Berjuang untuk kemerdekaan, bintang. Untuk kebebasan yang membelenggu diri kita. Tubuh-tubuh tanpa nyawa telah banyak bergelimpangan. Darah-darah ikut pula mewarnai kemerdekaan. Penjajah harus diusir kan, Bintang? Penjajah dalam bentuk apapun.

Tangisan-tangisan anak-anak yang kehilangan ayahnya sudah biasa terdengar dimana-mana. Nyawa-nyawa terasa begitu tak berharga. Penjajah memang kejam, Bintang. Apakah kamu tahu pertempuran di Surabaya, di Bandung, di Yogyakarta dan di kota-kota lainnya di Indonesia. Kamu masih ingat itu, Bintang. Kamu tahu artinya mayat-mayat itu, Bintang? Kamu tahu artinya tulang-tulang dan darah-darah itu, Bintang? Perang memang kejam, Bintang. Dia bisa menginjak-injak kepala kita. Memborgol tangan dan kaki kita hingga sulit bergerak. Hingga kita tak bisa berbuat apa-apa. Dan perang pula yang menghancurkan harapan-harapan kita. Bintang, anak ibu yang gagah. Ibu ingin mendekap dan mencium kamu saat ini.

***

BINTANG Margono sedang duduk di kursi dalam ruangan ber-AC. Dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursinya yang mewah. Dia menghisap kembali rokoknya. Dan asap kembali mengepul-ngepul. Dia memperbaiki dudukannya, perutnya yang buncit ikut bergerak dan kedua kakinya kini terletak di atas meja di hadapannya.

Kini kepalanya pusing. Baru kali ini dia tak bisa tidur. Biasanya jam-jam begini dia tidak berada lagi di sini, di kantornya. Kepalanya pusing, dia tersangkut masalah dengan seorang cukong kenalannya. Karena katebelece!  Bintang Margono. Kepala dia pusing tujuh keliling, kini. Biasanya, sebagai  seorang pejabat pemerintahan, Bintang Margono sering membuat pusing orang. Tapi kini dia pusing, jabatannya terancam. Jabatan, pangkat dan uang. Hanya itu sekarang yang ada dalam pikirannya. Tidak ibunya.

***

ANGIN malam yang membawa dingin merangkul wanita tua itu. Tapi dia tak perduli. Matanya yang kosong terus menatap kelangit, seolah-olah  Bintang Margono, anaknya berada di sana. Memang, saat itu lamunannya sedang bermain-main di sana. “Bintang, anak ibu yang gagah…,” suaranya kini benar-benar keluar dari mulutnya. “Ibu rindu akan semangatmu yang dulu. Ibu rindu pekik merdeka-mu dulu,” mata wanita yang lelah itu teru menatap ke langit. Hanya di langit ada cahaya. Malam yang pekat semakin pekat. Angin malam dan suara malam masih mencumbui dan bercanda dengannya.

“Apa kabarmu, Bintang?” suara wanita tua itu lagi. “Ibu rindu kamu. Ibu ingin memelukmu. O, ya Bintang. Bagaimana dengan cita-citamu, kamu ingin menjali pembela yang lemah, kamu ingin membantu orang kecil? Bagaimana, Bintang? Apakah cita-citamu kini sudah berhasil?” suara wanita tua itu. Mengumam dia. Karena kerinduan seorang ibu?.  “Bintang, anak ibu yang perkasa, kamu ingat ibumu bukan? Ibu yang melahirkan kamu. Ibu yang mencintai kamu. Oh, Bintang dimanapun kini kamu berada semoga kamu ingat ibu.”

Wanita tua itu masih di situ, di depan jendela yang menganga. Tak ingin sedikit pun dia beranjak dari situ. Tak ada tanda-tanda untuk beranjak.  Padahal angin malam bukanlah sahabat yang baik.

***

BINTANG  Margono kembali menyulut rokoknya. Padahal di situ jelas-jelas ada tulisan: Dilarang Merokok. Tapi dia tak perduli, karena dia pimpinan kantor itu. Sehabis menghembuskan asap rokoknya, Bintang Margono tersenyum sendiri. Lalu dia mengangkat telepon. Mengapa harus pusing-pusing semuanya bisa diatur, pikirnya. Dia masih punya taring dan cakar. Dia masih menggunakan itu, mengapa harus pusing, pikirnya. Bukankah masih banyak kenalan-kenalannya. Sehabis menelepon, Bintang Margono kembali meletakkan horn telepon. Dia ingin pulang. Dia ingin tidur bersama istrinya. Yang cantik malam ini. Dia tidak ingin ke rumah Marsa Wulandari, sekretarisnya yang aduhai itu. Biarlah besok saja. Dia ingin mulai besok semuanya berjalan normal kembali. Menyulap uang kantor dan bercinta dengan Marsa Wulandari.

Sementara itu tak jauh dari rumahnya yang mewah : Ada lapangan tennis di samping rumah. Ada kolam renang di belakang rumah. Juga rumah-rumah yang lain. Di tambah dengan tiga mobil dan isi rumah yang wah!, sekitar tiga ratus meter dari rumahnya, seorang wanita tua masih melamun sendiri di depan jendela yang masih menganga. Terkadang dia tersenyum-senyum sendiri atau sebentar-sebentar dia menangis sendiri. Hampir tiap malam (kalau tidak ada suster rumah sakit jiwa itu) dia melamun di depan jendela itu. Di benaknya dia ingin (berharap) suatu saat sang anak, Bintang Margono, segera menjemputnya.

“Lho kok Ibu Pertiwi belum tidur?” seorang suster cukup manis mengagetkan dan membuyarkan lamunan wanita tua itu. “Ibu Pertiwi!” suster itu Nampak  marah, tapi hanya sebentar, lalu katanya : “Sersan Mayor Ibu Pertiwi Margono!” suster itu menegakkan badannya dengan sikap siap.

Dan wanita tua itu lalu berbalik dengan sikap siap pula.

“Sersan diharap tidur!” suara suster itu tegas.

“Siap! Merdeka!” wanita tua itu lalu pergi. “Merdeka!” . ***

Tersenyumlah Untukku, Fay …..

:: akhmad zailani

FAImasih jongkok sendirian di depan kuburan May. Gundukan tanah di depannya penuh dengan kembang dari tujuh macam rupa, yang ditaburkan merata di atasnya.Baunya menyapa dan menegur hidunya. Dia mematung sejak pagi. Sejak tubuh May dimasukkan ke dalam tanah di hadapannya.

Dia tak bergerak. Tak mengeluarkan air mata. Tak bersuara sepatah katapun. hanya diam membisu. Hanya …

Fai begitu terpukul atas kematian May!

Sementara itu, mendung yang menggantung di langit sudah letih mengajaknya berbicara. Hingga akhirnya siang itu, gerimislah yang jadi lakon utamanya ….

***

SAMARINDA yang elok.

Sinar matahari mulai pudar warnanya setelah siang tadi benda bulat itu memancarkan sinar kehidupan. Dan, kini, cuaca yang cerah milik Kota Tepian.

Pagi tadi nggak sekolah. Karena aku yakin, pelajaran Biologi kosong. Gurunya pergi ke Malinau. Aku tahu itu.

Sekarang aku berniat pergi ke rumah Fay. Aku ingin melihat keadaan sahabatku itu. Sudah berapa minggu nggak bertemu dengannya.

Nah untuk itulah aku datang beranjangsana ke rumahnya.

Ding dong …

Setelah memencet bel yang terletak di sisi pintu depan rumahnya, aku menunggu tak lama. Pintu terkuak lebar. Bukan Fay yang membuka pintu, tapi adiknya Rin.

‘’Fay ada, El?’’

‘’Ada tuh di kamarnya. Masuk aja, Bim,’’ Ela gadis tinggi semampai itu tersenyum. ‘’Faaay… ‘’ teriaknya memanggil sang kakak.

Aku melepaskan sepatu kets. Lalu melangkah menuju ke kamar Fay. Semua penghuni di rumah Fay sudah tau dan kenal siapa aku. Termasuk kucingnya si Ella, Madonna. Aku memang orang terkenal kok … di rumahnya Fay maksudnya. Aku sering mau ke rumah Fay.

Tok! Tok! Tok. Ku ketok pintu kamar Fay.

‘’Masuk! ‘’ teriak Fay dari dalam.

Aku masuk dan meletakkan pantat di bangku belajarnya. ‘’Nggak keluar, Fay?’’

Di meja belajarnya itulah Kahlin Gibran bertemu dengan Arsewendo Atmowiloto penulis idolanya, dalam bentuk buku. Berbaris rapi.

Fay berbaring di ranjang sambil menatap wajah close up May di bingkai berukuran 16 R.

‘’Enggak. Lagi malas ….’’

‘’Masih ingat dengan  May, kamu Fay’’.

Sementara forever in love-nya Kenny G mengalun lemnbut dari mini compo di sudut kamarnya.

‘’May sudah tentram di sisi-Nya Fay … aku nggak ingin kamu hanyut terbawa perasaanmu sendiri!’’

‘’Aku nggak bisa melupakan dia, Bim. Enggak bisa!’’.

‘’Sebagai sahabat, aku nggak tega ngeliat kamu terus-terusan begini Fay. Sekolahmu jadi terbengkalai. Kamu selalu nggak bersemangat. Nggak bergairah. Kamu tampak loyo, Fay!’’.

‘’Kamu nggak ngerti Bim. Kamu …’’.

‘’Kita masih muda, Fay. Masih banyak yang bisa kita lakukan. Kita punya masa depan, Fay! Bukan hanya menyesali yang sudah terjadi,’’ potongku.

Aku menatap wajahnya. Menatap anak berambut gondrong itu!

Seandainya kamu tahu, Fay. Kamu lebih beruntung dari aku. Seandainya kamu tahu kalau di tubuhku yang kurus ini bersarang penyakit yang ditakuti dan mematikan. Leukimia, Fay!. Aku selalu dihantui waktu, Fay.

Walaupun suasana sekolah tak berarti lagi bagiku, tapi aku tetap turun Fay. Aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku. Bila masih diberi waktu Fay, aku ingin kuliah di Pertanian, Fay. Turun ke sawah bekerja bersama Pak Tani. Seandainya kamu tau, Fay …

‘’Aku begitu mencintainya, Bim ‘’ suara Fay mengiba.

‘’Fay …Fay. Ingat Fay, May sudah meninggal. Yakinlah May sudah bahagia di alam-Nya. Berusahalah melupakannya. Tinggal kamu aja lagi sekarang. Hadapi dan gunakan sisa hidupmu sekarang Masih banyak cewek yang perlu cinta dan dicintai. Jalani hidup ini apa adanya. Seperti air yang mengalir, seperti matahari yang terbit pagi hari lalu tenggelam sore hari …

Fai hanya diam.

Cukup lama aku menasehatinya.

‘’Aku pulang dulu, Fay. Sudah hampir magrib …,’’ ujarku akhirnya sambil melihat jam di meja belajar Fay.

Fay hanya mengangguk.

Sementara itu suara saksofon Kenny G sudah sedari tadi berhenti.

***

BEBERAPA hari kemudian.

‘’Terima kasih, Bim atas nasehatnya. Aku bangga punya sahabat sepertimu. Aku akan berusaha hidup lebih baik, walaupun aku belum bisa melupakan May …’’ kata Fay sewaktu bertemu aku di sekolah.

Aku tersenyum.

‘’Aku berkenalan dengan seorang cewek cakep, Bim. Rambutnya panjang. Dia begitu mirip dengan May. Aku berkenalan dengannya di sebuah toko buku. Dia begitu baik. Dia sering menepon ke rumah. Dialah yang membuat hidup aku kembali bergairah dan bersemangat. Dialah yang membuat hidup aku kembali berwarna dan hari-hariku kembali indah. Dialah … ‘’cerita Fay.

Aku bersyukur,  Fay kembali bergairah menyongsong hidup, yang sebenarnya indah.

***

MALAM minggu yang suram bagiku …

Aku duduk termenung sendirian di teras rumah sambil menatap bulan yang iba melihatku. Aku tiada henti mengajakku bercanda, dengan memainkan rambutku yang gondrong. Tapi aku tak menghiraukannya. Biarkan angin malam yang centil mengganguku. Biarkan angin malam menambah sakit hatiku. Biar!

Aku tak peduli.

Aku baru tau, kalau yang membuat hidup Fay kembali bergairah itu sebenarnya adalah … Vi, pacarku sendiri!

Aku baru tahu!

Aku masih sendiri. Sendirian.

Pikiranku melayang jauh. Ingatanku menerawang ketika bersama Ella mengukir cinta pelangi di dua hati kami. Pada saat … ah, aku menarik napas panjang. mendesah panjang. Aku ingin menangis.

Fay sendiri hingga sekarang nggak tau kalau Vi itu pacarku. Kini Vi telah memutuskan hubungan denganku.

Oh … Tuhan bagaimana ini bisa terjadi? Mengapa mesti Vi. Padahal Vi  yang membuat hidupku bergairah dan bersemangat menatap matahari. Vi  yang membuatku berani menantang hidup.

Vi  sebenarnya yang membuat aku mampu bertahan menghadapi leukemia yang bersarang di tubuhku.

Oh Tuhan … berilah kekuatan padaku. Mampukah aku membuat sisa hidupku agar sedikit berarti dan memulainya dengan cerita hidup yang baru lagi?

Ah, biarlah aku punya kebanggaan sendiri dengan membuat Fay, sahabatku itu tersenyum di sisa akhir hidupku.

Samarinda,  Februari 1985

LA BIMBIIIII … OH


:: akhmad zailani

Seekor burung pipit kecil

Mencoba membelah langit

Kepaknya awan

Dia bernyanyi bersama angin

KAMU pernah melihat atau mendengar dan merasa tertipu oleh iklan-iklan konyol pada toko pakaian?

Ada harga runtuh. Ada obral murah. Ada discount 50 persen – 70 persen. Tapi harganya sama saja dengan harga dari toko pakaian yang tidak memasang iklan tersebut. Jika janji yang di tawarkan itu nyata dan kongkrit sih tidak apa. Tapi bila yang di iklan kan itu hanya ‘janji kosong’ belaka, maka jelas toko tersebut secara tak langsung telah membohongi pembeli dan ini jelas bertentangan dengan norma kehidupan, sopan santun dan penipuan! Memang, mana ada sih penjual yang tak mau untung, tapi…ah, sudahlah. Kalau Nani dan Ipung tak merasa pernah di tipu. Nani dan Ipung? Iya, kalian ingin kenal?

“Ini berapa?” Nani menanyakan harga jins di hadapannya. Yang ditanya lantas meneliti label harga pada jins tersebut. “Tiga puluh sembilan ribu,” jawab cowok pelayan toko itu. Cakep juga dia. “Kalo yang itu?” Ipung menunjukkan, ‘pakaian dalam’ kaumnya. Cowok pelayan toko itu kembali meneliti harga label pada ‘kaca mata’ dada wanita itu, lantas dia menyebutkan harga yang tertera di situ. “Kalo baju yang kamu pakai itu?”  Nah, si Nani mulai menggoda. Eh, dari tadi hampir setengah jam dua gadis itu sebenarnya sudah menggoda sang pelayan toko pakaian itu. Tanya sana sini. Dan tak satu pun yang jadi di beli. Dua gadis itu Nani dan Ipung memang sedang ‘survey’ dari toko ke toko. Bukan sedang penelitian, walaupun si Nani seorang kapiten… eh seorang mahasiswi maksudnya. Mahasiswi yang juga sedang menyusun skripsin yang masih belum rampung. Lalu Ipung? Ah, dia juga bukan sedang penelitian. Dia pegawai POM Bensin. Jauh banget, kan hubungannya. Mereka berdua…yah hanya ingin mengetahui harga pakaian saja. Benar? O, iya. Mereka berdua juga hanya ingin menggoda cowok pelayan toko itu saja. Nah, nah…gitu ya. Ah, biasa saja, kok. Itu hanya salah satu cara dari sekian juta cara untuk ngilangin stress. Berjalan-jalan berkeliling Citra Niaga tujuh kali kan tak ada salahnya. Rekreasi.

“Jadi nggak belinya nih?” cowok pelayan toko itu mulai tampak tak sabaran. “Tawar dong…,” katanya lagi.

“Eh, itu tadi. Baju kamu di jual nggak?” Nani mengulangi pertanyaannya.

“Emang mau beli?”.

“Nah, Nan. Dijualnya tuh,” ujar ipung.

“Emang buat apaan sih?” Tanya pelayan toko itu lagi.

“Buat di jadiin lap,” jawab Nani. Ipung terkekeh.

Dan cowok penjaga toko itu semakin salah tingkah. Bingung juga dia menghadapi dua gadis yang bandel itu.

“Eh, jins tiga puluh sembilan ribu tadi ya? Nggak bisa kurang lagi?” Nani menatap cowok itu. “Dua puluh saja, ya,” Tanya Nani.

“Ih, jauh banget tawarannya”. Cowok pelayan toko itu sedikit bingung, tapi dia tersenyum. “Yah… sudah. Gimana kalau sepuluh ribu?” Ipung ikutan menawar. Lho, kok malah turun, Pung?

“ya nggak bisa dong,” jawab cowok itu.

“Lho, kok nggak bisa,” Nani tersenyum. “Katanya ada discountnya lima puluh persen? Kok harganya sama saja dengan di toko-toko yang nggak ada discountnya? Di iklan-iklan disebutkan discountnya sampai lima puluh persen, kok…,” suara Nani terpotong.

Kok jadi kokok-kokok,” Ipung menirukan suara ayam. Persis banget. Nani tertawa. Juga sang pelayan toko itu. “Iklan-iklan itu bohong ya,” ini suara Nani lagi. “Kita jadi merasa di tipu”. “He-eh,” suara Ipung. “Omong kosong!”. “Pembualan!”. “He-eh”. “Kamu?” Ipung kesal. “He-eh. Eh, sialan kamu,” umpat Nani. “He-eh!”. Mereka tertawa : Ipung dan Nani. Pelayan toko tidak.

“Eh, ini mau bercanda, ngomel atau mau beli?” suara sang si penjaga toko itu. “Itu kan iklan. Kalau nggak mau beli ya udah,” sahut cowok pelayan toko itu lagi.

“Ya udah…,” Nani ngeloyor pergi. “He-eh.” Dan Ipung pun ikutan di belakang.

Dan cowok pelayan toko itu terlongo. Gitulah. Pembeli adalah raja. Jadi penjual adalah…abdinya, ini pendapat Nani, sambungan di belakangnya itu lho. Bukankah tak setiap yang datang ke toko itu pasti membeli? Ada juga yang hanya ingin melihat-lihat saja, tak bermaksud membeli. Melihat pelayan toko yang (kebetulan) cakep itu, misalnya. Kamu begitu pula ya? Sorry aja la yaa.

Nani dan Ipung terus melangkah. Santai. Panas membuat tubuh berkeringat. Uh, panasnya! Mobil-mobil berseliweran, lalu-lalang. Orang-orang pula. Taksi-taksi angkutan kota, motor-motor, sepeda-sepeda hilir mudik. Pedagang- pedagang makanan. Makanan? Ya, makanan. Dan rupanya Ipung dan Nani lapar, setelah membuang-buang energi, mengelilingi Citra Niaga. Mereka berdua tak berapa lama sudah asyik menikmati sate ayam, juga es kelapa. Hmm…enaknya.

Seorang anak kecil cukup dekil dengan tas lusuh tergantung menyilang pada tubuhnya, mendekati dua gadis itu. “Semir, kak?” setengah bertanya, setengah bertanya, setengah memaksa. “Tidak,” Nani menggeleng. Habis apa yang mau di semir, Nani pakai sandal jepit kok. “Kak, semir, kak…” masih suara anak itu.

Nani menatap bocah itu. Lekat-lekat. Dia perempuan! Nani heran. Biasanya tukang semir sepatu kan kebanyakan anak lelaki, tapi dia perempuan. Bocah kecil cukup dekil tukang semir itu perempuan. “Kamu mau makan?” Nani bertanya.

Bocah yang mungkin berusia enam tahun itu diam saja.

“Bu, tolong satenya sepiring lagi. Juga es kelapanya,” Nani menoleh ke wanita tiga puluhan yang sibuk melayani penggemar satenya itu. Tak berapa lama kemudian, sepiring sate dan segelas es kelapa sudah terhidang lagi di hadapan mereka. “Ayo makan…,” Nani mempersilahkan si penyemir sepatu itu.

Tak usah di suruh dua kali lagi bocah kecil itu langsung menyantap sate yang menantang di hadapannya. Dia makan dengan lahapnya, seolah-olah baru saat itulah dia makan makanan yang dirasakannya enak. Seolah-olah baru kali itulah lidahnya merasakan itu. Seolah-olah…ah, bocah kecil dekil itu ternyata memang lapar! Setelah sate itu tandas. Licin mengkilat! Dia kembali menyedot es kelapanya.

“Lagi?” Nani kembali menawari. Jarang-jarang anak itu makan sate gratis. Biasanya, perkataan kesal yang tak halus yang dia dapatkan. Biasanya, usiran yang dia peroleh, karena mengganggu makan orang-orang yang berduit dan membuat selera orang-orang berduit jadi hilang. Badan dekil, kotor dan berbau. Wahai pembaca Kamu jijik? Habis bagaimana lagi. Anak kecil itu…dan juga teman-temannya juga tak ingin seperti itu. Dia juga ingin seperti kamu. Santai-santai di rumah nonton TV, mau uang tinggal minta sama orang tua, sekolah, pekerjaan yang enak dan basah, pakaian yang bersih, sepatu, makanan yang enak. Dia juga ingin seperti  itu, seperti kamu…

“Nama kamu siapa?” tanya Ipung. Setelah sate kedua selesai ‘dikerjakannya’. Dia melap mulutnya dengan tangan. “La Bimbi”, katanya. “Saya panggil La aja ya. Lebih enak kedengarannya. Soalnya juga kalo kamu saya panggil Bimbi itu mengingatkan nama seekor anjing teman saya,” Ipung berusaha bersahabat.

La Bimbi, bocah kecil kumal itu mengangguk. Baginya, terserah aja. Apapun namanya tetap saja nasibnya seperti sekarang. Tidak seperti Mona, Desi, Sisca, Marsha, dan gadis-gadis anak orang-orang berduit itu.

“Rumahmu dimana La?” tanya Ipung. “Di dekat gunung Stelleng.”

“Jauh juga ya. Kamu masih sekolah?” kali ini Nani yang bertanya.

“Saya masih bersekolah di SD Harapan Bangsa, kelas satu,” jawab La Bimbi. “Saya bekerja menjadi tukang semir sepatu ini untuk membiayai sekolah saya, kak. Orang tua saya hanya petani, yang hanya untuk makan sehari-hari pun itu enda cukup. Saya anak bungsu dari sembilan saudara. Kakak-kakak saya semuanya sudah menikah. Dan tinggal di bawah gunung Stelleng itu juga. Selain untuk membiayai sekolah, uang dari menyemir ini saya berikan pula buat ibu saya,” La Bimbi bercerita tanpa diminta, tentang dirinya.

“Kamu pintar La. Kecil-kecil sudah nyari duit. Kalo besar ingin jadi pengusaha, ya?” Nani kembali bersuara.

“Saya ingin jadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa, kak,” ujar La Bimbi.

“Jadi apa itu La?” tanya Ipung.

“Apa saja, kak. Saya ingin sekolah setinggi-tingginya,” La Bimbi tersenyum. Giginya kuning dan pasti mulutnya berbau. Mungkin giginya tak pernah bersentuhan dengan sikat gigi dan odol. La Bimbi, bocah cilik yang dekil si tukang semir sepatu atau sandal. La Bimbi yang hanya bisa  menyemir bagian bawah. La bimbi bocah dekil yang berada di lapisan bawah hanya bisa bekerja pada bagian bawah, menyemir sepatu atau sandal pada kaki-kaki orang yang ingin penampilan terutama sepatu atau sandalnya, agar tampak menarik. La Bimbi yang mencoba bertahan hidup hanya dengan menggantungkan hidupnya dari menyemir, karena tak ada lagi yang bisa dilakukannya. La Bimbi selalu ingin berharap agar sepatu orang atau sandal orang berduit tampak kotor, lalu dia dapat uang dari menyemir.

“Saya mau kerja lagi, kak, terima kasih…,” La Bimbi bangkit, Prinsipnya sama pula dengan bisnisman, waktu adalah uang. Tak dapat uang, mau makan apa hari ini?. Panas membuat tubuh berkeringat. Orang-orang masih berseliweran. Taksi-taksi masih berlomba berebut penumpang untuk uang setoran. Pelayan toko masih sibuk melayani pembeli. Para mahasiswa masih aktif dengan teori. Para pegawai negeri masih saja bekerja. Para penjahat masih saja melakukan kejahatannya. Ada maling. Ada pencopet. Ada koruptor. Ada pemerkosa. Ada…ada saja.

Ciiit…buk! Suara rem menjerit. Suara rem yang terlambat diinjak, karena mobil itu berlari cepat. Seorang bocah kecil terpental. Orang-orang kaget. Ada yang menjerit, ibu hamil itu misalnya. Seorang bocah kecil cukup dekil dengan tas lusuh tergantung menyilang pada tubuhnya bersimpah darah. Gas kembali diinjak. Toyota merah itu kembali bergerak cepat. Kabur! Tabrak lari! Sungguh tak bertanggung jawab. Pengecut! Seribu sumpah serapah pun tak berguna. Sia-sia. Orang-orang berkerumunan. Menonton. Kenapa tak ada yang menolong? Kenapa tak ada yang bergerak cepat untuk menyetop taksi dan membawa anak itu ke rumah sakit? Tak mau repot? Atau apa?! Bantulah…

Tapi itu sudah percuma. Tak ada gunanya lagi. Anak keci dekil itu sudah tak bernapas lagi. Ah, anak kecil yang hidup dari menyemir sepatu atau sandal itu tak bernapas lagi! Anak kecil itu…ah. Dia adalah La Bimbi! Dia telah bersimbah darah, terbujur tak bernyawa di tengah jalan. Badan dekil, kotor dan berbau itu La Bimbi. La Bimbi! La Bimbi! La Bimbiiii… Oh.

Samarinda, Desember 1985

Diary Di Sudut Hati (Lihat kakekmu, Ben, yang berjuang dan berkorban apa saja demi kemerdekaan…)

:: AKHMAD ZAILANI

…….

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan allah (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (Al-Baqarah : 154)

…….

BEN masih membaca diary itu. Diary kakeknya, yang ia temukan di gudang, pada tumpukan buku-buku tua saat membersihkannya. Walaupun diary itu sudah usang tapi tulisannya masih jelas terbaca. Ben lalu membalikkan halaman berikutnya. Terus membalik…lalu membacanya, lembar demi lembar ;

Dan… 12 Oktober . Ibu masih sakit. Ketika aku pulang, aku masih melihat Murti menjaga ibu. Ah, gadis malang yang luhur budi. “Gimana keadaan di luar kang?” Tanya gadis itu padaku. Gadis yang kedua orang tuanya tewas diberondong senapan Belanda keparat. Dan kakak laki-lakinya, Burhan, yang juga sahabatku, sampai kini belum diketahui nasibnya.

Aku diam melamun. “Kang Murat! Kok malah melamun…,” suara Murti mengagetkanku. “Surabaya kini merupakan suatu kesatuan benteng yang kuat, Ti…hari ini, telah berdiri barisan pemberontak rakyat Indonesia atau yang disingkat BPRI yang dipimpin oleh Bung Tomo, Asmanu, Sumarno, dan lain-lain. Selain itu sudah lebih dulu bergerak angkatan muda, juga barisan-barisan buruh dengan laskar-laskarnya, dan barisan ulama Surabaya dengan pemuda dan laskar-laskarnya, serta barisan-barisan lainnya. Para ibu dan wanita-wanita lainya pun tanpa ketinggalan turut membantu di dapur umum serta pos-pos kesehatan…,” kataku sambil memandang wajah Murti.

“Syukurlah kang…”. Sementara suara batuk ibu mulai terdengar. Di sini, di rumah yang kapan saja siap dibom Belanda ini, tiba-tiba aku menemukan diri di balik kemelut yang kuat. Oh, Tuhan, berilah kekuatan untuk kami…

15 Oktober 1945. Murti! Betapapun aku ingin mengapaimu, suatu waktu, suatu saat… bagiku saat ini yang terpikir hanyalah perjuangan. Perjuangan!

22 Oktober 1945. Tidak ada yang sempat aku tulis, karena begitu banyak peristiwa…., selain Merdeka Ataoe Mati! Itu saja.

23 Oktober 1945. Oh, Tuhan mengapa engkau panggil ibuku? Tapi biarlah…. aku rela Tuhan, Sang Maha Kuasa. Biarlah ibu menemani ayah. Biarlah ibu damai bersama ayah. Sedangkan Murti tak bergerak di samping ibu. Tak berucap sepatah kata pun. Diam dan membisu, sejak ibu wafat Subuh tadi. Hanya air matanya yang keluar, meleleh melalui pipi. Mengalir dari matanya yang bening. Dia tak bergerak di samping ibu. Tak bergerak di samping orang-orang yang dianggapnya sudah menjadi ibunya sendiri…sejak dulu. Sejak bayi. Aku nggak tahu harus berbuat apa. Akupun hanya bias mendoakan semoga ibu dan ayah damai di sisi-Nya. Bahagia di dekat-Nya…

25 Oktober 1945. Kamis, tentara Inggris mendarat di Ujung dan Tanjung Karang. Mereka adalah Brigade 49 dalam pasukan sekutu yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) deengan sekitar 6 ribu prajurit yang di pimpin oleh Brigjen AWS Mallaby. Kebanyakan perwiranya orang Inggris, anak buahnya oaring Gurkha dari Nepal dan India Utara. Mereka bersenjata lengkap. Mereka mendarat dengan kapal yang bernama Wavenley, Floristan, Assidious, Malaika dan beberapa lagi, dengan di lindungi oleh beberapa kapal perang. Sedangkan Murti tidak sempat aku pikirkan pada situasi sekarang….

26 Oktober 1945. Pihak kita mengadakan perundingan dengan pimpinan tentara Inggris, di Kayoo, mulai pukul 9.00 pagi sampai siang… Malam hari anjing-anjing Belanda itu menduduki penjara Kali Sosok dan melepasakan semua tawanan Belanda, termasuk si bangsat, Kapten Hiujer dan teman-temannya. Tanpa ijin. Kurang ajar! Bangsat! Ben menarik napas panjang. Mendesah. Dan masih membaca diary yang sudah berumur sekitar empat puluh tujuh tahun itu.

27 Oktober 1945. Anjing-anjing itu sudah mulai berani mengganggu. Menggonggong!. Mereka telah mencegat dan merampas kendaraan kita. Ini sudah keterlaluan. Ini sudah menginjak-injak kepala kita! Demi kehormatan bangsa! Demi martabat bangsa! Sekali merdeka tetap merdeka! Malam harinya terjadi pertempuran.

29 Oktober1945. Pertempuran sehari penuh… Aku nggak tahu di mana Murti kini berada. Aku nggak tahu itu. Walaupun ada kangen di hati, yang menusuk dan mengiris.

30 Oktober 1945. Gedung Lindeteves, dekat jembatan semut…Gedung Internatio, dekat jembatan merah… Suasana belum mereda di kedua tempat tersebut. Sorenya, Jenderal Mallaby terbunuh dekat gedung tersebut! Mobilnya terbakar dan meledak! Ben terus membalik halaman berikutnya, yang sebagian halaman diary itu memang sudah sangat usang. Ternyata ada bagian dari halaman-halaman yang robek atau berlubang karena dimakan usia, sehingga menyulitkan Ben untuk membacanya. Ben terus membalik, lembar demi lembar…

6 November 1945. Aku masih belum bertemu Murti. Oh, Tuhan dimana kini dia berada? Lindungilah dia… Aku sangat mengkhawatirkannya… Aku sangat mencintainya… Padahal pertempuran besar kurasa akan terjadi.

10 November 1945 Selama banteng, banteng Indonesia berdarah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama ini tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun. Hanya kalimat itu yang sempat saya tuliskan, dari potongan pidato Bung Tomo melalui radio pemberontakan. Bagiku yang ada saat ini, hanya merdeka atau mati dalam dada. Dalam sanubari. Dan…aku rela berkorban nyawa untuk itu. Dan Ben terus membalik halaman berikutnya.

11 November 1945. Sebutir peluru yang bersarang di bahu kirikulah yang mempertemukan aku dengan Murti di pos kesehatan… “Murti…,” hanya suara itu yang keluar pertama kali dari mulutku. “Istirahatlah kakang…”.

“Beeenn,…,” tiba-tiba terdengar suara ibunya dari luar gudang. “Ngapain kamu lama-lama di gudang, Ben? Sudah selesai belum membersihkannya…”. Ben menutup diary itu. Dan melangkah keluar. Tampak diluar senja telah menegur dan mengingatkannya.

Aku putus dengan Diana. Cinta memang nggak bisa diduga. Nggak bisa di tebak. Begitu pula dengan jodoh, Ben menulis pada buku hariannya, di kamarnya. Lalu memasukkan diary itu ke laci meja belajarnya. Sementara itu, suara saxapone Kenny G, masih mengalun lembut dari tape, di sudut kamar itu. Kamar yang ditempeli poster Broke Shilds yang bertubuh polos berdampingan dengan poster Kahlil Gibran, ada gambar pesawat jet tempur, ada Duran-Duran, ada Bruce Lee, dan juga gambar Ben sendiri, sang penghuni kamar.

Ben melangkah, lalu menendang sansak yang tergantung di langit-langit kamar, di sudut kamarnya. Ia lalu mengambil botol yang tadi sempat di belinya, sehabis pulang kuliah. Membuka tutupnya dan langsung menenggaknya…sedikit demi sedikit. Ada apa dengan saya? Kenapa kamu memutuskan hubungan dengan saya, Diana? Kenapa pada saat saya sudah terlanjur mencintaimu? Kenapa kamu mempermainkan saya, Diana? Kenapa? Ben tertunduk di lantai. Wajahnya mulai agak memerah. Ada apa, Diana? Kenapa dengan saya? Ben menenggak lagi minuman itu. Meminum minuman keparat itu! Sedikit demi sedikit. Wajahnya memerah, begitu pula dengan tubuhnya. Ada apa dengan saya, Diana? Ben menenggak habis minuman itu. Ia pun tergeletak. Wajah kerasnya di gantikan oleh muka yang kuyu, kelelahan. Ben pun terlelap. Dan botol minuman keras itupun sudah kosong di sampingnya. Sementara itu suara saxophone Kenny G pun sudah lama berhenti.

***

BEN kuliah, Bu,” Ben melangkah mendekati ibunya, lalu mencium keningnya. Mencium kening wanita setengah umur, yang ditinggalkan suaminya itu. Wanita yang berusaha menghidupi diri dan anak tunggalnya, dengan hanya mengandalkan usaha cateringnya. Wanita perkasa! Batin Ben sambil melangkah keluar. Sepasang kaki itu lalu melangkah bergantian, susul menyusul keluar halaman. Sepasang kaki itu mulai menyusuri Jalan Gatot Subroto. Menyusuri sendirian, sambil pikirannya menerawang jauh. “Malam Minggu nanti kita ngumpul lagi, Ben! Kata Sam dengan mulut bau alkohol. “Beri dia dua biji double L, Sam…,” mulut Joe juga bau alkohol. Juga mulutnya. Terngiang lagi peristiwa itu di kepalanya. Peristiwa malam Minggu kemarin. “Maaf, Ben. Terpaksa…,” suara Dina juga ikut berdengung di kepalanya. Dipikirannya. Ben pun masih melangkah menyusuri Jalan Gatot Subroto. “Tapi dia memukul teman kita, Ben!”. “Kita harus membalas Ben!”. “Minum lagi Ben…”. Ben menyusuri Jalan Gatot Subroto lalu terus ke Jalan Camar. Perkelahian dengan anak seberang itu pun masih mengendap di pikirannya. Ben menyebrang Jalan Merak menuju Jalan Tekukur. Sementara itu raungan kendaraan yang lalu lalang mulai terdengar bising. Seperti hati Ben, seperti pikiran Ben. Masa bodoh! Lalu berbelok ke Jalan Ruhui Rahayu. “Kamu dapat apa, Ben? Pujian? Pengakuan bahwa kamu lebih jago dari teman-teman mu? Kamu sudah merasa hebat, Ben? Ben terus menyusuri Jalan Ruhui Rahayu. Apa sebenarnya yang kamu cari, Ben? Suara hatinya pun mulai ikut berkata. Apakah hanya dengan seorang Dina, lalu hidupmu juga turut hancur? Kenapa kamu, Ben? Gimana dengan ibu kamu, Ben? Yang berusaha mencari nafkah untuk hidup? Yang berusaha membiayai kuliahmu, Ben?

Sepasang sepatu kets putih itu masih terus susul menyusul menyusuri sepanjang Jalan Ruhui Rahayu. Apa yang sudah kamu dapatkan, Ben? Apa yang sudah kamu berikan buat ibumu, Ben? Apa! Lalu melintasi jembatan Ruhui Rahayu. Kamu nggak ada artinya, Ben, bila dibandingkan dengan pejuang-pejuang dulu, dengan pemuda-pemuda pejuang dulu? Nggak ada apa-apanya dengan Kakekmu, Ben? Kamu nggak berarti! Lihat kakekmu, Ben, yang berjuang dan berkorban apa saja demi kemerdekaan… Menyeberang Jalan  Ruhui Rahayu lalu belok kanan. Ben ingat kakeknya. Ingat diary kakeknya. Selama banteng, banteng Indonesia berdarah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama ini kita tidak akan menyerah kepada siapapun, teringat ia potongan pidato Bung Tomo melalui Radio Pemberontakan dari diary kakeknya itu. Ben pun terus melangkah dengan gagah menuju kampus. Yang terpikir di kepalanya sekarang adalah bagaimana banteng Indonesia yang berdarah merah itu sekarang berjuang mengisi kemerdekaan.

Malam harinya, di kamarnya, Ben menulis pada diarynya. Aku tidak mensia-siakan pengorbananmu, pahlawanku. Dan aku ingin memberikan catatan diary yang terbaik buat anak cucuku kelak… Ben lalu menutup diarynya. Dan menyimpannya di sudut hatinya yang terdalam***

Samarinda, 17 Agustus 1999

Ciuman Untuk Hajar Aswad

 :: akhmad zailani

LELAKI berumur lima puluh tahunan itu datang kepadaku, minta ditemani mencium hajar aswad. Dia mengacuhkan pembicaraan kawan lain yang mengatakan, untuk mencium hajar aswad cukup lah dari jauh; dengan mengecupkan tangan kanan sambil memandang hajar aswad. Lelaki itu ingin sekali mencium hajar aswad, dengan memasukan kepala ke dalamnya. Dia ingin merasakan kenyaman hati saat mencium batu dari sorga tersebut.

Saya ragu. Karena untuk mencium hajar aswad itu perlu perjuangan, yang tak gampang dan bisa saja tak berhasil. Karena, ratusan orang – di antara jutaan jamaah- yang tawaf mengelilingi ka’bah. Saya ragu, karena kakinya lecet, sehingga agak menyulitkan saya untuk berebutan dengan jamaah lain.

Akhirnya karena dia terus mendesak, saya mau juga. Kenapa dia minta ditemani karena dia tahu saya berkali-kali telah mencium hajar aswad. Dia mendengar perbincangan iseng, yang menanyakan apakah saya telah mencium hajar aswad, saya jawab; saya mencium hajar aswad setelah tawaf sebelum dan sesudah melaksanakan shalat lima waktu. Alhamdulilah, saya memang diberi kemudahan olah-Nya untuk mencium hajar aswad berkali-kali.

Pernah suatu kali, saya membantu seorang ibu yang ingin sekali mencium hajar aswad. Berkali-kali dia ikut berdesak-desakan mendekati hajar aswad yang terletak di sudut Ka’bah, berkali-kali pula dia kembali terdorong ke belakang. Saya ingin membantu. Saya kembali berdesak-desakan. Saya berusaha berada di depan itu. Menjaga agar tak terdorong ke belakang dan menjadi pegangan untuk bersama maju ke depan. Kian mendekati hajar aswad, gelombang desakan tubuh-tubuh yang besar dari berbagai negara itu seakan melemparkan tubuh saya dan ibu itu. Saya berusaha bertahan. Saya lihat ibu itu masih di belakang. Tangan saya menjangkau besi, yang berada di dekat hajar aswad , maka tenanglah saya. Saya menunggu mereka yang bergantian memasukkan kepala ke hajar aswad, setelah itu bersiap-siap berebutan untuk giliran berikutnya.

Ibu itu masih dibelakang saya. Tak dihiraukannya, lelaki-lelaki tinggi hitam dari Afrika atau lelaki bule dari Eropa yang juga berebutan untuk mencium hajar aswad. Saya beri ibu itu kesempatan untuk maju. Tangan saya masih memegang pagar besi kecil di dekat hajar aswad. Ibu itu berhasil maju di depan saya. Saya coba menjaga, dengan tetap tangan berpegangan di besi dekat hajar aswad. Setelah berdiri di depan hajar aswad, tidaklah mudah untuk memasukan kepala. Karena ratusan orang yang berdekatan juga ingin memasukan kepalanya, mencium batu dari sorga itu. Agar mencium hajar aswad itu, kepala ibu itu saya pegang dan saya bantu untuk bisa mencium hajar aswad dan berhasil.

Ibu itu lega. Biasanya, setelah melepaskan ciuman dari hajar aswad, maka tubuh kita akan kembali terdorong ke belakang karena desakan badan jamaah lain yang berebutan mencium hajar aswad. Karena ibu itu ingin ke belakang, dia menolah kepada saya; sudah, sudah jangan halangan saya.

Saya sedikit kecewa. Bukan terima kasih yang diterima. Tapi … kalimat yang berbau marah.

***

SAYA mengatakan kepada lelaki itu, kita tawaf saja dulu, sambil terus mendekati dinding ka’bah. Dia mengikut. Kami terus tawaf hingga akhirnya berhenti di dinding ka’bah. Kami bergeser sedikit demi sedikit menuju hajar aswad. Makin mendekati hajar aswad, tubuh kami kian terjepit ke dinding ka’bah. Kami terus bertahan. Saya perhatikan dia, nafasnya sudah tersengal-sengal. Kami makin terjepit. Lelaki itu belum mau menyerah. Sungguh sulit mendekati hajar aswad. Posisi saya berada di depan lelaki itu. Saya berusaha mendekat, terus mendekat dengan susah payah. Merayap di dinding ka’bah. Marapat sambil sesekali berdoa, semoga diberi kekuatan mencium ‘hanya batu pecahan-MU dari sorga’. Kami mencium aroma sorga hanya dari batu-Mu …

Saya berhasil berpegangan di besi dekat hajar aswad. Saya cium hajar aswad, cukup lama … hati yang nyaman terasakan. Tak ada ingatan tentang berbagai urusan duniawi. Tak sejuta pikiran tentang urusan hidup. Saya cium beberapa kali.

Setelah ciuman dilepas, lega sekalipun jamaah yang tawaf menyadarkan kita bahwa kita masih di dunia. Saya tahu lelaki itu belum memenuhi hasrahnya untuk mencium hajar aswad. Saya berusaha membantunya. Tangan kanan saya mengarahkan kepalanya, dan lelaki itu cukup lama pula mencium batu dari sorga itu. Alhamdulilah.

***

KAMI sedang duduk-duduk di dekat pintu masjid haram , ketika istri lelaki itu menemui kami. Kami kelelahan setelah mencium hajar aswad. Selain kami, ada pula beberapa—ada sekitar 5 orang– pemuda asal Banjarmasin, yang duduk di dekat kami. Kami berkenalan. Setelah bercakap-cakap, kami mengetahui bahwa para pemuda dari Banjarmasin itu mencari makan dengan menwarakan jasa untuk membantu mencium hajar aswad. Ongkosnya 25 real.

Istri lelaki itu menanyakan, apakah kami sudah mencium hajar aswad? Kami jawab sudah dan dia juga ingin mencium hajar aswad pula. Suaminya berkata, cukup sulit mencium hajar aswad. Istrinya tetap bersikeras. ‘’Bila tidak mau menemai, biar saya sendiri saja,’’ dia lantas melangkahkan kakinya menuju hajar aswad. Sendirian.

Saya lantas meminta para pemuda itu mengikuti untuk membantu istri lelaki itu mencium hajar aswad. Mereka mengatakan, cukup tiga orang saja. Nantinya saya di depan dan dua orang di sisi kiri dan kanan istri lelaki itu. Kami lantas mengganti jasa mereka 25 real.

Tak berapa lama istri lelaki itu datang. Sendirian. Pemuda dari Banjarmasin itu tidak ada lagi ‘’Alhamdulilah pak, Allah melapangkan jalan saya. Dengan mudahnya saya melangkah mencium hajar aswad. Jalan seperti terbuka …,’’ istri lelaki itu bercerita. ‘’Di depan dan di samping saya seperti ada yang melindungi. Orang di depan saya malah nampaknya tidak mencium hajar aswad, dia member kesempatan kepada saya. Begitupula yang berada di samping kanan dan kiri saya, mereka menjaga saya. Mungkin mereka itu malaikat ya …’’. Istri lelaki it uterus menceritakan pengalamannya, yang terasa mudah mencium hajar aswad.

Saya dan lelaki itu hanya tersenyum. ***

Masjidil haram,Mekkah 2003


***

 

 

OPERA PAK KARTO

Oleh : Akhmad Zailani

    PAK Karto kaget.
    Tak mungkin, pikirnya. Dia menengok lagi ke bawah, lantas mengusap-ngusap kedua matanya dengan jari telunjuk. Masih tak yakin, dia mencubit lagi paha kananya keras-keras. Sakit. Pak Karto yang dalam posisi jongkok segera menjulurkan tangannya mengambil benda  yang membuatnya kaget setengah mati itu.
    Memang keras. Didekatkannya benda itu di matanya. Dia meneliti sekali lagi  benda yang baru saja dikeluarkan dari perutnya itu. Dan tangan kanannya meremas-remas. Keras. Ini aneh tapi nyata. Semua mungkin saja terjadi. Ini benar-benar emas! Ini emas! Tahi Pak Karto berubah menjadi emas.
    ‘’Ini bukan mimpi! Ini bukan mimpi,’’ teriak Pak Karto bergegas bangkit. Yah, betul ini bukan mimpi atau khayalan Pak Karto belaka.
    ‘’Bu, bu’eee , kita kayaaa … ‘’ teriak Pak Karto kegirangan. Dia berlari-lari mendekati istrinya yang sedang memasak di dapur. Sampai Pak Karto kelupaan, pantatnya belum dibasuh.
***
    SEJAK peristiwa di pagi buta itu, kehidupan Pak Karto mulai berubah. Bagai siang dan malam.  Dulu suram kini cerah. Sebelum peristiwa itu, sekitar sebulan yang lalu, Pak Karto dengan istri satu dan empat anak hidup serba kekurangan. Penghasilan dia  sebagai tukang ojek dan istrinya sebagai penjual nasi kuning dekat  di Pasar Sungai Dama tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dia ke Samarinda ikut program transmigrasi. Di tempatkan di Palaran. Namun karena hasil kebun tak mencukupi, dia menjual jatah rumah dan tanah dari pemerintah, lalu mengontrak rumah di dekat Pasar Sungai Dama.
Sejak kejadian setelah imsak di bulan ramadhan itu  keluarga Pak Karto telah benar-benar berubah sama sekali.  Istri Pak Karto tidak menjual nasi kuning dan lontong lagi. Pak Karto berhenti jadi tukang ojek. Kerja baru Pak Karto adalah bangun pagi-pagi, lantas buang air besar dan tahi yang berubah menjadi emas itu lantas dijualnya ke took-toko emas. Begitulah pekerjaan baru Pak Karto.  Tak ada seragam dinas seperti karyawan kantoran. Hanya kaos oblong dan sarung.
    Sejak kejadian sebulan lalu itu, Pak Karto sering senyum-senyum sendiri melihat perempuan mengenakan kalung , gelang dan cincing dari emas di badannya. Keyakinan Pak Karto, bisa jadi perhiasan emas  yang dipakai orang-orang itu berasal dari bahan baku miliknya.
Cobalah kita menengok sebentar ke istri Pak Karto. Penampilannya perempuan berbadan subur ini juga telah dihiasi emas di leher, tangan dan jari-jari tangannya. Mengkilat-kilat kena cahaya. Di leher Bu Karto bergantung  kalung sebesar 10 gram. Pergelangan tanganya dilingkari 5 buah gelang, yang satu gelangnya berberat 5 gram. Jari kanannya ada tiga cincin yang terletak di jari manis, jai tengah dan jari telunjuk. Di jari-jari  tangan kiri juga ada tiga cincin. Rata-rata sekitar 6 cincin Bu Karto itu beratnya masing-masing 10 gram, sehingga menjadi 60 gram. Di pergelangan kedua kaki juga ada emas, yang beratnya masing-masing 5 gram. Hitung saja sendiri, sudah berapa gram emas yang menempel di tubuh Bu Karto, yang selalunya dibawa kemana-mana. Eh, ada satu lagi emas Bu Karto, yakni : satu gigi tengah Bu Karto yang semula ompong, kini diganti menjadi gigi emas.
Itu istrinya. Mari kita lihat anaknya. Anak pertama bernama Katno, yang sekolah hanya sampai SD, kin telah berumur  25 tahun. Bila Pak Karto tukang ojek, Katno sedikit lebih enak dibandingkan kerjaan bapaknya. Katno yang dulunya nganggur kini sopir angkot trayek B jurusan dalam kota. Dia telah memiliki taksi sendiri.
    Anak kedua Pak Karto dan istrinya yang biasa dipanggilnya “bu’e”, adalah perempuan. Namanya Ngiyem. Ya, jangan heran. Namanya  Ngiyem, menyebutnya bibir agak terbuka lebar, seperti orang tersenyum.  Di tubuh Ngiyeyem juga bergantungan emas. Berkilat-kilat diterpa cahaya.
Partono anak nomor tiga.  Setelah berhenti di kelas 2 SMA kini melanjutkan. Dan yang nomor empat masih kecil dan belum sekolah. Karena umurnya belum lagi empat tahun. Namanya Parmin.
Keluarga Pak Karto kini sudah benar-benar berubah. Cuma rumahnya masih di Gang 3 Jalan Pesut Kelurahan Sungai Dama. Rencananya di bulan kedua, dia akan pindah ke Jalan Kakatua dekat kantor Koran harian Manuntung.
***
    KEHIDUPAN Pak Karto yang berubah 360 derajat dalam waktu hanya sekitar sebulan, membuat tetangga heran dan di antaranya ada yang curiga. Pak Karto kok bisa dalam waktu sekejap kaya mendadak. Apakah dia mendapat warisan dari Jawa? Atau menemukan harta karun. Bibir ke bibir, akhirnya : berita Pak Karto mendadak kaya,  menyebar ke seluruh kampung. Masyarakat sekitar gempar. Isu semakin membesar. Ada yang mengisukan Pak Karto itu punya tuyul.
    Seorang tetangga Pak Karto, yang juga tukang ojek (mungkin saya tak perlu menyebutkan namanya) diam-diam melapor ke polisi.
    ‘’Lapor Pak, di kampung Sungai Dama ada seseorang penyeludup emas. Setiap hari dia menjual emas batangan sebesar pisang ke toko-toko emas,’’ lapor tetangga itu ke polisi.
    Pak Karto akhirnya dimintai keterangan; ‘’kenapa kamu kaya? “ tanya salah seorang polisi. Pak Karto sulit menjelaskannya.
    ‘’Saya susah menjelaskan kenapa kami kaya raya. Tapi a pa salah kami? Kami tidak mencuri dan tidak ada warga yang kehilangan emas berkilo-kilo,,’’ kata Karto.
    Karena polisi agak kesulitan mengusut tuntas darimana Pak Karto mendapat emas batangan itu, Pak Karto pun disuruh pulang dulu untuk selanjutnya akan dipanggil ulang.
    Pulang dari kantor polisi, Pak Karto memutuskan menyewa  pengacara. Pengacara itu juga membujuk, agar dia  perlu menyiapan gugatan balik.  Pak Karto memang tidak bisa terima, mengapa mantan tukang ojek tidak boleh kaya. Kenapa setelah kayak malah dicurigai? Kenapa saat miskin tidak ditanya dan dibiarkan?
    Dua bulan kemudian.
    Pak Karto kini jadi bahan berita di sejumlah media massa. Sebuah koran harian nasional, Indonezia menuliskan judul;  Tahi menjadi Emas, Karto Mendadak Kaya. Pak Karto jadi terkenal. Wajahnya nampak di sejumlah koran, majalah dan TV nasional.
     Sayangnya, hidup Pak Karto malah menjadi tak tentram. Menurut perasaan Pak Karto, ada polisi yang mengikuti dan menyelidikinya. Gerak-gerik Pak Karto diawasi. Tapi polisi kecele.  Suatu kali Pak Karto tidak keluar-keluar rumah. Besoknya, polisi melihat Pak Karto  menjual emas lagi ke toko-toko emas. Padahal polisi bergantian memantau di dekat rumahnya.  Jangan-jangan  untuk mengetahui siapa tahu ada teman Pak Karto, yang dicurigai sebagai penyeludup datang ke rumahnya. Tapi tidak ada.
    Akhirnya polisi menyerah. Kesimpulan sementara hasil penyelidikan;  Pak Karto tidak bersalah dan tak ada seorang pun yang melapor telah kehilangan emas batangan. Namun masih saja menyisakan pertanyaan di masyarakat, darimana Pak Karto mendapat emas batangan itu? Orang-orang banyak berdatangan ke rumahnya. Mereka ingin tahu, darimana Pak Karto  menemukan emas batangan tersebut. Pak Karto tetap merahasiakannya. Bukannya menjelasakan, Pak Karto malah memecahkan emas-emas batangan  menjadi kecil-kecil, dan membagikannya ke warga yang datang ke rumahnya.

***
    SEKITAR Tiga bulan Pak Karto mengunci rapat-rapat mulutnya, untuk tidak membocorkan rahasia asal usulemas tersebut. Tapi tidak dengan istrinya yang dipanggil Bu’e. Perempuan gemuk pendek itu kelepasan omong, dan bocorlah rahasia tersebut, seperti air deras yang keluar dari lobang. Kok bisa Bu’e yang membocorkan rahasian emas Pak Karto tersebut?
    Ceritanya begini; waktu itu ketika Pak Karto sedang menjual emas hasil produksinya ke kota, Bu’e didatangi orang bule. Kelihatannya sih dari Inggris.
    Bule : Selamat siang bu Karto. Ibu tampak cantik sekali dengan perhiasan-perhiasan di leher, jari tangan, pergelangan kaki. Terpenting lagi semoga ibu baik-baik saja
    Bu’e : Siang mister. Mister dari Inggris, kok fasih sekali ngomong Indonesia? (wajah Bu Karto nampak memerah. Selain karena gugup, juga malu dipuji)
    Bule : Saya koresponden sebuah televise terkenal dari Inggris. Nama saya Jim Later.
    Bu’e : saya bu Karto …
    Jim Later : Perhiasannya bagus Bu Karto, cocok dengan … saya panggil mba Karto saja soalnya terlihat masih muda, sekitar dua puluh tahunan
    Dan seterusnya, dan seterusnya. Jim Later pintar merayu.
    Itulah perjumpaan awalnya. Bu’e terus dipuji-puji Jim, yang tinggi besar dan ganteng itu. Bu’e tersipu-sipu sampai-sampai terlihat sebuah gigi tengahnya berkilau-kilau kena cahaya.
    Lalu akhirnya,
    Bu’e : pekerjaan suami saya gampang. Pagi-pagi bukan celana, jongkok buang air besar. Air besar alias tahi milik suami saya yang berupa emas-emas itulah yang dijual di toko emas.
    Jim : oh (kaget)
    Bu’e : Begitulah kenyataan yang sebenarnya mister .Sehari itu bisa mengumpulkan sekitar 2 kilo
    Jim : oh (kaget lagi, dengan mulut terbuka)
    Bu’e : kok oh, oh saja dari tadi
    Jim : ini baru berita
    Bu’e : ini berita baru
    Jim : apa makanan suami mba?
    Bu’e : suami saya itu senang jengkol, ikan asin, tempe, tahu, sayur bening. Memang kenapa Pak?
    Jim : Ah, tidak apa. Kebetulan saya juga suka tempe, tahu, tapi tinja saya tidak berubah menjadi emas. Tiinja saya memang kuning seperti warna emas, tapi tinja saya itu lembek.
Wawancara itu tak hanya diberitakan melalui TV asing, tapi juga seluruh Koran-koran dan majalah di seluruh dunia.  Dari pemberitaan media tersebut, masyarakat di seluruh dunia akhirnya mengetahui, bahwa emas yang dijual Pak Karto ke toko-toko emas itu berasal dari dalam perutnya.
Demi keamanan, karena rumahnya (Pak Karto sudah pindah ke Kakatua) terus didatangi orang-orang hingga jutaan orang. Akhirnya Pak Karto mengontrak 100 orang untuk bertugas menjaga rumahnya, diri dan keluarganya. Pak Karto terus berpindah-pindah rumah. Kadang menetap di Sindang Sari, sebuah kelurahan dari kota Samarinda yang bertengga dengan kecamatan Anggana Kabupaten Kutai Kartanegara.

***
    CERITA belum berakhir. Sebuah undangan ditujukan kepada Pak Karto. Bila saja yang mengundang hanya Ketua RT, mungkin Pak Karto bisa berhalangan untuk hadir. Ini yang mengundangnya adalah Presiden. Presiden? Iya, presiden. Tidak hanya satu. Lima presiden dari 6 negara super power ikut hadir. Yakni dari Amerika Serikat, Inggris, Jepang, China, Australia dan Tiongkok.
Setelah dibujuk-bujuk Bu’e, Pak Karto beserta Bu’e istrinya akhirnya bersedia memenuhi undangan tersebut. Kedatangan Pak Karto dan istri disambut hangat 7 presiden, termasuk 6 presiden Negara super power yang sudah disebutkan di atas tadi.
KARTO SI TAHI EMAS PENUHI UNDANGAN 7 PRESIDEN
Setelah menyembunyinkan diri, akhirnya Karto bin Karto kembali muncul lagi ke permukaan. Kemunculan lelaki ini terkait undangan resmi dari 7 kepala Negara. Rencananya hari ini (1/1) Karto tiba di istana Negara. Karto yang ketenarangannya mengalahkan Michael Jackson ini kemungkinan besar diminta melakukan aksinya. Karena ke 7 kepala Negara ingin melihat langsung keajaiban ini.
    Demikian salah satu kepala berita sebuah koran nasional menuliskan. Semua koran memberitakan tentang Pak Karto. Di sekeliling istana, masyarakat berjubel-jubel. Selain ingin melihat keanehan tersebut secara nyata, mereka juga berharap siapa tahu ada emas yang dibagikan kepada masyarakat. Massa berjubel-jubel. Ada yang terjepit di pagar. Bahkan ada sekitar 187 orang yang pingsan.
    Sedangkan Pak Karto selalu dikawal pasukan khusus keamanan nasional. Pak Karto dinginapkan di istana Negara. Sejak kedatangan, Pak Karto dan istri sudah diatur protokoler. Pakaian diharuskan yang rapi, pakai jas dan dasi. Makan pun disediakan yang enak-enak. Ada berbagai macam daging, ada daging kambing, daging sapi, daging rusa begitupula dengan ikan, sayur dan makanan=makanan yang biasa disajikan di restoran dan hotel-hotel berbintang. Melihat makanan itu, Pak Karto merasa sudah kenyang. Tapi dia diharuskan makan banyak. Tapi lagi, ikan asin, tempe kesukaan Pak Karto tidak ada.  Itu masalahnya. Pengawal meminta Pak Karto harus makan banyak, agar bisa membuktikan kelebihan yang dimilikinya. Makanan berlimpah ruah, dimaksudkan agar Pak Karto bisa makan banyak, dan besok pagi tidak mengecewakan undanan terutama 6 kepala Negara super power.

***

    PAGI hari. Undangan sudah berdatangan.  Selain 7 kepala Negara, juga ada undangan untuk duta besar Negara lain. Mereka duduk di deretan depan. Di belakang  7 kepala Negara. Panggung berbentuk jamban berbentuk panggung  kecil, yang tingginya sekitar 1 meter telah  disiapkan di depan. Pintunya dari kain. Penataan panggungnya cukup bagus.  Seperti pertunjukan pesulatdunia David Copperfield. Pertunjukan Pak Karto ini disiarkan langsung ke seluruh dunia. Penontonnya mengalahkan pertandingan sepak bola dunia.
     Tak ingin membuangbuang waktu lama, pembawa memulai acara. “ Tuan dan puan sekalian yang saya hormati. Teruatama bapak yang mulia dan yang terhormat, 7 kepala Negara yang besar, inilah acara atau pertunjukan spetakular di sepanjang hidup manusia.  Tentang kemujuran Pak Karto, yang dari perutnya bisa memproduksi emas yang dikeluarkan dari pantatnya … tapi sebelumnya kita dengarkan sambutan 7 kepala Negara terlebih dulu,’’ ujar   Suzanne,  salah seorang penyiar TV nasional terkenal.
    Tepuk tangan undangan tak jadi bergemuruh. Satu persatu 7 kepala Negara menyampaikan pidato sambutannya.
Suara Suzanne, setelah itu kembali terdengar enak di kuping daripada 7 kepala Negara. ‘’Kini saatnya Pak Karto kita minta untuk menunjukkan keajaibannya. Silahkan Pak Karto …,’’ suara Suzanne yang serak-serak basah.
    Tepuk tangan bergemuruh. Bergemuruh karena selain jutaan masyarakat yang berada di sekeliling istana Negara, yang menyaksikan  dari layar televise, pemersa di rumah di seluruh dunia serempak bertepuk tangan.
Pak Karto menuju panggung. Pakai jas hitam dan dasi biru. Dia menganggukan kepala kea rah kepala Negara dan undangan lainnya. Hatinya berdebar-debar. Dia melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam jamban. Jas di buka ditaruh di sisi dinding jamban yang bagian atasnya tidak beratap. Lalu celana panjang. Dan terakhir celana dalamnya.
    Lima menit berlalu. Undangan dan masyarakat seluruh dunia tegang. Sepuluh menit …  dua puluh menit  … tiga puluh menit … belum ada tanda-tanda sesuatu yang jatuh dari atas jamban. Padahal seperti baki berwarna kuning keemasan sudah disediakan di bawahnya.
Pak Karto terus berupaya; sambil menekan-nekan perutnya agar cepat bisa membuang air besar atau mengeluarkan tinja dari dalam perutnya. Mukanya merah. Pada menit ke 55, ada sesuatu yang jatuh. Pak Karto menengok ke bawah, lewat lubang di dekat pantanya. Tapi telinganya tak mendengar suara logam, ting ting ting seperti biasa dia berak. Dia mengeluarkan tinjanya lagi. Tetap saja lembek. Tak berubah. Dia mengusap-ngusap matanya; apa tidak salah lihat.
    Masih tak yakin, dia kembali mengeluarkan sisa-sisa makanan enak yang disantapnya malam tadi dengan terpaksa. Tetap saja yang keluar dari perut lewat pantatnya adalah tahi. Akhirnya Pak Karto bangkit dari jongkoknya, lalu menyibak pintu kain dan menjenggukkan kepalanya keluar. Dua perempuan cantik yang berdiri di sisi pintu menutup hidungnya.
    Mata Pak Karto menatap kea rah undangan, mencari-cari istrinya. ‘’Bu … bu’ee ini bukan mimpi toh? “. Lalu pingsan.*

           Samarinda, 1989.

 

 

 

 

RIATRY LESTARI

 

RIATRY Lestari. Tapi dia lebih suka mencantumkan Try lestari Soemariyono pada setiap karyanya dalam menulis, baik itu puisi, cerpen atau essai. Memulai menulis sejak SD, namun publikasi pertama karyanya berupa cerpen ditampilkan dalam majalah dinding ketika ia duduk di bangku SMP. Kecintaannya pada dunia menulis membawa karya-karyanya muncul di majalah dan harian baik lokal maupun nasional.

Cerpennya yang berjudul Dalam lingkar  kebimbangan dan keajaiban masuk dalam kumpulan cerpen Forum Lingkar Pena. Tulisannya yang berjudul Lemang Sang  Penyelamat Hidup, meraih juara tiga dalam Lomba Penulisan Pemberdayaan Penduduk Miskin yang diselenggarakan Lembaga Pers Dr. Soetomo Jakarta.

Profilnya pernah muncul di majalah Pantau terbitan ibukota. Perempuan yang lahir tanggal 7 April ini rajin menulis naskah radio untuk sandiwara dan menulis naskah untuk feature udara, menyorot kehidupan sosial dan orang yang terpinggirkan. Tahun 2006 lalu, ia mengikuti Confrence Women Playwrights Internasional di Jakarta. Mantan wartawati Tabloid Koran Kita ini, baru saja meluncurkan kumpulan essai bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam FLP Samarinda, berupa TTM, in the name of friendship.

TRY telah dipanggil_NYA di awal tahun 2010, Try korban tabrak lari saat pulang dari bekerja sebagai penyiar radio RRI Kota Samarinda, di malam dingin sehabis hujan.*

RUMAH KUNING

Oleh : Try Lestari Soemariyono

 (Kalimantan Timur – INDONESIA)

Gambar

Tidak ada yang istimewa sesungguhnya dari bangunan itu. Semuanya serba sederhana. Satu yang paling menonjol, hanya warna catnya yang menantang, kuning terang. Selebihnya, semua biasa.

Seperti warna kuning, yang konon adalah warna cemburu, penghuninya selalu berganti-ganti setiap tiga atau empat bulan sekali. Hidup sendiri, menunggu seseorang dengan kecemburuan yang mendalam. Silih berganti.

Rumah kuning itu adalah rumah kontrakan dari Bu Kadar, tetanggaku yang berpredikat janda. Entah kenapa, mereka yang ngontrak, selalu isteri kedua yang dinikahi siri. Posisi rumah itu tepat berhadapan dengan rumahku. Cukup strategis untuk menyiumpan isteri kedua atau ketiga, karena lingkungan kami jauh dari keramaian.

“ Kita memiliki tetangga baru lagi, Rat,” Mas Deny membisikiku suatu sore saat aku baru tiba dari kantor. Aku keheranan, sebab suamiku itu tak pernah peduli selama ini siapa tetangga kami. Tetangga kamipun jarang memperkenalkan diri. Pintu rumah itu selalu tertutup rapat, kapanpun. Seperti tak ada kehidupan. Kecuali jika ada suara mobil yang menderu, pintu itu terbuka sesaat, untuk kemudian tertutup lagi.

“ Kami masih ingat Adisti,kan?”

Aku mengangguk

“Dialah penghuni rumah kuning itu”

Jantungku langsung berdegup. Adisti? Aku ingat nama itu. Sahabatku semasa kuliah, mantan pacar Mas Deny suamiku.

“Tadi pagi ia pindah”

“ Ia ke sini?”

“Ya” Mas Deny mengangguk

Kuhirup jus tomat. Serasa dingin mengaliri kerongkonganku. Tetapi…, hei, dadaku terasa mulai memanas. Cemburu? God! Rasanya tidak. Lalu?

“ Rat, dia agak kurusan.” Mas Deny berucap pelan. Aku menangkap nada simpati kutatap mata suamiku. Biasa saja.

“ Istri simpanan juga? Aku berusaha tak terpengaruh pada perasaanku

“ Aku tak tahu.” Mas Deny mengangkat bahu.” Mandi dulu, kamu kelihatan lelah.”

Tanpa komentar, aku menuruti saran mas Deny. Seharian ini aku memang lelah. Banyak yang harus kukerjakan, demi kemajuan perusahaan.

Seusai mandi, aku memang lebih segar, tetapi tidak dengan pikiranku. Kuoles lipstik pink ke bibir mungilku. Kubiarkan rambut cokelatku tergerai Sret… Sret …, parfum menyentuh bagian telingaku dan pergelangan tanganku. Aku tak ingin kelihatan lusuh, apabila tetangga baruku adalah adisti!

*   *   *

Ting … tong

Bel rumahku menjerit. Bik Maimun membukakan pintu, dan seorang wanita bergaun kuning, berdiri di depan pintu. Adisti.

“ Malam, Rat” Adisti menyapaku. Senyumnya mengambang manis. “ Apa kabar?”

“Baik,” aku menjawab.

Kami berpelukan sesaat. Tujuh tahun tak bertemu, sesungguhnya aku begitu kangen pada sahabatku ini. Ia memang kelihatan lebih kurus, tetapi makin cantik.

“Ayo rezki tak boleh ditolak. Aku dan Mas Deny kebetulan mau makan malam, kamu harus makan bersama kami,” kugandeng tangannya menuju ruang makan. Ia sedikit ragu, tetapi akhirnya mengikuti langkahku.

Sesaat ia melihat sungkan ketika menjumpai mas Deny di ruang makan, tetapi menjadi hangat ketika menjabat tangan Alia, putri tunggalku. Lima belas menit kemudian, sifatnya normal, seperti tujuh tahun yang lalu, penuh canda dan riang. Sifat inilah yang bisa membujuk kependiamanku menjadi lumer, dan bisa bersosialisasi dengan siapapun. Pengaruh Adisti begitu kuat terhadapku. Ia sosok wanita yang smart, dalam sikap maupun pikiran. Aku memang megaguminya. Ia populer di kampus dengan segudang prestasi akademik dan wajah orientalnya yang menyenangkan

“ Ratna sayang, aku akan menikah bulan depan,” Adisti , membisikiku suatu senja ketika aku akan sholat magrib di kamar kostku. Senyumnya mengembang menagkap raut keheranan diwajahku. Menikah? Diusia muda dan kuliah belum kelar?

“Sholatlah dulu. Engkau pasti berprasangka aku kebobolan, kan? Adisti tertawa. “ Aku masih perawan, Non.”

Ketika lengking cacing tak lagi bergema, sebagai tanda bahwa senja telah terlewati, kusodorkan segelas teh hangat pada Adisti.

“ Siapa lelaki beruntung itu, Adis?” aku bertanya tak sabar.

“Ia lelaki sederhana yang pernah kuliah di ISI Jogjakarta. Aku baru mengenalnya dua minggu.”

“ Dua minggu? Kamu tak bercerita padaku?” aku ,e,belalak. “ Secepat itu mau menikah?”

“ Dia baik, Rat. Ia mencintaiku lulus, dan aku mencintainya amat sangat. Aku mengenalnya ketika nonton pameran lukisan di taman Budaya, kamu masih ingat?”

“Seniman gondrong itu?” aku makin terbelalak.

“ Ingatanmu sangat bagus. Yap, deny Asmara.”

Aku terdiam. God, cinta seperti apa itu?

“Itu namanya cinta kilat, Dis. Perkawinan itu tidak hanya untuk satu dan dua bulan saja, tetapi seumur hidup. Bagaimana dengan mama? Papa? Keluarga lainnya? Dua minggu Dis, terlalu singkat dan sinting untuk mengambil satu keputusan yang penting.” Aku menatapnya galak.

“Aku tak peduli. Aku mencintainya.Titik.”

Dua minggu kemudian, tak ada janur melengkung dan tenda biru di rumah Adisti.Yang ada justru karangan bunga sebagai tanda bela sungkawa atas kematian Tante Ine, Ibunda Adisti. Serangan jantung telah menghentikan nafas wanita baik itu. Permohonan restu untuk pernikahan, tak pernah ada.

Dan Adisti menghilang. Sebulan kemudian aku mendapat phone darinya. Ia di Belanda. Opanya memang ada di sana. Dan setelah itu kami tak pernah lagi berhubungan. Ketika aku telah menyandang gelar sarjana ekonomi dan akan menikah dengan Mas Deny, aku minta izin dan restu pada Adisti melalui Mbak Mery kakak satu-satunya dari sahabat tersayangku itu.

“ Kamu pagar makan tanaman, Rat. Aku benci padamu.” Adisti menelpon menjelang pernikahanku. Tangisnya mengalun pilu. Mas Deny membisu. Akupun demikian.

Maafkan aku, Dis.

Dan hari ini kami kembali bertemu setelah hampir tujuh tahun berpisah.

*      *     *

Sisa kemarahan tak ada lagi pada Adisti

Bibir merahnya banyak menyunggingkan senyum, tetapi juga menyimpan misteri dari kepergiannya selama ini. Hari ini aku ingin semuanya menjadi jelas. Dari bibir Adisti sendiri, bukan dari Mas Deny suamiku. Tentang Tante Ine yang meninggal tiba-tiba, Om Hendry yang murung, Mbak Mery yang gelisah, pernikahan yang tak pernah ada, dan Adisti yang kabur keluar negeri. Oh!

Percayakan engkau pada takdir, Ratna?” Adisti menatapku dalam.

“Tentu saja” Aku menjawab menggenggam tangannya.

Kebisuan meyergap kami. Helaan nafas terdengar, ditingkahi denting jam pukul dua belas malam. Mas Deny sejak pukul sebelas tadi sudah masuk kamar, mengeloni Alia yang agak cerewet malam ini. Aku dan Adisti masih melepas kangen, menumpahkannya dalam bingkai waktu tujuh tahun perpisahan kami.

“Dulu aku marah pada papa. Marah pada keadaan, marah pada Tuhan.., dan  takdir yang ditentukannya. Takdir yang disuratkan padaku, begitu berat. Aku tidak boleh menikah dengan orang yang kucinta, yang kusayang, yang begitu mengerti aku.” Adisti memulai membuka kisah yang belum  aku ketahui.

“Keterus terangan papa, menyebabkan mama meninggal secara tiba-tiba, juga membuatku marah. Kejujuran yang memang harus diakui papa, menyebabakan takdir yang digoreskan, harus kujalani. Aku mesti berpisah dari Mas deny, pria yang kucinta yang semestinya menjalani hidup denganku. Engkau tahu, Rat? Tak pernah ada restu dari papa. Mas deny adalah anak kandung papa, dari wanita lain. Pengakuan yang mengejutkan  mama, mbak Mery dan aku. Mama yang merasa dikhianati, dan aku yang sedarah dengan Mas Deny…” Adisti mulai terbata.

“Tidak ada satupun wanita yang rela ketika suaminya mencintai wanita lain dan menghadirkan seorang anak dari percintaannya yang lain pula. Demikian juga dengan mama. Jantung mama tak kuat menerima itu semua, apabila papa diakui mama sebagai suami yang paling setia.” Mata Adisti membasah.

“Aku marah pada papa. Pada Tante Minarsih, ibu Mas Deny. Mengapa mengambil cinta dari kami. Ia tak berhak…” Adisti terisak. Aku diam, merengkuh bahunya. Kubiarkan ia sesenggukan. Barangkali dengan demikin, ia bisa sedikit lebih lega.

“ Tetapi takdir harus kujalani lagi, rat. Kalau akau dulu menghardik Tante Minasih dengan perkataan keji, merebut suami orang tanpa perasaan, sekarang aku  tahu.., bahwa ketika cinta menyapa dan mengisi relung hati seseorang, tiada satupun bisa menolak. Rat, aku menikah dengan Mas Erlangga, yang telah memiliki istri yang baik dan anak yang baik pula.., aku menjadi isttri kedua seperti halnya Tante Minasih. Di luar logikaku. Ia pria biasa yang tidak kaya. Jabatannya biasa juga. Tetapi aku mencintainya, dan ia mencintaiku..”

Aku tetap diam. Mencoba berkompromi dengan perasaanku. Begitu dahsyatkah sebuah cinta? Mempermainkan kehidupan seseorang dengan dalaih takdir? Betapa mahaberkuasanya cinta, memporakporandakan rasa tanpa logika. Mengubah seorang Adisti yang benci akan perkawinan dibawah tangan, justru menjalaninya. Ah!

*      *       *

Rumah kuning itu ditakdirkan untuk menampung penghuninya yang menjadi istri kedua atau simpanan. Menyimpulkan warna kecemburuan. Menyimpan banyak kisah yang direkam oleh dindingnya yang kuning. Pagarnya yang kuning. Atapnya yang kuning. Merangkumnya dalam satu permainan, bahwa penghuninya adalah wanita-wanita yang siap cintanya dibagi.

Tiga bulan kemudian, aku kembali kedatangan tetangga baru. Adisti telah pindah dan mengikuti suaminya ke Brunai.

Ketika pagi menjelang dan aku bersiap menuju kantor bersama Mas Deny, kulihat Pak Sinaga, bosku di kantor memasuki mobilnya dianatar wanita muda sexy berkulit putih. Dan aku tahu, itu adalah wanita simpanannya yang dinikahinya empat minggu yang lalu.

Rumah kuning itu kembali menjadi saksi bisu. Percintaan, kegelisahan dan kecemburuan, menyatu dalam satu kisah, tersimpan dalam pintu yang selalu tertutup rapat, berwarna kuning.*

JINGGA

OLEH : TRY LESTARY SOEMARIYONO

Sembilan bulan yang lalu Va, masih berkeliaran di jalan selepas senja. Senyum tipisnya sanggup menghentikan langkah lelaki manapun . Mengajaknya berbincang, pergi dan kemudian bercinta. Semakin malam, kawasan tepian yang menyajikan jagung bakar manis, kopi susu kental dan tebaran wajah ranum tak menyurutkan gairah cinta semalam. Va yang suka berpakaian hitam, akan tenggelam dalam tawa tanpa makna dengan teman-temannya.

Tapi malam itu Va akan menjadi milik Jati. Tak akan lagi ada transaksi menghasilkan rupiah. Va menjadi istri syah Jati, pengusaha berduit asal Surabaya.

“Bapak tidak menyesal mengawini saya?” Va bertanya ragu.

“Saya akan menyesal jika tidak kawin denganmu,” Jati tertawa. Va kelihatan bingung. Hampir lima bulan Va bersama Jati, tetapi lelaki separuh baya itu tak pernah menyentuhnya. Paling ahnya memeluk, mencium keningnya. Selepas itu,  Jati akan membawanya memutari kota Samarinda, mendengarkan musik di Pub Alamanda Hotel mesra, dan memulangkan Va ke rumah kontrakan sederhana jika batas malam berganti pagi.

“Kamu manis, siapa namamu?”itu kalimat pertama dari Jati, ketika pertama kali bertemu Va di Tepian. Saat itu Jati menikmati jagung bakar bersama Hendra, kawan bisnisnya di Samarinda. Jati memang pecinta jagung bakar, dan daerah tepian di Samarinda adalah tempat yang paling nyaman untuk menikmati jagung bakar sambil menatap mahakam dalam riak gelombang kecil yang di naungi bulan.

“Saya Va.” Va seperti biasa, tersenyum.

“Singkat sekali? Punya arti tersendiri?” Jati mencoba berakrab dengan wanita dua puluh satu tahun itu.

“Ah, Wiliam shakespiere mengatakan apa arti sebuah nama. Saya tidak suka menyebut nama lengkap, karena setiap orang yang mendengarnya akan mengulang, dan merasa heran. Panggil saja, Va.” Va enggan menyebutkan nama lengkapnya.

Dan kemudian daya tarik Va seperti tidak terbendung. Jati meminta nomor phone selulernya, dan memberi nomor pribadinya. Komunikasi terus bergulir, sampai pada akhirnya Jati menawarkan sesuatu yang tak pernah di duga Va.

“Menikahlah denganku, Va. Tinggalkan Samarinda, hidup denganku di Surabaya.” Jati menatap Va dengan pandangan berharap. Va ternganga. Sesaat kemudiania tersenyum menggoda.

“Istri keberapa nih? Tiga, atau empat?”

“Kamu tahu, istirku sudah meninggal tiga belas taun yang lalu.” Jati menatap wajah Va lembut. “Kamu akan menikah dengan duda keren.” Tawa halus Jati terdengar lagi.

Va tertawa keras.

“Jangan menggodaku seperti itu, ganteng.” Va mengelus wajah Jati. “Aku tak tahu siapa ayahku. Kata ibu sih, orang Thailan yang tak pernah menikahi ibuku. Ibu meninggal dalam sakit tanpa obat.dua tahun aku menjadi istri simpanan pejabat yang telah mati akrena serangan jantung, setahun aku menjadi istri kontrakan dari lelaki Korea, bertahun-tahun aku bisnis cinta sejak berusia tujuh belas tahun. Adakah lelaki yang sudi menjadikanku istri sahnya, dari hukum agama dan Negara? Menikahi seorang mesti tahu dulu bibit, bebet, bobot.” Va masih terpingkal, menutup kerawanan hatinya.

“tak ada rumah megah yang dijanjikan dan jutaan uang di Bank. Janji mereka isapan jempol, mereka hanya ingin tubuhku, curhat ketika ada masalah dengan istri..! Ah, enakan hidup tanpa ikatan.” Va tertawa namun terdengar sumbang.

“Va manis, aku lelaki tak pandai berkata. Jika lamaranku tidak kau tolak, maka takdirmu akan berubah. Kamu tidak ingin hidup terus begini, kan?’ jati menyentuh jemari Va. Ada getaran halus mengalir.

“Bapak, saya tidur dengan banyak lelaki.” Va membiarkan jemarinya di dalam genggaman Jati.

“Aku tidak peduli. Ketika kau sudah menjadi istriku, kamu adalah milikku, tanpa satu lelakipun bias menyentuhmu lagi.”

Va menatap Jati takjub, antara percaya dan tidak.

“Bulan depan kita menikah, lupakan kehidupan dulu, jalani masa depanmu, Va sayang. Surabaya akan menjadi kotamu. Hm?”

Sembilan bulan yang lalu Va masih duduk di tepian mencari mangsa, menawarkan cinta sesaat dan menggenggam rupiah. Kulitnya yang putih selalu terbalut dalam baju warna hitam, seperti hatinya yang sesungguhnya gelisah. Jati dating menawarkan cinta abadi, menyuntingnya. Sekarang ia telah menjadi nyonya Jati, bukan lagi Va. Setiap orang yang bertemu dengannya akan menyapa; Nyonya Jati Perwira. Menebar senyum, dan mengangguk hormat.

“Ini hadiah untukmu, Jingga cintaku,” Jati mengecup bibir Va pagi ini. Sebuah restauran elegan bernuansa jingga akan dibuka siang ini, menawarkan makanan khas Kalimantan. Atas nama Va, seperti juga butik yang telah dibuka dua minggu lalu.

“Kamu suka, Jingga?” Jati memeluknya.

“Bapak, aku va. Aku bukan Jingga.” Va membiarkan tubuh mungilnya dipeluk Jati. Ini untuk kesekian kali Va mengingkari. Ia Va, bukan Jingga!

“Jingga sayang, Jingga cintaku…” Jati semakin erat memeluknya, menciumnya. Va melihat kedua mata Jati menebar saying.Mengaca. Ah…! Lelaki ini telah mengubahnya menjadi Jingga, istrinya yang telah mati bersama bayinya saat melahirkan. Jingga yang amat dicintainya. Jingga yang selalu berpakaianwarna jingga sesuai namanya. Jingga yang teramat mirip dengan Va, bagai pinang di belah dua…!

Tiga hari setelah pernikahan, Jati memberikan beberapa cd berisikan rekaman kegiatan sehari-hari Jingga yang selalu di handicam Jati. Membuang baju-baju hitam Va, menggantinya denganwarna jingga, warna yang dibenci Va. Jati mengubah Va seperti Jingga. Seluruhnya. Inikah sebab, mengapa Jati begitu menginginkannya? Menghidupkan kembali diri Jingga melalui Va?

“Jingga sayang, aku telah memenuhi keinginanmu untuk membuka restaurant dan butik. Engkau bahagia?”

Va tidak menyahut. Sesungguhnya ia ingin menjadi Va, bukan harus berperan seperti Jingga. Jingga yang lembut dan bertutur halus, Jingga yang punya kebiasaan menidur kan Jati dengan nyanyian cinta, Jingga yang mendapatkan siksaan saat akan bercinta karena Jati mempunyai kelainan.

Ah!

“Engkau bahagia Jingga?” Jati mengecup kening Va. Kening yang masih memar karena pukulan Jati semalam. Selalu begitu. Punggung yang kebiruan, pinggang memar, atau pipi yang memerah. Va sudah kehabisan air mata.

Betapa ia lelah dalam menjalani hidup. Tersenyum memberikan cinta palsu pada setiap lelaki yang membawanya pergi untuk mendapatkan rupiah, membiarkan hatinya tersayat ketika tetangga kiri kanan rumah kontrakannya mencibir dan meludah saat ia pulang selepas subuh. Dan kini, ketika semua orang menganggukan kepala sebagai tanda hormat akan statusnya sebagai istri Jati, memanjakannya dalam harta yang berlimpah, kebahagiaan tak seutuhnya berpihak pada Va.

“Jingga sayang, kamu sakit?” suara Jati menepis lamunan Va.

Va menggeleng. Memberikan senyumnya pada Jati.

“Kita berangkat sekarang?” Jingga menawarkan. Jati mengangguk. Mengusap pipi Va perlahan. Va sedikit meringis, pipi yang memerah karena Jati menamparnya semalam.

“Pagi ini kamu sangat cantik.” Jati menggandeng tangan Va menuju mobilnya.

*          *          *

Mall Tunjungan sore hari.

“Gina…!”

Va menghentikan langkah. Suara itu amat dikenalnya. Suara Emi, teman seperjuangannya dulu dalam mempertahankan hidup dengan menawarkan cinta semalam.

“Gina…, hai.., kamu Gina?”

“Emi..,” Va memeluk Emi. “Apa kabar?”

“Baik. Baik sekali. Kamu menghilang, dulu katanyasudah menjadi nyonya kaya di sini, Surabaya.” Emi tertawa. “Duh, kamu memang kelihatan lain, tapi.. agak kurusan. Sengaja diet?”

Va ikut tertawa. “Kamu sendirian?” mata Va mencari-cari seseorang, tidak menanggapi pertanyaan Emi.

“Sejak kapan aku punya uang untuk membayar hotel dan terbang?’ Emi cekikikan. “Biasa, cukong kayu pengen membuang sedikit duitnya, memanjakanku shooping dan menjenguk kota orang. Tuh, dia lagi ambil duit di ATM.” Emi menunjuk dengan mata seorang lelaki botak berperut buncit.

“Nasib kamu bagus banget Gin. Banyakn uang, dikawini secara syah, dihormati.., kawan-kawan setiap hari membicarakan kamu. Mereka bilang, karena namamu yang aneh, kamu beruntung.” Emi terus berkomentar. “Hm, mana suami kamu?”

“Jingga… “ Jati telah berdiri di samping Va. “Lama sekali, aku menunggu kamu di bawah.”

“Jingga?” Emi keheranan. Ditatapnya Jati dengan tanda Tanya. “Bukannya kamu Gina? Vagina..?” Emi menggantungkan kalimatnya.

Va mengangguk.

Aku mempunyai panggilan kesayangan. Jingga. Nama yang cantik, bukan?” Va menggandeng suaminya. “Main kerumahku ya Em. Kamu masih lama di sini,kan?” Va memberikan kartu namanya. Senyumnya masih mengembang.

“Ah Gin, esok aku sudah balik. Istri cukong sialan itu menyusul. Aku mah gak mau rebut. Yang jelas, uangnya sudah pindah ke rekeningku.” Emi berbisik. “KAmu tahukan, Mala anakku mesti bayar uang sekolah. Cukup aku aja deh yang gini, Mala mesti jadi sarjana.” Emi mengedipkan matanya. “Doakan aku ketemu jodoh yang baik ya, aku sudah capek hidup begini.”

Va mengangguk. Dipeluknya Emi sekali lagi sebagai salam perpisahan. Kemudian tangannya menggenggam tanga Jati, menuntun menuju tempay parker. Sesaat ditatapnya lelaki paruh baya itu. Digelengkannya kepala lemah. Ia tak sanggup melarikan diri, tapi jugatak sanggup hidup bersama. Jati menyakitinya, tetapi juga membuatnya bahagia. *

INGKAR

Oleh : Try Lestari Soemariyono

TIDAK  berlebihan rasanya jika aku telah jatuh cinta padanya.Ia cerdas, sedikit jail tapi santun, dan lumayan ganteng. Gaya bicaranya santai, penuh humor yang kadang sanggup metbuatku tertawa lepas. Hal yang aku suka dan selalu ingin mendengarkan suaranya adalah jika ia melafalkan huruf ‘r’. Cukup aneh bagiku, sebab jarang ada pria yang tak sampai menyebut huruf ke delapanbelas dari abzad yang ada.

Tiga minggu perkenalan itu, memang terlalu singkat untuk menyukainya. Tetapi bukanlah satu kesalahan bila akhirnya aku jatuh cinta pada sikapnya. Pada kalimat-kalimatnya yang spontan. Pada tatapan matanya. Pada ide-ide gilanya. Ah! Yang menjadi salah, adalah aku mencintai lelaki yang sudah memiliki kekasih.

Dalam kamus percintaanku dengan berbagai pria, dialah pria yang paling sederhana dari segi nama dan penampilan, terkesan awut-awutan, cuek, berkantong tipis. Namun semua itu bukan satu penghalang sesungguhnya. Satu hal yang semestinya kusadari, perbedaan usiaku begitu jauh.

“Aku buatkan mie rebus, ya, Wi?”

“Hm, bolehlah.” Aku mengangguk, menyetujui tawaran Budiman, lelaki itu. Ia menyapaku dengan panggilan khusus; Uwi, padahal namaku Ruri Riswari. Mungkin menyiasati agar lafal ‘r’ yang diucapkannya tidak terdengar. Aku menyukai nama baruku, pemberian Budiman.

“Pedas?”

“Sedang saja.”

Ia menghilang ke dapur, meninggalkanku di ruang tamu mungil rumah kontrakannya. Tak berapa lama ia kembali membawa dua mangkuk kecil mie rebus buatannya.

“Ini special buatmu..” ia tertawa. “Kamu pasti ketagihan makan mie buatanku, dan selalu kangen…”

“Ge-er ah!” aku mencibir. Ia masih tertawa. Dan aku menyukai tawanya.

“Asin?” ia bertanya saat aku mulai menikmati mie rebusku.

“Hm…, sedikit.”

“Kalau asin…, itu tandanya aku sudah kebelet kawin…!” Budiman menyodorkan kecap manis. Matanya menatapku jenaka. Aku tertawa.

“Memangnya kamu sudah ada calon?”

Ia terbatuk. Agaknya disengaja.

“Begitulah. Aku mencintainya. Amat sangat.”

Ah!

Artinya aku harus patah hati dengan jawabannya barusan. Budiman telah mengakui, bahwa dirinya telah ada yang memiliki. Gadis Jawa pasti telah menantinya, mengikatnya dalam cinta setia.

*   *   *

Tuwit…tuwit…tuwit…

Ruri sayang, bercintalah denganku. Aku mempunyai gaya baru yang pasti asyik. Mhhh…, gimana?

Sms Profesor Diaz, ahli sejarah. Pria beristri bule yang mempunyai keisengan luar biasa tanpa batas. Gaya bahasanya kalau meng-sms, selalu berbau porno. Aku tak pernah menanggapi. Usianya baru tigapuluh lima tahun, cukup muda untuk menyandang gelar professor. Suka dugem, energik, berduit, good looking. Perempuan manapun pasti suka berada didekatnya. Jauh dari gambaran profesor-profesor dulu yang selalu berkaca mata tebal, botak dan kutu buku. Beberapa kali ia merayuku untuk bisa berkencan, dan berkali-kali pula kutolak. Dasar profesor sableng, semakin aku menolak, semakin bersemangat ia ingin menikahiku.

Kalaulah seorang budiman yang wartawan itu yang mengajak menikah, hm, aku tak akan menolaknya. Tapi…, ah! Ia telah memiliki seorang kekasih, dan siap melamarnya! Aku tak berhak mengganggu kebahagiaan insane yang berbahagia, dan aku tak berhak menawarkan cinta terlebih dahulu.

“Cinta itu perlu diperjuangkan, Rur. Pengecut sekali jika kamu mundur sebelum mencoba.” Nike, sahabatku sejak di SMU mentertawakanku ketika kukatakan aku telah patah hati pada seorang Budiman.

“Usianya lebih muda tujuh tahun dariku.” Aku berucap malas. “Ia telah memiliki kekasih dan akan menikah.”

“Lalu?”

“Aib sekali menjalin cinta dengan lelaki yang usianya di bawahku, dan ternista jika aku menyakiti perempuan lain dengan merebut kekasihnya.”

Nike terbahak. “Dan membiarkan perasaanmu sendiri sakit? Oh God! Sahabatku sekarang sudah menjadi lilin, rela hancur demi menerangi orang!” Aku membiarkan Nike terbahak.

“Seberapa besar cinta kamu padanya?” Nike menyimpan senyumnya.

“Seluas laut dan cakrawala.”

“Gila! Kamu benar-benar jatuh cinta, Rur?” Mata bulat Nike membelalak.

Aku mengangguk, ada kesalahan dikalbuku. Kontradiksi. Ingkar atau sakit selamanya? Ah, mengapa sampai separah ini? Bukannya cinta dapat menguap suatu saat? Tetapi, aku perempuan yang tak gampang jatuh cinta! Jika selama ini aku memilih masih sendiri diusia tigapuluh tahun, ada alas an yang tak dapat aku jelaskan pada semua orang. Hanya mama yang paham dan tahu persis mengapa aku takut jatuh cinta dan menikah. Papa yang tega menghianati mama, menelantarkan kami dengan bahagia bersama istri mudanya. Ah, aku tak bisa lupa, mama yang sering dipukul, di bentak, dilecehkan, hingga akhirnya masuk rumah sakit ketika papa memutuskan kawin dengan wanita lain.

Aku trauma, dan menganggap semua laki-laki berhak menyakiti wanita, ketika telah menjadi istrinya.

Aku tak ingin menikah. Toh tak ada undang-undang yang melarang perempuan untuk tidak menikah. Toh aku berhak untuk mengatur hidup dan diriku sendiri. Toh tanpa lelaki aku bisa hidup senang dengan penghasilan besar, bisa bersedekah, memberi rezki pada orang-orang yang memerlukan, menggaji karyawan di cafeku, memimpin rapat diruang ber-ac di sebuah penginapan sederhana milikku, menyekolahkan anak asuhku…, apa yang kurang? Rasanya memang tidak memerlukan lelaki!

Tetapi, Budiman datang dengan mengetuk hatiku, bahwa cinta itu memang ada, dan aku bergetar karenanya. Ketika senja dating, ada senyumnya yang membayang, dan ketika pagi menjelang ada tawanya yang renyah, membawaku untuk menyunggingkan senyum tanpa sadar. Aku selalu kangen dengan kalimatnya yang spontan, kangen dengan lafal ‘r’ nya yang cadel, kangen dengan mie rebusnya…

“Cinta adalah berkah, Ruri. Merebut cinta dari seseorang memang kejam. Tetapi membiarkan cinta dengan mengingkarinya dan membuatmu menderita juga kejam. Keputusan ada dihatimu.” Nike menghela nafas serius.

“Dengar Ruri, cinta tak pernah di batasi kasta. Apalagi usia. Menawarkan cinta lebih dahulu, bukanlah suatu dosa. Jangan menyiksa diri hanya karena trauma masa lalu.” Nike menyambung.

Ketika senja menyapu cakrawala, aku tercenung disejadah. Ada wajah papa dan Budiman bergantian. Aku menggigil. Tamparan papa yang keras membuat mama tersungkur, jeritan mama, bentakan papa, mama yang rubuh tiba-tiba…,Ah! Lalu muncul wajah Budiman yang menyejukkan, yang sanggup membuatku tertawa lepas, mampu membuatku tertawa lepas, mampu membuatku merasa perlu dilindungi, dihargai…, mendekapku dalam kehangatan lelaki yang tak pernah kurasakan…!

Dan malam bergulir dalam hitungan bulan.

Budiman yang kukenal saat menghadiri lounching suatu produk di Mesra Hotel Internasional, semakin menjeratku dalam pesonanya. Kesederhanaannya justru membuatku selalu ingin bersamanya. Dan malam ini ia berjanji akan membuatkanku mie rebus lagi, seraya memperkenalkan seorang wanita yang ada dihatinya. Jujur, aku terluka. Sakit. Barangkali sudah ditakdirkan, lelaki acap kali menyakiti hati wanita.

Pukul delapan malam. Tiga puluh menit sudah Budiman terlambat. Aku mulai gelisah. Barangkali ia telah lupa, sebab wanita yang dicintainya ada bersamanya. Kalimantan dan Jawa mampu membuat keduanya lupa akan janji, terlena dalam kerinduan yang lama terpendam. Setahun, bukan waktu yang singkat untuk meniti cinta yang dipisahkan laut. Betapa aku cemburu! Tetapi…, aku tak berhak. Budiman bukan kekasihku. Bukan. Tak pernah ada pernyataan. Terlalu berlebihan jika aku banyak berharap!

Bel menjerit. Jantungku berdebar. Seorang wanita cantik setengah baya berdiri di depan pintu bersama Budiman. Wanita itu tersenyum. Ramah. God! Selera Budiman boleh juga. Tetapi…, heh, apakah Budiman penyuka perempuan dewasa? Inikah wanita beruntung itu?

“Boleh kami masuk?” Budiman menyadarkanku.

“Oh, ya, tentu saja. Masuklah, ayo Mbak..” aku tersenyum membujuk hatiku agar tidak cemburu. Mencoba Familiar.

“Hei, jangan panggil calon mertuamu Mbak, dong. Nanti kualat…” Budiman tertawa lepas. “Ibiu ingin berkenalan denganmu, sebelum melamar. Engkau cinta padaku,kan?”

Aku ternganga. Surprise apalagi, ini Bud?

“Ibu, ini Uwi yang sering aku ceritakan. Cantik?”

Wanita separuh baya itu tersenyum menyalamiku, memelukku dalam hangat seorang ibu.

“Budiman selalu bercerita tentang kamu. Semuanya. Bersediakah engkau menikah dengan anakku, Uwi?” perempuan itu menatapku dengan kasih.

“Ibu, bukannya Budi sudah memiliki kekasih…?” aku terbata dalam keterkejutan luar biasa.

“Hanya ada dua wanita yang aku kasihi, Uwi. Ibuku dan engkau.” Budiman berucap lembut. Aku ternganga dengan mata mengaca. Sesaat kemudian aku ingin menjerit sekuat tenaga, bahwa aku memang memerlukan seorang pria untuk meniti waktu, menjalani hari-hati tanpa kegelisahan. Aku tak perduli dengan janjiku. Aku telah mengingkarinya. Ya aku telah ingkar. Tapi, apakah itu salah?*

Kony Fahran

Tamasya Batin

 :: KONY FAHRAN

(INDONESIA – Kalimantan Timur)

Gambar

SEHARI, sepekan, sebulan berlalu bukannya menambah usia, tetapi terus berkurang. Pengurangan itu siapa pun tak mampu melawan. Waktu kian hari kian terbungkuk.

Begitu juga dengan Gandrik. Sejak usia berkepala empat, Gandrik yang memiliki sapaan Juragan kerap bermenung diri. Seperti  malam itu dia termenung di bawah pohon jambu halaman rumah. Di tangannya menimang-nimang sebilah pisau tajam. Bentuk pisau itu menyerupai pisau pemotong daging yang kerap dipakai para penjual daging di pasar rakyat. Tubuh pisau mengkilap.

Di perjalanan malam, arloji melingkar di pergelangan tangan Gadrik menunjukkan pukul 23.00. Sepi di sekeliling. Sepi yang membawa keberbenungan Gandrik kian dalam. Di sekeliling hanya suara hewan malam terdengar. Jengkrek bersenandung dengan bahasanya. Belalang meningkahi. Seolah bersahutan dalam zikir. Angin turut membewa kelana Gandrik. Kelena dalam rangkaian tamasya jiwa seorang Gandrik sang juragan besar.

Angin malam berhembus pelan. Dingin.

Pisau ditimang-timang Gandrik, kini erat dalam genggaman tangan kanan. Lelaki itu mendengus setelah menghela napas berkali-kali. Meludah ke sembarang arah.

Setelah sekian lama bermenung,  ibu jari tangan kiri ia tempel di batang pohon jambu. Ibu jari itu ia sayat dengan pisau. Seketika ibu jari putus. Darah mengucur. Gandrik tanpa meringis sedikit pun membalut luka dengan sobekan kain yang sedari tadi ia siapkan.

***

SETELAH itu. Gandrik masih saja suka bermenung diri di tempat sama. Di bawah pohon tergeletak setumpuk paku dan sebuah palu. Kedua benda itu dingin membisu.

Di usia berkepala empat lelaki itu seperti diburu penyesalan teramat dalam atas kezaliman diri yang merenggut pencerahan dan semata hanya ditutupi oleh jerami-jerami nista. Dinding-dinding penyesalan itu,  menampakkan banyak tulisan sesal. Bahkan uraian sesal itu seolah memenuhi seluruh dinding dalam pikiran Gandrik.

“Jemari tangan ini…,” keluh Gandrik. “Sudah terlalu banyak, bahkan sangat banyak meraup keburukan dunia,” usai berkata dengan nada menghujat seperti itu, Gandrik kembali menempelkan telapak tangan kiri dan membacokkan pisau yang sama sekuatnya ke telapak tangan.  Seketika telapak tangan  putus.  Tentu saja darah mengucur.

Dinding-dinding penyesalan itu melebar menyisakan ruang yang belum bertuliskan sesal. Ketika pikiran Gandrik menyerbu sisi ruang di dinding yang kosong. Dalam sekejap, sisi kosong itu terisi tulisan ribuan sesal yang baru. Kepingan-kepingannya seperti emping belinjo berjamur. Sesal itu berjamur, berkarat menempel di mana-mana. Gandrik bergidik. Tamasya jiwa itu hendak menyudahi tamasyanya. Namun tangan menahan.

“Tangan ini terlalu banyak memikul dosa,” hujat Gandrik kemudian.

Sisa tangan yang sudah tidak bertelapak itu ia tempelkan di batang pohon jambu. beberepa detik tangan dibiarkan menempel di situ. Selanjutnya tangan  dia tebas lagi hingga sebatas siku. Sekali tebas, lengan putus. Menggelinding ke bawah pohon jambu berdaun rindang yang tinggi pohonnya melebihi atap rumah. Pohon jambu air itu di tanam Gandrik di sisi halaman kanan rumahnya ketika dia berusia 20 tahun. Setiap tahun berbuah.

Dinding penyesalan kembali melebar. Ada lagi sisi ruang kosong. Kekosongan itu membuka diri. Penuh dan memampangkan terbuka. Sunyi di sekeliling. Tamasya jiwa lelaki itu melangkah. Kaki Gandrik terasa berat. Dia sepertinya dihadapkan pada kelelahan.

“Kaki…!”

“Kaki ini terlalu sering melangkah dalam kekeliruan. Beban dosanya terlalu berat hingga tak kuat menyangga berat tubuh,” lelaki itu menghujat kepada kedua kaki.

“Kaki yang gemar menginjak lembah-lembah dosa!”

Ada semacam bisikan di tengah perjalanan tamasya batin Gandrik. Bisikan itu memberi perintah agar lelaki itu  melunjurkan kedua kaki. Setelah melucuti celana panjang. Kemauan bisikan itu dia turuti. Setelahnya. Kedua kaki itu pun ia tebas. Masing-masing kaki putus jadi tiga bagian. tebasan pertama sebatas mata kaki, tebasan kedua sebatas dengkol dan ketiga sebatas pangkal paha. Tamasya jiwa itu berdarah-darah.

Kini pria dengan usia kepala empat itu tidak berkaki dan tidak bertangan kiri.

Lelaki berdarah-darah itu melucuti semua pakaian. Telanjang sepenuhnya. Sukmanya pun ia telanjangi dalam pelototan purnama dan belai angin. Suara jengkrek dan belalang saling tingkah. Di kejauhan, lolong anjing memanjang seolah memandu tamasya seperitual Gandrik.

Di sekeliling sunyi. Malam terus merambat. Purnama tepat di ubun-ubun. Dalam terang bulan, pandangan lelaki itu hinggap pada kemaluan yang sudah tertelanjangi.

“Kemaluan tak tahu diri tak tahu malu,” hujat lelaki itu.

“Birahi sangat gampang menundukkan kemaluan.”

“Kemaluan  selalu menurutkan hawa nafsu!”

“Jinah tak terkendali!”

“Dosa berlipat-lipat telah melumuri kemaluan!”

“Tebas…!”

Gandrik secara spotanitas kenempelkan batang kemaluan di atas batu. Kemudian tanpa ragu menebas benda yang terdiri dari tulang rawan  berdaging yang bisa mengendur dan bisa mengencang. Kejantanan Gandrik itu pun putus. Dia melempar benda putus itu ke sembarang arah. Kebetulan jatuhnya di hadapan anjing yang berkeliaran malam. Tapi aneh, setelah membaui sesaat, anjing itu tidak menerkam batang kemaluan yang berdarah dengan taring giginya. Malah anjing lari terbirit-birit tanpa suara. Anjing hilang ditelan malam.

Tamasya jiwa itu terasa meliar. Lebih liar dari anjing liar.

Sunyi di sekeliling kian menebal. Bahkan di tengah malam itu angin seolah enggan berhembus. Purnama beringsut ke balik awan. Suara jengkrek dan belalang di balik rimbun perdu mengendur. Tingkah suaranya bagai rintihan.

Dinding-dinding penyesalan melebar menyisakan sudut kosong. Entah kekuatan apa  yang membuat sudut kosong itu menghadirkan warna dalam gelap. Warna itu didominasi merah darah. Tapi jelas, lelaki berdarah itu mampu mengeja aksara yang tercantum di sela-sela warna tersebut. Aksara itu menghadirkan kata: lidah.

Lidah yang sedari tadi menghadirkan terjemahan-terjemahan sesal tak berkesudahan.

“Ya, lidah.”

“Kenapa dengan lidah? Ada apa pada lidah? Adakah lidah pernah berhenti mengucap penilaian-penilaian di sepanjang perjalanan tamasya jiwa saat ini? Lidah…”

“Lapalan lidah selalu mengarah pada keburukan.”

“Uraian-uraian fitnah banyak dilapalkan lidah. Lidah  sangat akrab dengan dosa. Dosa pengucapannya menempel tak terhapus.”

“Julurkan lidah!”

Gandrik menjulurkan lidah semampunya. Dengan cekatan, lidah terjulur itu ia pakukan pada batang pohon jambu. Setelah terpaku kuat, ia menarik lidah dengan memundurkan kepala.  Lidah terpaku sedikit memanjang. Setelah itu ia sayat lidah dengan mata pisau. Hanya butuh waktu beberepa detik, lidah yang sering berucap itu putus. Darah segar langsung muncrat dari mulut Gandrik yang kerap kali dilewati minuman memabukkan dan makanan-makanan yang sumbernya dari ketakpedulian soal haram.

Setelah lidah putus. Sedikit pun lelaki itu tidak merintih atau mengaduh.

Malam itu, dalam tamasya jiwa Gandrik membawa tubuh terguling. Tubuh yang sedikit agak tambun itu terjerembab ke tanah. Diam dan bisu.

Dalam posisis telentang, Gandrik memandang bulan yang kembali menyembul dari balik awan. Setelah puas memandangi purnama penuh, lelaki itu memejamkan mata sesaat. Tamasya jiwa itu pun menggandeng batin. Batin pula menghadirkan terjemahan ke mata.

“Mata,” desis lelaki itu.

“Ada apa dengan mata?”

“Kedua biji mata amat sering menyaksikan hamburan-hamburan aurat…”

Belum lagi selesai kalimat itu. Gandrik mengambil paku menusukkan paku ke bola mata dan secepatnya memalu paku-paku itu hingga melesat ke dalam kedua biji mata.

Darah sudah begitu banyak keluar dari tubuh Gandrik. Luka-luka di tubuh itu seolah menjadi rambu penunjuk jalan tamasya jiwa dan batin.

Purnama di langit meredup tertutup awan hitam. Gandrik merasa dirinya sudah menumpas habis napsu-napsu yang ada di tubuh.

Dalam kebutaannya itu, dia teringat dengan kening yang jarang sekali menunduk. Lebih-lebih sujud. Ingat itu, Gandrik menancapkan mata pisau tepat di kening. Hampir setengah mata pisau amblas menembus sampai ke temperung kepala.

Lelaki itu bangkit dari sujud terakhirnya disepertigamalam. Ia usapkan kedua telapak tangan ke wajah. Pikiran yang mengembara dalam tamasya jiwa dan batin tadi ia kembalikan se-utuhnya. Sesempurna-purnanya menyusupkan irama satir bagi segenap sendi-sendi yang ada di tubuh.

Ada suara tangis di kamar sebelah. Suara tangis putra terkecilnya. Ada suara istrinya yang mencoba membujuk si kecil. Kesadaran Gandrik kembali penuh setelah jiwanya terbawa ke alam tamasya batin dalam gandengan yang maha putih berbalutkan pencerahan.

Jiwa pun menyelusup dalam alam sadar. Gandrik kembali ke dunia fakta.**

Samarinda-Banjarmasin Ok,2010.

======================================

KONY FAHRAN, kelahiran Banjarmasin – Kalsel kini bermukim di Kaltim mulai gemar menulis sejak 1984. Tulisan cerber, cerpen dan puisi di tahun 80-an hingga 90-an kerap dimuat di Suara Pembaruan, Sinar Pagi, Majalah Gadis, Majalah Putri Indonesia,Panjimas dan lainnya. Kini  aktif memperkuat B Magazine, sebuah majalah berita mingguan terbit di Kaltim, berkantor pusat di Jalan Kadrie Oening No 71 RT 32 Air Putih – Samarinda. HP dapat dihubungi, 081350554796.

=======================================

Gambar

Aminah Sjoekoer di Kapal Nederland

:: akhmad zailani
(INDONESIA)
AKU membisu di buritan kapal.  Mataku yang biru memandang letih ke muara Mahakam. Kapal  melewati bekas lokasi peristiwa perampasan kapal Belgia “De Charles” saat panglima perang Awang Long bersama pasukan kerajaan Koetai mengejar sisa pasukan Inggris di bawah pimpinan James Erkine Murray tahun 1844 lalu.
Kapal bergerak pelan, menuju laut lepas. Makin menjauh meninggalkan muara Mahakam. Dengus mesin kapal nederland itu seperti musik pesta dansa bangsawan semalam. Borneo-Amsterdam memang bukanlah jarak yang dekat. Setelah meninggalkan Borneo, kapal yang juga membawa lada, karet, rotan, tengkawang ini akan mampir ke sejumlah pelabuhan, termasuk pelabuhan Sunda Kelapa di Batavia. Tiba di Batavia, aku akan istirahat beberapa hari di Hotel der Nederlanden di Rijswijk  tempat aku menginap sebelum ke 0ast Borneo.
Sebenarnya, aku belum ingin meninggalkan kampung di pinggiran Mahakam yang termasuk dalam wilayah Kerajaan Koetai. Masyarakat menyebutnya kampung Samarinda. Masih banyak yang perlu ingin aku ketahui. Terutama tentang seorang gadis indo-nederland.
Kedatanganku yang pertama 5 tahun yang lalu. Di tahun 1923 bertepatan dengan pendirian Holands Inlandche School (HIS), sekolah swasta yang pertama di Samarinda. Hanya sempat menetap 1 bulan 4 hari, aku balik lagi ke Batavia.
Di awal tahun 1928, aku ke Samarinda untuk yang kedua kalinya. Residen J. De Haan, yang baru saja menggantikan C.J Van Kempen sebagai residen di Banjarmasin yang mengajakku. Aku masih bertahan di Samarinda ketika residen De Han kembali ke Banjarmasin, wilayah di selatan Borneo yang direncanakan bakal menjadi ibukota provinsi Borneo.
Aku sudah lebih dari 2 bulan di Samarinda. Alasan utamaku bertahan karena ada seorang wanita keturanan Indo Nederland yang menarik perhatianku. Sayangnya, koran Zandvoor tempatku bekerja sebagai pembantu wartawan meminta kembali ke Nederland. Apalagi kalau bukan untuk membantu liputan olimpiade musim panas ke 9 di Amsterdam-Nederland tahun 1928 ini. Padahal di tahun  ini juga,  insting wartawanku sudah mencium adanya rencana penting tentang pertemuan besar para pemuda dari berbagai wilayah Hindia Belanda di Batavia.
Oast Borneo sudah hilang dari pandanganku. Aku masih berdiri di buritan kapal. Burung-burung terbang rendah. Melayang rendah sekali. Mencium air laut lalu terbang tinggi. Menjauh.
“Kenapa kau diam?” tanyaku kepada wanita Indo-Nederland itu tanpa memandang wajahnya. Aku mengalihkan mata ke awan yang bergerak pelan membentuk dirinya. Aku menatap ikan-ikan berenang seperti menyeret gelombang. Angin berhembus pelan, tetapi terasa sekali menyapa dan memeluk tubuhku.
“Bicaralah,”  suaraku lagi. “Bicaralah tentang cita-citamu. Aku ingin sekali mendengar suaramu yang lembut”.
Ia diam.
Suara decak air bersama dengus kapal kian terasa.
“Ah, mungkin kau lagi malas berbicara,” kataku lagi.
Tapi ia tetap diam. Membisu. Ia terkadang keterlaluan, dengan membiarkan aku berbicara sendirian.
Aku memandang ke langit biru. Awan-awan tampak bergerak pelan. Aku melihat di awan-awan  yang putih dan bergumpal-gumpal  itu tergambar wajahnya yang bersih.
Kubayangkan ia tersenyum padaku, dengan bibirnya yang tipis. Rambutnya yang panjang kekuning-kuningan berkibar-kibar sehabis berkeramas dengan fajar yang indah.
 ‘’Bicaralah, walaupun sepatah dua patah kata,’’ aku memelas.
Ya, ampun. Kenapa jadi begini? Tuhan buatlah suasana yang lain.
Ia terus membisu.
Sedangkan angin laut Sulawesi terus saja menampar wajahku, berusaha menyadarkan.
Aku hanya bisa menghela napas putus asa. Ah, tidak! Aku tidak putus asa. Aku hanya mendesah. Aku akan terus berusaha mengajaknya berbicara tentang apa saja. Aku lalu menatap wajahnya. Ada keinginan yang mendesak untuk berbincang dengannya.
***
“Panggil saja aku Aminah Sjoekoer,’’ katanya suatu hari kepadaku. Bagi warga boemi poetera pinggiran Sungai Mahakam, wanita Indo-Nederland ini lebih dikenal dengan nama Atje Voorstad. Voorstad dalam bahasa Indonesia berarti pinggiran. Aku menduga tambahan  voorstad di belakang nama Atje itu  sudah berbicara; sekalipun dia wanita keturunan Nederland, namun dia mau bergaul dengan masyarakat pribumi.
Aku mengenalnya pertama kali saat acara peresmian HIS swasta yang kemudian diambil alih pemerintah Hindia Belanda untuk menjadi sekolah negeri. Aku rasa bukan karena sama-sama keturunan Nederland kami cepat akrab. Atje atau Aminah orangnya memang ramah. Dia bersedia bergaul dengan siapa.
Sejujurnya, aku ingin sekali mengajak dia ke Nederland. “Apakah kamu tak punya keinginan untuk kembali ke Nederland?” tanyaku, setelah bincang-bincang agak lama saat perkenalan pertama.
 “Aku lebih suka di sini, di Samarinda. Aku ingin mewujudkan cita-citaku. Aku di sini ingin membangun sekolah khusus wanita,” jawabnya.
Keinginan yang bagus. Dan pasti banyak halangan. Karena mendirikan sekolah untuk pribumi saja sulit, apalagi sekolah khusus untuk wanita pribumi. Selain rumit berurusan dengan pemerintah Hindia Belanda, juga dengan masyarakat boemipoetera yang masih menempatkan kaum wanita sebagai bagian masyarakat kelas dua, yang menganggap wanita belum perlu mendapatkan pendidikan yang layak. Percuma wanita bersekolah, toh nanti kembali ke dapur juga, begitu umumnya anggapan warga pribumi. Tapi tidak bagi Aminah.  Baru sekali bertemu aku sudah bisa menyimpulkan, wanita bertubuh tinggi ramping berkulit putih ini memiliki tekad yang kuat.
‘’Aku akan berusaha dengan segala cara agar wanita pribumi bisa mengikuti pendidikan sejajar dengan laki-laki. Aku akan mendirikan sekolah untuk kaum wanita,’’ katanya di lain hari saat kami berjalan-jalan kaki di chineescheveer straat.
Aku mendukungnya. Sekalipun dalam sebuah pembicaraan, residen J. De Haan sempat meremahkannya. “Waarom zou die persoon het opzetten van een speciale school voor autochtone vrouwen. Wat een verspilling van tijd en geld … (Buat apa itu orang mendirikan sekolah khusus untuk perempuan pribumi. Buang-buang waktu dan uang)’’ residen J. De Haan tersenyum sinis kepadaku.
Semangat mendirikan sekolah kembali aku lihat, ketika dia mengajakku berjalan-jalan di kampung Bandjar, sekitar China voorstraat, Sultan weg, Herengracht straat dan smokke straat.  Kami menemui beberapa tokoh pendidikan pribumi Samarinda, yang ternyata juga sangat mendukung dirinya. Mereka di antaranya Masdar dan M Yacob, di antara tokoh yang ikut memperjuangkan berdirinya HIS partikelir pertama di Samarinda. Juga ada Kasirun yang menjadi guru negeri di HIS. Aminah memperkenalkanku. “Ini Meneer Ivan Van Mannen Zijn Niet Echt seorang jurnalis dari Nederland,’’ katanya menyebut lengkap namaku.
Cukup lama juga kami berbincang dengan tokoh-tokoh cendikiawan pribumi. Pemikiran-pemikiran mereka cukup cemerlang.
“Sebagai orang asli pribumi kami malu sekaligus bangga dengan anda. Perhatian anda terhadap pendidikan masyarakat pribumi memotivasi kami untuk lebih bekerja keras lagi,’’ kata Kasirun.
Di kampung Bandjar itu pula lah kami berkenalan dengan Arbayah, gadis berusia 14 tahun, yang memiliki keinginan kuat untuk bersekolah. Ayahnya bernama Abdullah, pekerja biasa di NV Handel Maatshappi Borneo Samarinda (HBS).
“Abah tidak setuju kalau saya bersekolah. Ujar Abah apa untungnya. Nanti setelah kawin mengurusi dapur juga,’’ kata Arbayah.
“ Bersekolah itu pintar. Lelaki dan perempuan sama saja haknya untuk menjadi pintar,’’ kata Aminah.
 Selain bertemu Arbayah, kami juga bertemu dengan beberapa anak, dan orang tua mereka. Bagiku, pertemuan yang berkesan hanya saat bersama Arbayah. Badan gadis berkulit putih ini bonsor. Sama seperti anak-anak lainnya. Dia cukup cantik, tapi sayangnya dia buta huruf.
“Aku ingin sekali bisa membaca dan menulis,’’ kata Arbayah.
Arbayah sering mengunjungi rumah Aminah. Aku juga menjadi akrab dengannya. Perbedaan usia  bukan penghalang bagi kami. Semakin kenal dengan Aminah, aku jadi semakin suka bergaul dengan orang boemi poetera atau pribumi. Terutama Arbayah, gadis bongsor berkulit putih.  Dia pernah menyampaikan kepadaku, teman-teman gadis seusia dia sudah banyak yang menikah.
‘’Ini sapu tangan kenang-kenangan untuk meneer,’’ kata Arbayah ketika kebetulan aku bertemu kembali dengannya di depan penginapan Nam Yang, tempatku menginap di Chinavoor Straat.
“ Terima kasih,’’ kataku. Arbayah tersenyum, kepalnya kembalinya menunduk. Dia membalikan badannya, dan pergi.
“Arbayah …,’’ suaraku memanggilnya ketika sudah sekitar tujuh langkah dia pergi.
Arbayah berbalik.
Aku mendekatinya. “ Ini pen dari ku”. Spontan kuambil pen dari kantongku.
Arbayah tersenyum. “ Terima kasih meneer,’’ Arbayah lantas pergi.
Tak ada pembicaraan lama ketika itu. Aku memperhatikan, ketika gadis muda itu menghilang di tikungan jalan. Sapu tangan berwarna pink, yang bersulam bunga dari benang merah itu kumasukkan ke dalam saku di samping kiri kemeja putihku.
Meneer Ivan Van Mannen Zijn Niet Echt…,’’ kudengar suara Tan Ko Tjai di belakang. “Gadis pribumi yang cantik … cocok untuk meneer yang masih muda,’’ pedagang rotan itu ketawa. Matanya yang sipit hampir tertutup.
Aku hanya tersenyum. Tak bisa berkata.
 “ Hari ini apa kegiatan meneer?’’ tanya Tan Ko Tjai.
“ Aku nanti mau ketemu Atje voorstad dan beberapa orang pergerakan”.
“Wah aktivis pendidikan  perempuan indo Nederland itu, meneer’’.
‘’Iya, perempuan cantik yang ingin mendirikan sekolah untuk wanita pribumi”.
Tak sampai 30 menit aku berbicara dengan Tan Ko Tjai, tentang Aminah, tentang orang-orang pers, tentang akan berdirinya sejumlah organisasi pergerakan di Samarinda. Tan Ko Tjai cukup terbuka dan berani. Tan Ko Tjai kenalan lamaku. Aku mengenalnya saat di Batavia.
“Ok, meneer saya mau ke Paal Arang dulu. Ada urusan di sana,’’ Tan Ko Tjai permisi, dan kami berjabatan tangan. “Jangan terlalu banyak dipikirkan, meneer … dan hati-hati meneer,’’ candanya lagi sambil bergegas berjalan.
Hari masih pagi. Aku berjanji bertemu Aminah di gedung Sjarikat Islam.  Saat aku tiba, dia sedang berbicara dengan seorang lelaki.
“Ini wartawan yang saya bicarakan tadi … “ dia berdiri seraya menjabat tanganku.
 Begitupula lelaki itu. Di tangan kirinya aku lihat sepertinya koran lokal, bertulis “Persatoen”. “Sayuti Lubis,” dia menyebut namanya.
“Jangan khawatir …,’’ Aminah tersenyum ke arah Sayuti Lubis. Giginya yang putih bersih nampak terlihat.
Selain berbicara tentang rencana pendirian sekolah khusus kaum wanita, sesekali kami juga berbincang tentang koran dan seputarnya. Enak juga mengobrol dengan lelaki asal Tapanuli ini. Bicaranya bersemangat. Wawasannya luas. Tak peduli dia, sekalipun kami saling kenal. Mungkin, dia percaya sama aku, sama percayanya dengan Aminah, yang telah dikenalnya sejak lama.
Menjelang sore, aku mengantar Aminah pulang. Disepanjang jalan dia bercerita, bukan hanya tentang abahnya Arbayah saja yang masih tak enggan anaknya bersekolah, tapi juga orang tua dari Hadijah, Sabariah, Sumi, Zaenab dan anak-anak kampung lainnya. Dari cerita Aminah aku masih bisa menangkap optimis, cita-citanya untuk mensejajarkan kaum wanita agar memperoleh pendidikan yang sama dengan laki-laki akan bisa diwujudkan.
Aku juga menceritakan tentang pesan Residen J. De Haan yang disampaikan kurirnya untuk tak bergaul terlalu akrab dengan orang pribumi, termasuk dengan dirinya. Peringatan De Haan itu tentu saja kubiarkan. Bergaul dengan siapa saja itu adalah urusanku. Sekalipun beresiko.
***
MATAHARI hampir tengelam di laut. Cahayanya mulai pudar.
Kulihat awan putih berpedar-pedar dalam senja. Bermain-main bersama angin. Berkejar-kejaran.
Kapal terus melaju. Dengusnya masih terdengar, bersama riak gelombang. Aku sendirian. Tidak ada Aminah Sjoekoer atau Atje Voorstad. Sekalipun angin menyapaku, menegurku untuk memunculkan bayang Aminah Sjoekoer di benakku, sekalipun laut melambai-lambai membuka pikiranku tentang Atje Voorstad, aku masih tetap sendirian.
Yang tersisa di kantongku hanyalah sapu tangan berwarna putih, yang di ujungnya ada gambar pen bersulam benang warna kuning emas. Ya, pen kuning emas bukan sapu tangan berwarna pink, yang bersulam bunga dari benang merah. Sapu tangan bergambar bunga merah milik Arbayah sengaja aku tinggal di ranjang kamar sebelum aku meninggalkan penginapan Nam Yang. Sapu tangan itu kutinggal  setelah aku mengetahui Arbayah dinikahkan minggu depan. Di  ranjang itu pula aku meninggalkan noda merah dari kesucian Arbayah.  Sekalipun sapu tangan bunga dan noda berwarna merah  aku tinggalkan, namun aku tak bisa melupakan Arbayah, sepanjang hidupku terutama perbuatan terlarang yang kami lakukan pertama kali di kamar penginapan Nam Yang.
  Sekalipun Arbayah tak diperbolehkan sekolah dan dinikahkan abahnya, pada akhirnya, cita-cita Aminah Sjoekoer telah terwujud. Neisjes School, sekolah untuk kaum wanita akan berdiri di Samarinda. Aku mendengarnya sebelum berangkat naik kapal.
“Maaf aku belum bisa ikut ke Nederland. Mendirikan sekolah bukan berarti tugasku sudah selesai. Tugas selanjutnya akan lebih berat …,’’ suaranya ketika mengantarku di pelabuhan.
Aku hanya tersenyum. Menjabat tangan kanannya. Ketika kapal nederland yang kutumpangi menjauh meninggalkan Samarinda, dia melambai-lambaikan tangan kanannya. Jujur, aku belum begitu mengenalnya. Aku hanya memiliki sapu tangannya yang berwarna putih bergambar pen dari benang kuning emas. Apakah kalian sangat mengenalnya?
Kapal pun terus melaju. Membelah gelombang. Dengusnya masih terasa. Awan-awan yang bergumpal-gumpal membentuk dirinya sudah tak ada lagi.  Kukira  sebentar lagi malam yang membawa mimpi akan datang. ***
Catatan
–          Awang Long =panglima angkatan perang sepangan Kerajaan Koetai, yang bergelar Panglima Ario Senopati. Senopati yang bersama pasukannya berhasil mengalahkan pasukan Murray.  Awang Long tewas ketika pertempuran hebat melawan  armada perang lengkap Belanda di bawah pimpinan Letnan Laut T’Hoof.
–          James Erkine Murray =  Ingin seperti James Brooke yang berhasil mendirikan kerajan di Brunai. Februari 1844 JE Murray membawa 2 kapal perang, yakni “Young Queen” yang dikemudikan Kapitan  Hart dan Kapal Perusak “Anna” dengan Nahkoda Lewis. Memasuki  wilayah Kutai, dengan mengatakan ingin menjadi raja.  Murray meminta izin Sultan Salehuddin untuk membuka kantor  perwakilan dagang di Tenggarong dan meminta monopoli perdagangan. Sultan meminta buka di Samarinda saja. Murray mengancam. Sultan melawan. Akhirnya terjadi peperangan.  Murray akhirnya tewas.
–          Rijswijk = kawasan Jalan veteran Jakarta. Di kawasan ini dulu ada Hotel der Nederlanden, kini menjadi gedung Bina Graha Jakarta.
–          J. De Haan = residen Belanda di Banjarmasin menggantikan Van Kempen,  menjabat mulai tahun 1924-1929
–          C.J Van Kempen = residen Belanda di Banjarmasin tahun 1924.
–          Meneer = tuan
–          Abah =bahasa Banjar, artinya ayah
–          Chineescheveer straat = jalan di pusat kota di pinggir Sungai Mahakam. Dari Karang Mumus hingga Sungai Karang Asam Besar.  Perkampungan China di Jalan Pelabuhan dan di sekitar Kampung Karang Mumus.
–          Kampung Bandjar = berada di  wilayah utara Wilhelmina Laan, yang membujur dari selatan ke utara atau sepanjang Karang Mumus Straat dan Bandjar Straat.
–          Kasirun =seorang guru di HIS milik Hindia Belanda, yang kemudian memilih menjadi kepala sekolah Neutrale School,  karena memiiki kebebasan menanamkan jiwa kebangsaan kepada anak didiknya.
–          NV Handel Maatshappi Borneo Samarinda (HBS) = perusahaan perdagangan  ekspor-impor yang didirikan pedagang-pedagang suku Banjar. Perkampungannya dinamakan kampung HBS, yang letaknya di sekitar BRI sekarang. Persekutuan dagang ini selain menyaingi pengusaha-pengusaha dagang Belanda dan China, tokoh-tokohnya juga bergerak di bidang pergerakan kemerdekaan dan da’wah Islam.
–          Penginapan Nam Yang = terletak di perkampungan China, sekarang di sekitar Jalan Pelabuhan. Di dekat penginapan Nam Yang ada pula penginapan Swan Yang.
–          Paal Arang = Seperti kata Samarinda, berasal dari bahasa Banjar Samarendah kemudian menjadi  Samarindah (logat Banjar), Paal Arang berarti batas arang (orang Banjar suka menyebut batas dengan Paal), hingga menjadi nama Palaran salah satu kecamatan di Samarinda.
–          Surat Kabar “Persatoean” =  surat kabar yang pertama kali terbit di Samarinda. Directeur (pemimpin umum) dan hoof redacteur (pemimpin redaksi)  Sayuti Lubis dari Tapanuli, yang juga aktivis Sjarikat Islam Cabang Samarinda.  Beberapa kali  “Persatoean” mau di Bredel  Hindia Belanda.   Akhirnya dibredel juga, karena dua tulisan dinilai menghasut  dan menghina pemerintah Hindia Belanda. 22 Desember 1928, di depan lanraad (pengadilan) Sayuti Lubis dijatuhi  hukuman penjara dua tahun empat bulan. Sayuti banding, hukumannya diperingan lima bulan dan menjalani hukuman di penjara Cipinang.